Foto Kenangan Sejarah

Januari 12, 2015

Berikut ini sebuah foto kenangan sejarah bangsa kita. Masih tersisa di antara tumpukan sejarah yang telah berkarat. Mari kita hayati, renungkan, dan resapkan di hati.

Jendral Soedirman dan Petinggi Militer

Jendral Soedirman dan Petinggi Militer

Dulu para pemimpin Islam dekat dengan struktur militer RI. Tapi sayang, seiring perjalanan bangsa, terlalu banyak fitnah yang menyuramkan hubungan antara militer dan Islam. Kaum Muslimin sering jadi sasaran fitnah. Sayang sekali.

Admin.

Iklan

Kami Tidak Menghina Agama Lain dengan Karikatur

Januari 12, 2015

Adakah seorang Muslim yang DIPERBOLEHKAN menghina agama lain? Kita menolak kekafiran dan memperingatkan manusia atas hal itu; tapi kan kami TDK MENGHINA mereka.

Laa ikraha fid din” (tak ada paksaan dlm agama ini).

Fa man sya’a fal yu’min, wa man sya’a fal yakfur” (siapa ya mau, berimanlah; siapa yg mau kafirlah).

MENGAPA mereka menghina simbol-simbol Islam? Padahal kami tak menghina mereka.

Apakah demi KEBEBASAN PERS & EKSPRESI?

Memangnya “kebebasan pers & ekspresi” itu lebih tinggi dari agama? Atau ia telah jadi “agama baru” yg berhak mengadili agama ALLAH SWT? Tidak mungkin itu.

Mereka berusaha mengambil hak-hak agama Allah, lalu Allah mengambil Hak-Nya atas mereka.

Siapa yang menghina Pemilik alam semesta, mereka pasti akan dikejar oleh-Nya, hingga bersembunyi di liang semut sekalipun.

Wa man yuhaaddunallaha wa rasulahu fa qad kubitu ka maa kubitalladzina min qablihim” (siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, dia akan dihinakan seperti telah dihinakan orang-orang sebelum mereka). Surat Al Mujaadilah.

Admin.


Tafsir Al Azhar Buya Hamka

Januari 12, 2015

* Nama tafsir karya Buya Hamka ini sudah terkenal. Tapi baru akhir-akhir ini aku dapat membacanya lebih detail, alhamdulillah.

Tafsir Ulama Nusantara

Tafsir Ulama Nusantara

* Dalam tafsirnya, Buya biasa mendiskusikan pendapat ahli tafsir seperti Abu Ja’far, Ibnu Katsir, Ar Razi, Ibnu Hajar, Al Qasimi, dan lain-lain.

* Hebatnya, dalam tafsir ini beliau sudah membahas kisah “Gharaniq”. Setelah menyebut pendapat ulama-ulama, beliau simpulkan itu kisah PALSU. Di zaman modern, Syaikh Al Albani juga membahas kisah itu, lalu menarik kesimpulan sama.

* Hebatnya, Buya Hamka sangat mengapresiasi Tafsir Azh-Zhilal karya Sayyid Quthb. Berkali-kali beliau sebut sang tokoh dengan kata-kata “penafsir kita” dan “asy syahid”. Hal seperti ini baru aku ketahui.

* Meskipun tidak sekolah formal, Buya kaya pengalaman, di kampung, dalam politik, maupun di dunia Islam. Kitab tafsirnya sering dibumbui kisah-kisah pengalaman hidup.

* Satu contoh sikap yg dianut Buya: Kalau diminta menjadi imam Shalat Subuh di masjid, beliau tanya dulu “di sini memakai doa Qunut?” Kalau memakai, beliau pun baca doa Qunut. Begitu juga kalau mau Shalat Tarawih, beliau tanya “di sini berapa rakaat?” Itu karena saking cintanya dengan PERSATUAN UMMAT.

* Demikian sekilas tentang Tafsir Al Azhar. Semoga manfaat dan mendapat taufiq Allah. Amin.


Gak Kuat Pedes…

Januari 12, 2015

(Special for TWO my daughter that very interest with chilly).

* Kini zaman kuliner ekstrem. Banyak yg menawarkan “sensasi pedas”.

* Di Bandung ada pioner, keripik singkong dg aneka grade “kepedesan”. Tingkat 1 sampai 10 (huh segitunya).

* Ada juga kafe, sedia ayam bakar. Bergaya militer. Tingkat pedes terendah 12 cabe, yang tertinggi 60 cabe (huh itu makanan atau “siksa neraka”? segitunya).

"Dunia Sepi Tanpa Kepedesan"

“Dunia Sepi Tanpa Kepedesan”

* Katanya, cabe terpedas dari India. Ada juga yang bilang dari Inggris. Kalau orang baru makan itu, dijamin masuk RS. (astaghfirullah…)

* Cabe itu aromanya khas, unik, rasa menantang. Tapi tak semua kuat rasa pedes (bener, bener, gua setuju, tak dukung full…).

* Kalau rata-rata orang Minang kuat makan pedas, ada juga yg gak kuat (kayak guwe…wakakak…).

* Pengalaman yg sering terjadi, sehabis makan yg pedas, perut jadi sakit, perih, kalau BAB sangat sakit, karena efek pedesnya belum tercerna dengan baik (ha ha ha…buka rahasia…tapi itu sih guwe banget).

* Tapi ada yang bilang: “Itu bisa diatasi kok? Ada kiat-kiatnya.” (halah sok tahu lo… lo gak ngrasain yg guwe rasain sih…).

* Ini bukan soal kiat, teknik, dan seterusnya. Soal gak kuat pedes ini ada yang dirasakan SEJAK MASA KECIL. Jadi kayak bakat bawaan dari kecil. (hi hi hi…guwe bingits tuh…tahu aja)

* Ya intinya kami tidak suka dengan kebiasaan Jokowi nampang terus dengan aksi-aksi aneh… (halah kok jadi ke Jokowi? ini kan lagi bahas cabe-cabean…).

* Eh maap…tadi ada intervensi sponsor. INTINYA, ada yg suka pedes, dan ada yg gak suka. Mohon saling hormat-menghormati. (Suetujuh banget, Bang. Ini hak asasi perkulineran. Harus dihormati).

Publication by: KOGSUPE (komunitas gak suka pedes).


Ending yang Damai…

Januari 12, 2015

* Ini cerita mamaknya Buya Hamka, semacam bibi beliau. Kisah damai yang indah.

* Wanita itu seorang yang tekun membaca AL QUR’AN sejak masih muda. Tekun khatam Al Qur’an sampai tua.

* Ketika sudah udzur, sudah tidak khataman lagi. Karena sudah mengalami kepikunan. Tapi beliau secara refleks hanya melafadz surat-surat yang telah dihafalnya, seperti Al Mulk, Al Waqi’ah, Al Kahfi, dan lainnya. Cukup baca yang dihafal saja.

Berjumpa Allah dengan Bekal Al-Qur'an

Berjumpa Allah dengan Bekal Al-Qur’an

* Saat menjelang wafat, semua sanak saudara mengerumuni. Lalu wanita itu berkata ke mereka: “Ssstt, jangan ribut. Mari kita dengar alunan orang sedang membaca Al Qur’an.” Seketika semua diam, padahal saat itu mereka tak mendengar bacaan Al Qur’an apa pun.

* Wanita shalihah, pembaca Al Qur’an itu pun wafat dalam DAMAI. Dia mendengar alunan bacaan Al Qur’an, sedang orang-orang di sekitarnya tak ada yang mendengar.

* Subhanallah walhamdulillah. Benar kata Nabi Saw, amal yang dicintai Allah adalah yang KONTINUE, meskipun sedikit.

* Satu catatan: Buya Hamka kan terkenal sebagai salah seorang tokoh besar Muhammadiyah, selain beliau juga pernah menjadi Ketua MUI. Meskipun begitu tradisi ibadah ritual di tengah keluarga besar mereka semarak; salah satunya dengan bacaan Al Qur’an. Hal ini menjadi catatan kecil, karena selama ini ada kesan, kalau kaum modernis itu tidak banyak ibadah ritualnya, cukup berpikir, berpikir, berpikir, dan seterusnya.

* Ayo kita rajin baca Al Qur’an. Seperti kata Nabi SAW: “Iqra’ul qur’an fa innahu saya’ti yaumal qiyamati syafi’an li ashabih” (bacalah Al Qur’an karena ia kelak akan datang di Hari Kiamat sebagai penolong bagi shahabat-nya -maksudnya orang yang akrab dengan Al Qur’an).

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Admin.


Ustadz Mau Tanya…

Januari 12, 2015

(Sebuah ilustrasi fiktif).

Seorang pemuda mengajukan pertanyaan di sebuah majelis taklim:

“Ustadz, maaf mau tanya. Saya butuh nasehat unt masalah pelik ini.

Begini Ustadz, sejak 2 tahun terakhir saya rutin shalat malam. Biasanya, setelah itu sy baca Al Qur’an, minimal satu juz. Kadang kalo tidak lupa, siangnya shalat dhuha.

Lebih Tersembunyi Lebih Baik

Lebih Tersembunyi Lebih Baik

Sesekali saya puasa Sunnah. Kalau bukan Senin Kamis, ya Shaum Dawud. Hanya itu. Tapi jarang sih Senin-Kamis. Dengan puasa sunnah, usaha saya lancar, belajar dimudahkan, rezeki mengalir. Biasanya saya berbuka bersama anak-anak yatim di sekitar rumah. Saya yang sediakan hidangannya.

Ketika saat Umrah, amal-amal ini juga saya lakukan. Malahan karena khawatir tidak sempurna, saya rutin sedekah 10 % dari gaji. Saya juga berniat bantu madrasah untuk bakti ke orangtua.

Nah, itu sedikit pengalaman saya selama ini. Sangat sedikit dibanding yg saya lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Pertanyaan saya adalah: bagaimana hukumnya ketika kita berdzikir sambil menangis? Ini penting karena saya sering berhadapan dg masalah seperti itu.

Atas jawabannya, saya ucapkan terimakasih Ustadz. Mohon dijawab dengan bening hati.”

========

* Kita kadang kegatelan untuk mendapat pujian atas amal-amal yang kita lakukan. Caranya tidak mesti mengklaim telah beramal ini dan itu; tapi seringkali -terutama melalui media sosial- dengan melakukan promo amalan secara halus. Intinya sih ingin pamer amalan, tapi dengan cara hebat.

* Hal-hal seperti itu harus dihindari. Karena hakikat amal kita adalah untuk Allah SWT. Lebih sunyi, lebih halus, lebih tertutup dalam beramal; itu lebih baik. Jangan tergoda untuk ekspose amalan yang membuat amalan itu sendiri menjadi percuma, alias sia-sia.

* “Wa maa umiru illa liya’budullaha mukhlishina lahud dini hunafa” (dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengibadahi Allah dengan ikhlas, dalam beragama kepada-Nya, secara lurus). Surat Al Baiyinah.

Admin.