Ending yang Damai…

* Ini cerita mamaknya Buya Hamka, semacam bibi beliau. Kisah damai yang indah.

* Wanita itu seorang yang tekun membaca AL QUR’AN sejak masih muda. Tekun khatam Al Qur’an sampai tua.

* Ketika sudah udzur, sudah tidak khataman lagi. Karena sudah mengalami kepikunan. Tapi beliau secara refleks hanya melafadz surat-surat yang telah dihafalnya, seperti Al Mulk, Al Waqi’ah, Al Kahfi, dan lainnya. Cukup baca yang dihafal saja.

Berjumpa Allah dengan Bekal Al-Qur'an

Berjumpa Allah dengan Bekal Al-Qur’an

* Saat menjelang wafat, semua sanak saudara mengerumuni. Lalu wanita itu berkata ke mereka: “Ssstt, jangan ribut. Mari kita dengar alunan orang sedang membaca Al Qur’an.” Seketika semua diam, padahal saat itu mereka tak mendengar bacaan Al Qur’an apa pun.

* Wanita shalihah, pembaca Al Qur’an itu pun wafat dalam DAMAI. Dia mendengar alunan bacaan Al Qur’an, sedang orang-orang di sekitarnya tak ada yang mendengar.

* Subhanallah walhamdulillah. Benar kata Nabi Saw, amal yang dicintai Allah adalah yang KONTINUE, meskipun sedikit.

* Satu catatan: Buya Hamka kan terkenal sebagai salah seorang tokoh besar Muhammadiyah, selain beliau juga pernah menjadi Ketua MUI. Meskipun begitu tradisi ibadah ritual di tengah keluarga besar mereka semarak; salah satunya dengan bacaan Al Qur’an. Hal ini menjadi catatan kecil, karena selama ini ada kesan, kalau kaum modernis itu tidak banyak ibadah ritualnya, cukup berpikir, berpikir, berpikir, dan seterusnya.

* Ayo kita rajin baca Al Qur’an. Seperti kata Nabi SAW: “Iqra’ul qur’an fa innahu saya’ti yaumal qiyamati syafi’an li ashabih” (bacalah Al Qur’an karena ia kelak akan datang di Hari Kiamat sebagai penolong bagi shahabat-nya -maksudnya orang yang akrab dengan Al Qur’an).

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Admin.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: