UJUNG PENDAKIAN ILMU

* Firman Allah SWT: “Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun, innas sam’a wal bashara wal fu’ada kullu ulaika kaana ‘anhu mas’ula.” Surat Al Isra’: 36.

* ARTINYA: Janganlah engkau mengikuti apa-apa yg tidak ada ilmu padanya, karena ssungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; kesemua itu kelak akan ditanyai di Hari Akhirat nanti.

* Para ulama sering berdalil dengan ayat ini, bahwa dalam beragama KITA HARUS MENGIKUTI DALIL-DALIL.

Ujung Perjalanan Ilmu...

Ujung Perjalanan Ilmu…

* Dalil yang dimaksud adalah ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW, dan kesepakan para Shahabat Nabi RA.

* Ayat ini mengandung beberapa HIKMAH agung, yaitu:

A. Bahwa nanti di Akhirat, akan ada UJIAN KEILMUAN. Ilmu kita akan dilakukan UJI SHAHIH di sana.

B. Standar UJI SHAHIH KEILMUAN itu bukanlah madzhab Hanafi, bukan madzhab Zhahiri, bukan kitab Al Muhalla Ibnu Hazm, bukan juga Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, atau Al Ihya’ Imam Ghazali. Karena para Malaikat TIDAK TERIKAT MADZHAB manapun.

C. Standar UJI SHAHIH ini adalah ILMU & PEMAHAMAN Rasulullah SAW. Dalilnya: “Wa yakunar rasulu ‘alaikum syahida” (agar Rasul itu menjadi saksi atas kalian). Surat Al Baqarah.

* Jika di Akhirat kita ditanya: “Bagaimana pendapatmu tentang ini dan itu, lalu apa dalilnya?” Maka kita harus menjawab dengan sandaran Kitabullah, Sunnah, dan perbuatan Shahabat RA. Jika tidak begitu, sangat mengkhawatirkan.

* Misalnya kita jawab dengan menyebut nama-nama ulama yang jadi rujukan, TANPA SAMA SEKALI menyebut dalil Kitabullah, Sunnah, amal Shahabat RA; jawaban kita ini bisa dimentahkan dg kata-kata: “Siapa orang yang kamu ikuti itu? Apa dia seorang Nabi?”

* Jadi posisi ULAMA bukanlah untuk “menjadi pengganti Nabi” tapi sebagai: PENGANTAR JALAN UNTUK MEMAHAMI KITABULLAH DAN SUNNAH NABI SECARA BENAR. Mereka itu mengantarkan pada jalan pemahaman yang lurus; bukan menjadi pengganti dalil-dalil Syariat.

* Ujung pendakian ilmu adalah: “Kelak kita masing-masing akan bertanggung-jawab atas amanat Al Qur’an, As Sunnah, dan jalan para Shahabat RA.” Kita tak ditanya tentang nama ulama, madzhab apa, thariqah apa, jamaah apa, sebutan apa, dll.

* MENGAPA kami katakan hal ini? Karena:

= Di akhirat, kita akan ditanya satu per satu. Bukan kelompok-kelompok.

= Semua orang akan ditanya, di level apapun pemahaman ilmunya.

= Dalil ilmu yang tak ada keraguan padanya adalah Kitabullah, Sunnah, dan Kesepakatan Shahabat. Dalil selain itu berbeda-beda, relatif, kadang bertabrakan.

* Kita kini di dunia bisa berbangga atas pendapat, madzhab, jamaah, klaim-klaim, dst.; tapi di Akhirat standarnya SAMA, yaitu Kitabullah, Sunnah, amal Shahabat RA.

* PESAN: Mari jadikan ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW, serta kehidupan Shahabat sebagai PELITA HIDUP. Bukan modal debat. Tapi untuk BEKAL PULANG kepada Allah Ar Rahman Ar Rahiim nanti.

Semoga manfaat. Amin. Wallahu a’lam bis-shawab.

(Mine).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: