SEJARAH “MADEG PANDITO”

Februari 2, 2015

# Anda tahu Presiden Soeharto, atau Pak Harto? Kalau gak tahu, ya udahlah dengerin aja.

# Di masanya Pak Harto disebut-sebut sebagai “the strong men in Asia”. Disegani di Asia Afrika.

# Anda perlu tahu, forum ASEAN & KTT Non Blok, keduanya ramai, semarak, disegani, karena PERAN PAK HARTO. Stl beliau lengser, forum negara-negara itu jadi sepi. Hebat kan?

Begawan Menyebarkan Hikmah

Begawan Menyebarkan Hikmah

# Di masanya, sebagian besar cita-cita Pak Harto tercapai. Hingga dia mau buka pabrik pesawat pun, itu terlaksana.

# Tapi ada SATU cita-cita beliau yg kandas, yaitu ingin MADEG PANDITO. Jadi seorang pendeta, atau begawan.

# Cita-cita itu terungkap skitar tahun 1995, saat ramai-ramai perayaan “50 Tahun Indonesia Merdeka”. Juga saat mulai nyaring terdengar isu “suksesi kepemimpinan”. Pak Harto menjawab isu itu dg kemauan “mau jadi pendeta” saja.

# Ini maksudnya jadi “ahli hikmah” atau “begawan ilmu”. Bukan jadi pendeta Hindu atau Budha.

# Kenapa Pak Haro gagal dalam cita-citanya?

# Menurut kami, beliau TIDAK BERBASIS ILMU. Jadi hikmah apa yang akan disebar? Beliau lebih mahir politik & militer, bukan “ahli hikmah”.

# Sebaliknya, sosok BJ. Habibie sangat kental “sisi begawan-nya” (bidang teknologi). Beliau jadi PRESIDEN RI TERSUKSES dalam waktu 17 bulan, seperti anugrah “Durian Runtuh” dari langit. Maka itu beliau mudah diakali oleh pendekar-pendekar politik; karena tabiatnya ilmuwan, bukan “sengkuni”.

# Bahkan cita-cita jadi “begawan ilmu” tanpa basis ilmu sesungguhnya, ia bisa “membunuh” seseorang. Berkuasa secara militer, politik, materi; sangat mungkin. Tapi INGIN berkuasa di bidang ilmu, bila tak memilikinya, sangat bahaya. Menara ilmu berbeda dg menara-menara lain.

# SAATNYA kini “Madeg Pandito”. Menyebar pesan damai, persatuan Ummat, empati, berdakwah secara tulus!

# Mari BERSANDAR sikap: hikmah, sabar, tawakkal, dan akhlak mulia. Mari kita mulai “madeg pandito” dalam pengertian Islami.

# MARI kawan-kawan! (Minimal sikap ini berlaku untuk kami sendiri).

(WeAre).

 


SENI KEPEMIMPINAN

Februari 2, 2015

Suatu hari diadakan forum, menghadirkan berbagai profesi. Mereka berlomba membanggakan profesinya.

TEKNISI: “Kalo tidak ada kami, Anda semua tak akan dapat naik kendaraan ke tempat ini.”

WARTAWAN: “Tanpa kami, tidak ada berita terekspose. Jadi Anda semua akan mgalami buta informasi.”

PRAJURIT: “Kami setia menjaga keadaan aman damai. Siap komandan!”

GURU: “Kami yang mengajari Anda semua ilmu. Kami ini pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi stiap bulan dapat SLIP GAJI. He he he.”

USTADZ: “Kami yang memimpin Anda shalat, mendoakan, berkhutbah, dan memimpin penguburan Anda kalau wafat.”

Nilai Kepemimpinan: Menyatukan Potensi Perselisihan

Nilai Kepemimpinan: Menyatukan Potensi Perselisihan

POLITISI: “Kami bekerja mengurus isu-isu sosial. Jadi kami mendengar smua masalah orang.”

DOKTER: “Kami mengobati kalau Anda smua sakit.”

PETANI: “Kami menyediakan pangan untuk Anda smua. Tanpa makanan, Anda gak bisa bekerja.”

PEDAGANG: “Kami mengatur perniagaan agar ekonomi lancar. Smua dapat penghasilan.”

OWNER FESBUK: “Kami sediakan tempat ngobrol bagi Anda semua.”

Setelah semua profesi bicara, seorang KOKI masuk forum. Dengan penuh sopan santun dia merebut perhatian.

KOKI: “Kami ini hanya kerja di dapur. Tidak ada yg perlu dibanggakan. Tapi kami yakin, Anda semua saat ini sedang lapar. Mari mari… Kami sudah siapkan hidangan lengkap di ruang sebelah. Silakan Bapak, Ibu, dan saudara-saudara. Nikmati menu-menu terbaik dari kami!”

SEMUA: “Hore. Alhamdulillah. Ini yg dari tadi ditunggu. Hayuh sikat! Sudah laper banget nih.”

====………

# MEMIMPIN tidak sekedar “aku punya apa” atau “aku bisa apa”.

# MEMIMPIN ternyata merupakan gabungan:
(1) SOPAN SANTUN
(2) PINTAR MEMBACA SITUASI
(3) MENJAWAB KEBUTUHAN
(4) TULUS MELAYANI
(5) Dan satu lagi MENYATUKAN YANG BERPECAH-BELAH.

# Itulah “arts of leadership” yang dimainkan dengan baik oleh Sang KOKI.

Smoga bisa diambil hikmahnya. Amin ya Allah.

(WeAre).


Anda Tertarik…

Februari 2, 2015

Sekarang kan sedang ramai-ramainya era “cincin batu”. Nah, ini ada foto unik dan hebat. Cincin batu bentuk “ijo terong”. Asli apa palsu ya? Gak tahulah…tapi lumayan buat mereka yang sangat “ambisius”.

Dulu waktu masih SD/SMP, aku masih ingat ada acara TVRI. Waktu itu membahas tentang Kota Pacitan di Jawa Timur. Ia penghasil batu akik. Di sana di tampilkan produksi rakyat, berupa batu-batu ali, dari bahan mentah bebatuan di sana. Sangat unik. Tapi waktu orang “belum ngeh” dengan dunia begini.

Katanya, yang melariskan era “batu ali” adalah SBY, ketika dia memakai cincin seperti itu. Juga Obama memakai, dari hadiah SBY. Dan jangan lupa, SBY dari Pacitan lho.

Apakah ada KON-SUE-PIE-RUA-SI di balik maraknya “cincin batu” kali ini dengan asal-usul SBY?

Sudahlah tak usah dipikirkan sejauh itu. Ini hanya dunia hiburan masyarakat. Maklum, masyarakat lagi tertekan di sana-sini; mau ikut berperang juga gak berani; ya sudahlah…hayuh gosok dan gosok lagi Kang!

Ini lho cincin-nya…

Benar apa Nggak ya? Jadi ragu...

Benar apa Nggak ya? Jadi ragu…

 

Kata yang punya foto, harga ditawarkan 1 miliar. Waduh…mahal banget ya. Tapi kalau ada yang beginian ini beneran, kayaknya ia layak dipakai Pak Kapolri yang baru…

(Kulo).

 


Ya Allah, Selamatkan Anak-anak Kami

Februari 2, 2015
"Berayun dalam Bahaya. Demi Cita-cita"

“Berayun dalam Bahaya. Demi Cita-cita”

 

YA ALLAH YA RABBI

Mudahkan urusan anak kami ini.

Lindungi dirinya, selamatkan hidupnya, berkahi hidupnya.

Berikan ilmu yang barakah, kehidupan bahagia, serta masa depan yang gemilang.

Kuatkan tangannya saat mencengkram, fokuskan sadarnya saat di ketinggian, lembutkan angin-Mu saat berayun, damaikan sungai dan jurang-Mu, agar dia selamat sejahtera; dan juga anak-anak yang senasib dengannya. Serta berkahi dan muliakan orangtua, keluarga, dan pergaulan mereka.

Ya Allah, tolonglah, kasihi, bantu anak-anak kami. Kami tak kuasa menolong mereka, atau sekedar mendengar keluh kesah mereka, hanya Engkau Yang Maha Perkasa Ya Rabbana.

Ya Allah maafkan kami karena membiarkan. Maafkan kami karena kurang berbagi. Maafkan kami atas smua kesalahan.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ala Rasulillah Muhammad wa ala alihi wa ashabihi ajma’in.

(WeAre).