Padahal Ustadz Arifin Itu Kan Lembut…

Februari 19, 2015

* 11 Februari 2015, perkampungan jamaah Majelis Dzikir Ustadz Arifin Ilham, Adz Dzikra, di Sentul, diserang sekitar 30-an orang. Mengatasnamakan FBR. Tapi banyak pihak menyebut mereka adalah orang Syiah.

* Serangan ini hanya karena sejak dua bulan lalu, di depan komplek Adz Dzikra itu ada spanduk “Tolak Syiah”. Di masjid-masjid Bekasi pernah berbulan-bulan dipasang spanduk “Tolak Salafi Wahabi”, tapi tidak ada penyerangan apapun dari pihak Salafi. Lha ini, baru spanduk begitu saja, baru dua bulan, itu pun hanya satu dua; langsung Syiah emosi dan menyerang. Waduh…

Dakwah Lembut Juga Diserang

Dakwah Lembut Juga Diserang

* Heran juga dengan kaum Syiah ini. Apa mereka tak melihat kalau Ustadz Arifin Ilham selama ini kan dakwahnya kalem-kalem saja? Berbeda dengan ustadz-ustadz MMI, Salafi, dan lainnya yang memang tegas dan lantang tentang Syiah. Lha Ustadz Arifin kan hanya semacam itu, berkerumun di sekitar majelis dzikir; kok sampai diserang itu bagaimana ceritanya ya?

* Tapi ada BERKAH-nya, alhamdulillah. Kasus ini membuka mata masyarakat luas, bahwa Syiah membidik kaum Muslimin non Wahabi (Salafi). Buktinya, ya kejadian ini. Juga kejadian di Sampang, pembacokan ustadz NU di Jember, sambit-sambitan di YAPI Pasuruan.

* Kalau melihat kisruh kehidupan di Pakistan, Irak, Suriah, Libanon, Bahrain, Yaman, Mesir, dan lainnya… Rata-rata itu bukan negeri Wahabi (Salafi). Jadi ya silakan direnungkan untuk selanjutnya…

Terimakasih.

(Mine).

Iklan

UJUNG PENDAKIAN ILMU

Februari 2, 2015

* Firman Allah SWT: “Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun, innas sam’a wal bashara wal fu’ada kullu ulaika kaana ‘anhu mas’ula.” Surat Al Isra’: 36.

* ARTINYA: Janganlah engkau mengikuti apa-apa yg tidak ada ilmu padanya, karena ssungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; kesemua itu kelak akan ditanyai di Hari Akhirat nanti.

* Para ulama sering berdalil dengan ayat ini, bahwa dalam beragama KITA HARUS MENGIKUTI DALIL-DALIL.

Ujung Perjalanan Ilmu...

Ujung Perjalanan Ilmu…

* Dalil yang dimaksud adalah ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW, dan kesepakan para Shahabat Nabi RA.

* Ayat ini mengandung beberapa HIKMAH agung, yaitu:

A. Bahwa nanti di Akhirat, akan ada UJIAN KEILMUAN. Ilmu kita akan dilakukan UJI SHAHIH di sana.

B. Standar UJI SHAHIH KEILMUAN itu bukanlah madzhab Hanafi, bukan madzhab Zhahiri, bukan kitab Al Muhalla Ibnu Hazm, bukan juga Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, atau Al Ihya’ Imam Ghazali. Karena para Malaikat TIDAK TERIKAT MADZHAB manapun.

C. Standar UJI SHAHIH ini adalah ILMU & PEMAHAMAN Rasulullah SAW. Dalilnya: “Wa yakunar rasulu ‘alaikum syahida” (agar Rasul itu menjadi saksi atas kalian). Surat Al Baqarah.

* Jika di Akhirat kita ditanya: “Bagaimana pendapatmu tentang ini dan itu, lalu apa dalilnya?” Maka kita harus menjawab dengan sandaran Kitabullah, Sunnah, dan perbuatan Shahabat RA. Jika tidak begitu, sangat mengkhawatirkan.

* Misalnya kita jawab dengan menyebut nama-nama ulama yang jadi rujukan, TANPA SAMA SEKALI menyebut dalil Kitabullah, Sunnah, amal Shahabat RA; jawaban kita ini bisa dimentahkan dg kata-kata: “Siapa orang yang kamu ikuti itu? Apa dia seorang Nabi?”

* Jadi posisi ULAMA bukanlah untuk “menjadi pengganti Nabi” tapi sebagai: PENGANTAR JALAN UNTUK MEMAHAMI KITABULLAH DAN SUNNAH NABI SECARA BENAR. Mereka itu mengantarkan pada jalan pemahaman yang lurus; bukan menjadi pengganti dalil-dalil Syariat.

* Ujung pendakian ilmu adalah: “Kelak kita masing-masing akan bertanggung-jawab atas amanat Al Qur’an, As Sunnah, dan jalan para Shahabat RA.” Kita tak ditanya tentang nama ulama, madzhab apa, thariqah apa, jamaah apa, sebutan apa, dll.

* MENGAPA kami katakan hal ini? Karena:

= Di akhirat, kita akan ditanya satu per satu. Bukan kelompok-kelompok.

= Semua orang akan ditanya, di level apapun pemahaman ilmunya.

= Dalil ilmu yang tak ada keraguan padanya adalah Kitabullah, Sunnah, dan Kesepakatan Shahabat. Dalil selain itu berbeda-beda, relatif, kadang bertabrakan.

* Kita kini di dunia bisa berbangga atas pendapat, madzhab, jamaah, klaim-klaim, dst.; tapi di Akhirat standarnya SAMA, yaitu Kitabullah, Sunnah, amal Shahabat RA.

* PESAN: Mari jadikan ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW, serta kehidupan Shahabat sebagai PELITA HIDUP. Bukan modal debat. Tapi untuk BEKAL PULANG kepada Allah Ar Rahman Ar Rahiim nanti.

Semoga manfaat. Amin. Wallahu a’lam bis-shawab.

(Mine).


UNTUK SALAFI YAMAN…

Februari 2, 2015

Bismillah walhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

* Hati kita belum bisa tenang tatkala mendengar negeri Yaman jatuh ke tangan Syiah Houthi. Seperti itu juga tatkala Mesir jatuh ke tangan militer tangan besi yang memusuhi Islam.

* Namun lebih sedih lagi ketika tahu, ternyata kaum Ahlus Sunnah di Yaman, khususnya kalangan Salafi, ternyata bercerai-berai, bermusuhan, dan saling mengalahkan satu sama lain. Mereka tidak satu kata dan berpecah-belah.

* Kami sangat berharap, dengan memohon TAUFIQ Allah Ta’ala, agar para SALAFIYIN ini bersatu, berdamai, dan membina dakwah di Yaman seperti di masa-masa sebelumnya.

Bersatulah Ikhwah...

Bersatulah Ikhwah…

* Kami sangat mendambakan PERDAMAIAN kalian wahai para IKHWAH rahimakumullah. Sudahlah, cukup kalian berdamai, bersepakat, lalu memusyawarahkan pilihan terbaik bagi negeri Yaman ke depan.

* Kami tidak peduli kalian menyebut kami Sururi, Ikhwani, Quthbi, Turatsi, atau Hizbi. Kami tidak peduli dan tidak takut akan sebutan-sebutan itu. Allah Ta’ala tidak menilai manusia berdasarkan nama-nama itu. Siapa yang AHSANU ‘AMALA, dialah yang akan membawa ghanimah besar di hadapan Allah kelak. Bukan istilah-istilah itu pemberat amal kita.

* Sudahlah saudaraku, kami tidak peduli dengan semua celaan, tahdzir, dan seterusnya. Yang kami minta satu saja: “BERSATULAH KALIAN, ANTAR SESAMA SALAFI. BERSATULAH. BERDAMAILAH. BINA KEMBALI KEKUATAN UMMAH SEPERTI DI MASA-MASA LALU.”

* Wahai IKHWAH SUNNAH rahimakumullah, wallahi, meskipun kalian membenci kami, atau menjadikan kami sebagai ejekan, bahkan kalian senang meng-hajr kami sekalipun; maka bagi kami LEBIH BAIK YAMAN TETAP BERADA DI BAWAH NAUNGAN AHLUS SUNNAH (orang-orang seperti kalian dan kaum Sunni yang lain), daripada di bawah kekuasaan ekstrimis Syiah.

* Tidak mengapa kalian mencela kami, silakan sepuas kalian (kalau mau). Tapi cobalah wahai IKHWAH RAHIMAKUMULLAH bersatulah kalian, berdamailah kalian, demi masa depan AHLUS SUNNAH di Yaman. Bila kalian terus berselisih, nasib AHLUS SUNNAH dipertaruhkan di sana.

Semoga Allah menolong kita untuk menetapi jalan yang dicintai-Nya, amin Allahumma amin.

(AM. Waskito).


SEJARAH “MADEG PANDITO”

Februari 2, 2015

# Anda tahu Presiden Soeharto, atau Pak Harto? Kalau gak tahu, ya udahlah dengerin aja.

# Di masanya Pak Harto disebut-sebut sebagai “the strong men in Asia”. Disegani di Asia Afrika.

# Anda perlu tahu, forum ASEAN & KTT Non Blok, keduanya ramai, semarak, disegani, karena PERAN PAK HARTO. Stl beliau lengser, forum negara-negara itu jadi sepi. Hebat kan?

Begawan Menyebarkan Hikmah

Begawan Menyebarkan Hikmah

# Di masanya, sebagian besar cita-cita Pak Harto tercapai. Hingga dia mau buka pabrik pesawat pun, itu terlaksana.

# Tapi ada SATU cita-cita beliau yg kandas, yaitu ingin MADEG PANDITO. Jadi seorang pendeta, atau begawan.

# Cita-cita itu terungkap skitar tahun 1995, saat ramai-ramai perayaan “50 Tahun Indonesia Merdeka”. Juga saat mulai nyaring terdengar isu “suksesi kepemimpinan”. Pak Harto menjawab isu itu dg kemauan “mau jadi pendeta” saja.

# Ini maksudnya jadi “ahli hikmah” atau “begawan ilmu”. Bukan jadi pendeta Hindu atau Budha.

# Kenapa Pak Haro gagal dalam cita-citanya?

# Menurut kami, beliau TIDAK BERBASIS ILMU. Jadi hikmah apa yang akan disebar? Beliau lebih mahir politik & militer, bukan “ahli hikmah”.

# Sebaliknya, sosok BJ. Habibie sangat kental “sisi begawan-nya” (bidang teknologi). Beliau jadi PRESIDEN RI TERSUKSES dalam waktu 17 bulan, seperti anugrah “Durian Runtuh” dari langit. Maka itu beliau mudah diakali oleh pendekar-pendekar politik; karena tabiatnya ilmuwan, bukan “sengkuni”.

# Bahkan cita-cita jadi “begawan ilmu” tanpa basis ilmu sesungguhnya, ia bisa “membunuh” seseorang. Berkuasa secara militer, politik, materi; sangat mungkin. Tapi INGIN berkuasa di bidang ilmu, bila tak memilikinya, sangat bahaya. Menara ilmu berbeda dg menara-menara lain.

# SAATNYA kini “Madeg Pandito”. Menyebar pesan damai, persatuan Ummat, empati, berdakwah secara tulus!

# Mari BERSANDAR sikap: hikmah, sabar, tawakkal, dan akhlak mulia. Mari kita mulai “madeg pandito” dalam pengertian Islami.

# MARI kawan-kawan! (Minimal sikap ini berlaku untuk kami sendiri).

(WeAre).

 


SENI KEPEMIMPINAN

Februari 2, 2015

Suatu hari diadakan forum, menghadirkan berbagai profesi. Mereka berlomba membanggakan profesinya.

TEKNISI: “Kalo tidak ada kami, Anda semua tak akan dapat naik kendaraan ke tempat ini.”

WARTAWAN: “Tanpa kami, tidak ada berita terekspose. Jadi Anda semua akan mgalami buta informasi.”

PRAJURIT: “Kami setia menjaga keadaan aman damai. Siap komandan!”

GURU: “Kami yang mengajari Anda semua ilmu. Kami ini pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi stiap bulan dapat SLIP GAJI. He he he.”

USTADZ: “Kami yang memimpin Anda shalat, mendoakan, berkhutbah, dan memimpin penguburan Anda kalau wafat.”

Nilai Kepemimpinan: Menyatukan Potensi Perselisihan

Nilai Kepemimpinan: Menyatukan Potensi Perselisihan

POLITISI: “Kami bekerja mengurus isu-isu sosial. Jadi kami mendengar smua masalah orang.”

DOKTER: “Kami mengobati kalau Anda smua sakit.”

PETANI: “Kami menyediakan pangan untuk Anda smua. Tanpa makanan, Anda gak bisa bekerja.”

PEDAGANG: “Kami mengatur perniagaan agar ekonomi lancar. Smua dapat penghasilan.”

OWNER FESBUK: “Kami sediakan tempat ngobrol bagi Anda semua.”

Setelah semua profesi bicara, seorang KOKI masuk forum. Dengan penuh sopan santun dia merebut perhatian.

KOKI: “Kami ini hanya kerja di dapur. Tidak ada yg perlu dibanggakan. Tapi kami yakin, Anda semua saat ini sedang lapar. Mari mari… Kami sudah siapkan hidangan lengkap di ruang sebelah. Silakan Bapak, Ibu, dan saudara-saudara. Nikmati menu-menu terbaik dari kami!”

SEMUA: “Hore. Alhamdulillah. Ini yg dari tadi ditunggu. Hayuh sikat! Sudah laper banget nih.”

====………

# MEMIMPIN tidak sekedar “aku punya apa” atau “aku bisa apa”.

# MEMIMPIN ternyata merupakan gabungan:
(1) SOPAN SANTUN
(2) PINTAR MEMBACA SITUASI
(3) MENJAWAB KEBUTUHAN
(4) TULUS MELAYANI
(5) Dan satu lagi MENYATUKAN YANG BERPECAH-BELAH.

# Itulah “arts of leadership” yang dimainkan dengan baik oleh Sang KOKI.

Smoga bisa diambil hikmahnya. Amin ya Allah.

(WeAre).


Anda Tertarik…

Februari 2, 2015

Sekarang kan sedang ramai-ramainya era “cincin batu”. Nah, ini ada foto unik dan hebat. Cincin batu bentuk “ijo terong”. Asli apa palsu ya? Gak tahulah…tapi lumayan buat mereka yang sangat “ambisius”.

Dulu waktu masih SD/SMP, aku masih ingat ada acara TVRI. Waktu itu membahas tentang Kota Pacitan di Jawa Timur. Ia penghasil batu akik. Di sana di tampilkan produksi rakyat, berupa batu-batu ali, dari bahan mentah bebatuan di sana. Sangat unik. Tapi waktu orang “belum ngeh” dengan dunia begini.

Katanya, yang melariskan era “batu ali” adalah SBY, ketika dia memakai cincin seperti itu. Juga Obama memakai, dari hadiah SBY. Dan jangan lupa, SBY dari Pacitan lho.

Apakah ada KON-SUE-PIE-RUA-SI di balik maraknya “cincin batu” kali ini dengan asal-usul SBY?

Sudahlah tak usah dipikirkan sejauh itu. Ini hanya dunia hiburan masyarakat. Maklum, masyarakat lagi tertekan di sana-sini; mau ikut berperang juga gak berani; ya sudahlah…hayuh gosok dan gosok lagi Kang!

Ini lho cincin-nya…

Benar apa Nggak ya? Jadi ragu...

Benar apa Nggak ya? Jadi ragu…

 

Kata yang punya foto, harga ditawarkan 1 miliar. Waduh…mahal banget ya. Tapi kalau ada yang beginian ini beneran, kayaknya ia layak dipakai Pak Kapolri yang baru…

(Kulo).

 


Ya Allah, Selamatkan Anak-anak Kami

Februari 2, 2015
"Berayun dalam Bahaya. Demi Cita-cita"

“Berayun dalam Bahaya. Demi Cita-cita”

 

YA ALLAH YA RABBI

Mudahkan urusan anak kami ini.

Lindungi dirinya, selamatkan hidupnya, berkahi hidupnya.

Berikan ilmu yang barakah, kehidupan bahagia, serta masa depan yang gemilang.

Kuatkan tangannya saat mencengkram, fokuskan sadarnya saat di ketinggian, lembutkan angin-Mu saat berayun, damaikan sungai dan jurang-Mu, agar dia selamat sejahtera; dan juga anak-anak yang senasib dengannya. Serta berkahi dan muliakan orangtua, keluarga, dan pergaulan mereka.

Ya Allah, tolonglah, kasihi, bantu anak-anak kami. Kami tak kuasa menolong mereka, atau sekedar mendengar keluh kesah mereka, hanya Engkau Yang Maha Perkasa Ya Rabbana.

Ya Allah maafkan kami karena membiarkan. Maafkan kami karena kurang berbagi. Maafkan kami atas smua kesalahan.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ala Rasulillah Muhammad wa ala alihi wa ashabihi ajma’in.

(WeAre).