POLITIK Hati Nurani

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Apa itu politik “hati nurani”? Apakah ini semacam nama sebuah partai tertentu? Tidak, tidak sama sekali. Ini tidak terkait dengan partai politik; tapi ini semacam “politik luhur”.

Apa makna politik luhur?

Ya, kita berbicara tentang esensi kehidupan seorang insan di muka bumi. Untuk apa? Ya, untuk ibadah kepada Allah; memurnikan ketaatan kepada-Nya; tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Itulah tujuan esensi hidup manusia.

Menjalankan Politik Nurani

Menjalankan Politik Nurani

Politik luhur berorientasi ke sana. Ia memperjuangkan segala apa saja daya upaya dan rekayasa sosial, sehingga tercipta kultur kehidupan yang sehat, aman, nyaman, damai; bagi setiap insan untuk BERIBADAH kepada Allah Rabbul A’la.

Sejauh niat menuju kemuliaan ibadah insan itu ada, maka partisipasi siapa saja dalam politik, masuk kategori politik luhur. Tidak mesti meninggalkan posisi yang ada; tapi juga jangan larut dalam “lomba kekuasaan” yang kerap membuat insan politisi lalai dari tujuan semula.

Lalu apalagi?

Ya politik ini bermisi perbaikan. Mengupayakan kehidupan yang selalu lebih dan lebih baik. Semangatnya ishlah. Seperti dalam ungkapan: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini.”

Ada riwayat yang berbunyi: “Jaddidu imanakum bi laa ilaha illa Allah” (selalu perbaharui imanmu dengan kalimat dzikir laa ilaha illa Allah). Dalam kerja politik, seolah kita selalu diajak untuk memperbaiki cara, laku, dan strategi untuk membuahkan hasil LEBIH BAIK.

Mungkinkah dengan cara demikian akan lahir perubahan?

Jangan berkecil hati. Harapan baik selalu menjadi visi untuk dicapai. Jangan lelah berusaha, jangan berhenti berkarya. Perubahan akan terjadi, ketika kita sadar dan mengerti akan akar-akar perubahan itu sendiri.

RAHASIA. Selama ini ternyata sebagian besar “obrolan politik” kita hanya di level permukaan. Tidak menyentuh akar-akar perubahan sama sekali. Di level fundamental, kita belum memasukinya, atau bahkan malas memasukinya. Padahal di sana ada harapan menuju perbaikan.

Untuk berubah, kita butuh kesadaran publik. Kita butuh peran serta para pengusaha. Kita butuh para pendidik, para wartawan, serta tenaga-tenaga sosial. Kita butuh para agamawan, kita butuh dukungan pemegang senjata. Bahkan kita harus berbicara dengan petani, pedagang, nelayan, para pekebun. Juga kita harus diskusi dengan kawula ibu-ibu, gadis-gadis, penduduk desa, dan seterusnya.

Sejujurnya, investasi kita di sana sangat sedikit. Padahal di sanalah poin-poin the real change itu akan bergerak. Sebagian besar “energi politik” kita habis di meja obrolan, debat kusir, hingga saling olok-mengolok. Setelah itu semua selesai, beres, pulang kandang sendiri-sendiri. Besok saat bangun, tahu-tahu segala harga kebutuhan sudah pada naik. Stress-lah kita. Lalu solusinya, kita berdebat lagi, dan terus berdebat.

POLITIK nurani, menyambungkan kesadaran insan kepada Allah SWT; memperkuat kebersamaan dan saling tolong-menolong antar sesama Muslim; terus menebarkan kebaikan dengan tulus; sabar dalam mengubah kemunkaran; serta yang sangat penting adalah menanamkan benih-benih kebajikan di sektor-sektor vital (titik-titik perubahan sosial).

Berpolitik nurani? Ya, hayo. Come on. Mari kita lakukan… Semoga Allah Ta’ala membimbing rakyat dan bangsa ini menuju keadaan yang diridhai-Nya. Amin amin ya Rahmaan.

(WeStand).

 

 

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: