Setelah 15 Tahun Aktif di Media

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada imam kaum Muslimin, Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan para Shahabatnya semua.

Bukan waktu yang pendek bagi kami dalam kiprah di media. Sekitar 15 tahunan. Tentu ia waktu yang sangat cukup untuk merasakan suka-duka, manis-pahit, pasang-surut dunia media.

15 Tahun Jadi Jurnalis Tanpa "Blue Card"

15 Tahun Jadi Jurnalis Tanpa “Blue Card”

Tambahan lagi, dari pengalaman ini banyak POIN penting yang bisa disimpulkan terkait karakter masyarakat dan bangsa kita, khususnya dilihat dari sisi kebudayaan media. Di sini kami ingin berbagi. Terlepas soal setuju atau tidak, namun inilah sebagian yang kami ketahui –lewat pengalaman-.

Kami mulai aktif di media, sekitar tahun 2000-an. Pada tahun 1996 atau empat tahun sebelumnya, saya memutuskan mundur kuliah di Faperta Unpad. Tahun 1998, isteri lulus sebagai sarjana pendidikan dari IKIP Bandung.

Media yang saya terjuni beragam. Mulai dari forum diskusi online di Myquran.com; menulis di majalah-majalah Islam (seperti Sabili dan Saksi); menulis di media online Muslim; menulis di koran Republika, Pikiran Rakyat, Galamedia; aktif di media sosial (Facebook); aktif di media blog; menjadi narasumber siaran radio, dan lainnya.

Tahun 2000-an itu saya ikut merintis siaran kajian Islam oleh Ustadz Abu Yahya Purwanto, di Radio Ummat, milik Pesantren Daarut Tauhiid Bandung; bersama teman-teman di Nurul Ilmi Geger Kalong. Juga sempat membantu menerbitkan buletin “Jalur Sutra” yang diterbitkan Yayasan Lautze II Bandung, di Jalan Tamblong (dekat monumen Persib), sampai beberapa edisi. Mencetak buletin TK Khas Daarut Tauhiid, juga sempat mengedarkan buletin milik sendiri.

Tahun 2008 ketika merebak isu “Insiden Monas”, saat itu para aktivis FPI melakukan aksi kekerasan kepada komunitas AKKBB di Monas. Kami menurunkan tulisan berjudul “Bersikap Adil Kepada FPI”. Nantinya, judul tulisan ini menjadi inspirasi penulisan buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”; meskipun kalau melihat tulisan-tulisan Ustadz Rizieq Shihab, cenderung antipati kepada Wahabi. Entahlah, mengapa untuk seorang faqih seperti tak bisa membedakan antara Wahabi dan Syiah; kedua entitas dianggap sama. Nas’alullah al ‘afiyah.

Tahun 2002-an, perusahaan MQ menjalin kerjasama publikasi dengan Republika, mengelola dua halaman penuh, sepekan sekali. Sebagai manajer redaksi MQ Publikasi waktu itu saya rutin menulis di media ini. Kalau dihitung mungkin lebih dari 30 artikel yang saya tulis di sana. Salah satu dampak dari sebagian tulisan itu, kami diminta mundur dari MQ. Permintaan mundur disampaikan oleh Bos Inter Milan saat ini, ya Anda tahulah.

Boleh percaya boleh tidak, ketika merebak gerakan reformasi di Malaysia, kami menulis suatu tulisan berjudul “Setangkai Nasehat untuk Muslim Malaysia” (Belajar dari Kegagalan Reformasi di Indonesia). Kalau tidak salah begitu judulnya. Tulisan itu mendapat perhatian serius di negeri jiran, karena isinya berlawanan dengan ide reformasi yang diserukan oleh Datuk Anwar Ibrahim. Inti tulisan tersebut adalah: mengajak kaum Muslimin Malaysia untuk tidak terburu-buru menanggapi isu reformasi, khawatirnya mereka akan mengalami kondisi seperti yang terjadi di Indonesia; setelah reformasi, ternyata kondisi yang muncul jauh lebih buruk dari sebelum reformasi.

Masih terkait Malaysia. Kami pernah menyusun beberapa artikel bertema “ESQ Memang Bermasalah”. Artikel ini dimuat di Voa-islam.com secara berturut-turut. Dan artikel ini mendapat perhatian serius dari Mufti Persekutuan Malaysia, yang kemudian mendakwahkan bahwa ajaran ESQ melanggar prinsip-prinsip Syariat. Bahkan kami waktu itu sempat terjadi komunikasi via email dengan Sang Mufti –semoga Allah meneguhkannya di atas Syariat-.

Jauh sebelumnya, kami pernah menulis tulisan kritis terkait “Tragedi Pembunuhan Kyai di Banyuwangi”. Kejadiannya sekitar tahun 1996. Tulisan itu menanggapi liputan RCTI dari Banyuwangi; presenternya kami masih ingat namanya, Dian Islamiati. Tulisan ini meskipun tidak terpublikasikan, tapi merupakan sebuah track ketertarikan pada “teori konspirasi”. Seringkali, kejadian kekerasan yang massif di tengah masyarakat, tidak terjadi secara kebetulan, tapi by design. Tapi nanti seiring waktu, kejadian-kejadian begitu akan dilupakan, pelakunya pun “dilupakan” juga. Seolah begitu murah harga nyawa dan kehidupan di negeri kita.

Semua ini sekedar catatan tentang kiprah media yang pernah kami jalani. Meskipun tidak pernah memegang “blue card”, tapi berbagai macam pekerjaan media telah pernah kami lakukan. Misalnya, menulis artikel, wawancara, memuat image, feature, makalah, dan lain-lain.

Alhamdulillah cita-cita menjadi “journalist” tercapai, dengan caranya sendiri. Ini benar-benar jurnalis independen, lebih “khusushon” dari anggota AJI, karena tak pernah memegang “press card”. Bahkan sifatnya lintas media. Tidak dibatasi formalitas satu media saja.

Selanjutnya, mari masuk pesan utama tulisan ini, tentang kesan-kesan atau kesimpulan seputar karakter masyarakat kita terkait kebudayaan media. Apa yang disampaikan di atas adalah semacam “preambule” sebelum masuk pesan inti.

Tapi sebelumnya perlu kami jelaskan, posisi kami selama ini adalah aktivis media Muslim; dan tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan personal. Sangat mungkin ada subyektivitas atau penilaian yang mengandung unsur keterbatasan pribadi. Untuk memverifikasinya, silakan merujuk kepada hasil-hasil penilaian pihak lain.

Berikut beberapa kesimpulan yang kami dapatkan setelah berkecimpung di dunia media, sekitar 15 tahunan:

[1]. Masyarakat bawah di negara kita (grass root) cenderung kurang menghargai ide-ide, gagasan, atau informasi berharga. Mereka lebih cenderung menyukai hiburan dan santunan sosial. Jika mereka terlibat aktivitas ilmiah, umumnya karena tuntutan akademik (sekolah) dan atas dasar “keterpaksaan”.

[2]. Masyarakat lapis menengah di negara kita cenderung menyukai isu-isu, opini, perdebatan; tapi kurang memiliki daya untuk merealisasikan gagasan-gagasan positif dalam kehidupan nyata. Akhirnya lebih suka “ngobrol dan debat” daripada “ingin berubah”.

[3]. Sangat sulit melahirkan perubahan sosial di negara kita, bila tidak memiliki pengaruh kuat di tiga sektor: media mainstream, aparat hukum, dan pejabat birokrasi. Siapa yang memiliki power kuat di ketiga sektor tersebut, lebih berpeluang merealisasikan perubahan yang dia inginkan.

[4]. Secara umum, kaum Muslimin di negeri kita saat ini –dengan berbagai entitasnya- menempati posisi sebagai konsumen media, atau reaktor media. Maksudnya, lebih banyak “bereaksi” atas isu-isu media yang muncul. Kurang memiliki kemampuan membuat opini atau mengarahkan; tidak berdaya menjadi trend setter; apalagi sampai membuat kultur baru.

[5]. Banyak di antara kaum Muslimin lebih suka “isu konflik” dan mengabaikan “misi pemberdayaan”. Ini kami rasakan sangat memprihatinkan. Entahlah bagaimana cara memperbaikinya. Yang jelas, kecenderungan seperti itu sangat buruk. Seandainya kita benar-benar suka konflik, suka perang, tetap saja di sana dibutuhkan aneka jenis kekuatan. Malahan kebutuhan untuk perang itu melebihi kebutuhan untuk sektor-sektor perdamaian. Kalau hanya hobi “isu konflik” tanpa mau mempersiapkan diri atas konflik itu, ya sama saja dengan karakter Bani Israil. Mereka banyak bicara, tapi tak punya nyali berperang.

Demikianlah beberapa poin penting yang kami dapati setelah aktif sekian lama di media. Sengaja kami menulis singkat-singkat, tidak dijelaskan panjang lebar; agar pembaca menelaah sendiri kesimpulan tersebut. Betul atau salahnya, silakan dikaji atau didiskusikan.

Kami tulis hal ini sebagai NASEHAT bagi kaum Muslimin semuanya. Setidaknya menjadi INTROSPEKSI bagi kami sendiri. Apakah akan mempertahankan cara-cara demikian atau coba melakukan langkah perubahan? Di sini ada tantangan sangat serius.

Kami tidak mau berdebat. Siapa yang setuju, silakan diambil; siapa yang tidak setuju, silakan abaikan. Cukuplah pengalaman panjang ini sebagai nasehat berharga bagi kami, dan sekaligus dorongan melakukan perbaikan, dengan izin Allah Ta’ala.

Dari hal ini juga kami bermaksud untuk melakukan rekonstruksi terhadap situs blog ini, dengan niatan melakukan perubahan-perubahan, serta meminimalisir hal-hal yang bisa merugikan.

‘Ala kulli haal, terimakasih atas perhatian dan kesediaan menelaah tulisan ini. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan. “In uridu illal ish-laha masta-tho’tu” (tiadalah yang aku inginkan, melainkan melakukan perbaikan, sekuat kemampuanku). Billahi hidayah wat taufiq, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 17 April 2015.

AM. Waskito.

Iklan

3 Responses to Setelah 15 Tahun Aktif di Media

  1. Istanamurah berkata:

    namanya juga berita dan biasanya para jurnalis terutama selalu memberikan judul berita yang super unik.. 🙂 semangat..

  2. Sirom berkata:

    Jurnalis pemegang kartu atau tidak yg paling penting adalah penyampaian data & fakta yg benar. Sebagian besar media di Indonesia dikuasai/ dikendalikan oleh non muslim, artinya mereka adalah pemegang kartu opini di negri ini.

    Beberapa faktornya:
    1. Umat Islam sulit bersatu,
    2. Media seperti Republika yg digadang2 sebagai media Islam kenyataannya tidak digarap secara serius. kalah dengan misalnya Merdeka.com yg baru beberapa tahun muncul. Kita susah bersatu, tidak mau belajar & kurang dinamis dgn perubahan yg cepat.

    Salam hangat!
    Sirom

  3. abisyakir berkata:

    @ Sirom

    Terimakasih atas apresiasinya. Salam hangat juga & tetap semangka, eh semangat!

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: