Akhlak Mencari Rezeki

April 15, 2015

Jibril As pernah berpesan pada Nabiyullah Saw:

Lan tamuta nafsun hatta tastakmila rizqaha, fattaqullah fa’ajmiluu fit thalab. Wa laa yahmilannakum istibtha’ar rizki an tath-lubuhu bi ma’shiyatillah, fa inna maa ‘indallahi laa yunalu illa bi tha’atihi.”

ARTINYA: Tidaklah seseorang meninggal, kecuali disempurnakan rizkinya. Maka itu takwalah kpd Allah dan indahkan caramu mencari rizki. Jangan karena lambatnya rizki membuatmu mencarinya dg maksiat kpd Allah; karena apa yang di sisi Allah tidak akan dicapai, selain dg taat kpd-Nya.

(Disebut Ibnul Qayyim dalam Za’adul Ma’ad, tanpa nama imam perawinya).

Nabi Zakariya cari rizki dg menjadi tukang kayu. Nabi Dawud, cari rizki dg tangannya sendiri. Habil menjadi penggembala ternak. Rasulullah Saw sbg pedagang. Nabi Musa menggembala ternak. Dan lain-lain. 

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Iklan

Wahabi dan Tuduhan “Tanduk Setan”

April 15, 2015

Bismillahi laa haula wa laa quwwata illa billah. Bi nashrika ya Arhama Rahimin.

* Sangat sedih ketika sampai saat ini masih berseliweran tuduhan bahwa Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahab adalah “tanduk setan” seperti yg disebut dlm hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu tuduhan itu diarahkan ke pengikut dan simpatisan dakwahnya.

* Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa akan muncul tanduk setan dari “arah timur madinah”. Ada juga disebut kata “dari Najd”. Karena Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab berasal dari Najd, maka dakwah beliau dituduh sbg “qarnus syaithon” (tanduk setan).

* Ya kita tahulah siapa-siapa yang terus menyebarkan tuduhan itu. Tapi demi keutuhan MUSLIMIN, mereka tak perlu disebut. Cukup dibantah kebathilan tuduhan mereka.

* Ada ulama-ulama yg membantah dg dalih NAJD = IRAK. Kami tidak memakai metode itu. Biarlah kita maklumi Najd ya wilayah pedalaman Saudi, atau arah timurnya Madinah. Biar begitu saja, lebih mudah diskusinya. 

BANTAHAN…

 (1). Ketika Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebut hadits “tanduk setan”, apa beliau sebut siapa TOKOH/PERSON yang dimaksud sebagai “tanduk setan” itu? Apa beliau sebut jika “tanduk setan” itu adalah Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab? Tidak ada kan bukti-bukti bahwa Nabi tunjuk hidung ke Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab?  Lha kenapa kok banyak orang lancang menuduh Syaikh sebagai “tanduk setan”? Apa mereka lebih tahu dari Nabi dan lebih mulia dari beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam?

(2). Tuduhan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sbg “tanduk setan” adalah fitnah dan su’uzhon. Mengapa? Karena beliau Muslim, tidak pernah murtad dari agama. Si penuduh tak punya dalil Kitabullah dan Sunnah yg menunjukkan bahwa “tanduk setan” itu adalah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab). Ini hanya prasangka busuk. “Innaz zhanna laa yughni minal haqqi syai’an” (prasangka itu tak ada gunanya bagi kebenaran sedikit pun).

(3). Person “si tanduk setan” pastilah orang jahat, sesat, kafir. Tidak ada kebaikan Islam padanya. Para ulama sebutkan, mereka adalah oknum-oknum NABI PALSU seperti Musailamah, Sarjah (Nabi palsu wanita), dll. Memang mereka muncul di pedalaman Najd. Tapi ingat eranya era Salaf (zaman Khalifah Rasyidah). Sdgkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab muncul dakwahnya abad 18 M. Jauh skali jarak waktunya. Meski sama-sama di Najd.

(4). Tuduhan “tanduk setan” itu sifatnya PERSONAL, KOMUNITAS, atau SEBUAH BANGSA? Kalau ia bersifat personal, mengapa para pendukung atau simpatisan dakwah Wahabi terkena buruknya tuduhan itu juga? Kalau sifatnya komunitas atau bangsa, apa DALILNYA? “Haatuu burhanakum in kuntum shadiqin” (tunjukkan bukti kalian, kalau kalian benar!).

 (5). Tidakkah para penuduh “tanduk setan” itu sadar bahwa tuduhan tersebut adalah TAKFIR? Apa Anda tidak sadar? Ketika tuduhan “tanduk setan” diarahkan ke sesama Muslim, itu jelas TAKFIR. (Anda bisa dicap radikal, tukang mengkafirkan, teroris). Kecuali kalau tuduhan itu diarahkan ke orang-orang yg nyata-nyata murtad/kafir; itu bisa jadi cocok. TERNYATA, mereka hobi TAKFIR juga ya. Katanya Sunni, kok hobi mengkafirkan? 

(6). Andaikan sebutan “tanduk setan” itu berlaku bagi bangsa NAJD secara mutlak, dari dulu sampai kini; apakah ia berarti Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah memvonis kafir orang Najd secara mutlak? Jika demikian, tunjukkan dalil kalian bahwa Nabi telah memvonis kafir smua penduduk Najd? Jika tidak ada dalil, TAKUTLAH kalian dari menyelewengkan hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam untuk membuat fitnah. Lihatlah Nabimu bersikap lembut pada Arab Badui (kaum Najd), beliau nasehati, doakan, diajari, serta dilembuti. Itu akhlak Nabimu! Bukan hobi mengkafirkan kaum Muslimin.

(7). Kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh sebagai “tanduk setan”, padahal sebelum dakwah beliau BERGURU ke Irak, Makkah, Madinah, Syam. Berarti ulama-ulama di kota-kota tersebut adalah “gurunya tanduk setan”? Jika demikian, di mana lagi masih ada Islam kalau para ulama dituduh “inspirator tanduk setan”? Tuduhan ke murid, pasti mengena ke guru; sdikit atau banyak.

(8). Secara jelas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memilih madzhab fikih HANBALI. Ia merujuk pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Itu yang dipakai Saudi SAMPAI HARI INI. Tidak ada yang mengingkari ini, kecuali jahil. Nah, apa tuduhan “tanduk setan” tersebut ujungnya mengenai Imam Ahmad? Bagaimana jawabmu wahai penuduh? Apa masih tersisa rasa malu di sana, ya ikhwah?

(9). Secara pemikiran, dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah ORIGINAL. Beliau banyak merujuk pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Ibnu Qudamah, Adz Dzahabi, Asy Syathibi, Ibnu Hazm; imam-imam madzhab, imam-imam hadits. Apa mereka semua TEGA KALIAN TUDUH sebagai “tanduk setan”? Astaghfirullah, smoga mereka lekas taubat. Lalu membersihkan lisan & tulisannya.

(10). Bantahan paling kuat: Tunjukkan bukti-bukti, dalil, atau argumen bahwa dakwah Wahabi telah MELANGGAR SYARIAT, MENYIMPANG DARI KITABULLAH & SUNNAH, serta TELAH LAYAK DISEBUT KAFIR/SESAT. Tunjukkan bukti-bukti Syariat atas kesesatan kaum yang dituduh Wahabi saudara!

(11). Pilar dakwah Wahabi adalah TAUHID dan SUNNAH. Tauhid berarti tidak kafir dan syirik. Sunnah berarti tidak bid’ah. Apa ini salah? Bukankan Syahadat “laa ilaha illa Allah” maknanya TAUHID? Dan Syahadat “Muhammad Rasulullah” maknanya SUNNAH? Apa yang salah agamu sendiri? Apa engkau BERSYAHADAT tapi tidak mengerti maksudnya?

(12). Terakhir, kaum Wahabi telah menjadi penyelenggara Haji/Umrah sejak tahun 1920-an. Sudah ratusan juta manusia melaksanakan ibadah itu. Bagaimana status ibadah ini kalau penyelenggaranya “si tanduk setan”? Sah atau batal Pak? Mengapa para penuduh tidak menghentikan lalu lintas manusia ke sana?

* Nah, di sini dapati kesimpulan, tuduhan “tanduk setan” pada Muslimin NAJD itu: sangat ngawur, emosional, dan dosa sangat besar. Itu fitnah, tidak sesuai arah hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Itu TAKFIR, sangat berbahaya. Dan orang yang menunggangi tuduhan itu sama dengan hendak MENGHAPUSKAN ISLAM di bumi Najd. Mereka lebih ekstrem dari Khawarij. Khawarij hanya mengkafirkan pelaku dosa besar; sedang mereka mengkafirkan semua yang lahir di Najd. Kalau Anda lahir di Najd, kebetulan Anda istimewa dan punya pandangan berbeda dengan mereka; Anda dapat divonis: Si Tanduk Setan. Astaghfirullah al ‘azhim. 

* Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sangat lembut pada orang-orang Arab Badui, tapi para penuduh ingin MENGKAFIRKAN SMUA YANG LAHIR DI NAJD.

Akhirul kalam: Subhanallah, wastaghfiruhu, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sumber: dikopi dari akun facebook saudara Heru R, asal Surabaya. 


Raja Saudi dan Perang

April 15, 2015

Bismillahir rahmanir rahiim. 

>> Dr. Musa Alu Nashr mengungkapkan rasa suka citanya melihat Saudi memimpin pasukan koalisi ke Yaman.

>> Apa yg beliau rasakan, tidaklah berlebihan. Itu sesuai hikmah sejarah yg panjang.

>> Sejatinya, raja Saudi yg mahir perang adalah Raja Abdul Aziz, pendiri Saudi modern. Tapi perang beliau lokal, seputar Najd dan Hijaz.

>> Raja Faisal pun tidak trlibat perang. Tapi mendukung lewat tekanan-tekanan politik.

>> Yang pertama kali terlibat perang secara terbuka adalah Raja Salman, raja saat ini.

>> Tapi perlu dicatat, dalam 10 TAHUN terakhir, Saudi sangat aktif dalam belanja militer/senjata. Itu trjadi di era Raja Abdullah kmarin.

>> Saudi memutuskan belanja senjata dan memperkuat angkatan perang, belajar dari PERANG TELUK 1990-1991. Mereka waktu itu meminta perlindungan militer AS; hasilnya nombok sangat besar; sampai mengguncang ekonomi bangsa.

>> Persiapan perang itu sudah lama. Mengantisipasi gejolak politik regional. Bayangkan, sebelum musim Arab Springs, Saudi sudah bersiap-siap. Sampai ketika itu para pemerhati merasa heran. Kenapa belanja militer besar-besaran? Ternyata skarang ia digunakan.

>> Tapi unt perang itu sendiri tidak mudah. Hanya pemimpin bernyali yang mampu melakukannya. Raja Salman lah tokoh itu.

>> Salah seorang perwira AL Indonesia pernah berkata: “Kami siap berperang, unt mencapai perdamaian.” Kontras ya. Tapi begitulah, sebenar-benar damai sering dihasilkan lewat perang.

>> Maka, pernyataan ulama hadits asal Yordan, skaligus murid Al Albani rahimahullah di atas; bisa dipahami dg JELAS.

>> Adapun tentang kritik orang (kaum haters) terhadap perang ini…BIARKAN SAJA. Toh kalau Saudi diam saja, mereka juga akan mengkritik. Bahkan andai Saudi bersikap “antara diam dan bergerak”, mereka tetap mengkritik. Di mata mereka: “Saudi selalu salah, Iran selalu benar!” Iya tho… 

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.


Islam Rasa Nusantara

April 15, 2015

JIN: Bray, apa sih Islam Nusantara?

JUN: Itu, mau menutupi rasa rendah diri. 

JIN: Katanya, ini Islam corak orisinil negeri kita?

JUN: Ya, menurut si pembuat istilah.

JIN: Katanya, ini Islam gak pake radikal, Bray?

JUN: Ya radikal juga, terutama dalam MENGKLAIM sebagai kelompok “paling orisinil”.

JIN: Gimana sih Bray corak Islam Nusantara?

JUN: Intinya gini, blangkon tak usah diganti kopiah. Sarung tak usah diganti gamis. Saya-Anda tak usah diganti Ana-Ente. Saudara-saudari, tak usah diganti ikhwan-akhwat.

JIN: Berarti pejabat Muslim harus pake blangkon ya. Wanita Muslim mesti pake sewek/jarik. Mobil diganti kuda. Musik diganti gending. Hape diganti kentongan. Gudang-gudang dibongkar jadi lumbung. Apa begitu? 

JUN: Malah istilah ISLAM harus diganti NRIMO atau PASRAH. Jadi NRIMO NUSANTARA.

JIN: Lha, Wali Songo kan pakai sorban, pelihara jenggot, pake gamis, Bray?

JUN: Mungkin, teladan mereka para dalang wayang ‘kali. 

JIN: Jujur Bray, sebagai awam ana bingung. Ada aja hal kayak begini? Bikin pusing. 

JUN: Biarin aja. Diemin. Nanti mereka akan diem juga. Ini cuma soal marketing saja. Biasa rame-rame sbentar. Nanti juga ngilang.

‪#‎satudunia_satuislam_sajah‬


Ga Suka Arab…

April 15, 2015

+ Korma Bang? Enak, manis, masih baru.

= Gak, gak. Sana. Aku gak suka.

+ Mau air Zam Zam? Segar, berkah, boleh sambil doa.

= Sana, sana. Aku gak mau. Alergi tahu minum begituan.

+ Atau mau nasi kebuli? Resep Arab, tapi penampilan lokal. Bergizi Bang.

= Sudah sana. Bawa pergi. Aku ra ngurus yang ginian.

+ Mau distelin kaset pengajian Bang? Biar adem. Kayaknya lagi gak mau makan minum ya?

= Haduh, pengajian lagi. Bisa panas ne kepalaku.

+ Atau ini Bang. Radio pengajian. Enak dengernye. Adem, tentrem. Daripada ngomong politik.

= Hush hush, sana. Aku gak demen, tahu. Bukan seleraku ya!

+ Atau ini Bang. Gratis. Tinggal pake. Gak usah beli. Ini kopiah putih, kafiyeh, gamis. Mau?

= Haduh! Gak mau! Bisa stress nih aku.

(Stelah berulang-ulang ditawari, emoh melulu).

+ Ssttt…Bang ada yang spesial. Cewek-cewek Arab. Ampun Bang. Seksi banget.

= Hah, maksudmu apa? Aku gak jelas.

+ Cakep cakep Bang. Hidung mancung. Kulit bersih. Body-nya itu lho. Ampun dah.

= Apa maksudmu? Gak jelas. Tolong jangan bikin penasaran.

+ Cewek Libanon, Bang. Aduh…bohay abisss.

= Mana, mana? Jangan ngomong aja! Mana?

+ Tanpa sehelai benang, Bang…

= Sialan! Dari tadi ngomong melulu. Kalau punya barang, keluarin! Berapa situ punya harga? Jangan ngomong aja.

+ Abang mau?

= Sini, aku bayar kontan. Boleh short time. Boleh long time.

ENDING: Si laki-laki “alergi arab” itu ditangkap. Ternyata, yang nanya-nanya dia adalah polisi. Lagi nyamar. Mau nangkepin para politisi busuk. Sok agamis, padahal hawa nafsu.