Cinta di Hati Seorang Pemuda

+ Kak, ada apa denganmu? Kamu marah, kesal?
= Tidak, tidak ada yang marah. 
+ Trus kenapa segalanya jadi berubah? Mana ramahmu? Mana senyummu? Mana humormu?  
= Ya, sudahlah. Aku tak mau berdebat.
+ Tidak, tidak. Harus kita selesaikan. Tidak boleh ada yang lari. Ada apa sebenarnya? Katakan saja! Aku siap mendengar!
= Jangan Dek. Ini perih. Lebih baik kita berhenti sampai di sini.
+ Tidak bisa. Aku harus tahu. Kakak harus cerita! Apapun, aku siap!
= Jangan Dek. Sulit bagimu. Jangan memaksa.
+ Tidak. Aku tidak memaksamu. Bahkan aku mengancam. Kalau Kakak tidak cerita, kita putus selamanya. Tidak ada apapun, meski cuma teman.
= Jangan menjebakku Dek! Ini sangat sulit.
+ Aku tidak menjebak, tapi MENGANCAM. Katakan apa yang terjadi???

(Sang Kakak menghela nafas dalam. Dia bingung harus berkata apa. Skuat hati dia coba tegar).

= Dek, masalah ini rumit. Tidak seperti sangkaanmu.
+ Silakan saja Kakak cerita. Aku siap mendengar.
= Semua ini muncul bukan karenamu Dek. Tapi panggilan ke hatiku sendiri.
 = Umpamanya, seorang anak merindukan memiliki seekor kuda poni. Sepanjang hari dia terus memimpikan, dalam sadar & tidurnya. Dia terus bermimpi sampai suatu ketika harapan menjadi nyata. 
= Saat dia bercanda, bergelut, bermesra dengan si poni; hati sang anak dikuasai cinta kepadanya. Yang dia rasakan hanya poni, poni, dan poni lagi.
+ Trus apa yg terjadi?
= Tanpa disadari hati anak itu habis untuk poni-nya. Cintanya membuta. Sampai suatu ketika dia ditegur oleh Sang Bunda.
+ Apa kata ibunya?
= Ya Sang Ibu hanya berkata pendek, tapi mampu memecah-belah hati anak itu. “Wahai Buyung, sejak kamu mencinta poni-mu. Kamu telah melupakan cinta Bundamu.” Hanya itu katanya. Kata-kata kecil yg mengubah sgala.
 = Anak itu hanya diam terpaku. Tidak berkata apa jua. Sikapnya mendadak berubah. Dia menyadari kekeliruannya. Perlahan dia melupakan poninya.
+ Baik, baik, aku tahu maksud Kakak. Andaikan di matamu aku ini adalah kuda poni. Lalu siapa ibumu?
= Bukan siapa-siapa Dek.
+ Ayo katakan, jangan ragu.
= Hmm… Dia adalah Sang Pemilik cinta. Rabb yang mencipta cinta di hati-hati manusia. 
+ Ooh…
= Aku merasa dipanggil untuk memperbaiki hatiku, meluruskan maksudku.
+ Masih adakah harapan buatku di sini? 
= Kita sama-sama berharap yang terbaik kepada ALLAH SWT. 

+ Aaah, Kakak orangnya mah begitu. 

= Sudah kukatakan Dek. Ini perih. Maafkan… 

+ Hu hu hu…uh (terdengar isak tangis mengharukan).

==> “Mencoba mengerti sebuah sudut pandang tentang cinta sebagian pemuda.”

(Admin). 

Sumber: Akun facebook. 

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: