Kalau Langgam Mocopat Populer…

* Harusnya penguasa membuat sebanyak-banyak SOLUSI atas masalah masyarakat. Bukan malah “panen masalah” terus. Yang kemarin belum selesai, kini bermunculan sensasi-sensasi baru. Ya kasihan lah rakyat ini. Kapan mereka diopeni, Bozz?

* Kali ini penguasa angkat “bacaan Al Qur’an dengan lagu Mocopat”. Didengarkan di istana, dalam acara formal.

* Kalau gaya MOCOPAT ini laku keras, maka dunia hiburan Kejawen bisa semakin marak membahana.

* Sekaligus hal ini akan MEMBABAT penyebaran TAHSIN TILAWAH yang selama ini berkembang baik di masyarakat.

* Konsep MOCOPAT pasti susah diselaraskan dengan TAHSIN TILAWAH. Itu terbukti, si pembaca di istana itu pun memaksakan diri mengikuti irama Mocopat. Untuk sekaliber Qari’ saja harus bekerja keras, apalagi orang biasa?

* Demi Allah, saat kami dulu saat di SD diajari konsep Mocopat, Dandangulo, dll. sangat sulit memahami. Tapi saat diajar mengaji di masjid, biasa saja. Kenapa begitu?

* KARENA ada ayat: “Wa laqad yas-sarnal qur’an li dzikri” (sungguh telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk dipelajari).

* Juga ada ayat: “Faqra’uu maa tayassara minal qur’an” (bacalah apa yang dimudahkan dari Al Qur’an).

* Konsep dasar lagu-lagu etnik, pasti sangat sulit; dan bisa memecah belah Ummat juga, jika dikaitkan bacaan Al Qur’an.

* Sekarang ada orang berteriak-teriak: Apa Indonesia cuma Jawa saja? Karena mereka tersinggung aspek etnikalnya. Padahal Muslim Jawa sendiri juga tidak mau hal itu. Hanya penguasa saja yang punya niatan tertentu di balik manuvernya. Nas’alullah al ‘afiyah.

* Ada kaidah “maa laa tatimmul wajiba illa bihi wa huwa wajib“. Tidak sempurna suatu kewajiban selain dengan suatu perkara, maka hukum perkara itu adalah wajib.

* Aplikasinya begini… MENJAGA AL QUR’AN ADALAH WAJIB. Maka menjaga sarana-sarana untuk menopang kelestarian Al Qur’an adalah wajib juga. Seperti Tahsin Tilawah.

* Bagaimana kalau ada Rektor Univ Studi Al Qur’an membolehkan pakai lagu Mocopat? JAWAB: Maukah dia mengajarkan lagu itu pada anak, cucu, istri, keluarga, murid-murid, dan semua manusia? Begitu saja jawabnya. Kalau dia mau, silakan dipakai sendiri cara itu dalam ibadahnya. Tidak usah ditularkan ke manusia yang lain.

* Janganlah ada usaha merusak ilmu-ilmu Islam secara pelan-pelan. Nas’alullah al ‘afiyah.

(Mine).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: