Dilema Jin Main Medsos…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

>> Saat pertama ada yang share foto-foto percakapan medsos dengan jin, hal itu membuat kami terkesima. Ooh, sebuah fakta baru. Sangat menarik. Perlu kita kaji dan lihat lebih jauh.

>> Sebagai awam dunia per-jin-an, rasanya kita tak percaya atau “setengah geli”. Tapi melihat ada puluhan picture sebagai bukti rekam jejak percakapan itu, kami menganggap ini serius.

>> Di sini kami tidak akan “bermain soal hati”, tapi mari melihat masalah ini murni dari kacamata Syariat Islam. Biarlah soal hati, Allah yang menilai; tapi kita punya hajat terkait kasus itu sebab ia berkaitan dengan kepentingan Ummat secara luas.

>> PERTANYAAN KAMI SANGAT SIMPEL: Apakah jin bisa menjalankan aplikasi medsos? Jawabnya, bisa IYA bisa TIDAK.

>> Jika kita jawab: JIN TIDAK BISA MAIN MEDSOS. Seketika, selesai masalah. Tidak ada keributan lagi, tidak ada dilema, tidak ada musykilah. Urusan medsos kembali ke domain urusan manusia. Fatwa ulama seputar medsos tetap jalan sebagaimana mestinya; begitu juga UU ITE berlaku sesuai ruang lingkupnya. Artinya, masalah kembali normal lagi.

>> Namun jika kia jawab: JIN BISA MAIN MEDSOS. Bahkan bisa main aneka rupa teknologi manusia lainnya. Nah, jika demikian jawabnya, konsekuensinya tidaklah kecil. Justru sangat luas. Mungkin kita tidak pernah menyangka bahwa jawaban BISA ini akan melebar kemana-mana.

>> KONSEKUENSI 1: Jika jin bisa main medsos, berarti mereka juga bisa main teknologi komputer, gadget, komunikasi virtual, dan seterusnya. Boleh jadi mereka juga piawai di bidang otomotif, analis kimia, bioteknologi, ilmu kedokteran, dan seterusnya. KHAWATIRNYA, hal seperti ini akan menyebarkan KHURAFAT yang banyak. Nanti manusia akan berandai-andai, berangan-angan, berkhayal tentang aneka macam capaian teknologi jin. Sedangkan semua itu tak bisa kita buktikan.

>> KONSEKUENSI 2: Keyakinan akan kehebatan jin dalam aplikasi teknologi modern ini, akan berimplikasi pengakuan akan kemampuan mereka di bidang-bidang teknologi lain. Akhirnya, kita jadi terkondisikan untuk berpikir FATALIS (kurang kreatif). Jika ada masalah-masalah tertentu, dengan mudah di-judge sebagai urusan jin yang harus diselesaikan dengan ruqyah. Seperti contoh nyata, ada komputer rusak dengan sangkaan gangguan jin, lalu si komputer perlu diruqyah. (Ini nyata, karena pernah dialami teman saya).

>> KONSEKUENSI 3: Dari sisi sosial, akan melahirkan banyak sikap prasangka/praduga (zhan) di antara sesama Muslim. Jika ada hal-hal musykilah (problem), bisa diprasangkai sebagai hasil perbuatan jin yang bersifat ghaib. Misalnya, ada seorang wanita hamil, dengan tidak jelas siapa pelakunya. Bisa saja, orang akan berbisik-bisik: “Pelakunya mungkin jin.” Kondisi demikian jika terjadi, tentu amat sangat melelahkan hidup kita. Karena kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak jelas ujung-pangkalnya.

>> KONSEKUENSI 4: Hal ini menurut kami termasuk yang paling serius, yaitu nanti manusia bisa mencari udzur (alibi) atas kejahatan yang dilakukannya. Terutama untuk kejahatan-kejahatan yang tak bisa dilihat pelakunya secara langsung, tapi bukti-buktinya ada. Misalnya, dalam akun, blog, situs, atau media milik seseorang terdapat konten terlarang dan berbahaya; lalu si pemilik mengingkari perbuatannya, meskipun fakta-fakta ada; lalu dia beralasan: “Mungkin pelakunya jin.” Alibi demikian dapat dilakukan di berbagai bidang teknologi, jika asumsinya jin menguasai banyak media teknologi.

>> Kalau kami meyakini, jin tidak masuk ke dunia medsos. Alasannya sederhana, sulit membuktikan fakta itu; serta adanya konsekuensi-konsekuensi seperti di atas.

>> Ya tidak masalah jika karena pendapat ini kami disebut “jahil murakkab”. Tidak mengapa. Sebab suatu pendapat seringkali bertumpu pada alasan-alasan tertentu. Sejauh alasan tersebut Syar’i dan loyal kepada maslahat Ummat, ya kami akan mengalir bersamanya. Insya Allah.

>> Sebagai perbandingan, pernah tersebar buku DIALOG JIN MUSLIM, karya Muhammad Isa Dawud asal Mesir. Terbitan Pustaka Hidayah Bandung. Buku ini menjadi heboh. Masyarakat tiba-tiba keranjingan dunia perjinan. Ustadz-ustadz Salafi segera mentahdzir buku ini dan mengingatkan isinya banyak mengandung khurafat. Isa Dawud sangat terinspirasi dengan SEGITIGA BERMUDA. Sebagai gantinya, muncul kitab-kitab seputar dunia sihir karya Syaikh Abdussalam Bali, asal India. Kitab ini dianggap lebih syar’i, bijak, dan tidak kontroversial.

Masalahnya, apakah kini kita mau kembali ke pandangan versi Isa Dawud itu? Wallahu a’lam bisshawaab.

Demikian, semoga bermanfaat. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(SmileOn).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: