Level Mengajar

* Mengajar (teaching), beda dengan ceramah (speaking).
* Mengajar punya makna: membentuk, membangun, memberdayakan, mengajak paham.
* Saya belum pernah khusus belajar ilmu-ilmu PEDAGOGIK (seputar dunia mengajar). Tapi lingkungan saya guru. Kakak guru, isteri guru, kakek guru, adik juga guru, ipar guru.
* Ilmu pedagogik terutama saya SELAMI dari pengalaman menjadi murid. Tanpa disengaja, saya selalu “meresapi” cara guru-guru dalam mengajar.
* Pengalaman pertama mengajar, yaitu saat SD mengkoordinir bocah-bocah yunior main bola. Lalu mengajar teman-teman sekelas materi ulangan. Lalu mengajar adik persiapan EBTANAS SD.
* Level mengajar paling tinggi, saat memberi pelatihan para ustadz di pesantren Aa Gym.
* Level paling rendah, ngajar anak TK. Anda gak percaya? Saya pernah jadi “visitor teacher” mengajar anak TK konsep dasar “menulis buku”. Ha ha ha…lucu ya.
* Ngajar bapak-bapak pernah, ibu-ibu sampai nenek-nenek juga pernah. Tapi tidak sering.
* Ngajar paling menantang, menghadapi anak remaja SMP/SMA. Karena mereka gampang bosenan. Kalau bosan, jadi ribut.
* Paling enak mengajar aktivis, kader dai, mahasiswa. Karena frekuensinya sudah klop. Mereka siap, sadar, dan cerdas.
* PERNAH saya ngajar pemuda-pemuda di gang. Kajian di masjid. Itu sekitar masjid seperti penuh “dry ice”. Tapi ini dari asap rokok para pemuda tersebut. (Sy tahan hadapi rokok, tapi gak tahan hadapi isu konflik. Lebih memilih ngalah saja).
* Bahkan pernah saya mengajar mbak-mbak mualaf yang kalau belajar ngaji, tuh pakaian ya…seksi amat. Saya pura-pura tenang, padahal hati bergemuruh. Maklum masih normal. Wakakak…
* Rata-rata kendala sulit mengajar karena ada “bisik-bisik konflik” di sana, dan saya cenderung tak mau masuk pusaran begitu. Sudah “trauma konflik” sejak SD/SMP.
* Demikian sekedar berbagi. Ringan & santai. Smoga Allah Ta’ala maafkan atas stiap yang berlebihan. Dan Dia berkahkan atas kebaikan-kebaikan. Amin.
* Mohon maaf bila tak berkenan.

(Me).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: