SOLUSI PERSELISIHAN Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Bismillahir rahmaanir rahiim.
* FAKTA… Sejak zaman reformasi, kaum Muslimin di negara kita sering berselisih tentang awal Ramadhan & Idul Fithri; juga momen Idul Adha.
* Mengapa terjadi hal ini? Ia merupakan dampak langsung fenomena “kebebasan ekspresi”. Termasuk dalam amaliah keagamaan. Mau tak mau, suka tak suka, itu terjadi.
* Kita tak bisa hanya cela sana-sini, karena perbedaan ini. Yg paling memungkinkan kita brsikap BIJAK, mengeliminir dampak buruk perselisihan.

Boleh Berbeda Tapi Kita Tetap BERSATU

Boleh Berbeda Tapi Kita Tetap BERSATU

* Berikut SOLUSI yang bisa ditempuh…


[1]. Mengikuti pengumuman yang disampaikan Departemen Agama RI. Dengan alasan:
>> a. Ia mewakili bagian terbesar Ummat Islam di negara kita;
>> b. Ia didukung penuh oleh MUI;
>> c. Bahwa Nabi Saw mengutamakan jumlah komunitas Muslim yang lebih besar.


>> Nabi Saw bersabda tentang adab salam: “Yusallimu ar rakibu ‘alal masyi, wal masyi ‘alal qaid, wal qalil ‘alal katsir” (hendaklah memberi salam pengendara kepada pejalan kaki; pejalan kaki kepada yang duduk; jumlah sedikit kepada yang banyak). HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah RA. Dalam hadits ini, jumlah Muslim sedikit harus lebih menghormati jumlah yang banyak.
>> Maka ikut arahan Depag RI punya keutamaan kebersamaan dg jumlah Muslim yg lebih besar.


[2]. Namun karena negara kita bukan berdasar SYARIAT, sangat sulit menyatukan semua pendapat. Selalu terbuka peluang perbedaan pendapat. Ada ungkapan terkenal ulama: “Sesuatu yang tak bisa diluruskan dengan pena ulama, bisa diluruskan dengan pedang penguasa.” Artinya, negara punya instrumen untuk menyatukan, kalau mau. Di negara non SYARIAT, fatwa ulama tidak punya kekuatan memaksa. MAKA lahirnya pendapat berbeda-beda tak bisa dihindari.


[3]. BOLEH saja mengambil pendapat berbeda dari ketetapan Depag RI, selagi masih berdasar metode ilmiah Ahlus Sunnah. TAPI sebaiknya pendapat itu dilaksanakan secara individu, terbatas, atau tidak DEMONSTRATIF. Ini untuk menghindari Perpecahan Ummat.


[4]. Jangan jadikan perpecahan yang terjadi -seperti poin 3- sebagai sumber obrolan, bahan ejek-mengejek, apalagi kebanggaan. Justru kita harus malu, mengapa kita tak bisa bersatu?


* Muslim Ahlus Sunnah tidak dilarang menganut satu pendapat (berdasar dalil); tapi yang bersangkutan harus komitmen dg PERSATUAN UMMAT.
* Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Salam persatuan Ummat. Marhaban Ramadhan. Selamat berpuasa!

(AM. Waskito).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: