Apakah Syiah Saudara Kita ?

++ Pak, ada yang bilang, Syiah itu saudara kita, sesama Muslim.
>> Esensi persaudaraan adalah saling mencintai, menghormati, tolong-menolong, saling menjaga. Tanpa ini semua persaudaraan jadi tanpa makna.
++ Seperti apa konsep persaudaraan dalam Islam? Mohon penjelasannya?
>> Saudara yang dikenal dalam agama kita ada 4 bentuk, yaitu:
(a). Saudara NASAB, karena faktor keturunan, seperti Yusuf dan saudara-saudaranya. Termasuk di dalamnya kekerabatan dengan kakek, nenek, paman, bibi, keponakan, sepupu, dll.;
(b). Saudara karena pernikahan. Suami-istri, ipar, mertua, semula orang lain jadi saudara;
(c). Saudara SEBANGSA, seperti Nabi-nabi dan kaumnya, meskipun nantinya mereka berpisah jalan;
(d). Saudara dalam AGAMA, saudara seiman sekeyakinan, seperti dikatakan: “Innamal mu’minuna ikhwah” (org-org Mukmin itu bersaudara).
++ Katanya, orang Syiah itu masih shalat menghadap Ka’bah, jadi masih saudara.
>> Orang Ahmadiyah juga shalat hadap Ka’bah. Orang JIL juga hadap Ka’bah. Snouck Hurgronje juga dulu shalat hadap Ka’bah. Orang Jahmiyah hadap Ka’bah. Orang Qaramithah dulu juga hadap Ka’bah. Itu tidak menjamin.
++ Dalam Surat At Taubah 11, di sana ada kata IKHWANUKUM FID DIN, saudaramu seagama.
>> Bagaimana sifatnya?
++ Bertaubat, menegakkan shalat, membayar zakat. Hanya itu.
>> Tapi kamu tidak perhatikan ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat itu bicara tentang orang-orang musyrik.
++ Maksudnya?
>> Mereka membuat kerusakan, melanggar janji, tidak memberi rasa aman, tidak memelihara kekerabatan, melecehkan agama, merusak sumpah, berdusta dalam ucapan, dll. Jika mereka BERTAUBAT dari semua itu, lalu mengerjakan shalat dan zakat, barulah jadi TEMAN SEAGAMA kita.
++ Apa kaitannya dengan orang Syiah?
>> Lha, kelakuan musyrikin itu kan IDENTIK dengan kelakuan orang Syiah. Perbuatan mereka serupa orang musyrik.
++ Bisa disebutkan?
>> Kalau mereka saudara kita, pasti akan MEMBERI RASA AMAN, MEMENUHI JANJI, TIDAK MENGGANGGU, TIDAK MENGKAFIRKAN KITA, TIDAK BERDUSTA, TIDAK MELECEHKAN AGAMA KITA, dan lain-lain. Kenyataannya, kaum Syiah selalu melakukan itu semua. Di mana ada Sunni, selalu mereka berusaha memurtadkan dari ke-sunni-annya.
++ Bukankah Sunni-Syiah masih saudara?
>> Ya itu tadi, apa bukti persaudaraan itu? Cuma omong kosong kan? Kata Al Qur’an: “Yurdhunakum bi afwahihim, wa ta’ba qulubuhum” (mereka menyenangkan kamu dg mulut-mulut mereka, padahal hati-hati mereka menolak). At Taubah 8.
++ Adakah suatu hakikat kuat yang bisa menyingkap kesamaran ini?
>> Ada. Rasulullah Saw bersabda: “Al muslimu akhu al muslimi. Laa yazhlimuhu, wa laa yahqiruhu, wa laa yakh-dzuluh. Kullul muslim alal muslimi haramun damuhu, wa maaluhu, wa ‘irdhuh” (seorang Muslim Saudara Muslim lain. Tidak boleh menzhalimi, merendahkan, membiarkan. Setiap Muslim atas Muslim lain diharamkan darah, harta, kehormatannya). HR. Muslim. Sedang kaum Syiah terkenal segala kezhalimannya atas Sunni; baik di Iran, Irak, Libanon, Suriah, Yaman, Afghanistan, dll. Pastinya mereka bukan saudara kita.
++ Kalau kita di Iran, apa boleh makan sembelihan mereka?
>> Misalnya di Teheran, tak ada satu pun masjid Sunni di sana. Tapi sinagog Yahudi dan gereja, banyak. Maka itu seperti kondisi di wilayah minoritas Muslim. Jangan makan sembelihannya, sampai ada kepastian bahwa si penyembelihnya benar-benar Sunni. Menyembelih dengan menyebut nama Ali, Hasan, atau Husein, pokoknya yang selain Allah, TIDAK DITERIMA sembelihannya.
++ Tapi ada ustadz atau ahli agama yang mendakwahkan bahwa Syiah adalah saudara kita.
>> Ya jangan diikuti pendapatnya. Masih banyak pendapat ulama-ulama yang memperingatkan Syiah. Lagi pula bahaya Syiah ini sudah diperingatkan sejak RIBUAN tahun lalu oleh para ulama.
++ Jadi mestinya bagaimana? Syiah bukan saudara kita?
>> Kalau saudara, pasti akan jelas sifat-sifatnya. Wong, mereka umumnya hanya menawarkan permusuhan terhadap kaum Sunni. Di mana ada Syiah, selalu berusaha men-syiah-kan kaum Sunni. Mereka ingin mengubah RUKUN ISLAM dan RUKUN IMAN kita, diubah ke versi agama mereka.
++ Oke, baik kalau begitu. Terimakasih.
>> Sama-sama. Barakallah fikum wa lil qaari’in.

(Mine).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: