Bolehkah I’tikaf Sendirian di Rumah ?

>> Di antara kaum Muslimin ada yang INGIN I’TIKAF RAMADHAN, tapi terkendala masalah-masalah.
>> Misal karena kesibukan kerja, karena tidak ada kawan, karena tidak ada masjid yang dekat, karena dalam perjalanan, karena dia seorang wanita, karena haidh, dll.
>> SECARA UMUM, namanya I’tikaf PASTI HANYA di masjid. I’tikaf adalah amal saleh yang terikat masjid. Tak ada masjid, ya tak ada I’tikaf.
>> Ulama menjelaskan, lama tidaknya I’tikaf tidak dibatasi. Mau 10 menit saja, boleh. Mau 10 tahun juga boleh, kalau kuat dan diizinkan melakukan itu. Para Ahlus Suffah di zaman Nabi Saw, tinggal lama di masjid.
>> Tapi khusus bulan Ramadhan, ada amal saleh yang namanya: I’TIKAF 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN. Benar-benar 10 hari terakhir, siang malam, sampai saat tiba MALAM Takbiran. Amal ini khusus saat Ramadhan saja. Tidak tergantikan dengan bulan-bulan lain.
>> Seorang Muslim sangat hebat bila setiap Ramadhan bisa beramal I’TIKAF 10 HARI AKHIR RAMADHAN. Hebat itu. Tapi boleh beberapa kali, semampunya. Minimal seumur hidup SATU KALI; demi melaksanakan Sunnah Nabi Saw. Jangan ditinggalkan sama sekali ya. Tak boleh. Nanti Nabi Saw akan menanyakan hal itu.
>> Oh ya, ini penting sekali. Ibadah I’tikaf ini terikat oleh dua hal: NIAT dan SUCI. Niat berarti ada kesengajaan melakukan I’tikaf demi meraih ridha Allah. SUCI berarti dalam keadaan WUDHU dan tidak dalam hadats besar/kecil.
>> I’tikaf tanpa niat adalah tidak mungkin. Meskipun berkemah di masjid 10 tahun, kalau tak ada niat I’tikaf, ya tidak dinilai ibadah I’tikaf.
>> Oh ya, ada aspek lain, yaitu AKHLAQ. I’tikaf harus diisi amal yang baik-baik, minimal diam atau tidur. Jangan diisi fitnah, ghibah, adu domba, hedonisme, apalagi maksiat. Perbuatan tercela tidak pantas di luar, lebih tidak pantas dilakukan di masjid.
>> Kembali ke topik di atas… Bolehkah I’tikaf sendirian di rumah?
>> Di rumah tidak ada I’tikaf. Meskipun itu ada musholla tempat shalat.
>> Sebagian ulama mensyaratkan I’tikaf di masjid yang ada SHALAT JUM’AT-nya. Ada juga masjid yang RUTIN MENGGELAR SHALAT LIMA WAKTU dan KUMANDANG ADZAN. Jadi musholla yang tidak memenuhi syarat itu, bukan tempat I’tikaf.
>> TAPI di rumah kita bisa lakukan AMAL SHALIH apa saja, seperti Shalat, Dzikir, Baca Al Qur’an, Doa, berbakti ke orangtua, shilaturahiim, sedekah, dll. Pokoknya amal shalih. Ini memang bukan I’tikaf, tapi TIDAK AKAN KETINGGALAN PELUANG AMAL.
>> Mengapa? Karena untuk mengejar LAILATUL QADAR tidak dibatasi amal-amalnya. Yang penting masuk cakupan: AMAL SHALIH DI MALAM 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN, SAMPAI SAAT TIBA WAKTU FAJAR. Amal baik apa saja di malam itu, akan ditimbang dengan pahala Lailatul Qadar.
>> Bagi kaum wanita haidh. Cara ibadahnya begini. Anda gelar sajadah atau tikar di rumah. Pakai mukena, lalu duduk berdzikir misalnya baca Istighfar, Tahlil, Tasbih, Tahmid, Takbir, Shalawat. Boleh juga membaca doa: “Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku ini). Atau baca dzikir: “Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaikati war Ruuh” (Maha Suci Engkau, Maha Qudus, Engkau Tuhan kami, juga Tuhan para Malaikat dan ruh). Atau silakan berdoa apa saja yang bisa dilakukan. Jadi saat malam itu jangan dilewatkan untuk tidur saja. TETAPI tidak boleh melakukan Shalat dan Membaca Al-Qur’an. Selain itu boleh dan dipersilakan beribadah semampunya.
>> Bagi para MUSAFIR (terutama sedang mudik), silakan beramal di malam-malam itu di sepanjang jalan. Tentunya setelah menunaikan amalan SHALAT WAJIB, karena kewajiban tidak boleh diakhirkan dari amalan yang Sunnah. Silakan baca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, sedekah, mudzakarah (nasehat-menasehati), membaca kitab-kitab agama, membuat status medsos yang bermanfaat bagi Ummat, dan sebagainya.
>> Intinya, kita jangan kehilangan KESEMPATAN AMAL SHALIH di malam-malam 10 Hari Terakhir Ramadhan. Kalau tidak bisa beramal di masjid, jangan kehilangan amal shalih di mana saja, apakah di rumah, di perjalanan, di tempat kerja, dan sebagainya.
>> Demikian, semoga manfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Hamdalah).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: