Entitas Tak Bermadzhab

>> Kami sepakat untuk menghormati madzhab-madzhab fiqih Ahlus Sunnah. Kami juga sepakat tentang perlunya bermadzhab.
>> Ada yang mengatakan: “Bermadzhab merupakan jalan paling rasional untuk menyatukan Ummat.” Wallahu a’lam.
>> TAPI sangat sedih jika karena alasan madzhab orang bermudah-mudah menuduh saudaranya sesat, menyimpang, ikut jalan setan.
>> REALITAS kaum Muslimin di Nusantara, sangat banyak yang tidak bermadzhab. Begitu juga gerakan-gerakan dakwah Islam, rata-rata tidak menganut madzhab tertentu. Termasuk juga partai-partai Islam/Muslim.
>> Meskipun tidak dipungkiri, NU dan eksponen tradisional, memilih madzhab Syafi’i.
>> Ormas-ormas Islam banyak tidak bermadzhab. Bahkan MUI pun tidak membatasi diri dalam ruang madzhab khusus.
>> Jika tidak bermadzhab dipandang sesat, duh betapa banyak yang akan jadi sesat. Astaghfirullah al ‘azhiim.
>> Syaikh Al Albani rahimahullah sering jadi sasaran caci maki; konon, beliau dianggap ulama musuhnya madzhab-madzhab. Padahal selain beliau, banyak yang tidak bermadzhab.
>> Pendukung madzhab hanya memberi sedikit pilihan: “Anda mujtahid sekelas Ibnu Rusyd? Kalau bukan, wajib ikut madzhab.”
>> JADI seolah, rahmat agama ini hanya untuk segelintir para Mujtahid saja. Selainnya, tak berhak.
>> PADAHAL para ulama Mujtahid itu sendiri TAK ADA yang mewajibkan Ummat mengikuti pendapatnya. Tidak ada yang menetapkan: “Ummat wajib ikut pendapat saya.”
>> Kita ingat kisah, ketika pendapat Imam Malik rahimahullah tersebar luas; beliau malah menangis sedih.
>> Bahkan kami kira Syaikh Al Buthi pun tidak mewajibkan manusia ikut pendapatnya. Adakah bukti beliau wajibkan manusia ikut pendapatnya?
>> PENDAPAT para ulama bisa macam-macam, sesuai keragaman telaahnya. Tapi kita yakin, ADA YANG BISA MENYATUKAN Umat Ahlus Sunnah ini, yaitu: Rahmat Allah. Seperti kata Nabi Saw: “Laa tajma’u ummati ‘ala dhalalah” (ummatku tak akan berkumpul di atas kesesatan).
>> Seasing-asingnya pendapat Ahlus Sunnah, pasti akan selalu ada jalan untuk bisa bersatu. Apa dasarnya? Yaitu rahmat Allah melalui Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bukankah Nabi Saw pernah berkata: “Ma in tamasaktum bi hima lan tadhillu abada” (selagi kalian berpegang pada keduanya, kalian tak akan sesat selamanya). Adakah yang meragukan janji ini?
>> SECARA fakta, banyak dari Ummat ini tidak terikat madzhab. Di Nusantara maupun dunia. Dan mereka itu bukan sekelas Ibnu Rusyd, Ibnu Hazm, atau Ibnu Taimiyah. Jadi mau kita apakan Ummat yang banyak itu? Mau dipaksa? Silakan coba…
>> Dalam pandangan kami, janganlah menuduh sesama Muslim sesat, menyimpang, bukan ahlul iman; karena alasan madzhab. SELAGI MEREKA MASIH DALAM LINGKUP METODE AHLUS SUNNAH, mari kita welas asih kepada mereka. Jangan gampangan menuduh orang sesat tanpa dasar.
>> Nabi Saw bersabda: “Innad dina yusrun, wa maa yusyaadad dina illa ghalabah” (agama ini mudah, tidak ada yang menyulit-nyulitkan dalam agama, pasti akan terkalahkan).
>> Wallahu a’lam bis shawaab.

(WeAre).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: