Jiwa Besar Buya Muhammad Natsir

Sikap Bijak Pemimpin Islam

Sikap Bijak Pemimpin Islam

>> Beliau salah satu pemimpin legendaris Masyumi. Pendiri Dewan Dakwah Islamiyah (DDII). Penerima Faishal Award. Menjadi tokoh penting di balik program BEASISWA belajar ke Saudi.
>> Beliau adalah benteng tangguh dalam menghadang SEKULARISASI, KRISTENISASI, PKI, SYIAH, ALIRAN SESAT, LIBERAL. Rata-rata gerakan Islam Nusantara terinspirasi perjuangan beliau.
>> Di zaman Orde Lama pernah konfrontasi pemikiran menghadang otoritarianisme Soekarno. Wal hasil, beliau dianggap “musuh negara” terkait isu PRRI/Permesta. Isu itu juga yang menjadi dasar pembubaran Masyumi oleh Soekarno.
>> Sebuah kisah penting…
>> Saat zaman awal Soeharto, banyak tokoh dan aktivis PKI dijebloskan ke penjara.
>> Entah kenapa, Soeharto memasukkan orang-orang PKI itu dalam SATU SEL dengan tokoh-tokoh Masyumi yang lebih dulu masuk.
>> Mengingat sikap PKI yang sejak lama KEJAM kepada Masyumi, tentu saja orang-orang PKI itu jadi ketakutan. Mereka khawatir akan jadi “sansak” (di-bully) di hadapan kader-kader Masyumi.
>> Tokoh-tokoh Masyumi tahu ketakutan di wajah orang-orang PKI. Subhanallah…apa yang terjadi? Ternyata, orang-orang PKI itu disambut hangat, ramah, penuh kasih sayang. Kesalahan mereka dimaafkan, malah diajak melupakan.
>> Buya Muhammad Natsir tidak membolehkan tindakan kasar atas mereka. Mereka diterima sebagai teman, dilindungi, dibantu dengan makanan. Kalau ada kiriman makan untuk tokoh-tokoh Masyumi, sebagian diberikan ke orang-orang PKI itu.
>> Padahal saat jaya-jayanya, manusia PKI itu amat sangat kejam dalam melecehkan Islam dan tokoh-tokohnya.
>> Dari perlakuan manis itu, tokoh-tokoh PKI tersebut mau belajar berwudhu, shalat, mengaji. Inilah awal titik perubahan sikap tokoh-tokoh PKI terhadap Islam. Salah satunya, Pramoedya Ananta Toer, budayawan.
>> Suatu ketika, tokoh-tokoh Masyumi dibebaskan dari penjara oleh negara. Sedangkan kader dan tokoh PKI akan dikirim ke Pulau Buru, menjalani pengasingan di sana. Tahukah Anda, apa yang terjadi?
>> Tokoh-tokoh Masyumi dan kader-kadernya turun ke Pelabuhan Tanjung Priok, untuk MELEPAS KEPERGIAN MEREKA ke Pulau Buru, sebagai saudara. Subhanallah…
>> Ketika itu TAK ADA yang berani dekat-dekat dengan Tapol PKI, tapi mantan tokoh-tokoh Masyumi perlihatkan jiwa besarnya. Mereka satu-satunya elemen masyarakat yang MAU HARGAI sisi kemanusiaan warga eks PKI itu.
>> Perpisahan di pelabuhan Tanjung Priok terjadi penuh hujan air mata bercucuran. Warga eks PKI merasa amat sangat bersalah karena telah menzhalimi manusia-manusia luhur akhlak itu. Sedang tokoh-tokoh Masyumi bersedih memikirkan nasib saudara-saudara yang baru terketuk hatinya.
>> Irhamna ya Arhama Rahimiin….
>> Kalau tidak salah, hubungan antara mereka dilanjutkan dengan surat-menyurat, mengirim kader-kader dai ke sana, juga buku-buku.
>> Orangtua-orangtua kita punya TELADAN JIWA BESAR. Sekalipun kepada mantan MUSUH BEBUYUTAN. Tapi sayang…di hari ini kita sangat gemar memusuhi, membenci, dan memerangi SAUDARA SENDIRI. Sayang sekali. Seperti beda “bumi dan langit”.
***SUMBER: Penuturan Al Akh Arta Abu Azzam, pemerhati sejarah. Dari penuturan mantan sopir pribadi Buya M. Natsir rahimahullah.

(MindOn).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: