SEBUAH PERSPEKTIF: WAHABI & TURKI UTSMANI

>> Sebenarnya tidak relevan membahas relasi konflik dakwah Salafiyah (Wahabi) dengan sejarah Turki Utsmani (Ottoman).
>> Mengapa tidak relevan? Ya karena bangsa TURKI MODERN (pewaris historis Khilafah Turki), memiliki HUBUNGAN BAIK dengan Kerajaan Saudi. Mereka saling sinergi dalam membangun negara dan diplomasi.
>> Kedua negara, KSA dan Turki, sepakat berdamai, melupakan masa lalu, dan menatap masa depan.
>> Kalau datang musim semi atau panas, ada beribu-ribu Muslim Turki datang Umrah ke Tanah Suci, dan ziarah (mengucap salam) kepada Nabi Saw di Madinah. Para jamaah itu merasa khusyuk, tenang, hikmat.

Saudi dan Turki Dua Negera Muslim Bersaudara

Saudi dan Turki Dua Negera Muslim Bersaudara

>> Tapi ya namanya manusia, ada saja yang terus “mengail di air keruh”. Tidak suka dengan damai. Maunya, damai menjadi konflik. Astaghfirullah… Teringat pesan Nabi Saw: “Amarah itu dari setan.”
>> Kami singgung sedikit setting sejarah di balik bangkitnya dakwah “Wahabi”. Banyak potongan sejarah yang tidak dipahami dengan benar. Berikut runutannya:

=> Dakwah itu muncul dan bergulir sekitar era 1750-an Masehi, di Najd. Tokoh utamanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Emir Muhammad bin Saud (penguasa wilayah Dir’iyah).
=> PERLU diketahui, saat itu wilayah Najd dan umumnya Jazirah Arab, muncul penguasa-penguasa otonom. Semacam bupati-bupati begitu. Sebutannya Amir atau Emir. Bukan Malik atau Sultan.
=> Khilafah Turki Utsmani sendiri tak mampu mengatur atau mengendalikan Emir-emir ini. Saat terjadi konflik dengan keluarga Emir Al Saud, Turki Utsmani meminjam tangan Gubernur Mesir, Muhammad Ali Pasya. Itu membuktikan daya Turki Utsmani semakin melemah.
=> Perlu diketahui, Emir-emir ini jumlahnya banyak. Tidak hanya Emir Dir’iyah saja. Ada Emir Ibnu Rasyid, Emir Kuwait, Bahrain, Oman, dan lain-lain. Ia adalah sejenis KEKUASAAN INDEPENDEN bupati-bupati Arab, yang berbasis suku-suku dan kabilah.
=> FAKTA mudah. Anda mengerti apa maksud nama negara UNI EMIRAT ARAB? Nah itulah. Negara sekecil itu saja punya beberapa kekuasaan EMIR.
=> Mengapa Emir-emir ini mau independen dari Turki Utsmani? KARENA: a. Keadaan Khilafah semakin lemah karena faktor usia; b. Mereka merasa posisi Khilafah tidak membantu apapun bagi hidup mereka (begal berkeliaran di mana-mana, kehidupan agama seperti membeku); c. Mereka punya ego kesukuan Arab. Nah, ego ini masih kuat lho. Bukan hanya kala itu, sekarang juga masih.
=> Konflik antar Emir itu sudah jadi hal biasa. Perebutan kuasa, pengaruh, kehormatan. Ya sama seperti cerita konflik “antar kerajaan” di mana-mana, di seluruh dunia, termasuk di Nusantara.
=> Bila terjadi konflik antara Turki Utsmani dan kekuasaan Al Saud, seperti di atas petanya. Jadi sebenarnya, itu tidak terlalu aneh.
=> Bahkan kalau dibandingkan konflik antar Sultan, Raja, Khalifah dalam sejarah Islam; konflik Al Saud dengan Turki Utsmani itu tak ada apa-apanya.
=> SEJUJURNYA dalam diri negara-negara Arab juga ada niatan lepas dari Turki Utsmani, dengan asumsi, di tengah mereka ada kaum elit politik yang “doyan kekuasaan” juga.
=> CONTOH di Mesir, mantan pendukung top Turki Utsmani. Pasca runtuhnya Khilafah, mereka buat KERAJAAN MESIR. Nantinya ketika Syaikh Hasan Al Banna membina kekuatan jamaah untuk mengembalikan kedaulatan Khilafah Islamiyah; beliau dibunuh dengan kejam oleh kaki tangan RAJA FAROUK. Sampai shalat jenazah buat beliau secara berjamaah pun dilarang. Nah, ini fakta besar yang harus direnungkan.
=> Dalam diri penguasa-penguasa Arab ada keinginan lepas dari Turki Utsmani, tapi SIALNYA mereka tidak gentle. Mereka jadikan Kerajaan Saudi & dakwah Salafiyah sebagai “kambing hitam”. Sangat menyedihkan.
>> DEMIKIAN sekilas perspektif dari kami. Semoga bermanfaat. Amin.
>> PESAN NABI Saw: Kalau kita marah, berlindunglah dari godaan setan; atau berwudhulah; atau pindah posisi. Marah adalah godaan SETAN; maka orang/penulis yang SELALU PROVOKASI KEMARAHAN adalah….. (isi dengan jawaban yang pintar dan tepat).
>> Tulisan ini bisa jadi BANTAHAN SINGKAT untuk buku terbaru “Syaikh Idahram”. Bi idznillah wa nashrihi. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
(AM. Waskito).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: