Tahdzir Ahli Bid’ah Bukan Pokok Akidah

Bismillahirrahmaanirrahiim.
* Kesalahan mendasar sebagian Muslim, ialah salah dalam memahami prinsip “Tahdzir Ahlil Bid’ah” (memperingatkan penyimpangan ahli bid’ah).
* Mereka mengira bahwa Syariat Islam isinya adalah Tahdzir Ahlil Bid’ah semata. Jadi kehidupan, perjuangan, pemahaman, aktivitas, bahkan ibadah mereka difokuskan untuk itu. Syariat Islam yang sempurna, lengkap, dan diridhai Allah ini akhirnya hanya tersisa: Tahdzir Ahlil Bid’ah.
* Ini adalah pemahaman keliru. Ini sama seperti akidah Khawarij. Hanya bedanya, Khawarij menunggangi prinsip TAKFIR sebagai senjata andalan; sedangkan orang-orang ini menunggangi TAHDZIR AHLIL BID’AH. Sama bentuknya, tapi berbeda martabatnya (level).
* Tahdzir Ahlil Bid’ah itu sebenarnya bagian dari wasilah (sarana) menjaga agama. Ia sama seperti urusan NAHYUL MUNKAR, hanya fokusnya mengingatkan bahaya bid’ah.
* Aslinya ia bukan akidah yang membedakan antara iman dan kufur, muwahhid dan musyrik, atau istiqamah dan sesat. Maksudnya, kita menilai keagamaan seseorang bukan dengan landasan: dia sudah melakukan tahdzir ahlil bid’ah atau belum? Orang yang gemar melakukan itu tidak dijamin selamat akidahnya; seperti juga orang yang tidak melakukan itu, tidak dapat dipastikan sesat akidahnya.
* Tahdzir itu bukan Rukun Iman, bukan Rukun Islam. Tapi Syariat Islam tidak akan sempurna tanpanya. Ia harus tetap dilakukan, untuk menjaga kelestarian Syariat yang lurus.
* Tujuan Tahdzir Ahlil Bid’ah adalah untuk menjaga SYARIAT dari penyimpangan amal dan pemahaman.
* Yang paling tepat melakukan hal ini adalah PARA ULAMA KREDIBEL, bukan oleh sembarang orang. Kalau di Indonesia ada MUI yang mengingatkan penyimpangan paham, penyimpangan amal, juga hukum halal-haram.
* Mengapa harus ulama? Mengapa bukan semua orang melakukan Tahdzir Ahlil Bid’ah? Ya karena banyak faktor yang harus dicermati saat melakukan Tahdzir Ahlil Bid’ah.
* Di dalam tahdzir itu mengandung konsekuensi sanksi sosial yang berat, baik berupa blacklist, boikot muamalah, menghalalkan kehormatan Muslim, dan sebagainya. Hal-hal ini tidak ringan timbangannya. Harus sangat hati-hati dan terinci bila menyangkut personal.
* Di sisi lain, kesalahan dalam tahdzir akan berakibat MEMECAH-BELAH UMMAT. Padahal Ahlus Sunnah terkenal komitmennya dalam menjaga Kesatuan Ummat. Seperti Imam Ahmad yang memilih sabar atas penguasa yang meyakini paham bid’ah. Alasan beliau: “Agar tidak mematahkan tongkat kesatuan Ummat.” Padahal bid’ah yang ada ketika itu sudah selevel “bisa membuat kafir pelakunya”.
* Begitu juga, ketika terjadi beda rukyat hilal, Shalat Idul Fithri, Shalat Idul Adha; kita disarankan tetap menjaga keutuhan Ummat.
* Sebuah argumen. Dakwah itu berlaku universal, seperti yang dikatakan oleh Nabi SAW: “Ballighu ‘anni wa lau ayah” (sampaikan dariku meski hanya satu ayat saja). Meskipun begitu, dalam dakwah kita terikat minimal 3 adab: HIKMAH, MAU’IZHAH HASANAH, JIDAL BIL IHSAN. Meskipun bersifat universal, dakwah harus tetap dengan hikmah, mau’zhah hasanah, dan debat yang ihsan.
* Untuk dakwah saja yang sifatnya universal, harus dilakukan dengan adab-adab ilmu & kelembutan; lalu bagaimana dengan TAHDZIR AHLIL BID’AH? Apa bisa dilakukan dengan serampangan, oleh semua orang, dengan cara seenaknya sendiri? Subhanallah…
* Tahdzir Ahlul Bid’ah adalah bagian dari penjagaan atas agama (Syariat). Ini termasuk bagian WASILAH (sarana) menjaga kelestarian dan kemurnian agama.
* Harusnya kita bersikap PROPORSIONAL. Bagian mana yang merupakan prinsip akidah, mana yang furu’? Bagian mana yang merupakan dakwah, mana yang nahyul munkar? Mana urusan menjaga kemurnian akidah, dan mana aliansi strategis? Harus dipahami.
* Nabi SAW bermuamalah dengan orang musyrikin sebelum hijrah ke Madinah; beliau jalin persekutuan dengan Yahudi di Madinah; beliau juga jalin perdamaian dengan kaum musyrikin Makkah dalam konteks perjanjian Hudaibiyah.
* Nabi Saw juga hadapi Dzul Khuwaisirah, hadapi Arab Badui, dan kaum munafikin di Madinah. Tapi semua ditimbang dg ilmu, hikmah, dan akhlak.

* Pasca Perang Bani Mustaliq, Nabi SAW menikahi Ummul Mukminin Juwairiyah RA. Beliau jadikan mahar adalah pembebasan Juwairiyah Ra. Setelah masuk Islam, semua anggota kabilahnya ikut bersama masuk Islam. Ia disebut-sebut sebagai pernikahan penuh BARAKAH. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Lihatlah cara hikmah Nabi Saw dalam menghadapi manusia dalam peristiwa itu!
* Syariat Islam dalam kesempurnaan Syariatnya, janganlah disempitkan untuk memenuhi ambisi hawa nafsu kita sendiri.
* Wallahu a’lam bisshawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: