Dua Kitab Hebat Panduan Ummat…

Juli 15, 2015

>> Anda tahu tidak, dua kitab yang menjadi rujukan besar Ummat? Ia juga menjadi panduan kalangan Salafiyah (baca: Wahabi)?
>> Kedua kitab ditulis oleh ULAMA AHLI HADITS dari kalangan madzhab Syafi’i. Katanya, keduanya berpaham Asy’ariyah. Wallahu a’lam.
>> Dua kitab itu sangat IDENTIK, kalau tidak dikata MENDUKUNG PENUH prinsip-prinsip dakwah Salafiyah (Wahabi).
>> Beberapa tahun lalu, saya pernah usulkan ke pimpinan PENERBIT agar menerbitkan terjemah kitab itu. Tapi jawabannya: “Sudah banyak yang menerbitkan.” Ternyata, sekarang kedua kitab itu AKHIRNYA diterbitkan juga versi terjemahnya. (Kalau tertarik boleh pesan via inbox).
>> Saya menyarankan, agar para dai, penuntut ilmu, santri, aktivis Islam, generasi muda Muslim, facebookers Muslim, jamaah kaum Muslimin; untuk merujuk kedua kitab tersebut.
>> Kalau ada yang “anti Wahabi” atau “pro Syiah”, cari saja penangkal-penangkalnya di kedua kitab itu. Insya Allah cukup & memadai.
>> Ngomong-ngomong, dua kitab itu judulnya apa ya? Kok perasaan dari tadi isinya penjelasan melulu? Apa dong, sudah gak sabar neh?
>> Baik, sebagai penjelasan tambahan… (haduh, penjelasan lagi deh). Okelah kalau gak mau sabar. Segera aku kasih tahu…(marah nhi yeee?).
>> Kedua kitab adalah RIYADHUS SHALIHIN karya Imam Nawawi rahimahullah dan BULUGHUL MAROM karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah.
>> SERUAN KAMI: Wahai Ahlus Sunnah di Nusantara, miliki kedua kitab, boleh aslinya atau terjemahnya, karena ia adalah ANUGERAH dari langit buat Ummat Ahlus Sunnah ini. Ia adalah BENTENG akidah Ummat.
>> Pembahasan-pembahasan yang diklaim “gaya Wahabi” TERNYATA banyak terekam dalam kitab tersebut. Andaikan ormas NU merujuk secara konsisten dua kitab itu, kami yakin NKRI akan segera bersyariah.
>> Dua kitab itu sangat monumental. Di zaman modern, yang mirip-mirip keduanya, meskipun tidak sehebat keduanya adalah FIQIH SUNNAH karya Sayyid Sabiq dan MINHAJUL MUSLIM karya Abu Bakar Al Jaza’iri.
>> Smoga bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(WeAre).

Iklan

Hutang Luar Negeri Kita

Juli 15, 2015

HUTANG LUAR NEGERI KITA

>> Menurut data Bank Indonesia, posisi hutang luar negeri kita pada Juni 2015 adalah: 300 Miliar Dolar atau Rp. 3.988 Triliun (sekitar 4000 Triliun Rupiah; dg kurs Rp. 13.300/dolar).
>> Persentase hutang, 45% hutang pemerintah; 55% hutang swasta.
>> PERBANDINGAN: Saat Menteri Ekuin Hatta Radjasa, pada era kedua SBY, hutang luar negeri kita mencapai sekitar Rp. 2.025 Triliun. Jadi ada kenaikan hutang dalam 2 tahun terakhir sekitar 2000 TRILIUN.
>> SEMUA hutang ini dibebankan kepada RAKYAT INDONESIA untuk menanggungnya; melalui upah rendah, pajak tinggi, harga-harga mahal, BBM naik, dan seterusnya.
>> SEANDAINYA Anda sekarang berjalan 100 m keluar rumah, dengan pakaian biasa, tanpa bawa uang sepeser pun; saat itu pun SEJATINYA Anda sedang ikut memikul beban hutang ini.
>> Ya Allah berikan hidayah dan taufik kepada semua pemimpin bangsa, agar mereka BERHENTI MENZHALIMI bangsa & rakyat negeri ini. Ya Allah perbaiki hati-hati mereka agar melaksanakan amanat, keadilan, dan kebajikan.
>> Amin amin Allahumma amin.

JUJUR LEBIH BAIK

>> Menko Ekuin Sofyan Djalil mengatakan, posisi hutang luar negeri Indonesia masih aman. Masih lebih baik dari Yunani.
>> Hutang Indonesia senilai 26% PDB, sedang Yunani mencapai 200% PDB. PDB = Produk Domestik Bruto. Penghasilan kotor negara.
>> SISI KRITIK: Yunani adalah negara Eropa kecil, miskin. Tidak punya hasil tambang, lautan, hutan luas, tanam-tanaman sekaya Indonesia.
>> SISI LAIN, ini yang paling parah, nilai PDB itu meliputi penghasilan semuanya, termasuk hasil perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Hasil mereka tentu diboyong ke negeri asalnya.
>> ANDAI mau jujur. Harusnya diambil perbandingan antara HUTANG LUAR NEGERI dan rata-rata INCOME PER KAPITA rakyat Indonesia. Dijamin para pemimpin tak akan berani.
>> SEMUDAH manusia bermain angka, untuk menutupi realita yang rata-rata rakyat tidak mengerti.
>> Nas’alullah al ‘afiyah.

AMPUNI KAMI YA ALLAH…

>> MESKIPUN, hutang LN kita sudah menyentuh angka 4000 Triliun.
>> TAPI, kata Menko Ekuin, Indonesia MASIH BISA pinjam sampai 5.500-an Triliun. Astaghfirullah…
>> SPONGEBOB: “Kita ngutang, dan kita bangga.”
>> KATANYA…hutang-hutang itu untuk BELANJA INFRASTRUKTUR.
>> PADAHAL siapa nanti yang akan menikmati infrastruktur itu? Pasti orang-orang asing lagi kan? Kita biasanya hanya sebatas “meramaikan”.
>> “Rabbana laa tusallith ‘alaina man laa yarhamuna.” Ya Allah jangan jadikan pemimpin kami orang yang tidak mengasihi kami. Amin Allahumma amin.

(NgenesBro).


Apakah Merokok Membatalkan Shaum ?

Juli 15, 2015

>> Harus diakui, di antara kaum Muslimin masih ada yang meyakini, merokok tidak membatalkan puasa. Tapi pendapat yang dominan meyakini, merokok MEMBATALKAN puasa.
>> ALASAN yang sering dipakai sebagai hujjah adalah: “Yang dilarang dalam puasa adalah makan, minum, hubungan seks, dari Subuh sampai Maghrib. Merokok bukan makan-minum. Bukan pula hubungan seks. Jadi tidak apa-apa.”
>> Lalu ada yang membantah hujjah itu: “Merokok sama dengan makan, hanya saja bentuknya MAKAN ASAP rokok. Jadi merokok membatalkan.”
>> Pihak pendukung asap rokok berdalil lagi: “Para penderita sakit Atsma sering menghirup pelega pernafasan (inhaler), itu tidak dianggap membatalkan puasanya; padahal sama-sama menghirup sesuatu.”
>> Kami meyakini, merokok itu MEMBATALKAN PUASA, tapi argumennya berbeda.
>> Menghirup gas/asap tidak bisa dianggap sebagai pembatal puasa. Setiap bernafas kita menghirup gas. Kalau ada asap bakaran, uap air, aroma makanan, aroma parfum, dll.; kadang terhirup oleh kita. Semua ini bukan pembatal puasa.
>> [1]. HAKIKAT PUASA adalah menahan lapar, haus, syahwat, untuk mendapat Keridhaan Allah SWT. Bagi perokok, mereka bisa tahan tidak makan-minum, asal tetap NGROKOK.
>> [2]. HIKMAH PUASA, kita diajak merasakan kehidupan susah seperti fakir miskin. Orang miskin sering susah beli makan sehari-hari. Sedang perokok gemar “jajan asap” setiap hari.
>> [3]. MEROKOK adalah haram bagi orang puasa dengan alasan: MEROKOK MERUPAKAN MUBTADIL (PENGGANTI) MAKAN-MINUM BAGI PARA PEROKOK. Tanpa makan-minum, asal bisa merokok, mereka merasa kuat.
>> JADI hakikat merokok itu sama dengan makan-minum, di mata pihak yang tidak merokok. Jelas hal ini sangat MEMBATALKAN esensi puasa itu sendiri.
>> Hukum seperti ini berlaku juga pada merokok ganja, menghirup Sisha, menghisap Hasis (candu), dan sejenisnya.
>> Demikian, semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Don’tSmokeMan).


Tujuan Kita Bersatu…

Juli 15, 2015

* Jika mengharap Ummat ini sepakat dalam SATU PENDAPAT saja, pastilah mustahil. Para ulama sudah berselisih sejak zaman Salaf.
* PRINSIP: Tujuan hidup kita adalah ibadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Jika ibadah ini bisa dilakukan DALAM DAMAI, itu lebih baik daripada dilakukan dalam KONFLIK, PERMUSUHAN, PERPECAHAN.
* TUJUAN kaum Muslimin bersatu, antara lain:
= A. BERDAMAI (ishlah). Memperkecil permusuhan dan konflik, saling bersaudara dan menyayangi.
= B. BERSEPAKAT (ittifaq). Atas prinsip-prinsip besar yang menjadi tujuan semua elemen Muslim.
= C. BEKERJASAMA (ta’awun). Dalam mencapai tujuan-tujuan yang disepakati.
= D. MENOLAK KERUSAKAN (dar’ul mafasid). Baik yang bersumber dari dalam maupun luar.
= E. MENCAPAI KEMASLAHATAN (jalbul mashalih). Bersama lebih tangguh daripada sendiri-sendiri.
* Perbedaan KEKHASAN akidah, fiqih, ibadah, itu akan terus terjadi. Sedangkan kerugian yang kita alami akibat hilangnya tujuan-tujuan di atas TIDAK BISA DITOLERANSI. Hal itu menyangkut KESELAMATAN HIDUP UMMAT ini, di dunia dan akhirat.
* Siapa ingin mentoleransi kehancuran hidup Ummatdi dunia, dan kecelakaan di akhirat? Tentu tidak ada.

(YukDamai).


Bolehkah I’tikaf Sendirian di Rumah ?

Juli 15, 2015

>> Di antara kaum Muslimin ada yang INGIN I’TIKAF RAMADHAN, tapi terkendala masalah-masalah.
>> Misal karena kesibukan kerja, karena tidak ada kawan, karena tidak ada masjid yang dekat, karena dalam perjalanan, karena dia seorang wanita, karena haidh, dll.
>> SECARA UMUM, namanya I’tikaf PASTI HANYA di masjid. I’tikaf adalah amal saleh yang terikat masjid. Tak ada masjid, ya tak ada I’tikaf.
>> Ulama menjelaskan, lama tidaknya I’tikaf tidak dibatasi. Mau 10 menit saja, boleh. Mau 10 tahun juga boleh, kalau kuat dan diizinkan melakukan itu. Para Ahlus Suffah di zaman Nabi Saw, tinggal lama di masjid.
>> Tapi khusus bulan Ramadhan, ada amal saleh yang namanya: I’TIKAF 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN. Benar-benar 10 hari terakhir, siang malam, sampai saat tiba MALAM Takbiran. Amal ini khusus saat Ramadhan saja. Tidak tergantikan dengan bulan-bulan lain.
>> Seorang Muslim sangat hebat bila setiap Ramadhan bisa beramal I’TIKAF 10 HARI AKHIR RAMADHAN. Hebat itu. Tapi boleh beberapa kali, semampunya. Minimal seumur hidup SATU KALI; demi melaksanakan Sunnah Nabi Saw. Jangan ditinggalkan sama sekali ya. Tak boleh. Nanti Nabi Saw akan menanyakan hal itu.
>> Oh ya, ini penting sekali. Ibadah I’tikaf ini terikat oleh dua hal: NIAT dan SUCI. Niat berarti ada kesengajaan melakukan I’tikaf demi meraih ridha Allah. SUCI berarti dalam keadaan WUDHU dan tidak dalam hadats besar/kecil.
>> I’tikaf tanpa niat adalah tidak mungkin. Meskipun berkemah di masjid 10 tahun, kalau tak ada niat I’tikaf, ya tidak dinilai ibadah I’tikaf.
>> Oh ya, ada aspek lain, yaitu AKHLAQ. I’tikaf harus diisi amal yang baik-baik, minimal diam atau tidur. Jangan diisi fitnah, ghibah, adu domba, hedonisme, apalagi maksiat. Perbuatan tercela tidak pantas di luar, lebih tidak pantas dilakukan di masjid.
>> Kembali ke topik di atas… Bolehkah I’tikaf sendirian di rumah?
>> Di rumah tidak ada I’tikaf. Meskipun itu ada musholla tempat shalat.
>> Sebagian ulama mensyaratkan I’tikaf di masjid yang ada SHALAT JUM’AT-nya. Ada juga masjid yang RUTIN MENGGELAR SHALAT LIMA WAKTU dan KUMANDANG ADZAN. Jadi musholla yang tidak memenuhi syarat itu, bukan tempat I’tikaf.
>> TAPI di rumah kita bisa lakukan AMAL SHALIH apa saja, seperti Shalat, Dzikir, Baca Al Qur’an, Doa, berbakti ke orangtua, shilaturahiim, sedekah, dll. Pokoknya amal shalih. Ini memang bukan I’tikaf, tapi TIDAK AKAN KETINGGALAN PELUANG AMAL.
>> Mengapa? Karena untuk mengejar LAILATUL QADAR tidak dibatasi amal-amalnya. Yang penting masuk cakupan: AMAL SHALIH DI MALAM 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN, SAMPAI SAAT TIBA WAKTU FAJAR. Amal baik apa saja di malam itu, akan ditimbang dengan pahala Lailatul Qadar.
>> Bagi kaum wanita haidh. Cara ibadahnya begini. Anda gelar sajadah atau tikar di rumah. Pakai mukena, lalu duduk berdzikir misalnya baca Istighfar, Tahlil, Tasbih, Tahmid, Takbir, Shalawat. Boleh juga membaca doa: “Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku ini). Atau baca dzikir: “Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaikati war Ruuh” (Maha Suci Engkau, Maha Qudus, Engkau Tuhan kami, juga Tuhan para Malaikat dan ruh). Atau silakan berdoa apa saja yang bisa dilakukan. Jadi saat malam itu jangan dilewatkan untuk tidur saja. TETAPI tidak boleh melakukan Shalat dan Membaca Al-Qur’an. Selain itu boleh dan dipersilakan beribadah semampunya.
>> Bagi para MUSAFIR (terutama sedang mudik), silakan beramal di malam-malam itu di sepanjang jalan. Tentunya setelah menunaikan amalan SHALAT WAJIB, karena kewajiban tidak boleh diakhirkan dari amalan yang Sunnah. Silakan baca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, sedekah, mudzakarah (nasehat-menasehati), membaca kitab-kitab agama, membuat status medsos yang bermanfaat bagi Ummat, dan sebagainya.
>> Intinya, kita jangan kehilangan KESEMPATAN AMAL SHALIH di malam-malam 10 Hari Terakhir Ramadhan. Kalau tidak bisa beramal di masjid, jangan kehilangan amal shalih di mana saja, apakah di rumah, di perjalanan, di tempat kerja, dan sebagainya.
>> Demikian, semoga manfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Hamdalah).


Tahdzir Ahli Bid’ah Bukan Pokok Akidah

Juli 15, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.
* Kesalahan mendasar sebagian Muslim, ialah salah dalam memahami prinsip “Tahdzir Ahlil Bid’ah” (memperingatkan penyimpangan ahli bid’ah).
* Mereka mengira bahwa Syariat Islam isinya adalah Tahdzir Ahlil Bid’ah semata. Jadi kehidupan, perjuangan, pemahaman, aktivitas, bahkan ibadah mereka difokuskan untuk itu. Syariat Islam yang sempurna, lengkap, dan diridhai Allah ini akhirnya hanya tersisa: Tahdzir Ahlil Bid’ah.
* Ini adalah pemahaman keliru. Ini sama seperti akidah Khawarij. Hanya bedanya, Khawarij menunggangi prinsip TAKFIR sebagai senjata andalan; sedangkan orang-orang ini menunggangi TAHDZIR AHLIL BID’AH. Sama bentuknya, tapi berbeda martabatnya (level).
* Tahdzir Ahlil Bid’ah itu sebenarnya bagian dari wasilah (sarana) menjaga agama. Ia sama seperti urusan NAHYUL MUNKAR, hanya fokusnya mengingatkan bahaya bid’ah.
* Aslinya ia bukan akidah yang membedakan antara iman dan kufur, muwahhid dan musyrik, atau istiqamah dan sesat. Maksudnya, kita menilai keagamaan seseorang bukan dengan landasan: dia sudah melakukan tahdzir ahlil bid’ah atau belum? Orang yang gemar melakukan itu tidak dijamin selamat akidahnya; seperti juga orang yang tidak melakukan itu, tidak dapat dipastikan sesat akidahnya.
* Tahdzir itu bukan Rukun Iman, bukan Rukun Islam. Tapi Syariat Islam tidak akan sempurna tanpanya. Ia harus tetap dilakukan, untuk menjaga kelestarian Syariat yang lurus.
* Tujuan Tahdzir Ahlil Bid’ah adalah untuk menjaga SYARIAT dari penyimpangan amal dan pemahaman.
* Yang paling tepat melakukan hal ini adalah PARA ULAMA KREDIBEL, bukan oleh sembarang orang. Kalau di Indonesia ada MUI yang mengingatkan penyimpangan paham, penyimpangan amal, juga hukum halal-haram.
* Mengapa harus ulama? Mengapa bukan semua orang melakukan Tahdzir Ahlil Bid’ah? Ya karena banyak faktor yang harus dicermati saat melakukan Tahdzir Ahlil Bid’ah.
* Di dalam tahdzir itu mengandung konsekuensi sanksi sosial yang berat, baik berupa blacklist, boikot muamalah, menghalalkan kehormatan Muslim, dan sebagainya. Hal-hal ini tidak ringan timbangannya. Harus sangat hati-hati dan terinci bila menyangkut personal.
* Di sisi lain, kesalahan dalam tahdzir akan berakibat MEMECAH-BELAH UMMAT. Padahal Ahlus Sunnah terkenal komitmennya dalam menjaga Kesatuan Ummat. Seperti Imam Ahmad yang memilih sabar atas penguasa yang meyakini paham bid’ah. Alasan beliau: “Agar tidak mematahkan tongkat kesatuan Ummat.” Padahal bid’ah yang ada ketika itu sudah selevel “bisa membuat kafir pelakunya”.
* Begitu juga, ketika terjadi beda rukyat hilal, Shalat Idul Fithri, Shalat Idul Adha; kita disarankan tetap menjaga keutuhan Ummat.
* Sebuah argumen. Dakwah itu berlaku universal, seperti yang dikatakan oleh Nabi SAW: “Ballighu ‘anni wa lau ayah” (sampaikan dariku meski hanya satu ayat saja). Meskipun begitu, dalam dakwah kita terikat minimal 3 adab: HIKMAH, MAU’IZHAH HASANAH, JIDAL BIL IHSAN. Meskipun bersifat universal, dakwah harus tetap dengan hikmah, mau’zhah hasanah, dan debat yang ihsan.
* Untuk dakwah saja yang sifatnya universal, harus dilakukan dengan adab-adab ilmu & kelembutan; lalu bagaimana dengan TAHDZIR AHLIL BID’AH? Apa bisa dilakukan dengan serampangan, oleh semua orang, dengan cara seenaknya sendiri? Subhanallah…
* Tahdzir Ahlul Bid’ah adalah bagian dari penjagaan atas agama (Syariat). Ini termasuk bagian WASILAH (sarana) menjaga kelestarian dan kemurnian agama.
* Harusnya kita bersikap PROPORSIONAL. Bagian mana yang merupakan prinsip akidah, mana yang furu’? Bagian mana yang merupakan dakwah, mana yang nahyul munkar? Mana urusan menjaga kemurnian akidah, dan mana aliansi strategis? Harus dipahami.
* Nabi SAW bermuamalah dengan orang musyrikin sebelum hijrah ke Madinah; beliau jalin persekutuan dengan Yahudi di Madinah; beliau juga jalin perdamaian dengan kaum musyrikin Makkah dalam konteks perjanjian Hudaibiyah.
* Nabi Saw juga hadapi Dzul Khuwaisirah, hadapi Arab Badui, dan kaum munafikin di Madinah. Tapi semua ditimbang dg ilmu, hikmah, dan akhlak.

* Pasca Perang Bani Mustaliq, Nabi SAW menikahi Ummul Mukminin Juwairiyah RA. Beliau jadikan mahar adalah pembebasan Juwairiyah Ra. Setelah masuk Islam, semua anggota kabilahnya ikut bersama masuk Islam. Ia disebut-sebut sebagai pernikahan penuh BARAKAH. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Lihatlah cara hikmah Nabi Saw dalam menghadapi manusia dalam peristiwa itu!
* Syariat Islam dalam kesempurnaan Syariatnya, janganlah disempitkan untuk memenuhi ambisi hawa nafsu kita sendiri.
* Wallahu a’lam bisshawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


Sejujurnya Kami Berharap…

Juli 15, 2015

>> Kawan-kawan gerakan dakwah IM, Salafi, JT, Jihadi, HT, dan lain-lain bisa BERSATU. Mengapa? Karena semua pihak ini sama-sama PRO SYARIAT Islam. Sudah ada modal kesamaan pandang di antara kita.
>> Mari kita sama-sama bersatu dengan kalangan “Aswaja”, pengikut Habib-habib, Nahdhiyin, FPI, pesantren tradisional, dll. Mengapa? Karena kita sama-sama kaum Sunni, bukan SYIAH.

Mari Kita Bersatu...

Mari Kita Bersatu…

>> Mari kita bersatu dengan ormas-ormas Islam, seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Syarikat Islam, Jami’atul Khair, DDII, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, MIUMI, MUI, dll. Mengapa? Karena kita sama-sama PRO PERSATUAN & MASLAHAT UMMAT.
>> Berbagai elemen Muslim lain, dalam lingkup Ahlus Sunnah; mari kita BERSATU TEGUH. Mengapa? Sebab kalau berpecah-belah kita akan runtuh.
>> Untuk menyatukan Ummat kita bisa berpegang pada KONSEP MUI yang membedakan antara ALIRAN LURUS dengan ALIRAN SESAT.
>> “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wa laa tafarraquu” (dan berpeganglah kalian dg tali agama Allah secara bersama. Jangan kalian berpecah-belah). Ali Imran 103.
>> Kita BISA bersatu dengan smua elemen-elemen Ahlus Sunnah; bukan dengan kaum yang selalu melaknat para Shahabat Ra dan isteri-isteri Nabi Ra.
>> Wallahul Muwaffiq ila aqwamit thariq.

(Mine).