KRISIS IJAZAH

Selain krisis air, krisis ekonomi, krisis wibawa negara. Saat ini kita juga mengalami tragedi ijazah skala nasional.
==
COBA tanya ke anak-anak SMP atau SMA yang baru lulus, apa sudah dapat ijazah? BELUM saudara. Belum. Padahal ini sudah mulai TAHUN AJARAN BARU.
==
Kami berkata begini karena dua anak kami baru lulus SMP dan SMA, keduanya belum terima ijazah. Anakku yang lulus SMP sudah masuk SMA, tapi ijazah belum keluar. Waktu WISUDA, bukan mengambil ijazah, tapi NEM.
==
SEDANG yang SMA, titik terang ijazah lebih buram lagi. Berulang-ulang tanya ke pihak sekolah jawabnya: “Seindonesia belum pada dapat ijazah.” Astaghfirullah…
==
SEMUA ini pasti menyulitkan. Secara psikologis siswa, orangtua, guru-guru sangat tertekan. Secara teknis lebih menyulitkan; bagaimana akan bisa seleksi siswa/mahasiswa baru dengan baik, wong ijazah belum ada? Bagaimana dengan mereka yang amat sangat butuh ijazah untuk kerja, sekolah ke luar negeri, ujian PNS dan lain-lain? Inna lillah tsumma inna lillah…
==
JUJUR kami heran, mengapa bisa begini? Dan mengapa orang-orang pada diam, tidak mempermasalahkan? Ada apa dengan Menteri Diknas, kok bisa begini?
==
Katanya lebih “merakyat”, tapi fakta lapangan “bikin masalah tambah berjubel”. Mungkin karena dikejar target “kejar setoran”, jadi urusan anak negeri diabaikan. Jadi dia gak peduli dengan masalah di bawah.
==
Nas’alullah al ‘afiyah was salamah was sa’adah. Amin ya Rabbuna.

(Ayolah).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: