Memahami Konsep Ulil Amri

Setiap Muslim wajib memahami konsep Ulil Amri. Karena ia adl konsep POLITIK kita dlm Syariat. Hal ini kelak akan ditanyakan oleh Allah, maka kita harus menyiapkan jawabannya. Ingat, ini penting. Kita wajib tahu!
==
Secara bahasa Ulil Amri atau Ulul Amri, artinya “yang memegang suatu urusan”. Istilahnya serupa seperti “shahibul hajat”. Tetapi dalam konteks Syariat, ia memiliki makna tersendiri.
==
Allah mewajibkan kita taat pada Ulil Amri. Dalam ayat: “Wahai org-org beriman, taatlah kalian kpd Allah, taatlah kepada Rasul(Nya), dan kepada Ulil Amri di antara kalian.” (An Nisaa’: 59).
==
Menurut ulama, Ulil Amri itu bisa dua kemungkinan: Pemimpin negara atau ulama. Tapi yang populer adalah pemimpin negara. Idealnya, ia pemimpin negara sekaligus ulama, seperti sosok Khulafaur Rasyidin Ra.
==
Ada yang berpendapat, semua pemimpin negara adalah Ulil Amri, selagi dia beragama Muslim. Mau sistem sekuler, demokrasi, nasionalisme, diktator, liberal, atau sistem apa saja; kalau si pemimpin Muslim (masih shalat); dia dianggap Ulil Amri. India pernah dipimpin oleh Presiden Prof. Abdul Kalam, seorang Muslim juga. Apakah dia Ulil Amri?
==
TAPI hakikat Ulil Amri bukan seperti itu. Malah ia adalah pemahaman keliru (sesat) yang harus dijauhi. Ulil Amri adalah PEMIMPIN Ummat dalam rangka taat kepada Allah & Rasul-Nya. Dia Muslim dan mengajak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
==
Meskipun Muslim, masih shalat, kalau mengajak TIDAK TAAT kepada Allah & Rasul, dia bukan Ulil Amri kita. Begitu juga, meskipun mengajak taat kepada Allah dan Rasul (sistem Islam), kalau si pemimpin bukan Muslim, dia juga bukan Ulil Amri.
==
DALIL 1: Lihat Surat An Nisaa’ 59. Di sana di awali dengan kalimat “ya aiyuhal ladzina amanu“. Jadi ini adalah ranah URUSAN ORANG BERIMAN. Namanya urusan keimanan, tidak bisa lepas dari hukum Allah dan Rasul.
==
DALIL 2: Dalam Surat An Nisaa’ 59 itu kita diperintah taat kepada Allah, taat kepada Rasul, baru kemudian taat kepada Ulil Amri. Dari ayat ini SUDAH PASTI taat kepada Ulil Amri itu TIDAK BOLEH keluar dari taat kepada Allah & Rasul. SEBAB kalau si Ulil Amri tidak taat kepada Allah dan Rasul (melaksanakan Syariat Islam), maka makna ayat itu jadi rancu. Maknanya: “Taatlah kalian kepada Ulil Amri, meskipun dia tidak taat kepada Allah dan Rasul.” Selain rancu. Ia juga mengajak kita mendahulukan taat kepada penguasa melebihi taat kepada Allah dan Rasul. Itu masalah AKIDAH besar.
==
DALIL 3: Surat An Nisaa’ 59 itu ada lanjutannya sebagai berikut “Dan jika kalian berselisih dlm satu perkara, kembalikanlah kepada (hukum) Allah dan Rasul-Nya, yaitu jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih baik dan bermanfaat akibatnya.” JADI pemutus perselisihan kita adalah hukum Allah dan Rasul, bukan hukum Ulil Amri. Itu kalau kita serius BERIMAN.
==
DALIL 4: Kalau kita baca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat di atas, maka akan kita temukan kisah unik di zaman Nabi Saw. Waktu itu beliau mengutus satu grup sariyah (patroli bersenjata). Suatu saat mereka bertemu gua yang ada api di dalamnya. Si komandan memerintahkan pasukan masuk ke dalam gua. Tapi mereka tidak mau. Setelah sampai di Madinah mereka cerita kejadian itu. Kata Nabi, kalau mereka turuti perintah itu, mereka akan terbakar dalam api sampai Hari Kiamat. Maksudnya, itu dianggap bunuh diri yang balasannya siksa abadi. Lalu Nabi Saw mengatakan: “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf saja). PERHATIKAN: Komandan itu ditunjuk Nabi; mereka dalam Jihad Fi Sabilillah; di atas sistem Islam; bahkan Nabi Saw sendiri sebagai imam negara. Tetapi tetap saja, PERINTAH BATHIL tidak boleh dituruti. Ingat, kasus ini sangat penting!!!
==
DALIL 5: Para ulama menyebut sebuah kaidah penting, diambil dari hadits Nabi Saw. Kaidahnya: “Laa tha’ata li makhluqin li ma’shiyatil khaliq” (tidak ada ketaatan kepada makhluk, dalam rangka maksiat kepada Allah). Coba tanyakan para ulama, pasti mereka kenal kaidah ini.
==
DALIL 6: Seandainya syarat menjadi Ulil Amri hanyalah beragama Islam, maka Abdullah bin Ubay layak menjadi Ulil Amri di Madinah, sebagaimana Abu Sufyan bin Harb -setelah masuk Islam- layak menjadi Ulil Amri di Makkah; karena mereka berdua beragama Islam dan pemimpin kaumnya. Tapi faktanya, mereka tidak pernah menjadi Ulil Amri.
==
DALIL 7: Para Khulafaur Rasyidin Ra adalah hujjah yang sangat kuat. Mereka terpilih sebagai pemimpin Ummat bukan hanya karena dirinya Muslim; tetapi mereka dibaiat untuk melaksanakan Syariat, menjalankan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar dan Umar meminta diluruskan, jika salah dalam memimpin. Andai syarat menjadi Ulil Amri hanya identitas Muslim, maka kaum Badui di pedalaman padang pasir, juga berhak menjadi Khalifah.
==
Hadits-hadits Nabi Saw seputar jangan mencaci penguasa, jangan ghibah, jangan menghina di depan umum, kalau menasehati tertutup, dll. semua itu MASUKNYA ke Ulil Amri yang mengajak taat kepada Allah dan Rasul; bukan pemimpin sekuler, anti Islam, anti Syariat, dll. Jangan salah meletakkan.
==
Apakah dengan demikian, kaum Muslimin harus MEMBERONTAK pada penguasa sekuler/anti Islam? Ya solusinya TIDAK MESTI berontak. Anda kan dianugerahi akal sehat untuk berpikir cara terbaiknya. Gunakan akal itu, jangan “disimpan di kulkas”. Bila ada cara yang lebih efektif, hemat, minim kerugian, pakailah itu! Di sini kita bisa berdakwah, memperbaiki Ummat, amar makruf nahi munkar, dan lainnya.
==
Jika saat ini tidak ada pemimpin yang mengajak taat kepada Allah dan Rasul, berarti kita tidak punya Ulil Amri dong? Ya iya. Itu sih yess. Tapi tidak mengapa. Para Shahabat yang hijrah ke Ethiopia bertahun-tahun hidup di sana tanpa Ulil Amri. Begitu juga Shahabat yang hidup di Makkah, sebelum Makkah jatuh ke tangan Islam, juga tidak bernaung di bawah Ulil Amri. Para dai atau muballigh yang berdakwah ke negeri-negeri non Islam, banyak wafat di negeri tersebut, padahal tidak ada pemimpin Islami di dalamnya. Inilah maksud ayat: “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (tidaklah Allah membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya). Al Baqarah 286.
==
Apakah pemahaman seperti ini milik kaum Haraki (pergerakan)? Bukan. Ini paham Syariat. Kalau ada perselisihan, ukurlah dengan Syariat. Bukan dikotomi “Haraki or not Haraki”. Cara berpikir seperti itu tidak sesuai Syariat, bahkan merupakan bid’ah yang diada-adakan. Imam Malik ketika ditanya sesuatu, beliau tak pernah menjawab dengan logika “Haraki atau non Haraki”. Itu corak berpikir bid’ah.
==
Bukankah menentang penguasa itu sama dengan Khawarij? Itu perkataan dusta. Ummat harus paham, bahwa Khawarij itu MELAWAN PEMIMPIN ISLAMI yang sah, seperti mereka dulu mereka menentang Khalifah Ali Ra. Lha kita ini justru PRO PEMIMPIN ISLAMI. Kok bisa dituduh Khawarij? Justru para penuduh itulah Khawarij, karena mereka selalu menentang, melawan, dan menghancurkan usaha-usaha membangun Kepemimpinan Islami.
==
Demikian, semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk dan rahmat kepada kita semua. Amin.

(BlueHeart).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: