Di Balik Wafatnya Ulama…

Bismillah. Sejatinya, sosok seorang ulama TIDAK MELULU bisa dilihat dari karya-karyanya. Mereka bisa jadi punya “banyak kehebatan” yang tidak tampak dalam karya-karyanya.

Perspektif 1. Banyak ulama tidak mau mengungkap sisi kehidupan pribadi dalam karya-karyanya.

Perspektif 2. Dalam menulis, para ulama akan fokus di MATERI/ISI bukunya. Nah, di situ sering tidak terungkap karakter pribadinya. Hawanya “tampak serius aja”. Padahal bisa jadi dalam keseharian supel, hangat, senang humor, dll. Kita umumnya hanya menilai berdasar karya yang ada.

Duka di Balik Wafatnya Ulama

Duka di Balik Wafatnya Ulama

Perspektif 3. Sebagian besar ulama berkarya KARENA PERTOLONGAN ALLAH, bukan semata kemampuan pribadi. Kalau tak percaya… Mereka kalau disuruh membuat karya yang sama, tanpa melihat TEKS yang sudah ada, belum tentu mampu.

Perspektif 4. Hebat tidaknya karya ulama, tergantung AKHLAK yang bersangkutan di hadapan Allah Al A’la. Dari akhlak itu mereka diberi karunia DERAJAT ILMU sesuai rahmat-Nya.

Perspektif 5. Di luar karya-karyanya, ulama punya “dunia lain” yang tidak kalah indahnya. Itu biasanya akan diketahui oleh orang-orang terdekat, atau yang mengenalnya. Itu juga bentuk rahmat Allah dalam wujud berbeda. Seolah, Allah berbeda ketika membagikan rahmat dalam “karya” dan “kehidupan nyata”.

Wafatnya para komandan Ahrar Syam bisa dengan cepat diganti para komandan lain. Wafatnya Mulah Umar, cepat juga diganti Mulah Akhtar. Tapi wafatnya ulama dunia Islam…tidak secepat itu ada gantinya.

Wa maa kanallahu liyu’adz-dzibahum wa anta fihim” (tidaklah Allah akan menyiksa mereka, sementara engkau -Muhammad Saw- ada di tengah mereka). Al Anfaal: 33.

Rasul Saw: “Al ulama waratsatul anbiya‘” (ulama itu pewaris para Nabi). Kehadiran ulama, seperti kehadiran para Nabi. Menjadi sebab rahmat bagi kaumnya.

Wallahu a’lam bis shawaab.

(Rain).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: