Nasehat untuk Penuntut Ilmu…

Bismillah. Ada suatu ungkapan dalam riwayat. Kira-kira maknanya: “Al Qur’an hujjatun lakum au ‘alaikum” (Al Qur’an bisa menjadi hujjah bagimu, atau menjadi hujjah untuk mengalahkanmu). Maksudnya, kita bisa berdalil dengan ayat-ayat Al Qur’an untuk membela pendapat kita. TAPI bisa juga kelak Al Qur’an akan menjadi lawan kita, karena kita tahu isinya, tapi TIDAK DIAMALKAN.

Banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita beramal. “Kullu ya’malu ‘ala syakilatih” (setiap orang hendaknya beramal sesuai keadaan masing-masing). Al Isra: 84. Yang semisal ini banyak.

Ilmu Tak Sebatas Info. Tapi Panduan Amal

Ilmu Tak Sebatas Info. Tapi Panduan Amal

Dalam Surat Al Jumu’ah, Allah SWT mencela kaum Bani Israil yang menyia-nyiakan ilmu dengan celaan keras. Mereka disebut sebagai “ka matsalil himari yahmilu asfara” (seperti keledai yang membawa kitab-kitab).

Rasulullah Saw sendiri memaknakan kata “al maghdhub ‘alaihim” dalam Surat Al Fatihah sebagai kaum Yahudi. Mereka cirinya, banyak ilmu tapi tidak diamalkan.

Juga ada peringatan tentang “kabura maqtan ‘indallah” (amat besar murka di sisi Allah); yaitu orang-orang yang mendakwahkan ini itu, tapi perbuatannya menyelisihi dakwahnya.

Ibnu Mas’ud Ra pernah menyebut salah satu keutamaan GENERASI SHAHABAT, yaitu mereka “paling ringan bebannya”. Maksudnya, mereka kelak di akhirat ringan hisabnya, karena beban keduniaan mereka lebih ringan.

Begitu juga BEBAN ILMU mereka ringan. Hanya sejumlah kecil Shahabat diberi karunia ilmu melimpah. Seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin ‘Amru, dan lain-lain Radhiyallahu ‘Anhum. Itu di antara puluhan ribu Shahabat Nabi Ra. Umumnya Shahabat lebih menonjol pada perlombaan amal-amal saleh. Coba perhatikan kisah-kisah pribadi Shahabat, rata-rata berkisah tentang amal-amal kebajikan mereka.

Ada sebuah kisah tentang majelis taklim yang dibuka Ibnu Mas’ud Ra setiap hari Kamis. Suatu ketika murid-muridnya minta supaya hari belajar ditambah lebih banyak. Beliau menjawab kira-kira: “Wallahi, tidak ada masalah bagiku untuk memenuhi permintaan kalian. Tapi aku khawatir kalian akan bosan.” Hal ini menunjukkan makna kesederhanaan proses ilmu di kalangan Shahabat Ra.

MAKSUDNYA, ilmu yang kita kaji, pelajari, dalami; ia menuntut pengamalan. Tidak sekedar dimiliki, dipahami, lalu jadi sarana perdebatan. Apalagi jadi alat menzhalimi sesama Muslim.

BELAJARLAH pada sosok Shahabat Ra, meski ilmu terbatas, tapi tanggung-jawab amal mereka sangat besar. Itulah SALAF teladan kita yang terbaik.

Dan jangan sampai kita masuk “pusaran fitnah”. Ilmu yang kita peroleh tidak membuat kita berakhlak lebih baik. Itulah tanda “ilmu fitnah”. Karena kata Nabi Saw, tidak ada sesuatu yang paling mendekatkan seseorang ke surga, selain HUSNUL KHULUQ (budi pekerti yang baik).

Majelis di mana saja yang tidak membawa perubahan baik dalam akhlak; antum hindari. Tidak ada yang bisa diharapkan di sana.

Wallahu a’lam bis shawaab.

(Light).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: