Sedikit Analisa Ekonomi…

** Kami sudah komitmen untuk tidak terlalu banyak bicara teoritik, analisis, dan semacamnya. Bukan karena kami tidak paham, tapi ada sisi kepedulian kongkret yang -menurut kami- lebih dibutuhkan. Tidak sekedar masalah isu media atau isu medsos saja.

** Kami sampaikan ini, sekedar sebagai informasi bagi Ummat, agar lebih pintar membaca situasi, lebih jeli, dan yang lebih penting: selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi the worst scenario.

** Seperti telah kami sampaikan di masa-masa sebelum, mungkin dalam media ini atau di media berbeda (printing media), bahwa pertumbuhan ekonomi China yang melesat, bergolak dahsyat, membumbung tinggi; itu bukan pertumbuhan yang alamiah. Sama seperti gegap gempita pembangunan gedung-gedung pencakar langit di Dubay, juga tidak alamiah.

** Lazimnya ekonomi manusia, di mana saja berkembang berdasar hukum “keseimbangan supplay and demand”. Setiap permintaan naik, akan diikuti peningkatan jumlah penawaran. Hukum demikian akan berlaku terus, dalam berbagai situasi ekonomi.

** Naiknya kekuatan ekonomi China tidaklah dibangun berdasarkan kualitas produk yang mereka buat; kehandalan inovasi; atau semacam menawarkan solusi kreatif bagi hidup manusia modern. Kekuatannya hanya bertumpu pada aspek: Produk mirip dan harga dibanting. Hal seperti ini hanya akan menimbulkan euphoria sesaat, sampai manusia sadar akan kelemahan dari produk itu sendiri.

** Bandingkan dengan penerapan mata uang tunggal Euro. Untuk menuju kesepakatan penerapan mata uang itu, melalui proses yang sangat panjang. Tapi masyarakat ekonomi Eropa sudah memperhitungkan berbagai variabel kebijakan mereka dengan ketat dan rapi. Maka kebijakan itu berdaya manfaat besar bagi ekonomi mereka.

** Lalu di masa posisi kita sebagai bangsa Indonesia ini?

** Indonesia kan termasuk negara lemah. Negara ini punya segala macam potensi baik, tapi rakyatnya gampang di-ninabobo-kan. Negara ini selalu dalam kendali pemimpin-pemimpin (atau struktur kepemimpinan) lebay dan penakut. Mereka tidak punya jiwa patriotisme seperti yang sering dibangga-banggakan dalam pidato itu. Maka peluang negara kita jadi “korban dikerjain” para pemain ekonomi China sangat besar.

** Dalam situasinya yang semakin terdesak, dan mulai terlihat kerapuhan ekonominya, China cepat mencari sumber-sumber potensi ekonomi yang bisa memperpanjang usia “euphoria pertumbuhan ekonomi” mereka. Tentu saja mereka melihat semua itu ada di Indonesia. Indonesia punya: Sumber energi, kekayaan hayati, barang tambang, pasar domestik, dan lain-lain.

** Rakyat Indonesia dinilai letoy oleh semua bangsa-bangsa asing, termasuk China. Tidak mesti dari masalah power fisik ya, tapi lebih ke KARAKTER yang sulit diandalkan.

** JADI singkat kata, China butuh tempat bersandar untuk ekonominya yang mulai goyang-goyang. Sementara Amerika juga butuh negara kita dan ASEAN, untuk mem-back up pengaruh Krisis 2008 yang belum pulih sepenuhnya. Ya begitulah. Orang lain bertempur di arena persaingan ekonomi; sementara kita hanya jadi penonton.

** Seperti dua gajah sedang berkelahi, seekor kelinci tergencet di antara keduanya…

** Kita memohon keselamatan kepada Allah dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Amin.

(Mine).

 

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: