SEJENAK MENGHIBUR DIRI

Bismillah. Jujur ini mau curhat. Mau introspeksi & review kembali.
===
Sampai saat ini hati selalu gelisah. Kehidupan Ummat kita semakin terpuruk di segala sisinya. Ekonomi, agama, moral, sosial, sampai budaya. Jangan tanya lagi soal politik.
===
Kalau kualitas hidup buruk, nasib agama juga akan buruk. Ingat pesan Nabi Saw: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, dari Mukmin yang lemah.” Pasti sabda ini ada dong relevansinya dengan agama kita.
===
FAKTA: para Shahabat Nabi Saw, masing-masing sudah punya KEAHLIAN sebelum masuk Islam. Ada yang ahli perang, penyair, pedagang, juru tulis, diplomat, petani, produsen barang, dll. Ketika jadi Muslim, mereka langsung berkiprah sesuai keahlian masing-masing.
===
DEBAT dan sebagainya bukan sesuatu yang asing. Sejak SMA saya sudah aktif diskusi. Tapi kegelisahan besar, tentang kualitas Ummat terus menghantui. Ini apa? Mau ke mana? Kok begini? Bagaimana ke depan? Sangat menggelisahkan.
===
Bertahun-tahun saya buat blog. Misinya pencerahan. Ngajak berpikir lebih cerdas. Sampai pernah ada komentator yang meledek: “Kalau mau bikin perubahan, sana cari uang yang banyak!” Dia paham bahwa perubahan butuh biaya, tapi cuma meledek saja. Membantu tidak. Pahit tentu.
===
Banyak orang tidak mengerti: “Antum maunya apa dan ke mana?” Andai pun dijelaskan & mereka mengerti; belum tentu akan sepakat.
===
KONSEP saya sederhana. Mari kita jaga EKSISTENSI agama ini. Caranya: mari kita loyal pada Islam dan memperbaiki kekuatan diri kita. Tiga aspek kekuatan: wawasan ilmu, spiritual, dan ekonomi.
===
Kita menjaga agama ini dengan MEMBERDAYAKAN PRIBADI MUSLIM. Seperti umpama, negara-negara membentuk “garda nasional” untuk menjaga negaranya.
===
TAPI konsep ini terbentur beberapa masalah krusial yaitu: a. Realita Ummat kita yang sudah terkotak-kotak sangat kuat; b. Kecurigaan yang tiada habisnya; c. Ketidakpahaman akan konsep ini; d. Kelemahan daya dukung. JUJUR sekian lama hanya mampu sabar & sabar.
===
MAKNA konsep ini: Mari kita ngaji. Tapi jangan agama melulu. Mari “ngaji organisasi”, “ngaji fisik”, “ngaji media”, “ngaji mental”, “ngaji bisnis”, dan lain-lain. Polanya ngaji, tapi materi bervariasi. Unsur kekuatan dunia juga harus dibangun.
===
Keragaman bendera, jamaah, partai, organisasi; tidak menjadi masalah. Kita bisa kerjasama dan bantu-membantu. Bagi saya, memberdayakan orang NU, Muhammadiyah, PKS, FUI, Salafi, Mujahidin, atau siapa saja di antara Ummat Ahlus Sunnah; tidak masalah. Membantu mereka menguatkan SDM-nya, no problem. Karena diharapkan, nanti mereka akan MEMPERKUAT AGAMA ini lewat komunitas masing-masing.
===
Kalau kami menafikan kelompok-kelompok itu, siapa kami ini? Apa daya kami? Tapi kalau kita gontok-gontokan terus, kan gak baik. Buat apa? Gak ada manfaatnya. Maka itu KERJASAMA jadi jalan terbaik.
===
Kami ingin berbagi inspirasi-inspirasi pemberdayaan Muslim. Kami perkuat kader-kader muda Muslim; untuk nantinya dia berkiprah bagi Islam lewat lembaga (komunitas) masing-masing. Pesan kami: “Perkuat dirimu, lalu bantu agamamu!”
===
Ha ha ha…sudah kejauhan ya curhatnya. Tapi ini kami sudah terus terang bingits lho… Unik ya, ada “manhaj pemberdayaan”. Manhaj apaan Bro? Ha ha ha. Tapi jangan heran. Sebenarnya kaum Muslim selama ini juga aktif lewat proses PENDIDIKAN. Itu pemberdayaan juga kan.
===
Apa bedanya konsep pemberdayaan lewat jalur pendidikan dengan konsep kami? MUDAH saja. Ini independen. Tidak terikat Diknas, Depag, atau lembaga tertentu. Ini fokusnya MENDIDIK KADER PEDULI UMMAT. Cirinya: loyal ke Islam dan berdaya! Oh ya, kami suka terus terang. He he he.
===
BAIK deh… Segitu dulu. Nanti disambung lagi ea. Insya Allah. Ya Allah berikan kami taufiq untuk melaksanakan amanat agama-Mu. Amin ya Rauf ya Rahiim. Alhamdulillah…

(RainNight).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: