Bertemu Tim SARKUB…

Bismillah. Sebenarnya saya belum pernah lho bertemu Tim Sarkub, apalagi sampai terjadi dialog. Belum insya Allah
.
Mungkin, ada di antara anggota Tim Sarkub itu pernah bertemu, berbincang, ngobrol, atau apalah. Lalu pertemuan itu dilaporkan di media. Tapi saya sendiri tidak pernah bertemu dengan siapa pun yang mengenalkan dirinya sebagai Tim Sarkub.
.
Paling yang pernah bertemu, dengan Ustadz Thobari Syadzili, saat terjadi bedah buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi” di forum IBF Senayan Jakarta. Beliau menjadi salah satu peserta yang vokal dalam bedah buku tersebut. Kalau ini dianggap “telah bertemu”, jawabnya iya.
.
Ustadz Thobari pernah menelpon saya agak lama, ketika sedang berada di rumah. Mungkin itu terjadi setelah “Dialog Aswaja Salafi” di Batam. Dalam pembicaraan itu beliau mengeluhkan dua orang ustadz Salafi tertentu yang dianggap “ngeyel” dalam pendapatnya. Lalu beliau jelaskan, bahwa amal-amal yang selama ini dijalankan oleh warga Aswaja itu ada dalil-dalilnya. (Hal ini mirip seperti pembelaan Ustadz Idrus Ramli terhadap amal-amal Aswaja).
.
Saya sendiri memandang, kalau orang sudah merasa “berpegang ke dalil”, ya sudah cukup berhenti sampai di sana. Jika mau mengkaji “perbandingan dalil” harus secara jernih, netral, dingin, tanpa emosi. Namun jika hanya untuk konsumsi debat, ya sulit dicapai ujungnya. Biasanya, ketika masing-masing pihak sudah berpegang kepada dalil masing-masing, baru keluarlah kaidah terkenal ini: “Lakum a’malukum wa lana a’maluna” (bagimu amal kamu, bagi kami amal kami).
.
Nah, inilah sekelumit pengalaman sejati yang pernah saya alami dengan tim Sarkub. Kalau ada penjelasan yang melebihi ini, saya tidak tahu dari mana sumbernya. Wallahu a’lam bis shawaab.

(AMW).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: