The Jakarta Utara…

Tanjung Priok Tempo Doeloe

Tanjung Priok Tempo Doeloe

Tulisan dari seorang aktivis medsos, Rudi Wahyudi. Meneropong tentang karakter masyarakat Jakarta Utara, khususnya Tanjung Priok. Berikut tulisannya:

Jakarta Utara

“Pernah saya jalan kaki dari Matraman ke Penjaringan Jakarta Utara saat SMP dalam keadaan puasa, nemenin kakak saya yang kasmaran nemuin kekasihnya di sana. Dalam kondisi lapar dan letih pandangan saya ngelantur. Gak sengaja melihat ke seorang remaja (laki-laki) di samping musholla, langsung dia berkata, “apa Lu ngeliatin gua !?”

Say pikir akan dibalas senyum ramah pada musafir ternyata dia marah. Itu watak anak Priok yang pertama saya temui.

Belakangan saya baru tahu, keras, penuh harga diri, dan melawan adalah watak kolektif mereka, anak-anak laut.

Di saat semua takut pada rezim Soeharto, Tanjung Priok meledak, melawan rasa takut ! Saat mesin pengembang ingin membuldoser Makam Mbah Priok, Tanjung Priok membara. Perlawanan berdarah-darah dan hujan batu di jalanan. Saat tahun 1999, bentrok mahasiswa yang ingin menggoyang Habibie, Pamswakarsa plus gerakan mahasiswa fundamentalis HAMMAS beradu badan dan senjata apa adanya antar massa, entah kebetulan atau tidak, banyak sekali anak Priok yang saya kenal di dalamnya. Sialnya, sampai-sampai teman saya paling badung di Pesantren juga anak-anak Priok, melawan apa saja seperti sudah menjadi guratan genetis mereka.

Sekarang, saat semua tak mampu melawan kezaliman Ahok, saat kampung-kampung yang digusur memilih jalan pasrah dari Kp. Pedongkelan sampai Kp. Pulo, dari utara gelombang perlawanan terus membara. Muara Baru, Luar Batang, Muara Kamal, Penjaringan dll tak henti-hentinya bergejolak. Sampai terakhir insiden hujan batu untuk gubernur yang didukung tangan-tangan kekuasaan dan pemilik modal.

Nekat sekali orang-orang itu, berani-beraninya menghujani batu anak naga. Tidak tahukah mereka kalau aparat-aparat bersenjata banyak yang menjadi anak asuh Bapak Naga, nyari makan, nyari modal naik pangkat dan karir dari uangnya Bapaknya si anak naga ? Tidak takutkah mereka bedil-bedil centeng2 Bapak Naga di “dor” kan ke mereka ? Anak naga kok dilempari batu.

Gila benar orang2 utara, makan apa ibunya waktu mengandung mereka ? Bisa-bisanya mereka berani melawan komplotan cukong dan centeng. Ah, tak tahulah.

Dari Utara gelombang perlawanan terus bermunculan, seberapa kuat mereka, siapa yang akan menang : Ahok atau manusia-manusia laut itu ?

Mari kita sama-sama saksikan!”

KOMEN: Ini termasuk jenis analisa sosiologis kultural masyarakat, dalam lanskap kehidupan politik. Cara bertuturnya bersorak sedikit sastra. Terimakasih.

(Mine).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: