RUQYAH DALAM AL-QUR’AN

November 20, 2015

Allah SWT berkata dalam Kitab-Nya: “Au tarqo fis sama’i wa lan nu’mina li ruqika hatta tunazzala ‘alaina kitaban naqro’uhu. Qul subhana Robbiy, hal kuntu basyaron rosula.” (AL ISRO’: 93).

TERJEMAH: “Atau engkau (Muhammad Saw) naik ke langit, dan skali-kali kami tidak akan percaya dengan kenaikan-mu, sampai engkau mendatangkan suatu kitab yang bisa kami baca.” Katakanlah, “Maha Suci Rabbku, aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul.”

Kata “tarqo” dan “ruqika” adalah satu asal usul dengan ROQOY. Bentuk kata bendanya RUQYAH. Memiliki arti “tasha’ada” atau NAIK.

Maksud ayat di atas: Orang kafir ingin melihat keajaiban-keajaiban yang mampu ditunjukkan oleh Nabi Saw. Misalnya, beliau NAIK KE LANGIT, lalu membawa suatu kitab yang dapat mereka baca.

Ulama berkata: “Apa yang kalian katakan adalah kesombongan besar. Subhanallah jika hukum dan ayat-Nya mengikuti hawa nafsu mereka yang rusak dan akal mereka yang sesat.”

HIKMAH. Di sini ruqyah memiliki makna NAIK. Jika Rasul Saw bisa naik ke langit, disebut ber-ruqyah.

Seperti halnya doa dan amal-amal saleh, ia naik ke langit. Doa dipanjakan kepada Allah Ta’ala untuk dikabulkan. Amal-amal saleh naik untuk diberi pahala.

Ruqyah secara umum adalah MANTRA-MANTRA, JAMPI-JAMPI, BABACAAN, atau DOA-DOA.

Sedangkan RUQYAH SYAR’IYAH adalah doa-doa, jampi-jampi, atau mantra yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah; dilakukan dengan cara-cara sesuai Syariat. Doanya tidak mengandung kemusyrikan, begitu juga CARANYA.

Demikian, semoga manfaat. Amin.

Sam Hikmat.

Iklan

Memahami Karakter Generasi Salaf

Agustus 30, 2015

Bismillah. Allah SWT memberikan kita panduan: “Wahai org-org beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah; dan janganlah mengikuti jalan-jalan setan, karena dia musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208). Di sini dijelaskan bahwa konsep “Islam tidak kaffah” adalah jalan setan yang harus kita jauhi.

Dalam ayat lain: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, hingga agama ini seluruhnya murni untuk Allah.” (Al Anfaal: 39). Ternyata, kita diperintah menegakkan agama Allah, sampai tidak ada fitnah, sampai segala penghambaan hanya untuk Allah saja.

Dalam ayat lain, Allah berbicara tentang karakter Bani Israil: “Pergilah engkau Musa dan Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, cukup kami duduk-duduk saja di sini.” (Al Maa’idah: 24). Bani Israil meskipun ilmunya banyak, tapi menolak Jihad.

MOMEN Jihad pertama dalam Islam adalah di lembah Badar. Saat itu Nabi Saw dihinggapi keraguan tentang komitmen para Shahabatnya. Lalu Ibnu Mas’ud Ra menegaskan, “Wahai Rasulullah, kami akan menyertai Anda dalam perang ini, dan kami bukan Bani Israil yang menolak berjihad.” Jawaban ini amat sangat menggembirakan hati Nabi Saw.

CIRI paling menonjol dari generasi Shahabat Ra adalah: a. Mereka mencari ilmu; b. Mereka bercepat-cepat melaksanakan ilmu; c. Mereka membangun ukhuwah antar sesama Muslim yang kuat; d. Dan mereka tidak memisahkan ilmu dari JIHAD. Hingga agenda Jihad itu menjadi obrolan sehari-hari. Sampai anak kecil pun ikut peduli. Itulah generasi SALAFUS SALEH.

Kemudian di era kekinian kita mendapati paham-paham yang aneh. Antara lain: “Gambaran Islam tanpa wibawa. Toleransi besar terhadap sekularisme. Menentang usaha-usaha penegakan Syariat. Memusuhi gerakan-gerakan Islam. Gemar sekali perselisihan dan keributan. Muncul phobia Jihad. Dan lain-lain.”

Sampai-sampai di antara mereka memusuhi PARA AKTIVIS ISLAM (Harakiyun) sebagai agenda utama; dengan tidak sedikit pun pernah merugikan kaum kufar. Intinya: memerangi saudara sendiri, dan membiarkan kaum kufar. Sifat kaum apa itu?

Karakter generasi Salafus Saleh telah terzhalimi sedemikian rupa.

Wallahul Musta’an wa ilaihi Mustaka.

(Willing).


Di Balik Wafatnya Ulama…

Agustus 30, 2015

Bismillah. Sejatinya, sosok seorang ulama TIDAK MELULU bisa dilihat dari karya-karyanya. Mereka bisa jadi punya “banyak kehebatan” yang tidak tampak dalam karya-karyanya.

Perspektif 1. Banyak ulama tidak mau mengungkap sisi kehidupan pribadi dalam karya-karyanya.

Perspektif 2. Dalam menulis, para ulama akan fokus di MATERI/ISI bukunya. Nah, di situ sering tidak terungkap karakter pribadinya. Hawanya “tampak serius aja”. Padahal bisa jadi dalam keseharian supel, hangat, senang humor, dll. Kita umumnya hanya menilai berdasar karya yang ada.

Duka di Balik Wafatnya Ulama

Duka di Balik Wafatnya Ulama

Perspektif 3. Sebagian besar ulama berkarya KARENA PERTOLONGAN ALLAH, bukan semata kemampuan pribadi. Kalau tak percaya… Mereka kalau disuruh membuat karya yang sama, tanpa melihat TEKS yang sudah ada, belum tentu mampu.

Perspektif 4. Hebat tidaknya karya ulama, tergantung AKHLAK yang bersangkutan di hadapan Allah Al A’la. Dari akhlak itu mereka diberi karunia DERAJAT ILMU sesuai rahmat-Nya.

Perspektif 5. Di luar karya-karyanya, ulama punya “dunia lain” yang tidak kalah indahnya. Itu biasanya akan diketahui oleh orang-orang terdekat, atau yang mengenalnya. Itu juga bentuk rahmat Allah dalam wujud berbeda. Seolah, Allah berbeda ketika membagikan rahmat dalam “karya” dan “kehidupan nyata”.

Wafatnya para komandan Ahrar Syam bisa dengan cepat diganti para komandan lain. Wafatnya Mulah Umar, cepat juga diganti Mulah Akhtar. Tapi wafatnya ulama dunia Islam…tidak secepat itu ada gantinya.

Wa maa kanallahu liyu’adz-dzibahum wa anta fihim” (tidaklah Allah akan menyiksa mereka, sementara engkau -Muhammad Saw- ada di tengah mereka). Al Anfaal: 33.

Rasul Saw: “Al ulama waratsatul anbiya‘” (ulama itu pewaris para Nabi). Kehadiran ulama, seperti kehadiran para Nabi. Menjadi sebab rahmat bagi kaumnya.

Wallahu a’lam bis shawaab.

(Rain).


SATU: Mempelajari SUNNAH (Syariat)

Agustus 10, 2015

* Mempelajari Sunnah, sama dengan mempelajari Syariat. Atau dengan kata lain, mempelajari agama (Ulumud Din).
* Caranya bermacam-macam, antara lain:

== Menghadiri majelis taklim rutin, atau temporer. Boleh mengkaji kitab, boleh juga kajian tematik.
== Mulazamah (bersimpuh) di depan guru. Boleh guru bersanad, atau guru tak bersanad. Boleh guru berijazah atau tak memberi ijazah.
== Belajar di sekolah agama, dari level ibtidaiyah sampai jaami’ah (universitas). Tingkat sarjana, sampai profesor.
== Belajar di ma’had-ma’had ilmu. Boleh yang tradisional atau modern.
== Ikut halaqah-halaqah pergerakan Islam.
== Menelaah media-media Islam, semisal majalah, internet, radio, TV, rekaman MP3, rekaman video, dll.
== Mengikuti informasi di media-media sosial yang menyebarkan ilmu, hikmah, manfaat ilmiah.
== Menelaah fatwa-fatwa ulama, baik lokal maupun internasional (Timur Tengah).
== Ikut forum diskusi, bedah buku, bahtsul masa’il, dan lainnya.
== Dan lain-lain cara yang halal dan baik.

* Rasulullah SAW bersabda: “Wa man salaka thariqan yaltamisu fihi ‘ilman, sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah” (siapa yang menempuh jalan yang dengan itu dia dapatkan ilmu, maka dia akan dimudahkan jalannya menuju surga).
* Tetapi hindari majelis-majelis yang mengajarkan permusuhan, kedengkian, perpecahan, hajar-menghajar antar sesama Muslim. Majelis seperti itu lebih dekat ke pintu-pintu neraka, daripada membawa ke pintu surga. Jangan ragu untuk meninggalkan majelis para ahlul bid’ah tersebut.
* Kita boleh menghadiri manjelis yang membahas sekte-sekte sesat (terlarang) seperti membahas Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Ahmadiyah, Liberal, Sekuler, dll. Di mana semua itu kesesatannya telah IJMAK (konsensus) di kalangan Ummat, ia tak mengapa.
* Tapi kalau menyerang, mencela, mempermalukan sesama Muslim dalam masalah-masalah yang bersifat DENDAM PRIBADI, pendapatan ekonomi, perselisihan sudut pandang, perkara samar, ada peluang takwil (intepretasi), soal wasilah dakwah, dll. maka semua kekerasan verbal itu haram. Para pelakunya dihitung telah menzhalimi kaum Muslimin.
* Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menetapi jalan yang diridhai-Nya. Amin ya Rahmaan ya Rahiim.

(BandarCita).


Memahami Konsep Ulil Amri

Agustus 10, 2015

Setiap Muslim wajib memahami konsep Ulil Amri. Karena ia adl konsep POLITIK kita dlm Syariat. Hal ini kelak akan ditanyakan oleh Allah, maka kita harus menyiapkan jawabannya. Ingat, ini penting. Kita wajib tahu!
==
Secara bahasa Ulil Amri atau Ulul Amri, artinya “yang memegang suatu urusan”. Istilahnya serupa seperti “shahibul hajat”. Tetapi dalam konteks Syariat, ia memiliki makna tersendiri.
==
Allah mewajibkan kita taat pada Ulil Amri. Dalam ayat: “Wahai org-org beriman, taatlah kalian kpd Allah, taatlah kepada Rasul(Nya), dan kepada Ulil Amri di antara kalian.” (An Nisaa’: 59).
==
Menurut ulama, Ulil Amri itu bisa dua kemungkinan: Pemimpin negara atau ulama. Tapi yang populer adalah pemimpin negara. Idealnya, ia pemimpin negara sekaligus ulama, seperti sosok Khulafaur Rasyidin Ra.
==
Ada yang berpendapat, semua pemimpin negara adalah Ulil Amri, selagi dia beragama Muslim. Mau sistem sekuler, demokrasi, nasionalisme, diktator, liberal, atau sistem apa saja; kalau si pemimpin Muslim (masih shalat); dia dianggap Ulil Amri. India pernah dipimpin oleh Presiden Prof. Abdul Kalam, seorang Muslim juga. Apakah dia Ulil Amri?
==
TAPI hakikat Ulil Amri bukan seperti itu. Malah ia adalah pemahaman keliru (sesat) yang harus dijauhi. Ulil Amri adalah PEMIMPIN Ummat dalam rangka taat kepada Allah & Rasul-Nya. Dia Muslim dan mengajak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
==
Meskipun Muslim, masih shalat, kalau mengajak TIDAK TAAT kepada Allah & Rasul, dia bukan Ulil Amri kita. Begitu juga, meskipun mengajak taat kepada Allah dan Rasul (sistem Islam), kalau si pemimpin bukan Muslim, dia juga bukan Ulil Amri.
==
DALIL 1: Lihat Surat An Nisaa’ 59. Di sana di awali dengan kalimat “ya aiyuhal ladzina amanu“. Jadi ini adalah ranah URUSAN ORANG BERIMAN. Namanya urusan keimanan, tidak bisa lepas dari hukum Allah dan Rasul.
==
DALIL 2: Dalam Surat An Nisaa’ 59 itu kita diperintah taat kepada Allah, taat kepada Rasul, baru kemudian taat kepada Ulil Amri. Dari ayat ini SUDAH PASTI taat kepada Ulil Amri itu TIDAK BOLEH keluar dari taat kepada Allah & Rasul. SEBAB kalau si Ulil Amri tidak taat kepada Allah dan Rasul (melaksanakan Syariat Islam), maka makna ayat itu jadi rancu. Maknanya: “Taatlah kalian kepada Ulil Amri, meskipun dia tidak taat kepada Allah dan Rasul.” Selain rancu. Ia juga mengajak kita mendahulukan taat kepada penguasa melebihi taat kepada Allah dan Rasul. Itu masalah AKIDAH besar.
==
DALIL 3: Surat An Nisaa’ 59 itu ada lanjutannya sebagai berikut “Dan jika kalian berselisih dlm satu perkara, kembalikanlah kepada (hukum) Allah dan Rasul-Nya, yaitu jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih baik dan bermanfaat akibatnya.” JADI pemutus perselisihan kita adalah hukum Allah dan Rasul, bukan hukum Ulil Amri. Itu kalau kita serius BERIMAN.
==
DALIL 4: Kalau kita baca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat di atas, maka akan kita temukan kisah unik di zaman Nabi Saw. Waktu itu beliau mengutus satu grup sariyah (patroli bersenjata). Suatu saat mereka bertemu gua yang ada api di dalamnya. Si komandan memerintahkan pasukan masuk ke dalam gua. Tapi mereka tidak mau. Setelah sampai di Madinah mereka cerita kejadian itu. Kata Nabi, kalau mereka turuti perintah itu, mereka akan terbakar dalam api sampai Hari Kiamat. Maksudnya, itu dianggap bunuh diri yang balasannya siksa abadi. Lalu Nabi Saw mengatakan: “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf saja). PERHATIKAN: Komandan itu ditunjuk Nabi; mereka dalam Jihad Fi Sabilillah; di atas sistem Islam; bahkan Nabi Saw sendiri sebagai imam negara. Tetapi tetap saja, PERINTAH BATHIL tidak boleh dituruti. Ingat, kasus ini sangat penting!!!
==
DALIL 5: Para ulama menyebut sebuah kaidah penting, diambil dari hadits Nabi Saw. Kaidahnya: “Laa tha’ata li makhluqin li ma’shiyatil khaliq” (tidak ada ketaatan kepada makhluk, dalam rangka maksiat kepada Allah). Coba tanyakan para ulama, pasti mereka kenal kaidah ini.
==
DALIL 6: Seandainya syarat menjadi Ulil Amri hanyalah beragama Islam, maka Abdullah bin Ubay layak menjadi Ulil Amri di Madinah, sebagaimana Abu Sufyan bin Harb -setelah masuk Islam- layak menjadi Ulil Amri di Makkah; karena mereka berdua beragama Islam dan pemimpin kaumnya. Tapi faktanya, mereka tidak pernah menjadi Ulil Amri.
==
DALIL 7: Para Khulafaur Rasyidin Ra adalah hujjah yang sangat kuat. Mereka terpilih sebagai pemimpin Ummat bukan hanya karena dirinya Muslim; tetapi mereka dibaiat untuk melaksanakan Syariat, menjalankan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar dan Umar meminta diluruskan, jika salah dalam memimpin. Andai syarat menjadi Ulil Amri hanya identitas Muslim, maka kaum Badui di pedalaman padang pasir, juga berhak menjadi Khalifah.
==
Hadits-hadits Nabi Saw seputar jangan mencaci penguasa, jangan ghibah, jangan menghina di depan umum, kalau menasehati tertutup, dll. semua itu MASUKNYA ke Ulil Amri yang mengajak taat kepada Allah dan Rasul; bukan pemimpin sekuler, anti Islam, anti Syariat, dll. Jangan salah meletakkan.
==
Apakah dengan demikian, kaum Muslimin harus MEMBERONTAK pada penguasa sekuler/anti Islam? Ya solusinya TIDAK MESTI berontak. Anda kan dianugerahi akal sehat untuk berpikir cara terbaiknya. Gunakan akal itu, jangan “disimpan di kulkas”. Bila ada cara yang lebih efektif, hemat, minim kerugian, pakailah itu! Di sini kita bisa berdakwah, memperbaiki Ummat, amar makruf nahi munkar, dan lainnya.
==
Jika saat ini tidak ada pemimpin yang mengajak taat kepada Allah dan Rasul, berarti kita tidak punya Ulil Amri dong? Ya iya. Itu sih yess. Tapi tidak mengapa. Para Shahabat yang hijrah ke Ethiopia bertahun-tahun hidup di sana tanpa Ulil Amri. Begitu juga Shahabat yang hidup di Makkah, sebelum Makkah jatuh ke tangan Islam, juga tidak bernaung di bawah Ulil Amri. Para dai atau muballigh yang berdakwah ke negeri-negeri non Islam, banyak wafat di negeri tersebut, padahal tidak ada pemimpin Islami di dalamnya. Inilah maksud ayat: “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (tidaklah Allah membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya). Al Baqarah 286.
==
Apakah pemahaman seperti ini milik kaum Haraki (pergerakan)? Bukan. Ini paham Syariat. Kalau ada perselisihan, ukurlah dengan Syariat. Bukan dikotomi “Haraki or not Haraki”. Cara berpikir seperti itu tidak sesuai Syariat, bahkan merupakan bid’ah yang diada-adakan. Imam Malik ketika ditanya sesuatu, beliau tak pernah menjawab dengan logika “Haraki atau non Haraki”. Itu corak berpikir bid’ah.
==
Bukankah menentang penguasa itu sama dengan Khawarij? Itu perkataan dusta. Ummat harus paham, bahwa Khawarij itu MELAWAN PEMIMPIN ISLAMI yang sah, seperti mereka dulu mereka menentang Khalifah Ali Ra. Lha kita ini justru PRO PEMIMPIN ISLAMI. Kok bisa dituduh Khawarij? Justru para penuduh itulah Khawarij, karena mereka selalu menentang, melawan, dan menghancurkan usaha-usaha membangun Kepemimpinan Islami.
==
Demikian, semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk dan rahmat kepada kita semua. Amin.

(BlueHeart).


Keistimewaan Surat Az Zumar

Juli 15, 2015

>> Surat ke-39. Jumlah ayat 75. Turun di Makkah. Posisi akhir juz 23 dan awal juz 24.
>> Makna Az Zumar: rombongan-rombongan. Bentuk plural dari “zumrotun” (rombongan). Sebagai perbandingan, khatib Jum’at sering berkata: “Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mukminin.”
>> Kata Az Zumar diambil dari ayat-ayat menjelang akhir, ketika manusia dihalau ke neraka dan surga rombongan demi rombongan. Saat hisab satu per satu; saat masuk surga/neraka bersama-sama.
>> Ini termasuk SURAT MENAKJUBKAN. Di dalamnya terdapat banyak PRINSIP-PRINSIP Islam. Dibandingkan kandungan Surat Yaasin, surat ini lebih LENGKAP cakupan makna-maknanya.
>> Surat ini termasuk SATU DARI DUA SURAT dalam Al Qur’an yang diakhiri dengan kalimat ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. Surat satunya lagi adalah ASH-SHAFFAT (surat ke-37).
>> FAIDAH: Mari kita hafal Surat ini dan sering-sering dibaca saat SHALAT.
>> DEMIKIAN sekilas, semoga bermanfaat.

(Mine).


Apakah Merokok Membatalkan Shaum ?

Juli 15, 2015

>> Harus diakui, di antara kaum Muslimin masih ada yang meyakini, merokok tidak membatalkan puasa. Tapi pendapat yang dominan meyakini, merokok MEMBATALKAN puasa.
>> ALASAN yang sering dipakai sebagai hujjah adalah: “Yang dilarang dalam puasa adalah makan, minum, hubungan seks, dari Subuh sampai Maghrib. Merokok bukan makan-minum. Bukan pula hubungan seks. Jadi tidak apa-apa.”
>> Lalu ada yang membantah hujjah itu: “Merokok sama dengan makan, hanya saja bentuknya MAKAN ASAP rokok. Jadi merokok membatalkan.”
>> Pihak pendukung asap rokok berdalil lagi: “Para penderita sakit Atsma sering menghirup pelega pernafasan (inhaler), itu tidak dianggap membatalkan puasanya; padahal sama-sama menghirup sesuatu.”
>> Kami meyakini, merokok itu MEMBATALKAN PUASA, tapi argumennya berbeda.
>> Menghirup gas/asap tidak bisa dianggap sebagai pembatal puasa. Setiap bernafas kita menghirup gas. Kalau ada asap bakaran, uap air, aroma makanan, aroma parfum, dll.; kadang terhirup oleh kita. Semua ini bukan pembatal puasa.
>> [1]. HAKIKAT PUASA adalah menahan lapar, haus, syahwat, untuk mendapat Keridhaan Allah SWT. Bagi perokok, mereka bisa tahan tidak makan-minum, asal tetap NGROKOK.
>> [2]. HIKMAH PUASA, kita diajak merasakan kehidupan susah seperti fakir miskin. Orang miskin sering susah beli makan sehari-hari. Sedang perokok gemar “jajan asap” setiap hari.
>> [3]. MEROKOK adalah haram bagi orang puasa dengan alasan: MEROKOK MERUPAKAN MUBTADIL (PENGGANTI) MAKAN-MINUM BAGI PARA PEROKOK. Tanpa makan-minum, asal bisa merokok, mereka merasa kuat.
>> JADI hakikat merokok itu sama dengan makan-minum, di mata pihak yang tidak merokok. Jelas hal ini sangat MEMBATALKAN esensi puasa itu sendiri.
>> Hukum seperti ini berlaku juga pada merokok ganja, menghirup Sisha, menghisap Hasis (candu), dan sejenisnya.
>> Demikian, semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Don’tSmokeMan).