Beginikah Cara Kita Memperlakukan Wanita?

Mei 23, 2013

Bismillahirrahmanirrahiim.

Bila kita mengarahkan pandangan sejenak tuk mencerna berita-berita beredar, seputar korupsi, kerja KPK, eksistensi partai tertentu di panggung politik; rasanya tak berlebihan jika kita lebih sering mengelus dada, tertunduk lesu, membaca istighfar, dan aneka bentuk sikap kepasrahan.

Banyak sisi dari ruang-ruang media, opini, atau kesadaran publik yang bisa dicerna disini. Lihatlah bagaimana simbol-simbol politik Islam remuk redam, dihempas berita-berita seputar amoralitas. Lihatlah nama ustadz atau tokoh dai semacam menjadi bahan percandaan, olok-olokan. Lihatlah perkara uang negara, yang merupakan amanat rakyat, begitu mudah dimasukkan dalam hitungan-hitungan syahwat kelompok. Termasuk kita juga melihat adanya suatu kesengajaan kerja media untuk memukul satu sasaran, dengan tujuan banyak sasaran (Muslim) bisa terkena pantulan pukulannya.

WANITA: Mestinya Dijaga, Bukan Dieksploitasi

WANITA: Mestinya Dijaga, Bukan Dieksploitasi

Tapi ada satu sisi penting Saudaraku yang mesti kita bicarakan disini. Ia berkaitan dengan kehormatan ibu-ibu kita, kehormatan isteri kita, kehormatan putri-putri kita. Ya, kita perlu bicara tentang cara manusia masa kini dalam memperlakukan kaum wanita.

Bila diperhatikan dengan teliti dan lebih cermat, engkau akan saksikan betapa kejamnya dunia zaman kini; betapa sadisnya manusia tatkala mengukur nilai wanita; betapa “titik nazhir”-nya kesadaran moral saat berhadapan dengan wanita. Betapa ayat-ayat, dalil-dalil, legitimasi agama dijadikan semacam “kartu domino” untuk mempertaruhkan kehormatan wanita di meja-meja perjudian kehidupan.

Lunglai rasanya hatiku manakala menyaksikan laki-laki kaya, seorang makelar proyek, begitu mudah membagi-bagikan kekayaan kepada wanita cantik; sambil tentu saja dia memungut kenikmatan-kenikmatan syahwati, sebagai buah pengorbanan hartanya. Apa yang tergambar di benaknya tentang sosok wanita? Mungkin -bila dia diberi lisan kejujuran tuk menjawab- dia kan berkata: “Bullshit soal wanita! Mereka tuh pemuas kemaluan doang. Kasih aja dia sekeranjang uang, pasti diam!”

Segitukah engkau menghargai wanita-wanitamu, wahai si kaya? Engkau dilahirkan dari rahim seorang wanita dan menurunkan keturunan wanita juga. Sudikah engkau arahkan hina kata-katamu kepada keluargamu sendiri, wahai si kaya?

Betapa syukurnya wahai laki-laki yang miskin, biasa-biasa saja, tak berharta banyak, sekedar cukup untuk operasional hidup. Bersyukurlah kalian karena dirimu dijauhkan dari godaan besar ini; supaya pada akhirnya engkau tak akan mengutuk wanita-wanitamu.

Betapa perih hati manakala mendengar, seorang berilmu, tokoh besar, semena-mena kepada wanitanya. Tak puas dengan satu dua isteri, dia memperbanyak kesempatan menikmati; termasuk dengan anak-anak yang masih remaja.

Bukan tak boleh demikian, selagi engkau memang perlu dan kuasa melakukan. Tapi ingatlah, masih banyak amanat perjuangan yang mesti engkau emban, untuk membela umatmu; jika engkau masih ingat. Engkau sebarkan kekayaan dimana-mana, demi urusan kesenangan diri ini. Bahkan wajah dan badanmu telah menjadi saksi penyimpangan jalanmu; tapi engkau tak sadarkan diri juga.

Wahai insan, wahai tokoh, wahai yang dipanggil “ustadz besar”. Andai kau sudi, carilah wanita-wanita berumur, yang kesepian, yang menantikan rahmat dan perlindunganmu. Cukuplah kau nikmati jamuan cinta dari yang Allah telah berikan, lalu jadikan kuasa dan dayamu sebagai manfaat atau barakah untuk membantu wanita-wanita itu. Jangan kau mencari anak-anak kecil, sekedar untuk memuaskan nafsu yang membara. Punyailah rasa malu, termasuk malu pada anak-anak itu.

Banyaklah segi-segi perilaku orang zaman kini yang membuat hati bersedih, merasa miris, dan tak kuasa memikirkan, tak daya tuk membayangkan. Entahlah konsep jiwa macam apa yang menjadi acuan, sehingga menjadikan wanita-wanita bak pemuas belaka.

Wanita memang punya kelemaan-kelemahan, punya kekurangan dari sisi karakter, kecepatan berpikir, atau kegesikan fisiknya (meskipun hal ini juga berlaku pengecualian pada kasus-kasus tertentu). Di samping mereka memiliki sejumlah keindahan dan daya tarik alamiah, atau hasil usaha manusiawi.

Di atas semua itu, engkau harus memuliakan kaum wanita, sekalipun itu bukan keluargamu sendiri. Allah memuliakan wanita, hingga kita mengenal surat An Nisaa’. Rasulullah juga memuliakan wanita, lewat teladan-teladannya. Begitu pun orang-orang mulia, selalu memuliakan wanita. “Di balik setiap laki-laki besar, selalu ada wanita yang berjasa.” Bukankah demikian yang kita pahami?

Muliakanlah wanita, hormatilah dia, maafkan kelemahan-kelemahannya, dengarkan keluh-kesahnya. Para ksatria tak pernah melecehkan wanita, mengekspoitasi, atau menjadikannya sejenis playmate. Tidak demikian. Sudah jadi kesepakatan sejarah, manusia mulia selalu menghormati kaum wanita. Nabi Saw bersabda: “Khiyarukum khiyarukum lin nisaa’ihim” (sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada wanita-wanitanya).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abu Aisyah wa Fathimah wa Khadijah).

Iklan

Wanita Dermawan Itu Wafat dalam Damai

April 26, 2013

Hari Selasa, tanggal 23 April 2013, saat menjelang Shubuh, wafat salah seorang hamba Allah yang dermawan. Dia adalah Ibu Jamilah Haidarah, atau sering dipanggil Ummi. Beliau menghabiskan sisa umurnya di Kota Bandung, tepatnya di kawasan Jl. Ahmad Yani.

Wanita ini bukan sosok public figure yang namanya disebut dimana-mana. Sosoknya tak pernah menghiasi layar TV. Beliau juga bukan seorang da’iyah yang banyak menasehati Ummat lewat ceramah-ceramah. Namun beliau memiliki banyak keutamaan.

Amal-amalnya tersebar bagaikan angin, bertiup tanpa suara kemana-mana, cepat dirasakan manfaatnya. Kebaikan-kebaikannya mengalir bagaikan air, memenuhi tempat-tempat yang rendah, bisa direguk siapapun yang kehausan. Ia memancar kebaikan, tak putus-putusnya, sampai akhir hayat.

Ummi Jamilah Haidarah mengelola toko meubel di Jl. Ahmad Yani Bandung. Usahanya laris manis, mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Dari usaha itu beliau banyak membelanjakan harta untuk membantu kaum Muslimin yang membutuhkan. Keutamaan-keutamaan amalnya sungguh mengagumkan. Disini kami sebutkan sedikit yang bisa diceritakan.

Ummi Jamilah rahimahallah semasa hidupnya sering berkunjung kesana kemari, menjenguk orang sakit, melihat orang yang kesusahan, takziyah kepada yang meninggal, shilaturahim kepada sanak-kerabat, dan sebagainya. Setiap berkunjung, kepada orang yang dikenal atau tidak dikenal, beliau selalu membawa uang atau makanan untuk disedekahkan. Jika mendengar ada orang sakit, dirawat di rumah sakit, meskipun bukan keluarga sendiri, beliau membantu dari sisi biaya atau mengirim makanan bagi pasien dan orang-orang yang menjenguk.

Beliau menyantuni warga sekitar, terutama fakir-miskin dan orang menderita. Bahkan dirinya membantu preman-preman di sekitar Jl. Ahmad Yani, mengasihi mereka, membina mereka, mengajak mereka kembali menjadi orang yang baik-baik. Banyak orang merasa kehilangan saat dia wafat.

Beliau memiliki rumah besar di Cirebon yang sengaja disediakan untuk para tamu dan orang-orang yang membutuhkan. Rumah itu bisa menampung 20 hingga 30-an orang. Siapa saja yang membutuhkan dipersilakan memakai tempat tersebut. Disana sudah disediakan ruang tamu, tempat tidur, dan aneka fasilitas. Orang yang memakai ruang itu tak dipungut biaya. Berkali-kali rumah itu ditawar oleh pebisnis, tapi tak diberikan, karena memang didedikasikan untuk kebaikan.

Beliau bersikap murah hati kepada para karyawan yang bekerja padanya. Selain mendapatkan upah, mereka juga diberi tempat tinggal dan mendapat tunjangan kebutuhan. Bagi Ibu Jamilah Haidarah, tidak ada kata merugi dalam bersedekah, beliau terus membantu kaum Muslimin melalui titipan harta yang sampai padanya. Seakan harta-harta itu hanya “lewat” di tangannya, lalu diterima oleh orang lain dalam bentuk manfaat dan pemenuhan kebutuhan.

Sebelum wafat, beliau telah mengalami sakit. Beberapa hari sebelum meninggal, beliau tampak sehat kembali. Kesempatan itu beliau gunakan untuk berkunjung ke Cirebon. Sepulang dari Cirebon, kondisinya semakin lemah.

Malam hari sebelum wafat, beliau sempat membangunkan pembantunya untuk menjalankan shalat malam bersama. Setelah shalat malam, beliau istirahat kembali. Tampaknya, itulah istirahat terakhir beliau di dunia ini. Ketika saat Shubuh, beliau telah wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Beliau berpulang menghadap Rabb-nya dalam damai dan tenang.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Rabb-mu dalam keadaan ridha dan diridhai, masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam jannah-Ku.” (Surat Al Fajr: 27-30).

Sekeping doa terhatur dari kami:

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha, wa akrim nuzulaha wa wassi’ mudkhalaha waghsilha bil maa’i wats tsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadhu minaddanas, wa abdilha daaran khairan min daariha wa ahlan khairan min ahliha wa zaujan khairan min zaujiha, wa adkilhal jannah wa a’idzha min adzabil qabri au min ‘adzabin naari.”

(Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, berikan keselamatan kepadanya, maafkan kesalahannya. Muliakan tempat tinggalnya, luaskan tempat masuknya –ke alam barzakh-, mandikan dia dengan air, salju, dan air dingin. Bersihkan dia dari kesalahan seperti Engkau membersihkan kain putih dari kotoran. Gantikan baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya –di dunia-, keluarga yang lebih baik dari keluarganya –di dunia-, pasangan hidup yang lebih baik dari pasangannya –di dunia-. Masukkan dia ke dalam surge, jauhkan dia dari adzab kubur atau adzab neraka). HR. Muslim, dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Saat pemakaman, manusia membludak menghantarkannya. Kendaraan dan jalan macet karena begitu banyaknya manusia yang partisipasi. Kata Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, kalau seorang insan disaksikan BAIK oleh manusia di sekitarnya, dia pun menjadi BAIK di sisi Allah. Amin ya Rahiim.

Pada akhirnya, dunia ini harus diisi dengan kebaikan-kebaikan yang tulus. Bila ada yang wafat, maka silsilah kebaikan harus diteruskan oleh generasi berikutnya. Demikian seterusnya, hingga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pijar keutamaan agama-Nya lewat hamba-hamba yang saleh.

Semoga sedikit tadzkirah ini bermanfaat sebagai peringatan dan nasehat, bagi kami, Anda, dan kita semua. Setiap insan pasti akan wafat, hanya soal momentumnya. Ya Allah kami memohon husnul khatimah kepada-Mu dan jauhkan kami dari su’ul khatimah. Amin Allahumma amin.

(Abinya Syakir).


[19]. Beratnya Godaan Wanita Modern

April 20, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Maa taraktu ba’diy fitnatan adharra ‘alar rijal minan nisaa’” (tidaklah aku tinggalkan sesudahku fitnah/godaan yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, selain godaan wanita.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Secara potensial kaum wanita merupakan godaan bagi kaum laki-laki. Ia merupakan salah satu unsur dari “tiga ta” (harta, tahta, dan wanita). Namun di zaman modern godaan wanita jauh lebih berat lagi.

Bagaimana bentuk godaan wanita di era sekarang?

"Aduh Mbak, Coba Kasihani Kaum Laki-laki Gitu."

“Aduh Mbak, Coba Kasihani Kaum Laki-laki Gitu.”

[1]. Wanita modern terus-terang cantik-cantik. Mereka lebih cantik dari wanita-wanita zaman sebelumnya. Era sekarang sarana-sarana kecantikan melimpah-ruah. Salon, make up, sarana kebugaran (fitness), gaya hidup modis, media-media, hingga operasi plastik untuk mengubah penampilan lebih cantik. Dengan modal uang dan informasi, wanita sekarang bisa tampil cantik.

[2]. Pakaian wanita modern umumnya seksi-seksi. Bentuknya bisa pakaian ketat (pas badan), rok mini, celana pendek, dan seterusnya. Mereka bukan malu memperlihatkan keseksian, justru bangga.

[3]. Sikap wanita sekarang banyak yang berani atau agressif. Kalau dulu wanita identik dengan menunggu, tetapi sekarang mereka “aktif menyerang”. Kalau bukan laki-laki yang mendatangi mereka, mereka yang akan mendatangi laki-laki.

[4]. Banyak wanita sekarang mencari income dengan modal penampilan. Mereka benar-benar sadar bahwa kecantikan dan tampilan seksi itu menghasilkan uang. Mereka menjadi model, SPG, bintang iklan, dan seterusnya. Modal ilmu atau kecerdasan tak mesti harus ada, asalkan bisa tampil cantik, seksi, dan menggoda.

[5]. Wanita modern banyak yang galaw. Nah, ini masalah serius. Fitrah wanita kan tidak bisa hidup sendiri, mereka selalu membutuhkan pasangan hidup (suami). Sementara untuk mendapatkan pasangan itu perlu perjuangan ekstra, sehingga ada persaingan antar sesama wanita dalam kecantikan, penampilan, dan kenekadan.

Semua ini merupakan cobaan-cobaan berat yang dihadapi kaum laki-laki zaman sekarang, di segala umur, selain anak-anak kecil. Para suami, anak muda, mahasiswa, pelajar, bapak-bapak, hingga kakek-kakek, mendapati semua cobaan itu.

Ada baiknya kita selalu berdoa: Nas’alulloh al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhiroh (ya Allah kami meminta kepadamu keselamatan dalam urusan agama, urusan dunia, dan urusan Akhirat).

Atau baca doa yang terkenal dalam Al Qur’an: Robbana laa tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah innaka antal wahhab (ya Rabbana, janganlah Engkau gelincirkan kami -ke dalam kesesatan- setelah Engkau berikan kami petunjuk, anugerahkan dari sisi-Mu berupa rahmat, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi karunia).

Baca doa-doa ini dalam kehidupan sehari-hari, ketika setelah shalat, atau ketika dihimpit godaan besar. Semoga Allah selalu melindungi kami, Anda, dan kaum Muslimin semuanya. Amin ya Arhama Rohimiin.

Mine.


[06]. Memuliakan Kaum Wanita

Februari 16, 2013

Salah satu amanah kehidupan yang harus ditunaikan oleh seorang Muslim, ialah bersikap baik kepada kaum wanita. Wanita itu bisa ibunya sendiri, kakak-adiknya, isteri, anak-anaknya, kerabatnya, serta kaum wanita secara umum. Hal demikian bukan semata karena kaum wanita itu lemah, tetapi ia merupakan konsekuensi keimanan.

Nabi Saw bersabda: “Akmalul mu’minina imanuhum ahsanuhum khuluqa, wa khiyarukum khiyarukum li nisaa’ihim khuluqan” (sesempurna sempurna keimanan orang beriman ialah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian, ialah yang terbaik akhlaknya kepada wanita-wanitanya). [HR. At Tirmidzi, dari Abu Hurairah Ra].

Hormati Kaum Wanita. Itulah Caramu dalam Mensyukuri Bundamu.

Hormati Kaum Wanita. Itulah Caramu dalam Mensyukuri Bundamu.

Orang beriman akan menghindari kezhaliman, kepada siapapun. Termasuk bersikap zhalim kepada kaum wanita. Bukan watak para kesatria dengan mencaci-maki wanita, memukul, menendang, menghina, atau melecehkannya. Jika ada seorang laki-laki bertengkar mulut dengan wanita, lalu wanita itu dia maki-maki sepuasnya sehingga ia menangis berurai air-mata. Cara demikian bukan tipikal laki-laki sejati. Tidak ada kebanggaan dalam hal seperti itu.

Laki-laki yang mulia senantiasa menghormati martabat kaum wanita; karena bagaimanapun dia lahir dari rahim seorang wanita; dia kuat dalam asuhan wanita; dia menjadi perwira dengan belas-kasih dan bimbingan wanita. Secara sengaja dan semena-mena dalam menghina wanita, merendahkan martabatnya, serta mengekspoitasinya; adalah pertanda bahwa yang bersangkutan telah “kufur” (tidak berterimakasih) atas jasa-jasa ibunya.

Termasuk menghargai wanita ialah dengan tidak mengonsumsi produk-produk pornografi; tidak merasa nyaman dengan melihat aurat wanita diumbar dimana-mana; merasa jengah dengan menyaksikan organ-organ pribadi wanita menjadi tontonan umum.

Termasuk menghormati wanita, saat engkau berkata-kata ramah kepada mereka; engkau turunkan suaramu; engkau tersenyum, mendengar penuh perhatian kata-kata mereka; memilih kosa kata terbaik, sehingga tidak menyinggung atau merendahkan martabat mereka. Engkau tutupi aib-aibnya, serta engkau maafkan kesalahan-kesalahannya.

Termasuk mencintai wanita juga, ialah ketika engkau memberi nama anak-anak wanitamu dengan nama yang baik; engkau bercanda dan berbagi humor di hadapan mereka; engkau kecup keningnya sesaat sebelum mereka tidur; engkau hantarkan mereka ke pintu saat mereka berangkat sekolah; engkau ucapkan salam dan doa baginya; dan lain-lain.

Tampakkanlah rasa hormatmu kepada kaum wanita; sebab ia kan menjadi bukti rasa hormat dan kasihmu atas jasa-jasa bundamu. []


Soal Hukum Wanita “Ngangkang” di Motor

Januari 16, 2013

Pemkot Lhokseumawe memberlakukan aturan larangan bagi kaum wanita duduk “ngangkang” (menghadap ke depan) saat dibonceng di belakang motor. Aturan ini mengundang kontroversi meluas, hingga di sebuah stasiun TV diadakan debat khusus tentang topik itu.

Sumber kontroversinya ada dua: Pertama, keuntungan dan kerugian bagi wanita duduk menghadap ke depan saat dibonceng di motor. Kedua, posisi aturan larangan itu dalam ranah Syariat Islam.

Gak Segitunya Juga Kaleee...

Gak Segitunya Juga Kaleee…

Perdebatan tentang, mana yang lebih baik antara wanita duduk menghadap ke depan atau ke samping saat dibonceng di motor; hal ini seperti debat kusir yang tak ada habisnya. Sebagian orang memilih, “Sebaiknya wanita duduk menghadap ke depan. Alasannya gini, gitu, ginu….”

Pihak penentangnya beralasan, “Kagak bisa, Bleh! Sebaiknya wanita tetap duduk menghadap ke samping. Itu lebih sopan. Kalau sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, dia bisa langsung loncat, sehingga tidak ikut-ikutan terluka parah.” (Dalam praktiknya, istriku kalau dibonceng sering “loncat duluan” kalau ada situasi genting di jalan).

Intinya, sulit dicari kata sepakat dalam soal untung-rugi menghadap ke depan atau ke samping ini.  Seorang kawan memberi usulan: “Gini sajalah,” sambil berlagak menasehati. “Dalam perjalanan jarak dekat, silakan wanita menghadap ke samping. Kalau perjalanan jauh (misalnya dari Jakarta ke New York, naik motor), silakan menghadap ke depan.” Begitu deh.

Tetapi secara adat ketimuran, memang pada asalnya tabiat kultural wanita Indonesia sejak awal, dalam masalah ini adalah: menghadap ke samping. Seiring derasnya arus feminisme dan emansipasi, kaum wanita ingin dibonceng menghadap ke depan. “Lebih mesra dan hangat,” kata ibu-ibu sambil ngamplok ke punggung suaminya. He he he…

Untuk memutuskan mana yang lebih baik, menghadap ke depan atau ke samping, kami hanya bisa mengatakan: wallahu a’lam bisshawab. Sudah begitu saja, tidak usah diutak-atik lagi.

Adapun dari sisi pandangan Syariat; sebagian orang tega menyalahkan Syariat Islam lantaran munculnya aturan seperti itu di Pemkot Lhokseumawe. “Nah, itu tuh, lihat! Inilah bukti Syariat Islam banyak mengekang kebebasan wanita. Ini bukti aturan Syariat mengandung bias gender.” Yo wis sak karepmu lah…

Sebenarnya, dalam Syariat Islam itu ada 4 unsur yang harus dipahami: [1]. Aturan Syariat yang bersifat qath’i (tegas dan mapan); [2]. Aturan maslahat mursalah (diadakan karena alasan mencapai kemaslahatan, menghindari kemadharatan); [3]. Aturan hasil ijtihad ulama atas suatu realitas (sifatnya beragam sesuai latar-belakang ijtihad itu sendiri); dan [4]. Aturan yang dibangun berdasarkan adat masyarakat setempat.

Keempat aturan di atas eksis dalam Islam dan diakui. Misalnya, aturan di Saudi yang melarang wanita menyetir mobil sendiri, melarang wanita menjadi penjaga toko, melarang pencampuran laki-laki dan wanita di sekolah-sekolah, mewajibkan wanita memakai cadar, dll. Aturan-aturan ini bukan termasuk hukum Syariat yang bersifat baku, tetapi sangat kondisional sesuai kondisi sosial di Saudi sana. Jika negara-negara Muslim lain tidak menerapkan aturan itu, karena dianggap tidak relevan dengan kondisi sosial masyarakatnya; hal itu sah-sah saja.

Maka, adanya aturan larangan “ngangkang” bagi kaum wanita yang dibonceng di motor, di Lhokseumawe sana, hal itu harus dipahami sebagai aturan yang dibangun sesuai kultur masyarakat setempat. Hal ini dibenarkan dalam Islam, dan harus dihormati. Ia tidak bisa diklaim sebagai aturan baku Syariat, karena memang tidak ada dasar yang tegas dari Kitabullah dan Sunnah; tetapi juga tidak boleh dicela, karena ia dibangun berdasarkan pertimbangan kemaslahatan adat setempat.

Demikianlah, semoga ulasan sederhana ini bisa menambah rasa bijaksana kita dalam merespon dinamika kaum Muslimin dalam menghidupkan nilai-nilai Syariat di tengah kehidupannya. Amin ya Rahiim.

(Abinya Syakir).


Mengapa Wanita Mesti Menutup Aurat?

Agustus 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kalau membahas tema seperti ini, rasanya kita seperti kembali ke era 90-an lalu, dimana ketika itu muncul semarak dakwah seputar jilbab dan menutup aurat. Pembahasan ini akhirnya mesti dimunculkan lagi, karena telah terjadi konversi budaya yang sangat serius di tengah masyarakat Muslim modern di Indonesia saat ini. Budaya jilbab, menutup aurat, dan kesantunan wanita yang pernah semarak pada tahun 90-an hingga pertengahan 2000-an; kini telah berkeping-keping berganti budaya pakaian seksi, pamer aurat, pergaulan bebas, narsisme, westernisme, dll.

Jika ada kini seruan-seruan seputar jilbab, menutup aurat, atau hijab; rata-rata tendensinya bisnis, yaitu: jualan kerudung dan pakaian Muslimah. Untuk tujuan bisnis itu lalu diadakan “festival hijab”, pagelaran mode jilbab dan busana Muslimah, dibuat majalah life style “ala jilbab”, digunakan ikon-ikon model dan selebritis, dan seterusnya. Tujuan esensinya, mencari duit untuk membiayai gaya hidup modern yang memang mahal; dengan cover menghidupkan busana Syariat.

Syariat Jilbab Melindungi Aset Kehidupan Kaum Wanita.

Bagi para pemerhati busana Muslimah di Indonesia, tidak bisa melupakan peranan Ane Rufaidah; seorang mantan pragawati dan perancang busana tersohor. Dialah yang mula pertama membelokkan haluan jilbab Syar’i menjadi jilbab modis (life stylist). Jika semula jilbab digunakan benar-benar untuk tujuan Syar’i; lalu di tangan Ane Rufaidah, ia memiliki nilai pencitraan, pamer kecantikan, serta bermegah-megah dengan aksesoris (sesuatu yang bukan missi Syariat). Tentu saja, keberanian Ane Rufaidah lalu diikuti yunior-yuniornya dalam me-modiste-kan pakaian Syar’i. Tidak aneh, jika KH. Rahmat Abdullah rahimahullah (mantan tokoh senior PKS), pernah mengkritik keras “sunnah” yang dirintis Ane Rufaidah itu.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Saw bersabda: “Man sanna sunnatan saiyi’atan fa lahu itsmun ka mistli atsami man tabi’ahu wa laa yanqushu min atsamihim syai’a” (siapa yang memulai sunnah keburukan, maka baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun). Tidak terbayang sebesar apa beban yang kelak akan dipikul seseorang karena keberaniannya merintis jalan untuk menyingkirkan busana Syariat, menjadikan busana modis (meskipun melanggar batas-batas Syariat).

Dulu di awal 90-an, kerudung Rabbani itu sangat kecil. Ia hanyalah sebuah toko kecil di gang, menyediakan keperluan-keperluan Muslimah. Letaknya di dekat Monumen Rakyat Jawa Barat, kawasan Dipati Ukur Bandung. Kini ia sudah menjadi sebuah pabrikan kerudung besar dan menjadi ikon kerudung kelas menengah. Dulu orientasinya murni Syariat, kini murni bisnis. Dalam Ramadhan tahun lalu, Rabbani mendapat liputan khusus dari sebuah acara feature stasiun TV. Dalam acara itu owner Rabbani, seorang ibu-ibu, tidak malu-malu mengklaim, bahwa kerudung Rabbani sengaja dibuat dengan aneka model untuk mempercantik penampilan wanita; seorang wanita bisa memilih kerudung yang sesuai warna kulit dan bentuk wajahnya.

Majalah Ummi dulu juga sangat selektif dalam mencantumkan gambar Muslimah. Hanya gara-gara ada foto pengungsi laki-laki yang kelihatan auratnya (paha) di atas air, hal itu sudah mengundang protes. Orientasi Syariat mereka waktu itu sangat ketat. Bukan sekali dua kali mereka membahas soal “hukum fotografi”. Tetapi saat ini kalau melihat majalah itu, isinya banyak sekali iklan wanita-wanita NARSIS, sambil memakai kerudung, busana Muslimah modis, mukena, dll. Saya pernah mencermati beberapa edisi majalah itu sekaligus; dalam setiap edisi setidaknya ada 25 halaman iklan wanita-wanita NARSIS. Komitmen Syariat itu telah tersingkir jauh dengan alasan: mencari duit untuk membiayai gaya hidup zaman modern yang semakin mahal. Demi membeli life style, apapun yang berharga di sisi kita (termasuk komitmen Syariat) dilego obralan, obralan.

Tingkah para pebisnis ini, mau tidak mau, suka tidak suka, lama-lama jadi merusak Syariat. Alih-alih mereka akan menghidupkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Malah merusak agama itu sendiri. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Dalam tulisan sederhana ini, insya Allah akan disampaikan hikmah maknawi ketika ajaran Islam memerintahkan kaum wanita untuk menutup aurat. Semoga kita bisa memetik sebaik-baik pelajaran. Amin Allahumma amin.

WANITA MAKHLUK LEMAH

Kita tentu sering mendengar ungkapan: “Bagaimanapun wanita itu adalah makhluk yang lemah.” Kalimat ini merupakan kata kunci. Setiap orang bisa memaknai kalimat ini sesuai perspektif masing-masing. Tetapi yang dimaksud disini, bahwa kaum wanita rentan mengalami eksplotasi. Eksploitasi bisa datang dari kaum laki-laki, juga bisa dari sesama wanita.

Di antara bentuk-bentuk eksploitasi yang sering menimpa kaum wanita, antara lain:

[a]. Mengalami pelecehan seksual; [b]. Mengalami kekerasan seksual (pemerkosaan hingga pembunuhan); [c]. Mengalami agressi kekaguman dari laki-laki yang menyukainya secara berlebihan; [d]. Dijebak untuk diambil keuntungan darinya, baik keuntungan materi maupun non materi; [e]. Menjadi komoditas bisnis (dijual tenaga, kecantikan, keseksian tubuh, kemampuan seksual, kehidupan, hingga organ tubuhnya); [f]. Menjadi obyek penindasan dan kesewenangan; [g]. Dijadikan alat untuk merusak moral masyarakat luas (seperti menjadi model pornografi); [h]. Eksploitasi fisik secara berlebihan dengan kompensasi upah sangat minim; dan lain-lain.

Hal-hal demikian sudah sering kita baca, dengar, atau lihat sendiri dalam kehidupan masyarakat. Sering terjadi, semakin modern suatu peradaban, semakin kejam karakternya kepada kaum wanita.

Kapan dan dimana saja ada kaum wanita, disana ada peluang eksploitasi. Mengapa bisa demikian? Karena kaum wanita itu menarik di mata laki-laki; sementara diri mereka sendiri lemah. Siapapun yang memiliki daya tarik dan lemah, ia sangat rentan dieksploitasi orang lain. Kalau ada yang memiliki daya tarik, tetapi dia kuat; orang lain akan segan untuk mengganggu. Begitu juga, kalau lemah tetapi tidak menarik; orang lain juga segan mengganggu. Kaum wanita memiliki keduanya; diri mereka menarik, sementara dari sisi kekuatan lemah.

Sebenarnya kaum laki-laki juga tidak lepas dari unsur kelemahan seperti itu. Laki-laki juga bisa rentan ieksploitasi. Tetapi kaum laki-laki memiliki kelebihan dibandingkan wanita, yaitu:

[1]. Secara fisik kuat dan mampu bergerak cepat; [2]. Berpikir logis, tidak mengandalkan perasaan. Bila terjadi insiden, cepat bertindak, bukan berteriak-teriak histeris; [3]. Secara fisik, kaum laki-laki tidak menarik bagi lawan jenisnya. (Sebenarnya menarik juga, tetapi tidak “seheboh” gambaran kaum wanita di mata laki-laki).

PROTEKSI OTOMATIK

Islam mengajarkan prinsip menutup aurat bagi kaum wanita ialah sebagai perlindungan dari ancaman eksploitasi. Perlindungan ini bersifat melekat; dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun wanita itu berada. Karena perlindungan itu berupa pakaian yang dikenakan sang wanita yang memenuhi standar menutup aurat.

Esensi menutup aurat dalam Islam, ialah menutupi segala daya tarik yang bisa membuat kaum laki-laki berlaku beringas kepada wanita. Maknanya, menutupi keseksian diri, lekuk-lekuk tubuh, menutupi rambut, leher, dada, kulit, dan lainnya sehingga kaum wanita akan merasa aman dan terlindungan dimanapun dan kapanpun. Karena sebab-sebab yang memicu munculnya sikap agressi sudah ditutupi sedemikian rupa.

Di sisi lain, pakaian Muslimah yang rapi akan memancarkan sifat kewibawaan wanita. Mereka jadi tampak kharismatik, mulia, menimbulkan rasa segan di hati orang-orang yang melihatnya. Para selebritis yang biasanya pamer aurat, pamer paha, dada, dan seterusnya; saat mereka memakai jilbab secara rapi, tiba-tiba terpancar sifat kemuliaannya. Tidak heran jika banyak wanita yang tersangkut kasus hukum, mereka berlindung di balik busana Muslimah, karena efek kharisma dan sifat simpatik itu.

Setiap Muslimah memakai jilbab dan menutup aurat, maka dia akan mendapat perlindungan dari Allah, dari hukum Islam, serta dari kaum Muslimin. Jika ada gangguan terhadap wanita berjilbab, maka kaum Muslimin akan memberikan perlindungan tanpa terkecuali. Sedangkan tanpa memakai jilbab, maka seorang wanita tidak mendapat jaminan perlindungan, kecuali jika orang-orang yang ada di sekitarnya memiliki sifat pengasih dan tergerak untuk  melindunginya.

Inilah yang disebut sebagai “perlindungan otomatik” jika seseorang memakai busana Islami. Sebaliknya, meskipun memakai jilbab, jika pakaian yang dipakai sifatnya seksi; hal itu tidak akan melindungi seorang wanita dari agressi.

Secara yuridis, di sebuah negara hukum, setiap manusia (termasuk wanita) mendapat perlindungan legal dari perangkat-perangkat hukum yang ada. Tetapi banyak laki-laki memandang remeh perlindungan hukum itu, sehingga mereka berani melanggarnya. Berbeda dengan perlindungan otomatik yang diberikan oleh Islam melalui pakaian Muslimah yang sesuai Syariat; maka semua manusia akan cenderung menghargai seorang wanita yang memakai jilbab dan menutup aurat secara baik; kecuali pihak-pihak tertentu yang memang secara sengaja ingin berbuat kekerasan.

Pakaian Islami bagi wanita adalah sebentuk “perlindungan aktif” yang melekat pada diri wanita yang memakainya. Faktanya, di Eropa banyak masyarakat meributkan jilbab dan cadar. Mereka terus berpikir untuk mencari sandaran hukum guna melarang jilbab dan cadar. Mengapa bisa demikian? Karena adanya pakaian Islami itu otomatis memberi rasa aman bagi para pemakainya; sedangkan dalam budaya Eropa kaum wanita umumnya berpakaian bebas sehingga memungkinkan untuk dieksplotasi sedalam-dalamnya.

ESENSI MENUTUP AURAT

Menutup aurat ialah menutup semua pintu-pintu yang akan menyebabkan seorang wanita mendapatkan agressi dari lawan jenisnya (termasuk dari sesama wanita juga). Menutup aurat tidak identik dengan “memakai jilbab”, karena ternyata banyak wanita memakai jilbab, tetapi mereka tetap memakai pakaian seksi yang sangat mengundang agressi. Begitu juga, mentup aurat tidak identik dengan “menutupi rambut”, karena menutupi rambut belum menjamin rasa aman bagi kaum wanita dari tindak kekerasan.

Salah besar bagi para aktivis Hijabers, para ahli mode dan perancang busana, para model busana Muslimah yang menonjolkan gaya, kecantikan, dan perilaku “centil”. Apa yang mereka lakukan tidak selaras dengan amanah Syariat Islam untuk menjaga kaum wanita dari berbagai tindak pelecehen, kekerasan, dan eksploitasi seksual. Meskipun berjilbab, jika menonjolkan unsur penampilan dan kecantikan (bahkan keseksian), hal ini tidak akan melindungi kaum wanita itu sendiri.

Dalam konsep pakaian Islami, ada istilah jilbab dan khimar. Jilbab dalam arti sesungguhnya, bukanlah kerudung. Jilbab itu baju kurung dari kepala sampai kaki. Ia mirip dengan “mukena terusan” yang menutupi tubuh wanita dari atas sampai bawah. Di atas pakaian itu lalu dilapisi khimar (kerudung) yang terulur dari kepala sampai dada. Apa yang kita kenal di Indonesia sebagai kerudung, sebenarnya adalah khimar ini.

HIKMAH KEWAJIBAN SYARIAT

Sejauh berbicara tentang pakaian Muslimah yang menutup aurat, kita tidak akan bisa melepaskan diri dari dalil-dalil utama yang sering menjadi sandaran dalam hal ini. Di antaranya ialah sebagai berikut.

[a]. Surat An Nuur ayat 31: “Janganlah mereka (wanita-wanita beriman) menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak. Dan hendaklah mereka mengulurkan kerudung sampai ke dada mereka.” Dalam hadits Asma binti Abi Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma dijelaskan, bahwa perhiasan yang boleh tampak itu adalah: muka dan telapak tangan. Penjelasan ini sangat populer.

[b]. Surat Al Ahzab ayat 59: “Hendaklah mereka (wanita-wanita beriman itu) mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian ini agar mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu.” Dalam ayat ini jelas-jelas disebutkan “An yu’rafna fa laa yu’dzain” (agar mereka lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu). Hal ini mengkonfirmasi apa yang tadi kita sebut sebagai “perlindungan otomatik”.

Syariat Islam telah mewajibkan kaum Muslimah memakai jilbab dan menutup auratnya. Ia menjadi kewajiban yang pasti. Pertanyaannya, mengapa Islam mewajibkan hal itu? Apakah tidak ada toleransi di dalamnya?

Kewajiban mutlak dalam menutup aurat ini, tentu berlaku di ruang publik; bukan di ruang privat kaum wanita (di rumah atau kamar miliknya). Hal ini menandakan bahwa sifat lemah kaum wanita dari ancaman agressi oleh pihak-pihak lain bersifat permanen, bahkan laten. Sehingga Islam tidak memberi peluang timbulnya kezhaliman terhadap kaum wanita. Fakta berbicara, di negara-negara yang kaum wanitanya memiliki budaya menutup aurat secara rapi (seperti Saudi, Pakistan, Malaysia), resiko terjadi kekerasan terhadap wanita relatif kecil.

Dalam Surat An Nuur 31 disebutkan sebuah toleransi: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada…pelayan-pelayan laki-laki (mereka) yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita), atau anak-anak yang belum terpengaruh oleh pesona aurat wanita.”

Keterangan ini menjadi penjelas, bahwa hukum menutup aurat dan memakai jilbab, benar-benar untuk melindungi kaum wanita dari ancaman agressi oleh pihak-pihak lain (terutama kaum laki-laki). Terhadap laki-laki yang kehilangan nafsu birahinya kepada wanita; juga kepada anak-anak yang belum terpengaruh jika melihat aurat wanita; boleh menampakkan aurat. Tentunya masih dalam batas-batas kesopanan, bukan menampakkan bagian-bagian paling sensitif dari tubuh wanita.

Demikianlah, bahwa Islam memberikan pengajaran yang sangat baik. Kaum wanita adalah makhluk lemah, rentan mengalami eksploitasi. Maka busana Muslimah yang menutup aurat secara baik, adalah sebentuk “perlindungan otomatik” yang melekat bersama wanita, dimanapun dan kapanpun mereka berada. Spesial, bagi s@rjana hukum atau siapa saja yang mengajarkan nilai-nilai perlindungan hukum; mereka mesti memahami esensi nilai luhur dari Syariat jilbab dan menutup aurat ini.

Semoga bermanfaat dan berterima di hati yang jernih dan tulus. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abinya Syakir).


5 Karakter Wanita Modern

Juni 3, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dulu, di negeri kita, kaum wanita terikat oleh tatanan etik dan moral yang kuat. Contoh, kalau ada anak wanita usia SMP belum bisa mencuci baju sendiri, belum bisa nyetrika, tidak cakap beres-beres rumah, tidak pintar memasak, tidak sayang dengan bocah-bocah kecil…orangtuanya (terutama ibunya) akan sangat cemas. “Kenapa nih anak? Sudah mau kawin, tapi masih juga tidak bisa ngurus rumah?” Nah, itu sebuah contoh mudah.

Kaum wanita modern kehilangan begitu besar potensi kehidupan mereka. Tiada tampak kesegaran spirit, tetapi kelayuan…

Tapi di masa sekarang, terutama setelah Reformasi 1998, terjadi transformasi kultural yang sangat ekstrem. Seruan kebebasan bukan hanya beredar di dunia politik dan informasi; tetapi dalam kultur keseharian kaum wanita juga amat sangat berubah. Tata nilai dan standar etik kewanitaan (taruhlah dalam konteks keindonesiaan) berubah sangat tajam.

Beberapa contoh riil bisa disebutkan…

<o> Dulu kaum wanita muda merasa takut untuk keluar rumah malam-malam. Tetapi saat ini, batasan malam itu sudah tidak jelas bagi mereka. Banyak wanita sampai jam 11 malam masih ngider-ngider di tengah kota.

<o> Dulu memakai pakaian seksi, ketat, membentuk badan, memakai rok mini, celana pendek, dll. dianggap tabu dan memalukan. Tetapi saat ini ia menjadi kebanggaan. Banyak wanita muda masa kini “stress” kalau tidak bisa berseksi-seksi ria di depan umum.

<o> Dulu, dunia pelacuran itu sangat dibenci dan dijauhi sekuat tenaga. Tetapi saat ini banyak pelacur tanpa malu-malu memamerkan diri dan tubuhnya di TV, majalah, koran, arena konser, dan memamerkan suara erotik di radio, lewat lagu, dll.

<o> Dulu wanita-wanita muda yang terlibat dalam pornografi sangat sedikit. Sangat kecil jumlahnya. Tetapi saat ini, jumlah mereka sangat besar. Mereka tidak malu-malu menjadi obyek media pornografi. (Biasanya, wanita-wanita demikian sudah pernah melakukan zina dengan laki-laki, siapapun dirinya. Karena sudah pernah zina, jadi “urat rasa malunya” sudah putus. Dengan terlibat pornografi, selain alasan komersil, dia juga ingin “balas dendam” kepada semua laki-laki. Siapa yang berbuat, siapa yang kena akibat?).

<o> Dulu kaum wanita muda memiliki komitmen moral dalam sikap, perilaku, perkataan, cara bergaul. Mereka tidak mau melakukan hal-hal yang melanggar norma moral. Tapi saat ini, tingkah wanita sudah seperti “hidup tanpa norma” sama sekali. Sayang sekali…

Okelah….untuk sementara itu dulu contoh yang bisa disebut. Banyak kalau mau, tapi tujuan kita bukan kesana. Ini baru sekedar “pengantar” sebelum masuk materi sebenarnya.

Kalau dicermati dengan teliti, kaum wanita modern di Indonesia, termasuk kalangan Muslimahnya, memiliki 5 ciri khas. Hal itu menunjukkan karakter sesungguhnya dari kehidupan mereka. Karakter-karakter ini sangat simple, sehingga untuk memahaminya pun tidak membutuhkan proses berpikiur njelimet (kompleks).

5 KARAKTER WANITA (INDONESIA) MODERN…

[1]. Kalau beribadah seperlunya saja. (Itu pun bagi yang masih ibadah). Tidak tampak adanya kesungguhan, semangat, kegairahan menapak prestasi ibadah yang tinggi; seperti umumnya ciri wanita-wanita shalihah. Mereka memang shalat, tapi umumnya hanya shalat wajib dengan semangat “asal gugur kewajiban”. Kadang shalatnya juga cepat, tidak sampai 5 menit shalat selesai. Kalau untuk fitness, shoping, hung out di mall-mall, ngobrol di kafe-kafe…mereka kuat banget. Tetapi untuk hak-hak Rabb-nya, mereka berikan prioritas belakangan.

[2]. Aktivitas utama, kalau tidak studi, ya bekerja. Bisa jadi mereka masih SMP-SMA, tetapi banyak juga yang kuliah. Kalau tidak kuliah, biasanya bekerja. Bekerja apa saja, dari yang paling besar income sampai yang remeh-remeh; dari yang paling terhormat sampai paling nista; dari yang paling formal sampai paling informal; dari ruangan yang harum dengan parfum sampai tempat-tempat kumuh dengan bau comberan… Kaum wanita modern sangat semangat berebut pekerjaan, mengambil-alih tugas dan posisi yang mestinya dipikul kaum laki-laki. Tidak jarang situasinya terbalik…sang isteri bekerja di luar, sang ayah mengasuh anak.

[3]. Konsentrasi mengurus kecantikan dan penampilan diri. Dulu kaum wanita intens bekerja di dapur, bekerja beres-beres rumah, mengasuh bayi, memelihara tanaman, mengajar anak-anak mengaji, dll. Tetapi saat ini, konsentrasi ke arah itu sudah diambil alih kesibukan mempercantik diri dan penampilan. Caranya…membeli alat-alat kosmetik dan make up mahal; datang ke salon-salon; rutin berkunjung dan konsultasi ke dokter kulit; rajin membeli pakaian yang seksi-seksi di FO, mall, butik-butik; rajin ikut fitness; langgalan majalah wanita dan kecantikan; ikut seminar kecantikan dan pelatihan; makan nutrisi, vitamin, ikut saran diet; melakukan tindakan medis radikal seperti suntik botox, operasi plastik, transplantasi, dll. Krisdayanti pernah bilang: “The beauty is pain” (cantik itu sakit). Dalam model cantik penuh rekayasa modern…memang sakit Mbak; sakit di ruhani, fisik, dan kantong. He he he…

[4]. Sibuk dengan Fesbuk (FB). Ini termasuk kegiatan besar wanita modern. Seakan, mereka tidak bisa hidup (wajar), tanpa kehadiran FB. Di FB itu kaum wanita biasa mencurahkan apa saja…termasuk pernyataan-pernyataan sebagai berikut: “Oh, perut mules. Mau ke kamar mandi!” “Maaf, aku ngantuk, mau bobo.” “Laper nih, mau makan.” “Aku mau ganti baju dulu ya…” “Aduh, tadi kakiku kebentur meja. Saakiiit…” “Mau ngapain ya? Lagi gak punya duit….” Dunia FB menjadi semacam “pelipur lara” hati-hati kaum wanita modern. Kasihan banget ya…

Kalau di angkot nih, saya sering perhatikan urusan ke-FB-an ini. Setiap wanita muda masuk angkot, rata-rata akan melakukan 5 gerakan utama, yaitu: Satu, masuk angkot dan mencari posisi duduk; Dua, merogoh tas dan mengambil HP (jenis qwerty biasanya); Tiga, mulai deh tangannya sibuk “mengetik”; Empat, kadang senyum-senyum sendiri, kadang tampak sedih, kadang tampak “tanpa ekspresi”; Lima, tertib. Maksudnya, semua itu dilakukan secara tertib dari awal sampai akhir. Tidak kebolak-balik, lho. He he he…

[5]. Galau menatap masa depan pernikahan… Hampir setiap wanita modern, di atas usia 20 tahun, merasa galau dengan pernikahan. Ada yang galaunya “baru permulaan”, ada yang “moderat”, ada yang “parah bgt”… Mau menikah, ya sama siapa? Nanti kalo sudah menikah, bagaimana keadaannya? Kalau tidak menikah, sampai kapan? Dan aneka macam kegalauan…

Nah, inilah realitas kehidupan wanita modern. Wanita kini sangat berbeda dengan wanita masa lalu. Sangat berbahagia setiap laki-laki yang menikah dengan wanita dengan tata-nilai, moralitas, dan memegang etika. Wanita era lama, dalam banyak hal, lebih baik dari wanita modern. Meskipun tentu…setiap zaman ada kondisinya, ada prestasi dan kegemilangannya sendiri-sendiri.

Ya intinya…wahai kaum wanita, aku ingin menasehatimu dengan niatan cinta, kasih-sayang, dan penghormatan… Cobalah kalian renungi kembali hidupmu ini. Janganlah menjadi wanita “konsumen melulu”, tanpa kreasi dan sikap. Jangan menjadi wanita “ikut-ikutan melulu” tanpa memiliki kendali dan kemandirian. Jangan menjadi wanita “obyek industri”, tetapi jadilah penggerak kemajuan sesuai duniamu. Jangan menjadi “barang ekploitasi”, tetapi jadilah insan yang mulia dan berharga dalam kehidupan.

Kaum wanita… Jangan berharap orang lain akan menghargaimu; tetapi engkaulah yang bisa menghargai dirimu sendiri. Hargailah kehidupan dan kehormatanmu, agar Allah Ar Rahmaan menghargaimu. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Mine.