Dahsyatnya Dosa TAKFIR

Oktober 11, 2015

Bismillah. Saudaraku, takfir adalah perkara besar dalam Islam. Takfir itu ada, TAPI HANYA BOLEH DIKELUARKAN oleh para ulama (dewan) yang kredibel & diakui.
.
Memvonis KAFIR tanpa hak ke seorang Muslim, itu adalah bahaya besar. BISA MENGHAPUSKAN AMAL-AMAL si pelaku. Dosanya seperti kaum murtad atau kaum musyrikin, yang amal-amalnya TERHAPUS.
.
Apa sedemikian dahsyat dosa takfir serampangan? Jawabnya: YA!!!
.
IBARATNYA, dengan syarat dan rukun tertentu seorang insan DIBERI ANUGERAH identitas Islam oleh Allah & Rasul-Nya. Tapi oleh si penuduh, identitas Islam itu dia batalkan. Ini kan melawan Allah & Rasul-Nya.
.
Nabi Saw bersabda: “Jika seseorang memanggil saudaranya, ya kafir! Maka vonis itu akan menimpa salah satu dari keduanya. Jika yang dituduh memang kafir ia akan kafir; namun kalau tidak, tuduhan akan kembali ke si penuduh.” (HR. Bukhari Muslim).
.
Nabi Saw juga bersabda: “Siapa yang mendakwa seseorang sebagai kafir (atau sbg musuh Allah), padahal orang itu tidaklah demikian; maka vonis kafir itu akan kembali ke si pendakwa.” (HR. Bukhari Muslim).
.
Ada kelakuan aneh. Kalau kita berbeda pendapat, menolak suatu pendapat, atau menentang suatu gerakan (fasad); tiba-tiba kita dimurtadkan. Aneh.
.
TENTU amat sangat aneh kalau Anda berbeda dengan kami, menolak atau menentang kami; Anda lalu dikenai hukum kafir. Aneh sekali sikap itu.
.
MEREKA hukumi manusia berdasar SUKA atau BENCI. Kalau suka diterima, kalau benci dikafirkan.
.
JADI mereka seperti PENYEMBAH HAWA NAFSU. Tidak mau tunduk KAIDAH SYARIAT. Hanya tunduk pada ulama-ulamanya sendiri.
.
SEPERTI kaum Yahudi Nasrani yang menjadikan pendeta-pendetanya sebagai TANDINGAN SELAIN ALLAH. ‪#‎paganisme‬
.
DOSA mengkafirkan 1 Muslim tanpa hak, sudah menghancurkan seluruh amal-amal si penuduh. Karena hukum kekafiran BALIK KEPADANYA. Bagaimana kalau yang dikafirkan seribu Muslim, ratusan ribu Muslim, jutaan Muslim?
.
BAGAIMANA kalau ada Mbak-mbak, Ibu-ibu, gadis belia aktif mendukung KAMPANYE KAUM TAKFIR ini dalam memurtadkan kaum Muslim? Ya menolong kaum zhalim dalam kezhalimannya, akan ikut memikul dosa mereka. Yaitu sama-sama habis amalnya, kalau TIDAK SEGERA TAUBAT.
.
Semoga peringatan sederhana ini bermanfaat. Amin ya Sallam.

==============

GERAKAN TAKFIRI DAN SEBAB KEBINASAANNYA
.
Bismillah. Artikel ini cukup penting. Kami berharap Anda membantu menyebarkan. Agar jadi nasehat buat para pelaku Takfir semena-mena.
.
LDII seperti ISIS dan kaum yang pro kepadanya, doyan mengkafirkan kaum Muslimin. Pengkafiran dijadikan amal shalih yang sangat nikmat. Na’udzubillah minad dhalal wa ashabih.
.
Seperti kami jelaskan sebelumnya, hadits Nabi Saw: “Siapa yang memanggil saudaranya ‘hai kafir’, sedangkan padanya tidak ada alasan kekafiran, maka vonis kafir itu akan kembali ke dirinya sendiri.”
.
Kalau mengkafirkan 1 Muslim, 10 Muslim, 100 Muslim, 1000 Muslim, 1000000 Muslim…maka mereka akan menanggung DOSA KEKAFIRAN sebanyak jumlah Muslim yang mereka kafirkan. Na’udzubillah min dzalik.
.
Bagi pendukung ISIS dan LDII, sama saja. Mereka share DOSA KEKAFIRAN bersama orang-orang itu. Maka jauhi saja kaum Takfiri tersebut, atau nasehati agar TAUBAT.
.
BAYANGKAN, akibat dosa Takfir, amal-amal musnah, sejak baru lahir sampai dirinya jadi tukang Takfir yang semena-mena. Termasuk bagi pendukung Takfirnya.
.
SUDAH begitu, sialnya, Takfir mereka TIDAK NGARUH. Tidak membuat kerugian bagi Muslimin. Malah hanya menghancurkan amal-amal mereka sendiri. (Termasuk amal Mas-mas, Mbak-mbak pendukung propaganda mereka).
.
KAUM Takfir mendapat 5 KEHINAAN sekaligus dalam kehidupan dunia akhirat:
.
a. Mereka menanggung dosa kekafiran sebanyak Muslim yang mereka kafirkan.
.
b. Mereka lebih buruk dari kaum kafir sejati, karena kafir sejati hanya memikul masing-masing 1 dosa kekafirannya.
.
c. Mereka lebih buruk dari orang murtad, karena orang murtad hanya menganiaya dirinya sendiri, sedang Takfiri menganiaya jutaan Ummat.
.
d. Allah sempitkan hidup mereka dan dihinakan. Kalau memutus shilaturahim saja bisa membuat manusia sempit hidupnya, apalagi MEMBATALKAN KEISLAMAN tanpa hak? Bukankan urusan agama lebih penting dari nasab kekeluargaan?
.
e. Sehebat apapun mereka mengkafirkan Ummat, tak ada pengaruhnya. Ummat tetap terjaga keislamannya, meski mereka terus koar-koar mengkafirkan.
.
Allah SWT menjaga keislaman Ummat, sedang kaum Takfiri berusaha mati-matian menghapus keislaman Ummat. Maka siapa yang lebih kuat, Allah Ta’ala atau mereka?
.
FAKTA lain, kita akan selalu dan selalu menyaksikan, bahwa kaum Takfiri ini pada akhirnya akan SELALU BERDIRI SEJAJAR dengan kaum kufar & rezim thaghut. Selalu dan selalu begitu. “Mereka memerangi Ahlul Islam dan membiarkan penyembah berhala.” (Lihat posisi ISIS di Suriah saat ini! Sama saja. Bahu membahu dengan Assadis, Rafidhah, Rusia, China, dll. menggempur Mujahidin Ahlus Sunnah).
.
TIDAK berlebihan jika kaum Takfiri itu digambarkan seperti “anjing anjing neraka”. Mereka dijanjikan masuk neraka, lalu melolong bersahut-sahutan di sana, karena pedihnya siksa; seperti anjing menggonggong.
.
Na’udzubillah wa na’udzubillah minat takfiriyin wa syarrihim wa ansharihim ajma’in. Amin.

=================

“SIAPA YANG TIDAK MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR (MUSYRIK) MAKA DIA PUN KAFIR”
.
Bismillah. Ini adalah kaidah yang sering kita dengar. Banyak disalahpahami. Memicu munculnya kelompok-kelompok Takfiri.
.
Kaum Wahabi banyak disudutkan karena kaidah ini. Maka semoga kajian sderhana ini bisa menjernihkan kerumitan, bi idznillah.
.
[1]. KAIDAH ini tidak masalah, bahkan sudah seharusnya begitu, JIKA pihak yang dikafirkan memang orang-orang kafir sejati, seperti Yahudi, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Tao, Shinto, Komunis, dll. Kaum kafir itu sendiri JUSTRU MENOLAK KERAS dirinya dikaitkan dengan Islam. Mereka ikhlas, ridha, mantap berada DI LUAR ISLAM.
.
[2]. DAN sering jadi masalah tatkala yang dikafirkan itu adalah kaum yang HUKUM ASALNYA Muslim. Mereka divonis, dituduh, atau dicaci sebagai orang kafir. Nah, di sini urusannya sering kusut dan membuat fitnah merebak.
.
[3]. DALAM ISLAM yang berhak menetapkan hukum kafir/musyrik/murtad adalah QADHI SYARIAH (lembaga hukum Islam yang kredibel). Atau mudahnya, para ulama resmi dan diakui kredibilitasnya. JADI hukum takfir kepada manusia itu, BUKAN HAK ORANG PER ORANG.
.
[4]. Tidak setiap pelaku perbuatan kufur/syirik, langsung divonis kafir. Tidak demikian. Karena ada proses takfir yang harus dipenuhi terlebih dulu. PARA ULAMA PUN, sebelum memutuskan hukum takfir (pengkafiran) pada Fulan atau Fulanah, harus melakukan INVESTIGASI YANG DETAIL. Pengkafiran harus memenuhi syarat-syarat dan hilangnya faktor-faktor toleransi (al mawani’).
.
[5]. Di antara syarat jatuhnya hukum takfir: a. Si pelaku sudah dewasa; b. Ada bukti-bukti nyata dan saksi atas perkataan atau perbuatan kufur; c. Pelaku sadar dan tidak gila; d. Pelaku tidak dipaksa atau dalam tekanan; e. Pelaku tahu ilmu, jadi berbuat bukan karena kebodohan; f. Perbuatan kufur bukan karena alasan taqiyah (melindungi diri dari ancaman). JADI proses panjang, sebelum hukum kufur disematkan.
.
[6]. Terkait takfir ini ada DUA HAK yang harus dipahami. Pertama, HAK ALLAH Yang Maha Tahu hakikat kekafiran seseorang. Bisa saja, seseorang dikafirkan karena memenuhi syarat-syarat Syariat, tetapi dia di sisi Allah tidak dinyatakan kafir. Hak seperti ini bukan wilayah manusia, tetapi wilayah Allah SWT. Kedua, HAK SYARIAT ISLAM. Setiap Muslim otomatis mendapat perlindungan Syariat. Sebagian orang statusnya tetap diakui sebagai Muslim, meskipun hatinya kafir, karena sesuai syarat-syarat Syariat. Contoh, kaum Khawarij. Meskipun mereka melakukan dosa amat sangat besar dengan mengkafirkan kaum Muslimin, secara Syariat mereka tetap diakui sebagai Muslim, bukan kafir. Maka itu para ulama Sunnah rata-rata sangat berhati-hati dalam urusan takfir. Sebab kalau keliru mengkafirkan bisa fatal. Hukum kekafiran bisa berbalik ke diri sendiri.
.
[7]. DUA DALIL sangat penting tentang pentingnya kehati-hatian dalam takfir dan tidak mengumbar hal itu secara sembrono. Pertama, Nabi Saw menghukumi lahiriyah manusia. Orang-orang munafik di Madinah tidak dikafirkan, meskipun hati mereka kafir. Kedua, Nabi Saw murka ketika Usamah Ra membunuh laki-laki yang telah berucap “laa ilaha illa Allah”. Hal ini jadi dalil bahwa Nabi Saw sangat hati-hati atas status keislaman seseorang.
.
[8]. Dalam kondisi ada manusia Muslim yang menghujat Syariat, menghujat Allah dan RasulNya, menghujat Al Qur’an, dan lainnya; maka kita BOLEH MENGINGATKAN para pelakunya lewat ANCAMAN KEKAFIRAN. Misal dengan kata-kata: “Hati-hati perbuatanmu bisa membawa kepada kekafiran!” Tanpa memvonis seseorang secara PERSONAL sebagai orang kafir. Vonis personal menunggu FATWA ULAMA.
.
Demikianlah, kaidah di atas harus diposisikan secara adil & proporsional. Tugas mengkafirkan, adalah tugas ulama kredibel. Kita boleh mengingatkan para PENGHUJAT SYARIAT dengan hukum kekafiran, tapi secara umum saja, bukan vonis individual.
.
SEMOGA bermanfaat, alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wallahu a’lamu bi murodhihi.

(WeAre).


Wahabi dan Tuduhan “Tanduk Setan”

April 15, 2015

Bismillahi laa haula wa laa quwwata illa billah. Bi nashrika ya Arhama Rahimin.

* Sangat sedih ketika sampai saat ini masih berseliweran tuduhan bahwa Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahab adalah “tanduk setan” seperti yg disebut dlm hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu tuduhan itu diarahkan ke pengikut dan simpatisan dakwahnya.

* Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa akan muncul tanduk setan dari “arah timur madinah”. Ada juga disebut kata “dari Najd”. Karena Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab berasal dari Najd, maka dakwah beliau dituduh sbg “qarnus syaithon” (tanduk setan).

* Ya kita tahulah siapa-siapa yang terus menyebarkan tuduhan itu. Tapi demi keutuhan MUSLIMIN, mereka tak perlu disebut. Cukup dibantah kebathilan tuduhan mereka.

* Ada ulama-ulama yg membantah dg dalih NAJD = IRAK. Kami tidak memakai metode itu. Biarlah kita maklumi Najd ya wilayah pedalaman Saudi, atau arah timurnya Madinah. Biar begitu saja, lebih mudah diskusinya. 

BANTAHAN…

 (1). Ketika Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebut hadits “tanduk setan”, apa beliau sebut siapa TOKOH/PERSON yang dimaksud sebagai “tanduk setan” itu? Apa beliau sebut jika “tanduk setan” itu adalah Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab? Tidak ada kan bukti-bukti bahwa Nabi tunjuk hidung ke Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab?  Lha kenapa kok banyak orang lancang menuduh Syaikh sebagai “tanduk setan”? Apa mereka lebih tahu dari Nabi dan lebih mulia dari beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam?

(2). Tuduhan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sbg “tanduk setan” adalah fitnah dan su’uzhon. Mengapa? Karena beliau Muslim, tidak pernah murtad dari agama. Si penuduh tak punya dalil Kitabullah dan Sunnah yg menunjukkan bahwa “tanduk setan” itu adalah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab). Ini hanya prasangka busuk. “Innaz zhanna laa yughni minal haqqi syai’an” (prasangka itu tak ada gunanya bagi kebenaran sedikit pun).

(3). Person “si tanduk setan” pastilah orang jahat, sesat, kafir. Tidak ada kebaikan Islam padanya. Para ulama sebutkan, mereka adalah oknum-oknum NABI PALSU seperti Musailamah, Sarjah (Nabi palsu wanita), dll. Memang mereka muncul di pedalaman Najd. Tapi ingat eranya era Salaf (zaman Khalifah Rasyidah). Sdgkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab muncul dakwahnya abad 18 M. Jauh skali jarak waktunya. Meski sama-sama di Najd.

(4). Tuduhan “tanduk setan” itu sifatnya PERSONAL, KOMUNITAS, atau SEBUAH BANGSA? Kalau ia bersifat personal, mengapa para pendukung atau simpatisan dakwah Wahabi terkena buruknya tuduhan itu juga? Kalau sifatnya komunitas atau bangsa, apa DALILNYA? “Haatuu burhanakum in kuntum shadiqin” (tunjukkan bukti kalian, kalau kalian benar!).

 (5). Tidakkah para penuduh “tanduk setan” itu sadar bahwa tuduhan tersebut adalah TAKFIR? Apa Anda tidak sadar? Ketika tuduhan “tanduk setan” diarahkan ke sesama Muslim, itu jelas TAKFIR. (Anda bisa dicap radikal, tukang mengkafirkan, teroris). Kecuali kalau tuduhan itu diarahkan ke orang-orang yg nyata-nyata murtad/kafir; itu bisa jadi cocok. TERNYATA, mereka hobi TAKFIR juga ya. Katanya Sunni, kok hobi mengkafirkan? 

(6). Andaikan sebutan “tanduk setan” itu berlaku bagi bangsa NAJD secara mutlak, dari dulu sampai kini; apakah ia berarti Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah memvonis kafir orang Najd secara mutlak? Jika demikian, tunjukkan dalil kalian bahwa Nabi telah memvonis kafir smua penduduk Najd? Jika tidak ada dalil, TAKUTLAH kalian dari menyelewengkan hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam untuk membuat fitnah. Lihatlah Nabimu bersikap lembut pada Arab Badui (kaum Najd), beliau nasehati, doakan, diajari, serta dilembuti. Itu akhlak Nabimu! Bukan hobi mengkafirkan kaum Muslimin.

(7). Kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh sebagai “tanduk setan”, padahal sebelum dakwah beliau BERGURU ke Irak, Makkah, Madinah, Syam. Berarti ulama-ulama di kota-kota tersebut adalah “gurunya tanduk setan”? Jika demikian, di mana lagi masih ada Islam kalau para ulama dituduh “inspirator tanduk setan”? Tuduhan ke murid, pasti mengena ke guru; sdikit atau banyak.

(8). Secara jelas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memilih madzhab fikih HANBALI. Ia merujuk pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Itu yang dipakai Saudi SAMPAI HARI INI. Tidak ada yang mengingkari ini, kecuali jahil. Nah, apa tuduhan “tanduk setan” tersebut ujungnya mengenai Imam Ahmad? Bagaimana jawabmu wahai penuduh? Apa masih tersisa rasa malu di sana, ya ikhwah?

(9). Secara pemikiran, dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah ORIGINAL. Beliau banyak merujuk pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Ibnu Qudamah, Adz Dzahabi, Asy Syathibi, Ibnu Hazm; imam-imam madzhab, imam-imam hadits. Apa mereka semua TEGA KALIAN TUDUH sebagai “tanduk setan”? Astaghfirullah, smoga mereka lekas taubat. Lalu membersihkan lisan & tulisannya.

(10). Bantahan paling kuat: Tunjukkan bukti-bukti, dalil, atau argumen bahwa dakwah Wahabi telah MELANGGAR SYARIAT, MENYIMPANG DARI KITABULLAH & SUNNAH, serta TELAH LAYAK DISEBUT KAFIR/SESAT. Tunjukkan bukti-bukti Syariat atas kesesatan kaum yang dituduh Wahabi saudara!

(11). Pilar dakwah Wahabi adalah TAUHID dan SUNNAH. Tauhid berarti tidak kafir dan syirik. Sunnah berarti tidak bid’ah. Apa ini salah? Bukankan Syahadat “laa ilaha illa Allah” maknanya TAUHID? Dan Syahadat “Muhammad Rasulullah” maknanya SUNNAH? Apa yang salah agamu sendiri? Apa engkau BERSYAHADAT tapi tidak mengerti maksudnya?

(12). Terakhir, kaum Wahabi telah menjadi penyelenggara Haji/Umrah sejak tahun 1920-an. Sudah ratusan juta manusia melaksanakan ibadah itu. Bagaimana status ibadah ini kalau penyelenggaranya “si tanduk setan”? Sah atau batal Pak? Mengapa para penuduh tidak menghentikan lalu lintas manusia ke sana?

* Nah, di sini dapati kesimpulan, tuduhan “tanduk setan” pada Muslimin NAJD itu: sangat ngawur, emosional, dan dosa sangat besar. Itu fitnah, tidak sesuai arah hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Itu TAKFIR, sangat berbahaya. Dan orang yang menunggangi tuduhan itu sama dengan hendak MENGHAPUSKAN ISLAM di bumi Najd. Mereka lebih ekstrem dari Khawarij. Khawarij hanya mengkafirkan pelaku dosa besar; sedang mereka mengkafirkan semua yang lahir di Najd. Kalau Anda lahir di Najd, kebetulan Anda istimewa dan punya pandangan berbeda dengan mereka; Anda dapat divonis: Si Tanduk Setan. Astaghfirullah al ‘azhim. 

* Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sangat lembut pada orang-orang Arab Badui, tapi para penuduh ingin MENGKAFIRKAN SMUA YANG LAHIR DI NAJD.

Akhirul kalam: Subhanallah, wastaghfiruhu, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sumber: dikopi dari akun facebook saudara Heru R, asal Surabaya. 


Apakah “Wahabi” Sama dengan Syiah ???

Maret 17, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

* Di antara kebodohan orang zaman sekarang; meskipun gelarnya ustadz, kyai, habib, syaikh; adalah menyamakan hal-hal yang sejatinya tidak sama.

* Contoh, sapu dan spatula itu berbeda. Meski skilas bentuknya mirip. Maka sapu tidak boleh digabungkan dengan spatula, centong, sendok, garpu.

* Sebagian orang menyerang WAHABI dengan menyamakan ia dengan SYIAH IMAMIYAH (Rafidhah). “Awas bahaya Syiah, JIL, dan Wahabi,” kata dia. Sementara dia TIDAK MEWANTI-WANTI kebodohannya sendiri.

"Sampai Kapan Terus Membenci ???"

“Sampai Kapan Terus Membenci ???”

* Kalau orang mengerti Islam, berwawasan, tahu sejarah, dan sportif; pasti bisa bedakan antara Wahabi dan Syiah. Kalau tak mampu bedakan, berarti dia TAK MENGERTI realitas Umat Islam. Orang begitu, dalam poin ini, layak disebut JAHIL.

* Secara umum, Wahabi mengikuti MADZHAB FIKIH HANBALI. Secara dakwah, ia tak berbeda dengan gerakan-gerakan dakwah Islam di Mesir, Jazirah, India, Pakistan, bahkan di Nusantara. Hanya saja tidak membentuk ormas atau partai politik.

* Selanjutnya, mari kita jelaskan beda antara Wahabi dan Syiah. Ini sekaligus membantah omongan orang-orang sembrono itu.

[1]. Syiah punya Rukun Islam dan Rukun Iman sendiri (baca buku MUI tentang kesesatan Syiah). Sedang Wahabi konsep Rukun Islam dan Rukun Imannya sama dengan Muslim sedunia.

[2]. Syiah punya kota suci Najaf, Karbala, Qum. Sedang kota suci Wahabi adalah Makkah dan Madinah. Sama spt Muslim sedunia.

[3]. Syiah berkiblat ke makam-makam para imam Ahlul Bait. Sedang Wahabi berkiblat ke Ka’bah. Fakta, Ka’bah itu sndiri ada di negeri Wahabi.

[4]. Syiah meyakini Al Qur’an telah dipalsukan para Shahabat Nabi RA. Sedang Wahabi Al Qur’an-nya sama dengan Muslim sedunia. Fakta, bacaan Al Qur’an imam-imam Saudi sama dengan bacaan kita.

[5]. Syiah mengkafirkan Ahlus Sunnah. Sedang Wahabi tidak mengkafirkan Muslim. Mereka hati-hati dalam vonis takfir. Fakta, Umat Islam sedunia boleh Haji/Umrah secara bebas, tanpa dilarang.

[6]. Syiah mencaci maki Sahabat Nabi RA. Sedang Wahabi melarang caci maki Shahabat, hatta pada Muawiyah RA dan Amru bin Al Ash RA. Fakta, nama-nama masjid bantuan Saudi sering diberi nama Shahabat Nabi RA.

[7]. Syiah menyerang negeri-negeri Sunni. Sedang Wahabi berjihad membela negeri-negeri Sunni. Fakta, para Mujahidin Wahabi tersebar di kancah-kancah perang di mana-mana dalam rangka membela Ummat.

[8]. Syiah menghina, mendistorsi, memalsu hadits Nabi. Sedang ulama-ulama dan pendukung Wahabi giat menjaga dan membela hadits Nabi.

[9]. Syiah bukan bagian dari EMPAT MADZHAB SUNNI. Tapi ikut madzhab Syiah (JA’FARI). Sedang Wahabi kebanyakan mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hanbal (madzhab Hanbali).

[10]. Syiah divonis sesat dalam banyak masalah USHUL (pokok ajaran Islam). Sedang Wahabi dikritik rata-rata hanya pada tataran AKHLAK dan CARA BERDAKWAH saja. Itu bisa diperbaiki dengan nasehat, pembinaan, atau teguran. Beda skali dg kesesatan Syiah.

[11]. Syiah menganggap gerakan-gerakan dakwah seperti Ikhwan, Tabligh, Salafi, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll sebagai MUSUH karena mereka SUNNI. Sedang Wahabi posisikan semua itu sebagai SAUDARA seiman; hanya berbeda-beda cara dakwahnya. Fakta, dewan ulama Saudi menerima smua itu sebagai bagian Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

[12]. Syiah mengajak smua orang tunduk pada komando imam syiah di Iran. Sering disebut WILAYATUL FAQIH. Sedang Wahabi mengajak smua orang HANYA TUNDUK kepada Allah dan Rasul-Nya.

[13]. Tatkala ada revolusi, Syiah menghancurkan rumah-rumah kaum Muslimin, toko-toko, pasar, rumah sakit, sekolah, dll. Kalau ada revolusi, paling Wahabi hanya akan meratakan kubur-kubur keramat.

[14]. Syiah mengajak manusia mengibadahi imam-imam. Sedang Wahabi mengajak kepada TAUHIDULLAH.

[15]. Dosa-dosa Syiah ada dalam tataran KEKAFIRAN. Sedang kesalahan-kesalahan Wahabi (jika ada demikian) rata-rata dalam perbedaan persepsi atau pendapat fikih saja. Mereka tidak masuk dosa-dosa kekafiran.

* PERHATIAN: Dosa-dosa kalangan Syiah, JIL, Ahmadiyah adalah dosa-dosa KEKAFIRAN. Sedang Wahabi tidak melakukan hal-hal seperti itu. Menyamakan Wahabi dengan Syiah, JIL, Ahmadiyah; sama dengan MENGKAFIRKAN Wahabi. Para pelakunya layak disebut TAKFIRI (tukang mengkafirkan). Mereka itu TAKFIRI tapi tidak sadar dirinya TAKFIRI.

* Demikian beberapa hal yang bisa disampaikan. Kalau seorang penuduh Wahabi tidak mengerti masalah-masalah ini; berarti dia JAHIL. Tak layak bicara di depan Umat.

* INTINYA, hanya orang “parah BGT” yang tidak mampu bedakan Wahabi dan Syiah. Di mata dia, sapu sama dengan spatula. Atau batu bulat sama dengan apel.

Semoga bermanfaat. Amin amin Allahumma amin.

(PointOfReturn).


Apakah Allah Sadis…?

Maret 3, 2015

* Dalam sebuah video Dr. Zakir Naik ditanya oleh seorang penanya yang mengaku dirinya “antara agnostik dan atheis”. Agnostik maksudnya, percaya Tuhan; tapi tidak mengikatkan diri dengan agama apapun.

* Beliau ditanya pertanyaan kira-kira begini: “Kalau Allah Maha Tahu bahwa nanti manusia akan banyak masuk neraka, mengapa Dia tetap menjadikan kehidupan ini? Apakah Dia sadis, sehingga ujungnya nanti senang menyiksa manusia ciptaan-Nya di neraka?”

* Atas pertanyaan ini Dr. Zakir Naik menjawab dengan sekian jawaban. Bisa jadi memuaskan sebagian orang, atau kurang memuaskan. Wallahu a’lam. Di sini coba kami berikan jawaban versi kami. Semoga jawaban ini lebih mudah dipahami; amin Allahumma amin.

* JAWABAN TAUHID: Bahwa Allah SWT memiliki Sifat IRADAH dan QUDRAH. Ini Sifat sangat mendasar bagi setiap Muslim. Iradah adalah “Maha Berkehendak”; sedangkan QUDRAH adalah “Maha Kuasa”. Kalau dibahasakan secara mudah, IRADAH adalah “membuat planning”, sedangkan QUDRAH adalah “eksekusi planning” itu. Dalam dua Sifat ini, tidak ada tandingan bagi Allah Ta’ala. Tidak ada yang bisa mencampuri Kehendak-Nya, juga tidak ada yang bisa menghentikan Kuasa-Nya. Maka ketika Allah telah menciptakan kehidupan ini sebagai perlombaan bagi manusia untuk mencapai skor akhir kehidupan terbaik (Al Mulk ayat 2); maka kita atau siapapun tak bisa mencampuri-Nya. Andaikan kita ingin mencampuri-Nya sekali pun, tak ada gunanya. Iradah dan Qudrah Allah tidak bisa dihentikan siapapun.

* JAWABAN RIWAYAT: Diriwayatkan bahwa Nabi Musa As pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Allah Ta’ala. Beliau bertanya, kira-kira: “Ya Allah, mengapa Engkau ciptakan manusia dan mengapa nanti Engkau siksa juga mereka?” Atas pertanyaan ini, Allah tidak lantas menjawab pertanyaan itu; tapi Dia memerintahkan Musa untuk menanam gandum sampai panen. Setelah panen, Musa kumpulkan hasil gandum; ada yang berisi dan ada yang kosong isi. Gandum yang berisi Musa kumpulkan untuk diolah sebagai makanan; gandum yang kosong isi dia kumpulkan untuk dibakar. Setelah itu Allah bertanya: “Wahai Musa, mengapa engkau bakar gandum-gandum yang tak berisi itu?” Jawab Musa: “Ya apa gunanya dipakai, gandum ini tak berisi. Ya lebih baik dibakar saja, karena tak berguna.” Lalu Allah mengatakan: “Nah, begitulah Musa perlakuan kepada orang-orang yang tidak taat kepada-Ku dan mengikuti agama-Ku.” Demikian kira-kira isi riwayat itu. Wallahu a’lam.

* JAWABAN LOGIKA: Misalnya ada seorang guru mengajar di sebuah kelas. Guru ini sejak awal sangat menginginkan agar murid-muridnya sukses, berhasil, mendapat nilai terbaik. Karena TIDAK ADA GURU yang menginginkan anak didiknya gagal, bodoh, dan hancur dalam studi. Lalu sang guru telah memberikan banyak sekali didikan, latihan, arahan, bimbingan, agar anak didik sukses. Anak didik diajari sebaik mungkin, dengan segala cara yang memungkinkan. Dia berikan contoh-contoh soal ujian, cara mengerjakan yang efektif, dia tunjukkan jebakan-jebakan yang sering merugikan; dia berikan bimbingan tanpa henti. Hingga anak yang paling bodoh dan lambat berpikir sekalipun, dia serasa diperlakukan bagai anak sang raja. Bahkan ketika anak-anak itu salah, guru maafkan, dia beri dukungan, motivasi, dia perbaiki kesalahan; dia arahkan supaya tidak salah lagi. Guru menghabiskan waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, memikirkan berbagai cara agar anak didiknya sukses. SETELAH semua usaha ini dilakukan, ee ternyata beberapa anak tertentu gagal juga. Mereka tidak hadir saat ujian; mereka ketahuan sedang main PS di warnet; mereka juga main media sosial sambil mencaci maki gurunya; mereka memfitnah sang guru. Malah mereka juga bermaksud menghancurkan sekolah tempat belajarnya. Anak-anak itu telah diberikan 99% jalan UNTUK SUKSES; tapi dia gunakan 1% JALAN KEGAGALAN. Jika demikian, siapa yang layak disalahkan? Sang guru atau beberapa murid durhaka itu?

* INTINYA, Allah SWT sangat menginginkan kebaikan bagi manusia. Seperti disebut dalam ayat: “Wa maa Allahu yuridu zhulma lil ‘alamiin” (Allah tidak menginginkan kezhaliman atas alam semesta ini). Ali Imran 108. Dalam hadits qudsi, Allah SWT lebih bersemangat atas kebaikan hamba-Nya; kalau sang hamba mendekat kepada-Nya sejengkal, Dia mendekat ke hamba itu sehasta, dan sebagainya.

* Allah SWT punya 100 rahmat, 1 rahmat diturunkan ke dunia, 99 rahmat disisakan untuk di akhirat. Dunia dan seisinya ini tak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga di akhirat nanti; perumpamaannya seperti setetes air dibandingkan samudra yang luas. Nah, Allah ingin anugerahkan rahmat yang 99 itu kepada manusia; tapi caranya harus berlomba dulu untuk berbuat amal sebaik-baiknya selama di dunia. INI adalah bentuk KASIH-SAYANG yang “Maha Baik” karena saking baiknya DIA.

* Maka itu benar yang dikatakan dalam ayat: “Wa maa zhalamu-humullahu wa lakin kanu anfusahum yazhlimun” (tidaklah Allah menzhalimi mereka, tetapi mereka itu menzhalimi dirinya sendiri).

Demikian, semoga bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(WaterFlow).

Link videonya: https://www.youtube.com/watch?v=tduflvWZJIs


“LEBIH BAIK KAFIR, ASAL TIDAK KORUPSI”

Desember 19, 2014
Ingat Selalu Tragedi BLBI

Ingat Selalu Tragedi BLBI

* Seorang selebritas politik di Jakarta lagi-lagi buat sensasi. Kali ini dia bilang: “Bangga jadi kafir, asal tidak korupsi!!!” Sebelum-sebelumnya dia mengaku “lebih Islami” dari orang Muslim sendiri.

* Pejabat yang pintar seharusnya tidak bicara asal njeplak. Harus dipikir-pikir secara mendalam. Kalau memang bodoh, tidak tahu apa-apa, ya sudah jangan jadi pejabat. Jangan banyak betingkah You!!!

TANGGAPAN:

1. Tak ada satu pun ajaran Islam yg membolehkan KORUPSI. Tidak ada itu. Kalau orang menuduh Islam sbg biang korupsi: Tolong sebutkan alasannya! Jangan asal ngomong!

2. Indonesia ini mayoritas warganya ber-KTP Muslim. Otomatis pelaku perbuatan yg buruk-buruk dikaitkan warga mayoritas. Spt di Amerika, Eropa, pelaku kejahatan mayoritas Nasrani. Di India mayoritas Hindu. Di China, Jepang, Korea mayoritas atheis. Dan sebagainya.

3. Para koruptor rata-rata terkait WEWENANG/KEKUASAAN. Siapa berkuasa, lebih berpotensi lakukan korupsi. Maka itu ada ungkapan: The power tends to corrupt!

4. Sejak zaman VOC, pejabat-pejabat Belanda banyak yg korup. Maka itu lalu negeri Indonesia ini diserahkan pemerintah Belanda. Itu pun tak menghentikan praktik-praktik korupsi. Dan kita tahu, siapa itu Belanda? Apakah mereka bangsa Muslim?

5. Berbagai praktik korup di Indonesia, sejak zaman Orde Baru, spt SUAP, mark up, tidak bayar utang, larikan modal, bikin proyek palsu, bikin produk palsu, palsukan dokumen, dll. Itu semua BANYAK DIAJARI oleh pengusaha-pengusaha China. Di zaman Soeharto, rata-rata koruptor adalah warga keturunan China. Mereka bukan Muslim. Salah satu yg melegenda adalah Edy Tansil yg meraup uang bank skitar 1,3 triliun (di era itu).

6. Para perampok dana BLBI sekitar 600 triliun sebagian besar, kalau tidak seluruhnya adalah pengusaha China. Sebagian besar uang itu diparkir di Singapura. Disana waktu itu terdapat sekitar 200 ribu akun bank dari pelarian orang-orang asal Indonesia. Mayoritas mereka bukan Muslim dan semua DILINDUNG pemerintah Singapura (non Muslim).

7. Kalau ada kasus seperti LHI atau Suryadarma Ali, jangan dianggap itu sbg PEMBENARAN atas korupsi. Lagi pula nilai korupsi itu hanya seperti DEBU dibandingkan kejahatan pengusaha-pengusaha China selama ini. Skandal BLBI itu sangat menghancurkan bangsa. Salah satu operatornya pejabat BI sendiri, Sudrajat Djiwandono. Dia itu bukan Muslim. Dia juga pembela “No. 1” IMF yg telah mghancurkan ekonomi bangsa.

8. Sebagian besar pengerukan kekayaan negara oleh tangan-tangan asing, seperti SDA, energi, Surat Utang Negara, pinjaman luar negeri, produk-produk lisensi; rata-rata karena modus korupsi. Dan mereka bukan Muslim, rata-rata org kafir.

9. Menurut surve-surve dan bukti kasus hukum, PDIP adalah “Juarah Nomer Satuh” untuk partai terkorup sejak Reformasi 1998. PKS yg paling bersih, atau paling sedikit tersangkut. PDIP jelas bukan partai Muslim.

10. Menurut informasi, Ahok ini waktu jadi Bupati Beltim, dia juga kena korupsi. Minimal, waktu terjadi korupsi TransJakarta, dia ada di sana. Orang ini harusnya “digantung di Monas” untuk kasus TransJakarta. Karena mustahil dia tidak tahu. Pasti dia tahu!

* Harusnya orang bikin kaos begini Ahok: “Guweh kafir, korupsi tentu, merusak bangsa pasti!”

* Tapi jangan disebut kami menuduh semua orang kafir ya. Tidak begitu. Ini hanya BANTAHAN saja buat “mulut besar” pejabat bahlul macem Si Ahok.

* Ne pejabat, bacotnya doang yg gedhe. Prestasi kerja, kagak ada. Apa yg berubah dari Jakarta jadi lebih baik? Orang ini belagak menutupi “cacat skill” nya dg terus bikin sensasi.

* Ya Allah ya Rahman, lindungi kehidupan Ummat dan bangsa dari si perusak bahlul itu. Amin Allahumma amin.

Sumber: akun facebook pribadi.


SALAH TEMBAK DAN PAHALA IJTIHAD

Desember 19, 2014
Darah Ummat Itu Mahal

Darah Ummat Itu Mahal

* Seperti kita maklumi, ada ustadz tertentu ditanya di sebuah radio dakwah: “Bagaimana kalau seorang anggota detasemen anti teror salah nembak sasaran? Bukan nembak teroris, malah nembak orang tak bersalah?”

* Lalu dijawab oleh si ustadz –yang katanya ustadz ahli seputar kajian Tazkiyatun Nufus– itu bahwa perbuatan SALAH TEMBAK itu dapat SATU PAHALA, karena yang bersangkutan sedang ijtihad dan ternyata ijtihadnya salah.

* Pendapat seperti ini sangat sembrono dan bisa menjadi “License to Kill” bagi aparat untuk menarget siapa saja di antara kaum Muslimin yang tidak mereka sukai; dengan alasan “salah tembak”.

 

* Dosa ustadz yang berfatwa sembarangan ini bisa sangat besar, karena dia telah menghalalkan darah kaum Muslimin dan jiwanya, atas nama ijtihad. Wallahi, ulama yang sangat alim sekali pun, akan sangat takut untuk berkata seperti itu. Tapi begitulah kalau agama sudah kecampuran banyak tujuan-tujuan duniawi.

* BANTAHAN 1: Pahala ijtihad bagi mujtahid yang salah dalam ijtihad itu ASALNYA berlaku dalam dua perkara: (1). Pada ulama yang berijtihad untuk menemukan solusi masalah Ummat sesuai kaidah-kaidah Syariat; (2). Pada hakim yang memutuskan perkara di antara kaum Muslimin, untuk menghasilkan sebaik-baik keputusan. Kita sendiri sebagai Muslim biasa sebenarnya “boleh ijtihad” yaitu ketika berhadapan dengan “masalah darurat” yang membutuhkan keputusan cepat; sedangkan di sana tidak ada sumber rujukan ilmu yang bisa dirujuk, apakah ulama, ustadz, buku-buku referensi, dan lainnya. JADI ijtihad itu bukan dibuka untuk semua orang, semua keadaan dan profesi. Atau boleh ijtihad bagi para politisi, pejabat, pengambil kebijakan, atau dokter; dengan tujuan mencapai maslahat, menghindari madharat; setelah melakukan telaah persoalan sedalam-dalamnya.

* BANTAHAN 2: Dalam Islam, pembunuhan yang tak sengaja, itu sudah ada aturannya. Kerap disebut Al Qatlul Khattha’ (pembunuhan yang tersalah). Ini ada aturannya. Yang bersangkutan tidak dihukum qishash, tapi dihukum denda (diyat). Besarnya seharga 100 ekor unta. Maka itu sopir-sopir di Saudi amat sangat marah kalau melihat orang menyeberang jalan seenaknya; karena khawatir terkena denda tersebut. Kalau seekor onta seharga 20 juta; 100 ekor sudah 2 M.

* BANTAHAN 3: Salah satu tujuan Syariat ialah “Hifzhun Nafs”, maksudnya menjaga darah kaum Muslimin agar tidak ditumpahkan secara semena-mena. Maka fatwa semacam itu jelas membuka “kran” bagi kezhaliman besar atas kepentingan kaum Muslimin. Ini sangat berbahaya.

* BANTAHAN 4: Dikisahkan oleh sebagian Shahabat RA, bahwa di kemudian hari kaum Muslimin akan sembrono dalam bicara masalah agama. Padahal andai perkara yang sama ditanyakan kepada Khalifah Umar RA, beliau akan mengumpulkan para Ahlul Badar untuk meminta pertimbangan dan pendapat. Fatwa tentang darah kaum Muslimin itu tidak boleh diobral murah, tapi harus sangat-sangat teliti. Bila kita tidak pada posisi bisa berfatwa, sebaiknya DIAM atau mengatakan WALLAHU A’LAM. Itu lebih selamat dan aman.

* BANTAHAN 5: Para serdadu yang biasa membunuh manusia, apalagi sering menjadikan kaum Muslimin sebagai sasaran; pastilah secara ilmu, keimanan, kehati-hatian, akhlak, dan sebagainya TIDAK DALAM POSISI layak berijtihad. Mengapa demikian? Ya kita paham bagaimana kondisi mereka dan situasi yang sering terjadi. Sedangkan untuk IJTIHAD para ulama kerap menyebutkan syarat-syaratnya yang ketat.

* Intinya, jangan sembarangan berfatwa tentang jiwa/darah kaum Muslimin. Haru sangat hati-hati. Kalau memang tak memiliki kapasitas, ya kita ucapkan saja: Wallahu a’lam.

* Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Sumber: Akun facebook pribadi.


Apakah Rasulullah SAW Sosok Pemimpin Gagal?

November 5, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

*) Baru-baru ini seorang pemimpin kaum paganis, yang biasa menjadikan Ali RA dan keturunannya sebagai sesembahan, menulis disertasi yang isinya mengkritik Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang gagal. Dia nyatakan pendapatnya itu dalam sebuah diskusi bertajuk: “Revolusi Mental: Dari Ali Hingga Jokowi”.

*) Tapi sebenarnya, apa disertasi ini sudah selesai? Sudah bisa dilihat wujudnya sebagai sebuah disertasi? Nah, itu perlu ditanyakan juga. Karena sosok JR itu berkali-kali melakukan manipulasi ilmiah, tanpa sadar dan rasa malu sedikit pun. Seperti contoh, bertahun-tahun dia menyatakan diri sebagai “Profesor” padahal tidak ada institusi akademik resmi di negara kita yang member anugerah profesor kepadanya. Hal seperti ini kan cukup sebagai alasan bahwa yang bersangkutan sudah tidak layak berbicara dalam forum kejujuran dan ilmu.

Buktikan Kalau Anda Lebih Hebat dari Rasulullah?

Buktikan Kalau Anda Lebih Hebat dari Rasulullah?

*) Kami masih ingat, sekitar tahun 1991 ketika JR mengeluarkan buku provokatif, “Islam Aktual”. Waktu itu kami baru masuk sebuah fakultas di Universitas Brawijaya Malang. Senat mahasiswa di sana secara berani mengundang JR untuk berorasi dan diskusi ilmiah (dua sesi). Saat diskusi ilmiah dihadirkan tokoh ustadz dari Persis Bangil sebagai pembanding. Sang ustadz –dengan izin Allah- berhasil membongkar berbagai kekeliruan atau pemalsuan JR terkait riwayat-riwayat yang dia muat dalam bukunya. Ada kalanya dia menyembunyikan teks, ada kalanya memotong teks, ada kalanya menyebut riwayat palsu/lemah, dan sebagainya. Sampai puncaknya, JR mengaku: “Memang, saya bukan seorang ahli hadits.

*) Bahkan wahai JR, menurut kami, Anda itu bukan ahli ilmu agama apapun. Anda hanyalah “ahli komunikasi” dan orang yang kenyang dengan skandal ilmiah. Keahlian agama apa yang diandalkan dari Anda? Fiqih, Tauhid, Tafsir, Sastra, Sirah, Fikrah Islami, atau apa? Bahkan komunikasi yang Anda lakukan pun sebagian besar berisi propaganda, untuk memasarkan akidah Syiah; bukan komunikasi untuk menjalin kerjasama, saling menghormati, bantu-membantu, atau menyayangi sesama insan.

*) Apa pembaca masih ingat ketika JR mengatakan kata-kata seperti ini: “Apa perlu kami pindahkan perang di Irak ke Indonesia ini?” Atau kata-kata, bahwa dia sudah rindu ingin mengalirkan darah untuk mencapai syahid bersama Imam Husein. Coba tanyakan ke para guru besar komunikasi di seluruh Indonesia, apakah kata-kata seperti itu termasuk gaya komunikasi beradab?

*) Kembali ke soal kritik JR ke Rasulullah SAW. Katanya, dia mengutip pendapat Arnold Toynbee ketika berbicara tentang kepemimpinan Rasulullah SAW. Toynbee antara lain mengatakan: “Ajaib, Muhammad adalah seorang yang cerdas dan seorang manajer yang brilian. Ternyata, dia tidak berhasil mengorganisasi masyarakat sesudahnya, karena dia tidak meninggalkan siapa pemimpin masyarakat sesudahnya. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan siapa yang dia amanati untuk memimpin masyarakat.” (Sumber: Syiahindonesia.com).

*) Jujur, kami malas membahas pemikiran orang ini, part to part. Sudah terlalu banyak reputasi negatif menyertai orang ini. Andaikan kita pandang pendapat dia layak sebagai sebuah topik diskusi; dia tak pantas masuk area penghargaan itu. Pengelabuan-pengelabuan ilmiah yang dia lakukan sudah terlalu banyak. Buku-buku yang dia tulis tak lepas dari distorsi dan penyesatan yang diulang terus-menerus. Nas’alullah al ‘afiyah minal fitnah wa ahliha.

*) Kalau kita tanyakan: “Wahai JR, apa tujuanmu menulis kritik semacam itu? Apa dirimu merasa lebih hebat dari Rasulullah SAW?” JR dan kawan-kawannya sudah gerilya memasarkan akidah Syiah Imamiyah sejak tahun 80-an. Kalau dihitung tahun, sampai kini sudah 30-an tahun mereka berjuang. Hasilnya apa? Apakah akidah Syiah Imamiyah berhasil menguasai Nusantara? Bandingkan dengan Rasulullah SAW. Tuntas beliau memimpin 23 tahun, di Makkah dan Madinah. Sebelum wafat, beliau sudah berhasil membebaskan Madinah, Makkah, dan kota-kota di sekitarnya. Beliau berhasil memukul mundur pasukan Romawi, berhasil menggulung kaum Yahudi, berhasil membersihkan ancaman kaum musyrikin (paganis), serta meletakkan fondasi peradaban Islam yang kokoh. Tidak lama setelah Nabi SAW wafat, hanya sekitar 10 tahun kemudian, Islam telah menguasai Jazirah Arab, Persia, Mesir, Syam, Asia Tengah, dan wilayah sekitarnya. Bandingkan dengan kepemimpinan JR di komunitas Syiah Imamiyah!

*) Mungkin orang berkata: “Bukankah penaklukan-penaklukan Islam terjadi setelah Nabi Muhammad wafat? Bukan di zaman beliau sendiri.” Kami jawab: “Bagaimana Khalifah sesudah Nabi SAW bisa menaklukkan negeri-negeri, jika tidak memiliki fondasi kuat yang telah ditinggalkan beliau? Lagi pula, para Khalifah itu kan kader-kader beliau sendiri yang dididik dengan tangan, sentuhan hati, dan keteladanan beliau. Justru ciri keagungan Kenabian Rasulullah SAW, beliau sepenuhnya bertugas MENYEMPURNAKAN RISALAH, bukan menaklukkan wilayah-wilayah. Nabi SAW berbeda dengan Sulaiman atau Dzulqarnain yang semasa hidupnya banyak menaklukkan kaum-kaum. Bila akhirnya beliau menaklukkan Makkah, karena kota tersebut sudah dijanjikan Allah akan jatuh ke tangan kaum Muslimin dan kota itu amat sangat penting artinya bagi masa depan kaum Muslimin.”

*) Bagaimana dengan kritik JR, bahwa kepemimpinan Nabi SAW gagal? Ya intinya, kata-kata ini dan semisalnya, adalah kata-kata yang hendak MELAWAN FIRMAN ALLAH. Allah SWT sudah menegaskan: “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah, li man kaana yarjullaha wal yaumal akhira wa dzakarallaha katsira” (sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik, bagi siapa yang mengharap perjuampaan dengan Allah dan Hari Akhirat, sedangkan dia banyak berdzikir mengingati Allah; Al Ahzab: 21).

*) Bagi orang beriman, Rasulullah SAW adalah sosok teladan ideal, paripurna, tiada cacat dan kelemahan. Termasuk dalam kepemimpinan beliau. Kalau ada orang yang meragukan itu, bahkan mengkritik dan mencela kemampuannya. Berarti yang bersangkutan bukan termasuk kaum yang “yarjullaha wal yaumal akhira”. Orang semacam apa itu? Ya tafsirkan saja sendiri.

*) Selanjutnya, kita bicara tentang poin inti pemikiran JR atau Toynbee, sebagaimana disebutkan di atas. Mari kita uji, benarkah tuduhan mereka bahwa Nabi SAW gagal mengorganisir masyarakat? Nas’alullah al ilma wal irsyad war rahmah.

## Apakah gara-gara tidak menunjuk pemimpin pengganti, seorang pemimpin disebut gagal? Ini adalah logika yang aneh, bahkan menjurus koplak. Mengapa? Anda lihat sendiri bagaimana Presiden Amerika, Perdana Menteri Jepang, atau Kanselir Jerman; apakah ketika mereka lengser, mereka lalu menunjuk seseorang untuk menggantikan dirinya? Apakah ketika mereka tidak menunjuk pemimpin pengganti, lalu dianggap kepemimpinan mereka sudah gagal?

## Di Korea Utara, pemimpin republik komunis Kim Il Tsung sebelum lengser dari jabatan, dia telah mempersiapkan putranya sebagai pengganti, Kim Jong Il. Setelah Kim Il Tsung mangkat, dia diganti putranya. Aneh sekali, negara republik tapi tatacara seperti kerajaan. Apa cara semacam itu yang diingkan oleh JR, Toynbee, dan kawan-kawan?

## Mengangkat pemimpin pengganti sebenarnya boleh saja, sebagaimana kebiasaan di negara-negara kerajaan. Tapi atas legalitas apa hal itu dilakukan oleh Nabi SAW? Apakah beliau ingin mewariskan tahta kepada anak-keturunannya, sedangkan sistem politik yang beliau tinggalkan bukanlah kerajaan? Andaikan beliau secara tegas menunjuk seseorang sebagai penggantinya; berarti hal itu akan menjadi SYARIAT yang diikuti oleh pemimpin-pemimpin setelah beliau. Tunjuk-menunjuk ini bisa berakibat konflik, jika mental masyarakat yang ada di sana tidak siap menerima titah penunjukan. Bukankah sudah sering terjadi, ketika seorang raja menunjuk pemimpin pengganti, hal itu tidak diterima oleh para pejabat di sekitarnya, lalu menimbulkan konflik.

## Jalan terbaik untuk suksesi kepemimpinan adalah MUSYAWARAH di antara manusia-manusia pilihan yang ada di sebuah negara. Inilah yang kerap disebut sebagai konsep Majelis Syura; atau ada juga yang menyebut musyarawah di antara dewan Ahlul Halli wal Aqdi. Dan hal itu pula yang ingin ditinggalkan oleh Nabi SAW kepada Ummatnya, yaitu musyawarah dalam segala urusan; apalagi menyangkut masa depan kepemimpinan. Dan faktanya, beliau berhasil meninggalkan akhlak musyawarah ini sehingga kemudian terpilih pemimpin terbaik penggantinya, Khalifah Abu Bakar RA.

## Nabi SAW telah menempuh jalan terbaik untuk memilih penggantinya. Beliau tidak “main tunjuk hidung”, tapi dengan memberi isyarat. Isyarat itu kemudian menjadi bahan bagi para Shahabat RA untuk memilih pengganti yang paling tepat. Isyarat beliau berikan ketika menunjuk Abu Bakar RA sebagai imam shalat jamaah menggantikan posisi beliau. Hasil akhir kepemimpinan tetap diputuskan dengan musyawarah; tapi Nabi SAW sudah mengarahkan agar nanti kaum Muslimin sangat memperhatikan kandidat yang beliau rekomendasikan. Bukankah ini adalah kebijakan politik yang luar biasa? Tidak memaksa Ummat, tapi juga tidak melepaskan mereka 100 %? Apakah nalar berpikir JR atau Toynbee sudah sejauh itu? Kalau sehari-hari yang dipikir “siapa nih giliran yang akan gue mut’ah”; ya tak akan sampai kepada kesimpulan seperti itu.

## Kalau Anda (pembaca) seorang manajer, atau seorang pemimpin, atau seorang komandan, atau seorang ayah, dan sebagainya; lalu Anda menjalankan kepemimpinan sekian lama. Apa indikasi kepemimpinan Anda dianggap berhasil? Setujukah Anda jika aspek KEMANDIRIAN adalah identifikasi bagus untuk melihat kualitas kepemimpinan Anda? Maksudnya begini friends, kalau Anda telah memimpin, lalu melihat orang-orang yang Anda pimpin ternyata sudah mandiri, dewasa, bisa inisiatif sendiri; itu tandanya kepemimpinan Anda sudah sukses. Jadi Anda berhasil memberdayakan orang-orang yang Anda pimpin. Bukan semodel kata-kata ini: “Gue lapor ustadz dulu. Saya nunggu titah, Pak Kyai. Kami menantikan arahan Bapak XXX, pemimpin kami, guru kami, yang kami cintai.” Kemandirian bawahan/pengikut merupakan bukti keberhasilan sang pemimpin. Dan Nabi SAW sudah membuktikan hal itu. Beliau meninggalkan Ummat dalam keadaan dewasa, kritis, mandiri. Ini merupakan bukti keberhasilan kepemimpinan Nabi SAW, bukan kegagalan.

## Terus apa lagi ya, sebentar dipikir-pikir dulu… Setahu kami saat Khomeini wafat, dia juga tidak mengangkat pemimpin pengganti. Ali Khameini baru diputuskan kemudian menjadi pengganti Khomeini, setelah dia wafat. Termasuk presiden Iran saat lengser juga tidak menunjuk seseorang pengganti. Apa ada presiden Iran menunjuk presiden pengganti?

*) Sedkit kami singgung soal tuduhan JR bahwa Ummul Mukminin Aisyah RA sebagai sosok pencemburu, pembuat makar, penghina Nabi, dan seterusnya. Haduh, orang ini ya, kelakuan sangat berlebihan. Berulang-ulang JR ini bikin skandal ilmiah, sudah banyak dibantah dan dibongkar; masih saja terus memproduksi hal-hal semacam itu. Kok tidak malu ya? Anda itu punya kehormatan apa tidak sih, Pak JR? Sebagai manusia wajar, mbok ada rasa malu gitu lho. (Saking malunya diskusi tentang orang ini, kami sampai enggan menulis namanya. Malu boss menulis nama dia).

*) Sudahlah kami tak usah berpanjang-panjang komentar soal penghinaan atau tuduhan JR kepada Ummul Mukminin RA. Begini saja JR, ini sebuah test mudah buat kamu. Ummul Mukminin Aisyah RA itu hafal ratusan atau mungkin ribuan hadits Nabi SAW. Sekarang kamu wahai JR, coba ambil buku riwayat hadits versi Syiah Imamiyah yang paling favorit bagi kamu. Terus kamu ambil 20 teks riwayat dari buku itu. Jangan ambil riwayat dari Ahlus Sunnah, tapi dari rujukan Syiah saja. Setelah itu kamu hafalkan 20 riwayat hadits Syiah itu baik-baik. Selanjutnya kamu di-test kemampuan hafalanmu. Apakah kamu bisa menghafal 20 riwayat itu persis seperti tertera dalam buku kamu? Itu sajalah. Kalau kamu mampu lakukan itu, hafalanmu baru 20 riwayat. Sedangkan Ummul Mukminin RA ratusan, hingga ribuan riwayat. Tapi kalau kamu gagal hafal, sampai ada salah sedikit saja, tidak sesuai teks; berarti kamu ini termasuk tipe orang BIG MOUTH; kemampuan cethek tapi hendak mengkritik manusia-manusia agung. Oh ya, metode TEST HAFALAN ini bisa dipakai untuk membantah para penganut Syiah Imamiyah yang sok mengkritik para Shahabat Nabi dan isteri-isteri beliau RA. Kalau mereka mencela ini dan itu, coba tantang untuk test hafalan riwayat. Test hafalan ayat Al Qur’an juga boleh. Kalau mereka merasa lebih pintar dari Shahabat coba tanya, seberapa banyak mereka hafal hadits atau ayat Al Qur’an!

*) Mungkin kaum Syiah Imamiyah itu ingin membantah balik: “Kalau begitu Anda kaum Sunni juga harus ditest tentang riwayat-riwayat Sunni!” Jawab kita sederhana: “Kan kami tidak menghina para Shahabat RA. Kami tidak merasa lebih baik dari mereka, apalagi sampai mengkritik mereka. Tidak, kami bukan seperti itu. Test tersebut kan berlaku bagi orang-orang sok suci yang hendak mengkritik manusia-manusia besar. Buktikan kalau para pengeritik itu lebih pandai dari yang dia kritik!”

*) Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala azwajihi wa dzurriyatihi, wa ashabihil kiram ajma’in; wa ‘alaihim barakah wa salamah wa ‘afiyah. Matur nuwun.

(Mine).


Takfir Seorang Asy’ariyun…

November 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sebenarnya kita sering di diskusi di media ini, atau di media-media lain. Banyak perlakuan orang yang sudah kita terima. Salah satu yang unik dari seseorang yang menamakan diri @ Sunni Asy’ari Syafi’i dalam diskusi bertema: Dimana Allah Tinggal Sebelum Bersemayam di Atas Arasy? Komentar dia ditulis pada 7 November 2013 lalu. Belum berkata apa-apa, dia langsung mengkafirkan saya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sejujurnya, sikap takfir itu bukan monopoli satu golongan saja. Banyak pihak bisa melakukan takfir kepada sesama Muslim, secara zhalim. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah. Sengaja komentar dan jawaban dimuat ulang dalam tulisan tersendiri, agar menjadi bukti kehidupan dan pelajaran. Amin. Selamat membaca!

_______________________________________________________________

@ Sunni Asy’ari Syafi’i…

WAHAI MANUSIA SEKALIANNN..KETAHUILAH OLEHMU BAHWA PENULIS TULISAN INI ADALAH SEORANG MUJASSIM MUSYABBIH. SEORANG KAFIR DI ATAS KEKAFIRAN. IMAM SYAFI’I BERKATA: المجسم كافر

MUJASSIM (ORANG YG BERKEYAKINAN ALLAH BERUPA BENDA) ITU KAAFIR. DIA SEDANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENYEMBAH SESUATU YANG ADA DI LANGIT DAN DI ARSY (HEH? ADA DI DUA TEMPAT?!!). SESUATU YANG BERTEMPAT SUDAH PASTI DIA BENTUK DAN DIMENSI.MAHA SUCI ALLAH DARI TEMPAT. MAHA SUCI ALLAH DARI MENEMPATI ARAH. MAHA SUCI ALLAH DARI BERBENTYK. LAYSA KAMITSLIHII SYAII’ (ASY-SYUUROO:11)

Respon: Orang aneh. Belum apa-apa sudah mengkafirkan orang lain (diri saya). Tulisan aneh yang pernah saya baca. Pandir… Ya benar bahwa kaum mujassim memang sesat, karena mereka serupakan Allah dengan makhluk berjasad. Sementara kami hanya meyakini ayat-ayat dan hadits sebagaimana adanya, tanpa menyamakan Allah dengan makhluk-Nya sedikit pun. Kalau dikatakan, Allah punya tangan, lalu manusia punya tangan; apakah kami menyamakan istilah Tangan Allah dengan tangan makhluk? Coba jawab! Tidak sama sekali. Kami tidak menyamakan Tangan Allah dengan tangan makhluk.

Misalnya karena masalah tangan ini, lalu kami dituduh mujassimah; bagaimana Allah punya sifat Al Hakim, sedangkan manusia juga punya sifat hakim (bijaksana)? Allah punya sifat “Melihat” sedang manusia juga bisa melihat; Allah punya sifat “Mendengar” sedang manusia juga mendengar? Apakah orang yang meyakini sifat Al Hakim, Ar Rahman, Ar Rahiim, As Sama’, Al Bashar, dan seterusnya…mereka itu juga mujassimah; karena menyamakan Allah dengan makhluk?

@ PENULIS. BACA DULU BACA! Al-Hafizh al-Muhaddits al-Imam as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin menjelaskan panjang lebar perkataan al-Imam al-Ghazali bahwa Allah mustahil bertempat atau bersemayam di atas arsy. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al-Imam al-Ghazali menuliskan sebagai berikut: “al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas arsy tersebut adalah benda yang menempel. Benda tersebut bisa jadi lebih besar atau bisa jadi lebih kecil dari arsy itu sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil atas Allah” .

Respon: Ini adalah ucapan BODOH. Coba perhatikan kalimat ini: “Al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam, maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas Arsy tersebut adalah benda yang menempel.

Bantahanku: Kenapa kalian membatasi Sifat Istiwa’ Allah dengan sifat makhluk-Nya? Kalau makhluk istiwa’ dia menempel; sedangkan Allah apa perlu menempel seperti makhluk? Begitu rendahnya kalian mensifati Rabb kalian! Allah Ta’ala hendak kalian perkosa dengan sifat-sifat lazim yang ada pada makhluk-Nya. Dasar aneh!

Dalam penjelasannya al-Imam az-Zabidi menuliskan sebagai berikut: “Penjabarannya ialah bahwa jika Allah berada pada suatu tempat atau menempel pada suatu tempat maka berarti Allah sama besar dengan tempat tersebut, atau lebih besar darinya atau bisa jadi lebih kecil. Jika Allah sama besar dengan tempat tersebut maka berarti Dia membentuk sesuai bentuk tempat itu sendiri. Jika tempat itu segi empat maka Dia juga segi empat. Jika tempat itu segi tiga maka Dia juga segi tiga. Ini jelas sesuatu yang mustahil. Kemudian jika Allah lebih besar dari arsy maka berarti sebagian-Nya di atas arsy dan sebagian yang lainnya tidak berada di atas arsy. Ini berarti memberikan paham bahwa Allah memiliki bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tersusun. Kemudian kalau arsy lebih besar dari Allah berarti sama saja mengatakan bahwa besar-Nya hanya seperempat arsy, atau seperlima arsy dan seterusnya. Kemudian jika Allah lebih kecil dari arsy, -seberapapun ukuran lebih kecilnya-, itu berarti mengharuskan akan adanya ukuran dan batasan bagi Allah. Tentu ini adalah kekufuran dan kesesatan. Seandainya Allah -Yang Azali- ada pada tempat yang juga azali maka berarti tidak akan dapat dibedakan antara keduanya, kecuali jika dikatakan bahwa Allah ada terkemudian setelah tempat itu. Dan ini jelas sesat karena berarti bahwa Allah itu baharu, karena ada setelah tempat. Kemudian jika dikatakan bahwa Allah bertempat dan menempel di atas arsy maka berarti boleh pula dikatakan bahwa Allah dapat terpisah dan menjauh atau meningalkan arsy itu sendiri. Padahal sesuatu yang menempel dan terpisah pastilah sesuatu yang baharu. Bukankah kita mengetahui bahwa setiap komponen dari alam ini sebagai sesuatu yang baharu karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah?! Hanya orang-orang bodoh dan berpemahaman pendek saja yang berkata: Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat dan arah? Karena pernyataan semacam itu benar-benar tidak timbul kecuali dari seorang ahli bid’ah -yang menyerupakan Allah denganmakhluk-Nya-. Sesungguhnya yang menciptakan sifat-sifat benda (kayf) mustahil Dia disifati dengan sifat-sifat benda itu sendiri. -Artinya Dia tidak boleh dikatakan “bagaimana (kayf)” karena “bagaimana (kayf)” adalah sifat benda-.

Respon: Sama-sama bodohnya, mensifati Allah dengan kelaziman pada makhluk-Nya. Ini sangat bodoh. Coba baca Surat Al A’raaf ketika Musa As meminta melihat Allah, lalu Allah menampakkan diri kepada gunung, seketika gunung hancur lebur; Musa pun pingsan seketika. Itu kan ibrah yang jelas, kita tak boleh mensifati Allah dengan detail, sifat, kelaziman makhluk-Nya; apapun itu. Sifat menempel, punya ukuran, menempati ruang, dan sterusnya, itu semua sifat makhluk; kita tak boleh membawa Dzat Allah pada batasan-batasan begitu.

Di antara bantahan yang dapat membungkam mereka, katakan kepada mereka: Sebelum Allah menciptakan alam ini dan menciptakan tempat apakah Dia ada atau tidak ada? Tentu mereka akan menjawab: Ada. Kemudian katakan kepada mereka: Jika demikian atas dasar keyakinan kalian -bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki tempat- terdapat dua kemungkinan kesimpulan. Pertama; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa tempat, arsy dan seluruh alam ini qadim; ada tanpa permulaan -seperti Allah-. Atau kesimpulan kedua; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa Allah itu baharu -seperti makhluk-. Dan jelas keduanya adalah kesesatan, ini tidak lain hanya merupakan pendapat orang-orang bodoh dari kaum Hasyawiyyah. Sesungguhnya Yang Maha Qadim (Allah) itu jelas bukan makhluk. Dan sesuatu yang baharu (makhluk) jelas bukan yang Maha Qadim (Allah). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang rusak” .

Respon: Jawabnya simple… Alam semesta ini sesuatu yang baru (muhdats), sementara Allah itu Qadim (terdahulu dari segalanya). Sebelum menciptakan alam ini Allah ada dimana dan menempati apa? Jawabnya: KITA TIDAK TAHU, karena Allah tidak menjelaskan hal itu. Allah Ta’ala mau berada dimanapun, mau bagaimanapun, itu terserah diri-Nya. Kalau dia mau menempati suatu ruang, mudah bagi-Nya; sebagaimana kalau Dia tak butuh ruang juga mudah bagi-Nya. Kan disini berlaku prinsip besar: Idza arada syai’an an yaqula kun fa yakun (kalau Dia ingin sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’ maka jadilah itu).

Masalah Allah ada di dalam ruang atau tidak, itu terserah Dia saja. Dia bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Apa kamu bisa menghalangi kalau Allah melakukan ini dan itu, sesuka Diri-Nya? Sejak kapan kamu punya kuasa di sisi Allah?

Masih dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, al-Imam Murtadla az-Zabidi juga menuliskan sebagai berikut: “Peringatan: Keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah adalah akidah yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah. Tidak ada perselisihan antara seorang ahli hadits dengan ahli fiqih atau dengan lainnya. Dan di dalam syari’at sama sekali tidak ada seorang nabi sekalipun yang menyebutkan secara jelas adanya arah bagi Allah. Arah dalam pengertian yang sudah kita jelaskan, secara lafazh maupun secara makna, benar-benar dinafikan dari Allah. Bagaimana tidak, padahal Allah telah berfirman: “Dia Allah tidak menyerupai sesuatu apapun” (QS. as-Syura: 11). Karena jika Dia berada pada suatu tempat maka akan ada banyak yang serupa dengan-Nya”.

Respon: Aneh, jangan sebut itu kesepakatan Ahlus Sunnah; paling juga pendapat mayoritas ‘Asyariyah. Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebut sampai 6 kali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Apa kalian bersepakat untuk menganulir ayat Al Qur’an ini? Aneh.

Soal Arasy itu ruang atau bukan, tempat besar atau kecil, caranya menempel atau tidak; kita semua mengatakan: Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Maha Tahu keadaan diri-Nya. Seperti kata Imam Malik rahimahullah: Istiwa’ itu sudah dimaklumi, caranya tidak diketahui; mengimaninya wajib, mendebatkannya bid’ah.

Saran saya: kalau mau berdiskusi dan debat ilmiah, silakan; tapi jangan langsung mengkafirkan begitu. Kamu sendiri nanti yang akan meringis dalam duka.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

Oktober 28, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah tulisan tentang “Kasus Sampang Jilid II” muncul komentar seorang pembaca yang diindikasikan sebagai pengikut sekte Syiah Rafidhah. Dia memberikan pandangan “imajiner” tentang situasi di Saqifah Bani Sa’idah ketika para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum melakukan pembicaraan untuk memilih pemimpin pengganti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Dalam pandangan pembaca itu, andai saja para Shahabat tidak mendahulukan sikap nasionalisme, tentu mereka akan merujuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu untuk menjadi pengganti Nabi.

Berikut komentar pembaca tersebut:

Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme. Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.”

Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin. Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.”

Sebenarnya, komentar ini semula tidak ingin dikomentari. Inginnya dibiarkan saja, karena bagi kita sudah jelas, bahwa pemikiran-pemikirian seperti di atas, termasuk kategori madzhab sesat Syiah Rafidhah. Hidup mereka, sejak awal sampai akhir; sejak kecil sampai tua renta; sejak membuka mata sampai menutup mata lagi (tertidur); dalam kerumunan atau sendirian; di rumah atau di jalan; saat di masjid atau di WC; saat bekerja atau sedang hubungan seksual; maka fokus masalah yang selalu mereka pikirkan adalah Hak Kewalian Ali bin Abi Thalib dan Hak Imamah Anak-anaknya. Agama, Syariat, bumi, langit, dan kehidupan yang luas ini, di tangan Syiah Rafidhah mengerucut ke dua masalah politik di masa lalu itu.

Pemikiran Syiah Rafidhah Membuat Kemuliaan Sejarah Ahlul Bait Menjadi Kebusukan dan Hina

Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, pernah melakukan pembicaraan damai dengan Jimmy Carter. Sebelum pembicaraan dilakukan Brezhnev berkata, “Kalau kita gagal dalam mewujudkan perjanjian, Tuhan akan menghukum kita.” Perkataan itu spontan mengejutkan semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata, sosok Presiden Komunis Uni Soviet, masih menyimpan keimanan pada Tuhan. Begitu pula, Fir’aun masih menyembunyikan keimanan di hatinya, meskipun ucap keimanan itu dia katakan ketika nyawa sudah di tenggorokan (sehingga tak berguna lagi). Artinya, orang kafir sekafir-kafirnya saja, masih ada sisi-sisi keimanan baiknya. Lha ini orang Syiah Rafidhah, katanya Muslim, tapi otak kanan-kirinya, jiwa-raganya, hidup-matinya, isinya melulu hanya: Wilayah Ali dan Imamah Ahlul Bait.

Baiklah, berikut isi diskusi yang sudah dilakukan, dikutip secara utuh. Diskusi aslinya bisa dilihat pada tulisan: “Kasus Sampang Jilid II”. Semoga bermanfaat, amin ya Rahiim.

__________________________________________________________

@ Fulan…

==> Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme.

RESPON: Anda tidak boleh menyebut para Shahabat Anshar dan Muhajirin dengan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu tuduhan kasar, kalau tidak disebut fitnah atas mereka. Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum SANGAT TERGONCANG atas wafatnya Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, hal itu sangat terlihat dalam kebingungan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang mengancam akan menebas siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ini menunjukkan keadaan tekanan psikologis yang sangat berat.

Satu sisi para Shahabat kehilangan sosok manusia teladan, orangtua, guru, kawan seperjuangan, sumber ilmu, penghibur hati, pembela hidup dan jiwa mereka. Di sisi lain, mereka cemas memikirkan masa depan PERADABAN ISLAM yang baru dibangun. Usianya baru 10 tahun; sementara musuh-musuhnya sangat banyak, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin Persia, Romawi, Mesir, kabilah-kabilah Arab yang kafir, dll. Mereka cemas, siapa yang akan mengganti posisi beliau? Saat itu mereka berdebat, bahwa Anshar lebih tepat mengganti, yang lain berpendapat Muhajirin lebih tepat mengganti. Nabi sendiri tidak menunjuk siapa pengganti beliau, maka wajar dong terjadi perselisihan menentukan pemimpin.

Istilah Anshar dan Muhajirin bukan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu istilah SYARIAT MURNI, wong dalilnya banyak dalam Al Qur’an dan terutama Sunnah. Anshar adalah pembela para Muhajirin; Muhajirin adalah orang yang hijrah ke negeri orang Anshar. Ini istilah Syariat yang menunjukkan amal dan prestasi amal mereka dalam perjuangan Islam. Itu bukan istilah fanatik atau nasionalisme.

Kalau Shahabat Anshar dan Muhajirin lebih mendahulukan urusan kepemimpinan, bukan urusan mengurus jenazah Nabi; karena mereka melihat bahwa: (1). Urusan kepemimpinan itu tidak bisa ditunda-tunda, harus cepat dipastikan dan dituntaskan; semakin lama ditunda akan melahirkan KETIDAK-PASTIAN yang sangat berbahaya; (2). Suasana di Saqifah Bani Sa’idah sudah mengarah ke terjadinya konflik dan perselisihan internal kaum Muslimin, hal itu kalau dibiarkan begitu saja, akan membesar menjadi konflik serius di kalangan ummat Islam. Memadamkan api konflik sangat diutamakan sebelum mengurus jenazah Nabi;

(3). Harus dicatat dengan tinta tebal, bahwa para Shahabat SUDAH TAHU kalau Nabi Saw wafat. Abu Bakar, Umar, dan para Shahabat Anshar Muhajirin Radhiyallahu ‘Anhum, mereka semua sudah tahu kalau Nabi wafat; maka itu mereka berselisih soal siapa yang akan menggantikan posisi Nabi dalam memimpin kaum Muslimin. Bahkan Abu Bakar dan Umar telah memeriksa jenazah beliau di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anha terlebih dulu, sebelum berangkat ke Saqifah. Artinya, adalah DUSTA BELAKA kalau para Shahabat dianggap tidak tahu atau acuh dengan kematian Nabi Saw. Justru mereka amat sangat peduli dan mengalami kegoncangan jiwa. Adapun soal merawat jenazah Nabi, dalam Syariat Islam, hal itu harus diurus oleh keluarga beliau sendiri, untuk memandikan dan mengafani; lalu nantinya para Shahabat menyalati beliau, setelah urusan kepemimpinan beres diselesaikan. Apa mungkin untuk mengurus jenazah Nabi harus melibatkan semua para Shahabat baik laki-laki dan wanita? Mungkin kalau dalam hukum Syiah Rafidhah kayak begitu ya…

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sangat mencintai Nabi Saw. Hal itu dibuktikan, mereka sampai berselisih dalam rangka memilih pemimpin untuk: MELANJUTKAN, MELESTARIKAN, dan MEMPERTAHANKAN PERADABAN yang telah dibangun oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Melanjutkan peradaban yang Nabi tinggalkan sangat diprioritaskan, sebelum para Shahabat bersama-sama menunaikan hak-hak jenazah Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jadi para Shahabat lebih lebih mencintai Nabi ketimbang orang-orang Syiah Rafidhah yang telah dibutakan mata-hatinya, lalu Allah ombang-ambingkan mereka dalam kesesatan luar biasa.

Baca entri selengkapnya »


Tuduhan Misionaris Seputar Bulan Sabit Ramadhan

September 7, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di situs voa-islam.com, ada artikel berjudul: “Tuduhan Kristen: Puasa Ramadhan Menjiplak Ritual Penyembah Berhala (Mengkritisi Buku Penodaan Islam di Gramedia – 3)“. Artikel ini oleh Ustadz Ahmad Hizbullah, MAg. sebagai bentuk bantahan terhadap buku provokatif yang diterbitkan Sonrise Enterprise, karya  Curt Fletemier Yusuf dan Tanti.

Dalam buku ini banyak tuduhan-tuduhan khas para misionaris -yang memang tak ada kerjaan lain selain itu- seputar ajaran Islam. Salah satunya, tentang ibadah Shiyam Ramadhan. Berikut ini kutipan kalimat tuduhan seputar bulan Ramadhan:

“Puasa pada Bulan Ramadhan. Bulan puasa kaum Sabean dimulai pada saat bulan sabit dan tidak akan berakhir sampai bulan lenyap, lalu kembali bulan sabit muncul (sama seperti Ramadhan bagi Islam pada masa ini). Muhammad hanya meneruskan praktik keagamaan yang dipakai oleh para penyembah berhala, Abd. Allah bin Abbas melaporkan bahwa Muhammad, menyatakan: “Jangan mulai berpuasa sampai kamu telah melihat bulan sabit dan jangan berhenti berpuasa sampai kamu melihatnya kembali, dan jika itu berawan, sempurnakanlah menjadi 30 hari.”

Memang pada masa Muhammad, orang Yahudi juga memiliki kebiasaan berpuasa sesuai dengan penanggalan Yahudi, dan penanggalan Yahudi yang dipakai juga berdasarkan hitungan bulan. Orang Yahudi juga memiliki perayaan Bulan Baru, tetapi dalam Imamat 23 dijelaskan bahwa perayaan Bulan Baru itu tidak dimulai dari TUHAN. Sampai saat ini orang Kristen juga tetap melakukan puasa. Beberapa di antaranya bahkan melakukan secara rutin. Tetapi sebagian besar orang Kristen (termasuk penulis) berpuasa ketika ada sesuatu yang sedang didoakan sungguh-sungguh. Itu adalah cara untuk memusatkan pikiran kita pada Tuhan.

Bagi kita, puasa bukanlah suatu kewajiban keagamaan. Satu-satunya “kewajiban keagamaan” yang kita miliki adalah untuk percaya pada Kristus yang membawa kita ke surga, seraya menyadari bahwa sebenarnya kita tidak layak untuk menerima kasih-Nya, dan mengkuti-Nya dengan segala ucapan syukur untuk apa yang telah Dia kerjakan bagi kita.” (Sang Putera dan Sang Bulan, penerbit Sonrise Enterprise, hlm 148-149).

Inti dari pernyataan ini ada dua yang terkait dengan Shiyam Ramadhan: Pertama, kata si penulis Rasulullah Saw meneruskan praktik keagamaan kaum Sabean (penyembah berhala), yaitu memulai dan mengakhiri puasa dengan melihat bulan sabit. Kedua, dalam kitab Imamat 23 dijelaskan bahwa perayaan Bulan Baru (bulan sabit) bukan dari Tuhan.

JAWABAN:

[1]. Kaum Sabean atau dalam Islam diistilahkan Sabiin tidak melulu selalu bermakna orang-orang musyrik penyembah berhala. Tidak demikian. Umat-umat terdahulu dari Nabi-nabi terdahulu juga disebut kaum Sabiin. Coba perhatikan terjemah Al Qur’an di bawah ini. Ia adalah ayat yang sangat populer di mata kaum SEPILIS.

“Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.” (Al Baqarah: 62).

Dari ayat ini bisa diambil pelajaran, bahwa kaum Shabi’in itu tidak otomatis penyembah berhala. Di antara mereka ada yang beriman, beramal shalih dan mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala. Jadi kalau kaum SABEAN otomatis divonis sebagai kaum musyrik (paganis), penyembah berhala; hal itu tidak benar.

[2]. Islam datang untuk mengganti dan memperbaiki agama manusia. Mengganti agama yang rusak, bathil, dan hina; memperbaiki agama-agama yang telah menyimpang, sesat, dan keluar dari jalan Allah yang lurus. Dalilnya antara lain, ialah 2 ayat terakhir Surat Al Fatihah: “Tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat; bukan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang sesat.”

Ritual agama dari masa lalu BISA DITERIMA atau HARUS DITOLAK, tergantung bagaimana ajaran Islam itu sendiri. Jika menurut ajaran Islam, ritual itu diterima ya kita terima; jika menurut Islam ia harus ditolak, ya harus ditolak. Jadi, akhirnya posisi ajaran Islam itu menjadi PENGUJI atau FILTER semua aliran agama, teologi, ritual, ibadah, dll. dari masa lalu. Mana yang dibenarkan Islam, ia menjadi benar; mana yang disalahkan Islam, ia menjadi salah.

Kalau Anda perhatikan ritual Manasik Haji. Orang-orang musyrikin Makkah juga punya tradisi “ibadah haji”, tetapi dalam versi paganistik (kemusyrikan). Misalnya, disana ada thawaf telanjang, menyembah berhala, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, dll. Ketika Islam datang, ritual ibadah Haji tidak dibuang semuanya. Bagian-bagian yang benar dan lurus seperti Manasik Nabi Ibrahim, dipertahankan oleh Islam. Bagian-bagian yang syirik, bathil, dan hina dibuang oleh Islam.

Hal ini berlaku dalam segala ritual ummat manusia. Doa, shalat, dzikir, shiyam, dan sebagainya bukanlah ibadah yang baru. Ia sudah dikenal sejak ummat-ummat terdahulu. Maka Islam membersihkan, memilah, serta memperkuat amal-amal yang baik itu. Sedangkan, amal hina, rusak, sesat, syirik, zhalim, dll. dibuang jauh-jauh. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[3]. Andaikan saja dianggap bahwa penentuan awal dan akhir shaum Ramadhan seperti tradisi kaum musyrikin di masa lalu, bukan berarti Rasulullah Saw mengadopsi dari ajaran kaum musyrik di masa lalu. Alasannya, darimana Rasulullah tahu bentuk ritual kemusyrikan dari masa lalu, sedangkan beliau adalah Nabiyyil ummiyyi (Nabi yang tidak membaca-menulis)? Pastilah Rasulullah mendapat semua petunjuk tentang ibadah itu dari Allah Ta’ala. Beliau mendapatkan Wahyu, lalu melaksanakan sesuai petunjuk Allah Ta’ala. Jadi, ibadah Ramadhan ini bukan hasil kreasi Nabi, dan bukan hasil adopsi ajaran orang lain juga. Maka, apa yang diridhai oleh Allah bagi Nabi-Nya, itulah yang kita imani; sedangkan apa yang dijauhkan oleh Allah dari Nabi-Nya, itulah yang kita jauhi.

Dalam Al Qur’an ada ayat seperti ini: “Laa tasjuduu lis syamsi wa laa lil qamari, wasjuduu lillahi alladzi khalaqahunna” (janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, akan tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan keduanya). Dalam ayat ini ada hikmah yang sangat berharga. Bahwa, matahari, bulan, langit, bumi, dan sebagainya semua itu adalah makhluk Allah Ta’ala. Semua itu ciptaan Allah. Maka Allah lebih berhak atas ciptaan-Nya, bukan kaum musyrikin.

Misalnya, kaum Shinto Jepang menyembah matahari. Matahari adalah milik Allah, ia beredar sesuai Sunnah-Nya, bukan sunnah kaum musyrikin Jepang. Begitu pula, bulan sabit, bulan purnama, gerhana bulan, dan sebagainya semua itu adalah MILIK Allah Ta’ala. Allah lebih berhak memiliki semua itu, daripada siapapun. Tidak boleh ada yang mengklaim benda-benda di alam semesta ini, selain semua itu hanya milik Allah. Artinya, Allah berhak memilihkan bagi Nabi-Nya apa yang Dia ridhai dari perilaku-perilaku alam ini, termasuk perilaku bulan. Jika Allah memilih bulan sabit bagi Nabi-Nya, itu adalah hak Allah, dan tidak ada kaum apapun yang boleh mengklaim bulan sabit, selain hanya Allah saja.

Nah, demikianlah jawaban singkat yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin, semoga menjadi pahala bagi kami dan (Ummat Islam) yang membacanya. Allahumma amin. Walhamdulilllahi Rabbil ‘alamiin.

Al faqir ila ‘afwi Rabbi

[Abinya Syakir].