Takfir Seorang Asy’ariyun…

November 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sebenarnya kita sering di diskusi di media ini, atau di media-media lain. Banyak perlakuan orang yang sudah kita terima. Salah satu yang unik dari seseorang yang menamakan diri @ Sunni Asy’ari Syafi’i dalam diskusi bertema: Dimana Allah Tinggal Sebelum Bersemayam di Atas Arasy? Komentar dia ditulis pada 7 November 2013 lalu. Belum berkata apa-apa, dia langsung mengkafirkan saya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sejujurnya, sikap takfir itu bukan monopoli satu golongan saja. Banyak pihak bisa melakukan takfir kepada sesama Muslim, secara zhalim. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah. Sengaja komentar dan jawaban dimuat ulang dalam tulisan tersendiri, agar menjadi bukti kehidupan dan pelajaran. Amin. Selamat membaca!

_______________________________________________________________

@ Sunni Asy’ari Syafi’i…

WAHAI MANUSIA SEKALIANNN..KETAHUILAH OLEHMU BAHWA PENULIS TULISAN INI ADALAH SEORANG MUJASSIM MUSYABBIH. SEORANG KAFIR DI ATAS KEKAFIRAN. IMAM SYAFI’I BERKATA: المجسم كافر

MUJASSIM (ORANG YG BERKEYAKINAN ALLAH BERUPA BENDA) ITU KAAFIR. DIA SEDANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENYEMBAH SESUATU YANG ADA DI LANGIT DAN DI ARSY (HEH? ADA DI DUA TEMPAT?!!). SESUATU YANG BERTEMPAT SUDAH PASTI DIA BENTUK DAN DIMENSI.MAHA SUCI ALLAH DARI TEMPAT. MAHA SUCI ALLAH DARI MENEMPATI ARAH. MAHA SUCI ALLAH DARI BERBENTYK. LAYSA KAMITSLIHII SYAII’ (ASY-SYUUROO:11)

Respon: Orang aneh. Belum apa-apa sudah mengkafirkan orang lain (diri saya). Tulisan aneh yang pernah saya baca. Pandir… Ya benar bahwa kaum mujassim memang sesat, karena mereka serupakan Allah dengan makhluk berjasad. Sementara kami hanya meyakini ayat-ayat dan hadits sebagaimana adanya, tanpa menyamakan Allah dengan makhluk-Nya sedikit pun. Kalau dikatakan, Allah punya tangan, lalu manusia punya tangan; apakah kami menyamakan istilah Tangan Allah dengan tangan makhluk? Coba jawab! Tidak sama sekali. Kami tidak menyamakan Tangan Allah dengan tangan makhluk.

Misalnya karena masalah tangan ini, lalu kami dituduh mujassimah; bagaimana Allah punya sifat Al Hakim, sedangkan manusia juga punya sifat hakim (bijaksana)? Allah punya sifat “Melihat” sedang manusia juga bisa melihat; Allah punya sifat “Mendengar” sedang manusia juga mendengar? Apakah orang yang meyakini sifat Al Hakim, Ar Rahman, Ar Rahiim, As Sama’, Al Bashar, dan seterusnya…mereka itu juga mujassimah; karena menyamakan Allah dengan makhluk?

@ PENULIS. BACA DULU BACA! Al-Hafizh al-Muhaddits al-Imam as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin menjelaskan panjang lebar perkataan al-Imam al-Ghazali bahwa Allah mustahil bertempat atau bersemayam di atas arsy. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al-Imam al-Ghazali menuliskan sebagai berikut: “al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas arsy tersebut adalah benda yang menempel. Benda tersebut bisa jadi lebih besar atau bisa jadi lebih kecil dari arsy itu sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil atas Allah” .

Respon: Ini adalah ucapan BODOH. Coba perhatikan kalimat ini: “Al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam, maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas Arsy tersebut adalah benda yang menempel.

Bantahanku: Kenapa kalian membatasi Sifat Istiwa’ Allah dengan sifat makhluk-Nya? Kalau makhluk istiwa’ dia menempel; sedangkan Allah apa perlu menempel seperti makhluk? Begitu rendahnya kalian mensifati Rabb kalian! Allah Ta’ala hendak kalian perkosa dengan sifat-sifat lazim yang ada pada makhluk-Nya. Dasar aneh!

Dalam penjelasannya al-Imam az-Zabidi menuliskan sebagai berikut: “Penjabarannya ialah bahwa jika Allah berada pada suatu tempat atau menempel pada suatu tempat maka berarti Allah sama besar dengan tempat tersebut, atau lebih besar darinya atau bisa jadi lebih kecil. Jika Allah sama besar dengan tempat tersebut maka berarti Dia membentuk sesuai bentuk tempat itu sendiri. Jika tempat itu segi empat maka Dia juga segi empat. Jika tempat itu segi tiga maka Dia juga segi tiga. Ini jelas sesuatu yang mustahil. Kemudian jika Allah lebih besar dari arsy maka berarti sebagian-Nya di atas arsy dan sebagian yang lainnya tidak berada di atas arsy. Ini berarti memberikan paham bahwa Allah memiliki bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tersusun. Kemudian kalau arsy lebih besar dari Allah berarti sama saja mengatakan bahwa besar-Nya hanya seperempat arsy, atau seperlima arsy dan seterusnya. Kemudian jika Allah lebih kecil dari arsy, -seberapapun ukuran lebih kecilnya-, itu berarti mengharuskan akan adanya ukuran dan batasan bagi Allah. Tentu ini adalah kekufuran dan kesesatan. Seandainya Allah -Yang Azali- ada pada tempat yang juga azali maka berarti tidak akan dapat dibedakan antara keduanya, kecuali jika dikatakan bahwa Allah ada terkemudian setelah tempat itu. Dan ini jelas sesat karena berarti bahwa Allah itu baharu, karena ada setelah tempat. Kemudian jika dikatakan bahwa Allah bertempat dan menempel di atas arsy maka berarti boleh pula dikatakan bahwa Allah dapat terpisah dan menjauh atau meningalkan arsy itu sendiri. Padahal sesuatu yang menempel dan terpisah pastilah sesuatu yang baharu. Bukankah kita mengetahui bahwa setiap komponen dari alam ini sebagai sesuatu yang baharu karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah?! Hanya orang-orang bodoh dan berpemahaman pendek saja yang berkata: Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat dan arah? Karena pernyataan semacam itu benar-benar tidak timbul kecuali dari seorang ahli bid’ah -yang menyerupakan Allah denganmakhluk-Nya-. Sesungguhnya yang menciptakan sifat-sifat benda (kayf) mustahil Dia disifati dengan sifat-sifat benda itu sendiri. -Artinya Dia tidak boleh dikatakan “bagaimana (kayf)” karena “bagaimana (kayf)” adalah sifat benda-.

Respon: Sama-sama bodohnya, mensifati Allah dengan kelaziman pada makhluk-Nya. Ini sangat bodoh. Coba baca Surat Al A’raaf ketika Musa As meminta melihat Allah, lalu Allah menampakkan diri kepada gunung, seketika gunung hancur lebur; Musa pun pingsan seketika. Itu kan ibrah yang jelas, kita tak boleh mensifati Allah dengan detail, sifat, kelaziman makhluk-Nya; apapun itu. Sifat menempel, punya ukuran, menempati ruang, dan sterusnya, itu semua sifat makhluk; kita tak boleh membawa Dzat Allah pada batasan-batasan begitu.

Di antara bantahan yang dapat membungkam mereka, katakan kepada mereka: Sebelum Allah menciptakan alam ini dan menciptakan tempat apakah Dia ada atau tidak ada? Tentu mereka akan menjawab: Ada. Kemudian katakan kepada mereka: Jika demikian atas dasar keyakinan kalian -bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki tempat- terdapat dua kemungkinan kesimpulan. Pertama; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa tempat, arsy dan seluruh alam ini qadim; ada tanpa permulaan -seperti Allah-. Atau kesimpulan kedua; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa Allah itu baharu -seperti makhluk-. Dan jelas keduanya adalah kesesatan, ini tidak lain hanya merupakan pendapat orang-orang bodoh dari kaum Hasyawiyyah. Sesungguhnya Yang Maha Qadim (Allah) itu jelas bukan makhluk. Dan sesuatu yang baharu (makhluk) jelas bukan yang Maha Qadim (Allah). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang rusak” .

Respon: Jawabnya simple… Alam semesta ini sesuatu yang baru (muhdats), sementara Allah itu Qadim (terdahulu dari segalanya). Sebelum menciptakan alam ini Allah ada dimana dan menempati apa? Jawabnya: KITA TIDAK TAHU, karena Allah tidak menjelaskan hal itu. Allah Ta’ala mau berada dimanapun, mau bagaimanapun, itu terserah diri-Nya. Kalau dia mau menempati suatu ruang, mudah bagi-Nya; sebagaimana kalau Dia tak butuh ruang juga mudah bagi-Nya. Kan disini berlaku prinsip besar: Idza arada syai’an an yaqula kun fa yakun (kalau Dia ingin sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’ maka jadilah itu).

Masalah Allah ada di dalam ruang atau tidak, itu terserah Dia saja. Dia bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Apa kamu bisa menghalangi kalau Allah melakukan ini dan itu, sesuka Diri-Nya? Sejak kapan kamu punya kuasa di sisi Allah?

Masih dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, al-Imam Murtadla az-Zabidi juga menuliskan sebagai berikut: “Peringatan: Keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah adalah akidah yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah. Tidak ada perselisihan antara seorang ahli hadits dengan ahli fiqih atau dengan lainnya. Dan di dalam syari’at sama sekali tidak ada seorang nabi sekalipun yang menyebutkan secara jelas adanya arah bagi Allah. Arah dalam pengertian yang sudah kita jelaskan, secara lafazh maupun secara makna, benar-benar dinafikan dari Allah. Bagaimana tidak, padahal Allah telah berfirman: “Dia Allah tidak menyerupai sesuatu apapun” (QS. as-Syura: 11). Karena jika Dia berada pada suatu tempat maka akan ada banyak yang serupa dengan-Nya”.

Respon: Aneh, jangan sebut itu kesepakatan Ahlus Sunnah; paling juga pendapat mayoritas ‘Asyariyah. Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebut sampai 6 kali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Apa kalian bersepakat untuk menganulir ayat Al Qur’an ini? Aneh.

Soal Arasy itu ruang atau bukan, tempat besar atau kecil, caranya menempel atau tidak; kita semua mengatakan: Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Maha Tahu keadaan diri-Nya. Seperti kata Imam Malik rahimahullah: Istiwa’ itu sudah dimaklumi, caranya tidak diketahui; mengimaninya wajib, mendebatkannya bid’ah.

Saran saya: kalau mau berdiskusi dan debat ilmiah, silakan; tapi jangan langsung mengkafirkan begitu. Kamu sendiri nanti yang akan meringis dalam duka.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

Oktober 28, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah tulisan tentang “Kasus Sampang Jilid II” muncul komentar seorang pembaca yang diindikasikan sebagai pengikut sekte Syiah Rafidhah. Dia memberikan pandangan “imajiner” tentang situasi di Saqifah Bani Sa’idah ketika para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum melakukan pembicaraan untuk memilih pemimpin pengganti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Dalam pandangan pembaca itu, andai saja para Shahabat tidak mendahulukan sikap nasionalisme, tentu mereka akan merujuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu untuk menjadi pengganti Nabi.

Berikut komentar pembaca tersebut:

Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme. Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.”

Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin. Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.”

Sebenarnya, komentar ini semula tidak ingin dikomentari. Inginnya dibiarkan saja, karena bagi kita sudah jelas, bahwa pemikiran-pemikirian seperti di atas, termasuk kategori madzhab sesat Syiah Rafidhah. Hidup mereka, sejak awal sampai akhir; sejak kecil sampai tua renta; sejak membuka mata sampai menutup mata lagi (tertidur); dalam kerumunan atau sendirian; di rumah atau di jalan; saat di masjid atau di WC; saat bekerja atau sedang hubungan seksual; maka fokus masalah yang selalu mereka pikirkan adalah Hak Kewalian Ali bin Abi Thalib dan Hak Imamah Anak-anaknya. Agama, Syariat, bumi, langit, dan kehidupan yang luas ini, di tangan Syiah Rafidhah mengerucut ke dua masalah politik di masa lalu itu.

Pemikiran Syiah Rafidhah Membuat Kemuliaan Sejarah Ahlul Bait Menjadi Kebusukan dan Hina

Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, pernah melakukan pembicaraan damai dengan Jimmy Carter. Sebelum pembicaraan dilakukan Brezhnev berkata, “Kalau kita gagal dalam mewujudkan perjanjian, Tuhan akan menghukum kita.” Perkataan itu spontan mengejutkan semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata, sosok Presiden Komunis Uni Soviet, masih menyimpan keimanan pada Tuhan. Begitu pula, Fir’aun masih menyembunyikan keimanan di hatinya, meskipun ucap keimanan itu dia katakan ketika nyawa sudah di tenggorokan (sehingga tak berguna lagi). Artinya, orang kafir sekafir-kafirnya saja, masih ada sisi-sisi keimanan baiknya. Lha ini orang Syiah Rafidhah, katanya Muslim, tapi otak kanan-kirinya, jiwa-raganya, hidup-matinya, isinya melulu hanya: Wilayah Ali dan Imamah Ahlul Bait.

Baiklah, berikut isi diskusi yang sudah dilakukan, dikutip secara utuh. Diskusi aslinya bisa dilihat pada tulisan: “Kasus Sampang Jilid II”. Semoga bermanfaat, amin ya Rahiim.

__________________________________________________________

@ Fulan…

==> Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme.

RESPON: Anda tidak boleh menyebut para Shahabat Anshar dan Muhajirin dengan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu tuduhan kasar, kalau tidak disebut fitnah atas mereka. Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum SANGAT TERGONCANG atas wafatnya Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, hal itu sangat terlihat dalam kebingungan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang mengancam akan menebas siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ini menunjukkan keadaan tekanan psikologis yang sangat berat.

Satu sisi para Shahabat kehilangan sosok manusia teladan, orangtua, guru, kawan seperjuangan, sumber ilmu, penghibur hati, pembela hidup dan jiwa mereka. Di sisi lain, mereka cemas memikirkan masa depan PERADABAN ISLAM yang baru dibangun. Usianya baru 10 tahun; sementara musuh-musuhnya sangat banyak, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin Persia, Romawi, Mesir, kabilah-kabilah Arab yang kafir, dll. Mereka cemas, siapa yang akan mengganti posisi beliau? Saat itu mereka berdebat, bahwa Anshar lebih tepat mengganti, yang lain berpendapat Muhajirin lebih tepat mengganti. Nabi sendiri tidak menunjuk siapa pengganti beliau, maka wajar dong terjadi perselisihan menentukan pemimpin.

Istilah Anshar dan Muhajirin bukan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu istilah SYARIAT MURNI, wong dalilnya banyak dalam Al Qur’an dan terutama Sunnah. Anshar adalah pembela para Muhajirin; Muhajirin adalah orang yang hijrah ke negeri orang Anshar. Ini istilah Syariat yang menunjukkan amal dan prestasi amal mereka dalam perjuangan Islam. Itu bukan istilah fanatik atau nasionalisme.

Kalau Shahabat Anshar dan Muhajirin lebih mendahulukan urusan kepemimpinan, bukan urusan mengurus jenazah Nabi; karena mereka melihat bahwa: (1). Urusan kepemimpinan itu tidak bisa ditunda-tunda, harus cepat dipastikan dan dituntaskan; semakin lama ditunda akan melahirkan KETIDAK-PASTIAN yang sangat berbahaya; (2). Suasana di Saqifah Bani Sa’idah sudah mengarah ke terjadinya konflik dan perselisihan internal kaum Muslimin, hal itu kalau dibiarkan begitu saja, akan membesar menjadi konflik serius di kalangan ummat Islam. Memadamkan api konflik sangat diutamakan sebelum mengurus jenazah Nabi;

(3). Harus dicatat dengan tinta tebal, bahwa para Shahabat SUDAH TAHU kalau Nabi Saw wafat. Abu Bakar, Umar, dan para Shahabat Anshar Muhajirin Radhiyallahu ‘Anhum, mereka semua sudah tahu kalau Nabi wafat; maka itu mereka berselisih soal siapa yang akan menggantikan posisi Nabi dalam memimpin kaum Muslimin. Bahkan Abu Bakar dan Umar telah memeriksa jenazah beliau di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anha terlebih dulu, sebelum berangkat ke Saqifah. Artinya, adalah DUSTA BELAKA kalau para Shahabat dianggap tidak tahu atau acuh dengan kematian Nabi Saw. Justru mereka amat sangat peduli dan mengalami kegoncangan jiwa. Adapun soal merawat jenazah Nabi, dalam Syariat Islam, hal itu harus diurus oleh keluarga beliau sendiri, untuk memandikan dan mengafani; lalu nantinya para Shahabat menyalati beliau, setelah urusan kepemimpinan beres diselesaikan. Apa mungkin untuk mengurus jenazah Nabi harus melibatkan semua para Shahabat baik laki-laki dan wanita? Mungkin kalau dalam hukum Syiah Rafidhah kayak begitu ya…

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sangat mencintai Nabi Saw. Hal itu dibuktikan, mereka sampai berselisih dalam rangka memilih pemimpin untuk: MELANJUTKAN, MELESTARIKAN, dan MEMPERTAHANKAN PERADABAN yang telah dibangun oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Melanjutkan peradaban yang Nabi tinggalkan sangat diprioritaskan, sebelum para Shahabat bersama-sama menunaikan hak-hak jenazah Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jadi para Shahabat lebih lebih mencintai Nabi ketimbang orang-orang Syiah Rafidhah yang telah dibutakan mata-hatinya, lalu Allah ombang-ambingkan mereka dalam kesesatan luar biasa.

Baca entri selengkapnya »


Tuduhan Misionaris Seputar Bulan Sabit Ramadhan

September 7, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di situs voa-islam.com, ada artikel berjudul: “Tuduhan Kristen: Puasa Ramadhan Menjiplak Ritual Penyembah Berhala (Mengkritisi Buku Penodaan Islam di Gramedia – 3)“. Artikel ini oleh Ustadz Ahmad Hizbullah, MAg. sebagai bentuk bantahan terhadap buku provokatif yang diterbitkan Sonrise Enterprise, karya  Curt Fletemier Yusuf dan Tanti.

Dalam buku ini banyak tuduhan-tuduhan khas para misionaris -yang memang tak ada kerjaan lain selain itu- seputar ajaran Islam. Salah satunya, tentang ibadah Shiyam Ramadhan. Berikut ini kutipan kalimat tuduhan seputar bulan Ramadhan:

“Puasa pada Bulan Ramadhan. Bulan puasa kaum Sabean dimulai pada saat bulan sabit dan tidak akan berakhir sampai bulan lenyap, lalu kembali bulan sabit muncul (sama seperti Ramadhan bagi Islam pada masa ini). Muhammad hanya meneruskan praktik keagamaan yang dipakai oleh para penyembah berhala, Abd. Allah bin Abbas melaporkan bahwa Muhammad, menyatakan: “Jangan mulai berpuasa sampai kamu telah melihat bulan sabit dan jangan berhenti berpuasa sampai kamu melihatnya kembali, dan jika itu berawan, sempurnakanlah menjadi 30 hari.”

Memang pada masa Muhammad, orang Yahudi juga memiliki kebiasaan berpuasa sesuai dengan penanggalan Yahudi, dan penanggalan Yahudi yang dipakai juga berdasarkan hitungan bulan. Orang Yahudi juga memiliki perayaan Bulan Baru, tetapi dalam Imamat 23 dijelaskan bahwa perayaan Bulan Baru itu tidak dimulai dari TUHAN. Sampai saat ini orang Kristen juga tetap melakukan puasa. Beberapa di antaranya bahkan melakukan secara rutin. Tetapi sebagian besar orang Kristen (termasuk penulis) berpuasa ketika ada sesuatu yang sedang didoakan sungguh-sungguh. Itu adalah cara untuk memusatkan pikiran kita pada Tuhan.

Bagi kita, puasa bukanlah suatu kewajiban keagamaan. Satu-satunya “kewajiban keagamaan” yang kita miliki adalah untuk percaya pada Kristus yang membawa kita ke surga, seraya menyadari bahwa sebenarnya kita tidak layak untuk menerima kasih-Nya, dan mengkuti-Nya dengan segala ucapan syukur untuk apa yang telah Dia kerjakan bagi kita.” (Sang Putera dan Sang Bulan, penerbit Sonrise Enterprise, hlm 148-149).

Inti dari pernyataan ini ada dua yang terkait dengan Shiyam Ramadhan: Pertama, kata si penulis Rasulullah Saw meneruskan praktik keagamaan kaum Sabean (penyembah berhala), yaitu memulai dan mengakhiri puasa dengan melihat bulan sabit. Kedua, dalam kitab Imamat 23 dijelaskan bahwa perayaan Bulan Baru (bulan sabit) bukan dari Tuhan.

JAWABAN:

[1]. Kaum Sabean atau dalam Islam diistilahkan Sabiin tidak melulu selalu bermakna orang-orang musyrik penyembah berhala. Tidak demikian. Umat-umat terdahulu dari Nabi-nabi terdahulu juga disebut kaum Sabiin. Coba perhatikan terjemah Al Qur’an di bawah ini. Ia adalah ayat yang sangat populer di mata kaum SEPILIS.

“Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.” (Al Baqarah: 62).

Dari ayat ini bisa diambil pelajaran, bahwa kaum Shabi’in itu tidak otomatis penyembah berhala. Di antara mereka ada yang beriman, beramal shalih dan mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala. Jadi kalau kaum SABEAN otomatis divonis sebagai kaum musyrik (paganis), penyembah berhala; hal itu tidak benar.

[2]. Islam datang untuk mengganti dan memperbaiki agama manusia. Mengganti agama yang rusak, bathil, dan hina; memperbaiki agama-agama yang telah menyimpang, sesat, dan keluar dari jalan Allah yang lurus. Dalilnya antara lain, ialah 2 ayat terakhir Surat Al Fatihah: “Tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat; bukan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang sesat.”

Ritual agama dari masa lalu BISA DITERIMA atau HARUS DITOLAK, tergantung bagaimana ajaran Islam itu sendiri. Jika menurut ajaran Islam, ritual itu diterima ya kita terima; jika menurut Islam ia harus ditolak, ya harus ditolak. Jadi, akhirnya posisi ajaran Islam itu menjadi PENGUJI atau FILTER semua aliran agama, teologi, ritual, ibadah, dll. dari masa lalu. Mana yang dibenarkan Islam, ia menjadi benar; mana yang disalahkan Islam, ia menjadi salah.

Kalau Anda perhatikan ritual Manasik Haji. Orang-orang musyrikin Makkah juga punya tradisi “ibadah haji”, tetapi dalam versi paganistik (kemusyrikan). Misalnya, disana ada thawaf telanjang, menyembah berhala, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, dll. Ketika Islam datang, ritual ibadah Haji tidak dibuang semuanya. Bagian-bagian yang benar dan lurus seperti Manasik Nabi Ibrahim, dipertahankan oleh Islam. Bagian-bagian yang syirik, bathil, dan hina dibuang oleh Islam.

Hal ini berlaku dalam segala ritual ummat manusia. Doa, shalat, dzikir, shiyam, dan sebagainya bukanlah ibadah yang baru. Ia sudah dikenal sejak ummat-ummat terdahulu. Maka Islam membersihkan, memilah, serta memperkuat amal-amal yang baik itu. Sedangkan, amal hina, rusak, sesat, syirik, zhalim, dll. dibuang jauh-jauh. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[3]. Andaikan saja dianggap bahwa penentuan awal dan akhir shaum Ramadhan seperti tradisi kaum musyrikin di masa lalu, bukan berarti Rasulullah Saw mengadopsi dari ajaran kaum musyrik di masa lalu. Alasannya, darimana Rasulullah tahu bentuk ritual kemusyrikan dari masa lalu, sedangkan beliau adalah Nabiyyil ummiyyi (Nabi yang tidak membaca-menulis)? Pastilah Rasulullah mendapat semua petunjuk tentang ibadah itu dari Allah Ta’ala. Beliau mendapatkan Wahyu, lalu melaksanakan sesuai petunjuk Allah Ta’ala. Jadi, ibadah Ramadhan ini bukan hasil kreasi Nabi, dan bukan hasil adopsi ajaran orang lain juga. Maka, apa yang diridhai oleh Allah bagi Nabi-Nya, itulah yang kita imani; sedangkan apa yang dijauhkan oleh Allah dari Nabi-Nya, itulah yang kita jauhi.

Dalam Al Qur’an ada ayat seperti ini: “Laa tasjuduu lis syamsi wa laa lil qamari, wasjuduu lillahi alladzi khalaqahunna” (janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, akan tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan keduanya). Dalam ayat ini ada hikmah yang sangat berharga. Bahwa, matahari, bulan, langit, bumi, dan sebagainya semua itu adalah makhluk Allah Ta’ala. Semua itu ciptaan Allah. Maka Allah lebih berhak atas ciptaan-Nya, bukan kaum musyrikin.

Misalnya, kaum Shinto Jepang menyembah matahari. Matahari adalah milik Allah, ia beredar sesuai Sunnah-Nya, bukan sunnah kaum musyrikin Jepang. Begitu pula, bulan sabit, bulan purnama, gerhana bulan, dan sebagainya semua itu adalah MILIK Allah Ta’ala. Allah lebih berhak memiliki semua itu, daripada siapapun. Tidak boleh ada yang mengklaim benda-benda di alam semesta ini, selain semua itu hanya milik Allah. Artinya, Allah berhak memilihkan bagi Nabi-Nya apa yang Dia ridhai dari perilaku-perilaku alam ini, termasuk perilaku bulan. Jika Allah memilih bulan sabit bagi Nabi-Nya, itu adalah hak Allah, dan tidak ada kaum apapun yang boleh mengklaim bulan sabit, selain hanya Allah saja.

Nah, demikianlah jawaban singkat yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin, semoga menjadi pahala bagi kami dan (Ummat Islam) yang membacanya. Allahumma amin. Walhamdulilllahi Rabbil ‘alamiin.

Al faqir ila ‘afwi Rabbi

[Abinya Syakir].


Bahaya Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW)

Juli 11, 2011

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di Tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama”. Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku ini selain memakai judul yang sangat kasar, semodel buku-buku karya orang PKI atau kaum atheis lainnya, di dalamnya juga pekat berisi fitnah, kebohongan, penyesatan opini, penyebaran akidah Syiah, upaya adu-domba antar Ummat Islam, dll. Banyak fakta-fakta bisa diungkap tentang kebohongan dan kecurangan Syaikh Idahram. Sangat ironisnya, buku itu justru diberi kata pengantar oleh Ketua PBNU, Said Agil Siraj.

Baca entri selengkapnya »


Membantah Ucapan Sombong Seorang Takfiri

April 26, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau mampir ke internet, saya selalu membuka situs suara-islam.com, eramuslim.com, voa-islam.com, dan hidayatullah.com. Hampir selalu membuka situs-situs ini, untuk update berita-berita seputar Islam. Sebab media-media massa saat ini terlalu rusuh dengan amoralitas, maka enggan hati untuk menggumuli berita-berita mereka. Meskipun sekali waktu tetap membuka situs-situs umum mainstream.

Saat membuka voa-islam.com, alhamdulillah saya menemukan tulisan yang sangat MENYENGAT yang ditulis oleh seorang ustadz takfiri (tukang mengkafirkan orang). Artikelnya sebagai berikut: Melongok Argumen yang Menghalalkan Ngebom Polisi Saat Shalat di Masjid. Ketika membaca tulisan yang dibuat oleh Abu Khataf Saifur Rasul ini, masya Allah rasanya kita tidak sedang bicara dengan seorang Muslim. Adabnya, nol besar!

Disini saya akan coba mengkritisi ucapan sombong makhluk takfiri satu ini. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kehidupan ini begitu sengit dengan fitnah. Bukan hanya aparat yang selalu mentarget pemuda-pemuda Islam untuk ditangkap, dipenjara, disiksa, bahkan ditembak mati. Tetapi di antara kaum Muslimin juga ada manusia berhati keras, ghuluw, merasa paling ‘alim urusan Islam, lalu dengan seenaknya memaki-maki saudaranya sesama Muslim dengan makian yang hanya pantas ditujukan kepada orang-orang kafir.

Nabi Saw bersabda, “Sibabul muslim fusuqun wa qitaluhum kufr” (memaki seorang Muslim adalah fasiq, dan memeranginya adalah kufur). Atau Nabi Saw juga bersabda, “Bi hasbi imri’in minas syar-ri an yahqira akhihi” (cukuplah seseorang dianggap berbuat jahat jika dia menghina saudaranya sesama Muslim).

Mula-mula akan saya tampilkan ucapan sombong Si Takfiri ini, lalu memberikan kritik-kritik ringkas atasnya. Semoga Allah Ta’ala menolong kita untuk memuliakan agama-Nya. Amin Allahumma amin.

[A] Setelah mengucap basmalah, tahmid, dan shalawat, Si Takfiri menyitir sebuah ayat Al Qur’an dari Surat Al Hujurat ayat 12 tentang larangan berprasangka buruk, larangan mencari-cari kesalahan (tajassus), serta larangan ghibah terhadap sesama Muslim. 

KOMENTAR: Ayat seperti ini tidak tepat untuk mendalili perbuatan Syarif saat meledakkan bom yang menempel di tubuhnya, di masjid Mapolresta Cirebon. Perbuatan Syarif itu bukan kesalahan seorang Muslim yang bisa ditoleransi. Ia adalah perbuatan kebathilan yang harus ditolak dan diingkari secara terang-terangan. Dalil yang bisa dipakai disini ialah sabda Nabi Saw yang berbunyi, “Man ra’a minkum munkaran fal yughaiyiru biyadihi, wa illam tastathi’ fa bilisani…” Hadits perintah nahyul munkar inilah yang pantas disebutkan dihadapan perbuatan durhaka Syarif atas Syariat Allah dan Rasul-Nya.

Setiap orang bisa berdalil dengan Kitabullah dan As Sunnah, karena orang Liberalis/Orientalis juga pintar berdalil untuk melayani ambisi, hawa nafsu, dan kedurhakaan hati mereka. Na’udzubillah wa na’udzbubillah min dzalik. Hanya apakah dalil itu tepat sesuai konteks dan masalahnya, belum tentu. Cara berdalil Si Takfiri ini bisa menunjukkan model cara berdalil semaacam itu.

[B] Risalah ini adalah tanggapan terhadap komentar-komentar tentang apa yang terjadi pada hari jumat 15 april 2011 di cirebon (bom cirebon). Sebelumnya perlu diperhatikan bahwa: 1. Ana (Abu Khataf) tidak kenal dengan pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu. 2. Ana (Abu Khataf) asumsikan bahwa pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu adalah seorang muslim yang meniatkan apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka jihad fisabilillah. Singkatnya mereka adalah mujahid -dan Alloh SWT yang maha tahu niat mereka di dalam hati-.

KOMENTAR: Jihad fi sabilillah adalah amalan agung. Rasul Saw menyebutnya sebagai afdhalul ‘amal, seutama-utamanya amal. Tetapi Jihad itu ada adab-adabnya. Kalau akan mandi besar saja ada adabnya, apalagi dalam Jihad yang disana ada resiko pengorbanan harta, tenaga, darah, dan nyawa.

Salah satu ciri kesesatan takfiri jaman modern. Mereka amat sangat antusias bicara soal Jihad. Tetapi mereka kurang antusias dalam menyempurnakan adad-adabnya. Sehingga di mata mereka, setiap perbuatan apapun untuk menyerang pihak-pihak yang mereka vonis kufur atau membela orang kufur, akan mereka lakukan. Di mata mereka, menyerang warga sipil, menyerang wanita, anak-anak, menyerang terminal, stasiun, hotel, bis kota, dll. adalah sah. Padahal Rasulullah Saw, dalam Jihad Fi Sabilillah, melarang menyerang kaum wanita, anak-anak, orangtua, musuh yang melarikan diri, menyerang pertanian, hewan ternak, rumah ibadah, dll.

Rasulullah Saw menyempurnakan Jihad dengan adab-adabnya, sehingga Allah memberikan keberkahan besar di balik Jihad beliau. Sebaliknya, kaum Takfiri ini, perbuatan mereka semakin hari hanya semakin menyusahkan kaum Muslimin. Andaikan dalam hidupnya, mereka beramal sebanyak-banyaknya; belum tentu itu sebanding dengan perbuatan mereka yang menyebabkana kaum Muslimin secara umum menderita akibat hantaman puak-puak kekufuran, karena diprovokasi perbuatan kaum Takfiri itu.

[C] Telah mengabarkan kepada ana, beberapa ikhwan tentang komentar-komentar sumbang dan kadangkala lucu bahkan memalukan atas peristiwa bom polres cirebon. Anehnya komentar-komentar miring tersebut didendangkan oleh oknum yang mengaku bermanhaj jihad dan pejuang syariat, serta mengaku sebagai penggede mujahidin.

KOMENTAR: Pernyataan ini maksudnya, mereka membantah ucapan pimpinan JAT (Jamaah Ansharut Tauhiid) yang menolak tindakan pengeboman di Masjid Mapolresta Cirebon itu. Artinya, Abu Khalaf Saifur Rasul itu termasuk kelompok lain yang memiliki pandangan berbeda dengan mujahidin yang bergabung dalam JAT dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

[D] Berikut komentar-komentar yang ana dengar skaligus kami berikan tanggapannya. 1. Mereka para polisi yang menjadi target/korban adalah muslim karena mereka masih sholat sehingga tidak boleh di tumpahkan darahnya. JAWABAN: Apakah kalian kira jika orang masih sholat berarti dia seorang muslim meskipun melakukan kekafiran yang dhohir mutawatir??? Aduhai… Kasian sekali wahai orang-orang jahil murokab jika kaliah beraqidah demikian. Tidakkah kalian tahu: – Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah mengutus Baro’ bin Azib untuk membunuh orang yang menikahi ibu tirinya padahal dia masih sholat??

– Rasululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah berencana memerangi bani Mustholik ketika di beritakan mereka enggan membayar zakat padahal mereka juga masih sholat, tapi ternyata berita itu adalah berita dusta. – Abu Bakar As-Shidiq ra. memerangi pengikut Musailamah al kadzab padahal diantara mereka masih ada yang sholat. – Abu Bakar As-Shidiq ra. juga mmerangi orang-orang yang menolak zakat dan telah menjadi ijma’ bahwa mereka adalah kelompok murtad padahal mereka juga masih sholat. – Ali bin Abi Tholib ra. membakar orang-orang yang ghuluw terhadap beliau padahal mereka juga masih sholat. – Dan masih banyak contoh-contoh salaf, mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah serta harta orang-orang yang melakukan kekafiran padahal mereka masih sholat.

Contoh terakhir adalah kasus bani Ubaid bin Godah yang mengaku keturunan Fatimah mereka mendirikan sholat jumat & sholat jama’ah, mengangkat para qadhi dan mufti tapi hal ini tidak menghalangi para ulama mazhhab maliki dan yang lain untuk mengkafirkan mereka diantara ulama yang mengkafirkan adalah al imam asy syahid -begitu menurut persangkaan ana- Abu Bakar An-Nabulisi.

Lalu pertanyaannya, apa yang membuat para polisi itu kafir sehingga halal darah dan harta mereka untuk di tumpahkan meskipun mereka masih sholat??? Kita tau bahwa negara ini adalah negara kafir dan thoghut, itu dkarenakan negara ini menerapkan hukum thoghut (UUD45 dan pancasila) dan negara ini juga berkiblat ke amerika si gembong kekafiran dunia dalam memerangi mujahidin, sehingga dengan demikian seluruh penyelenggara negara ini, mereka adalah kafir, musyrik dan thoghut dengan variatif tingkatannya.

KOMENTAR: Dalam pernyataan di atas mulai tersingkap bukti-bukti kebodohan atau kepandiran Si Takfiri ini. Sangat terlihat ciri kebodohannya. Dia tidak bisa menempatkan dalil-dalil perbuatan Nabi Saw dan Shahabat Ra sesuai konteksnya. Dimana letak kesalahan mendasar argumen Si Takfiri sombong ini? Mudah saja, Rasulullah Saw dan para Shahabat Ra menghalalkan tindakan memerangi orang-orang munkar, karena mereka TELAH MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM ALLAH TA’ALA di negeri mereka. Itulah dasarnya, wahai Takfiri sombong.

Lalu lihatlah di Indonesia ini. Di negeri ini Syariat Islam tidak (belum) diakui sebagai UU negara yang mengikat warga dan Pemerintahnya. Artinya, negeri kita bukan negeri Islam. Negeri Indonesia ini bisa disamakan dengan “Periode Makkah” dalam perjuangan Rasulullah Saw. Apakah ketika masih berdakwah di Makkah, Rasulullah Saw sudah mengibarkan bendera Jihad Fi Sabilillah? Tanyakan kepada Si Takfiri sombong itu. Siapa tahu dia masih memahami firman Allah Ta’ala ini: “Innallaha laa yuhibbu kulla muhtalin fahur.”

[E] Lalu dimana posisi polisi??? Di dalamUUD45 bab xii psl 30 (4) di dalam kitab thoghut ini di katakan “KEPOLISIAN NEGARA RI SBG ALAT NEGARA YG MENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT, BERTUGAS MELINDUNGI, MENGAYOMI, MELAYANI MASYARAKAT SERTA MENEGAKKAN HUKUM”.

Jadi polisi RI adalah kafir baik itu brimob, reserse maupun polantasnya. Tidak ada perbedaan karena mereka di satukan dengan satu tujuan dan tugas yaitu menegakkan dan melindungi hukum thoghut. Mereka dibawah satu pimpinan, satu tujuan, dan satu tugas. Sedangkan individu-individu tho’ifah mumtani’ah adalah mengikuti status pimpinannya berdasarkan al kitab, assunnah, ijma’ dan kaidah fiqhiyah. Jadi mereka itu kafir yang halal darah dan hartanya secara hukum dhohir, meskipun mereka mengaku islam, sholat, zakat, puasa & haji. Karena kekafiran mereka bukan dari sisi ini.

Silahkan rujuk kitab2 berikut utk mengetahui dalil-dalilnya. 1. Ad duror assuniah juz 8 cetakan lama. 2. At tibyan fie kufri man a’na al amrika (Syaikh Nashir Bin Hamd Al Fadh. 3. Al jami’ buku ke 10 (Syaikh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz). 4. Da’wah muqowamah terutama pd anggaran dasar ( Syaikh Abu Mush’ab As Suri). 5. Masa’il min fiqh jihad Abu Abdillah al muhajir. 6. Dan kitab2nya Syaikh Al-Maqdisi dan Syaikh Aly Khudair. 

KOMENTAR: Wahai Takfiri, cobalah berpikir jernih sedikit. Jangan selalu emosi dan merasa sudah puas kalau kamu sudah mengkafirkan ini itu. Sekali lagi kita tegaskan, Indonesia bukanlah negara Islami yang berdasarkan ajaran Islam. Indonesia adalah negara dengan dasar non Islam, atau sebutlah sebagai negara jahiliyyah. Dimanapun tidak ditegakkan hukum Allah di dalamnya, ia adalah negeri jahiliyyah.

Sebagai negara dengan dasar non Islam, maka seluruh produk hukum yang berlalu mengikuti dasarnya tersebut. Hal itu berlaku dalam bidang kepolisian, ketentaraan, kepegawaian, dll. Kalau dari atasnya sudah non Islami, turun sampai ke bawah juga non Islami. Meskipun bisa juga di antara produk hukum itu ada yang mengadopsi nilai-nilai Islami.

Di negara seperti Indonesia ini berlaku hukum DAKWAH dan ISLAH. Tujuan dakwah ialah mengajak bangsa Indonesia rujuk kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Tujuan ishlah ialah memperbaiki kehidupan dari keadaan jahiliyyah menjadi keadaan Islami. Maka kaum Muslimin pun terjun dalam dua missi itu, sekuat kemampuan dan kesanggupan yang dimiliki.

Kondisi bangsa Indonesia ini persis seperti era dakwah Rasulullah Saw di Makkah dulu. Hukum dan sistem yang berlaku bukan Islami, tetapi berdasarkan nilai-nilai non Islam. Dan faktanya, Rasulullah Saw belum mengibarkan bendera Jihad Fi Sabilillah ketika berdakwah di Makkah.

Kalau Takfiri ini mau berjihad dalam keadaan seperti ini. Dia bisa menempuh dua cara: Pertama, dia bisa hijrah ke suatu wilayah Islami (bila ada), lalu kemudian dia bisa memerangi orang-orang yang dia tuduh kufur itu dari negeri Islami tersebut. Kedua, dia bisa merebut kekuasaan, lalu mengubah kekuasaan jahiliyyah menuju kekuasaan Islam. Apabila tegak kekuasaan Islam, dia baru bisa menerapkan hukum-hukum Jihad itu.

Tapi kan masalahnya, Si Takfiri ini sudah terjerumus dalam kebodohan yang dalam; lalu merasa dirinya pintar, kemudian menghukumi orang lain dengan ucapan: IQ jongkok, jahil murakab, bodoh, lucu, dll. Lalu sebenarnya ucapan itu lebih tepat diarahkan kepada siapa? Kepada kaum Muslimin atau Si Takfiri ini?

[F] 2. Mujahidin menjadikan tempat ibadah (masjid) sebagai target/sasaran. JAWABAN: Ini mungkin tuduhan yang paling konyol dan tidak masuk akal yang ana dengar, yang tidak mungkin tuduhan ini di lontarkan kcuali oleh orang-orang yang IQ-nya di bawah standar ( IQ jongkok). Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, seandainya yang menjadi target mujahidin adalah masjidnya tentu mujahidin tidak akan menyerangnya di saat banyak orang berkumpul di dalamnya. Jika bangunan masjidnya yang ingin dimusnahkan tentu mujahidin akan memilih waktu dmana masjid itu kosong dan tidak perlu mujahidin melakukan aksi istisyhadiah jika hanya untuk menghancurkan bangunan kosong..

Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, yang menjadi target mujahidin bukanlah bangunannya. Tapi yang menjadi target adalah orang-orang yang dianggap musuh yang berada di dalam bangunan tersebut. Ini sebenarnya bisa di fahami dan dimengerti oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya untuk menilai dan berfikir. Tapi apa mau dikata, ternyata kita juga menghadapi orang-orang yang memiliki akal dibawah standar.

KOMENTAR: Masya Allah, wahai Takfiri. Sebenarnya kamu yang lebih pantas menyandang sebutan “IQ jongkok” itu. Pernyataan kamu di atas semakin mengungkapkan dirimu sendiri. Wahai Takfiri, kamu beralasan bahwa, kalau masjidnya yang menjadi sasaran, mengapa pelaku pengeboman tidak menyerang saat masjid sedang kosong saja? Dari sana kamu menyimpulkan, bahwa pelaku menyerang manusianya, bukan masjidnya. Kalau ucapanmu itu benar, wahai Takfiri, mengapa pelaku bom itu tidak meledakkan bomnya saat sebelum Shalat Jum’at, saat di luar masjid? Toh, sebelum Shalat Jum’at dan di luar masjid juga banyak manusia. Mengapa dia menanti harus meledakkan bom di dalam masjid? Apakah dalam otak kamu wahai Takfiri, ngebom manusia di masjid lebih nikmat ketimbang di luar masjid? Begitukah wahai Takfiri?

Sehina-hinanya seorang teroris Muslim, tidak akan melakukan perbuatan nista seperti itu. Kalau kamu ksatria, wahai Takfiri, mengapa tidak menyerang sasaran kamu itu saat mereka sedang siap, saat berkumpul, atau saat mereka siaga di pos-posnya? Mengapa menyerang mereka justru saat mereka Shalat Jum’at? Apakah di dalam otak kamu dan kawan-kawan wahai Takfiri, tidak ada istilah kesatria, gentlemen, laki-laki sejati? Yang ada selalu serangan-serangan licik, sporadis, pengecut, dll. lalu orang yang mati binasa dalam serangan seperti itu langsung digelari: Mujahid Syahid Akbar fil ‘alam. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kalau memang mujahid sejati, bersikaplah layaknya laki-laki. Jangan seperti kaum banci kaleng. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wallahu yuhibbul muqsithiin” (dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat adil).

[G] 3. Mujahidin menyerang orang-orang yang beribadah di dalam masjid. JAWABAN: Coba kalian baca dan renungi ayat ini, ” Alloh Ta’ala berfirman: apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu DIMANA SAJA KAMU JUMPAI MEREKA. (QS. 9:5)

Jadi perlu kalian ketahui larangan membunuh orang-orang musyrik kafir itu tidak terkait dengan tempat tapi masa haram 4 bln yaitu dari 10 zulhijjah hingga 10 rabiulakhir. Inipun dengan catatan mereka tidak memerangi mujahidin.

Berangkat dari ayat yang mulia inilah mujahidin akan terus mengejar, mengintai, dan membunuh orang-orang kafir musyrik dimanapun meerka berada hatta jikapun mereka bergelanyut di tirai ka’bah, mujahidin tetap akan membunuh mereka jika dipandang mereka perlu dihabisi. Karena rumusnya sederhana, “Perang terjadi (dikobarkan) ditempat adanya musuh”. Mudah-mudahanan kalian faham!

KOMENTAR: Disini kegilaan Si Takfiri ini semakin menjadi-jadi, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Takfiri ini sudah merampas hak-hak ajaran Islam, lalu dia sembunyikan di balik ketiaknya, lalu dia injak-injak ajaran itu sehina-hinanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Wahai Takfiri, ketahuilah apabila engkau benar-benar berhujah dengan Syariat Allah, bahkan kamu mengkafirkan manusia atas dasar Syariat Allah itu sendiri. Ketahuilah wahai Takfiri, posisi kita dalam Syariat Islam hanyalah sebagai: Thalib (pelajar), ‘amil (pengamal), dan sebagai muballigh (penyampai). Kita tidak boleh mencampuri otoritas Allah dan Rasul-Nya, atas hukum yang mereka tetapkan.

Adapun pemahaman kamu tentang Surat At Taubah ayat 5 itu, dimana dengan dalil itu kamu menghalalkan perang total atas kaum musyrik dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun. Ini bukan Syariat Islam. Ini adalah Syariat buatan kalian sendiri, yang jelas-jelas menyelisihi Syariat Allah dan Rasul-Nya. Disini terbukti dengan jelas, bahwa kalian bukan pembela Syariat Allah, tetapi malah perusaknya. Na’udzubillah min dzalik.

Wahai Takfiri, kamu harus bersikap adil dalam menetapkan hukum-hukum Jihad Fi Sabilillah. Adapun tafsiran kamu yang memutlakkan hukum Jihad terhadap kaum musyrikin, itu tak sesuai dengan ajaran Islam.

Pertama, surat At Taubah yang kamu jadikan dalil, ia turun berkaitan dengan sikap musyrik Makkah yang menodai dan melanggar perjanjian Hudaibiyyah. Ketika musyrik Makkah melanggar janji, maka tidak ada faidahnya memegang isi perjanjian Hudaibiyah. Allah sendiri yang membatalkan perjanjian itu, sehingga Surat At Taubah juga dikenal sebagai Surat Al Bara’ah (Pemutusan Hubungan/Perjanjian).

Kedua, jihad terhadap kaum musyrikin tidak berlaku secara mutlak, tetapi tergantung kondisi kaum Muslimin sendiri. Kalau kuat, silakan berjihad, kalau lemah bersabar dulu. Itu terbukti, selama di Makkah Nabi Saw tidak menetapkan hukum Jihad. Tidak ada musyrik Makkah mati atas nama Jihad ketika Nabi Saw masih dakwah di Makkah.

Ketiga, hukum Jihad itu sendiri berlaku ketika kaum Muslimin sudah memiliki kedaulatan atas hukum Allah dan Rasul-Nya. Kalau belum, sifatnya dakwah dan ishlah. Kecuali kalau kaum Muslimin diperangi, maka mereka boleh berjihad untuk membela diri (difa’iyyah). Ini sudah diakui oleh para jumhur ulama.

Keempat, seorang Muslim -meskipun mengaku sebagai Mujahidin- kalau melakukan serangan kepada kaum musyrikin, dimanapun dan kapanpun orang musyrik itu dijumpai, tanpa dilandasi kedaulatan hukum Allah, tanpa dilandasi petunjuk amir-amir kaum Muslimin, tanpa dilandasi pertimbangan kekuatan Ummat; maka perbuatannya bukan jihad, tetapi agressi ilegal yang sifatnya haram, munkar, dan bathil.

Bahkan perbuatan seperti itu bisa dikategorikan dengan perbuatan membuat fitnah di muka bumi. Pelakunya menurut hukum Islam boleh dihukum mati, dipotong kaki-tangannya secara bersilangan, disalib sampai mati di tiang kayu. Setidaknya, perbuatan seperti itu harus dicegah karena efeknya akan sangat menyulitkan kehidupan Ummat.

Kelima, dalil Syariat yang sangat TERANG-BENDERANG perlu dibaca oleh Si Takfiri dan kawan-kawan. Lihatlah saat Futuh Makkah! Ketika itu sudah turun Surat At Taubah ayat 5 tersebut. Ketika itu Rasul Saw dan para Shahabat Ra. berhasil menguasi Makkah dan menaklukkan penduduknya. Saat Futuh Makkah, masih banyak orang-orang Makkah yang masih musyrik, belum masuk Islam. Ingat, semua ini terjadi dengan kondisi: Hukum Allah sudah berdaulat, kaum Muslimin sudah menang, orang Makkah sudah tertunduk dalam kekalahan. Tetapi Rasul Saw tidak membunuhi kaum musyrikin Makkah itu, seperti ambisi konyol Abu Khataf dan kawan-kawan.

Anda mau bukti, bahwa Nabi Saw tidak membunuhi kaum musyrikin yang sudah dikalahkan itu? Buktinya ialah saat Perang Hunain. Dalam perang itu, banyak kaum musyrikin, termasuk pembesarnya ikut berperang di pihak kaum Muslimin. Lalu mereka diberi bagian harta ghanimah besar oleh Nabi Saw agar mau masuk Islam.

Apakah itu wahai Takfiri yang kalian maksudkan dengan Jihad total menumpas kaum musyrikin? Kalian menyalahi jalan Nabi kalian sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[H] 4. Perbuatan itu ( tafjir masjid mapolres cirebon) mafsadatnya lebih besar dari manfa’atnya bagi kaum muslimin, dakwah tauhid dan mujahidin sendiri. JAWABAN: Syubhat manfa’at dan mafsadah ini adalah warisan turun temurun dari orang-orang yang sebenarnya tidak menginginkan tegaknya jihad kecuali jika sudah sesuai dengan planing and strategy kelompok mereka. Untuk itu biarlah jawaban dari subhat ini kita berikan kepada ahlinya, yaitu Syaikh Nasr bin Hamd al Fahd yang dikutib oleh Syaikh Aiman adz-Dzowahiri dalam kitab at-tabriah hal 144.

Syaikh Nasr menjawab subhat ini dengan mengatakan: “Benar memang suatu perintah kalau kerusakannya lebih besar daripada maslahatnya, maka tidak disyariatkan saat itu. Akan tetapi ada 2 hal yang perlu diperhatikan : 1. Mafsadah ataupun manfaat yang di maksud adalah mafsadah atau manfaat hakiki syar’i bukan angan-angan atau dugaan. 2. Sesungguhnya kelompok yang paling layak dan utama untuk memandang/menentukan manfaat dan mafsadah dalam jihad mereka adalah mujahidin, bukan qo’idun yang tidak mengerti bagaimana cara memegang pistol.” Kalian faham wahai pemuja maslahat dan mafsadat???

Kalian faham bahwa orang yang tidak pernah berdebu di dalam jihad fiesabilillah, tidak pernah memenggal kepala orang kafir atau menembakkan sebutir peluru ke arah orang-orang kafir tidak layak ngoceh masalah mafsadah atau maslahat dalam jihad??! Tapi sayang… Hari ini banyak orang-orang yang lancang mengambil suatu urusan yang bukan menjadi haknya.

KOMENTAR: Kita sering rancu dalam menetapkan urusan mashalat-madharat ini. Memang kaidah maslahat-madharat sangat mendominasi penetapan hukum. Tapi tunggu dulu, ia adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan IJTIHAD kaum Muslimin. Kalau dalam hukum ibadah, hukum aqidah, serta perbuatan-perbuatan yang nyata-nyata FASAD, tidak berlaku ketetapan maslahat-madharat ini. Kaidah maslahat-madharat itu misal berlaku dalam urusan makanan, bisnis, rumah-tangga, profesi, sekolah, dll. yang berhubungan dengan hajat Ummat.

Dalam Jihad bisa juga dipakai kaidah itu, tetapi yang mengoperasikan kaidah tersebut haruslah ulama, fuqaha’, ahlu syura, amir kaum Muslimin, komandan Islam, dll. Ia bukan barang pasaran sehingga bisa dipakai oleh siapa saja, sesuai ambisi hawa nafsunya. Na’udzubillah min dzalik.

Taruhalah, kita menerima pandangan Si Takfiri, bahwa kaidah itu lebih layak dioperasikan oleh kaum Mujahidin. Misalnya demikian. Lalu pertanyaannya? Siapa yang disebut Mujahidin? Apakah kaum Takfiri yang memutlakkan hukum Jihad atas kaum musyrikin, dan tidak mengerti adab-adab Jihad, mereka layak disebut Mujahidin? Oh nanti dulu. Orang seperti ini sih ngaku-ngaku sebagai mujahidin, padahal dia belum tammat belajar kaidah-kaidah Jihad itu sendiri. Bagaimana disebut mujahidin, ngebom di masjid malah dibela? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bila nanti terjadi lagi pengeboman di masjid, maka Si Takfiri dan kawan-kawan ini akan ikut memikul dosanya. Sebab mereka sudah menanam saham dalam perbuatan aniaya/fasad. Masjid disucikan oleh kaum Muslimin, tetapi di tangan Si Takfiri dkk., masjid bisa dianggap sebagai sasaran serangan. Masya Allah. Ini adalah kesesatan yang nyata.

Itulah salah satu ciri Khawarij. Ghuluw di satu persoalan, dan ghuluw dalam mengingkari persoalan itu di persoalan lain. Katanya mereka membela Syariat Allah, tetapi masjid-masjid Allah yang dilindungi Syariat, malah hendak dikobarkan fitnah di dalamnya.

[Mohon dimaafkan sebesar-besarnya, khususnya kepada Ust. Aman Abdurrahman. Saya telah menyangka beliau dengan sangkaan keliru. Mohon dimaafkan. Astaghfirullah min kulli dzanbi wal khathi’ah. Amin].

============== Lanjutan tulisan sebelumnya =================

[I] 5. Jubir mereka mengatakan “tindakan itu diharamkan karena tidak sesuai dengan kaidah fiqh jihad”. JAWABAN: Wahai pak jubir kenapa anda jadi sewot?? Coba tunjukkan dalil dari Al Qur’an, Sunnah,Ijma’ dan aqwal salaf tentang keharoman membunuh/mengebom anshor thoghut (polisi) kalau memang pak jubir merasa diatas al haq.

Coba tunjukkan kaidah fiqh jihad yang mana yang tidak sesuai dengan amaliyah istisyhadiyah tersebut jika pak jubir merasa faham dengan kaidah fiqh jihad. Apakah harom yang pak jubir maksud adalah menurut kitab jama’ah anda?? Maka kalau itu yang pak jubir maksud mungkin saja pak jubir benar.

Mungkin kata-kata ana terlalu kasar untuk pak jubir, itu dikarenakan pak jubir tidak memiliki belas kasihan dan pembelaan sama sekali terhadap pelaku yang keislamannya tsabit dan tujuannya jelas sebagaimana tertulis dalam wasiat pelaku yang dipublikasikan sendiri oleh jubir thoghut.

Seandainya pak jubir lebih hati-hati dalam menjaga lisan, tentu kami juga akan lebih hati-hati dalam menjaga lisan kami terhadap pak jubir, insyaAlloh. Seandainya pak jubir mau merinci haromnya dimana dengan dalil-dalil syar’i dan juga dimana tidak sesuainya dengan kaidah fiqh dengan perincian yang syar’i tentu kami juga akan menjawab dengan perincian yang syar’i, insya Alloh.

Ketahuilah wahai pak jubir, antara kita ada Al Qur’an, assunnah, ijma’ maka mari kita kembalikan perbedaan kita kepada dalil. Mudah-mudahanan isyarat singkat ini bisa pak jubir fahami. Wahai Rabb yang memahamkan Sulaiman, fahamkanlah saudaraku pak jubir..

KOMENTAR: Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semakin banyak bicara, semakin kelihatan kebodohan Si Takfiri ini. Dia hanya semakin menelanjangi dirinya sendiri. Allahu Akbar.

Wahai Takfiri, kalau kamu sangat mengagungkan Jihad Fi Sabilillah, maka kamu harus membuktikan bahwa dirimu adalah manusia yang paling mengerti aspek-aspek Jihad itu sendiri. Jangan kamu mengklaim sebagai Mujahidin, tetapi dirimu JAHIL dari konsep Jihad Islami.

Disini ingin dijelaskan sedikit tentang konsep Jihad Fi Sabilillah, agar kamu dan kawan-kawanmu mengerti. Semoga Allah memberikan kita ilmu, hidayah, dan taufiq. Allahumma amin.

Pertama, Jihad dalam Islam berdiri di bawah naungan Kepemimpinan Islam yang melaksanakan Syariat Islam. Ia serupa seperti amal-amal Islami lain yang didasari legalitas hukum Islam. Dalilnya mudah, Syariat Jihad dilaksanakan oleh Rasulullah Saw ketika di Madinah, dan tidak dilaksanakan ketika masih dakwah di Madinah.

Kalau kebijakan baitul maal, penarikan zakat, jizyah, ghanimah perang, fai, penetapan hukum pidana Islam, dilaksanakan setelah hukum Syariat tegak; apalagi dengan hukum Jihad Fi Sabilillah. Maka tidak heran jika di masanya Khalifah Umar Ra melakukan perluasan wilayah Islam. Hal itu diikuti oleh pemimpin-pemimpin Islam selanjutnya.

Kedua, amalan Jihad itu bukan amalan individu, tetapi selalu merupakan amalan kolektif. Tidak bisa setiap orang seenaknya mengobarkan Jihad, meskipun dia hanya seorang diri (seperti pelaku-pelaku bom bunuh diri itu). Amal Jihad di masa Nabi Saw dan para Shahabat Ra selalu merupakan amal kolektif, bukan amal perorangan. Nabi Saw selalu bermusyawarah dengan para Shahabat sebelum melakukan perang.

Ketiga, suatu operasi Jihad tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, atau sporadis, tetapi harus atas petunjuk amir Mujahidin, atau amir kaum Muslimin. Para Shahabat Ra tidak pernah melakukan operasi, serangan, atau ekspedisi, tanpa ijin dan perintah Rasul Saw. Dalam hal pentingnya mematuhi perintah amir, Ibnu Taimiyyah berdalil dengan hadits tentang safar. Setiap safar beberapa orang, salah satu harus ditunjuk sebagai amir safar. Kalau dalam safar berlaku hukum ketaatan kepada amir, apalagi dalam Jihad?

Si Takfiri menanyakan apakah ada dalil yang melarang ngebom anshar thaghut? Justru ini menandakan betapa dangkalnya pemahaman ilmu Si Takfiri ini. Wahai Takfiri, bila terjadi perjanjian damai antara Ummat Islam dengan orang musyrik (seperti dalam Perjanjian Hudaibiyyah), hal itu sudah cukup sebagai dalil larangan kita melanggar kesepakatan yang sudah dilakukan dengan musuh-musuh (yang kamu sebut anshar thaghut itu). Disini kan berlaku firman Allah, “‘aufuu bil ‘uquud” (penuhilah akad-akad kalian -wahai orang beriman-).

Rasulullah Saw selalu memenuhi janjinya, termasuk kepada Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah, melalui perjanjian Piagam Madinah. Bahkan Nabi Saw memenuhi amanah orang musyrik yang menitipkan barang-barang kepada beliau, ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Apakah ini tidak cukup sebagai dalil, bahwa kita tidak boleh menyerang orang-orang yang sudah berada dalam perjanjian dengan kita, meskipun dia adalah orang kufur harbi. Bahkan orang-orang kafir yang meminta perlindungan kepada kita (kerap disebut musta’min) mereka haram untuk dizhalimi.

Kalau memang tidak tahu soal Jihad, Anda jangan membuat fatwa atau pandangan atau opini yang nanti justru menyesatkan Ummat. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lil muslimin.

[J] 6. Kelompok-kelompok islam berkumpul pada tgl 18 april 2011 mereka menyatakan kesamaan sikap mengutuk dan mengharamkan peledakan di cirebon. JAWABAN: Sungguh memalukan sekali apa yang kalian lakukan ini.. Kalian bersegera tergopoh-gopoh membela thoghut saat mereka sedikit tertimpa musibah !!

Ana bertanya kepada kalian: Dimana kalian ketika DR. Azhari dibantai oleh thoghut didepan mata kalian??? Dimana kalian saat 3 mujahid di eksekusi regu tembak thoghut didepan mata kepala kalian??? Dimana kalian saat kaum muslimin di poso dibantai thoghut juga didepan mata kalian? Dimana pembelaan kalian saat al akh Nurdin, Jabir, Urwah, Ibrahim, dan ikhwan-ikhwan di aceh diberondong peluru thoghut tanpa ampun di depan mata kepala kalian??? Bukankah mereka kaum muslimin??? Bukankah mereka haram darahnya untuk ditumpahkan??? Adakah kalian berkumpul seperti yang kalian lakukan saat ini untuk menyatakan sikap pembelaan??? Tapi lihatlah kalian saat ada segelintir thoghut yang terluka, kalian segera berkumpul dan segera menyatakan baro’ kalian terhadap aksi tersebut dan bersimpati dengan luka-luka si thoghut. Demi Alloh, telah nampak kemunafikan kalian dengan apa yang kalian lakukan !! Ya Alloh, saksikanlah.. Kami baro’ terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu..

KOMENTAR: Disini Si Takfiri semakin goyang kepalanya, dia semakin pusing dengan angan-angan dan obsesi perang yang membabi-buta. Mungkin diperlukan beberapa orang untuk memegangi tubuh Si Takfiri, agar kepalanya tidak membentur tembok.

Wahai Takfiri, sikap mengecam pemboman oleh Syarif di Cirebon itu adalah bagian dari nahyul munkar. Perbuatan munkar ya harus diingkari. Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Islam itu adalah dalam rangka pengingkaran tersebut.

Lagi pula, kalau aksi ngebom di masjid dibiarkan, nanti kaum Muslimin tak akan mau datang ke masjid, karena khawatir ada ledakan bom. Bahkan bisa jadi, selanjutnya masjid akan dijadikan SASARAN EMPUK penyerangan-penyerangan. Kalau itu terjadi, maka orang seperti Si Takfiri ini yang akan memikul dosanya di sisi Allah. Bahkan orang seperti Si Takfiri ini layak dihukum seberat-beratnya, karena dia telah menghalalkan perbuatan menodai kesucian masjid.

Si Takfiri ini merasa seolah hanya dirinya sendiri yang peduli dengan isu seputar aksi-aksi kekerasan. Padahal kaum Muslimin sejak Bom Bali I sudah membentuk TPF untuk mencari fakta, di bawah MUI. Hanya karena isu seperti ini sudah jadi satu paket dengan kebijakan luar negeri AS, maka kekuatan lembaga-lembaga Islam tidak sebanding dengan lobi AS dkk.

Kalau kaum Muslimin peduli, bukan berarti membenarkan tindakan Azahari, Nurdin, Jabir, Urwah, dll. yang melakukan serangan-serangan bom ke target sasaran sipil di negeri seperti Indonesia ini. Tidak demikian. Kita menolak tindakan seperti itu. Kalau mau Jihad, ya serius berjihad. Jangan main-main dengan tindakan seperti itu. Bina kekuatan diri, fisik, iman, ekonomi, politik, persenjataan, dll. sebelum akhirnya berjihad yang sebenarnya.

Jihad bom-boman secara sporadis itu kan hanya akan mengundang SERANGAN BALIK kaum kuffar yang sangat pedih ke tengah-tengah kaum Muslimin. Kalau Mukmin sejati, pasti akan menghindari cara-cara pengecut seperti itu. Sekali kaum kufar menerima bom kecil, mereka lalu balas melemparkan rudal besar ke tubuh Ummat. Lama-lama ya ambruk Ummat ini, karena kebodohan orang-orang yang berkedok Mujahidin.

Lalu Si Takfiri menuduh kaum Muslimin sebagai munafik. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ya sudahlah, terserah apa saja yang ingin kamu sampaikan. Toh, setiap ucapan kelak akan ditimbang di sisi Allah Al ‘Alim.

Intinya, Si Takfiri dan kawan-kawan melakukan jihad bom-boman yang tidak dicontohkan oleh Nabi Saw. Kemudian jatuh korban di pihak pelaku dan sasaran. Lalu kita disuruh membenarkan perbuatan itu, dan disuruh tidak simpati kepada korban yang jadi sasaran.

Wahai Takfiri, kesulitan ini kan kalian sendiri yang membukakan pintu-pintunya. Malah kalian bukakan juga pintu-pintu kesulitan bagi kaum Muslimin yang lain. Kalau kalian menderita akibat kesulitan yang kalian buat sendiri, seharusnya kalian menyesali diri kalian sendiri. Mengapa harus marah ke orang lain, lalu menuduhnya munafik?

[K] Ana cukupkan tanggapan tentang suara-suara sumbang yang tidak berperikeikhwanan dalam menyudutkan pelaku bom cirebon, sebenarnya masih sangat banyak nada-nada sumbang yang kami dengar.. Biarlah semua itu menjadi bumbu pelezat dalam perjuangan..

Terakhir ana tujukan kata-kata ini untuk ikhwan-ikhwan mujahidin ‘amilin fiesabilillah, siapapun dan dimanapun kalian berada. Kepada mereka yang mencintai Alloh dan Alloh pun mencintai mereka. Mereka yang adil, lembut dan sayang kepada orang-orang mukmin dan keras, tegas serta ganas terhadap orang-orang kafir.

Kepada mereka yang terus berusaha menghidupkan ibadah jihadiyah baik dalam kondisi sempit ataupun lapang.. Kepada mereka yang tidak pernah menghiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci dan bualan orang-orang yang suka membual.. Kepada mereka ana ucapkan Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha jihadiah yang kalian lakukan.

Demi Alloh, kalian telah -menjadi perantara Alloh- untuk membuat kami tertawa dan senang atas mengalirnya darah dari satu kelompok yang telah -dengan ijin Alloh- mengalirkan banyak darah mujahidin, seperti yang kalian ketahui…

Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha kalian yang telah membuat luka kelompok yang telah banyak melukai saudara kalian.. Jazakumulloh khayran jaza’ kepada kalian yang telah membuat menangis kelompok yang juga telah membuat menangis anak_anak saudara kalian karena abi-nya ditangkap, disiksa dan dibunuh didepan mata kepala mereka, seperti sudah maklum bagi kalian…

Demi Alloh… DemiAlloh kami ridho dengan apa yang kalian lakukan meskipun banyak orang lain yang tidak ridho dengan apa yang kalian lakukan, maka tutuplah telinga dan mata kalian dari orang-orang yang tidak menginginkan jihad kalian..

Cukuplah Alloh bagi kalian.. Demi dzat yang telah meluluh lantakkan pasukan abrahah, kalian berperang bukan karena jumlah, kekuatan atau bilangan, tapi kalian berperang karna dien ini yang Alloh muliakan kita denganya..

Inilah keyakinan pendahulu kalian komandan perang mu’tah Abdullah ibnu Rawahah, maka peganglah erat-erat wasiat pendahulu kalian. Jangan kalian terlalu berharap meraih kemenangan sempurna, mengharap daulah/khilafah tegak pada jaman kita karena hal itu adalah perkara yang ghoib yang hanya diketahui Alloh .

Yang harus kalian yakini menurut ana adalah bahwa kita adalah generasi ‘tumbal’ tegaknya kejayaan islam, maka bergembiralah wahai generasi “tumbal”.. “JIKA KALIAN TDK MALU SILAHKAN LAKUKAN APA YG KALIAN INGINKAN”

KOMENTAR: Wahai Takfiri, kamu tidak boleh mendukung kesesatan, dan menjadi penyebar kesesatan itu sendiri. Paham Jihad yang kamu yakini itu keliru, harus diperbaiki. Sesuatu yang salah tidak boleh disebar-luaskan ke tengah masyarakat kaum Muslimin.

Seseorang yang menyebarkan bid’ah, dan sangat keras kepada dengan bid’ah-nya, berhak untuk diberikan sanksi kepadanya. Di antaranya sanksi boikot, agar dia kembali kepada kebenaran.

Di antara dosa besar kaum Takfiri ialah: mereka membunuh, merusak kehormatan, menimpakan musibah dan fitnah kepada kaum Muslimin. Bagaimana itu terjadi, padahal mereka tidak menyerang kaum Muslimin atau membunuhnya? Ya itu tadi, kaum Takfiri menyerang sasaran-sasaran tertentu, lalu pihak yang mereka sebut thaghut balik menyerang kaum Muslimin secara intensif, massif, dari segala penjuru. Takfiri memprovokasi, lalu musuh mereka menyerang Ummat Islam secara membabi-buta. Nah, perbuatan provokasi itu bisa dinilai sebagai bentuk pembunuhan atau penghancuran kolektif kepada Ummat Islam.

Berhati-hatilah wahai Takfiri, disini tampak bahwa amal perbuatan kalian mengandung dosa-dosa yang tak terkira besarnya. Luruskan hati kalian untuk kembali kepada Allah, bukan melayani kesesatan.

Satu hujjah sederhana yang perlu direnungkan oleh Takfiri dan kawan-kawan, bahwa: Rasulullah Saw sebagai amir Mujahidin hakiki, beliau tidak pernah mengajarkan Jihab bom-boman secara pengecut seperti itu! Jadi kaum Takfiri dalam hal ini mengikuti jalan bid’ah mereka sendiri. Jalan demikian tentu sangat jauh dari thariqah Abdullah bin Rawahah Ra.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 27 April 2011.

AM. Waskito.



Apakah Allah Itu Batu?

Agustus 16, 2010

Seorang pembaca, Saudara Ahmad, baru-baru ini memberi link tentang tulisan provokatif dari situs “kebebasan faith” yang sudah dikenal luas di kalangan netters Muslim. Saudara Ahmad merasa berduka hatinya membaca tantangan orang kafir yang sangat arogan dan membuat fitnah di muka bumi itu. Orang kafir tersebut menantang Ummat Islam, agar membuktikan bahwa Allah itu bukan Hajar Aswad, bahwa Allah itu bukan batu.

Situs ini sudah lama dikenal. Bertahun-tahun silam, saya pernah ikut sedikit perdebatan dengan orang-orang kafir ini di forum MyQuran. Tetapi karena gaya debatnya sangat zhalim, ya tidak mau dituruti. Biarkan saja dia terus bergelimang kezhaliman, sampai Allah menurunkan bencana baginya, bagi usahanya, bagi keluarganya, bagi orang-orang mereka cintai. Demi Allah, mereka tidak aman berjalan di muka bumi, berlayar di atas air, tidak aman terbang di udara, bahkan tidak aman dalam tidurnya. Hidupnya dikepung ketakutan hebat, karena memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Gambar Hajar Aswad. Sumber Eksistensi Spiritual Agama Kafir: Kedengkian!!! Kacian deh...

Dalam Surat Al Hujurat (kalau tidak salah) diberikan kaidah besar dalam debat dengan orang-orang kafir. Wa jaadilhum billati hiya ahsan, illal ladzina zhalamu minhum (berdebatkan dengan mereka dengan cara yang baik, kecuali terhadap orang-orang zhalim di antara mereka). Para pengelola situs “kebebasan faith” itu termasuk yang zhalim. Hukumnya sederhana: (1) Jangan layani debat mereka; (2) Doakan mereka agar dibinasakan oleh Allah Ta’ala; (3) Larang orang-orang Muslim yang awam dan lemah iman membaca tulisan-tulisan fitnah mereka.

Oh ya, kembali ke “TANTANGAN” orang kafir ini, agar kita membuktikan bahwa Allah itu bukan Hajar Aswad, bahwa Allah itu bukan batu, bahwa Muslim selama ini bukan menyembah batu.

Jawabnya begini saja:

[1] Dalam setiap Surat Al Qur’an, kecuali di depan Surat At Taubah (atau Al Bara’ah) selalu didahului kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim“. Artinya, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita tidak pernah disuruh membaca kalimat “Dengan nama hajar aswad yang maha pengasih dan maha penyayang.” Tidak ada kalimat seperti itu, baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah. Yang ada hanya, bismillahirrahmaanirrahiim.

[2] Setiap seseorang mau masuk Islam, wajib membaca Syahadat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” (Aku bersaksi tiada Ilah yang haq disembah, selain Allah. Dan aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah Rasul Allah). Kita tidak pernah sekali pun diperintah membaca kalimat seperti ini: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, selain hajar aswad.” Tidak ada sama sekali ajaran seperti itu. Tidak ada sama sekali, alias nihil sempurna.

[3] Dalam berbagai ayat Al Qur’an, Allah itu disifati sebagai: Rabbul ‘alamiin (Rabb alam semesta); Maaliki Yaumid Diin (Rajanya Hari Pembalasan); Rabbus samawati wal ‘ardh (Rabb Pencipta langit dan bumi); Rabbun naas (Rabb-nya manusia); Ilahin naas (Ilah-nya manusia); Khaliqul jinnati wan naas (Pencipta jin dan manusia), dan lain-lain. Tidak ada satu pun ayat atau Sunnah yang mengatakan, bahwa: “Allah itu hajar aswad.” Tidak ada sama sekali. Itu nol besar, nol se-nol nol-nya. Lalu dari mana orang kafir menyebut Allah itu sama dengan hajar aswad? Ya, tidak lain selain dari kebodohan mereka sendiri, kedunguan akalnya, serta kedengkian hatinya yang sangat amat keji. Wong ilmunya tidak ada seperti itu, mereka buat “ilmu” sendiri sesuai sabda syaitan yang mereka ikuti.

[4] Lalu bagaimana dengan Hajar Aswad (batu hitam)? Bagaimana posisinya dalam Islam? Disini saya sebut beberapa hadits/riwayat yang menjelaskan, bahwa Hajar Aswad itu makhluk berupa batu hitam, dan tidak mengandung kekuatan mistik seperti yang disangka orang-orang kafir itu.

Shahabat Umar bin Khattab Ra., dalam suatu kegiatan thawaf di Ka’bah, beliau pernah mencium Hajar Aswad, sambil berkata: “Wahai batu, engkau hanya batu biasa. Tidak bisa memberi manfaat atau kerugian. Kalau bukan karena aku telah melihat Rasulullah menciummu, aku tak akan mau mencium-mu.” Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, insya Allah. Dalam pembahasan mencium Hajar Aswad, hadits ini sering dikemukakan.

[5] Dulu ketika Rasulullah Saw belum menjadi Nabi. Waktu itu terjadi banjir di Makkah. Akibat banjir, bangunan Ka’bah rusak parah. Karena Makkah dan Ka’bah sudah lama menjadi pusat ritual masyarakat Arab, mereka bertekad untuk memperbaiki lagi Ka’bah tersebut. Hebatnya, untuk perbaikan Ka’bah ini, orang Arab jahiliyyah hanya mau memakai uang bersih, bukan uang dari hasil perbuatan dosa. Luar biasa! Padahal mereka masih jahiliyyah, Nabi pun belum diutus sebagai Rasul. Nah, di akhir-akhir pembangunan Ka’bah itu, masih tersisa satu celah yang belum ditutup. Masyarakat Makkah waktu itu sudah kesulitan untuk mencari tambahan batu. Tiba-tiba ada sebuah batu tambahan yang datang tidak diketahui asalnya. Itulah batu Hajar Aswad yang orang-orang Makkah merasa paling berhak memasukkan batu itu ke celah bangunan Ka’bah tersebut. Nanti, akhirnya Muhammad muda yang memasukkan batu itu ke lubang Ka’bah dengan tangannya sendiri. Hikmah yang bisa dipetik disini: Kemunculan Hajar Aswad sejak peristiwa renovasi Ka’bah tersebut. Kalau ia dianggap sebagai Allah, lalu kemana dong Allah Ta’ala sebelum renovasi itu? Apakah Allah baru muncul sejak renovasi Ka’bah tersebut? Ini sangat menggelikan. Bagaimana manusia bisa merenovasi Ka’bah, sementara Allah tidak ada ketika itu?

[6] Sudah menjadi Sunnah Nabi Saw, kalau beliau Thawaf di Ka’bah, beliau selalu menyempatkan diri mencium Hajar Aswad. Bisa dilakukan di awal Thawaf (putaran 1), bisa juga di akhir putaran (putaran ke-7). Namun di akhir hayatnya, Nabi Saw sakit-sakitan. Beliau tidak mampu thawaf secara normal, melainkan berada di atas punggung onta. Saat itu beliau tidak mencium Hajar Aswad dengan hidungnya. Tetapi Nabi cukup memegang Hajar Aswad dengan ujung tongkat beliau, sembari beliau berada di atas kendaraan.  Kita pun boleh melakukan itu. Kalau tak mampu mencium, dan ada peluang memegang dengan ujung tongkat, tak apa dilakukan seperti Nabi. Kalau Hajar Aswad dianggap sebagai Tuhan, masak boleh dipegang dengan ujung tongkat? Jelas itu tidak sopan. Hajar Aswad hanya makhluk biasa, berupa batu warna hitam.

[7] Fakta yang jarang diketahui orang, tetapi sering dibahas oleh ahli sejarah, seputar benda-benda arkheologis Islam. Hajar Aswad itu katanya pernah dicungkil sekelompok orang sesat dari golongan Qaramithah. Hajar Aswad dicungkil dari Ka’bah, dan sempat vakum mengisi Ka’bah, kalau tidak salah sampai 20 tahun. Jadi Ka’bah pernah blank tanpa Hajar Aswad selama batu itu dicungkil oleh kaum sesat Qaramithah, dan mereka sembunyikan. Kalau Hajar Aswad ini Tuhan, bagaimana bisa “Tuhan” menghilang selama puluhan tahun? Pemikiran seperti ini hanya dagelan saja.

[8] Fakta lain lagi yang perlu Anda tahu. Hajar Aswad yang kita kenal selama ini, semula sempat pecah karena dipecah oleh kaum sesat Qaramithah, semoga Allah melaknat mereka. Kemudian pecahan-pecahan batu itu dikumpulkan, lalu disusun kembali, dengan bantuan lem yang amat sangat kuat. Wallahu A’lam saya tak tahu lem apa yang dipakai untuk menyatukan pecahan-pecahan batu Hajar Aswad tersebut. Hajar Aswad yang kita kenal selama ini tidak seasli di masa Nabi dulu. Kalau Hajar Aswad disebut “Tuhan”, masak bisa dipecah dan di-lem ulang?

[9] Begitu pula, Ka’bah yang berbentuk kotak itu juga bukan Tuhan kaum Muslimin. Ka’bah ini adalah al Qiblah, atau arah menghadap kaum Muslimin dalam Shalat. Kita tidak boleh meyakini Ka’bah sebagai Ilah (sesembahan), itu adalah kemusyrikan. Rabb kita adalah Allah, yang disifati: Rabbu hadzihil bait (Rabb Pemilik rumah ini, yaitu pemilik Ka’bah). Ka’bah itu makhluk, sama seperti bangunan-bangunan lain. Namun ia memiliki kemuliaan melebihi bangunan yang lain. Ia disebut sebagai Baitullah al Haram (Rumah Allah yang mulia). Kemuliaan Ka’bah bukan karena bentuk atau substansi materinya, tetapi karena ia dipilih oleh Allah sebagai bagian dari Syi’ar agama-Nya di muka bumi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Masjid Nabawi, yang dimuliakan karena ia masjid yang sangat erat kaitannya dengan jejak perjuangan Nabi Saw dan para Shahabat di Madinah.

Untuk membuktikan bahwa Ka’bah adalah makhluk, bukan Tuhan, ada beberapa argumentasi menarik: Pertama, Ka’bah ini pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Tidak mungkin Tuhan dibangun oleh tangan manusia. Iya kan? Apa ada Tuhan yang dibentuk oleh tangan manusia, lalu ia disembah pula oleh manusia? Kedua, Ka’bah itu beberapa kali mengalami kerusakan akibat banjir, sehingga harus direnovasi. Kadang renovasi dilakukan secara sengaja, seperti yang terjadi di masa kepemimpinan Abdullah bin Zubair Ra. Mungkinkah Tuhan bisa direnovasi? Ketiga, Ka’bah itu bisa dimasuki oleh manusia. Kalau seorang Muslim shalat di dalam Ka’bah, dia boleh menghadap kemana saja. Itu menandakan, fungsi inti Ka’bah ialah sebagai arah hadap dalam shalat. Keempat, Ka’bah itu saat-saat tertentu diperbaiki, dibersihkan, diganti kain Kiswah-nya. Untuk tujuan itu, petugas kadang naik ke atas bangunan Ka’bah. Mungkinkah ada Tuhan bisa dinaiki sampai ke atasnya?

Singkat kata, Ka’bah ini makhluk Allah, seperti makhluk-makhluk lain. Hanya ia memiliki kemuliaan karena menjadi Syi’ar Allah di muka bumi. Kemuliaan Ka’bah bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena KONEKSI-nya dengan simbol-simbol kebesaran agama Allah di muka bumi. Apapun yang dipilih oleh Allah mulia, pasti mulia; apapun yang dihinakan oleh Allah, seperti Freemasonry, kekafiran, dan orang kafir, pasti hina.

Jadi intinya, saudaraku rahimakumullah jami’an, Hajar Aswad itu makhluk Allah, sama seperti batu yang lain. Kalau pun dia lebih mulia dari batu yang lain, karena Allah ijinkan dia mulia, dan Nabi Saw mencintainya. Tanpa perkenan Allah dan tanpa teladan Nabi dalam mencium-nya, Hajar Aswad tidak memiliki apa-apa. Persis seperti kata Umar bin Khattab Ra, Hajar Aswad hanya batu biasa, tidak bisa memberi manfaat atau merugikan diri.

Apapun yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya, ia akan mulia. Apapun yang dihinakan Allah dan Rasul-Nya, ia hina. Ini prinsipnya. Persis seperti seekor anjing milik salah satu anggota Ashabul Kahfi. Ia menjadi anjing paling mulia, karena menjadi milik seorang wali Allah.

Seorang Muslim, jelas tidak boleh menyembah Hajar Aswad. Kalau menyembah Hajar Aswad, dan menempatkannya sebagai Ilah yang disembah; jelas mereka musyrik dan diharamkan syurga baginya. Muslim itu Ibadullah (hamba-hamba Allah); bukan Ibadul hajar, hamba-hamba batu, apapun jenis batunya.

Semoga bermanfaat. Dan jangan ditanggapi soal “tantangan orang kafir”. Mereka hanya mempermalukan dirinya sendiri. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Seputar ESQ dan Islam

Juli 30, 2010

Berikut ini sebuah makalah yang dipublikasikan secara berseri oleh http://www.suara-islam.com. Makalah ini masih menyoroti tentang konsep ESQ yang beberapa waktu lalu diberikan fatwa sesat oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi bin Wan Teh. Melalui pembacaan langsung terhadap buku ESQ karya Bapak Ary Ginanjar Agustian, disana didapati bukti-bukti ketidak-sesuaian pemikiran ESQ dengan ajaran Islam. Selamat membaca, semoga bermanfaat!

1. Konsep ESQ Memang Bermasalah I.

2. Konsep ESQ Memang Bermasalah II.

3. Konsep ESQ Memang Bermasalah III.

4. Konsep ESQ Memang Bermasalah IV.

Hasil kajian dalam makalah ini berbeda dengan pandangan Prof. Dr. Din Syamsuddin, Prof. Dr. Said Agil Siradj, Menteri Agama, dll. yang menganggap konsep ESQ baik-baik saja. Disana ada masalah-masalah serius yang mestinya menjadi perhatian kita semua.

Namun bagi manajemen ESQ, hal demikian janganlah membuat mereka patah arang untuk mengembangkan usaha di bidang training SDM. Teruskan saja hal-hal yang positif, misalnya memperkuat konsentrasi di bidang character building, memperbaiki mentalitas (EQ), menerapkan prinsip etik dalam bisnis, dan sebagainya. Hal-hal yang positif dan tidak berbenturan dengan prinsip-prinsip Islam, silakan diteruskan.

Pesan terakhir, untuk eksis dalam kehidupan kontemporer sungguh tidak mudah. Tetapi tidak berarti kita harus berpikir PLURALIS agar diterima dalam lingkungan INDUSTRI. Dari pengalaman selama ini, siapa yang sengaja memakai “baju pluralisme” dalam rangka mencari keridhaan pelaku-pelaku industri yang mayoritas sekuler dan terpengaruh Freemasonry itu; biasanya akan tersungkur. Lebih baik, kita berdiri di atas prinsip-prinsip Islam yang stabil dan jelas, meskipun resikonya harus maju secara perlahan.

Siapapun yang membeli Pluralisme, akan dibela oleh komunitas Freemasonry CS. Tetapi sebaliknya, akan ditinggalkan oleh Allah Ta’ala. Dan suatu saat, mereka akan juga ditinggalkan oleh kaum Freemason itu, sebab orang-orang itu ya punya kepentingan sendiri juga. Tidak mungkin terus-menerus akan membantu orang pluralis.

Layak direnungkan ayat berikut ini:

Surat Ali Imran ayat 28.

Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka, dengan meninggalkan orang-orang beriman lainnya. Dan siapa yang melakukan perbuatan itu, fa laisa minallahi syai’un (dia tidak akan mendapat apapun dari sisi Allah). Kecuali, jika mereka ketakutan atas tekanan kekerasan oleh mereka (orang kafir). Dan Allah memperingatkan kalian dengan atas diri-Nya. Dan kepada Allah dikembalikan segala sesuatu.” (Ali Imran: 28).

Siapapun yang sengaja mengambil orang kafir sebagai sekutu dengan meninggalkan orang-orang beriman, mereka akan terputus dari segala karunia, rahmat, pertolongan, dukungan, barakah, dan segala kebaikan dari sisi Allah. Maka usaha apapun yang rela menjadi pluralis, dengan meninggalkan prinsip-prinsip Islam, mereka akan terkena konsekuensi dari ayat ini. Apakah bisnis, partai politik, sekolah, media, perguruan tinggi, atau apapun, yang menjadi pluralis; mereka pada dasarnya hanya membuang pertolongan Allah semata.

AMW.