AIR MATA PENYESALAN…

November 20, 2015

Pemuda itu dari Gorontalo Sulawesi. Keluarga besarnya Muhammadiyah.
.
Ayah-ibunya sudah wafat. Sejak kecil sampai dewasa dipelihara KAKAKnya. Sang kakak pula yang membiayai sekolah, sampai tamat SMA.
.
Entah mendapat pengaruh dari mana, dia tiba-tiba ingin nyantri di Pesantren Pusat LDII, Burengan Kediri. Di markas KAUM KHAWARIJ besar di Asia Tenggara (seperti Al Zaytun Indramayu & NII-nya, sama-sama Khawarij).

Setelah Kakak Wafat...

Setelah Kakak Wafat…

.
Kalau Khawarij klasik anti berbuat bohong. LDII beda. Di dalamnya banyak dakwah cabul, mempermainkan agama, juga membolehkan kriminalitas. Di sana ada slogan “oleh nyolong pokoke ora konangan”.
.
Hanya setahun pemuda itu ngaji di Burengan Kediri. Tapi dampaknya hebat. KAKAK dan keluarganya dia KAFIRKAN. Padahal sang kakak itu pula yang membiayai keperluan dia.
.
SAMPAI suatu ketika sang kakak wafat karena kecelakaan. Pemuda itu diberitahu dan diminta mengurusi jenazah kakaknya. DIA TIDAK MAU, karena meyakini kakaknya sudah KAFIR. Inna lillah…
.
Orang-orang LDII sering berkilah “para pembela kebenaran selalu ditolak dan dimusuhi”. MASALAHNYA: Kebenaran yang mereka klaim itu tak terbukti; dan yang memusuhi mereka bukan orang kafir, tapi kaum Muslimin yang mereka zhalimi. Bagaimana mungkin orang zhalim terus beralasan seperti itu? Aneh.
.
Pemuda itu 10 tahunan menjadi dai LDII. Banyak menyebarkan paham KHAWARIJ yang sering disebut “anjing anjing neraka”.
.
Siapapun yang menjadi Khawarij, hancurlah amal-amalnya. Kata Nabi Saw: “Yamruquna minad dini ka maa yamruqu as sahmu minar romiyah” (mereka melesat keluar dari agama ini seperti melesatnya panah dari busurnya). Bayangkan saja betapa sangat CEPATNYA amal-amal mereka hancur-lebur.
.
Suatu ketika, atas HIDAYAH Allah, pemuda itu sadar dari kekeliruan. Awalnya dia tak terima dengan kewajiban “setor 10% penghasilan” agar mendapat SYAFAAT NUR HASAN UBAIDAH, sang pendiri Islam Jamaah. Bukan SYAFAAT NABI, tapi Nur Hasan. (Apa ini termasuk ajaran Islam?).
.
Wal hasil, alhamdulillah dia sadar & bertaubat dari kekeliruannya. Dia merasa plong setelah lepas dari ajaran SESAT-MENYESATKAN.
.
Dia kemudian mendatangi makam kakaknya. Dia peluk nisan makam itu dalam derai air mata membanjir. Dia tak tahu harus berkata apa. Dia menyesal dan amat menyesal telah mengabaikan hak-hak sang kakak, yang telah mengambil tugas orangtuanya. Hingga di saat kematian, sebatas memberikan hak terakhir, menshalatkan sang kakak, tidak dia berikan.
.
SEMOGA tetes-tetes air mata penyesalan yang jatuh di makam itu, menjadi sebab sampainya rahmat & ampunan Allah kepada sang kakak di alam kubur. Amin Allahumma amin.
.
==> Paling aneh dari LDII, ciri-ciri Khawarij mereka kental sekali. Tapi kalau mengkafirkan kaum Muslim, dia sering berdalih “mereka itu kafir, khawarij, anjing-anjing neraka”. Aneh, siapa lagi yang KHAWARIJ?

(WeStand).

Iklan

DI BALIK KISAH DZULQARNAIN

November 20, 2015

Selama ini kaum Muslimin modern banyak yang takut kepada Mesiah Dajjal dan segala konspirasinya. Di antara kita banyak yang merindukan agar SEGERA DATANG Al Mahdi dan Nabi Isa As.

Mungkin karena sudah lelah berjuang, akhirnya bersandar pada HARAPAN dan KERINDUAN. Padahal di balik kisah Dzulqornain (Raja yang memakai mahkota dua tanduk); ada rahasia kekuatan melebihi Dajjal.

Hanya saja, perlu dilakukan sejumlah pengkajian dan pendalaman. Perlu dihadirkan sekian petunjuk, riwayat-riwayat, analisa, telaah atas fakta-fakta sejarah. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(WeAre).


MASALAH IRJA’ ITU SANGAT BESAR

September 30, 2015

Banyak orang berprasangka buruk, menuduh, atau memfitnah sebuah Dewan Fatwa ulama dunia terkait fatwa “blacklist” ke seorang tokoh tertentu. Bukan cuma ustadz kecil yang kena telunjuk mereka, sampai dewan ulama global pun disikat. Mungkin, itulah buah dari “berkah ilmu”. Astaghfirullah…
==
Coba kami beri gambaran sederhana tentang masalah Irja’ (paham Murji’ah) ini. Meskipun asalnya, ini tidak sederhana.
==
Salafus Shalih (Rasulullah Saw & Khulafaur Rasyidin Ra) sepakat tentang wajibnya menegakkan hukum Syariat dalam kehidupan negara. Hal itu merupakan konsekuensi IMAN mereka. Dan kita pun mengetahui itu lewat amal mereka.
==
Bila ada insan SALAF yang enggan melaksanakan Syariat, ada dua kemungkinan: dia fasik atau munafik. Keduanya bisa berakibat rusaknya iman.
==
Sedangkan perbuatan seperti: a. Menyingkirkan hukum Allah; b. Menghalangi hukum Allah; c. Memberantas hukum Allah; d. Membendung hukum Allah; e. Menetapkan hukum non Islam sebagai ganti hukum Allah. Semua ini termasuk AMAL KEKUFURAN. Ia berlawanan dengan IMAN dan AMAL Salafus Saleh.
==
Tapi di zaman masa kini ada tokoh yang membawa konsep aneh. Semua perbuatan (menyingkirkan Syariat) itu tidak masuk kekufuran, selama pelakunya TIDAK JUHUD (menolak Syariat), TIDAK TAKDZIB (mengklaim hukum manusia datangnya dari Allah), dan TIDAK ISTIHLAL (menghalalkan yang haram).
==
Di zaman Salafus Salih, orang yang memusuhi Syariat hukumnya diperangi; tapi dalam konsep baru itu, si pelaku bisa diakui tetap sebagai Muslim. Maka konsep itu pun DICINTAI REZIM SEKULER DI SELURUH DUNIA.
==
Ini tidak jauh dari pandangan kaum LIBERAL yang membatasi Syariat hanya pada urusan pribadi. Atau kaum Shufi yang fokus soal ibadah ritual. Atau Snouck Hurgronje yang melarang Islam bicara politik, ekonomi, kekuasaan. Ujungnya ke sana. Tapi penampilan khas “ahli ilmu”.
==
Konsep bid’ah yang tidak ada landasan dari Salafus Shalih itu SANGAT BERBAHAYA. Ia bisa menyingkirkan Syariat dari muka bumi; dan menghalalkan segala bentuk hukum non Islam.
==
KENAPA? Karena perbuatan “menyingkirkan Syariat Islam” dianggap boleh. Pelakunya tidak divonis kafir, selama TIDAK JUHUD, TIDAK TAKDZIB, TIDAK ISTIHLAL.
==
Misal ada penguasa yang menghapus hukum Syariat dan menetapkan hukum lain. Dia ditanya: 1. Apa Anda menolak hukum Islam? Jawab: “Tidak. Saya mengimani kok. Tapi saat ini menurut saya lebih tepat pakai hukum lain.” 2. Apa Anda klaim hukum Anda itu dari Allah? Jawab: “Demi Allah, ini hukum akal saya sendiri. Bukan dari Allah.” 3. Apa Anda menghalalkan yang haram? Jawab: “Tidak. Kami larang apa yang dilarang hukum Islam. Hanya saja kami larang berdasar sains, bukan iman ke Syariat.”
==
Nah dengan model jawaban seperti itu, maka Syariat Islam bisa disingkirkan dari muka bumi; dan hukum jahiliyah bisa berlaku di mana-mana.
==
Oh ya, paham Irja’ dalam hukum itu MASIH SATU PAKET dengan: konsep Ulil Amri sekuler, selama KTP Muslim. Itu seperti dua sisi mata uang.
==
DEMIKIANLAH… Maka paham Irja’ (Murji’ah) dalam hal PENETAPAN HUKUM sangat membahayakan agama dan kehidupan insan.
==
Maka di sana ada fitnah yang bercokol di hati-hati manusia. Akibat sikap buruk kepada fatwa Dewan Ulama dunia. Nas’alullah al ‘afiyah. Wallahul Musta’an.

(WeLook).


Lebih Baik Jadi Muslim Awam, Jika…

Agustus 30, 2015

Lebih baik menjadi Muslim awam, tetapi hatinya ada cinta (mawaddah) dan sayang (rahmah) ke sesama Muslim. Lalu dia membawa cinta itu sampai saat wafatnya.

Daripada Anda punya banyak ilmu, hafal kitab-kitab, hafal qaul ulama, mahir dalam segala medan perdebatan; tetapi di hati tersimpan BENCI dan DENDAM ke sesama Muslim.

Bila Anda wafat sambil membawa dendam ke sesama Muslim, duh sangat berat hisab yang akan Anda dapatkan nanti. Bisa-bisa amal Anda hancur lebur karena BENCI dan DENDAM itu.

Wafatlah Sambil Membawa CINTA ke Sesama Muslim

Jangan Engkau Wafat Melainkan Membawa CINTA ke Sesama Muslim

 

INILAH karakter Nabi kita Saw terhadap Ummatnya: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri; terasa berat baginya penderitaan kalian; sangat mengharapkan keselamatan kalian; dan terhadap orang-orang Mukmin sangat santun dan penyayang.” (At Taubah: 128). Maka tidak heran jika sampai akhir hayatnya, Nabi Saw terus gelisah, “Ummati ummati.

Dalam ayat lain: “Muhammad Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya -para Shahabat Ra- sangat tegas kepada kaum kafir dan sangat pengasih kepada sesamanya -Muslim-.” (Al Fath: 29).

Bahkan disebutkan doa khas para Shahabat Ra: “Rabbana ampuni kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan. Dan jangan adakan dalam diri kami kedengkian kepada orang-orang Mukmin. Rabbana sesungguhnya Engkau Maha Santun lagi Maha Pengasih.” (Al Hasyr: 10).

Mengapa setelah kita mengenal ilmu, mengenal Sunnah, mengenal Tauhid; justru malah tumbuh dengki dan permusuhan ke sesama Muslim? Ini sangat aneh. Pasti ada yang salah di sini.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengucapkan kaidah agung. Kata beliau: “Ahlus Sunnah hum a’lamu bis shawab wa arhamu lil khalqi” (Ahlus Sunnah itu lebih tahu tentang kebenaran, dan lebih pengasih kepada makhluk).

BUKAN berarti kita harus jadi awam terus. Tidak. Karena para ahli ilmu punya keutamaan besar. Hanya saja, hiasi pemahaman ilmumu dengan akhlakul karimah. Inilah jalan Ahlus Sunnah sejati. Ingat, kaum Khawarij disesatkan karena mereka KRISIS KASIH SAYANG ke sesama Muslim. Ingat itu ya.

INGAT juga, bila seseorang telah biasa mendengki dan memusuhi sesama Muslim; seringkali dihiaskan dalam hatinya kegemaran pada permusuhan itu. Na’udzubillah min dzalik.

Wal akhiru, Rasulullah Saw bersabda: “Irhamuu man fil ardhi, yarhamakum man fis sama’” (kasihi siapa yang di bumi, akan mengasihimu siapa yang di langit -Allah dan para Malaikat-).

Semoga manfaat. Wallahu a’lam bis shawaab.

(GreenLeaf).


Ajaran Islam Memudahkan…

Agustus 10, 2015

SYAIKH Al Qaradhawi pernah mengatakan, tabiat Syariat itu MEMUDAHKAN. Bukan mempersulit.
==
Kata Aisyah Ra, jika Nabi dihadapkan dua pilihan, beliau akan mengambil yang LEBIH RINGAN, selagi keduanya sama-sama halal.
==
Misal, dalam safar. Meskipun boleh saja shalat secara lengkap. Sah. Tidak masalah. Tapi lebih utama qashar. Shalat yang empat rakaat dikerjakan dua rakaat.
==
Khalifah Umar Ra, kurang suka jika ada pelaku dosa-dosa pribadi mesti dihukum HAAD. Kata beliau, andai si pelaku mau, dia sembunyikan dosanya, lalu bertaubat atasnya. Daripada dia mengaku, lalu meminta diberi sanksi hukuman.
==
Para Mujahidin telah lama membuang doktrin TAKFIRI. Mereka tidak lagi semena-mena dalam menetapkan takfir umum kepada siapa pun. Bahkan mereka rela mati demi membela kaum Muslimin yang hidup di negara-negara sekuler (bahkan negara kafir).
==
Syaikh Atiyatullah Al Libi rahimahullah pernah menyebut sebuah kaidah: “Membebaskan 100 orang dari vonis kafir (lalu diakui sebagai Muslim), lebih ringan daripada memvonis 1 orang benar-benar Muslim sebagai kafir.”
==
SALAH dalam memberikan hak kepada orang yang sebenarnya tidak berhak; lebih ringan daripada mencabut hak dari orang yang sebenarnya dia berhak.
==
Hayati prinsip ini, karena ia sangat penting. Billahi taufiq wal huda.

(DeepHeart).


Dialog Ulama tentang Madzhab…

Juli 15, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

* Mendiang ulama asal Suriah pernah cerita tentang pengalamannya dialog dengan seorang ulama hadits yang kerap dituduh “anti madzhab”.
* Menurut cerita, sang ulama Suriah menang, sedang ulama “anti madzhab” tak berkutik. Dari mana kita tahu? Ya dari penuturan ulama Suriah itu dalam bukunya.

Kaligrafi Legenda Sudah Ada Sejak Dulu

Kaligrafi Legenda Sudah Ada Sejak Dulu

* KUNCI debat ini adalah sebuah pertanyaan: “Kalau kita mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, apakah itu artinya orang awam harus memutuskan hukum langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah?”
* Hanya saja, atas takdir Allah, pertanyaan ini belum terjawab dalam debat madzhab itu. Tugas kita di sini menjelaskan yang samar jadi terang, bi idznillah.
* Kata para pendukung “wajib madzhab” hanya para Mujtahid yang berhak mengambil hukum; selain mereka, apakah awam atau penuntut ilmu tak berhak.
* JAWABAN 1: Masalah agama itu beragam, dari yang sederhana sampai yang rumit. Nah, setiap Muslim berperan dalam agama sesuai kapasitasnya. Misal, untuk MENGAJAR IQRA’ Anda tak perlu nunggu jadi Mujtahid dulu.
* JAWABAN 2: Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyebutkan kaidah tafsir. Kata beliau, ada ayat-ayat yang tidak diketahui maknanya selain oleh Allah saja; ada ayat yang hanya diketahui maknanya oleh ulama; ada ayat yang hanya diketahui oleh orang Arab asli yang paham aspek bahasanya; ada ayat yang MANUSIA TIDAK DIMAAFKAN kalau sampai dia tidak paham. Kaidah ini berlaku dalam tafsir, dan bisa jadi dalam ilmu-ilmu Islam lainnya.
* JAWABAN 3: Contoh ilmu yang mudah dipahami, dalam ayat: “Aqimus shalata wa atuz zakata.” Atau dalam ayat: “Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam.” Atau dalam ayat: “Innad dina ‘indallahil Islam.” Atau dalam ayat: “Lakum dinukum wa liya din.” Tidak perlu jadi Mujtahid untuk paham ayat-ayat ini.
* JAWABAN 4: Untuk menjelaskan Rukun Islam ada 5, Rukun Iman ada 6, bacaan salam, bacaan adzan, bacaan iqamat, tata cara wudhu, rukun-rukun shalat, pembatal shaum, rukun nikah, tata cara merawat jenazah, dll. tak perlu jadi Mujtahid dulu. Juga untuk jelaskan teori-teori dasar Nahwu Shorof, juga tak perlu menunggu fasih seperti Ibnu Aqil, Ibnu Mandzur, Syibawaih, dll.
* JAWABAN 5: Allah menurunkan ayat-ayat dan Sunnah adalah agar menjadi “HUDAN LIN NAAS” (petunjuk bagi semua manusia); bukan “hudan lil mujtahidin”. Kita mengambil agama ini sesuai kapasitas masing-masing. Sekali lagi, agama ini untuk rahmat alam semesta, bukan “monopoli segelintir orang”.
* JAWABAN 6: Anda ingat kisah ketika Khalifah Umar dan putranya -radhiyallahu ‘anhuma- menguji seorang penggembala, agar dia menjual dombanya atau berbohong kepada pemilik domda. Si gembala itu menolak sambil berkata “fa ainallah” (kalau begitu, dimana dong Allah?). Mengapa Khalifah tidak bertanya begini: “Mana ijazahmu sebagai Mujtahidin? Mana sanad ilmumu?” Ya karena memang agama ini universal, menjadi rahmat bagi sekalian alam. Manusia mengambil agama ini sesuai kapasitas masing-masing.
* JAWABAN 7: Ketika di tengah Ummat tersebar ilmu seputar Kitabullah dan Sunnah, lalu marak amal-amal shalih. Ternyata ada yang keberatan, karena tersebarnya ilmu itu tidak berlabel madzhab-madzhab. Seolah kondisi “kembali kepada Kitabullah dan Sunnah” dianggap bencana. Padahal aslinya, sebelum muncul madzhab-madzhab, Syariat Islam awalnya TIDAK BERMADZHAB. Islam “tidak bermadzhab” lebih tua usianya, karena itulah CORAK KEISLAMAN ERA NABI SAW DAN PARA SHAHABAT RA. Coba jawab: madzhab apa yang dianut Nabi dan para Shahabat?
* JAWABAN 8: Partisipasi Umat ini dalam beragama, misalnya menuntut ilmu, membaca buku, membaca media, mendengar ceramah, diskusi, bertanya ke ulama, mengamalkan fatwa, belajar agama formal, jadi santri, berdakwah, mengajar ilmu, dll. Semua ini adalah bagian dari MENGIKUTI IMAM MADZHAB. Mengapa dikatakan begitu? Karena perbuatan-perbuatan itu dulu DICONTOHKAN OLEH IMAM MADZHAB. Aneh jika hal-hal demikian dianggap menentang madzhab.
* JAWABAN 9: Sungguh Ummat ini masih punya etika. Tidak mungkin mereka NEKAD BERKATA untuk hal-hal rumit yang bukan kapasitasnya. Sebagai contoh, kami berkali-kali ditanya tentang BPJS, dan kami tidak tahu duduk masalah itu. Maka kami pun tidak memberi jawaban tegas. Lha kalau memang tidak tahu, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kita akan MENEROBOS lorong-lorong yang kita tak mengetahuinya. Seperti dalam ayat: “Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun” (jangan ikuti apa-apa yang engkau tak tahu ilmunya).
* JAWABAN 10: Sangat terkenal kisah Imam Syafi’i, setelah pindah ke Mesir, beliau banyak mengubah pendapatnya. Padahal itu hanya pindah dari Irak ke Mesir. Bagaimana jika agama ini telah melintasi semua benua dan samudra, melalui masa ribuan tahun? Apa kira-kira tidak memungkinkan pendapat-pendapat ini akan berubah? Kita sebut 10 contoh yang tidak ada di zaman imam madzhab: negara Muslim nasionalis sekuler, pemilu demokrasi, bank, transportasi udara, mata uang kertas, komunikasi telepon, pendidikan formal SD-sarjana, internet, media massa, transaksi mesin, dll. Hal-hal yang baru ini sangat mungkin akan mengubah pendapat imam-imam madzhab itu; seperti halnya pendapat Imam Syafi’i berubah hanya karena beliau berpindah domisili dari Irak ke Mesir.
* JAWABAN 11: Seandainya yang boleh berpendapat tentang agama adalah para Imam Mujtahidin saja; lalu siapa yang pantas menjadi Imam Mujtahidin di era kita sekarang ini? Adakah seorang ulama sekelas imam-imam besar masa lalu yang pendapatnya diakui semua kelompok? Jika tidak ada, apakah berarti riwayat agama ini sudah berakhir? Subhanallah wa subhanallah…
* JAWABAN 12: Dulu ada imam-imam Mujtahidin, dan sekarang peran mereka sudah digantikan oleh dewan-dewan ulama di setiap negara Muslim. Maka sejauh kita patuh dengan sebagian besar fatwa-fatwa ulama tersebut (kalau di Indonesia disebut MUI, kalau di Mesir Darul Ifta’, kalau di Saudi Hai’ah Kibaril Ulama); maka kita telah mengikuti imam-imam madzhab Mujtahidin.
* JAWABAN 13: Para imam madzhab telah menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa DASAR HUKUM SYARIAT adalah: Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan ada yang menambahkan Qiyas Shahih (analogi). Jadi kalau kita beragama dengan berdasar dalil-dalil ini, kita sudah benar dan sudah selaras dengan teladan para imam madzhab tersebut. Seperti prinsip yang diajarkan oleh seorang ulama: “Kita beragama mengikuti dalil-dalil.” Kalau sudah berjuang mengikuti dalil, nah itulah yang diharapkan.
* JAWABAN 14: Para ulama madzhab sendiri menjelaskan prinsip-prinsip yang hebat, agar kita konsisten mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Imam Abu Hanifah berfatwa dengan dasar Al Qur’an dan As Sunnah; kalau tidak menemukan jalan keluar, beliau menerapkan Qiyas (analogi); dengan ini beliau dikenal sebagai “ahlur ra’yi”. Imam Malik sangat terkenal dengan ucapannya: “Semua perkataan boleh diambil atau ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini (sambil menunjuk pusara Rasulullah SAW).” Imam Syafi’i terkenal dengan kata-katanya: “Kalau sudah sah sebuah hadits, maka itulah madzhabku.” Dan Imam Ahmad terkenal dengan sikapnya, menghukumi suatu perkara dengan hadits Nabi SAW, daripada dengan logika, meskipun itu adalah hadits dhaif. Para imam ini mengarahkan kita konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, karena keduanya bersifat pasti, tidak diragukan, dan akan mengangkat khilaf di antara Ummat (insya Allah).
* JAWABAN 15: Menjawab pertanyaan pokok di atas: “Apakah orang awam atau penuntut ilmu boleh mengambil hukum sendiri langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah?” Jawabnya ternyata sangat mengejutkan, yaitu: TIDAK PERLU!!! Mengapa dikatakan tidak perlu? Karena ilmu agama telah tersebar, pengetahuan Islam sudah ada dimana-mana, ribuan para ulama sudah berjihad dan berijtihad memudahkan kita dalam belajar agama. Produk-produk ilmu agama sudah sangat mudah diperoleh, dipahami, disebarkan. Ini adalah RAHMAT ALLAH yang besar bagi Ummat ini. Anda bisa memahami kerumitan hukum-hukum agama semudah membaca buku-buku cerita. Kita tak perlu lagi susah payah menggali hukum sendiri, tapi sudah banyak ulama, guru, ustadz, kyai, dai, penulis, murabbi, dan sebagainya yang mengajarkan ilmu-ilmu itu. BAHKAN sangat tidak mungkin kita akan mengambil hukum-hukum agama langsung dari Kitabullah dan As Sunnah; karena kita bukan ORANG PERTAMA yang menerima ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah. Kita adalah generasi sekian ratus setelah generasi Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Tidak ada manusia di zaman sekarang yang bisa mengambil hukum langsung ke Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau ada yang mengklaim itu, dia pasti seorang PENDUSTA atau “dajjal”.
* Sebagai contoh mudah. Misalnya di sebuah Madrasah Ibtidaiyah atau TPA diajarkan bahwa rukun shalat itu begini dan begitu, rukun wudhu begini dan begitu, rukun puasa begini dan begitu. Ketika ada anak TPA bisa menyebutkan rukun shalat dengan benar, jangan Anda berkata kepadanya: “Wah kamu hebat ya, kamu sekelas Mujtahidin, seperti Imam Syafi’i.” Jangan dikatakan begitu. Karena dia cuma seorang pelajar yang menerima ajaran agama dari guru-gurunya; gurunya dari gurunya lagi; dan seterusnya sampai nanti muara ilmu itu kembali ke zaman Salafus Shalih. Kembalinya ilmu ini ada yang rapi dalam bentuk sanad, ada juga yang tidak rapi (random).
* Mari tugas kita kini di zaman seperti ini adalah MENSYUKURI KARUNIA ALLAH dalam bentuk tersebarnya ilmu yang mudah, meluas, dan dapat dipraktikkan dengan segera. Kehidupan ilmu yang sudah maju dan berkembang ini, jangan mau DIKEMBALIKAN KE ZAMAN SULIT di masa lalu. Terimalah kemudahan dari Allah Ar Rahiim dengan penuh syukur kepada-Nya. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
* Wallahu a’lam bisshawaab.

(WeAre).


Sudut Pandang Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah

Juli 15, 2015

* Kami tidak tahu pasti alasan di balik penyusunan kitab fiqih ibadah berjudul “Bulughul Maram min Adillatil Ahkam” karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani tersebut.
* Tapi kami tahu bahwa kitab itu menjadi rujukan kaum Muslimin di Al Irsyad, Persis, Pesantren Gontor, dan tentu saja kalangan Salafi. Untuk kalangan NU, kitab ini tampaknya kurang dipakai. Wallahu a’lam.
* Kami hanya mampu membuat analisa berdasar asumsi-asumsi umum saja. Smoga tidak meleset dari kebenaran, amin.
* ASUMSI 1: Ibnu Hajar sangat paham bahwa kaum Muslimin pemahaman fiqihnya tersegmen dalam beberapa madzhab. Jika madzhab Zhahiri dimasukkan, jadi ada LIMA MADZHAB Ahlus Sunnah.
* ASUMSI 2: Ibnu Hajar mengetahui buruknya pengaruh fanatisme madzhab yang kemudian mengoyak KESATUAN UMMAT. Beliau pasti tahu itu. Fanatisme madzhab memunculkan sikap saling mencela, mentahdzir, menyesatkan, melarang nikah dan muamalah, membakar kitab, tidak mau mengambil ilmu, sampai kekerasan lewat tangan-tangan kekuasaan. Pasti Ibnu Hajar tahu realita itu.
* ASUMSI 3: Ibnu Hajar mengetahui bahwa fanatisme madzhab telah membuat ilmu tersebar hanya bagi kelompok terbatas saja. Kaum di luar madzhab tak mau mengambil ilmu dari selain madzhabnya. Padahal asal mula ILMU KENABIAN ITU UNIVERSAL. Seuniversal riwayat Nabi Saw ini: “Balighu ‘anni wa lau ayah” (sampaikan dariku meski sekadar satu ayat saja).
* ASUMSI 4: Ibnu Hajar pasti tahu riwayat shahih, ketika Nabi Saw membedakan tabiat manusia dalam menerima ilmu; ada yang seperti tanah subur (pintar menerima ilmu dan memahami); ada yang seperti tanah kapur (pintar menerima ilmu tapi sulit memahami); dan ada pula seperti tanah pasir (sulit menerima ilmu & gagal faham jua). Bukankah hadits itu menegaskan UNIVERSALITAS ILMU dalam Islam???
* ASUMSI 5: Ibnu Hajar pasti tahu kitab SHAHIH BUKHARI, SHAHIH MUSLIM, SUNAN ABU DAWUD, SUNAN AT TIRMIDZI, dan lain-lain. Bukankah kitab-kitab Sunnah ini diklaim sebagai MILIK UMMAT dan netral madzhab??? Apakah Imam-imam Sunnah itu menampakkan madzhabnya dalam kitab-kitab Shahih/Sunan mereka?
* ASUMSI 6: Ibnu Hajar pasti tahu salah satu perkataan Imam Syafi’i, bahwa: “ILMU ITU ADALAH QALALLAH WA QALA RASUL, selain keduanya adalah zhan (sangkaan).” Hal ini menegaskan bahwa rujukan ilmu para Imam adalah Kitabullah dan Sunnah. Dengan itu pula kita bertanggung-jawab kepada Allah SWT di akhirat nanti.
* Mungkin, dengan pertimbangan-pertimbangan begitu, Ibnu Hajar rahimahullah menyusun KARYA LINTAS MADZHAB, yang bisa digunakan oleh semua kaum Muslimin, tanpa membedakan madzhabnya.
* Seorang alim tentu menginginkan ilmunya TERSEBAR LUAS, menjadi amal jariyah ilmiah di tengah Ummat. Mereka pasti tidak akan rela jika ilmunya HANYA BEREDAR di kalangannya saja. Kita yakin itu.
* Nabi Saw pernah mengatakan: “Al Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaih.” Hadits ini tidak pernah berubah menjadi “al madzhabu fulan ya’lu wa laa yu’la ‘alaih“.
* Nah itulah, kitab monumental BULUGHUL MAROM MIN ADILLATIL AHKAM lahir dalam kesadaran penyusunnya, tentang pentingnya KEUTUHAN JAMAAH UMMAT. Di atas madzhab masih ada yang lebih utama, yaitu KESATUAN JAMAAH KAUM MUSLIMIN.
* Wallahu a’lam bis shawaab.

(OnCritic).