Nilai Kekuatan Uang

Desember 31, 2009

Uang, dana, atau harta itu sangat penting. Ia sangat menentukan. Gerakan apapun yang tidak ditopang oleh dana, pasti akan kalah. Termasuk gerakan kaum Muslimin yang menginginkan kemajuan hidup.

Sebagian orang bersikap negatif terhadap masalah harta-benda ini. Mereka berdakwah, berceramah, menyebarkan buku, tulisan, menggelar majlis taklim, dan lain-lain dalam rangka mengajak kaum Muslimin menjauhi urusan harta (dana).

Alasan mereka sangat klise, sudah berulang-ulang. “Ya Akhi, hendaklah Anda menjauhi dunia. Dunia itu di mata Allah lebih rendah dari bangkai binatang. Wahai Akhi, sibukkan dirimu dengan ilmu dan ibadah, lupakan harta-benda. Harta hanya akan menyusahkanmu di Akhirat nanti. Berzuhudlah terhadap dunia, kurangi mimpi-mimpi tentang harta, sibukkan dirimu dengan dzikir, ilmu, ibadah. Wahai Akhi, jangan tertipu oleh harta-benda. Semua itu akan membinasakanmu, membuatmu rakus, jauh dari Allah, membuatmu terlibat konflik dengan sesama saudaramu!” Dan nasehat-nasehat sejenis.

Banyak sekali orang berpikir salah-kaprah seperti itu. Itu adalah pemikiran-pemikiran yang salah dalam menempatkan. Zuhud dunia adalah benar, tetapi tidak di semua keadaan berlaku prinsip zuhud dunia. Misalnya, dalam transaksi muamalah dengan non Muslim, tidak berlaku kaidah Zuhud dunia.

Duit setumpuk... Mauk?

Saudaraku, demi Allah harta-benda itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum Muslimin. Mengapa? Sebab fitrah manusia itu LAHIR-BATIN. Batin manusia dicukupi dengan agama, lahirnya dicukupi dengan harta-benda (materi). Ini seperti dua sisi pada sekeping mata uang. Dimanapun berada, urusan kita tidak akan lepas dari urusan: agama dan harta (baca: urusan lahir-batin).

Coba pahami beberapa hal di bawah ini:

==> Ketika Ummat Islam fakir dari harta-benda, mereka tidak bisa mendirikan perusahaan-perusahaan. Akhirnya perusahaan didirikan oleh orang-orang kafir. Akibatnya, mereka bebas menentukan aturan apapun dalam perusahaan mereka, termasuk melarang karyawan memakai jilbab dan menjalankan Shalat.

==> Kalau seorang Muslim yang shalih memiliki harta, lalu mendirikan pabrik garmen. Insya Allah, dia akan memproduksi pakaian-pakaian yang baik, sopan, menutup aurat, atau setidaknya pakaian pantas. Tetapi kalau yang mendirikan pabrik garmen itu orang-orang yang memuja hawa nafsu, mereka membuat pakaian seksi-seksi, membuat pakaian amoral, dll sehingga akibatnya menyusahkan kita semua.

==> Ketika Ummat Islam fakir, maka mereka akan selalu mencari kerja, mencari penghasilan ke perusahaan-perusahaan tertentu, termasuk perusahaan milik non Muslim. Ya, bagaimana lagi, tidak ada perusahaan milik Muslim kok? Kalaupun ada, itu untuk keluarga mereka sendiri dan kawan-kawannya. Akhirnya, tenaga kaum Muslimin terpakai untuk membesarkan bisnis orang lain.

==> Ada ratusan ribu wanita Muslimah saat ini bekerja di luar negeri, sebagai TKW. Mereka bekerja seperti ini jelas membahayakan diri, keluarga, dan orang lain. Mereka bisa diperkosa, dianiaya, sampai dibunuh. Suaminya di rumah bisa selingkuh, anak-anaknya bisa terlantar. Bahkan keluarga majikannya bisa terjerumus seks haram, karena ada wanita lain di tengah-tengah keluarga mereka.

==> Ketika kaum Muslim fakir, media massa dikuasai orang-orang non Muslim atau sekuler. Media adalah sarana pendidikan juga. Saban hari masyarakat “dicuci otak” dengan informasi atau hiburan-hiburan rusak. Akibatnya, mereka pun lemah, semakin jauh dari agama.

==> Ketika Ummat fakir, mereka tidak bisa membuat perusahaan makanan, kue, snack, susu, biskuit, bumbu masak, dll. Semua diserahkan ke tangan non Muslim. Akibatnya, non Muslim bebas memberikan makanan-makanan berbahaya, mengandung pengawet, perasa, pewarna buatan, dsb. Untuk anak Muslim, kita tidak bisa menjaga asupan konsumsi yang sehat dan baik.

Ini adalah FAKTA yang ada di tengah-tengah masyarakat kita selama ini. Jangan berlagak pilon dengan mengatakan, bahwa harta-benda tidak dibutuhkan Ummat. Itu adalah pemikiran sesat yang harus dibuang dari akal Ummat ini.

Harta itu salah satu pilar ajaran Islam. Menjaga harta, menjadi 1 dari 5 prinsip dasar Syariat Islam. Harta sangat besar pengaruhnya bagi agama seorang Muslim. Contoh sederhana, ketika kurs rupiah anjlok, bisnis-bisnis Muslim banyak yang gulung tikar. Akibatnya, banyak orang menjadi pelaku kriminal, datang ke dukun, melakukan perbuatan syirik, menjual produk pornografi, melupakan shalat, terlilit rentenir, bahkan sampai ada yang murtad karena kesusahan ekonomi. Lihat saudara, akibat kurs rupiah turun, agama pun turun!

Lalu bagaimana dengan seruan Zuhud, meninggalkan dunia, mencintai Akhirat, tidak sibuk dengan harta-benda? Bukankah semua itu juga ajaran Islam?

Iya benar, semua itu ajaran Islam. Tapi jangan salah dalam menempatkan ajaran-ajaran itu. Kita harus menempatkan segala sesuatu pada PROPORSI-nya. Jangan dicampur aduk!

Harta itu memiliki setidaknya 4 fungsi, yaitu: (1) Kebutuhan fitrah; (2) Sarana kemudahan; (3) Fitnah; dan (4) Kekuatan.

Sebagai kebutuhan fitrah, setiap manusia membutuhkan harta, agar tetap survive dalam kehidupan. Tanpa harta, kita akan mati, atau kelaparan, atau sengsara, karena tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan hidup.

Sebagai sarana kemudahan (fasilitas), harta mempermudah urusan manusia. Manusia bisa kemana-mana dengan jalan kaki, tapi kalau memiliki harta bisa membeli motor. Manusia bisa menulis dengan tangan, tapi kalau memiliki harta bisa membeli komputer. Manusia bisa mengiris singkong secara manual, tapi kalau punya harta bisa membeli mesin pengiris singkong. Manusia bisa lebih mudah bekerja, belajar, memperbaiki rumah, bepergian, memasak, dan sebagainya dengan fasilitas yang dimiliki. Semua itu butuh harta untuk membeli fasilitas.

Sebagai fitnah, yaitu ketika nilai harta yang dimiliki seseorang jauh lebih besar dari kebutuhan layaknya, lalu orang itu sibuk dan terlena bermain-main dengan harta-bendanya. Nah, sikap seperti inilah yang sebenarnya dilarang dalam Islam.

Sebagai quwwah atau kekuatan, harta adalah penentu kemenangan dalam kompetisi antar keyakinan. Orang Yahudi memiliki slogan, “Dengan harta, kami bisa membeli apa saja.” Mereka bukan hanya membeli fasilitas, tetapi juga bisa membeli opini, hukum, jabatan, serangan militer, kebenaran ilmiah, bahwa fatwa keagamaan. Malah mereka bisa membeli “nyawa” manusia.

Cara mudah memahaminya sebagai berikut: “Untuk urusan kesenangan pribadi dan keluarga, silakan Anda bersikap zuhud sebaik-baiknya. Tetapi untuk urusan kemuliaan Ummat, dilarang kita bersikap zuhud, sebab sama saja hal itu dengan membiarkan Ummat tertimpa kefakiran, kelemahan, serta kerusakan iman.” Semua hal yang menyebabkan Ummat ini rusak, hukumnya haram.

Kaidah Zuhud itu beredar dalam masalah pribadi (privacy), bukan dalam konteks masyarakat kaum Muslimin. Secara pribadi, kalau seseorang ingin hidup semiskin-miskinnya, agar kelak di Akhirat hisabnya mudah, silakan saja, welcome man! Tetapi dalam konteks masyarakat Ummat Islam, wajib kita menguasai aset-aset kekayaan. Kalau kita tidak menguasai aset kekayaan itu, eksistensi agama kita tidak akan selamat dari rongrongan orang kafir.

Dalam Islam itu ada hukum ghanimah, baitul maal, zakat, nafkah, warits, shadaqah, diyat, dan sebagainya. Betapa banyak hukum-hukum seputar harta-benda. Sampai urusan susuan (radha’ah) diatur dalam Islam, padahal ini menyangkut hak-hak bnafkah bagi ayi. Ini menandakan, bahwa Islam sangat besar perhatiannya terhadap urusan harta-benda.

Kalau Anda saksikan, bagaimana wajah peradaban modern? Ya, kita sudah sama-sama tahu. Wajah dunia modern telah dikangkangi oleh selera Yahudi dan kepentingan mereka.

Lalu pertanyaannya, “Mengapa Yahudi begitu merajalela?”

Ya, karena mereka didukung oleh sumber dana yang amat sangat besar. Ada yang pernah menyebut harta milik Yahudi internasional saat ini sekitar 5000 triliun dollar. Entahlah, saya tidak tahu tepatnya. Andai benar jumlahnya senilai itu, ya wajar kalau mereka mampu membiayai jaringan New World Order di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Para Freemason dkk tidak akan kehabisan suplai dana untuk membiayai aksi-aksi mereka.

Sementara itu, dakwah kaum Muslimin baru beredar dalam urusan kencleng, sumbangan koin, pengumpulan zakat, infaq, shadaqah, bisnis kitab, bisnis minyak wangi, membuat mukena, kerudung, dan sebagainya. Alhamdulillah, sekarang ada item-item baru, misalnya sari korma, habbatussauda’, bekam, dan sebagainya.

Ya, tidak menyalahkan semua itu. Ini memang realitas. Tidak mengapa kecil dulu. Tapi prinsip dasar yang harus dipahami: “Wajib bagi kaum Muslimin memikirkan pertarungan kepemilikan aset ekonomi, untuk menjaga agama kita ini.

Tidak mengapa jualan kitab, minyak wangi, madu, dan sebagainya. Teruskan saja semua itu. Tapi mohon pahami masalah “pertarungan aset” itu. Siapapun yang paling menguasai aset, mereka akan berkesempatan membesarkan agamanya.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Rahasia Besar Kekalahan THE FED

Februari 4, 2009

Akhir tahun 2008 lalu Bank Sentral Amerika, The Federal Reserve, menurunkan suku bunga sampai level mendekati nol. Tepatnya di patokan 0,25 %. Biasanya The Fed (singkatan The Federal Reserve) memakai patokan 1,0 %. Saya tidak tahu, apakah nilai 0,25 % itu angka yang bersifat mutlak atau suatu nilai kisaran, tetapi demikianlah yang beredar di media. Keputusan The Fed menerapkan kebijakan “banting harga” itu disambut luas oleh masyarakat bisnis dunia. Seolah muncul kegairahan baru, setelah beberapa lama “pusing tujuh putaran” akibat Krisis Finansial Amerika. Alasan The Fed cukup logis, untuk menggairahkan sektor riil di Amerika. Barack Obama yang waktu itu belum dilantik menjadi US President, mendukung penuh kebijakan The Fed. Ya, bisa jadi ia adalah kebijakan kebijakan manis di sisa-sisa kepemimpinan George “The Shoe” Bush. (Saya masih suka terpingkal-pingkal kalau ingat Bush di-balang sepatu. Ho ho ho…).

Bagi sebagian besar kita, mungkin penurunan suku bunga The Fed tidak ngaruh. Bukan karena apa, tetapi tidak mengerti apa artinya? Padahal memahami hal seperti ini sangat penting agar kita tahu perkembangan bisnis global. Tujuannya bukan semata untuk urusan bisnis, tetapi mencermati segala dinamika yang bisa mempengaruhi kehidupan Ummat Islam. Disini saya ingin berbagi pengetahuan, mudah-mudahan bermanfaat menambah wawasan kita. Amin ya Karim. Setidaknya, biar nanti Anda tidak terlalu awam saat mendengar orang berbicara tentang “suku bunga The Fed” atau “BI rate”. Lagi pula, semua ini ditinjau menurut perspektif Islam, sesuai guidance hidup kita. Selamat membaca!

Memahami Sistem Perbankan

[o] The Federal Reserve adalah Bank Sentral Amerika. Disebut “The Federal” sebab lembaga ini dikelola oleh “Pemeritah Pusat” Amerika. Ingat lho, Amerika itu bentuknya “United” alias Federasi. The Fed serupa dengan Bank Indonesia (BI). Hanya pengaruh The Fed bersifat global, karena pengaruh ekonomi Amerika sendiri memang berpengaruh secara global. Hal itu muncul karena penggunaan mata uang dollar Amerika secara luas di dunia. Andai dollar hanya dipakai di Amerika, pasti negara itu tidak akan dominan secara ekonomi. [Sebab semua negara harus menyesuaikan transaksi perdagangan, keuangan, dan investasinya dengan mata uang dollar. Dengan sendirinya, dollar selalu dicari-cari. Seperi hukum ekonomi, makin banyak dicari, makin mahal harganya].

[o] Peranan The Fed menjadi sangat kuat ketika Amerika dilanda “gelombang Tsunami” Krisis Finansial yang sangat akut. Sama seperti di Indonesia dulu, ketika Krisis Ekonomi 1997. Waktu itu peranan BI sangat dominan. Salah satunya, waktu itu BI mengeluarkan kebijakan dana talangan hutang konglomerat, yang dikenal dengan nama BLBI. Istilahnya sangat lembut: Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Padahal makna sebenarnya: Negara harus tekor dana ratusan triliun rupiah untuk nomboki hutang para konglomerat terkutuk! [Itu arti sebenarnya! Karena orang Indonesia terkenal “santun bahasa”, perlu melembut-lembutkan istilah untuk kejahatan yang sangat keji]. Setelah Krisis Finansial, George Bush meminta Konggres Amerika meluluskan proposal untuk menalangi bank-bank Amerika yang bangkrut dengan suntikan dana sekitar US$ 700 miliar. Menurut prinsip Kapitalisme, campur tangan negara seperti usulan Bush itu HARAM AKBAR. Pejabat-pejabat IMF dan World Bank bisa “mati berdiri” hanya karena mendengar usulan “campur tangan” itu. Tapi karena terdesak, ya apa boleh buat? Mereka tidak malu menjilati ludahnya sendiri –yang kebetulan sudah terkumpul dua ember penuh-. Uni Eropa sendiri menyadari bahwa Krisis Finansial itu terjadi karena praktik Kapitalisme ekstrem. [Menurut agama Kapitalisme, negara tidak boleh ikut campur soal urusan ekonomi. Semakin liberal, semakin OK. Tetapi anehnya, pusat-puat Kapitalis seperti IMF, Bank Dunia, ADB, IGGI, CGI, dll. mereka 100 % mencampuri ekonomi bangsa-bangsa di dunia. IMF sendiri punya tim khusus, The Ecomic Hit Man (para tukang pukul ekonomi), yang kerjanya merusak ekonomi orang lain. Indonesia sendiri saat ini hancur karena disikat IMF tahun 1997 lalu].

Baca entri selengkapnya »


Di Balik Kolaps-nya MQ TV

Oktober 27, 2008

Baru-baru ini harian Surya memuat headline sangat sangat, TV Aa Gym Bangkrut. Itu ditulis besar-besar dan sangat menyolok. Menurut berita Surya ini, MQTV bangkrut sehingga harus mem-PHK 60 dari 63 karyawannya. Untuk membayar pesangon bagi 60 karyawan itu, manajemen MQTV mencari pinjaman senilai 1 miliar rupiah. (Surya, 21 Oktober 2008).

Saya tertarik mengomentari kasus ini, sebab dulu pernah menjadi orang MQ, kerja di bawah manajemen MQ, sejak awal 2002 sampai pertengahan 2003. Sekitar Juni 2003 saya keluar dari MQ dan memilih usaha mandiri, sampai saat ini. Sebagai mantan orang MQ saya pernah melihat pertumbuhan MQTV, dan disini ada hikmah berharga yang ingin disampaikan.

Setelah keluar dari MQ saya tidak lagi berkunjung atau mampir-mampir kesana. Tetapi kalau kebetulan bertemu teman-teman sekantor dulu, kita tetap saling tegur sapa, ramah-tamah, kadang ngobrol. Pendek kata, masalah keluar dari MQ adalah masalah pribadi saya, sedangkan pertemanan dengan teman-teman tetap dipelihara (meskipun tidak intensif lagi). Padahal berulang-kali teman-teman meminta saya mampir kesana, kalau ada waktu. Terus terang saya segan, sebab khawatir nanti dikira “ingin meminta jatah kerjaan atau proyek”. Nah, kesan seperti itu sangat saya khawatirkan.

Suatu saat, ketika sedang berjalan di kawasan Geger Kalong, saya bertemu teman lama, Mas Hadi namanya. Beliau ini teman baik selama saya di MQ. Beliau sedikit memaksa saya masuk ke warung nasi, dan kami berbincang-bincang disana. Seperti biasa, beliau tanya bagaimana keadaan saya, begitu pula saya juga menanyakan keadaan dia. Lebih penting lagi, “Bagaimana perkembangan MQ sekarang?” tanya saya. Ternyata setelah sekian lama saya keluar, MQ mengalami perkembangan-perkembangan. Mas Hadi sendiri pindah dari Divisi MQ Publikasi menjadi Sekretaris MQ Corporation (perusahaan induk MQ).

Selain, dia juga bercerita bahwa sekarang MQTV bukan lagi production house (PH), tetapi sudah menjadi sebuah stasiun TV mandiri. Mendengar informasi itu saya takjub, sekaligus merasa penuh keheranan. “Lho, sekarang jadi stasiun TV, bukan PH lagi?” Mas Hadi mengiyakan.

Baca entri selengkapnya »


Syurga Duit Kertas di Zimbabwe

Oktober 22, 2008

Ini ada beberapa foto bagus tentang ilustrasi inflasi di Zimbabwe Afrika. Disana uang 500 juta dolar, katanya setara sama uang 2 dollar Amerika. Foto ini diambil dari tulisan @ Hye di MyQuran, gambar-gambar lucu di forum humor. Menurutku, ini termasuk gambar terlucu di dunia. He he he… Makasih @ Hye. (Tapi untuk komentar di bawah gambar dari saya sendiri. Cuma mengulang dari @ Hye).

Tanya Harga Ayam

Tanya Harga Ayam

“Ayam ini berapa, Mang?”

“Murah den, cuma 3,5 miliar…”

“Wih, mahal banget. 2,5 miliar gimana?”

“Ini sudah murah. Saya beli di pasar 3,2 miliar seekor.”

“Ya udah, kalau mau, 2,9 miliar aja. Kalau tak mau saya pura-pura pergi, lho.”

“Aduh, naikin dikit aja pak. Jaman sekarang susah dapat ayam.”

“Ya udah, saya tambah 250 juta lagi. Harus mau !!!”

“Mangga atuh…!”

Uang Jajan Anak

Uang Jajan Anak

“Dik, kamu mau kemana?”

“Mau pulang, mau jajan di warung.”

“Tadi dari mana?”

“Minta duit sama Papa di pasar.”

“Mau beli apa, Dik?”

“Aku mau beli baso, gulali, dan mobil-mobilan.”

“Berapa harga mobil-mobilan?”

“Cuma 5 miliar. Itu yang gampang rusak.”

“Gimana, kamu seneng bawa uang sebanyak ini?”

“Ya, seneng sekali.”

“Kenapa?”

“Kalau beli sesuatu rasanya ‘mantep’.”

“Contonya apa?”

“Waktu beli baso semangkok, aku kasihkan uang dua tumpuk sama abangnya.”

“Oh begitu…

“Hai Dik, kamu punya nasehat buat anak Indonesia.”

“Ya. Hai kamu anak Indonesia, kalau mau yang ‘mantep-mantep’, datang sini!”

“Itu aja?”

“Ya, cukup. Cuma soal ‘mantep’ aja.”

Makan di Restoran

Makan di Restoran

“Punteun..punteun…permisi.”

“Saya mau pulang duluan…

“Silakan teruskan makan, saya mau bayar makan siang ini…

“Barusan, saya terpaksa bawa mobil box untuk bawa uang…

“Dompet saya ya mobil box itu…

“Maklumlah, ekonomi lagi gak genah, memusingkan…

“Tolong nanti bayarkan ke kasir, saya titip uang ini…

“Tadi saya ngopi, makan stick, sama sebuah roti keju…

“Semua uang ini 130 miliar dollar…

“Saya permisi dulu…

“Jumpa lagi lain waktu. Cherio…”

Catatan: Isi cerita di atas fiktif, tidak senyatanya. Cuma ingin menjelaskan, betapa susahnya kondisi hyper inflasi, uang jadi tak berharga. Barang sedikit, uang setumpuk. Ini salah satu penjelasan lain tentang keburukan sistem kapitalisme yang memakai uang kertas. Dulu Islam memakai dinar (coin emas) dan dirham (coin perak). Sejak dulu 1 dinar = 2,5 dirham. Ukuran ini bertahan sampai saat ini).


Krisis Amerika dan Nasib Indonesia

Oktober 17, 2008

Saat ini dunia sedang digemparkan oleh kehancuran struktur ekonomi Amerika. Sebab khususnya adalah subprime mortgage, kredit perumahan. Singkat kata, di Amerika sono ternyata ada yang semisal “KPR BTN” seperti di Indonesia, yaitu kredit perbankan untuk pembelian rumah. Setelah berlalu waktu yang sekian lama, terjadi kemacetan massal dari nasabah perumahan itu. Satu sisi bank-bank Amerika sudah kadung memberi talangan pembiayaan rumah, di sisi lain pengembalian kredit oleh nasabah perumahan mengalami kemacetan. Dana bank sudah terlanjur dikeluarkan untuk membangun jutaan rumah, tapi dana itu tidak bisa ditarik kembali.

Bisa saja, rumah-rumah itu disita dari pemiliknya, kalau mereka tidak mampu lagi mengangsur. Tetapi setelah disita, ia mau dikemanakan? Mau dibiarkan rusak, atau “dibuang ke laut”? Tidak mungkin, sebab akibatnya pasti akan sangat merepotkan pemerintah. Atau bisa saja, rakyat Amerika dipaksa membayar kredit; kalau tidak mau, mereka dipenjara. Lha, mau memenjara orang sebanyak itu, apa negara siap memberi makan mereka di penjara? Bahkan, ini bukan kasus kriminal, sehingga tidak bisa “main penjara” saja. Akhirnya, pemerintah Bush pusing tujuh keliling.

Akibat subprime mortgage ini, posisi keuangan bank-bank Amerika hancur. Imbasnya, harga-harga saham di bursa efek Amerika (misal Dow Jones, NYSE, Nasdaq) rontok berkeping-keping. Kurs dollar terus merosot. Betapa tidak, bank-bank mereka tidak ada uang, lalu bagaimana akan menjamin kredibilitas bursa saham dan pasar uang? Seperti dulu di Indonesia, setelah industri perbankan hancur akibat Likuidasi 16 Bank, seluruh elemen ekonomi lainnya ikut hancur. Tidak berbeda jauh kasusnya. Hanya saja, saat ini penyebab “Krismon Amerika” adalah kredit macet di bidang perumahan.

Baca entri selengkapnya »


Solusi Kenaikan Harga Minyak Dunia

Mei 29, 2008

Maaf, meskipun saya banyak membahas topik-topik dakwah Salafiyah, tidak berarti saya tidak paham persoalan seperti BBM. Meskipun di detail tertentu saya tidak memiliki data-data yang dibutuhkan.

Mari kita mulai dari tiga asumsi:

1. Kenaikan harga BBM lokal sangat terkait dengan kenaikan harga minyak dunia.
2. Kenaikan harga BBM lokal hanyalah salah satu alternatif dari sekian alternatif lain.
3. Indonesia bukan hanya pengimpor minyak mentah, tetapi juga penghasil minyak, meskipun konon produksinya hanya sekitar 1 juta barrel. (Di tingkat OPEC, kapasitas produksi seperti ini sudah “memalukan”).

Sebenarnya, kenaikan harga BBM sampai menembus angka US$ 130 per barel adalah kejadian yang sangat ajaib. Dalam waktu kurang dari 6 bulan, kenaikan mencapai US$ 50 per barel (dengan patokan semula, sesuai angka APBN US$ 80 per barel).

Baca entri selengkapnya »