Mengapa Orang Zaman Modern Suka Nonton Sepak Bola…

Oktober 13, 2012

Lagi Bisik-bisik Mendiskusikan Masa Depan Sepak Bola…

Mengapa manusia zaman modern, termasuk kita-kita di Indonesia, sangat suka nonton bola?

Silakan Anda jawab dalam ruang komentar. Boleh mau jawab apa saja, asalkan logis dan relevan. Disini saya coba sebutkan jawaban menurut versi saya sendiri. Bisa benar, bisa salah. Tidak mengapa kita share disini.

PERTAMA. Karena setiap pertandingan bola itu dilakukan di atas rumput hijau. Ini bukan becanda lho, tapi serius. Umumnya mata-mata manusia suka dengan pemandangan yang hijau, segar, apalagi jika kelihatan titik-titik air disana. Pandangan hijau itu menyegarkan, membuat rileks, dan tidak melelahkan. Bisa bayangkan, jika permainan bola dilakukan di atas karfet warna merah, kuning, atau oranye, betapa kita akan cepat “lelah mata”.

KEDUA. Karena sejujurnya manusia modern sudah bosan dengan aneka hiburan lain, seperti film, musik, konser, komik, kartun, dan lain-lain. Mereka perlu rileks atau “jeda hiburan” dengan nonton bola. Bola bersifat olah-raga, game sport, atau lomba yang ciri utamanya adu kekuatan, adu kecerdikan, adu kemampuan. Hiburan lomba ini terasa lebih alami dan sportif daripada hiburan bentuk lain yang terlalu banyak rekayasa.

KETIGA. Dalam hiburan bola sebenarnya juga ada sisi bosannya, tidak diragukan lagi. Tapi nilai kebosanan itu seringkali ditutupi serapat mungkin melalui publikasi media dan pencitraan. Pemain-pemain yang handal menjadi selebritis, kehidupan pribadinya dikupas; dibuat aneka acara/even seputar bola; dijual foto, kaos, topi, syal, dan seterusnya; dibuat komunitas-komunitas suporter; dibuat lembaga pengatur plus aturan-aturan di dalamnya; dll.

Misalnya kegiatan “mancing di empang”. Apa sih hebatnya mancing di empang? Bagi kita rasanya, gak ada hebatnya sama sekali. Tapi kalau dibuat even Mancing Empang Super League; dibuat perlombaan mancing empang di tingkat nasional, ASEAN, dan dunia; dibuat Federasi Olahraga Mancing Empang (FOME); acara mancing empang ditayangkan di seluruh stasiun TV secara live, hingga waktu dini hari; dibuat acara “nonton bareng” mancing empang; ditampilkan sosok pemancing empang “klas dunia” misalnya Mas Paijo, Kang Cecep, Pak Herman, dll. lalu dikupas kehidupan pribadi mereka, cewek-cewek simpanannya, mobil-mobil sport koleksinya, dll; lalu dibuat T Shirt khusus, topi, syal, dst; dengan semua langkah ini, dijamin olahraga mancing empang akan menjadi idola.

Singkat kata, ada upaya membangun pencitraan melalui media, bisnis, kebijakan birokrasi, dan kultural. Sebab begini lho, ini sebuah rahasia ya; pada era tahun 80-an, ketika saya masih usia SD-SM, even olahraga dalam OLIMPIADE dan pertandingan TINJU sangat marak di dunia. Seingat saya, tahun 1984 ada Olimpiade di Los Angeles. Ketika itu sepak bola hanya satu pilihan, bukan satu-satunya yang paling populer. Tapi semakin kesini, Olimpiade tergeser, Tinju apalagi. Itu artinya, ada kesengajaan menjadikan sepak bola sebagai idola masyarakat dunia.

Nah, begitu deh. Itu menurutku, bagaimana menurutmu? Teringat sebuah bunyi iklan: “Tidak ada badak? Tidak bagus!” (Kok jadi kesana ya… apa hubungannya lagi).

Mine.

Iklan

Ciri Kehidupan Manusia Zaman Sekarang…

September 29, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah 3 ciri khas kehidupan manusia modern:

[1]. Hidupnya digunakan untuk mencari uang. Siapa saja pelakunya, dimana saja tempatnya, bagaimana saja caranya, pokoknya cari duit dan cari duit. Slogan yang sering diucapkan: “Time is money.”

[2]. Setelah mendapat uang, hidupnya diisi dengan acara senang-senang melulu, memuaskan hawa nafsu sepuas yang mereka mampu. Istilahnya, having funs. Slogan yang sering mereka ucapkan: “The life is too short, so play more!” (hidup terlalu singkat, maka bermainlah sebanyak-banyaknya).

[3]. Bertahan hidup agar bisa melakukan poin 1 dan 2. Cara bertahan hidup misalnya ikut fitness, jaga kebugaran fisik, rajin kontrol kesehatan, melakukan general check up setiap tahun, konsumsi makanan bergizi, memakai obat natural, ikut terapi ini dan itu. Juga menempelkan sticker “safety driving and riding” karena takut kecelakaan. Kalau ditanya, kenapa sih mesti ikut ini dan itu? Jawabnya: “Biar bisa terus cari duit dan senang-senang.”

Poin 1 dikenal dengan istilah MATERIALISM (hidup untuk cari duit). Poin 2 dikenal sebagai HEDONISM (hidup untuk senang-senang). Poin 3 dikenal sebagai SURVIVALISM (hidup untuk terus hidup).

“Selagi masih bisa….”

Siapa saja yang termasuk kelompok orang-orang ini…

Banyak ya. Para politisi Senayan, para pejabat birokrasi haus kuasa, para pengamat berjiwa selebritis, para elit politik, para komedian politik; para artis, pemain sinetron, gadis-gadis model, pemain boy band, vokalis band (yang kemarin baru keluar penjara itu), para komedian asli, para presenter TV, para model iklan (meat show profile); para bisnisman kapitalis, para eksekutif muda hedonis, para penyuka seks ilegal, para penyuka seks sejenis; para operator korupsi, makelar kasus, makelar proyek (cara-cara hitam), mafia, dan seterusnya; termasuk di dalamnya orang-orang yang menjadikan agama sebagai komoditi, apapun bungkus dan retorikanya.

Sayangnya, orang-orang gituan kini banyak menjadi social model di negeri kita. Masyarakat menjadikan mereka role model, lalu meniru, mengagumi, hingga menangis haru untuk manusia-manusia begituan.

Padahal Al Qur’an sudah berbicara tentang manusia-manusia semodel itu…

7:179

“Dan sungguh Kami akan memenuhi neraka jahannam itu dengan kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka memiliki hati-hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka memiliki mata-mata, tetapi tidak digunakan untuk mendengar; mereka memiliki telinga-telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [Al A’raaf: 179].

Kami ingin memberikan nasehat kepada kaum Muslimin, kepada orang-orang beriman:

“Hendaklah Anda semua selalu istiqamah di jalan Islam ini; jangan lemah, jangan putus asa, jangan gentar hati melihat kelakuan manusia-manusia aneh di sekitar Anda. Mereka telah menempuh jalannya, dan kita pun menempuh jalan kita. Mereka didukung oleh kekuatan sekuler, hedonis, jahiliyah; tetapi kita didukung oleh ALLAH Rabbul ‘Alamiin, Sang Penguasa langit dan bumi. Sulitnya hidup kita di zaman ini adalah ujian keimanan semata. Bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah melihat kelakuan manusia-manusia yang kelak akan binasa itu. Kesabaranmu akan menjadi hujjah bagi Rabb-mu untuk menasehati manusia-manusia yang lalai itu.”

RAHASIA: Orang-orang yang hidupnya untuk mencari duit dan senang-senang itu, wallahi sungguh mereka tidak pernah mendapatkan bahagia sebenarnya. Apa yang mereka dapat hanya kepalsuan dan kegembiraan artifisial saja. Pada hakikatnya jiwa mereka merana, hati mereka gelisah, nurani mereka meronta. Apa yang mereka klaim sebagai jalan bahagia itu, ternyata hanya kepalsuan belaka. “Wa man yata’adda hududallah faqad zhalama nafsah” (dan siapa yang melanggar batas-batas Allah, sejatinya dia telah menganiaya dirinya sendiri). [At Thalaq: 2]

Demikian, semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran. Amin.

Mine.


Jangan Munafik Deh…

September 13, 2012

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah koran. Koran ini tampak aneh, nama kurang dikenal, cetakan hitam-putih, dengan kertas seadanya. Disana ada sebuah berita tentang ulah seorang selebritis wanita yang sengaja menyebar foto-foto vulgar di internet.

Setelah menyebar foto, si selebritis bukan menyesal, malah merasa bangga. Dia meminta supaya masyarakat tidak mencela dirinyaa, tapi cukup menikmati saja foto-fotonya itu. “Tidak usah munafik deh,” begitu kata selebritis itu.

Bukan Munafik Mbak. Tapi Sudah Fitrah Manusia Begitu.

He he he…lucu juga pernyataan itu. Mbak, Mbak…namanya laki-laki, kalau tertarik atau terangsang oleh foto-foto vulgar, itu bukan munafik; tapi memang normalnya begitu. Secara fitrah, kaum laki-laki memang bangkit syahwatnya kalau melihat foto-foto atau gambar sensual. Kalau tidak tertarik lagi dengan gambar atau model tubuh wanita, berarti sudah impoten atau punya kelainan orientasi seksual.

Maksudnya, jangan memakai kata “tidak usah munafik deh”. Ini penggunaan kalimat yang tidak tepat. Kata munafik tidak tepat dipakai dalam situasi “kecenderungan” alami.

Misalnya seseorang perutnya sangat lapar, karena seharian belum makan; lalu ditawari makan nasi uduk hangat, dengan lauk telur dadar dan gurame goreng, ditambah sambal tomat dan lalapan; pasti orang itu akan sangat menikmati makannya. Atau misalnya, seseorang selesai berjalan jauh berkilo-kilometer, di tengah terik matahari, kerongkongan sangat haus; lalu ditawari minum es teh manis, jelas dia akan sangat senang dan bersyukur. Dalam kondisi seperti ini, orang yang menawari nasi uduk atau es teh, jangan mengatakan “tidak usah munafik deh”.

Nabi Saw sudah memberi makna yang tepat tentang kemunafikan. Kata beliau, tanpa munafik itu ada 3; kalau bicara dusta, kalau berjanji ingkar, kalau dipercaya khianat. Nah, inilah makna kemunafikan hakiki. Jangan ditarik ke wilayah yang bukan porsinya.

Intinya, jangan menuduh munafik bagi setiap laki-laki normal yang terangsang ketika melihat gambar atau media pornografi. Itu sudah wajar dan senormalnya begitu. Meskipun perbuatan seperti itu juga berdosa –menurut Syariat-. Tetapi jangan pula mencela selebritis semacam itu secara berlebihan, sebab hal tersebut bisa membuat dia semakin nekad dalam kevulgarannya.

Ya begitulah wanita… bila pernah menikah dan mendapatkan konsumsi “hubungan” secara wajar, lalu tiba-tiba kebutuhannya terputus; maka dia akan merasa tersiksa. Kecuali, bagi tabiat wanita yang taat dan sabar dalam menetapi ibadah kepada Allah Al Jalil. Mereka dihibur oleh Allah dengan sakinah, manakala wanita “ganjen” tidak mendapatkannya. []


Kualitas Seks Manusia Zaman Modern…

Juli 16, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Biasanya di masa-masa menjelang Ramadhan, ormas-ormas Islam mulai sibuk dengan penentuan awal Ramadhan. Sidang Itsbat Departemen Agama, tentu yang dinanti-nanti. Meskipun ada juga yang sudah menerapkan tradisi “mencuri start” sebelum yang lain…he he he. Tahulah, siapa dia.

Tapi selain soal awal Ramadhan, ormas Islam biasanya juga mulai sibuk ingin menertibkan tempat-tempat maksiyat. Ya semacam night club, diskotik, bar, hotel dipakai prostitusi, kafe remang-remang, tempat mesum berkedok SPA, dll. Ini bukan pekerjaan kecil dan ringan, karena memang tempat-tempat mesum itu rata-rata dijaga oleh oknum aparat polisi, TNI, dan birokrasi. Banyak orang ternyata sama-sama menggantungkan “periuk nasi” di tempat hiburan seperti itu. Disini kerap ada potensi bentrok.

Para backing aparat di balik industri mesum itu, mereka bisa beralasan: “Enak saja mau sweeping tempat-tempat bisnis ini. Kami tolak 100 persen! Hidup kami ada di atas bisnis beginian, tahu! Kami kasih makan anak-isteri, kami bayar uang sekolah, kami bayar uang listrik, beli pulsa telepon, beli bensin, bayar pajak, dll. dari sini tahu. Lo berani ganggu tempat bisnis ini, berarti lo nantang maut ya?” Sedang ormas-ormas Islam juga punya alasan, yaitu alasan MORAL, SPIRITUAL, dan KESUCIAN bulan Ramadhan.

Oke…kita coba mulai masuk ke tema pembahasan tulisan ini…

Godaan seks begitu menggiurkan… Tetapi itu hanya dalam pencitraan-nya. Dalam realitas, indahnya seks tidak bisa lepas dari MORAL.

Ada sebuah pertanyaan: “Mengapa dalam 10 tahun terakhir, bisnis mesum atau bisnis esek-esek, begitu laris dan banyak penggemar?” Karena larisnya, maka ketika tiba bulan Ramadhan pun, bisnis itu tidak mau diganggu. Jika ada ancaman gangguan dari ormas-ormas Islam, para pembela bisnis mesum itu bersatu-padu membela slogan: memasyarakatkan kemesuman dan memesumkan masyarakat! Masya Allah.

Ya, semua ini tidak lepas dari “logika ekonomi”…ada demand ada supply. Dimana ada permintaan, pasti disana ada penawaran. Ada banyak laki-laki mesum butuh nikmat seks ilegal, maka bisnis mesum akan menjamur. Sebaliknya, kalau kaum laki-lakinya moralis, kuat dalam memegang prinsip keluarga; bisnis begituan tidak akan laku.

Nah, disini kita saksikan adanya fenomena seks manusia modern… Seks yang dimaksud bukanlah seperti dalam koridor aturan agama, dalam batasan norma sosial atau etika; tetapi seks dengan rasa sangat berbeda. Ada yang menyebutnya seks ilegal (karena tidak sesuai aturan agama); atau seks amoral (karena memang sangat melanggar batas-batas moral); atau seks komersial (karena berkaitan dengan hukum jual-beli); atau seks transaksional (sebatas ruang lingkup transaksi bisnis); atau seks industri (karena dijalankan penuh dengan pendekatan industrialis).

Ciri-ciri dari seks manusia modern (maksudnya seks yang tidak legal di atas) antara lain:

[a]. Instan. Seks semacam itu hanya bersifat instan, serba terburu-buru; semata demi memenuhi syahwat pihak laki-laki saja, tanpa memberi hak-hak bagi pihak wanita. Kalau si laki-laki sudah puas, tiada hak seksual bagi lawannya.

[b]. Ilegal. Jelas seks demikian tidak sesuai aturan agama (Islam), tidak sesuai aturan negara, juga norma sosial. Siapapun yang melakukannya, akan selalu dihantui rasa takut, khawatir, dan gelisah.

[c]. Transaksional. Selain bertujuan semata memuaskan pihak laki-laki (itu pun kalau puas); seks ini hanya bernilai jual-beli. Ada yang beli, ada yang menjual. Sangat sulit berharap ada kesenangan disini, karena memang sifatnya komersial sesaat. Bayangkan, urusan seksual jadi seperti urusan membeli kerupuk, gorengan, atau kue di pinggir jalan.

[d]. Permukaan. Seks demikian kelihatan heboh, excited, wonderful, amazing… Tapi itu di permukaan saja kelihatan seperti itu. Dalam realitas sebenarnya ia jauh dari kepuasan atau kesenangan. Hampir seluruh upaya seks yang bergaya beginian, hanya heboh di pencitraan; tetapi secara makna kesenangan, hambar dan terlalu tergesa.

[e]. Beresiko tinggi. Jelas, seks demikian beresiko tinggi. Beresiko kehamilan di luar nikah, beresiko tidak ada yang bertanggung-jawab atau dicampakkan; beresiko aborsi; beresiko citra sosial jatuh atau hancur; beresiko terkena penyakit kelamin dan HIV; beresiko jatuh dalam pusaran narkoba dan bunuh diri. Belum lagi jika keluarga hancur, studi hancur, profesi hancur, jabatan hancur, dll. Nas’alullah al ‘afiyah min kulli dzalik.

[f]. Reduksi. Maksudnya, secara nikmat seksual, hanya sedikit kebaikan yang bisa diperoleh. Dalam kondisi demikian, tujuan puncak seorang laki-laki, hanya sebatas mengeluarkan -maaf beribu maaf sperma semata; begitu juga bagi pihak wanitanya, asalkan sudah ada penetrasi, sudah dianggap “sempurna”. Padahal dalam situasi hubungan suami-isteri yang normal dan wajar; nilai kesenangan yang bisa dicapai sangat besar. Dalam konteks seks instan, paling nilai kesenangan yang dicapai maksimal 10 % saja.

Mungkin pertanyaannya, “Bagaimana kalau yang melakukan seks ilegal itu orang-orang yang sudah berpengalaman berumah-tangga? Bisa jadi nikmatnya jauh lebih besar?” Mungkin saja begitu, tetapi resikonya sangat besar. Disana ada resiko kehancuran keluarga, resiko kehancuran profesi, hancurnya nama baik sosial, hancurnya jabatan…semua itu jauh lebih menyakitkan. Tidak sedikit lho, orang-orang tua dihukum anak-anak dan isterinya karena sekali saja melakukan selingkuh (seks ilegal). Mereka harus menatap hari tua dalam hukuman sangat menyakitkan. Ini hanya soal waktu saja…

[g]. Depressi. Ia adalah akibat umum di balik perilaku seks ilegal itu. Tidak ada yang membahagiakan dari seks ilegal. Paling kesan heboh, kesan wah, kesan meriah…ya kesan begitu ada; tetapi pada hakikinya setiap jiwa yang masuk dalam pusaran seks ilegal ini, mereka menderita. Itu saja!

[h]. Verbalitas. Dampak lanjutan, meskipun hal ini jarang disinggung, yaitu sejenis kualitas seks verbalitas. Apa tuh maksudnya? Maksudnya, sebagian orang yang tidak bahagia secara seksual itu sering kali ngomong jorok; becandanya jorok melulu; kalau bicara tidak jauh dari organ-organ genital dan aktivitasnya… Orang demikian, sejatinya tersiksa secara seksual; karenanya omongan jorok menjadi sasaran. “Gue gak bahagia nih. Gue gak pernah puas. Maka sasaran gue ialah ngomong jorok selama-lamanya…,” begitulah logika berpikir orang-orang itu.

Sebuah saran praktis ingin disampaikan, terutama kepada pemuda atau remaja Muslim, yang sehari-hari menghadapi kepungan godaan zina dari berbagai penjuru… Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lahum jami’an.

Saudaraku…bila suatu ketika timbul dorongan syahwat luar biasa dalam dirimu, sehingga dengan dorongan itu tiba-tiba engkau ada niatan untuk memperkosa wanita di dekatmu, atau ingin berzina dengan pacarmu, atau ingin berzina dengan mencari pelacur… maka aku berikan nasehat sederhana kepadamu: “Dalam kondisi seperti itu, segeralah kamu masuk kamar mandi, lalu keluarkan sperma-mu disana. Jika sperma itu telah keluar, maka dorongan ingin memperkosa atau berzina itu seketika habis.” Dorongan itu ada selagi sperma masih ada di tempatnya; tetapi kalau sudah dikeluarkan, meskipun secara paksa; hal itu akan menghindarkan kamu dari bahaya zina, sodomi, memerkosa, dan sejenisnya.

Onani bukanlah perbuatan halal. Ia termasuk perbuatan haram. Tetapi haramnya jauh lebih kecil daripada perbuatan zina, prostitusi, sodomi, dll. Disini ada rahasia bagi mereka yang terjerumus ke dalam zina, sodomi, pelacuran…yaitu ketika muncul dorongan syahwat menggebu-gebu, ia disalurkan di tempat yang haram (bukan dengan isteri yang sah). Padahal jika dorongan syahwat (sperma) dalam diri itu sudah dikeluarkan, ia akan memadamkan niat berbuat jahat itu.

Tetapi jangan juga membiasakan melakukan onani, sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, akal, dan ghirah seksualmu. Onani itu hanya sebagai “pintu sarurat” saja, ketika ada ajakan berbuat zina, sodomi, melacur di depan mata. Lebih utama, selamat, dan sangat ideal, jika kalian bersegera menikah. Menikah usia 20 tahun atau baru lulus SMA, tidak masalah. Pacaran setelah menikah jauh lebih indah, daripada pacaran sebelum menikah. You know, man?

Maling-maling moral, pembegal-pembegal kesucian, serta perompak-perompak susila…mereka selalu mengiming-imingi dirimu dengan indahnya zina, indahnya prostitusi, dan segarnya tubuh wanita-wanita nakal. Tetapi semua itu hanya tipuan pencitraan semata. Orang-orang yang memberikan iming-iming itu sendiri, mereka TIDAK MENIKMATI indahnya nikmat seks sama sekali. Mereka itu “sakit”, mereka berusaha mencari kawan untuk diberi “penyakit” yang sama.

Baiklah, di bagian akhir tulisan ini, aku sebutkan sebuah firman Allah: “Wa tilka hududullahi, wa man yatta’adda hududallahi fa qad zhalama nafsah” (itulah batas-batas aturan Allah, maka siapa yang melanggar batas-batas Allah, sesungguhnya dia telah menganiaya dirinya sendiri). At Thalaaq, ayat 2.

Semoga bermanfaat ya untuk menghindarkan diri, keluarga, dan Ummat dari bahaya perbuatan keji (zina, sodomi, prostitusi, dll). Amin Allahumma amin.

Admin.


Pesan Moral dari Timnas Spanyol Euro 2012

Juli 11, 2012

Prestasi Besar Tidak Bisa Dilepaskan dari Peraan Keluarga. You Know?

Satu catatan menarik layak kita goreskan, pasca hiruk-pikuk perhelatan internasional, final EURO 2012 di Kiev Ukraina. Final yang mempertemukan dua negara pesohor bola di Eropa, Spanyol Vs Italia itu, dilaksanakan di Stadion Olimpiade Kiev. Hasilnya, Italia harus pulang dengan membawa kekalahan 4-0 dari Spanyol. Di sisi lain, Spanyol berhasil mempertahankan gelar juara Piala Eropa, sekaligus menjadi negara yang pertama menggenggam trofi itu secara berturut-turut (Euro 2008 & 2012).

Di luar itu, ada fenomena menarik di kubu Timnas Spanyol, sepanjang laga Euro 2012, yaitu keterlibatan keluarga para pemain. Sejak awal pertandingan sampai final 1 Juni 2012 di Stadion Olimpiade Kiev, timnas Spanyol sudah melibatkan keluarga sebagai pendukung di tribun VIP. Mereka adalah isteri, anak-anak, dan keluarga. Puncaknya, ketika berhasil mengalahkan Italia, bocah-bocah kecil yang merupakan anak-anak pemain Spanyol menghambur ke stadion. Mereka “meneruskan kerja” ayah-ayahnya dengan menginjak-injak rumput hijau stadion. Tak pelak, aksi lucu dan natural anak-anak itu, merebut simpati dunia.

Aksi yang sangat fenomenal ialah antara Fernando Torres dengan kedua putra-putrinya, Nora dan Leo. Aksi mereka mendapat publisitas yang sangat luas, termasuk ketika Torres sedikit melakukan “dialog peradaban” dengan putra-putrinya di depan gawang. Bagi Torres pribadi momen itu sangat berkesan. “Isteri gue sudah nyiapin anak-anak sejak di hotel. Dalam pertandingan ini tim gue harus menang. Tapi sayang, gue dipasang hanya beberapa menit sebelum bertandingan berakhir. Untungnya gue bisa mencetak gol, jadi rasanya lega. Meskipun mainnya sebentar, tapi bisa bikin gol. Itu yang penting!” mungkin begitu perasaan Torres di malam itu (kok jadi suka nebak-nebak perasaan orang ya? He he he…).

‘Ala kulli haal…kebijakan Timnas Spanyol dalam melibatkan keluarga, serta mengundang putra-putri mereka ikut merayakan pesta kemenangan di lapangan; sangatlah mengesankan. Di tengah keterpurukan ekonomi, seperti Yunani, serta konflik politik antara wilayah-wilayah Spanyol, mereka masih sempat menyuarakan pesan-pesan moral berharga, bagi dunia internasional.

Pesan moral apakah itu?

[1]. “Sukses kami tidak lepas dari dukungan keluarga.” Ketika pemikiran-pemikiran liberal kontemporer sangat agressif dalam menafikan peran keluarga dalam kehidupan; Timnas Spanyol menyampaikan pesan, bahwa prestasi mereka tidak lepas dari dukungan keluarga, termasuk anak-anak.

[2]. “Keluarga adalah hulu sekaligus muara perjuangan insani.” Ketika zaman industri modern sangat rakus dalam menggerus nilai-nilai tradisional seputar peran keluarga dan tanggung-jawab di dalamnya; maka Timnas Spanyol memberikan pesan, bahwa perjuangan di luar rumah, pada hakikatnya ialah untuk kebahagiaan di dalam rumah. Kalau diucapkan, “We fight outside, to reach happiness inside.”

[3]. “Prestasi besar dibangun sejak anak-anak, dan akan diteruskan ke anak-anak pula.”  Keluarga merupakan estafeta perjuangan. Dari keluarga dibangun prestasi, dan keluarga juga yang akan mewariskan prestasi. Inilah yang kita kenal sebagai prinsip pembinaan (tarbiyah). Secara realitas, proses pembinaan terbaik yang diterapkan manusia, ialah pembinaan dalam keluarga-keluarga bangsawan untuk menghasilkan kepemimpinan terbaik. Timnas Spanyol seolah menyerukan agar ummat manusia kembali ke pembinaan keluarga, untuk mencapai prestasi.

[4]. “Prestasi terbaik akan tercapai, dengan sentuhan cinta.” Jangan pernah berpikir, bahwa di balik kehidupan orang-orang besar, mereka kering dari nuansa cinta. Tidak. Justru sebaliknya. Disana banyak cinta, meskipun kadang ada juga noda-nodanya. Cinta yang tumbuh akan menjadi energi besar, menjadi power penggerak, serta spirit tajam untuk mengenyahkan segala batu-batu penghalang dan hambatan.

[5]. “Yang jelas, kami bukan gay, dan tidak pernah mendukung perilaku homoseks.” Nah, ini adalah pesan puncak dari butir-butir pesan moral Timnas Spanyol. Bahwa mereka adalah keluarga yang wajar, bukan gay, bukan pelaku seks menyimpang dan amoral, yaitu homoseks. Ketika sejak awal Timnas Itali sudah diingatkan, agar para pemainnya berorientasi seks secara wajar (bukan suka homoseks), maka Timnas Spanyol membuktikan diri mereka sebagai manusia wajar dan sehat. Homoseks adalah derajat terendah dari kehidupan manusiawi. Hewan saja tidak melakukan hal itu.

Gay dan Homoseks Bisa Memusnahkan Eksistensi Manusia. You Know?

Homoseks atau gay (termasuk lesbian) adalah sikap ketika manusia: memuja nafsu seks tanpa mau bertanggung-jawab! Mau enaknya, tak mau susahnya. Seorang pelaku “kumpul kebo”, lalu memiliki anak dari hubungan di luar nikah; itu masih lebih baik daripada pasangan gay dan homoseks. Laki-laki dan wanita yang berzina adalah salah; tetapi anak hasil zinanya, sama seperti anak yang lain, mereka tidak bersalah. Jika perilaku homoseks dibiarkan terus tumbuh, maka eksistensi manusia akan punah di muka bumi. Lalu bagaimana kita akan merealisasikan ayat berikut ini: “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduni” (tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah-Ku). Bagaimana Allah akan disembah, kalau manusianya tidak ada, karena banyak orang melakukan seks sesama jenis?

Tidak mengherankan jika gerakan-gerakan ultra nasionalis bahkan mafia di negara-negara Barat, mereka sangat antipati kepada gay dan perilaku homoseks. Gang-gang motor besar juga konon sangat memusuhi kaum gay-homoseks. Sizzla Kalonji, penyanyi reggae asal Jamaika sering mengklaim: kaum homoseks harus dibakar, dipanggang, dan dihanguskan! Intinya, gay dan homoseksual adalah kejahatan besar dalam kemanusiaan; perilaku itu bisa memusnahkan eksistensi manusia.

Demikian beberapa pesan moral dari Timnas Spanyol pada ajang Euro 2012. Semoga bisa menjadi inspirasi, motivasi, dan dorongan spirit untuk lebih concern dengan dunia keluarga, memuliakan keluarga, mengembangkan cinta yang lurus, serta tentu saja mengenyahkan perilaku gay dan homoseksual!

Selamat untuk Timnas Spanyol dan pesan-pesan moralnya! Bravo Euro 2012 for U!

Mine.


Manusia dari Kaleng…

Februari 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seorang kawan bercerita. Dia kini punya kantor resmi di Jakarta. Bukan sekedar kerja biasa, tetapi dia punya saham di kantor itu. Dia sudah dianggap masuk jajaran “Dewan Direksi”. Pemilik saham terbesar orang-orang China (lokal). Umumnya beragama non Muslim.

Dia biasanya kerja lapangan, sebagai peneliti, surveyor, dan lainnya. Namun kemudian harus sering ngetem di kantor, berdampingan dengan para bos. Saya pernah bertanya, “Apa bos-bos itu tidak memaksakan gaya hidupnya?” Apalagi mereka kan non Muslim. Singkat kata, pengaruh itu ada, tetapi kata kawan, dia masih bisa mengeliminir pengaruh buruknya.

Dari obrolan ini, dia tahu gaya hidup kawan-kawan kantornya yang memang tergolong level eksekutif muda. Sekali lagi, mereka non Muslim. Kawan saya itu tentu diajak-ajak “mencicipi” gaya hidup itu, tetapi dia dengan sopan menolak. Kawan saya selalu beralasan “ingat anak-isteri di rumah”.

Hidup Seperti Robot. Ada Raga, Namun Tiada Jiwa.

Salah satu gaya hidup yang diceritakan. Di antara eksekutif muda itu, kalau habis capek kerja, mereka datang ke tempat SPA. Disana dia dipijit dari ujung rambut sampai ujung kaki; dalam keadaan “tanpa sehelai benang”. Yang melakukan pemijitan itu cewek-cewek cantik. Biasanya sekali masuk SPA tarif mencapai Rp. 250.000 (setara dengan honor kalau aku mengisi bedah buku. He he he). Durasi SPA itu selama 2 jam.

Setelah dipijit-pijit secara sempurna, tentu termasuk selangkangan juga. Laki-laki eksekutif itu lalu diberi “sentuhan spesial” (baca: masturbasi). Setelah mencapai puncaknya… Lalu dia istirahat. Katanya, setelah semua proses itu, badannya merasa segar dan ringan kembali. (Heran juga ya, kok bisa badannya jadi segar bugar? Tidak terbalik tuh?).

Kawan saya kalau dipijat dengan cara refleksi, oleh pemijat tunanetra. Tentu saja laki-laki. Dan tidak ada sentuhan-sentuhan seks-nya. Tapi eksekutif muda di atas dan yang semisalnya tidak puas sekedar dipijat saja. Harus ada plus-plus-nya… Ya begitulah kaum hedonic mania!

Malah katanya, bisa lebih parah dari itu. Bisa mengarah ke model pelacuran, meskipun cover-nya layanan SPA. Maka harus hati-hati terhadap layanan seperti ini. Termasuk bagi kaum wanita. Harus pilih-pilih secara teliti.

Tapi ada satu hikmah yang menarik…

Nah, untuk itu pula, saya sengaja menulis artikel ini.

Kalau dilihat dari sisi moral, para eksekutif itu jelas bobrok, rusak, dan  mengerikan. Ya, namanya manusia yang sehat, benar, dan bermoral, sudah semestinya menghindari hal-hal tercela seperti itu. Bukan hanya soal SPA oleh perempuan, masturbasi, hingga seks pelacuran. Tetapi semua itu sudah menjadi gaya hidup, dan ingin ditular-tularkan ke orang lain.

Di atas budaya hidupnya yang rusak itu, TERNYATA…ini harus benar-benar kita camkan…orang-orang itu memiliki skill kerja, pengetahuan, pengalaman, dan keahlian. Bisa jadi, kemampuan SDM yang mereka miliki, melebihi kemampuan orang-orang shalih (aktivis Islam).

Inilah yang membuat kita sangat MIRIS…

Ternyata, di balik kebobrokan moralnya itu, mereka memiliki kemampuan, keahlian, dan pengalaman kerja. Kalau mereka bobrok moral plus letoy kerja, mungkin kita bisa memaklumi, “Ya maklumlah, mereka bobrok!” Tapi ternyata, mereka punya keahlian juga.

Disini kita dapati sebuah kenyataan yang bisa disebut “sindrom manusia kaleng”. Maksudnya, ada sekumpulan manusia yang punya keahlian, kecakapan, dan pengalaman kerja; tetapi moralnya bobrok. Diri mereka seperti sebentuk tubuh terbuat dari kaleng. Fisiknya ada, berdiri kokoh, dan bisa jadi pintar. Tetapi jiwanya kosong, moralnya rusak, hati nuraninya “mati”.

Anda masih ingat sebuah “tragedi kemanusiaan” yang terjadi di China beberapa waktu lalu. Ketika itu ada anak kecil tertabrak kendaraan, lalu dibiarkan saja oleh manusia yang lalu-lalang di jalan. Nah, seperti itulah “sindroma manusia kaleng”. Fisiknya ada, kehidupan ada, tetapi nurani mati.

Banyak pejabat, politisi, perwira, tokoh publik, artis, dll. mereka juga terkena “sindroma manusia kaleng” itu. Fisiknya ada, kaya raya, terkenal, bahkan cantik dan tampan; tetapi hati nurani lenyap, moral bobrok, kesantunan diri nihil. Mereka disebut dengan istilah “mayat hidup” gentayangan. Fisik masih hidup, tetapi jiwa sudah mati. Makan-minum jalan terus, tetapi ekspressi hati nurani tidak ada.

Di zaman modern, banyak manusia-manusia kaleng itu. Mereka memiliki raga, tanpa jiwa. Mereka hidup, padahal hakikatnya “mati”. Kehidupan modern membuat mereka menjauhi hakikat agama, dan terjerumus memuja hawa nafsu. Akibatnya fatal, mereka hanya memiliki kehidupan fisik belaka, tanpa reputasi kebaikan insani.

Na’udzubillah wa na’udzubillah bi izzatillahil karim min kulli dzalika, wa ilallahi nas’alul ‘afiyah lid dina wad dunya wal akhirah. Amin Allahumma amin.

Mine.