Warisan Agung KH. Hasyim Asyari

Juli 1, 2015

Bismillahir rahmaanir rahiim.

* Beliau wafat pada 7 September 1947. Dalam usia sekitar 72 tahun. Dimakamkan di Jombang.
* Beliau wafat kurang dari 2 tahun sejak berdiri MASYUMI pada 7 November 1945. Kalau wafat beliau mundur 2 bulan, berarti pas 2 tahun usia Masyumi.
* Beliau adalah KETUA DEWAN SYURO Masyumi. Dewan Syuro gitu lho… Pasti jabatan hebat kan. Coba lihat betapa kuatnya posisi Ketua Dewan Syuro PKS, PPP, atau PBB.

Wasiat Persatuan Ummat

Wasiat Persatuan Ummat


* Beliau wafat dalam keadaan wadah politik Ummat Islam MASIH SATU.
* KH. Hasyim Asyari wafat meninggalkan Jum’iyah besar. NU tentunya.
* Beliau dijuluki Hadratus Syaikh, karena mengarang kitab-kitab ilmiyah dan fatwa-fatwa, dalam bahasa Arab Fusha yang baik & kokoh.
* Beliau juga MEWARISKAN teladan hebat bagi Ummat, antara lain:

[1]. Sikap lapang dada kepada yang berbeda pendapat.
[2]. Membina persaudaraan dan persatuan Ummat.
[3]. Menghormati hasil musyawarah dengan sesama elemen Ummat.
[4]. Peduli kepentingan politik Ummat.
[5]. Sikap Zuhud dunya, terutama terhadap jabatan birokrasi.

* TERNYATA, kualitas ilmu, adab, pengalaman hidup sangat berarti dalam membentuk sikap HIKMAH.
* Dalam perbedaan pandang, Sang Hadratus Syaikh telah menempatkan perkara UKHUWAH UMMAT pada porsi yang elegan.
* Setelah itu… Nggih terserah Njenengan sedoyo. Terserah Anda semua.
* Mari kita isi bulan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baik amal.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

 

Iklan

Catatan Berserak dari Aksi GMJ 10 November 2014

November 12, 2014

Bismillah. Berikut adalah catatan berserak, pandangan mata jurnalis dari lapangan; yang kebetulan informasi-informasi ini banyak tidak tercover oleh media. Anda siap membaca informasi-informasi berikut? Mari ikuti…

*) Aksi massa GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta) 10 November 2014 merupakan tekanan politik yang sangat kuat dan hebat. Bukan saja ke personal Ahok, tapi kepada kekuatan-kekuatan di baliknya. Karena kita tahu, tak mungkin Ahok berani celamitan, kecuali memang disuruh begitu.

*) Aksi ini oleh MetroTV disebut diikuti oleh 500 orang. Ha ha ha…para jurnalis kalau matanya rabun, hasil laporan pun jadi jauh dari kenyataan. Tidak ada jurnalis terbodoh yang mengatakan, peserta hanya 500 orang, kecuali MetroTV. Maklumlah…

"Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi"

“Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi”

*) Sehari sebelum aksi massa 10 November, beredar broadcast dari aparat polisi tentang perkiraan massa peserta demo. Katanya, hanya sekitar 1000 orang; telah diberangkatkan 5 bus FPI asal Surakarta; paling akan terjadi sambit-sambitan batu seperti massa tawuran. Prediksi tersebut salah besar dan sesat. Demo diikuti setidaknya 10.000 massa. Mereka melakukan tekanan politik sangat kuat dan nyaris mendominasi lapangan.

*) Dikatakan, demo itu didukung oleh massa FPI. Sebagai motor gerakan, iya benar. FPI memang dominan. Tapi tanpa dukungan elemen-elemen massa lain, gerak aksi ini tidak akan sekuat itu. Banyak elemen Islam/Muslim terlibat dalam demo ini, meskipun tetap bintangnya adalah FPI.

*) Fenomena yang hebat: pesan besar dalam demo ini adalah SERUAN REVOLUSI ANTI AHOK. Atau katakanlah, masyarakat Muslim Jakarta tidak menghendaki Ahok jadi Gubernur DKI. Dalam aksi ini para demonstran hanya memberi pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur DKI. Alasannya, masyarakat Muslim Jakarta “sudah gak demen sama elo”.

*) Jargon yang populer dalam demo ini adalah: “Gue gak mau tahu, yang penting Ahok turun.” Ini adalah yel-yel dengan nuansa revolusi. Seperti yel-yel perjuangan masa lalu: “Merdeka atau mati!”

*) Tokoh-tokoh pendukung demo ini membaca dengan jelas arah dari kebijakan dan statement-statement Ahok selama ini, yaitu kehendak ingin menghapuskan Islam dari Jakarta. Faktanya: Ahok melarang takbir keliling, tapi memfasilitasi acara-acara hedonisme tahun baru; mempersulit izin pengajian dan majelis dzikir; membuldozer masjid-masjid tanpa memberi ganti; melarang penjualan hewan qurban di pinggir jalan; melarang penyembelihan hewan qurban di sekolah-sekolah dan instansi; mengganti pakaian religius pelajar Jakarta pada hari Jumat dengan pakaian adat; hendak menghapuskan kolom agama dalam KTP; hendak melegalisasi komplek pelacuran; berulang-ulang menghina Islam dan kaum Muslimin; dan sebagainya. Arah sekularisasi dari kebijakan dan statement Ahok sangat jelas.

*) Dr. Sri Bintang Pamungkas, dia menyatakan bukan bagian massa FPI, tapi dia mencintai Islam. Dia sangat marah karena Ahok pernah mengatakan agar aparat keamanan memenuhi senjata mereka dengan peluru tajam dan mengisi water canon dengan bensin; tentu tujuannya untuk membunuhi para demonstran Muslim. Itu kata Dr. Sri Bintang dalam orasinya.

*) Salah besar orang yang mengatakan bahwa demo ini hanya dilakukan oleh FPI. Salah besar. Bahkan di sana tampil sekumpulan pelajar memakai baju batik warna biru dan celana putih, mereka dari komunitas PERSATUAN ISLAM (Persis) Jakarta. Bahkan seorang ibu Muslimah, dua kali memberikan orasi, menggugah semangat Jihad para pemuda Islam; beliau dari komunitas Muhammadiyah. Demo ini diikuti oleh ibu-ibu juga, sekitar 100 orang; karena mayoritas adalah kaum laki-laki dan pemuda.

*) Alhamdulillah, demo berjalan lancar, tidak ada aksi anarkhis. Tampaknya panitia telah menyiapkan segala perangkat untuk menghindari anarkhisme. Berulang-ulang mereka mengingatkan bahaya provokasi. Mereka juga mengamankan seorang provokator yang terus menerus berteriak: “Bunuh Ahok! Ahok halal darahnya!” Posturnya tinggi besar, berkendaraan motor, dan memakai seragam/atribut FPI.

*) Jumlah massa yang hadir sangat banyak. Ada masa jalan kaki, masa kendaraan motor, massa kendaraan mobil. Ketika kita di satu titik di Jalan Thamrin, lalu melihat jauh ke arah peserta demo; seolah di ujung pandangan mata massa demo terus mengalir. Ia laksana aliran air bah yang menggenangi Jl. Thamrin, lalu masuk Jl. Kebon Sirih, sampai ke Balai Kota Jakarta. Mungkin serupa seperti aksi massa yang biasa dilakukan PKS, tapi ini dominan kaum laki-laki dan santri Betawi.

*) Media Islam yang lumayan obyektif dan proporsional meng-cover berita seputar demo ini adalah situs Suara-islam.com. Yang lain seperti kurang semangat, padahal tujuan aksi ini adalah untuk: menghadang sekularisme di Jakarta dan Indonesia secara umum. Sayang sekali.

*) Mungkin kita punya banyak perbedaan dengan FPI atau Habib Rizieq Shihab; tapi bukankah tujuan mereka adalah membela Islam di Jakarta dan tentu saja di Indonesia? Apakah tidak bisa kita tepiskan dulu perbedaan-perbedaan, lalu kita bersatu hadapi common enemy? Bagaimana Anda akan bisa mendukung perjuangan Ummat di negeri-negeri lain, kalau dalam hal seperti ini saja selalu ragu dan mengutamakan egoisme? Musuh sudah semakin jelas akhi/ukhti; maka bersatulah demi kemenangan bersama!

*) Satu hal yang menarik dari demo ini, yaitu kemampuan panitia untuk menggabungkan semangat revolusi dengan seni shalawatan. Dari kendaraan sound para orator terus membangkitkan semangat massa, tapi mereka juga bershalawatan dengan irama mendayu. Akibatnya, demo ini menarik simpati banyak orang di jalanan, di kantor-kantor, di kendaraan umum, bahkan anak-anak sekolah juga berebut melihat aliran massa. Termasuk pegawai gedung-gedung tinggi di kawasan Thamrin tidak henti-hentinya meliput massa dengan kamera ponsel mereka. Kami sendiri melihat ada seorang wanita Tionghoa meliput demo dengan Ipad dari serambi rumah/kantornya yang tinggi. Wong memang ini aksi damai.

*) Di depan Balai Kota diperagakan aksi pencak silat Betawi oleh beberapa orang. Judulnya kira-kira begini: “Kalau Ahok membawa jurus dewa mabuk. Kita akan hadapi dengan jurus kemplang babi.” Di antara orator juga ada yang berkata begini: “Wahai Ahok Lu pernah mengancam kite dengan pistol. Keluarkan pistol Lu Ahok. Kami siap mati di sini.”

*) Kebijakan yang sangat baik dari Polda Metrojaya, yaitu bersikap simpatik sepanjang pengamanan demo. Polisi bersikap simpatik, memudahkan, dan tidak memprovokasi. Sempat di Balai Kota polisi mengeluarkan 4 anjing pelacak; hal ini membuat sedikit kegaduhan; tapi anjing-anjing itu segera ditarik. Kalau polisi bersikap beringas, dapat diperkirakan akan terjadi kerusuhan hebat, karena mayoritas peserta demo sudah siap bertarung; meskipun mereka tidak membawa senjata tajam.

*) GMJ dan FPI sudah menjelaskan sikap politik mereka. Hanya satu pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur Jakarta. Jika tetap dipaksakan, gerakan santri dan aktivis Islam Jakarta menolak keras dan berjanji akan melakukan perlawanan. Jadi, naiknya Ahok menjadi Gubernur Jakarta adalah: POTENSI KONFLIK BESAR di Jakarta. Kita tahu, aset-aset besar ekonomi dan pemerintahan ada di Jakarta. Maka hendaknya pemerintah berhati-hati, karena yang mereka hadapi adalah grassroot kaum santri Betawi.

*) Kami hanya ingin mengingatkan kejadian kerusuhan di komplek makam Mbah Priok beberapa tahun lalu. Cukuplah hal itu menjadi peringatan bagi Pemda Jakarta dan Pemerintah RI. Jangan sampai hal seperti ini terjadi dan terulang di pusat-pusat kota Jakarta. Ingat, komunitas yang dihadapi di Priok saat itu identik dengan yang beraksi saat ini di jalanan Jakarta. Bahkan dukungan Habib-habib dalam hal ini lebih luas lagi.

*) Aparat sekuler sering menyamakan antara Jakarta dan Kairo. Kalau Al Ikhwan di Kairo bisa dibabat habis, maka aktivis Islam di Jakarta juga bisa dibabat habis. Itu teori mereka. Tapi tunggu dulu, Al Ikhwan rata-rata didukung kaum intelektual dan kelas menengah. Sedangkan komunitas GMJ, FPI, FBB, Habib-habib, ormas-ormas Islam, rata-rata didukung oleh massa grassroot yang mengakar di masyarakat. Cara mereka berpikir tentang tingkat risiko sangat berbeda.

*) Terakhir, sebagai penutup. Dalam aksi massa di depan Gedung DPRD Jakarta kemarin, seorang habib bercerita. Saat tanggal 10 November itu, beliau teringat pahlawan nasional (yang lambat sekali mendapat pengakuan sebagai pahlawan) yaitu Bung Tomo di Surabaya. Kata beliau, Bung Tomo yang mempopulerkan pekik Takbir dalam perang Jihad. Beliau habiskan masa tuanya di Makkah, sampai meninggal. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di pekuburan Ma’la Makkah. Setahun kemudian pemerintah Indonesia mengutus seorang perwira (letnan kolonel) untuk mengurus kepulangan jenazah Bung Tomo ke Indonesia. Sang perwira itu adalah murid dari habib tersebut. Subhanallah, meskipun sudah wafat selama setahun, jenazah Bung Tomo rahimahullah masih utuh dan menebarkan aroma harum. Ini tanda-tanda karomah seorang pejuang. Hal ini perlu diketahui kaum Muslimin.

Baik, demikian saja yang bisa kami sampaikan, sebagai laporan pandangan mata dari lokasi aksi perjuangan rakyat Jakarta. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


Isu Revolusi: Jangan Sampai Pejuang Islam Jadi Tunggangan Syiah Rafidhah!!!

April 12, 2012

Catatan Editor: Tulisan ini diedit ulang pada Jum’at, 4 Mei 2012. Isi tulisan yang berkaitan dengan Joserizal Jurnalis dan MER-C ditiadakan. Alasannya, ketika saya menghubungi narasumber dan menceritakan pemuatan informasi tersebut, beliau keberatan. Narasumber tidak mau ada pemuatan. Dengan demikian informasi seputar Joserizal dan MER-C ditiadakan. Harap dimaklumi.

_____________________________________________________

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebelum membaca tulisan ini, mohon pembaca sudi terlebih dulu membaca beberapa artikel di bawah ini:

Para Aktivis Islam Mau Dijadikan “Kuda Troya” oleh Kaum Revolusioner Syiah Rafidhah.

[1]. Syiah, Holocaust, dan Clash Civilization (eramuslim.com).

[2]. Waspadai Revolusi Kalangan Syiah (nahimunkar.com).

[3]. Syiah Indonesia Tengah Mempersiapkan Revolusi (eramuslim.com).

Tulisan-tulisan di atas saling berkaitan satu sama lain. Benang merahnya, Syiah Rafidhah tampaknya sedang merancang sebuah revolusi di negeri ini, terinspirasi oleh Revolusi Rafidhah di Iran tahun 1979 lalu. Mereka bukan mengendarai kendaraan sendiri untuk menggulirkan revolusi itu, tetapi mereka memakai isu para aktivis Islam (mujahidin) yang sudah sangat muak dengan regim sekuler Neolib untuk melancarkan revolusi. Bahkan mereka menjadikan para mujahidin sebagai “kuda troya”. Nanti para mujahidin yang bermandi keringat, lalu mereka yang memungut hasil. Sangat menakjubkan!

Adapun tulisan ini sifatnya hanya sebagai pendukung dan pelengkap data saja. Para Ahlus Sunnah di Nusantara harus segera sadar, betapa sangat berbahaya konspirasi Syiah yang mengatasnamakan “revolusi” itu. Semoga Allah Ar Rahmaan senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan untuk menetapi jalan hidup yang diridhai-Nya. Amin Allahumma amin.

Mari kita mulai merunut fakta dan datanya…

[1]. Analisis dari lembaga Islam internasional, Rabithah Ulama Muslimin:

“Gejolak kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini rupanya menjadi perhatian Rabithah Ulama Al-Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin)Dalam sebuah Muktamar terbarunya di Istanbul, Turki yang berlangsung dari tanggal 27-28 Rabi’ul Awwal 1432 H baru-baru ini, Rabithah Ulama Muslim mendukung langkah-langkah reformasi di Tunisia dan Mesir. Acara bertema, “Ulama dan Kebangkitan Umat” yang yang dihadiri lebih dari seratus ulama dan du’at (dai) dari 35 negara itu membahas dan mendiskusikan berbagai topik aktual di Dunia Islam.

Rabithah juga mengingatkan umat Islam dari bahaya konspirasi global Syi’ah Shafawiyah dengan propagandanya yang menipu; baik itu di Bahrain dan negara lainnya. Syi’ah Shafawiyah adalah Aliansi strategis pemerintah Iran, pemerintah Suriah, kelompok Hizbullah dan kelompok Syiah Irak yang ingin mengembalikan kejayaan dinasti (Syi’ah) Shafawiyah dan Fathimiyah dalam menguasai kekuasaan di semenanjung Arab dan Afrika. (DR Muhammad Bassam Yusuf, penulis buku “Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan Neo Syiah Shafawis terhadap Ahlussunnah di Semenanjung Arabia”).

Perhatikan: Ini hasil analisis para ulama Muslim Ahlus Sunnah sedunia. Tidak boleh ada sikap ofensif, meremehkan, atau segala “celetukan” yang bernada mementahkan bayan di atas. Ingat selalu, “Al ulama’u waratsatul anbiya‘” (ulama itu pewaris para Nabi). Kalau kalangan Syiah meremehkan atau mementahkan, wajar saja wong mereka memang mengikuti jalan “begituan”.

[2]. Mungkinkah Syiah Rafidhah akan melakukan revolusi di Indonesia, sedangkan jumlah mereka sangat minoritas? Kalau di Iran atau Irak mungkin saja, tapi di Indonesia apa mungkin? Ini pertanyaan penting. Jawabnya: Kalangan Syiah Rafidhah akan memakai pola seperti di Suriah. Mereka jumlahnya minoritas, tetapi mengendalikan militer untuk menjajah kaum Ahlus Sunnah. Pola mereka bukan seperti di Iran, tetapi seperti di Suriah. Singkat kata, mereka bukan akan memakai jalan demokrasi atau semacamnya, tetapi jalan kekuasaan dan kekerasan militer.

[3]. Apa mungkin Syiah Rafidhah akan main kekerasan? Jawabnya, sangat mungkin. Menurut informasi yang beredar di kalangan aktivis Islam, Syiah Rafidhah di Indonesia telah memiliki apa yang dinamakan “Laskar Al Mahdi”. Ini adalah semacam kekuatan milisi swasta yang sewaktu-waktu bisa diarahkan menjadi organisasi sejenis “Hizbullah” di Libanon itu. Anda perlu ingat juga, saat perayaan Hari Asyura beberapa waktu lalu, ia diadakan di komplek lapangan udara Halim Perdanakusumah. Hebat banget, mereka sudah bisa mengakses fasilitas militer milik TNI.

[4]. Sebagai fakta lanjutan, masih ingat buku “Trilogi Idahram”, khususnya buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”? Dalam buku-buku ini, kaum Salafi-Wahabi oleh Idahram dan Said Aqil Siradj diposisikan sebagai “musuh negara” alias “teroris”. Said Aqil kerjasama dan BNPT (Ansyad Mbai) gandeng-renteng melakukan upaya deradikalisasi. Ansyad Mbai sendiri secara verbal akan menjadikan buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” sebagai rujukan lembaganya. Apa yang bisa disimpulkan? Ini adalah cara main kekuasaan dan kekerasan.

[5]. Coba perhatikan ucapan Idrus Jamalullail yang di sebuah media: “Habib Idrus Jamalulail di acara maulid Nabi (hari Jum’at malam tanggal 3 Februari 2012) mengatakan, peringatan maulid jangan hanya mengejar nasi kebuli, tetapi harus ada target untuk mengangkat Imam untuk kaum Muslimin di Indonesia. “Kalau di dunia ada Imam Khomeini, maka mari di Indonesia kita angkat Habib Rizieq Syihab sebagai Imam kaum muslimin di Indonesia.” Ini adalah signal-signal, bahwa para aktivis akan menjadikan “imam khomeini” sebagai inspirasi gerakan mereka. Kalau benar-benar Ahlus Sunnah, akan sangat risih dengan pernyataan seperti ini. Apa tidak ada inspirasi lain yang lebih baik selain Khomeini?

[6]. Tanggal 12 Maret 2012, di ruang Anggrek Istora Senayan, dilaksanakan acara dialog bertema “Calon Presiden Syariah”. Acaranya sangat meriah sekali dan didukung spirit besar para aktivis Islam. Singkat kata, forum ini berencana menjadikan Habib Riziq sebagai Capres Syariah, dan menggulirkan tatanan negara Indonesia yang berbasis Syariat Islam. Dalam satu pernyataannya, Al Akh Munarman mengatakan: “Kalau nanti kita sudah berhasil mengangkat seorang Capres Syariah, pada hari itu juga kita terbitkan dekrit yang menyatakan di Indonesia berlaku Syariat Islam.” Begitu kurang lebih pernyataan Munarman. Singkat kata, para aktivis gerakan Islam ini insya Allah tulus ingin menegakkan Syariat.

Tetapi menariknya, di sela-sela acara, ada seorang penanya atau sebutlah “penceramah dadakan” berasal dari Bogor. Dalam pernyataannya dia kembali mengangkat nama “Imam Khomeini”. Kata dia, di Indonesia saat ini butuh sosok seperti “Imam Khomeini” untuk memimpin gerakan revolusi. Rasanya sangat risih, mengapa Khomeini lagi Khomeini lagi? Hal ini menjadi signal untuk kesekian kalinya, bahwa ada bayang-bayang Syiah Rafidhah di balik gerakan revolusi yang hendak digulirkan para aktivis Islam itu.

[7]. Bukan kebetulan jika hari-hari ini para aktivis Syiah sangat nafsu menyebarkan ceramah Habib Riziq Shihab yang membantah buku Yazid Abdul Qadir Jawwas yang berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf”. Oleh para aktivis Syiah, buku ini mereka pakai untuk menyerang kaum Wahabi. Nah, itulah liciknya mereka, selalu menggunakan momen untuk menyerang musuh-musuhnya dari kalangan Ahlus Sunnah Salafiyah (baca: Wahabi). Modusnya sama, yaitu masuk dari celah sikap dai-dai Salafi, lalu memanfaatkan hal itu untuk menyerang Ahlus Sunnah secara umum. Modus buku “Trilogi Idahram” kan begitu. Penulisnya masuk dari fakta-fakta kerasnya dakwah ikhwan Salafi, lalu menyerang Ahlus Sunnah secara membabi-buta.

Coba perhatikan kata-kata Habib Riziq dalam ceramah itu: “Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam. Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah 1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan Asy’ari. Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa? 1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah  itu adalah Asy’ari dan Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka. Innalillahi wainailahi rojiun.” (Sumber: Tanggapan Habib Riziq Terhadap Wahabi dan Syiah).

Lihat pernyataan di atas, bermula dari buku Yazid Abdul Qadir Jawwas, lalu masuk menyerang Wahabi secara keseluruhan. Masya Allah…apakah itu keadilan, Habib Riziq? Bukankah selama ini Anda banyak dibantu, didukung, dipromosikan oleh kalangan Wahabi? Apa sih susahnya membatasi masalah HANYA pada buku Ustadz Yazid Jawwas saja, tanpa harus menempeleng atau memukul kalangan Wahabi? Mestinya Habib Riziq bisa membedakan masalah umum dan khusus, masalah pribadi dan jamaah, masalah ushul dan furu’.

[8]. Perlu diingat juga, pertimbangan geopolitik. Indonesia itu besar, tetapi kekuatan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pulau Jawa luas, tetapi titik pusat kekuasaan di DKI Jakarta. Banyak orang berteori, kalau Jakarta bisa dikuasai, maka Indonesia akan mudah dikuasai. Maka itu pada era tahun 1965 dulu, target revolusi PKI adalah Jakarta. Sedangkan secara sosial-keagamaan, Jakarta bisa dibilang telah dikuasai oleh jaringan Habib-habib. Kalau tidak percaya, turunlah ke Jakarta. Lihat spanduk, baliho, dan aneka acara Mauludan “forever and forever” yang biasa diadakan di Jakarta! Bisa saja, nanti Habib Riziq didukung para Habaib Jakarta untuk melakukan revolusi. Ketika Habib Riziq sudah kedodoran, baru para Habaib akan tampil ke depan untuk merebut kekuasaan Habib Riziq. Ingat, para Habaib di Jakarta memiliki massa pengikut yang sangat banyak sekali.

Dulunya Jakarta ini dikuasai kawan-kawan PKS. Tetapi karena mereka tidak amanah, dan lebih cinta dunia, akhirnya warga Jakarta berpaling ke komunitas “Mauludan forever and forever” itu, yaitu kalangan Habib-habib. Fakta yang tampak selama ini, para penggiat dakwah Syiah Rafidhah di Indonesia juga kalangan Habib-habib asal Hadramaut ini. Salah satu yang disebut-sebut mendukung Syiah ialah Habib Husein Al Attas.  Namun yang bersangkutan menolak dikatakan sebagai Syiah. Dia bahkan menantang mubahalah bagi sesiapa saja yang menuduhnya sebagai Syiah.

[9]. Tampaknya Syiah Rafidhah sangat lihai dalam memainkan peran media. Mereka butuh kekuatan revolusioner untuk mendobrak regim sekuler yang berkuasa. Maka itu mereka memanfaatkan para aktivis dan mujahidin Islam yang pro Syariat, sebagai kuda tunggangan. Para aktivis dan mujahidin hendak dibenturkan dengan pengusa sekuler. Ketika terjadi benturan (yang populer disebut “revolusi”) para aktivis Islam dan mujahidin pada bonyok dihajar oleh penguasa (militer dan Polri). Tetapi aparat juga bonyok juga. Akhirnya, ketika kedua pihak sudah bonyok, Syiah Rafidhah akan masuk memetik hasil. Itulah skenarionya.

Makanya saat ini Syiah Rafidhah sangat giat membangun kekuatan di segala lini. Tujuannya, mempersiapkan diri untuk memetik kekuasaan, setelah para mujahidin dan aktivis Islam bonyok disikat aparat keamanan. Maka itu tak heran, kalau Syiah Rafidhah mendukung isu-isu revolusi ini, tujuannya agar para pemuda Islam terbakar amarah dan emosinya, sehingga hal itu bisa mereka pakai untuk mengambil alih kekuasaan.

Bayangkan, dalam isu revolusi ini, kita sudah mendengar pernyataan-pernyataan SERAM, seperti: “Orang-orang miskin, kalian jangan putus-asa, jangan bunuh diri. Daripada bunuh diri, lebih baik kalian bunuh SBY. Hari ini mahasiswa sudah berhasil menguasai Gedung DPR, kapan kita menguasai Istana Negara? Nanti kalau sudah terpilih Presiden Syariah, kita akan umumnya dekrit bahwa di Indonesia berlaku Syariat Islam. Anggota militer harus mendukung, kalau tidak mendukung, nanti Anda akan kami perangi!” Bayangkan wahai sahabat, pernyataan demikian sudah bermunculan!

[10]. Kita bukan pro “ulil amri” sekuler, tetapi pro Ulil Amri yang tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu sudah menjadi akidah dan pilihan kita. Kalau pro “ulil amri” sekuler, nanti kita akan ikut memikul dosa “ulil amri” seperti itu, karena kita tidak mengingkari kemunkarannya. Intinya, kita pro Ulil Amri sesuai Syariat Islam. Tetapi disini ingin diingatkan, betapa bahayanya kalau para aktivis atau mujahidin Islam menjadi “kuda tunggangan” revolusi Syiah seperti yang diungkap oleh Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Jangan sampai kita dikadalin oleh Syiah. Para aktivis Islam yang bermandi keringat (atau bahkan darah), sedangkan Syiah Rafidhah yang memetik hasil.

Ingat peristiwa Revolusi 1998. Ketika itu mahasiswa yang berkuah keringat-darah, lalu yang memetik hasil Abdurrahman Wahid dan Megawati. Amat sangat disayangkan sekali. Kata para ustadz, “Kita ini selalu menjadi pendorong mobil mogok. Setelah mobil berlari, kita ditinggalkan.” Tampaknya Syiah Rafidhah mau memakai cara yang sama terhadap para aktivis Islam.

Disini kita ingin menegaskan: Insya Allah Habib Riziq, FPI, para aktivis dan mujahidin Islam, mereka ini orang-orang yang giat, ikhlas, dan ingin menggulirkan perubahan. Tetapi kalau tidak waspada, mereka bisa dikendalikan oleh tangan-tangan Syiah Rafidhah di balik layar. Lalu mereka yang memungut hasil kekuasaan, sedang kita gigit jari. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Mari kita atur lagi barisan. Mari kita damaikan antara kalangan Asy’ari-Maturidi dan kalangan Wahabi. Jangan membuat perselisihan di antara dua barisan besar ini, sebab Syiah akan memungut hasil dari pertikaian di antara kita. Itulah pesan utamanya. Jazakumullah khairan katsira. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Ayahnya Syakir].

NB: Sebagian redaksi seputar Husein Al Attas sengaja diperbaiki. Alasannya, seperti tercantum dalam tulisan millis Gheis Chalifah, bahwa tidak ada yang secara meyakinkan bisa membuktikan bahwa Husein Al Attas adalah Syiah.


Ide Memiskinkan Media Sekuler…

Maret 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia perlu meningkatkan taraf perjuangannya, sebab tantangan-tantangan yang dihadapi semakin berat, komplek, dan sangat tajam. Kita tidak bisa hanya memakai cara-cara lama untuk menyikapi realitas kontemporer yang semakin rumit ini. Perlu ada terobosan-terobosan baru untuk memecah kebuntuan, demi menyelamatkan eksistensi Islam di bumi Nusantara.

Sebuah contoh mudah, adalah demo para aktivis Islam dengan tajuk: “Indonesia Damai Tanpa Liberal”. Untuk aksi besar ini ternyata liputan media TV dan koran-koran sangat minim. Sehingga Habib Rieziq menyimpulkan, “Karena kita bukan bencong, banci, dan homo, maka tidak ada televisi yang meliput aksi kita.” Itu kan artinya, media-media sekuler tersebut telah nyata-nyata dikuasai manusia-manusia amoral seperti banci, bencong, homo, free sex, dan seterusnya.

Dalam kasus sebelumnya di Palangkaraya, ada ratusan atau ribuan kaum Dayak berusaha mengepung dan mengancam keselamatan beberapa pimpinan FPI. Bahkan mereka terus memburu, sekalipun para pimpinan itu sudah berada di Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Hal ini lalu menjadi angle bagi media-media untuk JUSTRU menjelek-jelekkan FPI dan menghembuskan isu pembubaran ormas Islam tersebut. FPI jadi korban mereka dituntut dibubarkan, apalagi kalau FPI yang melakukan aksi pengepungan? Jangan-jangan media-medis sekuler itu akan menuntut Islam dibubarkan? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Kasus-kasus kezhaliman media ini bukan sekarang saja. Sudah sangat sering. Dalam isu-isu terorisme, betapa banyak media yang ikut “membunuhi” para aktivis Islam, di balik punggung Densus88 dan aparat kepolisian. Begitu juga dalam kasus Cikeuting, Cikeusik, Pemalang, Kuningan, dll. Termasuk tentunya kasus Insiden Monas, 1 Juni 2008. Intinya, media-media itu memang benar-benar anti Islam, pro demoralisasi kehidupan bangsa, dan tidak bersikap adil layaknya media yang jujur-obyektif (sesuai kode etik jurnalistik yang menjadi panduan insan media di Indonesia selama ini).

Singkat kata, peranan media-media sekuler ini bukan saja membahayakan Islam dan kaum Muslimin. Tetapi juga sangat membahayakan bangsa dan negara. Sangat jelas bahwa mereka lebih pro industrialisasi, pro kepentingan asing, pro kepentingan konglomerat, pro kepentingan politik partai tertantu, pro liberalisme kehidupan, dan seterusnya. Demi Allah, agenda liberalisme kehidupan itu sangat kuat dampaknya dalam merusak MORAL BANGSA; pada gilirannya ia akan menghancurkan bangsa Indonesia ini sendiri. Jangankan berdasarkan Syariat Islam; berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip Pancasila saja, liberalisme kehidupan itu amat sangat bertentangan. Hanya lagi-lagi, media sekuler selalu menyembunyikan semua itu.

Pertanyaannya: Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meruntuhkan eksistensi media-media sekuler ini?

Ummat Islam bisa membentuk sebuah komite advokasi Muslim (semodel Tim Pembela Muslim) yang khusus dibuat untuk melakukan gempuran-gempuran hukum terhadap media-media sekuler anti Islam itu. Komite ini tidak bertugas lain, selain hanya menggempur media-media sekuler yang selalu merugikan kepentingan Ummat Islam itu. Sebab, kalau kita tidak bisa melawan sebaran media mereka melalui media yang seimbang; kita bisa melawan mereka dengan jalur hukum. Dasar pemikirannya sederhana: “Setiap pelanggaran secara sengaja atas hak-hak kaum Muslimin oleh siapapun, bisa dicarikan landasan pelanggaran hukumnya, sekalipun dalam format hukum positif yang berlaku di Indonesia.”

Para ahli hukum Muslim bisa menggali banyak landasan hukum untuk menjerat media-media sekuler itu dengan pasal-pasal pelanggaran hukum, menurut versi hukum yang berlaku. Secara teknis, pelanggaran-pelanggaran itu perlu lebih sering dilimpahkan ke jalur hukum; tidak melulu dilakukan solusi-solusi negosiasi “kekeluargaan”. Bahkan dari pengalaman-pengalaman ini komite advokasi Muslim bisa belajar banyak, sehingga akan membuka celah-celah kekalahan media-media itu secara hukum. Tujuan akhirnya, ialah meruntuhkan media-media itu dengan tuntutan ganti-rugi yang sangat memberatkan beban keuangan mereka. Kalau perlu dituntut dengan nilai triliunan rupiah.

Memang ada peluang ralat, permohonan maaf, dan sebagainya yang dilakukan oleh media. Tetapi kalau mereka SERING melakukan permohonan-permohonan maaf, hal itu akan menghancurkan CITRA mereka sebagai media yang kredibel. Bahkan dengan semua catatan buruk media tersebut, kita bisa mencatat permohonan-permohonan maaf mereka dalam “Daftar Hitam Sejarah Hitam Media Sekuler”. Hal ini secara moral sangat berat bagi mereka.

Ide memiskinkan media-media sekuler, sama seperti ide memiskinkan para koruptor. Kalau mereka berhasil dilorot kekuatan kapitalnya, maka insya Allah tidak akan berani macam-macam dan kurang ajar. Pak Munarman, SH. bisa didorong untuk memasuki wilayah advokasi anti media sekuler ini. Dengan tentunya, beliau mesti bisa menurunkan sedikit tensi-nya ketika berhadapan dengan manusia-manusia sekuler itu.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah kontribusi dalam rangka melindungi, membantu, dan menolong kaum Muslimin dari segala kezhaliman elemen-elemen sekuler (semoga Allah menuntun mereka menuju taubat dan Syariat Islam, amin). Hanya kepada Allah kita berlindung diri, di atas urusan agama, dunia, dan akhirat. Allahumma amin.

AMW.


Partai Demokrat Tambah Ancur Cur…

Februari 22, 2012

Baru-baru ini situs suara-islam.com memuat berita yang sangat heboh. Heboh…boh…boh. Beritanya tentang skandal seks yang pernah Ulil Abshar Abdala lakukan dengan seorang cewek bernama, Marchelinta. Parah, parah, parah banget. “Sesuatu bhangghetth…” kata anak-anak ABG.

Berita lengkapnya baca artikel berikut: FPI Buka Skandal Seks Dedengkot JIL. Disini diungkap foto-foto pesan BBM Ulil Abshar. Disana terlihat jelas foto dan nama Ulil Abshar. Parah, parah, parah baaaangghetth…

Ulil Sedang Pusing 7 Putaran…

Berikut ini kata-kata Ulil Abshar dalam BBM ketika dia merasa cemburu dengan Marchelinta: “Kamu menyakiti aku berkali2. Aku berusaha sabar. Yg terakhir kemaren itu, aku sudah tak tahan. Aku baru saja kirim bunga Valentine ke kamu, tiba2 kamu pacaran dengan cowo lain, dan kamu tunjukin di pp BB.”

Kasihan bangghetth Si Ulil. Dia sudah nafsu, sampai begitunya. Apa dia gak inget anak-isteri ya? Wal ‘iyadzubillah min dzalik.

Partai Demokrat (PD) yang sudah carut-marut, dengan tersebarnya berita ini semakin nyungsep saja. Kasihan Pak Sebeye. Mungkin sebentar lagi dia akan menggubah lagu baru, bertema melankolik. “Betapa malang nasibku… Semenjak ditinggal ibu….” Jadi teringat lirik lagu Ratapan Anak Tiri yang sangat populer saat aku duduk di bangku SD dulu. Lagu ini kalau dinyanyikan Pak Sebeye, mungkin bisa menaikkan pamornya. Meskipun tentu jadi tampak lebay sekali.

Sangat menyedihkan. Padahal Ulil Abshar ini kan menantu KH. Mustafa Bisri, seorang kyai terkenal asal Rembang. Bagaimana perasaan dia dan keluarganya ketika melihat kelakuan menantunya seperti itu?

Ya, orang-orang yang berani melecehkan Syariat Islam, dia akan dilecehkan oleh Allah Ta’ala. “Innalladzina yuhaaddunallaha wa rasulahu kubitu kamaa kubitalladzina min qablihim” (sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dihinakan seperti telah dihinakan orang-orang sebelum mereka). [Al Mujaadilah: 5].

Kalau ada yang bertanya, bagaimana cara menghukum orang-orang seperti Ulil Abshar, atau Habib “Homoseks” Hasan bin Ja’far Assegaf (Pemimpin Majelis Taklim Nurul Mustofa) itu? Bagaimana baiknya?

Ya, kalau menurut hukum Islam, ya dihukum rajam, sampai mati. Untuk pelaku homoseks, boleh juga dihukum mati, meskipun bukan dengan rajam. Kalau tidak salah, ada pembahasan soal itu.

Kalau hukum seperti itu sulit diterapkan, bolehlah dihukum dengan beberapa alternatif berikut ini:

==> Dilemparkan ke kandang buaya, buat tambahan ransum. Biar nanti matinya pelan-pelan. Mula-mula tangan dulu ilang, lalu kaki, lalu ini, itu, dan seterusnya.

==> Atau dibuat tambahan pakan ternak.

==> Atau kalau mau, dijadikan obyek eksperimen di kandang ikan hiu. Ya, kita mau lihat, apa dagingnya masih disukai ikan itu atau tidak?

Ini hanya sekedar intermezzo. Intinya, wajah Partai Demokrat semakin gak karu-karuan. “Betapa malang nasibku…,” terdengar seorang pemimpin politik melantunkan lagu melankolik.


Konspirasi: FPI Jadi Korban, FPI Dihujat !!!

Februari 14, 2012

Kalau jujur mau mengakui, di Indonesia ini banyak orang-orang aneh. Lihatlah kelakuan media-media yang kini gencar menyerang FPI. Mereka itu kelihatan pintar, intelektual, cerdas; tetapi moralitasnya ambruk. Sayang, sangat disayangkan sekali. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Sudah jelas-jelas beberapa hari kemarin, saat kunjungan ke Kalimantan Tengah, beberapa tokoh FPI nyaris menjadi sasaran amuk massa dan pengepungan komunitas-komunitas Dayak anarkhis. Buktinya, DPP FPI melaporkan Gubernur dan Kapolda Kalteng ke mabes Polri untuk beberapa tuduhan sekaligus. Salah satunya, upaya pembunuhan pimpinan FPI.

FPI Jadi Korban, Kok Malah Dihujat. Aneh Sekali Kan? Ada Apa Ini?

Tapi aneh bin ajaib. FPI yang jadi korban, FPI juga yang dihujat. Dalam demo di Bundaran HI, Ulil Abshar dan kawan-kawan menyerukan agar FPI dibubarkan. Media-media massa, termasuk MetroTV dan TVOne, tidak segan-segan memberi CORONG GRATIS kepada siapa saja yang anti FPI, dengan tentunya -seperti biasa- mereka tinggalkan etika Cover Both Side. Kompas malah sangat kacau (kalau tidak disebut rusak nalar), media itu mengutip pernyataan Din Syamsuddin yang katanya menolak ormas anarkhis. Padahal dalam perkataan Din, tidak ada pernyataan ormas anarkhis.

Paling parahnya, SBY juga ikut-ikutan menyudutkan FPI. Dia meminta agar FPI instropeksi diri. Orang ini aneh sekali. Masalah hukum soal “ancaman pembunuhan” tokoh-tokoh FPI belum dia bahas, malah sudah meminta FPI instropeksi diri. Hal begini ini kan sangat kelihatan kalau kasus FPI itu sebagai pengalihan isu, ketika Partai Demokrat sedang dilanda “Tsunami Besar” akibat kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit mereka. Kita mesti ingat, di masa-masa sebelum, setiap ada masalah besar menimpa Pemerintah SBY, selalu saja ada “jalan keluar” berupa kasus-kasus terorisme, kerusuhan agama, dan lainnya.

Nah, disinilah kita saksikan betapa anehnya kelakuan orang-orang Indonesia. Sudah tahu, mereka itu sakit dan banyak menanggung penyakit. Bukannya berobat atau menahan diri, agar sakitnya tidak semakin parah. Malah mereka semakin menghujami dadanya dengan belati tajam, untuk menghancurkan dirinya sendiri. Aneh…aneh…tidak waras!

Kalau dicermati, tampak adanya KAITAN antara insiden di Palangkaraya, respon media-media massa yang begitu cepat, gerakan demo anti FPI dipimpin oleh seorang tokoh Partai Demokrat, serta pernyataan SBY. Semua elemen-elemen ini tampaknya saling berkaitan satu sama lain, menggarap isu FPI, dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat dari bencana korupsi yang kini sedang menimpa jajaran elit Partai Demokrat.

Kalau dianalisis lebih dalam, kita bisa melihat adanya model skenario yang KEMUNGKINAN dijalankan, untuk menjebak FPI dalam pusaran kasus sosial; lalu kasus itu dipakai untuk tujuan-tujuan politik.

Pertama, FPI diundang datang ke Kalteng untuk membela masyarakat yang katanya dizhalimi oleh Gubernur Kalteng. Mengapa FPI ingin dilibatkan? Karena FPI secara gagah berani membela warga Mesuji, Lampung. Kasus Mesuji itu bisa menjadi titik peluang untuk mengundang FPI ke Kalteng.

Kedua, ketika di Kalteng, pihak Gubernur sudah menyiapkan penyambutan bagi tokoh-tokoh FPI yang akan datang. Menurut informasi, gerakan massa dimulai dari kantor Gubernur Kalteng. Aneh sekali, kantor negara dipakai untuk merencanakan gerakan-gerakan anarkhis.

Ketiga, terjadi insiden di lapangan udara Palangkaraya, berupa penolakan dan pengepungan pesawat oleh massa anarkhis, dengan membawa senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata makian. Alhamdulillah, tidak ada satu pun tokoh FPI yang cidera secara fisik. Insiden terjadi lagi saat tokoh-tokoh FPI singgah di Banjarmasin.

Keempat, sebelum insiden terjadi pihak FPI sudah mencium ada gelagat tidak beres di Kalteng. Dan lebih mengherankan lagi ketika Kapolda Kalteng angkat tangan, tidak mau tanggung-jawab kalau tokoh-tokoh FPI tetap datang ke Kalteng. Hal ini membuktikan, bahwa ada SKENARIO BESAR yang tak sanggup dihadapi oleh Kapolda Kalteng.

Kelima, setelah terjadi insiden Kalteng, para aktivis LIBERAL dan KOMPRADOR di Jakarta sudah menyiapkan demo untuk menggugat FPI. Media-media massa sudah siap “nampani” amanah untuk menggebuk FPI dari sisi opini media. Kompas, Detik.com, MetroTV, TVOne, Kantor Berita Antara, dll. sudah siap untuk memanaskan situasi. Mereka lupa sama sekali dengan kenyataan, bahwa tokoh-tokoh FPI hampir habis dikeroyok komunitas Dayak anarkhis.

Keenam, sebagai bagian dari skenario ini ialah pernyataan SBY yang meminta agar FPI instropeksi diri. Ditambah lagi pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi, bahwa ormas anarkhis bisa dibekukan.

Hal-hal seperti di atas bisa dibaca secara terpisah-pisah, bisa juga dibaca sebagai sebuah kesatuan skenario, demi menjatuhkan FPI dan mencapai target politik tertentu. Lagi pula hal-hal demikian sudah sering terjadi. Saat kapan saja ketika Pemerintah SBY atau Partai Demokrat sedang terdesak, selalu ada “jalan keluar” untuk mengalihkan perhatian publik. Yang paling sering dipakai adalah isu TERORISME, ormas anarkhis, dan kerusuhan berbasis agama.

Tapi yang paling kasihan dari semua ini ya…masyarakat Indonesia selama ini (dan tentu saja aktivis-aktivis Islam yang sering “digunakan” oleh negara sebagai “jalan keluar”). Masyarakat terus disuduhi kebohongan, penyesatan, skandal, konspirasi, pengkhianatan, kezhaliman, dan seterusnya.

Yah, bagaimana hidup akan aman, tentram, dan damai; kalau cara-cara licik seperti itu selalu dipakai? Mau hidup damai dimana, Pak, Bu, Mas, dan Mbak? Anda hendak sembunyi di dasar inti bumi sekalipun, kalau OTAK LICIK itu masih ada, nonsense akan ada kedamaian. Yang ada hanyalah kemunafikan telanjang; mengaku anti kekerasan, padahal paling terdepan dalam membela kezhaliman. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Ya Allah ya Rahman, selamatkanlah kaum Mukminin, Mukminat, Muslimin, dan Muslimat; dimana pun mereka berada, khususnya di negeri Nusantara ini. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Abah Syakir.


Gamawan Fauzi Ingin Melindungi Tape Ketan. He he he…

Januari 14, 2012

Ada yang lucu dari argumen Mendagri, Gamawan Fauzi, dengan tokoh-tokoh FPI & FUI, pasca demo di sekitar kantor Kemendagri (Kamis, 12 Januari 2012) lalu. Dalam dialog yang dilakukan, Mendagri mengkhawatirkan pelaksanaan Perda Miras di kota/kabupaten tertentu, bisa mengganggu eksistensi makanan tradisional, seperti tape singkong dan ketan hitam.

Data faktualnya sebagai berikut:

5. Mendagri pada prinsipnya tidak melarang Perda Anti Miras, hanya dikhawatirkan Perda Anti Miras yang melarang total peredaran minuman / makanan beralkohol tersebut akan berimbas kepada makanan tradisional yang juga mengandung alkohol seperti tape singkong dan tape ketan dan yang sejenisnya, sehingga bisa menimbulkan problem sosial baru di kemudian hari. Ada pun Miras yang merusak masyarakat pada prinsipnya Mendagri sangat setuju untuk dilarang. (Inilah Kesimpulan FPI Hasil Pertemuan dengan Mendagri, Suara-islam.com, 13 Januari 2012).

Dalam dialog dengan KH. Amidan (dari MUI) dan Romaharmuzy (dari PPP) di salah satu TV swasta, Gamawan Fauzi juga menekankan soal makanan tradisional yang mengandung alkohol, seperti tape singkong dan tape ketan. Jadi, alasan tape itu memang serius, sehingga sering dipakai sebagai “senjata” oleh Pak Menteri. Lucu juga…

Hal-hal demikian ini tampak lucu… Tapi tergantung selera humor juga. Kalau seleranya “sekelas OVJ” kagak bakalan ngerti deh. Wong, lawakan di Trans7 itu benar-benar nyampah… Sama juga nyampah-nya dengan lawakan “komedi projek” di TransTV. Nonton lawakan begituan bukan tambah sehat, malah tambah sakit…

Coba kita renungkan…

PERTAMA, sejak kapan Mendagri begitu peduli dengan tape singkong dan tape ketan? Wuih, hebat, hebat banget… Kalau Walikota Solo Jokowi peduli dengan Mobil ESEMKA. Nah, ini Pak Menteri (atasan Jokowi) peduli dengan tape singkong dan tape ketan. Wuih wuih wuih…hebat betul. Beliau layak menjadi “Bapak Makanan Tradisional”, khususnya “Bapak Tape Ketan”.

KEDUA, sebenarnya eksistensi tape singkong, tape ketan, atau peuyeum (dalam tradisi masyarakat Sunda) bukan hal baru lagi. Ini sudah aja sejak ratusan tahun lalu. Makanan-makanan demikian, dalam bentuk padatan, tidak pernah menjadi pemicu kriminalitas, tawuran, perkelahian, dll. Seperti di Madiun terkenal dengan makanan Brem. Ini juga dibuat dari saripati air tape ketan. Tapi baik-baik saja. Tidak ada klaim, orang makan Brem lalu tawuran. Jadi sebenarnya, makanan tradisional ini bukan sumber masalah sosial.

KETIGA, air dari tape ketan memang bisa dibuat tuak (minuman keras). Ini bisa dan memang ada praktiknya. Tetapi semua orang bisa membedakan dengan jelas mana tape ketan dan mana tuak? Itu bedanya jelas, lho. Kalau sudah berupa tuak, maka konsumennya pun berbeda. Untuk tape ketan, yang makan segala golongan; tetapi untuk tuak, yang mengonsumsi ya kalangan “tukang mabuk” saja. Itu beda Pak Menteri.

KEEMPAT, secara Syariat Islam, masih ada perselisihan. Sebagian orang menganggap makanan seperti tape ketan atau tape singkong tidak boleh dikonsumsi, karena mengandung alkohol. Sebagian lain berpendapat boleh dikonsumsi, sebab makanan itu bukan KHAMR (minuman memabukkan yang biasa dikonsumsi tukang mabuk). Makanya, hukum tape ketan itu masih “di tengah-tengah”, antara yang tidak membolehkan dan membolehkan. Tetapi semua pihak sepakat bahwa tuak (minuman keras) memang diharamkan.

Jadi, alasan Pak Menteri sangat mengada-ada. Itu adalah alasan yang dicari-cari. Logika mereka, “Pokoknya harus ada yang bisa dipakai mendalili pencabutan Perda Anti Miras. Cari saja deh, apapaun dalilnya.” Posisi tape singkong atau tape ketan itu masih diperdebatkan di kalangan ahli fiqih Islam di Tanah Air. Jadi, bagaimana bisa ia masuk dalam aturan Perda Miras yang melarang beredarnya minuman keras? Tidak akan masuk kesana, Pak Menteri.

Perlu diketahui, untuk membuat miras itu bisa dengan banyak bahan. Singkong atau ketan, hanya sebagian bahan saja. Miras bisa dibuat dari gandum, dari air aren, dari jus buah, dll. Bahkan anggur itu terkenal sebagai salah satu bahan baku pembuatan miras di dunia. Kalau misal masalah tape singkong dan ketan dianggap masalah, jangan-jangan nanti anggur juga dilarang? Apakah akan sejauh itu? Masya Allah…

Mungkin karena saking kepepet, alasan apapun dipakai. Meskipun tidak logis… Tentu ini lucu sekali. Meskipun, pada akhirnya, kembali ke “selera humor” masing-masing orang. Iya kan… Tapi yang jelas, kalau Anda membaca artikel ini lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang nonton OVJ Trans7, wah bahaya tuh… Perlu periksa ke psikiater. Sok geurak periksa. Khawatir aya nanaon… He he he…

 

Mine.