Selamat Malam, Jendral !!!

April 29, 2015

++ Jendral, kenapa Anda senang banget dg slogan “NKRI Harga Mati”.

>> Pasti dong. Stiap prajurit harus hafal slogan itu. Dan disebarkan dimana-mana.

++ Memang kenapa, Jendral?

"Selamat Malam, Jendral"

“Selamat Malam, Jendral”

>> Ya tahu sendirilah, slama ini banyak ancaman-ancaman terhadap keutuhan bangsa.

++ Contoh ancamannya apa dan dari mana?

>> Misalnya gerakan radikal, ektsrem, teroris. Itu membahayakan NKRI.

++ Apakah ancaman bagi NKRI cuma teroris saja, Jendral?

>> Ya teroris paling bahaya.

++ Bagaimana dg konglomerat yang punya dana triliunan rupiah, dan terus merusak dan menyandera kehidupan politik nasional?

>> No comment.

++ Bagaimana dg investor-investor asing yg terus merajalela menguasai aset-aset bangsa?

>> Gak tahu.

++ Bagaimana dg gerakan China Rantauan yg mau menguasai negeri ini?

>> Ra weruh.

++ Bagaimana dg gerakan PKI yg kian berani tampil terbuka dan buat manuver?

>> Oh ya, benarkah?

++ Bagaimana dg gerakan Syiah yg terus mematangkan revolusi di negeri ini?

>> Syiah bukan teroris kan. Dia orang Muslim kan? Kenapa antar Muslim tidak bersatu?

++ Aneh, bukan ulama, tapi sok tahu. Anda mau negeri ini jadi seperti Suriah, Yaman, Libanon, dan Irak?

>> Jangan didramatisir.

++ Bagaimana dg rezim penguasa yg terus menerus menghancurkan sendi-sendi agama, kekuatan ekonomi rakyat, dan menindas semena-mena?

>> Ya itu semua ada mekanismenya. Ada aturan. Smua ada UU-nya.

++ Jadi mau Anda apa Kopral, eh maksudnya, Jendral?

>> Pokoknya begini ya. Ini negara hukum. Ini negara Pancasila. Smua ada aturannya. Stiap aturan bisa KAMI AKALI. Eh maksudnya, harus dipatuhi. Apapun namanya…yang penting “NKRI harga mati”.

++ Aneh Anda Jendral! Orang-orang yg tulus membela bangsa, dimusuhi. Sedang yg jelas-jelas merusak bangsa, malah dibela. Aneh bin ajaib.

>> Itu hak saya dong. Mau apa kek, itu urusan saya.

++ Sangat menyedihkan, Jendral!

>> Apa maksudmu?

++ Dengan kata-kata “NKRI Harga Mati” itu seolah Anda mau menjual negara ini.

>> Kok bisa, apa alasannya?

++ Ya Anda bermaksud menjual negara ini tapi dengan “harga mati” atau “harga pas”. Tanpa tawar-menawar.

>> Bukan, bukan begitu maksudnya.

++ 1001 kata Anda mau membela diri, percuma Jendral. Rakyat melihat kelakuan, bukan omongan.

>> Terserah, suka-suka.

++ Selamat malam Jendral. Moga esok hari dapat pembeli dengan harga yang cocok.

PESAN: Ingat selalu saudaraku. Kita ini anak-cucu para pahlawan, para patriot! Jangan Anda gentar atas tekanan orang-orang yang tidak tulus mencintai bangsa dan rakyatnya sendiri.

(TheWall).

Iklan

Karakter Kaum Nusantara

Maret 17, 2015

* Nusa itu pulau. Antara ya antara. Maksudnya negeri yang penduduknya tinggal di gugusan pulau-pulau. Sama seperti Britania, Jepang, Filipina, dan lainnya.

* Setelah puluhan tahun terlibat dalam aktivitas sosial (berhubungan dg masyarakat), sedikit banyak kami dapat MEMBACA KARAKTER masyarakat negeri kita ini.

* Sebenarnya, secara teori kita sudah diberitahu tentang KARAKTER itu. Tapi di lapangan sering tidak cocok dg kenyataan.

* Di sini kami ingin berbagi. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberi manfaat. Amin.

Berikut karakter khas ORANG NUSANTARA:

#1 SANGAT RAMAH DAN SOPAN. Ya ini karakter khas. Diakui semua kalangan. Termasuk keunggulan bangsa kita.

#2 HIDUP SECARA EMOSIONAL BUKAN ILMIAH. Emosional maksudnya, menuruti “apa yang enak di hati”. Soal baik atau buruk, itu nanti. Yang penting “enak di gue”. Sulit membangun karakter ilmiah. Beda dg umumnya bangsa Eropa. Kita bisa lama-lama dijajah, karena sikap ini.

Memahami Karakter Nusantara

Memahami Karakter Nusantara

#3 KURANG BERNYALI. Atau penakut menghadapi risiko. Beda dg orang2 Arab yang pemberani dan militan. Coba lihat, kalau ada gerakan perubahan, yang terlibat hanya mahasiswa saja. Itu pun biasanya yang IPK di bawah 2.

#4 LOYALITAS KURANG. Sekalipun ke kawan sendiri, atau kerabat sendiri, kurang loyal. Beda dengan orang China. Mereka loyal ke sesamanya. Kadang antar sesama malah menjatuhkan.

#5 KURANG PERCAYA DIRI. Ini masalah akut. Faktor fisik jadi alasan minder. Padahal orang China, Jepang, Korea, Mongol, Afrika Tengah, dengan kondisi lebih prihatin tetap percaya diri.

#6 BERJIWA RELIJIUS. Ini kelebihan dan keutamaan. Sejahat-jahatnya orang Nusantara, tetap ada insyafnya. Bila sudah nikah, bila sudah sepuh, timbul keinsyafan.

* Ada plus dan minusnya.

* Dari sini kami rekomendasikan beberapa hal:

a. Jangan terlalu menuntut ke masyarakat, nanti kita lelah sendiri; b. Berikan sesuatu yg nyata, bukan hanya teori; c. Jangan biarkan masyarakat ambil sikap sendiri, tapi harus diberi TELADAN BAIK; d. Terus menerus galakkan PEMBERDAYAAN, karena ia bisa perbaiki kelemahan; e. Manfaatkan kelebihan karakter untuk mencapai kemuliaan hidup di AKHIRAT (melalui dakwah).

Demikian, smoga manfaat. Mohon maaf atas smua kesalahan. Terimakasih.


Titik Temu Wahabi-NU

Februari 19, 2015

Ini adalah buah pikiran sangat bagus dari Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub tentang realitas dakwah di Nusantara. Beliau adalah Imam Besar Masjid ISTIQLAL Jakarta; salah satu pakar hadits di negara kita; juga anggota Dewan Komisi Fatwa MUI. Suara beliau dan lengkingan kepeduliannya, sangat layak diapresiasi.

Berikut tulisan beliau dari Opini REPUBLIKA, 13 Februari 2015. Sekaligus kami rekam pandangan beliau di blog ini.

“TITIK TEMU WAHABI-NU”

 (Friday, 13 February 2015, 14:00 WIB).

Banyak orang terkejut ketika seorang ulama Wahabi mengusulkan agar kitab-kitab Imam Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, diajarkan di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah Islam di Indonesia. Hal itu karena selama ini dikesankan bahwa paham Wahabi yang dianut oleh pemerintah dan mayoritas warga Arab Saudi itu berseberangan dengan ajaran Nahdlatul Ulama yang merupakan mayoritas umat Islam Indonesia.

"Damailah NU dan Wahabi"

“Damailah NU dan Wahabi”

Tampaknya selama ini ada kesalahan informasi tentang Wahabi dan NU. Banyak orang Wahabi yang mendengar informasi tentang NU dari sumber-sumber lain yang bukan karya tulis ulama NU, khususnya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, banyak orang NU yang memperoleh informasi tentang Wahabi tidak dari sumber-sumber asli karya tulis ulama-ulama yang menjadi rujukan paham Wahabi.

Akibatnya, sejumlah orang Wahabi hanya melihat sisi negatif NU dan banyak orang NU yang melihat sisi negatif Wahabi. Penilaian seperti ini tentulah tidak objektif, apalagi ada faktor eksternal, seperti yang tertulis dalam Protokol Zionisme No 7 bahwa kaum Zionis akan berupaya untuk menciptakan konflik dan kekacauan di seluruh dunia dengan mengobarkan permusuhan dan pertentangan.

Untuk menilai paham Wahabi, kita haruslah membaca kitab-kitab yang menjadi rujukan paham Wahabi, seperti kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan termasuk kitab-kitab karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang kepadanya paham Wahabi itu dinisbatkan. Sementara untuk mengetahui paham keagamaan Nahdlatul Ulama, kita harus membaca, khususnya kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kami telah mencoba menelaah kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan membandingkannya dengan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah dan lain-lain. Kemudian, kami berkesimpulan bahwa lebih dari 20 poin persamaan ajaran antara Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan imam Ibnu Taymiyyah. Bahkan, seorang kawan yang bukan warga NU, alumnus Universitas Islam Madinah, mengatakan kepada kami, lebih kurang 90 persen ajaran Nahdlatul Ulama itu sama dengan ajaran Wahabi.

Kesamaan ajaran Wahabi dan NU itu justru dalam hal-hal yang selama ini dikesankan sebagai sesuatu yang bertolak belakang antara Wahabi dan NU. Orang yang tidak mengetahui ajaran Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, maka ia tentu akan terkejut. Namun, bagi orang yang mengetahui Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, mereka justru akan mengatakan, “Itulah persamaan antara Wahabi dan NU, mengapa kedua kelompok ini selalu dibenturkan?”

Di antara titik-titik temu antara ajaran Wahabi dan NU yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu adalah sebagai berikut. Pertama, sumber syariat Islam, baik menurut Wahabi maupun NU, adalah Alquran, hadis, ijma, dan qiyas. Hadis yang dipakai oleh keduanya adalah hadis yang sahih kendati hadis itu hadis ahad, bukan mutawatir. Karenanya, baik Wahabi maupun NU, memercayai adanya siksa kubur, syafaat Nabi dan orang saleh pada hari kiamat nanti, dan lain sebagainya karena hal itu terdapat dalam hadis-hadis sahih.

Kedua, sebagai konsekuensi menjadikan ijma sebagai sumber syariat Islam, baik Wahabi maupun NU, shalat Jumat dengan dua kali azan dan shalat Tarawih 20 rakaat. Selama tinggal di Arab Saudi (1976-1985), kami tidak menemukan shalat Jumat di masjid-masjid Saudi kecuali azannya dua kali, dan kami tidak menemukan shalat Tarawih di Saudi di luar 20 rakaat. Ketika kami coba memancing pendapat ulama Saudi tentang pendapat yang mengatakan bahwa Tarawih 20 rakaat itu sama dengan shalat Zhuhur lima rakaat, ia justru menyerang balik kami, katanya, “Bagaimana mungkin shalat Tarawih 20 rakaat itu tidak benar, sementara dalam hadis yang sahih para sahabat shalat Tarawih 20 rakaat dan tidak ada satu pun yang membantah hal itu.” Inilah ijma para sahabat.

Ketiga, dalam beragama, baik Wahabi maupun NU, menganut satu mazhab dari mazhab fikih yang empat. Wahabi bermazhab Hanbali dan NU bermazhab salah satu dari mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Baik Wahabi (Imam Ibnu Taymiyyah) maupun NU (Imam Muhammad Hasyim Asy’ari), sama-sama berpendapat bahwa bertawasul (berdoa dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh) itu dibenarkan dan bukan syirik.

Kendati demikian, Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, mensyaratkan bahwa dalam berdoa dengan tawasul menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh, kita tetap harus yakin bahwa yang mengabulkan doa kita adalah Allah SWT, bukan orang yang namanya kita sebut dalam tawasul itu. Wahabi dan NU sama-sama memercayai adanya karamah para wali (karamat al-awliya) tanpa mengultuskan mereka.

Memang ada perbedaan antara Wahabi dan NU atau antara Imam Ibnu Taymiyyah dan Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Namun, perbedaan itu sifatnya tidak prinsip dan hal itu sudah terjadi sebelum lahirnya Wahabi dan NU.

Dalam praktiknya, baik Wahabi maupun NU, tidak pernah mempermasalahkan keduanya. Banyak anak NU yang belajar di Saudi yang notabenenya adalah Wahabi. Bahkan, banyak jamaah haji warga NU yang shalat di belakang imam yang Wahabi, dan ternyata hal itu tidak menjadi masalah. Wahabi dan NU adalah dua keluarga besar dari umat Islam di dunia yang harus saling mendukung. Karenanya, membenturkan antara keduanya sama saja kita menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme, seperti tertulis dalam Protokol Zionisme di atas. Wallahu al-muwaffiq. n

Ali Mustafa Yaqub
Imam Besar Masjid Istiqlal

*) Semoga pandangan brilian Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub ini bisa menjadi siraman sejuk untuk mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara. Di sana memang banyak yang menginginkan kaum Muslimin tercerai-berai; tapi kita paham siapa mereka, dan apa tujuan missinya. Nas’alullah al ‘afiyah.

SEJARAH “MADEG PANDITO”

Februari 2, 2015

# Anda tahu Presiden Soeharto, atau Pak Harto? Kalau gak tahu, ya udahlah dengerin aja.

# Di masanya Pak Harto disebut-sebut sebagai “the strong men in Asia”. Disegani di Asia Afrika.

# Anda perlu tahu, forum ASEAN & KTT Non Blok, keduanya ramai, semarak, disegani, karena PERAN PAK HARTO. Stl beliau lengser, forum negara-negara itu jadi sepi. Hebat kan?

Begawan Menyebarkan Hikmah

Begawan Menyebarkan Hikmah

# Di masanya, sebagian besar cita-cita Pak Harto tercapai. Hingga dia mau buka pabrik pesawat pun, itu terlaksana.

# Tapi ada SATU cita-cita beliau yg kandas, yaitu ingin MADEG PANDITO. Jadi seorang pendeta, atau begawan.

# Cita-cita itu terungkap skitar tahun 1995, saat ramai-ramai perayaan “50 Tahun Indonesia Merdeka”. Juga saat mulai nyaring terdengar isu “suksesi kepemimpinan”. Pak Harto menjawab isu itu dg kemauan “mau jadi pendeta” saja.

# Ini maksudnya jadi “ahli hikmah” atau “begawan ilmu”. Bukan jadi pendeta Hindu atau Budha.

# Kenapa Pak Haro gagal dalam cita-citanya?

# Menurut kami, beliau TIDAK BERBASIS ILMU. Jadi hikmah apa yang akan disebar? Beliau lebih mahir politik & militer, bukan “ahli hikmah”.

# Sebaliknya, sosok BJ. Habibie sangat kental “sisi begawan-nya” (bidang teknologi). Beliau jadi PRESIDEN RI TERSUKSES dalam waktu 17 bulan, seperti anugrah “Durian Runtuh” dari langit. Maka itu beliau mudah diakali oleh pendekar-pendekar politik; karena tabiatnya ilmuwan, bukan “sengkuni”.

# Bahkan cita-cita jadi “begawan ilmu” tanpa basis ilmu sesungguhnya, ia bisa “membunuh” seseorang. Berkuasa secara militer, politik, materi; sangat mungkin. Tapi INGIN berkuasa di bidang ilmu, bila tak memilikinya, sangat bahaya. Menara ilmu berbeda dg menara-menara lain.

# SAATNYA kini “Madeg Pandito”. Menyebar pesan damai, persatuan Ummat, empati, berdakwah secara tulus!

# Mari BERSANDAR sikap: hikmah, sabar, tawakkal, dan akhlak mulia. Mari kita mulai “madeg pandito” dalam pengertian Islami.

# MARI kawan-kawan! (Minimal sikap ini berlaku untuk kami sendiri).

(WeAre).

 


Siapa Sang “Jilbab Hitam”?

November 14, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Siapakah Sang “Jilbab Hitam” yang tulisannya begitu menghebohkan, sehingga fondasi kantor media Tempo seolah “bergoyang” terkena hempasan tulisannya? Siapakah dia? Manusia, atau makhluk ghaib?

“Jilbab Hitam” menyebut dirinya seorang wanita, mantan wartawan Tempo angkatan 2006. Bekerja di Tempo sampai 2013. Dia semula nge-fans berat dengan dunia wartawan, khususnya ke Goenawan Mohamad. Tapi kemudian setelah masuk dunia wartawan riil, dia mulai kecewa dan terus kecewa. Ternyata, dunia media sekuler, menurutnya tak ubahnya seperti mafia juga. Media sekuler senang menjual-belikan isu dan opini, untuk menggaruk uang miliaran rupiah. Whuusssshhh…. sepakan maut dan keras.

Ziapa Sech Dikau...?

Ziapa Sech Dikau…?

Menurutku, si penulis hanya mereka-reka identitas dengan nama “Jilbab Hitam”, seorang wanita, wartawan Tempo angkatan 2006, lalu resign tahun 2013. Ya, itu semua tampaknya hanya semacam “cover” saja. Tidak mungkin kalau benar-benar mantan wartawan Tempo, dia akan menyebutkan angkatan ini dan itu. Tidak mungkin, pasti sangat mudah dilacak. Kan di Tempo ada database wartawan yang keluar-masuk setiap tahunnya.

Tapi harus diakui, si penulis bukan orang awam dalam dunia jurnalistik. Dia bisa menulis dengan baik, runut, penuh perasaan, dan tahu banyak dengan orang-orang yang (pernah) berkecimpung di Tempo. Dia juga paham isu-isu aktual dan data-data. Si penulis ini bukan orang kacangan dari segi kemampuan menulisnya. Itu jelas.

Soal bantahan Bank Mandiri, bantahan Bambang Harimurti, bantahan ini dan itu… Semua itu kan bisa bersifat umum, bersifat officially, atau katakanlah “bantahan etik”. Hal itu tak bisa menafikan begitu saja apa-apa yang telah dibeberkan oleh “Jilbab Hitam”.

Saya ingin sampaikan sesuatu yang SANGAT PENTING dari tulisan “Jilbab Hitam” yaitu soal jual-beli opini media.  Nah, itulah konten paling penting dari tulisan dia. Secara validitas data, okelah bisa diperdebatkan; tetapi soal jual-beli opini, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Semua orang yang pernah terlibat di media, ketika akan menurunkan suatu tulisan atau liputan, pasti akan dihadapkan pada pertanyaan: “Apa perlunya kita turunkan laporan ini?” Aspek perlu atau tidak, sifatnya relatif, tergantung pembicaraan awak redaksi. Alasannya juga tidak melulu soal idealisme; tetapi dendam politik, militansi ideologi, kepentingan uang, kepentingan industri media, dan sebagainya juga bisa berperan.

Andaikan tulisan “Jilbab Hitam” itu ditolak mentah-mentah, bisakah Tempo menjawab pertanyaan ini: “Maukah Anda membolehkan masyarakat umum melihat perdebatan redaksi, sebelum menurunkan suatu liputan tertentu, dalam 5 edisi berturut-turut?” Yakin 100 %, bahkan kata SeBeYe 1000 %, mereka tak akan mau dicampuri urusan rapat redaksinya.

Data-data penting yang disampaikan “Jilbab Hitam” antara lain…

[1]. Banyak eks wartawan Tempo yang bekerja sebagai “konsultan komunikasi” setelah tidak bekerja disana.

Kekuatan di Balik Kelembuatan.

Kekuatan di Balik Kelembuatan.

[2]. Para “konsultan data” ini punya banyak akses data dan informasi, tentang perusahaan, tokoh, partai, dan sebagainya. Maklum, mereka wartawan, jadi banyak suplai informasinya. Mereka bisa memilah dan memilih data, untuk berbagai kepentingan.

[3]. Di masyarakat sendiri tentu sangat banyak kasus; setiap kasus itu punya detail, kronologi, surat-surat, dokumen, foto, dsb. Nah, semua sumber ini bisa menjadi “harta karun” bagi para wartawan “kreatif” (baca: mata duitan).

[4]. Masyarakat sendiri umumnya tidak pandai dalam soal pemberitaan; hal itu menjadi peluang besar bagi wartawan dan mantan wartawan untuk merajai kehidupan dengan kendaraan “pemberitaan media”.

[5]. Ingat lho, profesi wartawan itu dekat sekali dengan dunia intelijen. Konsentrasinya sama-sama mencari berita (informasi). Intelijen bisa nyusup kemana-mana, seperti wartawan bisa masuk kemana-mana. Kalau data intelijen dibutuhkan penguasa; maka data wartawan bisa digunakan siapa saja yang “butuh kepentingan”.

[6]. Sebenarnya, apa bedanya “maling ayam” dan “koruptor”? Apa sih…. Bedanya kan pada “jumlah angka yang diperoleh”. Kalau nominal maling ayam ribuan rupiah, koruptor bisa miliaran sampai triliunan. Dalam profesi wartawan juga begitu, ada tingkatan-tingkatan pendapatan; meskipun modusnya sama.

[7]. Kehidupan sekuler dan jahiliyah itu sebenarnya amat sangat boros; tidak bisa hidup hemat. Itulah yang menyebabkan banyak orang terlibat dalam korupsi. Korupsi dibutuhkan untuk mengucurkan dana sebesar-besarnya, buat kehidupan hedonis yang super boros. Perbandingannya, seorang suami yang ML dengan isterinya secara sah, sifatnya gratis, bisa berkali-kali, kapan saja. Tapi bagi amoral yang mau ML dengan pelacur SMP/SMA minimal mengeluarkan duit 500 ribu, untuk sekali “pakai”. Coba lihat, betapa jauhnya beda kehidupan jahiliyah dengan kehidupan Islami. Konsep begini berlaku di semua level, termasuk kaum wartawan.

Lalu pertanyaan terakhir: Siapakah Sang “Jilbab Hitam”? Jujur, kami juga tidak tahu siapa dia. Tapi menurutku, dia bukan wanita, tapi laki-laki. Jarang seorang wanita berani menentang arus besar seperti itu? Tapi bisa juga wanita.

Tidak pentinglah bicara “siapa dia”, tapi sangat penting membahas “apa yang dia sampaikan”. Fanzhur ma qaala wa tanzhur man qala. Lihat apa yang dia katakan, jangan lihat siapa yang mengatakannya!

(Weare).


Ketika TEMPO Dihajar “Jilbab Hitam”

November 14, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Luar biasa, sebuah kejutan besar sekaligus ide hebat dari seseorang yang menamakan diri “Jilbab Hitam.” Dalam tulisannya di Kompasiana.com, pada 11 November 2013, telah menghebohkan banyak pihak. Tak kurang, Tempo sendiri menurunkan 5 tulisan bantahan atas informasi yang dia paparkan. Bagaimanapun, tulisan “Jilbab Hitam” lebih kuat dari semua bantahan Tempo; dan sangat disayangkan, Kompasiana.com men-delete begitu saja tulisan itu. Bahkan dalam ulasan di Kompasiana.com disebutkan, bahwa “Jilbab Hitam” hanyalah pemain amatir, tulisannya dangkal. Bodoh, justru tulisan dia sangat kuat. Lebih kuat dari umumnya tulisan-tulisan di Kompasiana.com yang ngalor-ngidul gak jelas.

Karena mengapresiasi keberanian “Jilbab Hitam” dalam men-torpedo mesin bisnis media Tempo, kami ikut menayangkan tulisan tersebut, sebagai bentuk kebebasan menyampaikan pendapat dan ekspresi. Sumber tulisan dari Voa-islam.com. Berikut isi tulisan Sang “Jilbab Hitam” yang nyaris menggoyangkan kemapanan struktural media Tempo.

Heboh Pengakuan Wartawati Ex Tempo: Kebobrokan Media di Indonesia

Rabu, 13 Nov 2013.

Kebobrokan Media di Indonesia

Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.

Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.

“Jelas nggak nih acaranya?”

“Ada kejelasan nggak nih?”

“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”

Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’.

Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.

Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.

“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.

Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu.

Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.

Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.

Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan.

Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?

Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?

Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?

Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.

Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.

Siapa bilang TEMPO bersih?

Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.

Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.

Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.

TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan.

Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.

Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?

Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?

Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?

Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.

Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?

Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.

Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat.

Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti.

Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.

Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi.

Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.

Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan.

Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit.

Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.

Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.

Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.

“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya.

“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya.

“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.

“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia.

“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabe akibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.

“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.

“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.

“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.

“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalam memeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.

Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain.

Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja.

Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.

TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.

Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Lebih senang dan tenang batin bekerja sebagai buruh biasa seperti yang saya lakukan kini. Insya Allah jauh dari dunia hitam. [selesai]

Atas tulisan di atas Tempo memberikan tanggapan sebagai berikut:

Majalah Tempo bersama lembaga riset KataData dituding melakukan pemerasan terhadap Bank Mandiri berkaitan dengan kasus Rudi Rubiandini. Tudingan itu ditulis oleh penulis anonim dengan nama Jilbab Hitam, yang mengaku bekas wartawan Tempo angkatan 2006, di media sosial Kompasiana, Senin, 11 November 2013. Di tulisan berjudul “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas?” disebutkan Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harimurti menelepon Dirut Mandiri Budi Gunadi Sadikin menanyakan soal proposal KataData, yang menawarkan diri sebagai konsultan komunikasi terkait penangkapan Direktur SKK Migas Rudi Rubiandini. Rudi adalah komisaris bank pemerintah itu.Menurut penulis itu, karena Mandiri tak meloloskan proposal KataData, majalah Tempo lalu menerbitkan laporan bertajuk “Setelah Rudi, Siapa Terciprat?” pada edisi 18 Agustus 2013 dengan gambar sampul Rudi Rubiandini. “Saya malah baru tahu ada proposal Metta (KataData) ke Mandiri dari tulisan ini. Kalau Tempo jauhlah dari memeras. Iklan yang diduga ‘bermasalah’ saja kami tolak kok,” kata Bambang. KataData adalah lembaga riset yang dipimpin Metta Darmasaputra, mantan wartawan Tempo. Menurut dia, staf humas Mandiri, Eko Nopiansyah, yang disebut dalam tulisan itu sudah ditanya, dan membantahnya. “Kata Eko, hoax, dia tak pernah bertemu dengan eks wartawanTempo angkatan 2006, atau angkatan berapa pun, atau yang bukan eks wartawan Tempo, dan membicarakan yang dituduhkan penulis artikel itu,” kata Bambang.

Dari sisi ruh tulisan, jelas tulisan “Jilbab Hitam” lebih kuat, lebih jujur, lebih asli, tidak dibumbui bahasa-bahasa hipokrit dan formalisme. Tidak salah jika orang seperti “Jilbab Hitam” layak diberi anugerah: Media Whistleblower Award.

Oh ya, karena tulisan di atas penting, silakan di-copy dan disimpan. Jangan sampai nanti seperti Kompasiana.com, baru juga tulisan nongol, langsung delete saja. Sayang sekali. Itulah cara “media” membela “sesama media” sekuler.

Oke, terimakasih. Terimakasih juga buat “Jilbab Hitam”. Meskipun banyak orang mencoba meremehkanmu; tapi tulisanmu menceritakan realitas sebenarnya tentang kebobrokan dunia media. Terimakasih sobat.

(Weare).


Pejabat Indonesia dan “Muka Badak”

April 21, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Salah satu sebab Allah Ta’ala memberi kemakmuran atau kesejahteraan kepada suatu bangsa, kalau bangsa itu menerapkan PRINSIP KEADILAN dalam kehidupannya. Meskipun mereka negara kafir, kalau menegakkan prinsip keadilan di masyarakatnya, mereka berhak mendapat kesejahteraan. Hal ini tak dipahami oleh umumnya bangsa kita.

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman: “Wa aqsithuu innallaha yuhibbul muqsithin” (berbuat adil-lah karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil). Sikap adil adalah kebalikan dari zhalim. Sedangkan terhadap kezhaliman, Allah Ta’ala mengatakan: “Innallaha laa yahdi qaumaz zhalimin” (sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim).

Prinsip keadilan itu sangat penting ditegakkan, berlaku bagi orang kecil dan para pembesar, bagi kaum laki-laki dan wanita, bagi orang biasa maupun para bangsawan. Selama manusia menegakkan prinsip keadilan ini, dia bisa berharap tumbuhnya kesejahteraan dalam kehidupan mereka. Selama prinsip ini tak ditegakkan, jangan berharap ada kesejahteraan.

Gue Gak Korupsi, Gak Cari Muka, Gak Gila Jabatan. Gue Alami, Bro!

Gue Gak Korupsi, Gak Cari Muka, Gak Gila Jabatan. Gue Alami, Bro!

Kita tahu Ujian Nasional (UN) tahun 2013 ini sangat kacau. Esensi UN yang bersifat nasiona, serentak, dan seragam jadi hilang karena ada yang ditunda, ada yang diganti jadwalnya, ada yang belum bisa dilaksanakan karena soalnya tak sampai, ada penyediaan soal yang carut-marut (harus memakai mesin fotokopi), dan seterusnya. Sedianya Departemen Pendidikan Nasional ingin membuat prestasi dengan membuat 20 paket soal UN, tetapi malah akibatnya babak-belur luar biasa.

Dalam kondisi begini, Mendiknas Muhammad Nuh sudah secara terbuka meminta maaf kepada masyarakat Indonesia. Tetapi sangat-sangat memalukan kalau hanya meminta maaf. Sangat tidak pantas dia hanya meminta maaf. Dalam sehari dia bisa meminta maaf 100 kali karena maaf itu di mata masyarakat kita sangat murah.

Para penjahat dan pendurhaka bisa kapan saja berbuat buruk, lalu setelah itu mereka berkata: “Kami minta maaf!” Tetapi maaf ini tak menghasilkan perubahan apapun.

Kami menyarankan kepada Bapak Muhammad Nuh, agar dia memulai suatu tradisi yang baik di kalangan pejabat Indonesia. Kami menyarankan beliau agar setelah kegiatan UN ini berakhir, dia segera mundur dari jabatan sebagai Mendiknas. Ini sangat baik, teladan, dan gentle; para pejabat harus menunjukkan sikap tanggung-jawab dan mengasihi masyarakat. Kalau memang tidak mampu memimpin Departemen Pendidikan, ya sudah mundur saja. Anda akan diingat sebagai pejabat yang baik dan mulia, kalau mau mundur.

Kalau Anda hanya meminta maaf, sangat senang dengan segala gaji, posisi, otoritas, kehormatan, dan seterusnya; sementara Anda sendiri tak mampu memimpin urusan dengan baik; kami hanya bisa mendoakan, semoga setiap kezhaliman yang Anda lakukan terhadap rakyat Indonesia, baik yang Anda sadari atau tidak, dikembalikan oleh Allah Ta’ala kepada Anda dan keluarga Anda, dalam bentuk kehancuran, kepedihan, dan kekalahan. Amin Allahumma amin.

Ya bagaimana lagi, kalau memimpin tak mampu, mundur tak mau, tetapi terus menzhalimi kepentingan kaum Muslimin (dan rakyat Indonesia) lewat institusi yang dipimpinnya, ya didoakan saja agar kezhalimannya dibalas oleh Allah Ta’ala. Semoga Allah memusnahkan semua impian dan capaian orang zhalim, lalu menggantinya dengan penderitaan panjang.

Kita tunggu sikap gentle Bapak Muhammad Nuh untuk mundur jabatan secepatnya, setelah UN selesai. Juga kami menunggu sikap rasa malu dari pejabat-pejabat bermuka badak yang zhalim, tak mampu memimpin, banyak gaya, dan serakah makan harta negara (masyarakat). Semoga Allah menyadarkan mereka, menjadikan hati-hati mereka berlaku adil, bersikap pengasih kepada rakyat dan bangsa Indonesia; amin Allahumma amin. Kalau mereka tak jua bertaubat, semoga Allah musnahkan semua impian dan capaian duniawi mereka, lalu digantinya dengan penderitaan panjang. Amin Allahumma amin.

Kami sangat menantikan teladan baik dari Bapak Muhammad Nuh, semoga Allah menunjuki hatinya untuk berbuat adil di mata rakyat Indonesia, khususnya kaum Muslimin. Kami tunggu, Pak!

(Mine).