Sedekah Kucing…

Agustus 30, 2015
Sedekah Mengasihi Makhluk Allah...

Sedekah Mengasihi Makhluk Allah…

Dulu sy mengira “kucing makan ikan asin”. Ternyata itu salah. Hakikinya, kucing makan daging, ikan, atau tulang. Kalau makan ikan asin, bulunya mudah rontok.
==
Unik juga, ternyata kucing mau makan nasi. Asal nasinya dicampur ikan. Misal ikan tongkol. Dengan begini kucing jadi gemuk-gemuk. Pernah terjadi, saat ikan lagi habis, di mangkok ada nasi, ee ternyata dimakan juga sama dia. Sudah “sugesti” kali ya…
==
Kalau punya kucing, kita setiap hari harus menyediakan makan. Misal beli ikan tongkol, atau makanan khusus kucing. Tentu harus ada duitnya. Bahkan nyengaja belanja.
==
Belum lagi kalau kucing eek di rumah atau pipis. Kita juga yang harus membereskan.
==
Kadang si kucing kotor banget. Kita harus bersihkan. Cuci badannya. Nantinya harus dikeringkan dg handuk/lap.
==
Capek juga ya…
Kita dapat tugas tambahan…
Tidak komersil lagi…
Belum lagi baunya…
==
TAPI ada kiatnya untuk mengatasi semua itu. Caranya: NIATKAN SEDEKAH UNTUK MAKHLUK ALLAH SWT. Kalau berasa berat sedekah ke manusia; moga tidak berat sedekah ke kucing atau binatang piaraan lain.
==
Kata Nabi Saw: “Kullu ma’rufin shadaqah” (stiap kebaikan dinilai sedekah). Berbuat baik kepada siapa pun, akan mendatangkan pahala di sisi Allah.

(SupervisorEmpus).

Iklan

Nasehat untuk Penuntut Ilmu…

Agustus 30, 2015

Bismillah. Ada suatu ungkapan dalam riwayat. Kira-kira maknanya: “Al Qur’an hujjatun lakum au ‘alaikum” (Al Qur’an bisa menjadi hujjah bagimu, atau menjadi hujjah untuk mengalahkanmu). Maksudnya, kita bisa berdalil dengan ayat-ayat Al Qur’an untuk membela pendapat kita. TAPI bisa juga kelak Al Qur’an akan menjadi lawan kita, karena kita tahu isinya, tapi TIDAK DIAMALKAN.

Banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita beramal. “Kullu ya’malu ‘ala syakilatih” (setiap orang hendaknya beramal sesuai keadaan masing-masing). Al Isra: 84. Yang semisal ini banyak.

Ilmu Tak Sebatas Info. Tapi Panduan Amal

Ilmu Tak Sebatas Info. Tapi Panduan Amal

Dalam Surat Al Jumu’ah, Allah SWT mencela kaum Bani Israil yang menyia-nyiakan ilmu dengan celaan keras. Mereka disebut sebagai “ka matsalil himari yahmilu asfara” (seperti keledai yang membawa kitab-kitab).

Rasulullah Saw sendiri memaknakan kata “al maghdhub ‘alaihim” dalam Surat Al Fatihah sebagai kaum Yahudi. Mereka cirinya, banyak ilmu tapi tidak diamalkan.

Juga ada peringatan tentang “kabura maqtan ‘indallah” (amat besar murka di sisi Allah); yaitu orang-orang yang mendakwahkan ini itu, tapi perbuatannya menyelisihi dakwahnya.

Ibnu Mas’ud Ra pernah menyebut salah satu keutamaan GENERASI SHAHABAT, yaitu mereka “paling ringan bebannya”. Maksudnya, mereka kelak di akhirat ringan hisabnya, karena beban keduniaan mereka lebih ringan.

Begitu juga BEBAN ILMU mereka ringan. Hanya sejumlah kecil Shahabat diberi karunia ilmu melimpah. Seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin ‘Amru, dan lain-lain Radhiyallahu ‘Anhum. Itu di antara puluhan ribu Shahabat Nabi Ra. Umumnya Shahabat lebih menonjol pada perlombaan amal-amal saleh. Coba perhatikan kisah-kisah pribadi Shahabat, rata-rata berkisah tentang amal-amal kebajikan mereka.

Ada sebuah kisah tentang majelis taklim yang dibuka Ibnu Mas’ud Ra setiap hari Kamis. Suatu ketika murid-muridnya minta supaya hari belajar ditambah lebih banyak. Beliau menjawab kira-kira: “Wallahi, tidak ada masalah bagiku untuk memenuhi permintaan kalian. Tapi aku khawatir kalian akan bosan.” Hal ini menunjukkan makna kesederhanaan proses ilmu di kalangan Shahabat Ra.

MAKSUDNYA, ilmu yang kita kaji, pelajari, dalami; ia menuntut pengamalan. Tidak sekedar dimiliki, dipahami, lalu jadi sarana perdebatan. Apalagi jadi alat menzhalimi sesama Muslim.

BELAJARLAH pada sosok Shahabat Ra, meski ilmu terbatas, tapi tanggung-jawab amal mereka sangat besar. Itulah SALAF teladan kita yang terbaik.

Dan jangan sampai kita masuk “pusaran fitnah”. Ilmu yang kita peroleh tidak membuat kita berakhlak lebih baik. Itulah tanda “ilmu fitnah”. Karena kata Nabi Saw, tidak ada sesuatu yang paling mendekatkan seseorang ke surga, selain HUSNUL KHULUQ (budi pekerti yang baik).

Majelis di mana saja yang tidak membawa perubahan baik dalam akhlak; antum hindari. Tidak ada yang bisa diharapkan di sana.

Wallahu a’lam bis shawaab.

(Light).


Ini Lho “Jimat” Jendral Soedirman…

Juli 15, 2015

Jenderal Sudirman belum pernah ditangkap penjajah Belanda dan PKI, karena pakai “Jimat”:

Perhatikan Wajah Santri Sang Jendral !!!

Perhatikan Wajah Santri Sang Jendral !!!

Pemerhati Komunisme, KH Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.


Bahkan beberapa kali para petinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.


Hal ini dikatakan KH. Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar “Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis” di Masjid Jami’ Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.


Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.


“Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung –red) dan Ambarawa (Magelang –red), disitu kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada ditengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,” ungkap KH. Jazir.


Aktivis senior di Kota Yogyakarta (Jogja) ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama “Mas Kyai” itu bertanya, “jimat” apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.


“Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya. Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI.


Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, iya, saya memang pakai jimat,” ujarnya.
“Dan jimat saya adalah, saya berperang selalu dalam keadaan wudhu”.


Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, disitu kita akan mendapati adanya sebuah padasan (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat –red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,” jelas KH. Jazir.


“Kemudian yang kedua, jimat Jenderal Sudirman adalah sholat di awal waktu.
Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,” imbuhnya.


Dan yang ketiga, Jenderal Sudirman berkata bahwa “aku mencintai rakyatku sepenuh hati”.
Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah disuatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,” ucapnya.


JIMAT: Selalu dalam keadaan berwudhu; shalat di awal waktu; dan mencintai rakyat tanpa pamrih sepenuh hati.

(MasJuang).

Sumber: Co-pas status facebook.


Nasehat Abdullah Bin Mubarak…

Juli 15, 2015

* Suatu hari ada seseorang menjelek-jelekkan kehormatan saudaranya sesama Muslim. Abdullah bin Mubarak rahimahullah tertarik untuk menasehatinya secara hikmah.
* “Apakah kamu pernah berperang melawan kaum Rowawi?” tanya Ibnu Mubarak. Dijawab laki-laki itu: “Tidak pernah.”

Cintai Saudarmu Brother...

Cintai Saudarmu Brother…

* “Apakah kamu pernah berperang melawan kaum Parsi?” tanya dia lagi. Kembali dijawab: “Tidak pernah.”
* Seketika itu Ibnu Mubarak berkata penuh tekanan: “Celaka kamu. Romawi dan Parsi selamat dari pedangmu. Tapi saudaramu sesama MUSLIM, tidak selamat dari tajamnya lidahmu.”
* Kisah klasik ini sangat bermakna, terutama di zaman penuh perselisihan ini…
* MENGAPA ketika kita dirahmati Allah dengan menjadi Ahlul Islam, kita lebih sering menganiaya saudara sendiri, daripada merugikan kepentingan kaum kufar?
* MENGAPA kita sering berdebat panjang untuk menjaga hak-hak kaum kufar, bahkan menjaga kenyamanan hatinya; sementara ke sesama MUSLIM tidak henti-hentinya kita melukai perasaan dan merugikan kehidupannya?
* MENGAPA ketika semakin bertambah ILMU kita, semakin perih cara-cara kita dalam melukai sesama Muslim? Justru saat yang sama, kaum kufar semakin nyenyak dalam tidurnya, karena semakin aman dari kritik-kritik ilmiah kita.
* AKHI Muslim… Mari kita semakin mengeratkan cinta dan rahmat kepada sesama saudara kita (MUSLIM SUNNI). Belajarlah untuk membebaskan diri dari dendam, permusuhan, kebencian kepada sesama saudara. Jangan bawa dendam itu sampai ke liang kuburmu. Nanti hisab-nya sangat berat.
* Lihatlah sikap Abdullah bin Mubarak yang begitu peka menjaga hak-hak sesama saudara. Smoga bermanfaat. Amin.

(PeaceBrother).


Terapi Gigitan Kucing…

Juli 15, 2015
"Sinio Tak Gigit Kakimu..."

“Sinio Tak Gigit Kakimu…”

+ Kami punya 4 ekor kucing kecil. Usia sekitar 3 bulan. Tadinya sebesar kepalan bocah SD. Sekarang sudah tumbuh, gendut-gendut, segedhe kucing lah… ‪#‎lha_iya_lah‬ (ngomong kucing pasti ya segedhe kucing….).
++ Kalau kita elus-elus, jari-jari kita sering DIGIGIT atau DICAKAR PAKAI KUKUNYA.
++ Rasanya geli sekali… ‪#‎gakkebayangdeh‬
++ Kucing-kucing itu menggigit dengan 20% tenaganya. Jadi tidak membahayakan. Tapi geli bgt deh.
++ Ternyata kucing pun punya sikap HIKMAH. Kapan dia menggigit penuh, kapan sambil bercanda. Hebat kan…
++ Ini terapi apa sih? Terapi kegelian. Kalau khamu gak berasa geli, berarti ada error di syaraf.
++ Oo gitu tho? Iya. Terus gimana? Sudah. Hah sudah? Wassalam.

(SopoKuwi).


Mengumpul Sisa Kancing

Juli 15, 2015

** Kadang kita punya pakaian yang tak terpakai, rusak, atau sudah jelek.
^^ Biasanya pakaian itu hanya ditumpuk, disimpan, dijadikan lap, diberikan orang lain, atau dibuang.
>> Andaikan mau dibuat lap atau dibuang… Lakukan satu “teknik penyelamatan aset”. Ini sangat penting.
~~ Coba Anda ambil gunting atau cutter, lalu gunakan untuk mengambili KANCING di pakaian-pakaian itu. SLETING juga boleh diambil.
== Lalu simpan kancing-kancing (sleting) di peralatan jahitan.
++ Kancing ini bermanfaat, yaitu… bile-bile mase, pakaian Pak Cik ade yang tersungkur kancingnye. Kancing itu bise selaku gantinye. (Tersungkur = terlepas). #smile
<> Ya gitu ajah. Sederhana.

(SopoKuwi).


Kiat Jadi SAKTI…

Juli 1, 2015

Tip hebat yang hanya bisa dilakukan di bulan RAMADHAN…

* Caranya mudah. Setelah Shalat Shubuh, sehabis Sahur, jangan TIDUR. Tapi olah raga.
* Olah raga sampai badan panas, kantuk hilang. Super kalau sampai keringatan.
* Lawan dorongan kantuk dg olah raga.
* Ini kan Ramadhan bulan BERKAH. Insya Allah usaha kita itu akan sukses. Allah akan beri “kesaktian”.
* Tapi saya sendiri belum sukses melawan “tidur pagi” saat Bulan Shaum. Smoga kali ini Allah beri taufiq. Amin.
* SAKTI: Sehat Afiyat KuaT Indah.

Semoga bermanfaat. Amin.

(WeAre).