The Jakarta Utara…

Juni 28, 2016
Tanjung Priok Tempo Doeloe

Tanjung Priok Tempo Doeloe

Tulisan dari seorang aktivis medsos, Rudi Wahyudi. Meneropong tentang karakter masyarakat Jakarta Utara, khususnya Tanjung Priok. Berikut tulisannya:

Jakarta Utara

“Pernah saya jalan kaki dari Matraman ke Penjaringan Jakarta Utara saat SMP dalam keadaan puasa, nemenin kakak saya yang kasmaran nemuin kekasihnya di sana. Dalam kondisi lapar dan letih pandangan saya ngelantur. Gak sengaja melihat ke seorang remaja (laki-laki) di samping musholla, langsung dia berkata, “apa Lu ngeliatin gua !?”

Say pikir akan dibalas senyum ramah pada musafir ternyata dia marah. Itu watak anak Priok yang pertama saya temui.

Belakangan saya baru tahu, keras, penuh harga diri, dan melawan adalah watak kolektif mereka, anak-anak laut.

Di saat semua takut pada rezim Soeharto, Tanjung Priok meledak, melawan rasa takut ! Saat mesin pengembang ingin membuldoser Makam Mbah Priok, Tanjung Priok membara. Perlawanan berdarah-darah dan hujan batu di jalanan. Saat tahun 1999, bentrok mahasiswa yang ingin menggoyang Habibie, Pamswakarsa plus gerakan mahasiswa fundamentalis HAMMAS beradu badan dan senjata apa adanya antar massa, entah kebetulan atau tidak, banyak sekali anak Priok yang saya kenal di dalamnya. Sialnya, sampai-sampai teman saya paling badung di Pesantren juga anak-anak Priok, melawan apa saja seperti sudah menjadi guratan genetis mereka.

Sekarang, saat semua tak mampu melawan kezaliman Ahok, saat kampung-kampung yang digusur memilih jalan pasrah dari Kp. Pedongkelan sampai Kp. Pulo, dari utara gelombang perlawanan terus membara. Muara Baru, Luar Batang, Muara Kamal, Penjaringan dll tak henti-hentinya bergejolak. Sampai terakhir insiden hujan batu untuk gubernur yang didukung tangan-tangan kekuasaan dan pemilik modal.

Nekat sekali orang-orang itu, berani-beraninya menghujani batu anak naga. Tidak tahukah mereka kalau aparat-aparat bersenjata banyak yang menjadi anak asuh Bapak Naga, nyari makan, nyari modal naik pangkat dan karir dari uangnya Bapaknya si anak naga ? Tidak takutkah mereka bedil-bedil centeng2 Bapak Naga di “dor” kan ke mereka ? Anak naga kok dilempari batu.

Gila benar orang2 utara, makan apa ibunya waktu mengandung mereka ? Bisa-bisanya mereka berani melawan komplotan cukong dan centeng. Ah, tak tahulah.

Dari Utara gelombang perlawanan terus bermunculan, seberapa kuat mereka, siapa yang akan menang : Ahok atau manusia-manusia laut itu ?

Mari kita sama-sama saksikan!”

KOMEN: Ini termasuk jenis analisa sosiologis kultural masyarakat, dalam lanskap kehidupan politik. Cara bertuturnya bersorak sedikit sastra. Terimakasih.

(Mine).


KRISIS IJAZAH

Agustus 10, 2015

Selain krisis air, krisis ekonomi, krisis wibawa negara. Saat ini kita juga mengalami tragedi ijazah skala nasional.
==
COBA tanya ke anak-anak SMP atau SMA yang baru lulus, apa sudah dapat ijazah? BELUM saudara. Belum. Padahal ini sudah mulai TAHUN AJARAN BARU.
==
Kami berkata begini karena dua anak kami baru lulus SMP dan SMA, keduanya belum terima ijazah. Anakku yang lulus SMP sudah masuk SMA, tapi ijazah belum keluar. Waktu WISUDA, bukan mengambil ijazah, tapi NEM.
==
SEDANG yang SMA, titik terang ijazah lebih buram lagi. Berulang-ulang tanya ke pihak sekolah jawabnya: “Seindonesia belum pada dapat ijazah.” Astaghfirullah…
==
SEMUA ini pasti menyulitkan. Secara psikologis siswa, orangtua, guru-guru sangat tertekan. Secara teknis lebih menyulitkan; bagaimana akan bisa seleksi siswa/mahasiswa baru dengan baik, wong ijazah belum ada? Bagaimana dengan mereka yang amat sangat butuh ijazah untuk kerja, sekolah ke luar negeri, ujian PNS dan lain-lain? Inna lillah tsumma inna lillah…
==
JUJUR kami heran, mengapa bisa begini? Dan mengapa orang-orang pada diam, tidak mempermasalahkan? Ada apa dengan Menteri Diknas, kok bisa begini?
==
Katanya lebih “merakyat”, tapi fakta lapangan “bikin masalah tambah berjubel”. Mungkin karena dikejar target “kejar setoran”, jadi urusan anak negeri diabaikan. Jadi dia gak peduli dengan masalah di bawah.
==
Nas’alullah al ‘afiyah was salamah was sa’adah. Amin ya Rabbuna.

(Ayolah).


Pernah Kritik Pak Dahlan…

Juni 12, 2015
Janji Seorang Pejabat

Janji Seorang Pejabat

Di blog ini kami pernah kritik Mr. Sepatu dalam kasus INEFISIENSI LISTRIK PLN. Pak Dahlan gak mau disalahkan. Lucunya dia bilang: “Kalau inefisiensi PLN dianggap salah, negara sudah rugi ratusan triliun, karena sudah inefisiensi sejak ZAMAN MAJAPAHIT.”

Ha ha ha…bisa aja Pak. Majapahit disebut-sebut. Good humor. Boleh baca link ini sekedar untuk refresh:

https://abisyakir.wordpress.com/2012/11/09/13-kesalahan-terbesar-dahlan-iskan/

(WeLookU).


Solusi Adu Jotos Farhat Abbas Vs El (Putra Ahmad Dani)

November 29, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Akhir-akhir ini berita media banyak diwarnai isu seputar tantangan El Ghazali (putra Ahmad Dani) yang mengajak Farhat Abbas adu jotos di ring tinju. Kabarnya, El sudah mendaftarkan even adu jotosnya ke Pertina. Hotman Paris menawarkan hadiah 250 juta bagi yang menang. Ahmad Dani sendiri mendukung inisiatif anaknya; Farhat Abbas, karena merasa ditantang, sedia melayani tantangan itu. Waduh, tambah gawat nih.

Masalah-masalah sosial sehari-hari sudah banyak, ditambah rencana adu jotos ini… jadi tambah puyeng. Seakan, kita tak ada masalah lain yang lebih berat dan urgen untuk diselesaikan.

Jangan Adu Jotos Ya. Nanti Jadi Contoh Jelek di Mata Publik.

Jangan Adu Jotos Ya. Nanti Jadi Contoh Jelek di Mata Publik.

Secara pribadi kami menghimbau: sudahlah, jangan dilanjutjkan ide adu jotos di atas ring itu! Itu sangat tidak baik. Nanti jadi contoh jelek bagi masyarakat. Kalau ada masalah apa-apa, nanti solusinya jadi kekerasan. Mungkin saat ini solusinya adu jotos di atas ring, ada wasit. Tapi di lapangan kondisinya bisa lebih parah lagi.  Nanti orang-orang akan melakukan adu jotos versi jalanan. Jujur saja, ketika ide adu jotos itu mengemuka, lalu diekspose media secara massif, ia bisa menjadi trend sosial. Waduh, negeri ini bakal ramai dengan kekerasan. Nas’alullah al ‘afiyah.

Kita ini bukan mafia Sicilia, mafia Rusia, atau anggota Triad Hongkong, yang menyelesaikan masalah dengan “berantem” atau “adu tembak”. Kita ini kan masih masyarakat beradab. Ya, carilah solusi secara beradab.

Andaikan adu jotos itu benar-benar terjadi, semua pihak akan merugi, terutama Farhat Abbas dan El sendiri. Coba kita hitung-hitungan ya.

Kalau Farhat Abbas menang, apa untungnya? Toh, dia hanya melawan anak remaja usia 14 tahun. Malu lah pasti. Kalau Farhat kalah, wah bisa lebih malu lagi. Karier dia bisa tamat. Dia akan kehilangan kebebasan yang banyak; dimana-mana dicibir manusia.

Kalau El menang, apa untungnya? Dia bakal dicela sebagai anak “sok jagoan” dan “kurang ajar” karena menantang orang dewasa adu jotos. Kalau dia kalah, lebih malu lagi, karena dia yang nantang adu jotos itu. Bukan hanya El, keluarga besar Ahmad Dani, juga akan malu. Mereka dianggap tak mampu mengontrol tingkah anaknya.

Pendek kata, sama-sama rugilah. Seperti kata pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Sama-sama jeleknya.

Sebaiknya, kami menghimbau, kedua belah pihak SALING DAMAI, saling memaafkan. Sudahlah, berdamai saja. Tidak ada ruginya orang berdamai. Bukanlah Al Qur’an mengatakan: “Wa shulhu khair” (damai itu lebih baik). Kalau ada orang yang bertengkar, kita disarankan untuk mendamaikan mereka.

SARAN buat Pak Farhat Abbas:

*) Sebaiknya Bapak mau memulai meminta maaf kepada keluarga Ahmad Dhani, karena mereka marah setelah mendengar komentar-komentar Anda yang bernada melecehkan. Jadi asal mula masalah ini kan komentar-komentar Anda di Twitter. Tak ada salahnya minta maaf.

*) Sangat baik Bapak peduli dengan korban dan keluarga korban kecelakaan di tol Jagorawi yang diakibatkan kesalahan putra Ahmad Dani saat mengendarai mobil. Kepedulian ini sangat baik. Tapi tak perlu juga kita mesti menghina orang lain atau melecehkan. Tidak bagus itu! Cukup peduli saja, tanpa mesti “melukai hati” orang lain.

*) Kalau keberatan dengan sikap Ahmad Dani Cs dalam menyikapi korban dan keluarga korban, silakan ditempuh cara-cara yang legal saja. Bapak pasti sudah sangat mafhum soal itu.

SARAN buat EL: 

*) Dik, sebaiknya ide adu jotos itu dihentikan saja, tak usah diteruskan. Kan keluargamu saat ini sedang dirundung banyak masalah; tak perlu ditambah-tambahi. Tak usahlah menggelar adu jotos tersebut.

*) Kalau kamu masih ingin adu jotos dalam lingkup olah-raga, ya lakukan di forum-forum olah raga, jangan dibawa sebagai isu publik. Nanti bisa meresahkan. Boleh adu jotos di arena-arena resmi, dengan sesama kawan, atau para kompetitor dari berbagai perguruan. Kalau kamu serius dan giat berlatih, nanti bisa masuk jalur tinju profesional; atau meniti karier di jalur K1, MMA, WWE, dan seterusnya.

*) Kalau kamu mau ingin melakukan “test kejantanan” ya bisa juga. Misalnya dengan mencari lawan yang tangguh dan sepadan. Tapi kalau di negara kita itu termasuk ilegal, jadi bisa berurusan dengan kepolisian. Maka itu sudahlah, untuk urusan minat fight ini sebaiknya dibatasi di jalur olah-raga atau (paling maksimal) jalur karier.

Kalau melihat situasi seperti ini rasanya prihatin ya. Ini orang-orang terkenal pada mau adu jotos. Jadi sensasi media luar biasa. Sudah begitu para pemimpin birokrasi dan politisi cuma menonton saja. Jangan-jangan hati mereka sedang intensif berharap agar even adu jotos itu benar-benar terlaksana? Wah, gawat sekali kalau begitu.

Namanya pemimpin kan harusnya peka dengan masalah publik. Kalau ada masalah, langsung turun, untuk mencari solusi. Bukan meneng wae, apalagi cuman nonton doang. Rakyat sudah mau adu jotos, kok diam saja? Aneh.

Tapi ada sisi baiknya tantangan dari El itu. Tantangan dia seketika menyadarkan banyak pihak (kaum laki-laki) yang selama ini keenakan dengan hidup mapan. Mampukah mereka berkelahi, kalau sewaktu-waktu ditantang adu jotos? Nah, tantangan El itu bisa dianggap sentilan, agar kita (kaum laki-laki) giat olah-raga dan mau belajar bela diri. Iya gak?

Oke deh, cukup sampai disini saja. Tolong ya Pak Farhat dan keluarga El: jangan dilanjutkan ide adu jotosnya! Kasihan masyarakat. Nanti mereka jadi diberi contoh jelek oleh para pesohornya. Terimakasih.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).


Pak Mahfud MD Emosian…

Oktober 7, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Terkait soal Akil Mochtar, ada yang aneh dari pendapat Pak Mahfud MD. Setelah terbongkar kasus Akil, dia menyarankan agar lembaga MK dibubarkan saja.

[a]. Ini kan cara berpikir emosional. Gara-gara perbuatan satu orang, sebuah institusi harus dibubarkan. Misalnya ada perwira polisi atau TNI terlibat korupsi, apakah lembaga kepolisian/TNI harus dibubarkan?

[b]. Kalau MK dibubarkan gara-gara ketuanya melakukan korupsi, berarti lembaga MK itu memang sangat lemah. Ia bisa bubar karena kelakuan anggotanya.

[c]. Lembaga MK menyumbang popularitas besar buat Pak Mahfud. Itu tak diragukan lagi. Artinya, lembaga itu masih ada gunanya, minimal buat Pak Mahfud.

[d]. Kalau harus memilih, lebih baik mana membersihkan sebuah lembaga dari korupsi, atau membentuk lembaga yang sama sekali baru?

[e]. Apa pembubaran MK karena kasus korupsi, itu sesuai prosedur hukum yang jadi patokan MK itu sendiri?

Kalau menurutku ya… Andaika MK dibubarkan, lalu dibentuk lembaga sejenis MK yang mengacu kepada Syariat Islam…ya bolehlah MK lama dibubarkan. Tapi kalau acuannya masih sama saja, tidak usahlah dibubarkan. Pakai saja lembaga yang ada; daripada membuat lembaga baru; ya tahu inilah orang Indonesia kan banyak yang “mata duitan”; dimana ada pembentukan lembaga baru, pasti ada buang-buang uang disana.

Kasihan rakyat kecil deh… Gak ikut berbuat, tapi harus menangggung beban pajak. Oke Pak Mahfud, semoga semakin dewasa dan tenang. Amin.

Mine.


Dahlan Dahlan…Sok Gaya Kamu !

Januari 6, 2013

Lama-lama Dahlan Iskan jadi seperti Abdurrahman Wahid, sering bersikap kontroversial. Belum juga masalah mega inefisiensi di PLN kelar, tuduhan dia bahwa anggota DPR memeras BUMN, serta seabreg masalah BUMN itu sendiri; kini dia menjadi “bintang berita” lagi. Bukan dalam arti positif, tapi sangat negatif.

Kemarin Sabtu, 5 Januari 2012, mobil Tucuxi yang dikendarai Dahlan Iskan mengalami kecelakaan berat di Plaosan, Magetan. Mobil listrik yang konon harganya 1,5 M itu, sebenarnya sedang menjalani test drive; seperti yang dilakukan oleh Jokowi saat membawa mobil SMK ke Jakarta waktu itu.

Dahlan berangkat dari Solo, sekitar pukul 13.00, dari Jl. Kebangkitan Nasional No 37, Sriwedari, Solo; menuju kampung halaman Dahlan di Magetan. Sebelum mobil berangkat, ia diruwat dulu oleh dalang “ritual paganistik” Ki Manteb Soedharsono. Sama seperti saat Jokowi membawa mobil SMK ke Jakarta, juga dimulai dengan ritual pagan seperti ini.

Tentu saja, di even yang menyita banyak mata manusia ini, Dahlan tak lupa menampilkan aji-aji “pencitraan”. Lumayan, untuk nyicil kesohoran demi agenda 2014 nanti. Tapi begitulah, hasilnya silakan Anda lihat pada list foto-foto di bawah ini. Foto-foto ini cuma diambil dari media-media online yang beredar di dunia maya.

Selamat menikmati.

Ini Mobil Keren. "Ferrari" Indonesia. Harganya Muaahaal...

Ini Mobil Keren. “Ferrari” Indonesia. Harganya Muaahaal…

Cuangggih Ini, Serba Digital Control. Touch Screen Lagi.

Cuangggih Ini, Serba Digital Control. Touch Screen Lagi.

Heit, Tunggu! Pencitraan Tentu. DI 19 Oce.

Heit, Tunggu! Pencitraan Tentu. DI 19 Oce.

Oh ya, Ritual Paganisme Dulu untuk Tolak Bala

Oh ya, Ritual Paganisme Dulu untuk Tolak Bala

Supaya Selamat Sentosa. Hidup Bahagia, Selama-lamanya.

Supaya Selamat Sentosa. Hidup Bahagia, Selama-lamanya.

"Gw Uda Siap untuk Pencitraan...Eh Maksudnya, Test Drive"

“Gw Uda Siap untuk Pencitraan…Eh Maksudnya, Test Drive”

Hayo Test Drive di Jalan Umum, Hayo. Lumayan Buat Melanggar Aturan...

Hayo Test Drive di Jalan Umum, Hayo. Lumayan Buat Melanggar Aturan…

Hasilnya....

Hasilnya….

 

Ringsek A

Ringsek A

Ringsek B

Ringsek B

Ringsek C

Ringsek C

Beginilah Hasil dari Pencitraan dan Ruwatan (Ritual Paganisme).

Beginilah Hasil dari Pencitraan dan Ruwatan (Ritual Paganisme).

Di akhir babak drama yang dramatik ini, Dahlan Iskan mengatakan: “Mungkin saya terlalu terburu-buru membawanya dalam jarak yang jauh dan medan yang berat.” Bisa jadi, karena “target pencitraan” sudah semakin mendesak secepatnya dilakukan. Maklum, sebentar lagi tahun 2014. Tambahan lagi, usia kabinet SBY sudah di ambang senja.

Di bagian lain Dahlan mengatakan, “Baik juga saya mencoba mobil ini sendiri, sehingga risikonya saya yang menanggung.” Anda harus bersyukur karena masih bisa membuat komentar setelah kecelakaan; andaikan kanan kiri jalan yang dilalui adalah jurang, maka dapat dimengerti jika komentar seperti itu tidak akan muncul. Ini “kehidupan ketiga” bagi Pak Dahlan.

Intinya begini…mari kita bangun negeri, bangun bangsa secara tulus, nothing to lose, katanya. Berniatlah baik, demi kebajikan masyarakat, tanpa tendensi macam-macam; apalagi sampai ada niat destruktif, demi melayani missi kalangan destruktor. Masyarakat sudah terlalu lelah dan letih dikibuli manusia-manusia minus akal sehat dan perasaan; sudah masanya kita berikan yang terbaik untuk mereka, secara tulus saja. Tidak neko-neko.

Berpikir maslahat dan hindari madharat. Itulah kuncinya.

Mine.


Aceng Fikri dan Demo “Celana Dalam”

Desember 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masih terngiang-ngiang di telinga kita omongan arogan (berbalut mesum) dari Bupati Garut, Aceng Fikri, bahwa menikah dengan wanita itu seperti membeli barang; kalau specs-nya tidak cocok, ya tidak diambil. Begitu juga, untuk memakai jasa layanan seks artis saja, tidak sampai semahal 250 juta. Dia juga mengklaim diri sebagai sosok ganteng dan kaya, pejabat pula.

Sampai disini, moralitas masyarakat kita benar-benar memilukan. Ada sosok pemimpin daerah dengan moral rusak seperti itu. Apalagi ia memimpin di Garut, yang terkenal sebagai kota santri (seperti Tasikmalaya). Omongan adalah menunjukkan apa yang tersembunyi dalam hati. Kalau omongan lurus, insya Allah hati dan hidupnya juga lurus. (Meskipun hal ini kadang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berlomba “ngomong manis”, padahal kelakuan seperti buaya atau srigala).

Oke, secara umum kita sepakat bahwa kelakuan Bupati Aceng Fikri dengan omongan-omongan berbisanya, hal itu mencerminkan dekadensi moral yang parah. Dia tak malu-malu pamer ke-lucah-an diri di depan publik nasional (melalui TV nasional). Dalam hal ini kita sepakat.

Begitu juga, tentang sikap bermudah-mudah menceraikan; menceraikan via SMS; dan mengungkap rahasia privacy seorang wanita; hal itu juga sangat tidak terpuji, jauh dari akhlak Islami. Dalam hal demikian, wajar jika banyak masyarakat -terutama ibu-ibu dan kaum wanita- yang mendemo Aceng Fikri dan meminta mundur jabatan.

Tetapi…ada tetapinya…kalimat ini baru “koma”, belum “titik”…

Sangat miris ketika melihat ibu-ibu mendemo Aceng Fikri dengan membawa celana dalam wanita, mengacung-acungkan celana dalam, mengibarkannya, dan meletakkannya di pagar-pagar kantor Bupati. Itu sangat miris. Malah ada yang memakai celana dalam itu untuk topeng yang menutupi kepalanya. Miris, miris, miris sekali.

Apa wanita-wanita sekarang, khususnya sebagian ibu-ibu di Garut, sudah separah itu ya? Apa hubungannya celana dalam dengan demo anti Aceng Fikri? Kalau mereka bawa celana dalam, apakah Aceng Fikri akan cepat mundur jabatan? Atau apakah dengan cara itu mereka berhasil menghinakan Aceng Fikri? Toh, mereka tak mampu sedikit pun menyentuh tubuh Aceng.

Celana dalam adalah simbol privasi kaum wanita. Ia adalah aib, jika tampak terbuka atau sengaja ditampak-tampakkan; apalagi sampai dikibar-kibarkan. Mengapa ibu-ibu memakai cara begitu, padahal dengan demo melalui tulisan, spanduk, banner-banner, itu juga bisa?

Sangat sedih melihat ibu-ibu demo dengan membawa celana dalam ini. Celana dalam adalah “harta privasi” mereka; menandakan kehormatan, jika dijaga baik-baik; dan akan jadi memalukan jika sengaja ditampakkan. Cara begitu tak akan bisa menghinakan Aceng Fikri, selain menjadi aib bagi ibu-ibu itu sendiri.

Dulu Rendra pernah membuat puisi tentang wanita-wanita WTS di Jakarta; Rendra menginspirasi wanita-wanita itu agar berdemo dengan mengacung-acungkan “Bra” agar laki-laki munafik yang sok anti pelacur, tetapi sejatinya butuh juga; mereka bisa puyeng tujuh keliling. Begitulah kira-kira isinya.

Jadi, demo dengan mengacung-acungkan perangkat “daleman” itu adalah simbol wanita pelacur. Namun kini malah ibu-ibu secara terbuka menunjukkan sikap “melecehkan diri mereka” sendiri.

Ke depan, jangan dipakai “daleman” untuk demo-demo itu. Malu-lah, malu, sebab ia adalah perangkat privasi yang harus dijaga baik-baik. Ya, selagi kita masih komitmen dengan moral mulia.

Mine.