Mengapa Mereka Sadis Ke Pemuda Islam?

Mei 19, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sangat menarik membaca sebuah analisis dari seorang wartawan eramuslim.com. Beliau menulis artikel berikut ini: Makna Keamanan yang Terasingkan: Diskriminasi Antara Tragedi Sukoharjo dan Pengibaran Bendera Zionis.

Tulisan di atas disusun oleh Muhammad Pizaro. Analisisnya simple, praktis, tetapi “kena ke jantung”. Tulisan itu bagus, merupakan kombinasi fakta-fakta lapangan dan telaah Dustur Nabawi (hadits Nabi Saw). Kalau ada kekurangan, judul tulisannya kurang “gemana getoh”. He he he, becanda.

Mereka Telah Mematahkan Prinsip Keadilan. Sunnatullah Akan Berjalan, Ada Sanksi Berat Atas Setiap Kezhaliman.

Mohon pembaca berkenan membaca artikel di atas dulu. Baca baik-baik, resapi maknanya, hayati substansinya. Kalau sudah, silakan wajah Anda dipalingkan kesini. Hayo, sini dong! Kan Anda sudah masuk sini duluan. Jadi jangan keenakan disono. He he he, maaf ya eramuslim. Cuman becanda.

Oke, sudah kembali kesini kan… Woi, itu yang masih baca-baca disono. Tolong U noleh kesini lagi ya…

Sebuah pertanyaan yang selalu berulang, seperti repetitive history, sejarah yang selalu berulang; mengapa aparat kemanan, khususnya polisi sangat galak dan kejam kepada pemuda-pemuda Islam? Terbunuhnya Sigit dan Hendra di Solo itu bisa jadi contoh terbaru. Sementara kalau ke orang-orang non Muslim, mereka selalu SOPAN, TOLERAN, dan MENGAYOMI.

Katanya, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”; katanya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”; katanya, “Persatuan Indonesia”; apalagi katanya, “Ketuhanan yang Maha Esa”? Tapi kok kelakuan jauh sekali yak dari Pancasila itu? Aneh kan.

Mengapa aparat selalu bersikap kejam HANYA kepada pemuda-pemuda Islam yang -katanya menurut versi polisi- terlibat terorisme? Kalau kepada Ziokindo, OPM, RMS, kaum Neolib, JIL, Ahmadiyyah, Misionaris Nasrani, dan lain-lain; mereka kalem-kalem saja.

Mengapa oh mengapa?

Alasannya itu ada dalam Al Qur’an, pada ayat berikut:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ

Artinya, “Sungguh kamu benar-benar akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman, (yaitu mereka adalah) kaum Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al Maa’idah: 82).

Nah, intinya ada disini. Orang-orang yang berlaku kejam itu kalau bukan Yahudi, pasti musyrikin. (Orang-orang Nashrani yang tidak mengikuti ajaran Isa As yang lurus, juga ikut-ikutan kejam, seperti disebutkan dalam fakta-fakta sejarah).

Orang Yahudi telah menyetir kebijakan keamanan di negara kita. Atau jangan-jangan para perwira tinggi aparat itu memang berakidah Yahudi? Bisa jadi, identitasnya Muslim, tetapi hatinya sudah menjadi Yahudi. Minimal mereka adalah penganut paham-paham paganisme (kemusyrikan). Misalnya menganut ajaran Kejawen, menjalankan ritual mistik, atau mengikuti ajaran kaum kahin (tukang sihir).

Posisi para perwira itu yang sangat penting, sebab kalau hanya prajurit atau petugas keamanan di bawah, mereka biasanya “ikut kata komandan”. Orang-orang elit inilah yang telah membaktikan hidupnya untuk menjalankan missi keyahudian atau paganisme, secara konsisten. Kalau masih ada benih-benih iman di hati, mereka pasti akan punya rasa SANTUN.

Kekejaman oleh aparat keamanan, khususnya Densus 88, tidak serta-merta muncul. Ia bermula dari AKIDAH di hati yang jauh dari Tauhid, jauh dari As Sunnah, jauh dari Syariat Islam.

Dulu di tahun 80-an, Ummat Islam menjadi bulan-bulanan aparat TNI yang berlatar-belakang Nashrani, yaitu LB. Moerdani Cs. Ternyata kini, Ummat Islam menghadapi horor serupa. Hanya pelakunya, yang tampak di permukaan, ialah polisi-polisi Muslim. (Siapa tahu kalau petugas Densus itu dibuka maskernya, akan kelihatan latar-belakang agama mereka).

Jadi intinya, ini adalah cerminan dari konflik ideologis yang sangat lama, antara kekuatan Islam, dengan Yahudi, musyrikin, dan kaum Nashrani. Ini sebenarnya bagian dari konflik ideologis yang sangat dalam. Hanya tidak tampak di permukaan. Di sisi lain, kelihatan sekali Ummat Islam tidak siap menghadapi badai fitnah seperti ini.

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa lil Muslimin, fid dunya wal akhirah. Allahumma amin.

AM. Waskito.


“WTC 911” dan Missi Dajjal

November 20, 2010

(Edited Version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Peristiwa Tragedi WTC 11 September 2001, menyisakan rentetan panjang penderitaan manusia yang luar biasa. Bukan hanya ribuan korban yang hancur terbakar, jatuh, atau tertimbun kejamnya material reruntuhan WTC. Namun miliaran Ummat Islam juga menderita akibat peristiwa itu. Tragedi WTC menghalalkan kaum Muslimin diperangi atas nama “war on terror” yang dikomandoi oleh George Bush dan kawan-kawan.

Peristiwa itu sendiri terjadi di WTC New York, pada tanggal 11 September 2001. Kalau disingkat, WTC 119; 11 adalah tanggalnya, dan 9 adalah bulannya. Dalam ejaan Inggris, bulan ditulis lebih dulu, sehingga menjadi 911 (nine one one). Sehingga peristiwa itu kerap disebut “WTC nine one one”. Dan kebetulan kode 911 merupakan kode panggilan darurat yang berlaku di Amerika. Begitu populernya istilah ini, sampai ada “Nanny 911”; untuk menunjukkan kepada karakter seorang Nanny (pengasuh anak) yang siap dipanggil kapan saja, untuk menangani kasus-kasus kenakalan anak yang sudah mencapai taraf darurat.

Istilah “WTC 911” itu bukan main-main. Ia bukan peristiwa biasa, ia bukan aksi terorisme biasa, ia bukan tragedi biasa. “WTC 911” adalah sebuah ICON gerakan besar yang dikembangkan di awal abad 21. Ia adalah simbol atau kode bagi Zionisme internasional untuk menenggelamkan dunia dalam perang anti terorisme yang mereka rancang. Khususnya, “WTC 911” adalah missi internasional untuk memerangi kebangkitan kaum Muslimin melalui isu terorisme. Ini adalah sandi, kode, atau icon gerakan Zionisme internasional.

Sebagai orang beriman, kita menolak Tragedi WTC 11 September 2001 itu, dan lebih menolak lagi ketika tragedi itu dijadikan alasan untuk memerangi kaum Muslimin di seluruh dunia. Ada setidaknya 4 alasan untuk menolak missi “WTC 911”, yaitu:

[1] Ummat Islam secara mutlak harus menolak, menentang, atau mengingkari agenda-agenda yang diciptakan oleh Zionisme internasional dalam rangka menciptakan penindasan di muka bumi. Agenda demikian tidak boleh diberi toleransi.

[2] Perang terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah kezhaliman berat dan merupakan kebiadaban yang tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Menerima perang seperti itu sama saja dengan membunuh agama sendiri.

[3] Tindakan terorisme terhadap warga sipil, laki-laki dan wanita, dewasa atau anak-anak, Muslim atau bukan, adalah perbuatan HARAM. Ia termasuk perbuatan merusak di muka bumi yang sangat diharamkan. Islam menghalalkan Jihad Fi Sabilillah, perang melawan musuh-musuh Islam secara kesatria di medan-medan perang yang Syar’i.

[4] Menurut banyak analisis, dapat dipastikan bahwa Tragedi WTC 11 September 2001 bukan dilakukan oleh kaum Muslimin (pengikut Usamah bin Ladin), tetapi diskenariokan sendiri oleh agen-agen intelijen Amerika-Israel. Tragedi itu sengaja mereka buat sebagai alasan untuk memerangi kebangkitan Islam di dunia.

Gedung WTC tidak akan hancur hanya ditabrak oleh sebuah pesawat. Sama sekali tak akan rubuh hanya dalam beberapa menit akibat tabrakan itu. Hancurnya gedung itu semata-mata hanya melalui Demolition Controlled. Ia adalah metode peledakan terkendali yang biasa digunakan di Amerika untuk merobohkan gedung-gedung tinggi yang terletak di tengah-tengah kawasan padat gedung-gedung pencakar langit. Tabrakan pesawat hanyalah pengalih perhatian saja. Sedangkan kekuatan asli yang menghancurkan gedung WTC adalah rangkaian bom yang telah ditanam di gedung itu sendiri.

Sebagai perbandingan, tanggal 18 Februari 2010, seorang pilot menabrakkan pesawatnya ke sebuah gedung di Austin, Texas. Pilot itu bernama Joseph Stack. Dia meninggal setelah melakukan aksinya. Akibat dari tabrakan itu hanya menimbulkan kebakaran dan kerusakan gedung. Tidak sampai meruntuhkan gedung dalam sekejap. Bahkan saat sebuah pesawat latih jatuh di gedung IPTN, ia juga tidak menghancurkan gedung itu berkeping-keping. Jadi tidak ada ceritanya, sebuah pesawat bisa menghancurkan gedung pencakar langit hanya dalam beberapa menit. Ketika Timothy McVeigh meledakkan truk berisi bahan peledak penuh di depan gedung FBI Amerika. Ia tak sampai menghancurkan seluruh gedung itu. Hanya bagian depannya hancur, tidak sampai menghancurkan secara keseluruhan.

Namun di kalangan Ummat Islam ada dua kelompok yang menerima informasi Tragedi WTC, seperti kampanye yang disebarkan oleh George Bush. Satu kelompok sepakat dengan George Bush untuk memerangi para teroris; sekalipun akibatnya menzhalimi kaum Muslimin. Satu kelompok lagi, sepakat dengan agenda perjuangan Usamah bin Ladin (Al Qa’idah) dengan menjadi lawan bagi para pemburu teroris. Kedua kelompok merujuk pendapat dan pandangan Salaf, tetapi keduanya sepakat dengan informasi George Bush.

Sesungguhnya agenda “war on terror” yang dilancarkan George Bush adalah ditujukan untuk memerangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu dia pernah keceplosan memakai istilah Crusade. Untuk menggulirkan agenda perang terlaknat itu, mereka membutuhkan pendukung dari kaum Muslimin. Maka sudah sepantasnya kita tidak mendukung agenda ini; baik dengan cara tidak mempercayai informasi George Bush, maupun tidak memberi banyak peluang bagi mereka untuk menyakiti kaum Muslimin. Mestinya begitu.

Icon “WTC 911” sangat jelas sekali. Ia dibuat oleh Zionis untuk melemahkan kaum Muslimin. Sebelum George Bush terpilih lagi sebagai Presiden Amerika untuk kedua kalinya, pada tahun 2004, seminggu sebelum itu tersiar video berupa ancaman Usamah bin Ladin yang akan menyerang Amerika. Rakyat Amerika seketika ketakutan, sehingga buru-buru mereka memiliki George Bush lagi, sebagai “watch dog” terhadap para teroris. Dengan beredarnya video itu, otomatis Bush terpilih lagi. Kasus yang sama baru-baru ini terulang, dengan isu pengiriman paket bom melalui pesawat Emirates di Yaman. Paket ini sedianya akan dikirim ke Amerika. Al Qa’idah buru-buru mengklaim bahwa iutu adalah paket milik mereka. Media-media pro Zionis sangat hebat mempublikasikan paket bom ini. Dampaknya, Partai Republik di Amerika memenangkan pemilu mengalahkan partai Obama.

Demikianlah, berita atau isu seputar terorisme sangatlah halus, sangat samar, tidak jelas mana yang salah dan benar. Kita harus hati-hati dalam memamah berita seputar terorisme ini. Jangan sampai kita masuk perangkap “missi dajjal” yang justru menguntungkan manusia-manusia maniak seperti Bush dan kawan-kawan yang sangat berambisi merusak Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Mari bersikap adil dan bijaksana; serta aku memohon ampunan kepada Allah Azza Wa Jalla atas segala dosa, salah, dan khilaf kepada-Nya, juga dalam hal pelanggaran hak-hak kaum Muslimin. Semoga tulisan ini benar-benar dapat diperbaiki, dengan izin-Nya. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

 


Awas: Adu Domba TNI dan Ummat Islam!!!

September 25, 2010

Sejak lama banyak kalangan Islam tidak yakin dengan segala isu terorisme. Dari sekian panjang proses pemberantasan terorisme, sejak 12 Oktober 2002, banyak pihak meyakini bahwa terorisme adalah fenomena yang diciptakan sendiri oleh Polri. Mereka yang menciptakan semua itu, mereka yang kerepotan, lalu urusan negara dikorbankan.

Mengapa dikatakan demikian?

Pertama, mantan Kepala BIN di jaman BJ. Habibie, Mayjend ZA. Maulani pernah diminta MUI untuk mencari fakta seputar kasus Bom Bali I di Legian Bali. Setelah melihat fakta-fakta kerusakan dahsyat yang ada, beliau tidak percaya bom sedahsyat itu dibuat oleh Imam Samudra Cs. Masalahnya, teknologi bom Pindad pun belum setaraf itu. Jadi sejak tahun 2002 isu terorisme ini sudah digugat oleh para ahli.

Kedua, sejak era tahun 80-an sampai tahun 2000, tidak pernah terjadi kasus-kasus terorisme di Indonesia. Baru sejak Bom Bali I 12 Oktober 2002, terjadi terus-menerus peristiwa teror di Indonesia. Dan terjadinya hampir setiap tahun. Sempat terhenti sejak tahun 2005, lalu terjadi lagi dengan ledakan bom di JW Marriot – Ritz Carlton tahun 2009 lalu. Pada mulanya bangsa Indonesia tidak pusing oleh kasus-kasus terorisme ini, tetapi sejak tahun 2002, kasus teror seperti menjadi rutinitas.

Otak Pemfitnah Ummat! (sumber: inilah.com).

Ketiga, hampir di semua kasus terorisme yang diungkap Polri, selalu menyisakan tanda tanya dan misteri yang semakin menggunung. Contoh, dalam kasus Aceh, ada puluhan pemuda Islam sedang latihan jihad untuk menuju Ghaza, karena tahun 2008 lalu terjadi Tragedi Ghaza yang sangat memilukan. Lalu mereka diklaim sedang latihan untuk menyerang Presiden RI saat peringatan 17 Agustus 2009. Bahkan yang terakhir, seorang remaja Yuki Wantoro dituduh terlibat perampokan Bank CIMB. Padahal ada bukti valid yang menjelaskan, bahwa saat perampokan itu terjadi Yuki sedang di Solo, nonton berita perampokan dari TV.

Keempat, Polri terus-menerus mengklaim telah melakukan pemberantasan terorisme sebaik-baiknya. Tetapi nyatanya, aksi-aksi kekerasan tidak semakin mereda, bahkan semakin berkembang. Andaikan mereka jujur dalam isu terorisme, bukan menjadikan isu itu sebagai “komoditas nafkah”, tentu masalah ini sudah bisa diselesaikan sejak lama.

Kini masalah terorisme menjadi semakin serius, dengan rencana melibatkan TNI dalam pemberantasan apa yang diklaim oleh Polri sebagai terorisme itu. Baru-baru ini Pemerintah membentuk badan yang bernama BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Hakikat badan ini dijelaskan oleh Bambang Hendarso Danuri, “Teman-teman dari TNI dalam momen tertentu jika dibutuhkan kita akan libatkan detasemen-detasemen khusus yang dimiliki oleh tiap angkatan di TNI seperti Denjaka, Den Bravo dalam striking force bersama.” Hal itu disampaikan Bambang Hendarso di Rupatama Mabes Polri, di Jakarta Jumat 24 September 2010 (Sumber: http://www.inilah.com, 24 September 2010).

PERHATIKAN: Satuan ini merupakan kekuatan pemukul, yaitu merupakan penggabungan Densus 88 ditambah satuan elit TNI seperti Den Jaka, Den Bravo, dan Gultor Kopasssus. Jadi, pemberantasan terorisme di negeri kita tidak pernah berubah dengan pendekatan psikologi, sosial, humanitas, tetapi selalu dengan prinsip sikat, sikat, sikat habis. Persis seperti aksi-aksi brutal Densus 88 selama ini. Hanya nanti, akan ditambah anggota dari satuan elit TNI. Istilah striking force itu bukan pendekatan manusiawi, bukan pendekatan sosial, atau kultural, tetapi pendekatan: Sikat habis!

Lalu, kira-kira apa yang nanti akan terjadi di Indonesia?

Dapat dipastikan, di negara ini eskalasi konflik antara Ummat Islam dengan pemerintah akan semakin hebat. Betapa tidak, selama ini Ummat Islam telah sedemikian rupa dalam mengkritik, mengecam, dan mengoreksi aksi-aksi oleh Densus 88. Bukan hanya Ummat Islam, tetapi juga kalangan TNI, para cendekiawan, para pengamat yang jujur, dll.

Dengan dibentuknya BNPT itu sama saja dengan mengadu-domba Ummat Islam dengan TNI. Selama ini, jika ada konflik kepentingan, hanya antara Ummat Islam dengan Polri. Tetapi kini akan diperluas lagi, dengan melibatkan TNI, khususnya satuan-satuan elit. Padahal kita tahu, fondasi keutuhan NKRI ada di tangan kalangan Islam dan TNI. Jika kemudian kedua-belah pihak dihadap-hadapkan, seperti jaman Orde Baru dulu, jelas akibatnya sangat fatal bagi NKRI.

Demi Allah, Ummat Islam tidak suka dengan cara-cara teror, Ummat Islam tidak mendukung aksi-aksi terorisme yang merusak kehidupan. Tetapi masalahnya, apakah benar terorisme yang dituduhkan itu? Atau ia hanya rekayasa belaka untuk memojokkan Ummat Islam dengan memakai fasilitas kekuasaan negara? Kalau benar-benar ada aksi terorisme yang sangat merugikan, kita pasti mendukung ia diberantas. Tetapi jangan semena-mena menyerang Ummat Islam atas alasan terorisme!

Kenyataan yang sangat menyakitkan. Begitu mudahnya Kapolri menuduh ini teroris, itu teroris, lalu membuat fakta-fakta seenaknya sendiri. Tak lupa, Polri yang memang memiliki hubungan khusus dengan Karni Ilyas, mereka akan memakai TVOne, atau akan memakai MetroTV untuk menjelek-jelekkan Ummat Islam, untuk membangun opini palsu.

Betapa tidak, dalam kasus latihan militer di Aceh, itu latihan legal yang diketahui aparat keamanan. Tujuannya, untuk persiapan Jihad di Ghaza, lalu diklaim sebagai terorisme untuk menyerang SBY di Jakarta. Video yang ditayangkan berulang-ulang di TVOne dan MetroTV itu adalah video latihan pemuda-pemuda Islam untuk persiapan ke Ghaza. Bagaimana bisa video ini lalu dibelokkan ke rencana menyerang SBY di Jakarta? Betapa tololnya pengelola media-media itu. Mereka sehari-hari makan-minum dari memfitnah Ummat Islam, menjelek-jelekkan pemuda Islam.

Yang paling parah ialah penggerebekan sebuah bengkel motor di Solo beberapa waktu lalu. Sebelum penggerebekan, aparat Polri melakukan persiapan di rumah makan, hanya sejarak 200 m dari lokasi. Ketika masuk bengkel itu, wartawan dilarang masuk dulu, aparat sedang “mempersiapkan” TKP. Begitu wartawan bisa masuk ke bengkel, disana senjata api, amunisi, peluru, dll. sudah ditata sangat rapi. Sudah digelar di lantai sangat rapi. Kalau boleh bertanya, “Itu para teroris sebenarnya lagi persiapan penyerangan, atau mereka mau jualan peluru ya? Kok cara menata peluru itu begitu rapi sekali?” Dan Kepala Dest Antiteror, Ansyad Mbai hadir dalam penggerebekan ke bengkel tersebut. Di TV ditayangkan kehadirannya.

Semua ini kan penipuan luar biasa. Polisi sendiri yang membuat-buat isu terorisme, mereka membuat kezhaliman luar biasa, atas nama pemberantasan teroris. Berapa banyak manusia yang akhirnya dirugikan, keluarga dirugikan, anak-isteri kehilangan ayah, kakak, paman mereka, akibat semua skenario itu? Yuki Wantoro yang tak tahu apa-apa tentang perampokan CIMB akhirnya menjadi korban sia-sia. Dia mati dalam keadaan tak bisa menuntut kezhaliman para polisi itu.

Wahai manusia Indonesia… Coba kalian pikir dengan akal kalian yang bersih, jika akal itu masih ada. Pernahkah akan tercipta keamanan negara, tentram, sentausa, dengan segala konspirasi penuh kezhaliman itu? Kezhaliman pasti akan menimbulkan mata rantai kerusakan sosial yang panjang. Hal ini akan menyebabkan dendam kesumat sosial secara luas di tengah masyarakat. Siapapun yang membuka pintu-pintu kezhaliman, dia tak akan bisa menutup pintu, hingga dirinya sendiri menjadi korban paling hina dari kezhaliman yang dilakukannya sendiri.

Kini masalahnya semakin serius. TNI hendak dilibatkan dalam konflik yang diciptakan oleh Kepolisian ini. Jelas akibatnya, eskalasi konflik itu akan semakin besar, semakin membara, semakin luas. Dan akibatnya kelak, jangan heran kalau NKRI akan lebih cepat hancur-lebur. Kalau Ummat Islam sudah membenci NKRI, Anda tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk mempertahankan keutuhan negara ini.

Sekali lagi, kami bukan mendukung teroris, atau setuju dengan aksi terorisme. Tidak sama sekali. Tetapi kami sangat MENGGUGAT OPINI terorisme yang selama ini dikembangkan oleh Polri. Mereka seenaknya sendiri menuduh orang terlibat terorisme, menangkap, menembak mati, menyerbu, menggerebek, dan sebagainya. Mereka hanya bermodal opini tunggal di kepalanya sendiri, tanpa ada opini pembanding sama sekali.

Adapun Bambang Hendarso Danuri. Betapa zhalimnya orang ini, dengan segala penampilan dan retorikanya yang tampak santun. Semoga Allah melaknati dirinya, melaknati isteri dan anak-anaknya, melaknati keluarganya. Semoga Allah melaknati perwira-perwira Polisi yang berserikat dengannya dalam memfitnah Ummat Islam, dan melaknati siapa pun yang mendukung konspirasi zhalim atas kaum Muslimin di negeri ini. Semoga Allah melumpuhkan kekuatan mereka, sehingga mereka tidak mampu lagi berbuat zhalim kepada siapapun, selain menghancurkan diri mereka sendiri. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini dari manusia-manusia berhati syaitan. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran.

AMW.


Bisnis Darah dan Nyawa Manusia

Agustus 16, 2010

Kalau melihat tukang jagal berjual beli daging, itu wajar. Apalagi di masa Ramadhan dan menjelang Idul Fithri nanti, pasti sangat ramai tukang jagal jualan daging. Itu wajar, sebab yang dijual daging sapi, kambing, atau ayam. Ada juga yang menjual daging kuda, kerbau, atau onta. Tetapi kurang umum di masyarakat kita.

Adalah amat sangat keji dan biadab, bila ada yang sampai memperjual-belikan darah manusia, nyawa manusia, nama baik keluarga, masa depan anak-anak, bahkan kehidupan bangsa. Mendengar berita-berita seputar manusia dimutilasi saja sudah sangat ngeri, apalagi ada jual-beli nyawa dan kehidupan insan. Pasti bila ada jual-beli semacam itu, para pelakunya hanyalah syaitan-syaitan berbadan manusia.

Andaikan Kakak atau Adik Anda Menjadi Tersangka...

Tapi apa ada jual-beli darah dan nyawa manusia?

Ini ada. Faktual. Nyata. Buktinya di depan mata kita. Paling tidak faktanya muncul sejak sekitar 10 tahun terakhir. Khususnya sejak terjadi Tragedi WTC, 11 September 2001. Sejak itu, darah, nyawa, keluarga, masa depan anak-anak, dan kehidupan aktivis-aktivis Muslim menjadi sasaran teror, difitnah habis-habisan, dizhalimi secara semena-mena, diinjak-injak kehormatannya, dan seterusnya. Pihak-pihak yang melakukan teror itu secara riil mendapat donor (dana bantuan) asing, seperti dari Amerika dan Australia.

Aktivis-aktivis Islam diperlakukan seperti hewan buruan, dikejar-kejar, dikepung dengan poster “awas teroris” ditempel di mana-mana, dikepung, ditembaki, dibunuhi di jalan-jalan. Yang berhasil ditangkap hidup, diberi “pelatihan fisik” tertentu, sehingga muka dan badannya bonyok tidak karuan. Mereka ditampilkan di media-media massa sebagai Muslim garis keras, pemuda Islam radikal, pemuda ekstrim, kaum fundamentalis, dsb. Sembari mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri secara adil.

Pihak-pihak yang memangku “tugas negara” menyerang sasaran para aktivis Islam itu, mereka selalu haus membutuhkan publikasi media massa, mereka butuh blow up di mata masyarakat, agar benar-benar tercipta image, bahwa bangsa kita sebentar lagi akan dikuasai teroris. Dengan cara publikasi media itu, mereka mendapat dukungan asing, mendapat dukungan APBN, mendapat restu ini itu. Padahal mayoritas kasus-kasus terorisme itu merupakan rekayasa yang mengada-ada.

Ada banyak alasan untuk memahami bahwa kasus-kasus terorisme di Indonesia ini merupakan rekayasa belaka, tidak memiliki landasan kebenaran sama sekali. Masyarakat hanya dibohong-bohongi oleh berita-berita media yang diputar-balikkan tidak karuan. Berikut argumentasinya:

[1] Peristiwa teror bom di Indonesia, umumnya dimulai pasca Tragedi WTC, 11 September 2001. Sebelum itu, di Indonesia jarang terjadi teror bom. Setelah Bom Bali I, seakan negara kita langganan terjadi teror bom.

[2] Secara umum, pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris itu rata-rata orang fakir-miskin. Ini sangat jelas. Secara ekonomi mereka susah. Itu terlihat dari rumah, kondisi keluarga, kampung tempat tinggal, dll. Lalu darimana mereka bisa membeli amunisi, bahan peledak, senapan, pistol, sirkuit bom rompi, mobil, kamera, dan seterusnya. Untuk diri sendiri saja susah, apalagi mau membuat bom mobil?

(Pihak aparat beralasan, “Mereka dapat transfer dari donor orang asing di Saudi.” Bantahan, sejak WTC 11 September 2001, semua transfer dana untuk keperluan Islam, sekalipun untuk dakwah dan pendidikan, sangat sulit masuk ke Indonesia. Bahkan sejak Saudi merugi akibat Perang Teluk 1990-1991, mereka kesusahan membantu dakwah Islam di negara-negara Muslim).

[3] Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Ali Imran, mereka mengaku telah meledakkan bom mobil di depan cafe Paddy’s Club di Bali. Tetapi mereka tidak tahu-menahu tentang bom ke-2 di Sari Club yang menewaskan ratusan orang Australia. Menurut sebagian saksi, bom kedua ini merupakan rudal yang ditembakkan dari arah pantai di Bali, jatuh mengenai kafe Sari Club. Imam Samudra Cs melakukan satu kesalahan, tetapi harus menanggung dua dosa sekaligus, termasuk peledakan di Sari Club. Bodohnya, dunia internasional tak peduli dengan fakta itu. Hati mereka sudah tertutup untuk melihat kebenaran.

[4] Dalam setiap aksi terorisme, selalu saja ditemukan video yang menggambarkan aksi tersebut. Termasuk video pada saat peledakan Bom Bali II, JW. Marriot dan Ritz Carlton. Video yang paling dramatis ialah seperti di JW. Marriot dan Ritz Carlton. Disana seperti ada kamera yang terus mengikuti gerak-gerik pelaku teror. Kalau memang sudah tahu ada aksi seperti itu, seharusnya pembawa kamera membuat peringatan sejak dini.

[5] Tabung gas 3 kg yang beredar di masyarakat kerap kali meledak, dan ledakannya seperti bom. Tabung itu mudah didapat, sangat murah lagi. Kalau para “teroris” ingin melakukan teror dengan bom, mereka pasti akan menggunakan tabung gas 3 kg. Tetapi kenyataan yang ada, tidak pernah ada aksi seperti itu. Ini menandakan, bahwa aksi-aksi yang diklaim sebagai terorisme selama ini, sangat mengada-ada.

[6] Banyak pihak mempertanyakan, kalau para aktivis itu benar-benar sebagai bagian dari Tanzhim Al Qa’idah, yang menyatakan jihad global melawan Amerika. Mengapa dalam kasus-kasus teror di Indonesia, tidak ada satu pun warga atau instansi Amerika menjadi korban? Seolah, pihak teroris sudah diberitahu agar menghindari sasaran yang berlabel Amerika. Katanya Al Qa’idah, tetapi Amerika selamat terus?

[7] Selama ini, isu seputar terorisme amat sangat menjadi MONOPOLI kepolisian. Seakan pihak lain, seperti anggota DPR, Komnas HAM, tim pencari fakta independen, tim advokasi Muslim, ormas Islam, atau tim independen asing, tidak boleh campur-tangan sama sekali. Monopoli opini oleh Polisi ini jelas membuka pintu selebar-lebarnya bagi pembunuhan sipil secara sistematik oleh aparat.

[8] Setiap selesai satu kejadian teror, Polisi selalu mengumumkan, bahwa masih ada pelaku yang buron (DPO). Ini sangat menjengkelkan. Kalau kerja Polisi tuntas, seharusnya ringkus semuanya. Jangan dicicil sedikit-sedikit! Sangat kelihatan kalau Polisi ingin memperpanjang “sinetron terorisme” ini. Dengan panjangnya episode, jelas panjang pula harapan mendapat bantuan dana asing.

[9] Pernahkan kita membayangkan, bahwa negara Amerika sendiri yang disebut-sebut telah mengobarkan war on terror itu, mereka kini sudah bosan dengan isu terorisme. Bukan hanya Amerika. Negara-negara yang dulu ikut siaga dalam war on terror, mereka sudah mengendurkan ketegangannya, seiring lengsernya George Bush -laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-. Nah, mengapa Indonesia seperti sangat mensyukuri acara teror-teroran ini? Di negara asal terjadi Tragedi WTC saja sudah reda, kok disini masih laku?

[10] Perhatikan para pengamat terorisme yang muncul di media-media massa. Orangnya dari dulu itu-itu saja. Nashir Abbas jelas, Sidney Jones, Mardigu, Hendropriyono, Ansyad Mbai, Abdurrahman Assegaf, Umar Abduh, dll. Peristiwa teror di Indonesia seperti sebuah ritual yang diulang-ulang. Dan setiap “ritual” terjadi, para “pendeta” dalam ritual itu selalu orang-orang yang sama.

[11] Bahkan cara-cara media dalam meliput kasus-kasus teror itu nyaris sama. Hanya tempat, waktu, dan deskripsinya berbeda. Tetapi secara umum, model peliputan medianya, sama saja. Kalau tidak salah, orang-orang media sebenarnya bosan juga dengan kasus “jual-beli darah dan nyawa” itu, tetapi mereka seperti tidak ada pilihan.

[12] Isu terorisme di Indonesia seperti sebuah kanker mematikan. Mengapa demikian? Mulanya semua ini dibiarkan, tetapi lama-lama membesar menjadi kanker di tubuh bangsa kita. Bayangkan, semua pihak, selain kalangan Islam, nyaris tak mau bersuara membela kepentingan pemuda-pemuda yang dikejar-kejar sebagai teroris itu. DPR bisu, partai-partai bisu (terutama partai label Islam), Gubernur/Walikota bisu, Menteri bisu, aktivis HAM bisu, aktivis LSM bisu, media massa membisu (dari melakukan advokasi), ormas Islam membisu, gerakan mahasiswa membisu, BEM membisu, HMI membisu, dll. Seolah, semua pihak sudah sepakat untuk sama-sama menzhalimi aktivis-aktivis Islam yang rata-rata fakir-miskin itu. Allahu Akbar, bagaimana mereka bisa berharap akan tegak keadilan di negeri ini, sementara terhadap kezhaliman yang nyata-nyata di depan mata, mereka bisu? Ini menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa sejatinya kebanyakan orang Indonesia ini berkarakter MUNAFIK.

[13] Kasus terbaru, yang diklaim oleh kepolisian sebagai terorisme di Aceh. Media-media massa, terutama MetroTV dan TVOne, ikut-ikutan mempublikasikan hal tersebut. Padahal sejatinya, seperti disebut dalam situs suara-islam.com, latihan militer di Aceh itu bukan untuk menyerang SBY saat 17 Agustus 2009. Itu adalah latihan para pemuda Islam yang semula rencananya akan  diberangkatkan ke Ghaza. Latihan ini ada dua tahap, pertama tahun 2008 untuk persiapan ke Ghaza. Ini ada videonya, seperti yang ditayangkan di TV-TV. Lalu latihan kedua, akhir 2009 sampai awal 2010. Latihan kedua ini sangat kuat peranan Sofyan Tsauri dalam menjerumuskan pemuda-pemuda Islam itu dalam jebakan kasus terorisme. Latihan yang dirancang Sofyan Tsauri untuk kasus terorisme.

Sofyan Tsauri sendiri mengakunya sebagai desertir polisi Depok. Katanya desertir, tetapi bisa memakai Mako Brimob Kepala II Depok untuk latihan menembak dengan peluru tajam. Hebat kali Si Sofyan ini? Sofyan ini seorang desertir polisi yang memiliki kuasa seperti Kapolri. Hebat kali dia? Dari semua tertuduh teroris di Aceh, hanya Sofyan ini yang diperlakukan istimewa. Tidak dibelenggu, tidak ditutup mata, boleh memakai kacamata hitam, dan naik kendaraan pribadi yang mulus tentunya. Hebat kali Si Sofyan? Dia sudah menjalankan bisnisnya dengan sempurna.

[14] Polisi selama ini selalu bangga dan penuh senyum kalau memberitakan kejadian-kejadian terorisme. Seharusnya mereka sedih dan merasa sangat malu, “Kok dari dulu memberantas teroris tidak selesai-selesai. Polisi ini apa saja kerjanya?” Banyak masalah tidak selesai. Makelar kasus, Susno Duajdi, Anggodo-Anggoro, Bank Century, Gayus Tambunan, Ramayana, dst.

Dan aneka argumentasi yang kerap menjadi tanda-tanya bagi para pemerhati kasus-kasus terorisme di Indonesia. Intinya, seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya: “Syaitan itu ada dua jenis, jenis jin dan jenis manusia. Syaitan jenis manusia adalah tukang fitnah, durhaka, pendosa, sangat keji.” Mereka tidak segan-segan untuk menjual-belikan darah, nyawa, dan kehidupan manusia, demi keuntungan dunia yang sangat kecil. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Hebatnya lagi, yang menjadi sasaran jebakan terorisme itu rata-rata pemuda Muslim yang baik, bermoral, aktivis Islam, rajin ke masjid, bhakti pada orangtua, cinta keluarga, hidup sederhana, bahkan fakir-miskin. Ini adalah kezhaliman luar biasa. Kezhaliman sezhalim-zhalimnya. Bagaimana Indonesia akan bisa lolos dari kehinaan, bencana alam, dan sengsara, kalau kezhaliman seperti ini terus didiamkan?

Dan lebih hebat lagi, hebat bin ajaib, mayoritas kaum Muslimin, selain para aktivis Islam dan para penggiat Syariat Islam, rata-rata membisu semua atas kezhaliman luar biasa ini! Allahu Akbar! Bagaimana kelak kalau mereka ditanya di alam kubur, ditanya di Akhirat? Dimana pembelaan mereka atas nestapa Ummat Muhammad Saw?

Ya Allah, ya Rahiim, ya Rahmaan, rahmati, rahmati, rahmati, kaum Muslimin ini. Mereka sudah melakukan perbuatan luar biasa, dengan berdiam diri atas penderitaan pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris dan penderitaan keluarga mereka. Masya Allah ya Rahmaan ya Rahiim, ampuni kami ya Rabbal ‘alamiin.

Allahumma inna na’udzubika minas syaithanir rajiim, wa min an yahdhurun. Allahumma inna na’udzubika wa bi Izzatika min syarri wa zhulumatis syayathin wa ahzabihim ajma’in. Allahumma dammir hum tadmira, wa qat-tha’ aidihim wa arjulihim, wa farriq quwwatahum wa makrahum, wa anzil lahum hizyun fid dunya wal akhirah, wa zalzil hayatahum zilzalan katsiran, laa yazalu dzalikal zilzala hatta yatubuna ilaikal Ghafuur. Allahumma inna nas’aluka ‘afiyatan kamilan min kulli syayathin, wa syarrihim, wa zhulumatihim, wa makrihim jami’an. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Video Mesum “Koleksi Pribadi”

Juni 15, 2010

Beberapa waktu lalu, Indra Maulana dari MetroTV dialog dengan beberapa narasumber soal video mesum Si Ariel Peterporn. Salah satu narasumber disana, Elza Syarif. Indra sempat bertanya, “Bagaimana kalau suami-isteri lalu membuat video seperti itu untuk koleksi pribadi?” Elza Syarif dan lainnya menegaskan, bahwa hal itu akan dijerat UU Pornografi dalam delik “membuat pornografi”.

Ternyata, alasan “koleksi pribadi” itu juga yang disampaikan Edward Aritonang, setelah dilakukan pemeriksaan sementara kepada Si Peterporn dan Si Luna Maya. Bahkan dalam wawancara yang akan ditayangkan di TVOne, Si Ariel dan Si Luna juga beralasan dengan “koleksi pribadi” itu.

Kalau dipikir-pikir, sebagian orang Indonesia itu pintar memelintir alasan-alasan, tetapi sebenarnya mereka tidak cerdas. Alasan “koleksi pribadi” itu jika terus ditunggangi oleh Si Peterporn, Si Luna (Pezina), dan OC. Kaligis, bisa jadi akan menyelamatkan dua sejoli tukang zina itu dari jerat hukum.

Disini, ada beberapa poin kritik terhadap alasan “koleksi pribadi” tersebut:

PERTAMA, alasan “koleksi pribadi” bisa dipakai oleh semua penjahat-penjahat pornografi untuk mengelak dari hukum. Bahkan alasan “koleksi pribadi” itu bisa membuang semua UU Pornografi yang baru saja berlaku di Indonesia. Nanti, semua tukang zina, pelacur, gigolo, maniak seks, penjaja media mesum, dll. mereka bisa berkelit dengan alasan “koleksi pribadi”. Nanti mereka bisa berkoar-koar, “Oh, gambar porno, video porno, atau cerita ngeres ini, semuanya ini untuk koleksi pribadi. Tidak untuk disebar-luaskan. Kalau tersebar juga, bukan salah kami. Yang salah, ya yang menyebarkan gambar atau video itu.”

KEDUA, apakah dalam video atau gambar mesum itu ada bukti-bukti bahwa semua itu dibuat untuk koleksi pribadi? Misalnya, disana tertulis “untuk koleksi pribadi”. Atau ada suara, “Video ini kami buat untuk koleksi pribadi.” Atau apakah sebelum membuat koleksi bejat itu mereka membuat surat pernyataan dulu, bahwa itu untuk koleksi pribadi? Tidak ada sama sekali. Mereka berkoar-koar soal “koleksi pribadi” setelah terdesak. Kalau tidak terdesak, mereka santai-santai saja dengan perilaku mesumnya itu.

KETIGA, apakah manusia mesum seperti Ariel, Luna, Cut Tari, dkk. itu terlalu bodoh ya, sehingga tidak tahu perkembangan jaman? Apakah mereka tidak pernah tahu bahwa selama ini sudah banyak beredar video-video mesum di internet, atau VCD porno? Termasuk dulu, video super bejat, “Video Itenas”. Apakah orang-orang seperti mereka tidak sadar dari peredaran rekaman video-video bejat itu? Kalau mereka sudah tahu resiko tersebarnya benda-benda mengerikan itu, mengapa masih membuat rekaman juga? Mereka otaknya dungu ya…

KEEMPAT, saat Ariel Peterporn sama Si Luna, atau sama Cut Tari, sedang asyik-asyiknya bermesum-mesum ria, apakah mereka terikat ikatan pernikahan? Apakah ketika itu mereka sudah bersuami-isteri? Apa buktinya bahwa mereka sudah bersuami-isteri? Coba apa buktinya? Kalau tidak, berarti mereka itu sedang merekam adegan perzinahan, bukan adegan hubungan seksual suami-isteri? [Kenyataannya, mereka memang berzina saat bermesum-mesum ria itu. Kalau mereka sudah suami-isteri, mereka pasti akan marah besar dan menuntut keras orang-orang yang menyebarkan rekaman pribadinya. Tapi lihatlah, mereka malah ketakutan, menyembunyikan diri, dan tidak bisa membuktikan dirinya sudah menikah].

KELIMA, kalau mereka benar-benar sah sebagai suami-isteri, dibuktikan dengan memiliki Surat Nikah, lalu untuk apa mereka membuat rekaman seperti itu? Apa untungnya membuat rekaman hubungan seksual seperti itu bagi pasangan suami-isteri? Dari sisi kebebasan berhubungan seks, mereka sudah bersuami isteri, mengapa masih harus membuat hal-hal seperti itu? Ini menandakan bahwa jiwa mereka sakit.

KEENAM, andaikan pasangan suami-isteri boleh membuat rekaman video aksi hubungan seksual mereka, misalnya dengan asumsi perkembangan teknologi tidak beresiko membuat rekaman itu tersebar luas, bagaimana kalau suatu ketika rekaman itu dilihat oleh anak-anaknya sendiri? Apakah mereka mau jika dilihat anak atau saudara mereka sendiri? Seharusnya, hubungan seks itu disembunyikan serapat-rapatnya, sebab memang memalukan kalau ketahuan orang lain. Tetapi ini malah direkam, dengan tidak dijamin, rekaman itu kelak tidak akan jatuh ke orang-orang di sekitar mereka. Benar-benar sebuah logika orang sakit, merekam aksi seks yang sangat private.

KETUJUH, hukum membuat rekaman adegan seks, meskipun itu suami isteri adalah HARAM. Lho apa dalilnya kalau haram? Mudah saja. Suami-isteri tidak akan selamanya tetap suami-isteri. Bisa saja, suatu saat terjadai perceraian antara suami-isteri itu. Coba bayangkan, apa jadinya kalau pasangan suami-isteri sudah bercerai, sementara di tangan mereka masih ada rekaman hubungan seks di masa lalu? Coba Anda bayangkan! Mereka sudah resmi cerai, sudah resmi menjadi orang lain, tetapi masih ada rekaman hubungan seks di antara mereka. Maka perbuatan seperti ini adalah HARAM, sebab jika pasangan suami-isteri sudah bercerai, mereka dilarang melihat aurat mantan suami/isterinya. Belum lagi pertimbangan, resiko tersebarnya rekaman itu ke tangan orang lain.

KEDELAPAN, jika alasan “koleksi pribadi” memperbolehkan setiap pasangan suami-isteri di Indonesia boleh membuat rekaman adegan hubungan seksual mereka, ya Allah ya Rabbi, bangsa Indonesia ini akan terjadi banjir video porno yang amat sangat mengerikan. Tidak terbayangkan jika hal itu terjadi. Ya Allah ya Rahmaan, jauhkanlah kaum Muslimin di Indonesia ini dari angkara murka dan kejahatan keji. Amin Allahumma amin.

Secara umum, orang-orang yang membuat “koleksi pribadi” rekaman hubungan seksual, meskipun mereka sudah suami-isteri, pada dasarnya mereka adalah ORANG SAKIT. Bukan sakit fisik, tetapi sakit di jiwanya. Perbuatan seperti itu bisa merugikan diri sendiri, dan bisa merusak jutaan manusia.

Baik Si Ariel Peterporn maupun Luna Maya Pezina dan Cut Tari Pezina, mereka itu bukan suami-isteri saat melakukan perbuatan terkutuk itu. Mereka berzina. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Kalau dalam Islam, orang-orang seperti ini harusnya dihukum mati (rajam). Karena mereka publik figur, dihukum gantung pun tidak apa-apa, demi membuat efek jera bagi yang lainnya.

Kalau suami-isteri yang sah saja HARAM membuat rekaman mesum, karena bisa jadi mereka akan bercerai sehingga haram saling melihat aurat masing-masing. Apalagi orang yang tidak menikah. Bahkan mereka adalah publik figur yang seharusnya memiliki moral baik.

Tapi manusia macam Ariel Rajaporn ini kan sudah amat sangat rusaknya. Sudah munafik, tak bermoral, tapi lagunya berjudul, “Buka Topengmu!” Nah, inilah contoh raja-raja munafik. Orang munafik tulen, tapi berlagak menuduh orang lain munafik. Ini dia, munafik teriak munafik!

Mari terus berjuang sekuat tenaga menjaga moral kaum Muslimin di negeri ini. Hanya dengan komitmen demikian, kita masih berharap ada KEHIDUPAN MANUSIA di negeri ini. Salam perjuangan. Allahu Akbar!!!

AMW.


Dunia Serba “Masih Diduga”

Juni 11, 2010

Sejak beredar video mesum orang-orang tertentu, kami jadi agak sulit memastikan obyek-obyek tertentu yang kami lihat. Sepertinya ada yang salah di “mata” kami (atau di pikiran kami ya).

Di bawah ini foto beberapa obyek yang masih meragukan kebenarannya. Mohon klarifikasi kepada yang bersangkutan untuk memastikan. Kalau perlu, lakukan test DNA.

Gambar YANG DIDUGA sebagai Presiden SBY saat kampanye.

Foto YANG MIRIP dengan Budi Anduk & Boediono.

Foto sosok YANG DIDUGA KUAT sebagai Andi Malarangeng.

Foto ini 98,3754 % MIRIP sosok Ruhut Sitompul.

Foto makanan YANG DISANGKA KUAT sebagai Nasi Uduk. Kalau di Jawa, Sego Gurih.

Foto wanita YANG MIRIP presenter TVOne.

Foto YANG DIDUGA AGAK KERAS milik komedian Si Sule.

Gambar spesies YANG DISANGKA KUAT DIKIT sebagai seekor kuda.

Foto yang DIDUGA sebagai Oriel Superporn.

Dunia semakin lama semakin aneh, sakit. Hal-hal yang tidak bermoral, dan sangat jahat, masih saja dilindungi dengan kata-kata: Masih diduga, disangka kuat, mirip, 95 % mirip, dan seterusnya. Untuk perbuatan amoral yang bisa merusak jiwa ratusan jiwa manusia, masih saja dibela dengan menutup-nutupinya.

Tapi sangat ironis. Untuk kasus-kasus “terorisme”, banyak pemuda-pemuda Islam ditembaki di jalanan, disiksa habis-habisan, keluarganya difitnah, kehormatannya dinodai. Saat itu, tidak ada manusia yang berteriak: “Masih diduga teroris. Diduga kuat terlibat terorisme. Mirip pelaku teroris.” Dan seterusnya.

Dunia semakin sakit. Hal-hal yang sudah jelas sangat amoral, dibela-bela, ditutup-tutupi dengan penuh rasa bersalah. Padahal para pelakunya layak dihukum mati, karena telah menjadi sampah, dan merusak moral masyarakat luas. Adapun hal-hal yang belum pasti, masih multi tafsir, penuh rekayasa, dll. diberikan hukuman “tembak di tempat”.

Sebaik-baik doa adalah: Allahumma inna na’udzubila min ‘adzabi jahannam, wa na’udzubika min ‘adzabil qabr, wa na’udzubila min fitnatil mahya wal mamaati, wa na’udzubika min fitnatil masihid dajjal. (Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan kami berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal). Amin.

Dunia semakin sakit…ilmu semakin menghilang…kebodohan dan kebingungan merebak, laksana air bah.

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum ya aiyuhal Muslimun. Amin.

AMW.


Jangan Tinggalkan Dunia Pertanian, Ya Ikhwah!

Mei 31, 2010

Akhi wa Ukhti rahimkumullah…

Tahukah Anda, saat kapan dunia pertanian di Indonesia serasa mengalami pesta besar yang sangat meriah? Ketika itu, semua mata dan akal manusia memuji dan mengelu-elukan dunia pertanian. Ia terjadi tidak lama setelah meledak Krisis Moneter tahun 1997-1998 lalu.

Pasca Krisis Moneter banyak orang mengutuk dunia perbankan, pasar valas, bursa saham, investasi, dll. Mereka menganggap semua itu sebagai biang Krisis Moneter. Lalu pandangan mereka dialihkan ke dunia agrobisnis dan agroindustri. Ketika itu dunia pertanian dipuji-puji. Bahkan saya masih ingat, waktu itu banyak karyawan sektor keuangan di-PHK, lalu mereka banting setir menjadi petani. Ada yang menanam sayuran, jamur, bunga, memelihara ikan hias, sampai membudi-dayakan kodok, cacing, jangkrik, dll.

Harumnya tanah pertanian... Hayo!

Namun saat ini, kekaguman kepada dunia pertanian sudah amblas. Seperti ungkapan, “Hangat-hangat tai ayam.” Minat masyarakat kita kepada dunia pertanian bersifat temporer. Hanya kalau terpaksa saja, mereka peduli dunia pertanian. Kalau dunia industri sudah pulih, pasar uang menggeliat, dunia pabrik marak lagi, mereka pun kembali ke dunia semula. Pertanian hanya dibutuhkan, kalau terdesak. Jika situasi lapang, mereka akan memandang dunia pertanian dengan tatapan sinis, sentimen, bahkan membenci. “Apaan dunia pertanian? Dapat apa dari dunia macam begitu? Apa bisa dunia pertanian ngongkosi selera dugem?”

Sungguh, dunia pertanian ini sangat penting bagi kita. Dr. Aida Vitalaya, seorang pakar pertanian dari IPB (mungkin saat ini beliau sudah menjadi guru besar). Ketika di Indonesia lagi marak-maraknya popularitas IPTN yang sukses memproduksi pesawat, beliau pernah mengatakan, “Meskipun bangsa kita mampu membuat pesawat, tetap saja kita makan nasi.” Begitu kurang lebih ungkapan Dr. Aida.

Ungkapan itu maknanya dalam. Biarpun teknologi telah maju setinggi apapun, sebagai makhluk biologis kita tetap membutuhkan makanan dari bahan-bahan organik. Kita tidak mungkin makan dari bahan-bahan anorganik (non makanan). Artinya, nasib manusia tidak bisa dipisahkan dari dunia pertanian, sebab dunia inilah yang memproduksi makanan untuk manusia.

Dalam film Abad 21 yang dibintai para penyanyi dari grup nasyid Raihan, disana digambarkan suatu komunitas Muslim yang mendiami suatu area tertentu yang sarat dengan teknologi. Bukan hanya teknologi digital, tetapi sampai cuaca di daerah itu pun bisa dimanipulasi. Kalau melihat film ini, betapa kagumnya kita dengan dunia kecanggihan teknologi. Tetapi satu hal yang tidak disentuh dari film tersebut, yaitu penyediaan suplai makanan. Dari mana mereka bisa bertahan tanpa suplai makanan? Mungkinkah mereka akan makan dari bahan kardus, plastik, karet, logam, bahan karbon, sisa-sisa IC, RAM, hard disk, dll.? Jelas tidak mungkin.

Tubuh manusia hanya ramah dengan bahan-bahan organik yang sehat. Jika tubuh kita kemasukan zat-zat anorganik, organ-organ tubuh kita akan rusak. Salah satu buktinya, ada puluhan ribu bayi-bayi di China mengalami gangguan ginjal, setelah ditemukan skandal “susu berbahan melamin” di negara tersebut. Hanya bahan organik yang ramah bagi tubuh.

Secara perhitungan bisnis, usaha di bidang pertanian tidak mengenal kata TAMAT. Bisnis pertanian selalu memiliki prospek cerah, sebab selamanya manusia selalu membutuhkan bahan pangan. Jika ada masalah utama dalam bisnis ini, ialah harga produk pertanian yang bersifat fluktuatif. Jika panen raya, harga turun; jika masa paceklik, harga meroket. Kemudian, tentang masalah pembusukan produk pertanian. Jika produk itu tidak cepat dijual, ia akan membusuk. Kecuali kalau dilakukan usaha-usaha pengawetan. Itulah dua problem tradisional yang dihadapi para petani. Sementara di dunia bisnis lain, problemnya jauh lebih banyak.

Prospek dunia pertanian sangat kuat. Apalagi jika kita bisa menjangkau pasar ekspor. Dunia pertanian bisa menjadi andalan penghasilan yang mapan. Sebagai contoh, produk CPO (Crude Palm Oil) dari kelapa sawit sangat besar bagi Grup Bakrie. Bahkan bisa dikatakan, bisnis minyak sawit inilah yang telah menyelamatkan bisnis Grup Bakrie. Akbar Tandjung dan keluarga Megawati juga memiliki basis bisnis yang besar di bidang kelapa sawit ini.

Mengapa hal ini saya tekankan? Sebab, ada sebuah FAKTA yang sangat membuat hati kita miris. Saat ini, banyak usaha-usaha agrobisnis yang dimiliki orang-orang China. Mereka memiliki perkebunan, persawahan padi, usaha perikanan, peternakan, penangkapan ikan laut, dll.

Seorang kawan pernah mengatakan, bahwa di daerah agrobisnis Lembang, banyak tanah-tanah yang dimiliki orang China. Mereka tidak terjun menjadi petani, tetapi cukup memakai tangan-tangan warga lokal untuk mengelola usaha pertanian itu. Kawan yang lain juga mengatakan, bahwa pengepulan bambu pun banyak dikuasai orang China. Kalau Anda melihat acara-acara TV, disana banyak usaha-usaha agrobisnis yang dikelola orang China. Padahal semula, usaha-usaha itu biasa dikelola oleh warga pribumi Muslim.

Orang-orang China sangat belajar dari kasus Krisis Moneter 1997. Sejak itu mereka sangat menghargai bisnis di bidang pertanian. Sementara orang-orang kita sikapnya “hangat-hangat tai ayam”. Kita berminat kepada dunia pertanian hanya sesaat saja, setelah itu kita abaikan lagi. Amat sangat disayangkan, sangat memprihatinkan.

Sikap tidak konsisten ini juga menimpa kalangan organisasi-organisasi Islam. Mereka semula juga memberi perhatian terhadap dunia pertanian, pasca Krisis Moneter. Tetapi setelah kondisi berubah, mereka berubah pikiran lagi. Padahal seharusnya, kita berpijak kepada PEMIKIRAN ASASI, bukan berpijak di atas fakta-fakta sosial yang selalu berubah-ubah.

Sebuah apresiasi yang tinggi layak kita sampaikan kepada sebuah pesantren agrobisnis Al Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Mereka konsisten sejak awal mengelola usaha pertanian dan tidak berubah minat meskipun masyarakat mengabaikan bidang pertanian. Bahkan pesantren ini menjadi proyek percontohan bagi pesantren-pesantren lain.

Akhi wa Ukhti rahimakumullah…

Dunia pertanian adalah anugerah khas Allah Ta’ala kepada bangsa kita. Sejak lama kita dikenal sebagai bangsa agraris. Andaikan bangsa kita tidak menambang barang-barang tambang, namun hanya memaksimalkan dunia pertanian saja, insya Allah hal itu bisa mencukupi kebutuhan hidup kita. Dulu di jaman Orde Baru, Indonesia dikagumi dunia dengan dunia pertaniannya. Namun kini, semua berubah. Kita seperti kata ungkapan, “Anak ayam mati di lumbung padi.” Kita hidup menderita di tengah kesubuhan dan kekayaan alam hayati Indonesia.

Bukan sesuatu yang aneh jika almarhum Buya Muhammad Natsir, mendorong kaum Muslimin di Indonesia sangat memberi perhatian kepada dunia pertanian. Dan hal ini sering diabaikan oleh generasi muda kaum Muslimin. Dibandingkan perdebatan seru seputar isu-isu politik, dunia pertanian memang tidak menarik. Tetapi disini ada fondasi masa depan Ummat Islam, khususnya di Indonesia ini. Jika dunia pertanian sudah berpindah tangan ke orang China dan orang-orang asing, alamat kehancuran Ummat kita sudah di ambang pintu. (Jika itu yang terjadi, maka tidak ada yang lebih disesali, selain diri kita sendiri).

Saya menasehatkan kepada kaum Muslimin agar kembali memperhatikan dunia pertanian. Mohon jangan diabaikan dunia ini. Inilah benteng terakhir kekuatan kita, setelah kaum Muslimin kalah bersaing di dunia bisnis perkotaan dan industri. Gerakan-gerakan mahasiswa Muslim sebaiknya ikut peduli. Mereka jangan sibuk berdebat soal isu-isu politik melulu, lalu mengabaikan benteng ekonomi Ummat ini. Harus ada konsentrasi serius di bidang ini.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Semoga Allah menolong kaum Muslimin untuk memperbaiki kehidupan mereka, memperbaiki keimanan dan martabat mereka. Allahumma amin.

AMW.