“Tunggu Dulu, Pak Kapolri!”

Mei 18, 2010

Sejak Polri lepas dari TNI di era Abdurrahman Wahid, hubungan Polri dengan Ummat Islam jauh dari harmonis. Sejak era Dai Bahtiar, apalagi era Bamband Hendarso saat ini, hubungan Polri-Ummat Islam kerap diwarnai ketegangan. Saat Polri baru lepas dari TNI, belum menemukan bentuk kelembagaan yang mapan, mereka sudah keburu menelan mentah-mentah propaganda war on terrorism yang dilancarkan Amerika.

Masalah paling sulit dalam hubungan Polri-Ummat ini ialah soal KEBOHONGAN publik yang sering ditunjukkan oleh pejabat-pejabat Polri, lalu diamini begitu saja oleh jaringan media-media massa di Tanah Air. Contoh mudah, dari kasus Bom Bali I. Waktu itu Imam Samudra Cs merancang sebuah bom mobil, tetapi yang meledak 2 bom. Bahkan yang korbannya paling besar ialah bom kedua yang tidak dibuat Imam Samudra Cs yang meledak di Sari Club. Namun tetap saja, pemuda-pemuda Islam itu harus menanggung dosa yang tidak mereka lakukan. Meskipun tentu aksi mereka meledakkan bom di Paddy’s Club tetap merupakan kesalahan.

Sampai saat ini tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan masalah Bom Bali I itu, mengapa Imam Samudra Cs membuat 1 bom, tetapi yang meledak bisa 2 bom? Bahkan yang korbannya sampai ratusan adalah pada bom kedua yang tidak dibuat oleh Imam Cs? Dan mengapa pula masyarakat seolah membiarkan Polri dan media-media massa mengadili pemuda-pemuda Islam itu di luar seluruh kesalahan mereka?

Seni kebohongan lagi-lagi ditunjukkan oleh pejabat Polri, Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers 14 Mei 2010 lalu di Mabes Polri, pasca penembakan beberapa orang tertuduh teroris dan penangkapan puluhan lainnya. Berita ini luas ditayangkan media-media TV, juga diliput media-media cetak. Saya membaca versi berita dari Pikiran Rakyat, 15 Mei 2010, dengan judul, “2 Lulusan STPDN Dibekuk“.

Siswa "Be A Man" Lagi Persiapan Latihan "Terorisme"

Dalam berita itu Bambang Hendarso banyak mengklaim fakta-fakta yang patut diuji kembali kebenarannya. Hanya sayang, media-media massa sudah terlanjur memakan mentah-mentah konferensi pers Kapolri itu. Dan hal demikian sudah lama terjadi. Ada SIMBIOSIS MUTUALISME antara Polri dan media-media massa. (Bahkan kasus Susno Duadji, sebenarnya juga merupakan “obyek mutualisme” tersebut).

Dalam pernyataannya Bambang Hendarso menjelaskan tentang posisi Mustakim, salah satu tertuduh yang ditangkap polisi. “Dia (mustakim) alumnus terbaik di Mindanao, yang kemudian menjadi pimpinan latihan di Aceh,” kata Kapolri.

Pertanyaannya: Apa kamp latihan di Mindanao itu seperti akademi militer? Apa disana diajarkan kuliah, test, ada IPK, kelulusan, dan lain-lain sehingga jebolan kamp itu bisa disebut alumni? Lebih parah lagi, dari mana Polri bisa tahu kalau Mustakim alumnus terbaik? Apakah utusan Polri pernah bertemu dekan fakultas terorisme disana, lalu menanyakan “IPK” terakhir Mustakim?

Kapolri juga mengatakan, kelompok itu sudah menyiapkan sejumlah rencana serangan terhadap sejumlah pejabat penting di Pulau Jawa, terutama di Jakarta.

Pernyataan ini jelas bertolak belakang dengan opini yang dibangun oleh Polri selama ini. Mereka selama ini menyebut kelompok anak-anak muda itu sebagai Tanzhim Al Qa’idah Aceh Darussalam. Dalam berbagai kesempatan, baik pejabat Densus maupun Polri menjelaskan, bahwa kelompok ini sengaja memilih Aceh, karena Aceh memiliki reputasi konflik RI-GAM di masa lalu. Lalu, bagaimana dengan klaim, anak-anak muda itu mau menyerang pejabat di Jakarta, sedangkan mereka latihan di Aceh? Jauh-jauh amat latihan di Aceh, sementara targetnya di Jakarta? Mengapa tidak sekalian saja mereka latihan di Papua, sambil jalan-jalan rekreasi?

Kapolri mengatakan, “Pada tanggal 17 Agustus 2010 mereka akan melakukan penyerangan dan pembunuhan para pejabat yang melakukan upacara 17 Agustus, termasuk tamu negara asing.”

Apa yang dikatakan Kapolri ini sangat aneh. Kasus di Aceh terjadi pada Februari lalu, kasus penembakan di Cikampek, Cawang, penangkapan di Solo bulan Mei. Sementara 17 Agustus masih sekitar 3 bulan lagi dari kejadian Cikampek-Cawang. Dan lebih lama lagi kalau dikaitkan dengan latihan militer di Aceh. Bahkan katanya, menurut info kepolisian, latihan itu sudah diendus sejak akhir 2009. Masih lama dari momen 17 Agustus.

Okelah, katakanlah mereka hendak melakukan serangan pada 17 Agustus nanti. Tapi masalahnya, mengapa mereka melakukan latihan militer jauh-jauh amat di Aceh? Mengapa mereka menyebut diri Tanzhim Al Qa’idah Aceh Darussalam? Ada yang tidak nyambung antara fakta latihan di Aceh dan tuduhan melakukan serangan saat 17 Agustus 2010 nanti. Logikanya, kalau mau menyerang di Jakarta, anak-anak muda itu bisa saja membuat latihan di Banten atau Lampung yang dekat Jakarta. Secara nalar orang biasa, membuat latihan yang jauh dengan target yang dibidik, itu akan menyulitkan mereka sendiri. Harus boyong-boyong peralatan dalam jarak jauh.

Lebih heboh lagi ialah klaim Kapolri berikut ini: “Mereka memastikan, dengan aksi ini seluruh pejabat akan terbunuh dan akan mempercepat proses pergantian kekuasaan dan menyatakan negara Islam Indonesia telah berdiri.”

Ini adalah kebohongan besar yang sulit untuk diterima akal sehat, dan wawasan orang-orang terpelajar. Bagaimana mungkin dengan membunuh para pejabat, lalu bisa berdiri negara Islam Indonesia? Apakah tampuk kekuasaan itu ada di tangan para pejabat tersebut? Lalu bagaimana dengan rakyat, bagaimana dengan mahasiswa, bagaimana dengan daerah-daerah, bagaimana dengan TNI, partai politik, dll.? Apakah mereka akan diam saja ada serombongan anak-anak muda tiba-tiba mengklaim berdirinya negara Islam di Indonesia?

Benar-benar kedustaan yang sulit dipahami. Kapolri membuat-buat pernyataan sesuai asumsi Polri atas masalah itu, bukan atas realitas sebenarnya. Sebodoh-bodohnya anak muda itu, mereka tidak akan mungkin mendirikan negara dengan cara menyerang pejabat-pejabat tersebut. Kekuatan mereka seberapa sehingga berani ingin mendirikan negara Islam di Indonesia? Mereka hanya puluhan orang, atau kurang dari 150-an orang, dengan peralatan militer seadanya. Tidak mungkin mereka akan melakukan aksi seperti yang dituduhkan Kapolri itu.

Seni kebohongan semacam inilah yang sekian lama berkembang di Indonesia. Dan sayangnya, media-media massa suka menelan mentah-mentah pernyataan seperti itu. Dengan sikap selalu memfitnah dan menyebarkan fitnah seperti ini, sulit berharap akan tumbuh kedamaian di masa nanti. Sebab bara sakit hati selalu bersemi di hati orang-orang yang difitnah itu.

Sebuah pertanyaan kritis: “Mengapa Polri ingin mengaitkan kasus di Aceh dengan pembunuhan para pejabat saat upacara bendera 17 Agustus 2010 nanti?

Sebab kenyataan yang ada di hadapan kita, anak-anak muda yang dituduh sebagai teroris itu, mereka tidak melakukan peledakan-peledakan bom seperti kelompok Nurdin Cs di masa lalu? Mereka menggelar latihan militer di hutan yang tidak menimbulkan korban dari kelompok sipil. Coba pikirkan, apakah ada rakyat sipil yang mati akibat serangan mereka? Sama sekali tidak ada. Itu artinya, kasus Aceh tersebut SULIT DIANGKAT menjadi isu terorisme. Maka biar bisa NGANGKAT, dipakailah isu pembunuhan pejabat saat 17 Agustus 2010. Hanya dengan isu semacam itu, dijamin rakyat Indonesia -yang sehari-hari intens dibodoh-bodohi media massa- akan mudah diyakinkan bahwa anak-anak itu sangat berbahaya dan mereka teroris. Padahal kasusnya sangat beda dengan isu terorisme Nurdin Cs.

Kalaupun anak-anak muda itu bersalah, harusnya bukan dengan delik terorisme. Tetapi dengan delik MENYIMPAN SENJATA API ILEGAL dan MENYERANG APARAT POLISI. Artinya, perbuatan mereka murni adalah perbuatan kriminal. Tidak usah dikaitkan dengan terorisme, sebab memang mereka tidak melakukan serangan-serangan teror seperti yang dilakukan Nurdin Cs. Hanya dua delik itu kesalahan mereka.

Adapun soal LATIHAN MILITER, ini bukan menjadi delik kriminal. Siapapun boleh melakukan latihan militer, selama tidak memakai senjata api ilegal. Coba saja Anda lihat, di TV ada acara “Be A Man“. Disana juga ada latihan-latihan ala militer. Itu legal, tidak salah, selama tidak memakai senjata api sungguhan. Begitu juga di masyarakat banyak arena latihan painball, disana ada latihan tembak-tembakan mirip situasi militer sungguhan. Dari sisi latihan militer, anak-anak muda itu tak boleh disalahkan. Hanya kesalahan mereka memakai senjata api sungguhan, dan katanya melakukan penyerangan kepada aparat di Aceh.

Sedangkan tentang ideologi Negara Islam. Ini kan pilihan setiap orang. Indonesia negara demokrasi, menghargai pilihan ideologi rakyatnya. Tidak ada masalah, orang memiliki ideologi negara apapun di hatinya, selama mereka tidak menyerang orang lain dan melakukan tindakan melawan hukum. Iya kan. Sebuah contoh mudah, Hizbut Tahrir Indonesia. Mereka sangat kencang menyerukan penegakan Daulah Islamiyyah. Tetapi mereka memakai jalur dakwah dan politik, bukan militer.

Soal ideologi negara Islam dijamin sepenuhnya di sebuah negara demokrasi. Asal cara-cara mewujudkan ideologi itu tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kalau ada yang membela ideologi negara sekuler, negara kapitalis, negara nasionalis, ya harus legowo jika ada yang menginginkan selain itu.

Jadi anak-anak muda itu seharusnya diproses secara hukum murni. Mereka jangan dikait-kaitkan dengan isu terorisme, sebab mereka memang tidak melakukan tindakan-tindakan terorisme seperti yang selama ini dilakukan kelompok Nurdin Top dan kawan-kawan. Tidak ada rakyat sipil yang menjadi korban aksi mereka.

Kalau dipersalahkan di pengadilan, ya salahkan karena mereka membawa senjata api ilegal dan menyerang aparat sehingga ada yang terbunuh di Aceh. Itu pun harus diselidiki dulu siapa pelaku yang melakukan penyerangan. Selama masih ada kesewenang-wenangan dalam penegakan hukum, jangan berharap akan ada keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat Indonesia.

Pesan terakhir untuk Kapolri dan bawahannya: “Anda semua adalah para penegak hukum. Maka tegakkanlah hukum dengan cara hukum, bukan dengan melanggar hukum!

AMW.

Iklan

Isu Terorisme dan Para “Selebritis”

Maret 12, 2010

“Di setiap musim selalu ada ahlinya.”

Itulah ungkapan yang paling tepat untuk diucapkan. Di Indonesia ini, pada waktu-waktu tertentu ada MUSIM TERORISME. Ini nyata dan benar-benar faktual, sebab hampir setiap tahun sejak 2002, selalu ada MUSIM TERORISME. Saat musim ini tiba, seluruh pikiran masyarakat seperti “dicuci otak” untuk mengikuti berita, opini, peredabatan seputar terorisme. Dan ketika musim ini tiba, muncul pula “pendekar-pendekar” yang merasa paling ahli bicara tentang terorisme, jihad fi sabilillah, ajaran Islam, hak-hak non Muslim, dan sebagainya. Para “selebritis terorisme” ini muncul dengan segala kepakaran, kegagahan, dan penampilannya di layar-layar TV.

Celakanya, yang selalu menjadi “selebritis” itu orangnya ya itu itu saja. Dari sejak dulu sampai sekarang, tidak akan keluar dari nama-nama seperti: Al Chaidar, Umar Abduh, Wawan Prayitno, Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi tidak tampak seperti keturunan Arab), Nur Huda, dan lain-lain. Tentu raja dari segala “selebritis terorisme” ini adalah: NASIR ABBAS!

Coba kita bertanya kepada kaum Muslimin di Indonesia dengan pertanyaan berikut: “Orang-orang itu sebenarnya selama ini berpendapat mewakili kepentingan siapa? Apakah mereka wakil dari MUI, atau wakil dari ormas Islam, wakil dari MMI, wakil dari JI, atau wakil siapa?” Sama sekali, pendapat, ucapan, opini orang-orang itu tidak mewakili pandangan kaum Muslimin di negeri ini. Jika demikian, mengapa mereka selalu menjadi “selebritis” ketika muncul musim terorisme? Apa kapasitas mereka bicara tentang terorisme? Kalau Ansyad Mbay bisa dimaklumi, sebab dia ketua Desk Anti Teror. Atau Hendropriyono, sebagai mantan Ketua BIN. Sedangkan orang-orang di atas, sangat tidak jelas mewakili Ummat Islam yang mana?

Contoh menarik, pandangan Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi wajah seperti orang Muslim lokal). Dia mengklaim bahwa para pelaku terorisme itu memiliki ideologi ekstrim, bahkan disebut menganut aliran sesat. Kemudian dia menegaskan bahwa, “Islam itu rahmatan lil ‘alamiin.”

Persoalannya, banyak orang mengklaim Islam sebagai agama “Rahmatan Lil ‘Alamiin”, lalu menafsirkannya sebagai agama yang hanya berisi etika sopan satun, sikap ramah, menyayangi sesama, toleransi terhadap perbedaan, tidak memaksakan kehendak, patuh pada kebijakan politik, pasrah dengan sistem ekonomi yang berlaku, dan sebagainya. Orang-orang ini tidak mau mengembalikan tafsir Rahmatan Lil ‘Alamiin itu kepada sikap beragama Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Padahal tentu yang paling mengerti tafsiran dan aplikasi Rahmatan Lil ‘Alamiin itu adalah Nabi dan para Shahabat. Sedangkan, di jaman Nabi beliau berjihad menegakkan sistem Islam secara konsisten, berkesinambungan, dan komprehensif. Ya, buktinya adalah negara Islam Madinah Al Munawwarah itu sendiri. Itulah negara Islam pertama yang didirikan kaum Muslimin yang terus dilestarikan selama ribuan tahun.

Jadi konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin versi Nabi Saw sangat berbeda dengan konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin yang dicetuskan oleh Abdurrahman Assegaf Cs. Di mata Abdurrahman ini, yang namanya ajaran Islam hanya berisi akhlak baik kepada orangtua, akhlak baik kepada guru, menyayangi teman, rajin belajar, rajin olah-raga, makan makanan bergizi, membuang sampah pada tempatnya, memakai helm di jalan raya, dan semacamnya. Ya, itulah tafsiran Rahmatan Lil ‘Alamiin yang mereka ingin paksakan agar diterima oleh Ummat Islam.

Berjihad Melawan Panser Yahudi dengan Batu.

FITNAH TERHADAP JIHAD

Terus terang ada rasa muak ketika mendengar opini-opini busuk yang dikembangkan oleh media-media massa. Dalam berita di Trans7 berkali-kali saya mendengar, mereka menyebut istilah “jaringan terorisme”, “sekolah teror dunia”, para teroris, dan sebagainya. Semua istilah itu ditujukan kepada amal-amal Jihad kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Afghanistan, Mindanao, Irak, dan sebagainya. Afghanistan disebut sebagai “sekolah teror dunia”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Bila tuduhan Trans7 itu salah, semoga orang-orang yang melontarkan tuduhan keji itu dikutuk oleh Allah, dirusak kehormatannya, dibangkrutkan bisnisnya, dipecah-belahkan keluarganya, disesatkan hidupnya, sampai mati binasa. Amin Allahumma amin].

Harus dipahami perkara ini…

Jihad dalam Islam itu ada dua, Jihad Ofensif dan Jihad Defensif. Jihad ofensif dilakukan oleh negara-negara Islam dalam rangka memukul mundur musuh-musuhnya, mengusir para agressor, serta menaklukkan negara-negara jahiliyyah. Syaratnya, harus memiliki negara Islam yang berdaulat dan dipimpin seorang imam. Adapun jihad defensif, bisa dilakukan Ummat Islam dimanapun dan kapanpun, dalam rangka membela diri, menolak agressi musuh, menolak penjajahan, menolak kezhaliman orang kafir, dsb. Jihad yang terjadi di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Chechnya, Mindanao, Bosnia, dll. semua itu adalah jihad defensif untuk mempertahankan diri.

Kedua jenis Jihad di atas adalah Syar’i, berdasarkan dalil-dalil Syariat Islam. Tidak satu pun ulama Ahlus Sunnah menolak konsep jihad seperti itu, sejak dulu sampai saat ini. Nabi Saw dalam peperangan Badar, Uhud, dan Ahzab, bersifat Jihad Defensif. Tetapi dalam perang Hunain, perang Khaibar, perang Tabuk, Fathu Makkah, dan lainnya bersifat Jihad Ofensif.  Kedua jenis jihad tersebut dilakukan oleh Nabi dan para Shahabat.

AKSI BOM MANUSIA

Adapun soal aksi-aksi pengeboman target sipil di daerah aman seperti Indonesia, dengan sasaran warga sipil, dengan tidak membedakan agama mereka, seperti dalam kasus Bom Bali I, Bom Bali II, bom JW Marriot, bom Kuningan, bom JW Marriot-Ritz Carlton, dengan menggunakan bom manusia atau bom mobil; semua ini adalah perkara baru dalam konteks Jihad Fi Sabilillah. Baru populer sejak tahun 80-an di dunia Islam. Khususnya sejak Usamah bin Ladin menyerukan jihad global melawan Amerika tahun 1996.

Jihad sebelum tahun 80-an tidak pernah menggunakan bom manusia atau bom mobil. Teknik bom manusia dimulai oleh seorang wanita Tamil, ketika meledakkan dirinya untuk membunuh PM India, Rajiv Ghandi. Teknik bom mobil banyak digunakan oleh Mafia, kelompok Abu Nidal dan Hizbullah di Libanon, IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, dan sebagainya. Kedua cara ini benar-benar bukan berasal dari khazanah perjuangan para Mujahidin Islam. Jihad Fi Sabilillah yang dilakukan para Mujahidin Islam sejak lama menggunakan cara-cara kontak militer biasa.

Hanya ketika Hamas memulai menerapkan teknik bom manusia, yang kemudian disebut sebagai bom istisyhad, dan juga menerapkan teknik bom mobil, ia segera diadopsi oleh gerakan-gerakan Jihad kaum Muslimin, khususnya oleh kelompok Al Qa’idah dan Usamah bin Ladin. Padahal dalam perang di Saudi, jihad Syaikh Hasan Al Banna menyerang Israel, jihad Panglima Soedirman di Indonesia, jihad Syaikh Umar Mukhtar As Sanusi di Libya, dan lain-lain semuanya tidak memakai bom manusia atau bom mobil.

Entahlah, mengapa kemudian teknik “bom manusia” dan “bom mobil”, dengan target sasaran-sasaran sipil tak bersenjata menjadi TREND di kalangan gerakan-gerakan perlawanan Islam? Ini sangat mengherankan dan aneh. Satu sisi, “bom manusia” dan “bom mobil” itu metode yang dimulai oleh orang kafir; di sisi lain, para pendahulu Mujahidin Islam di masa sebelumnya tidak mengenal cara-cara seperti itu.

Dan celakanya, cara “bom manusia” yang diadopsi dari cara perjuangan gerakan Macan Tamil Srilangka itu, kemudian didalili dengan seabreg-abreg dalil. Intinya, dalam jihad, seorang Muslim boleh membinasakan dirinya, dalam rangka menimpakan kerugian besar kepada musuh. Tetapi membinasakan diri dengan cara menempelkan bom dalam tubuh seorang pejuang Islam, adalah sangat berbeda. Tubuh itu bisa hancur berkeping-keping, seperti daging tanpa arti sama sekali. Padahal Allah Ta’ala sudah mengatakan, “Wa laqad karamna Bani Adama” (dan sungguh telah Kami muliakan anak-keturunan Adam. Al Isra’: 70).

Dalam hati saya meyakini, cara-cara Jihad yang mengadopsi cara orang Tamil Srilangka inilah yang telah membuat ruwet amal-amal Jihad Fi Sabilillah di dunia Islam. Para mujahidin itu dilarang menyerang target sipil, dilarang menyerang rumah ibadah, dilarang menyerang ternak-ternak, menyerang lahan pertanian, bahkan mengejar musuh yang melarikan diri saja tidak perlu. Jihad Fi Sabilillah aslinya sangat luhur, sangat mulia. Tetapi setelah muncul aneka rupa BID’AH yang mencontoh cara wanita Tamil saat menyerang Rajiv Ghandi itu, kehidupan Jihad di Dunia Islam mulai morat-marit. Makanya Allah Ta’ala sudah berpesan, “Wa jahidu fillahi haqqa jihadih” (dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang benar).

Mudah-mudahan ke depan tidak akan ada lagi aksi bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia itu. Ini adalah cara-cara salah dalam jihad. Memang benar bahwa kita boleh meniru teknik berperang orang kafir, seperti Nabi Saw meniru teknik perang parit bangsa Persia. Tetapi lihatlah bedanya disana dengan teknik “bom manusia” yang meniru cara wanita Tamil itu! Dalam perang parit di masa Nabi, tidak aksi yang merendahkan martabat dan nilai kehidupan seorang Muslim. Tidak ada sama sekali. Sedangkan “bom manusia” itu justru jelas-jelas telah menghancurkan tubuh seorang Muslim, seperti daging cincang yang biasa dipakai membuat baso itu.

Kalau seorang Muslim dalam jihad kejatuhan bom milik musuh, sehingga tubuhnya hancur lebur akibat ledakan bom itu, tidak masalah. Itu resiko perjuangan. Toh, bukan dia penyebabnya. Tetapi kalau menempelkan rompi bom dalam tubuh lalu meledakkan diri sendiri, atau diledakkan dari jauh, ini benar-benar cara SESAT yang harus ditinggalkan. Kaum Muslimin jangan lagi memakai cara-cara seperti itu sebab sangat merendahkan martabat seorang Muslim. Allah telah memuliakan kita dengan firman-Nya, “Wa laa tahinu wa laa tahzanu, wa antumul a’launa in kuntum mu’minin” (janganlah merasa hina dan merasa sedih, kalian adalah yang tertinggi derajatnya, kalau kalian benar-benar beriman). Apa artinya ayat ini diturunkan dari langit, ketika ada serombongan para Mujahidin Islam sangat bernafsu menghinakan dirinya sendiri dengan memakai rompi berisi bom, lalu secara pengecut membidik target-target sasaran sipil yang sangat lemah? Inikah moral Islami?

Saya menghimbau kepada para alim-ulama, para ustadz, para guru, dan sebagainya agar menghapuskan konsep “bom manusia” atau “bom mobil yang dikendarai manusia” dari kamus Jihad Fi Sabilillah. Cara-cara keji, menghinakan diri, dan pengecut itu tidak layak dimasukkan dalam kamus Jihad Fi Sabilillah.

KEMATIAN SAUDARA DUL MATIN

Ketika mendengar terbunuhnya Saudara Dul Matin, tentu sebagai sesama Muslim kita mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.” Kita turut berduka atas wafatnya seorang pemuda Muslim, mendoakan kebaikan baginya, dan memintakan ampunan atas dosa-dosanya. Begitu pula atas terbunuhnya rekan-rekan Dul Matin. Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘afihim wa’fuanhum. Amin Allahumma amin.

Dalam hal ini ada dua kondisi yang harus dilihat:

[1] Keterlibatan Dul Matin dalam aksi-aksi pengeboman sasaran sipil di Indonesia, dengan memakai bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia. Jelas aksi seperti ini salah, dan tidak bisa diklaim sebagai Jihad Fi Sabilillah. Kesalahan demikian harus dipahami, dihentikan, dan tidak diulangi lagi oleh pemuda-pemuda Islam lainnya. Ingat, Allah memerintahkan kita berjihad dengan cara yang benar, seperti para pendahulu kita para Mujahidin yang lurus, bukan dengan meniru teknik “bunuh diri” wanita Tamil ketika membunuh Rajiv Ghandi. (Saya menantang semua pembela paham “bom istisyhad” untuk menghadirkan bukti-bukti, coba Anda sebutkan siapa orang pertama dari kalangan kaum Muslimin yang memulai teknik bom manusia itu? Pasti tidak ada, sebab bom seperti itu memang dirintis oleh gerakan Tamil Elam di Srilangka).

[2] Keterlibatan Al Akh Dul Matin dan kawan-kawan dalam Jihad Defensif membela kaum Muslimin yang tertindas di negeri-negeri Muslim, seperti di Afghanistan, Mindanao, Pattani, dan lainnya. Maka perbuatannya adalah benar, sah, dan dinilai sebagai Jihad Fi Sabilillah. Peranan Dul Matin di Mindanao dalam rangka membela kepentingan Ummat Islam disana menghadapi militer Filipina yang didukung Amerika Serikat, adalah bagian dari Jihad Defensif yang diakui sah dalam Syariat Islam. Pelaku Jihad Defensif adalah Mujahid, meninggalnya dalam membela kaum Muslimin, adalah Syahid.

Siapapun, pemerintah manapun, kepolisian manapun, tidak akan bisa menghapuskan hukum Jihad Fi Sabilillah ini, sebab ia adalah RISALAH yang TURUN DARI LANGIT. Jihad itu bukan rekayasa Usamah, bukan doktrinasi Mullah Umar, bukan milik Hamas, tetapi milik Islam, milik kaum Muslimin, dan diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Jihad yang lurus -sebelum tersusupi cara-cara dari luar Islam- adalah amal mulia, bukan terorisme.

CATATAN AKHIR

Kepolisian, Densus88, Amerika Serikat, Australia, dan siapapun, mereka sanggup menyerang target-target pelaku terorisme, seperti menyerang sasaran sipil dengan bom manusia, meledakkan bom mobil di tengah-tengah keramaian masyarakat umum (non kombatan). Tetapi mereka tak akan sanggup menghadapi Jihad Fi Sabilillah yang sebenarnya, yaitu Jihad yang sesuai kaidah dan etika Islami. Meskipun mereka hendak menyamakan Jihad dengan terorisme, maka Allah akan tetap menjernihkan agama-Nya dari kotoran-kotoran kesesatan.

Jihad tidak akan sanggup dikalahkan oleh siapapun, sebab ia adalah RISALAH yang turun dari langit. Jihad dalam rangka menyebarkan hidayah Islam dan Jihad dalam membela kaum Muslimin yang teraniaya, akan selalu hidup dan ada di muka bumi, sampai akhir sejarah Ummat Islam. Jihad yang Syar’i ini tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun, dengan cara apapun, sebab Allah-lah backing-nya. Sesuatu yang di-backing-i oleh Allah Ta’ala, tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun.

Dan kita harus mewaspadai adanya konspirasi dari orang-orang durjana untuk merusak ajaran Islam, merusak keimanan Ummat, serta mengacaukan opini dunia dengan aksi-aksi terorisme yang mereka lakukan sendiri, lalu diklaim sebagai perbuatan para Mujahidin Islam. Hal-hal demikian kerap terjadi, demi kepentingan rendah, dengan mengorbankan kemuliaan agama. Islam kerap dijadikan kendaraan oleh orang-orang tertentu untuk menodai Islam itu sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Keberadaan para “selebiritis terorisme” sungguh membuat mual orang-orang yang menyaksikannya. Mereka ini sok tahu dan merasa paling mengerti. Padahal analisis mereka saling berbenturan satu sama lain. Ya, maklumlah, di jaman modern, segala sesuatu bisa dibisniskan. Setiap musim ada ahlinya… Setiap datang musim isu terorisme, para “selebritis terorisme” segera bermunculan dengan segala opininya.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjadikan Jihad Fi Sabilillah sebagai pelindung ajaran Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


“Berjihad” Demi Asing

Maret 4, 2010

Membela negara, membela masyarakat, membela kaum pribumi, membela tanah-air, membela rakyat kecil, membela masa depan anak-cucu, membela bangsa, dan lain-lain, tentu semua itu adalah KEBAIKAN. Sebagian orang menyebutnya sebagai PATRIOTISME. Kalau patriotisme diniati Lillahi Ta’ala, maka nilainya menjadi amal Jihad yang mulia.

Tetapi sangat lucu, kalau ada yang “berjihad” demi melayani kepentingan asing, yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyatnya sendiri. Orang asing yang berjiwa rakus, zhalim, semena-mena, hedonis, egois, dan seterusnya dibela; sementara rakyat sendiri yang terlantar, fakir-miskin berjuta-juta, pemuda-pemudi nganggur, kaum lemah, masyarakat marginal, dan seterusnya diabaikan. Rakyat lemah itu dianggap “sampah” yang membebani APBN, sehingga berbagai subsidi sosial yang seharusnya sudah wajar mereka terima, diamputasi dimana-mana.

Orang-orang asing tidak memiliki belas kasih, mereka tidak peduli dengan anak-anak dan isteri kita, mereka tidak peduli dengan keutuhan kita, persaudaraan, budaya konstruktif, martabat, serta posisi kita sebagai manusia yang mulia -selaku hamba Allah-. Mereka tidak peduli, sebab mereka datang selalu membawa missi kolonialisme, baik dulu atau sekarang. Hanya kemasannya saja berbeda, sedang esensinya sami mawon.

Kok bisa ya… ada yang berjihad mati-matian membela kepentingan asing, berjihad menipu rakyat sendiri, berjihad membiarkan pengerukan kekayaan nasional, berjihad merampas masa depan ekonomi, berjihad memperbesar beban hutang, berjihad menyelamatkan pejabat-pejabat kapitalistik, berjihad mengamankan bisnis asing, berjihad melindungi debitor-debitor penjarah harta negara, dan seterusnya. Kok bisa itu lho…

Kalau berjihad demi keadilan bagi masyarakat; berjihad demi kemuliaan martabat Ummat; berjihad demi kesejahteraan yang merata; berjihad menyelamatkan masa depan generasi; berjihad menyelamatkan lingkungan; berjihad memperbaiki moral publik; berjihad memuliakan kaum mustadh’afin, dan sebagainya yang semisal itu, ya dimaklumi. Tapi berjihad kok melayani kepentingan asing… Aneh.

Lihatlah hanya demi menyelamatkan dua pejabat tertentu, “JIHAD MAKSIMUM” digelar sejak berbulan-bulan, sampai menjelang “ketok palu”, sampai menjelang “voting”, bahkan sampai di ranah media. Banyak orang  menjelek-jelekkan wakil masyarakat yang sudah berjuang habis-habisan demi menuntut keadilan atas kasus bank tertentu. Namun semua itu semena-mena dicela. Katanya, “Wakil rakyat miskin etika. Tidak beradab. Memalukan! Memuakkan!” dan seterusnya. Tetapi kalau misalnya yang terpilih akhirnya “Vitamin A” (bukan Vitamin C), mereka pasti akan “berjihad” dengan cara lain, yaitu memuji-muji wakil masyarakat yang sukses memilih “Vitamin A” itu. Ya, di sekitar kita banyak dagelan yang mencla mencle.

Sungguh, sulit dimengerti. Kok ada manusia yang mau berjihad membela kepentingan kaum asing zhalim yang sudah terkenal kejahatan-kejahatan mereka kepada rakyat negeri ini? Kok bisa ya…

Kemungkinannya:

[1] Mereka hanyalah para “pencari kerja” belaka. Kebetulan basis profesinya di bidang itu. Kalau ada “majikan” lain yang bisa memberi gaji lebih baik, meskipun ide politiknya berbeda 180 derajat, ya akan mereka terima juga. Ya, ini sebenarnya domainnya Menteri Ketenaga Kerjaan.

[2] Mereka bagian dari gerakan kebatinan Freemasonry. Dulu perintis-perintis gerakan itu di Jawa, mereka bercita-cita ingin membangun Indonesia yang berbudaya Belanda. Raga pribumi, hati Belanda. Itu cita-cita ideologis. Sepertinya, sampai saat ini masih banyak penerus cita-cita seperti itu.

[3] Mereka bagian dari missi asing itu sendiri. Intinya, majikan mereka memang orang asing sono. Mereka digaji sebagai komprador (atau bahasa keren-nya, jongos). [Lho ada itu, seorang tokoh kandidat wakil presiden tertentu. Saat mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden, dia masih tercatat sebagai anggota dewan eksekutif IMF. Ini nyata, tidak mengada-ada].

Ternyata, yang berjihad itu bukan hanya para pejuang di Irak, Afghanistan, Palestina, dan lainnya. Bukan hanya Diponegoro, Imam Bonjol, Jendral Soedriman, Bung Tomo, dan lainnya. Bukan hanya ormas Islam, jamaah dakwah, pesantren Islam, aktivis mahasiswa, media Islam dan seterusnya. Ternyata, yang berjuang untuk asing banyak juga.

Kedua arus itu NYATA dan ADA. Mereka memiliki kekuatan, ideologi, sekaligus memiliki sejarah masing-masing. Para pejuang Islam di masa lalu melahirkan anak-keturunan pejuang; sedang para pengkhianat masa lalu, juga melahirkan pengkhianat-pengkhianat juga. Tetapi ada kalanya juga, dari rahim pejuang Islam masa lalu, lahir keturunan pengkhianat; begitu pula dari rahim pengkhianat di masa lalu, lahir perjuang Islam. Ya Allah Ta’ala berbuat apapun yang dikehendaki-Nya.

Kalau mau merasakan HIDUP SEBENARNYA, jadilah para pejuang yang ikhlas menolong urusan-urusan Ummat Islam. Fokuslah dalam bidang ini, maka Allah akan menolongmu dengan segenap karunia dan rahmat-Nya. La yanshurullahu man yanshuruhu (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong-Nya). Tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya! Apapun profesi dan kedudukanmu, tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya. Itu pasti dan mutlak!

Jangan pernah lelah dan menyesal meniti perjuangan. Maka Allah akan selalu sedia menyantunimu, saat engkau membutuhkan-Nya.

AMW.


Memahami Makna Simbol Yahudi

Februari 17, 2010

Anda semua tentu sudah sangat mengenal logo di bawah ini. Ya, kita sama-sama telah tahu. Inilah logo yang kerap disebut “The David Star” atau Bintang David. Ini simbol legendaris kaum Yahudi. (Tetapi sebenarnya, simbol seperti itu tidak tepat disebut “Bintang David” atau “Bintang Dawud”, sebab Nabi Dawud As itu Nabi ajaran Tauhid, bukan sosok pembela ajaran-ajaran Yahudi seperti selama ini. Ini hanyalah kepalsuan klaim orang Yahudi saja).

Lambang Yahudi.

Secara umum lambang Yahudi ini terdiri dari lingkaran dan dua segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah. Tetapi lingkarannya dibuang saja, dianggap tidak ada. Jadi, tinggal bentuk dua segitiga yang saling menghadap ke atas dan ke bawah. Logo seperti ini banyak muncul dalam logo-logo perusahaan, organisasi, atau lembaga, tetapi bentuknya kerap kali disamarkan. Contoh di bawah ini:

Logo Indosat (lihat bagian tengah gambar).

Logo Yamaha.

Bahkan logo salah satu partai Islam yang terkenal pun, yang warna dominannya hitam dan kuning, kalau dilihat secara sekilas (snapshot) akan terlihat karakter bentung simbol “Bintang Yahudi”. Cara menelitinya, coba ujung-ujung dua gambar bulan sabit yang bertolak-belakang itu ditarik garis lurus. Kemudian dari ujung-ujung itu pula tarik garis ke atas dan ke bawah, ke titik pusat gambar bulir padi, dan ke titik pusat pangkal bulir. Nanti, akan terlihat jelas, bahwa bentuk luar logo partai ini serupa dengan “Bintang Yahudi”. (Sejak menyadari hal ini, saya tidak memperkenankan ada logo itu tampak di rumah).

Apa makna lambang dua segitiga berhadap-hadapan pada “Bintang David” (lebih tepat dibaca: Bintang Yahudi)?

Dari informasi yang beredar selama ini, ada penafsiran sebagai berikut: Lambang segitiga yang ujungnya menghadap ke bawah, itu menggambarkan PIRAMIDA MESIR; sedangkan gambar segitiga yang ujungnya ke atas, itu menggambarkan BUKIT ZION di Israel. Intinya, lambang itu mencerminkan kehancuran peradaban Mesir Fir’aun dan bangkitnya peradaban Zionisme (Yudaisme).

Maka ketika ada partai politik di Indonesia yang memakai simbol “segitiga” dengan memakai empat jari, dua jempol dan dua telunjuk, ini menggambarkan konsep SEGITIGA yang menghadap ke atas. Coba perhatikan gambar di bawah ini. Mohon maaf saya memakai gambar artis. (Nanti kalau ada gambar lain yang lebih baik, insya Allah diganti).

Simbol partai pemenang pemilu 2009. Tampak empat jari membentuk segitiga menghadap ke atas.

Kaum Yahudi modern sangat terkenal dengan simbol-simbol. Sampai ada studi tersendiri yang mengkaji soal simbol-simbol itu. Simbol yang ditampakkan di depan umum, adalah semacam “deklarasi” bahwa organisasi, kelompok, perusahaan tertentu masih satu bagian dari gerakan Zionisme internasional.

Kalau dalam Islam kita mengenal prinsip Tazkiyyah (rekomendasi). Biasanya ulama, dewan ulama, atau organisasi Islam memberi rekomendasi tertentu kepada pihak-pihak yang disetujui atau disukai. Kalau dalam gerakan Yahudi modern, caranya dengan membuat simbol-simbol yang intinya bermuara kepada simbol “Bintang Yahudi”. Siapa yang memakai simbol itu dianggap sebagai kawan, siapa yang tidak memakai, dianggap orang luar.

Namun ada keunikan dari simbol “Bintang Yahudi” itu. Ternyata maknanya, bukan hanya simbol keruntuhan Piramida Mesir dan bangkitnya Bukit Zion. Ada satu lagi makna yang sangat besar, yang jarang disadari oleh banyak orang. Makna apakah itu?

Ternyata, lambang “Bintang Yahudi” itu bermakna, bahwa kaum Yahudi modern siap menggantikan peradaban Mesir kuno yang telah runtuh. Jadi hadirnya peradaban Bukit Zion bukanlah untuk menghancurkan peradaban Piramida Mesir, tetapi untuk menggantikannya.

Cara pemaknaannya sebagai berikut:

[=] Bahwa kedua peradaban, Bukit Zion dan Piramida Mesir, itu sama-sama PERADABAN PAGANISME yang memiliki missi besar untuk melawan Allah Ta’ala. Anda masih ingat bagaimana keangkuhan Fir’aun kepada Allah? Nah, keangkuhan sejenis itu pula yang ada pada diri kaum Yahudi. Kedua peradaban sama-sama merupakan peraaban musyrik dan melawan Allah Ta’ala.

[=] Gambar kedua segitiga itu sama persis, sama dan sebentuk. Hanya arahnya yang berbeda. Itu artinya, inti ajaran yang dipeluk kaum Yahudi modern sama persis dengan ajaran Mesir kuno. Hanya sifat peranannya berbeda. Peradaban Mesir kuno sudah runtuh, dan kini diganti peradaban Zionisme modern.

[=] Banyak sekali warisan simbol, pengetahuan, spiritualisme, yang diadopsi kaum Yahudi dari peradaban Mesir. Hal ini sudah dikenal luas oleh para peneliti. Seperti contoh, simbol “Sun God” (Dewa Matahari) seperti yang terlihat pada logo kartu prabayar Mentari. Itu diadopsi dari khazanah ritual Mesir kuno.

[=] Dulu Mesir menguasai dunia dengan simbolisasi Piramida Mesir-nya. Maka kini Yahudi menguasai dunia, dengan simbolisasi Bukit Zion-nya. Sama saja, tidak ada bedanya.

Jadi, hubungan Yahudi modern dengan Mesir bukanlah hubungan ANTAGONIS, seperti yang disangka banyak orang. Tidak sama sekali. Hubungan keduanya, adalah hubungan SALING MEWARISI, saling menggantikan peranan mereka dalam menguasai dunia.

Harus diingat dengan sangat jelas. Kaum Yahudi modern bukanlah pengikut Musa As. Kalau mereka ikut Musa, tentu mereka akan menerima konsep Islam dan menjadi Muslim. Yahudi modern adalah pengikut akidah Samiri, sang pembuat patung “sapi betina”. Sedangkan sapi betina sebagai sesembahan itu diwariskan dari khazanah spiritualisme bangsa musyrik Mesir kuno. Maka itu, bukan suatu hal yang kebetulan ketika Mesir menjadi negara Muslim pertama yang mengakui eksistensi negara Israel.

Lalu hal apa lagi yang sangat fundamental?

Anda harus ingat, bahwa peradaban Mesir Fir’aun dulu bukan hanya sangat memusuhi Tauhid. Disana juga berkembang pesat praktik PENINDASAN MANUSIA, yaitu dalam bentuk perbudakan kaum Bani Israil. Konsekuensinya, peradaban Yahudi modern yang saat ini menguasai dunia, ia juga akan melahirkan sangat banyak PERBUDAKAN MANUSIA, dengan segala bentuknya.

Secara riil, perbudakan itu benar-benar kita rasakan. Meskipun istilahnya tidak menggunakan kata “perbudakan”. Coba lihat, banyak manusia modern saat ini diperbudak oleh profesi, jabatan, uang, materi, seks, sepakbola, musik, film, TV, facebook, dan sebagainya. Semua urusan itu dianggap lebih penting dari agama, lalu mereka pun diperbudak oleh urusan-urusan itu semua. Ini kenyataan kan?

Bahkan, perbudakan dalam arti sebenarnya saat ini mulai berkembang. Ada manusia diperjual-belikan, wanita diperjual-belikan, anak-anak diperjual-belikan, bahkan janin dalam kandungan juga diperjual-belikan. Na’udzubillah min dzalik. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini adalah realitas yang kita saksikan saat ini.

Lalu bagaimana solusinya?

Solusinya: kembali kepada ajaran Kitabullah dan As Sunnah semurni-murninya, kembali kepada Manhaj Nabi Saw, kembali kepada teladan para Shahabat Ra. Mengapa demikian? Sebab, merekalah dulu yang sanggup menghancurkan peradaban Yahudi di Madinah sehancur-hancurnya. Tidak ada yang lebih ditakuti oleh Yahudi, selain kalangan yang mereka sebut sebagai “Muslim Ortodoks”. Yaitu kalangan Islam yang sangat komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah Nabawiyyah.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Mengapa Mereka Menghujat Islam?

Februari 2, 2010

Setelah Abdurrahman Wahid meninggal, komunitas AKKBB membuat manuver-manuver. Mereka seperti panik karena baru kehilangan dedengkot kesesatan nomer wahid. Manuver paling baru AKKBB, mereka hendak menggugat UU penistaan agama yang sudah berlaku sejak tahun 1965. Kata mereka, UU itu bertentangan dengan Konstitusi, khususnya pasal 28 tentang kebebasan berpendapat. Mereka menuntut UU penistaan agama itu dicabut.

Di jaman ketika kondisi kehidupan masyarakat sedang sumpek (ruwet) seperti ini, adalah logis jika bangsa Indonesia menata kembali moralitasnya. Hal itu pula yang dilakukan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan membangkitkan semanagat religius rakyatnya. Di Rusia ada gelombang kegairahan baru di kalangan generasi muda disana untuk mendatangi gereja-gereja. Pemerintah Jerman pun telah memasukkan kurikulum pelajaran agama ke sekolah-sekolah umum di Jerman. Pelajaran agama Islam sedang dikaji untuk diberikan kepada putra-putri Muslim di Jerman. Eropa dalam dekade-dekade terakhir sudah menyadari pentingnya nilai-nilai agama untuk mengatasi krisis demografi yang sangat parah disana. Pangeran Charles di Inggris, pemuka agama, serta otoritas moneter Inggris, mereka bersikap simpatik terhadap nilai-nilai Syariat Islam. Bahkan Inggris ingin menjadi gerbang ekonomi Syariah terbesar di Eropa. Sementara Pemerintah Yahudi Israel sejak lama meyakini bahwa eksistensi negara mereka sangat bergantung kepada pengajaran nilai-nilai Yudaisme kepada generasi muda Israel.

Menata moral sangat dibutuhkan, agar bangsa ini selamat dalam menghadapi segala turbulensi (guncangan) kehidupan seperti saat ini. Maka itu di jaman Orde Baru dulu, Pemerintah Soeharto memasukkan prinsip “Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” sebagai prinsip pembangunan dalam GBHN. Ya bagaimana lagi cara kita akan bangkit, kalau tidak kembali ke dasar moralitas kita sebagai bangsa religius? Bangsa manapun yang mengalami keterpurukan, asti akan membangun moralnya, sebagai landasan membangun kebangkitan.

Namun dari pengalaman selama 10 tahun terakhir, kita menyaksikan betapa derasnya arus penghujatan agama. Herannya, yang menjadi sasaran utama penghujatan ini adalah ISLAM. Agama-agama lain seolah selamat dari segala kasus penghujatan, hanya Islam yang menjadi sasaran utama. Lebih mengherankan lagi, yang menghujat Islam bukanlah orientalis, komunis, atau orang-orang non Muslim. Para penghujat Islam itu justru dari kalangan kyai, cendekiawan Muslim, tokoh ormas, dosen IAIN (UIN), guru besar perguruan tinggi Islam, mahasiswa IAIN, dan sejenisnya. Rupanya, para penghujat itu memerlukan simbol-simbol Islam sebagai KENDARAAN untuk menyerang Islam itu sendiri. Persis seperti Snouck Hurgronje.

Disini kita ambil beberapa contoh kasus penghujatan Islam, antara lain:

[o] Ulil Absar Abdala dengan tulisannya di Kompas, Menyegarkan Kembali Pemahaman Keagamaan. Tulisan ini jelas melecehkan ajaran-ajaran Islam.

[o] Ucapan Abdurrahman Wahid dalam wawancara dengan Radio Utan Kayu, “Menurut saya kitab suci yang paling porno adalah Al Qur’an. Ha ha ha..”

[o] Ucapan Dawam Rahardjo yang mendesak, jika Ummat Islam sulit diatur, agar Islam dilarang saja di Indonesia.

[o] Buku karya Sumanto Al Qurthubi, berjudul Lubang Hitam Agama.

[o] Karya tulis mahasiswa UIN Yogya, Menggugat Otentesitas Wahyu. Isinya sangat melecehkan kesucian Al Qur’an.

[o] Fatwa Musdah Mulia yang mengklaim bahwa Islam memperbolehkan homoseksual dan lesbian. (Maka itu Musdah bisa disebut sebagai “pakar homoseks dan lesbian”).

[o] Seruan pembubaran MUI dan Departemen Agama.

[o] Gerakan menentang UU Sisdiknas yang memasukkan materi keagamaan dalam pendidikan umum.

[o] Kampanye menentang legalisasi RUU Anti Pornografi-Pornoaksi yang sebenarnya ditujukan untuk melindungi moralitas masyarakat.

Bagaimana Ummat Islam di Indonesia akan hidup tenang dengan segala hujatan-hujaran seperti di atas? Semua itu sama saja dengan upaya menghancurkan sendi-sendi Islam dari dasar-dasarnya.

Anehnya, para penghujat itu tetap dikenal sebagai tokoh Islam, panutan Ummat, kyai haji, cendekiawan Muslim, aktivis Islam, dan sebagainya. Padahal pernyataan mereka –menurut hukum fiqih- mengandung konsekuensi kemurtadan. Tetapi media-media massa tidak peduli dengan semua itu. Media-media massa terus menjadi corong publikasi penghujatan-penghujatan tersebut. Kompas, Media Indonesia, Tempo, media-media TV, sering menjadi corong praktik penghujatan. Selain tentu saja media-media yang mereka kelola sendiri.

Sebuah pertanyaan mendasar: “Mengapa mereka bergerak secara sistematik menghujat Islam?”

Kalau mengikuti pernyataan-pernyataan di situs JIL, mereka melakukan gerakan LIBERALISASI (baca: menghancurkan konsep Islam dari dasar-dasarnya) dengan niatan antara lain: (1) Melawan pemahaman-pemahaman fundamentalis Islam yang merebak di masyarakat; (2) Mendukung kehidupan demokratis; (3) Mempertahankan Indonesia sebagai negara yang multi kultural/majemuk.

Tapi Anda jangan cepat percaya dengan omong kosong orang-orang JIL itu. Mereka hanyalah kaum pendusta, yang hidup meminum kedustaan, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Untuk membantah pernyataan-pernyataan JIL tersebut, disini ada beberapa argumentasi yang bisa disebutkan, yaitu:

[a] JIL hanya menjadikan Islam fundamentalis sebagai sasaran, sementara mereka tidak pernah sama sekali bicara tentang Nashrani fundamentalis, Freemasonry fundamentalis, Zionis fundamentalis, Kapitalis fundamentalis, atau Liberal fundamentalis. Jadi yang dilawan JIL hanya Islam fundamentalis, sedangkan komunitas-komunitas fundamentalis lainnya tidak disentuh sama sekali.

[b] Jika memang JIL melawan Islam fundamentalis, mengapa sasaran mereka adalah dasar-dasar ajaran Islam itu sendiri? Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an perlu diedit lagi, atau hadits Nabi dianggap tidak relevan dengan jaman modern. Dengan hujatan seperti itu, semua pemeluk Islam, bukan hanya Islam fundamentalis, kena semua. Bahkan anak-anak kecil yang belajar IQRA’ juga kena hujatan itu.

[c] Kalau JIL dan kawan-kawan memang demokratis tulen, mengapa mereka menyerang pemahaman Ummat Islam? Bukankah demokrasi itu identik dengan menghargai pendapat orang lain? Apa artinya demokrasi, kalau sebagian orang diperbolehkan menghujat keyakinan sebagian yang lainnya? Sangat jelas sekali, agressi JIL dan kawan-kawan terhadap Islam, benar-benar bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

[d] JIL mengklaim sangat mendukung kehidupan multi kultural. Mereka membawa slogan “Bhineka Tunggal Ika” kemana-mana. Tetapi sikap JIL sangat memusuhi dasar-dasar pemahaman Islam. Ini jelas bukti kuat, bahwa mereka sangat tidak menghargai realitas multi kultural. Bahkan mereka terus memicu konflik di tengah-tengah masyarakat. Provokasi AKKBB dalam kejadian Insiden Monas 1 Juni 2008 adalah bukti besar, bahwa mereka menyuburkan konflik.

[e] Nah, ini fakta besar yang sulit dilupakan. Jika JIL sangat menghujat nilai-nilai Islam, maka perhatikanlah dengan sangat cermat, bahwa mereka TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENGHUJAT AGENDA NEO LIBERALISME di Indonesia. Orang-orang JIL itu kerjanya hanya menghujati konsep-konsep Islam, tetapi mereka tidak pernah menghujat usaha-usaha pengerukan kekayaan nasional oleh kekuatan-kekuatan asing dan pengusaha-pengusaha kapitalis.

Perlu dicatat dengan jelas, orang-orang JIL dan sejenisnya, mereka sama sekali tidak peduli dengan gelombang Neo-Liberalisme yang melanda Indonesia. Dalam Pemilu 2009 lalu, mereka mendukung pasangan SBY-Boediono. Padahal kalau mau jujur, masalah Neo Liberalisme ini adalah bahaya besar yang mengancam seluruh bangsa Indonesia. Mengapa JIL dan kawan-kawan malah menghujat Al Qur’an, menghujat Sunnah Nabi, menghujat hukum Islam, menghalalkan homseksual-lesbian, menghujat MUI, mendukung pornografi-pornoaksi, dan lain-lain?

Disini kita bisa menarik BENANG MERAH. Hujatan-hujatan JIL, AKKBB, Abdurrahman Wahid, Ulil Absar, Luthfi Syaukani, Musdah Mulia, dll. bukanlah gerakan yang berdiri sendiri. Itu sangat terkait dengan missi lain, yaitu KOLONIALISME BARU. Ketika Ummat Islam sedang sibuk menghadapi JIL dan kawan-kawan, pada saat yang sama, gelombang eksploitasi kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing dan kaum kapitalis berjalan intensif.

JIL menempati posisi menyibukkan kaum Muslimin, khususnya Islam fundamentalis, sementara gerakan eksploitasi ekonomi dimainkan dengan sangat kencang oleh perusahaan-perusahaan asing dan jaringan mereka. Sebagi upahnya, JIL dan kawan-kawan diberi bantuan dana oleh lembaga seperti Ford Foundation, Asia Foundation, Libforall, dan kawan-kawan. Mereka mendapat upah sedikit dengan cara mengorbankan kehidupan masyarakat luas dan anak-cucunya.

Untuk ke depan, kita jangan berbasa-basi lagi menghadapi kawanan JIL ini. Mereka adalah sekeji-kejinya manusia, karena rela menjual bangsanya demi keuntungan sedikit. Mereka menjadi kanker mematikan di dalam tubuh Ummat Islam, untuk mematikan semangat militansi dalam menghadapi kolonialisme baru.

Tawarkan kepada JIL beberapa tantangan. Satu, ajak mereka berdebat terbuka, disaksikan oleh masyarakat umum. Dua, ajak mereka mubahalah, perang doa, agar Allah melaknati siapa yang terbukti berdusta. Tiga, ajak mereka berhenti dari segala pengkhianatan, atas nama Islam, atas nama semangat kebangsaan. Jika tidak mau berhenti, doakan mereka agar celaka, binasa, beserta keluarga dan anak-keturunannya. Empat, adukan hujatan-hujatan mereka terhadap Islam, kepada kepolisian. Jika menyangkut perdata, tuntut mereka setinggi-tingginya, agar binasa dalam kemiskinan. Lima, sadarkan masyarakat luas, bahwa siapapun yang merusak tatanan moral, mereka adalah agen-agen Neolib. Enam, lakukan upaya-upaya pembelaan yang memungkinkan, demi menjaga eksistensi Islam.

Semoga bermanfaat. Amin ya Karim.

AMW.


Ruh Gerakan Freemasonry

Februari 2, 2010

Freemasonry dikenal juga sebagai Theosofi. Ia merupakan gerakan rahasia, gerakan bawah tanah, bersifat fundamentalis. Gerakan ini diciptakan oleh tokoh-tokoh ideolog Yahudi. Freemasonry muncul dari Perancis Selatan, sebuah kawasan yang dikenal menganut aliran gereja Magdalena. Mereka pernah masuk ke Jerusalem sebagai Kesatria Templar, ketika kota itu dikuasai pasukan Salib. Mereka mengklaim sebagai bagian dari pasukan Salib, tetapi sebenarnya memiliki agenda sendiri.

Dalam buku berjudul, Gerakan Theosofi di Indonesia, karya Artawijaya, mantan wartawan Sabili, dijelaskan bahwa Theosofi atau Freemasonry adalah aliran kebatinan Yahudi. Para pembangun aliran ini memang tokoh-tokoh Yahudi di abad pertengahan, di Eropa. Tetapi akidahnya, bukanlah akidah Yudaisme seperti yang diajarkan oleh Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, dan lainnya. Bukan juga akidah gereja Magdalena yang mengakui kedudukan Maria Magdalena dalam doktrin Kristiani. Tetapi orang-orang Freemasonry memuja Lucifer, Dewa Matahari (Sun God), dan mengamalkan ajaran-ajaran okultisme (sihir). Mereka benar-benar orang musyrik, yang menganut ajaran paganisme seperti Fir’aun di era Mesir dulu.

Jadi Freemasonry itu membawa keyakinan tersendiri. Mereka bukan penganut Yahudi seperti para pengikut ajaran Musa, sebab mereka tidak pernah patuh dengan Taurat. Tetapi juga bukan penganut ajaran paganisme Fir’aun secara murni. Mereka campuran dari keduanya. Secara ideologi mengambil ajaran-ajaran pagan di Mesir, secara politik sangat mengabdi kepentingan Yahudi.

Dimanapun ada komunitas Yahudi, dapat dipastikan disana ada orang-orang Freemasonry. Di negeri Belanda banyak Yahudi-nya, maka disana banyak penganut gerakan Freemasonry. Ketika VOC dan Belanda menjajah Indonesia, para penjajah itu juga membawa ajaran Freemasonry ke Indonesia. Mereka tidak membawa ajaran Yahudi, tetapi membawa paham Freemasonry.

Salah satu ciri khas Freemasonry, mereka selalu mendekat ke pusat kekuasaan, melalui lobi-lobi tingkat tinggi. Mereka tidak mau susah-susah membangun gerakan dari bawah, tetapi langsung ke pusat kekuasaan, mendekati elit-elit penguasa, lalu mempengaruhinya. Hal itu terjadi sangat nyata di Indonesia. Dulu kaum Freemason sangat deras menyusup ke lingkaran elit-elit Jawa di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Semarang dan Solo disebut-sebut sebagai pusat gerakan Freemasonry.

Dalam buku Gerakan Theosofi di Indonesia karya Artawijaya dijelaskan, banyak tokoh-tokoh nasional Indonesia dulu yang menjadi anggota aktif Freemasonry, atau terpengaruh pemikiran Freemasonry. Di halaman 96 disebutkan, setidaknya ada 23 loge (atau loji, semacam kuil pemujaan Freemasonry) milik Freemasonry berdiri di 19 kota di Indonesia, termasuk di Kutaraja Aceh.

Pelukis terkenal Raden Saleh (1810-1880) dikenal sebagai generasi pertama Freemasonry di Indonesia. Raden Soekanto Tjokrodiatmojo, pendiri kepolisian Indonesia, juga dikenal sebagai anggota Freemasonry. Prof. Soepomo, Prof. M. Yamin, Prof. Soekanto, Djamaludin Adinegoro, Ki Sarmidi Mangoensarkoro, Siti Soemandari, M. Tabrani, Mohammad Hatta, mereka pernah mendapat beasiswa lembaga beasiswa Freemasonry, Midden Java. Ki Mangonsarkoro, ikut mendirikan perguruan Taman Siswa, yang bercorak Theosofi (Freemasonry). Tabrani, pemimpin gerakan Pemuda Freemasonry. Siti Soemandari, pimpinan majalah Bangoen, sering menghujat isteri-isteri Nabi melalui majalahnya.

Elit-elit bangsawan Jawa banyak terlibat Freemasonry. Keluarga Paku Alam (bangsawan Kraton Solo) mendirikan lembaga beasiswa Paku Alam Studie Fond dengan sokongan penuh Freemasonry. Nanti, alumni lembaga beasiswa ini ketika pulang ke Indonesia mendirikan BO (Boedi Oetomo). Paku Alam V, VI, dan VII sangat kental dengan pengaruh Freemasonry. Paku Alam VII menulis buku, “Apa yang Kutemukan Sebagai Orang Jawa untuk Roh dan Jiwa dalam Tarekat Masin Bebas.” Buku ini ditulis oleh Porbo Hadiningrat, Bupati Semarang-Salatiga, disebarkan di kalangan elit Jawa agar menjadi pendukung Freemasonry.

Raden Adipati Surjo, menulis buku, “Tarekat Mason Bebas dan Dunia Pribumi.” Lagi-lagi tujuannya untuk menyebarkan paham Freemasonry di kalangan masyarakat Jawa. Adipati Surjo ini mengklaim, ajaran Freemasonry cocok dengan kultur orang Jawa yang suka klenik dan kebatinan. Bahkan RA. Kartini pun disebut-sebut sangat terpengaruh paham Freemasonry.

Banyak tokoh-tokoh pergerakan nasional, khususnya dari kalangan elit Jawa, yang menjadi anggota Freemasonry atau terpengaruh pahamnya. Misalnya, Radjiman Widiodiningrat, Dr, Seotomo, Ki Hadjar Dewantoro, Wahidin Soediro Hoesodo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarni Pringgodigdo, dan lain-lain. Bahkan ayah Soekarno sendiri, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang penganut Theosofi tulen.

Jadi sangat wajar kalau Indonesia kemudian sekuler, dan seringkali bersikap anti Islam, sebab para tokoh-tokoh pergerakannya, banyak yang menganut agama Theosofi atau menjadi anggota Freemasonry. Jelas tidak mungkin Islam akan bersatu dengan Freemasonry, sebagaimana Musa As tidak akan bersatu dengan Fir’aun, dan Nabi Muhammad Saw tidak akan bersatu dengan Abu Jahal.

Nah, inilah yang membuat bangsa Indonesia selalu terlunta-lunta di bawah cengkeraman penjajah. Sebab banyak elit politiknya, secara diam-diam menjadi anggota Freemasonry yang tentu amat sangat memusuhi Islam. Ya, sampai kapan kita akan menjadi bangsa yang beradab dan maju, kalau otak-otak manusia Indonesia selalu dikendalikan agar mengabdi kepentingan asing? Anda tidak akan pernah menjumpai Freemasonry membenci penjajah. Tidak sama sekali. Freemasonry dan penjajah, seperti dua sisi mata uang.

Gerakan Freemasonry memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

[1] Freemasonry selalu bergerak ke pusat kekuasaan, demi mempengaruhi, mengontrol, serta mengambil manfaat seluas-luasnya. Itu mereka lakukan sejak dulu sampai saat ini. Ingat, sasaran pertama Freemasonry di Indonesia adalah elit-elit keluarga bangsawan Jawa. (Mungkin kenyataan seperti inilah yang membuat banyak masyarakat etnis non Jawa kesal dengan pemimpin-pemimpin asal Jawa).

[2] Freemasonry tidak pernah memiliki obsesi untuk mensejahterakan kehidupan rakyat. Mereka bersikap elitis dan suka dengan struktur politik elitis. Boedi Oetomo dulu adalah organisasi para priyayi Jawa yang arogan dan elitik. Hanya dengan kultur elitik itulah anggota Freemasonry bisa bebas menindas manusia-manusia lainnya. (Ingat, dalam struktur gerakan Freemasonry berlaku sistem kasta-kasta yang amat sangat ekstrem, sampai 33 tingkatan. Padahal dalam Hindu paling hanya ada 4 atau 5 kasta saja).

[3] Freemasonry mengamalkan ilmu-ilmu sihir, upacara memanggil roh, ritual pengorbanan, mendalami ilmu-ilmu kebatinan, dan sejenisnya. Mereka ini orang-orang musyrik secara murni. Hanya saja, biasanya mereka terpelajar, intelek, berwawasan. Tetapi tetap saja musyrik. (Kita tidak heran kalau banyak pejabat-pejabat birokrasi dari etnis Jawa, banyak yang menganut Kejawen, penggemar mistik, pengamal ilmu-ilmu kebatinan).

[4] Freemasonry bergerak dengan cover gerakan kasih-sayang, toleransi, cinta-kasih, humanisme, peduli kemanusiaan, dan seterusnya. Tapi yakinlah, semua itu hanya kedok belaka. Bayangkan, para penganut sihir, ilmu-ilmu kebatinan, dan sejenisnya, darimana mereka akan berkasih sayang?

[5] Freemasonry katanya sangat membenci fanatisme agama, lebih suka sikap toleransi, menghargai keragaman. Tetapi dalam kenyataan, mereka sangat keras, fundamentalis, agressor yang bengis. Mereka amat sangat membenci Islam, dan mencintai apapun yang bersifat paganisme. Mereka berpura-pura mencintai adat-istiadat, budaya bangsa, warisan leluhur. Padahal intinya, membela paganisme, dan menyerang ajaran Tauhid Islam.

[6] Freemasonry sangat sering beralasan dengan isu-isu kebangsaan. Seolah mereka paling nasionalis, paling patriotik. Padahal tujuan mereka, hanyalah ingin membenturkan aparat negara dengan kalangan Islam. Mereka ingin mengadu-domba negara dengan kalangan Islam. Biar para aktivis, dai, pemuda-pemuda Islam disikat habis oleh alat-alat negara. Mereka amat sangat senang dengan merebaknya isu terorisme, sebab mereka memiliki alasan untuk menghabisi kekuatan gerakan-gerakan Islam, jika mereka mampu melakukannya.

Jadi kini di mata kita sudah telanjang semuanya. Sudah jelas, tegas, dan tidak samar lagi. Segala gerakan, atas nama apapun, yang menjadikan Islam sebagai sasaran untuk dihujat, dilecehkan, dilemahkan, dipecah-belah, yakinlah semua itu adalah konspirasi dari tangan-tangan Freemasonry. Bisa jadi, itu gerakan murni mereka, atau berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam lainnya.

Mungkin inilah yang kerap disebut sebagai The New World Order, tatanan dunia baru. Agen-agen dajjal bergerak sistematik dalam rangka membangun The Dark Kingdom. Mereka tidak peduli dengan penderitaan ratusan juta rakyat Indonesia. Di mata mereka, rakyat adalah sampah yang boleh diinjak-injak sesuka hati. Indonesia dengan segala kekayaan di dalamnya, mereka korbankan untuk melayani kepentingan asing. Tentu saja, mereka mendapat imbalan yang pantas untuk itu.

Tidak ada manusia paling terkutuk selain agen-agen Freemasonry itu, dan semoga Allah Al ‘Aziz mengutuk mereka sehina-hinanya, sehancur-hancurnya, seperih-perihnya. Sungguh, Allah Maha Kuasa melaksanakan rencana-Nya. Amin Allahumma amin.

Ya Allah ya Rahiim, tolonglah kami dan para pejuang Islam dimanapun mereka berada. Teguhkan hati kami di atas akidah agama-Mu, kuatkan kebencian kami kepada musuh-musuh-Mu, jadikan diri dan kehidupan kami bermanfaat bagi agama-Mu dan Ummat Muhammad Saw. Lindungi kami dari segala makar musuh-musuh-Mu. Ya Allah ya Razzaq, anugerahkan kekuatan kepada kaum Muslimin untuk memuliakan agama-Mu dengan ilmu, kekuatan ruhiyah, kekuatan harta, kekuatan amal, serta kekuatan Ukhuwwah.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.


Rekayasa Media Massa

Januari 4, 2010

Di kalangan media-media Yahudi telah lama dikenal prinsip, “Ulang-ulangilah terus kesalahan, maka ia lama-lama akan diterima sebagai kebenaran.” Jadi kebenaran itu diterima bukan karena SUBSTANSI-nya memang benar, tetapi karena ia dipaksakan untuk diterima akal manusia, melalui ekspose media yang tak kenal henti.

Hal yang sama terjadi pada diri Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dilihat dari berbagai sisi, sebenarnya tokoh ini tidak terlalu istimewa. Masih banyak tokoh yang lebih baik dari dirinya. Namun karena rekayasa media yang luar biasa, akhirnya ia tampil seperti tokoh “SUPERMAN” yang penuh keistimewaan, dan tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun. Kalau seseorang menemukan kesalahan pada tokoh satu ini, dia segera dibentak keras, “Hai, lihat mata kamu! Bukan dia yang salah, tapi mata kamu rabun. Tahu?”

Nah, disinilah kita bisa merasakan betapa hebatnya peranan orang-orang Freemasonry dalam membentuk opini. Mereka benar-benar mengendalikan media massa, terutama media-media TV, sehingga yang keluar dari media itu isinya hanya pujian, kekaguman, fantasi, obsesi yang bersifat mengagung-agungkan tokoh itu.

Sedikit perlu disini dibuka data-data menyangkut kiprah Gus Dur di masa lalu:

[=] Ketika tahun 1984 terjadi pembantaian berdarah pemuda-pemuda Islam di Tanjung Priok. Itu adalah buntut dari rencana Soeharto untuk memaksakan Pancasila sebagai Azas Tunggal. Pasca pembantaian itu, LB. Moerdani dan Try Soetrisno menjadi perhatian besar Ummat Islam, sebab mereka berdua adalah pejabat militer yang paling bertanggung-jawab terhadap Tragedi Priok tersebut. Lalu Gus Dur mengajak LB. Moerdani keliling pesantren-pesantren untuk meyakinkan pesantren bahwa tindakan militer dalam tragedi itu sudah benar. (Inilah salah satu bukti, bahwa Gus Dur seorang humanis, karena dia menyayangi LB. Moerdani, dan melupakan ratusan korban Priok dan keluarga mereka).

[=] Gus Dur ini pernah menjadi anggota MPR dari Golkar, ketika Soeharto masih dekat dengan Moerdani CS.  Tetapi ketika Soeharto dekat Habibie dan ICMI, Gus Dur mulai menjadi tokoh oposisi. Dia sangat tidak mau masuk ICMI, dan rela membentuk Fordem (Forum Demokrasi). Alasan dia ketika itu, ICMI cenderung sektarian. Tapi fakta sejarah tetap tercatat, bahwa Gus Dur pernah mendapat gaji karena menjadi anggota MPR dari Golkar.

[=] Gus Dur disebut-sebut sebagai tokoh demokrasi. Benarkah? Tahun 1999 Gus Dur mau saja menjadi Presiden RI, padahal ketika itu PKB bukanlah pengumpul suara terbanyak. Suara terbanyak ada di tangan PDIP, lalu Golkar. Kalau dia demokrat sejati pasti malu menjadi presiden. Ketika menjadi Presiden, Gus Dur pernah menghina lembaga DPR, dengan kata-kata, “Seperti anak TK.” Bahkan dia pernah mengatakan “Prek!” yang bernada menghina forum DPR. Lalu dia pernah hendak memberlakukan Dekrit Presiden, dibantu Prof. Harun Al Rasyid. Bahkan Gus Dur membiarkan saja para pengikutnya di Pasuruan dan lain tempat melakukan intimidasi-intimidasi, untuk menghalangi gerakan politik yang menuntut dirinya mundur. Saya masih ingat ancaman yang pernah diucapkan “PROFESOR DOKTOR KYAI HAJI” Sa’id Agil Siraj, ketika dia membela Gus Dur. Kata dia waktu, “Warga Nahdhiyin di bawah, sudah pada mengasah golok.” Itu untuk mengintimidasi siapapun yang hendak menjatuhkan Gus Dur. Bahkan meskipun Gus Dur sudah tidak menjadi Presiden lagi, dia tetap menyalahkan mekanisme Sidang Istimewa (SI) yang buahnya menjatuhkan dia dari kursi kepemimpinan RI. Itu tandanya, bahwa dia tidak legowo dengan aturan Parlemen.

[=] Pasca kerusuhan Ambon, tahun 1999, Gus Dur membuat pernyataan sangat melukai Ummat Islam. Kata dia, korban kerusuhan itu paling hanya 5 orang saja. Masya Allah, kalau hanya 5 orang, tidak perlu menjadi TRAGEDI yang sampai saat ini lukanya masih berbekas di hati-hati masyarakat disana. Ini menjadi bukti, bahwa seorang Gus Dur adalah tokoh “humanis” yang “bijaksana”.

[=] Ketika berlangsung Mukmatar NU di Tasikmalaya (di pesantren KH. Ilyas Ruchiyat), dalam pencalonan kandidat Ketua PBNU, Gus Dur ditantang oleh Abu Hasan. Abu Hasan ini tadinya tokoh yang loyal dan dipuji oleh Gus Dur. Tetapi ketika dia menjadi penantang Gus Dur menuju kursi Ketua PBNU, Gus Dur menghembuskan fitnah yang tidak pantas. Katanya, Abu Hasan terlibat korupsi sekian sekian miliar. Ini lagi-lagi menjadi bukti bahwa Gus Dur adalah seorang “demokrat” sejati.

[=] Pasca kerusuhan Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI. Setelah Soeharto lengser, tiba-tiba media massa mengangkat Amien Rais, Megawati, Gus Dur, dan Sultan Hamengku Boewono sebagai “4 sekawan tokoh Reformasi”. Kalau Amien Rais bisa dimaklumi didaulat sebagai tokoh Reformasi, sebab sejak tahun 90-an dia sudah kritis kepada Soeharto. Tetapi mengangkat Gus Dur sebagai tokoh Reformasi adalah sangat aneh. Bagaimana tidak? Sebelum terjadi kerusuhan Mei, Gus Dur diundang Soeharto bersama 8 tokoh lain, untuk membicarakan konsep Reformasi. Setelah pertemuan itu, Gus Dur menyerukan kepada mahasiswa agar mereka menghentikan demonstrasi-demonstrasinya. Tapi himbauan Gus Dur tak diindahkan mahasiswa.

[=] Banyak tokoh-tokoh yang semula sangat loyal dan mendukung penuh Gus Dur, tapi lama-lama mental, dan memilih berseberangan dengan Gus Dur. Di antara mereka Abu Hasan, Matori Abdul Jalil, Alwi Shihab, Khofifah Indar Parawansa, Muhaimin Iskandar, Lukman Edi, dan lainnya. Kalau kita berseberangan dengan Gus Dur, mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau kader-kader terbaik Gus Dur sendiri berseberangan, dan itu bukan satu atau dua orang, jelas sangat aneh. Apalagi Muhaimin Iskandar yang disebut-sebut sebagai “anak ideologis” Gus Dur. Hal ini menjadi bukti bahwa Gus Dur layak disebut “bapak bangsa” karena selalu “mengayomi” kader-kadernya.

[=] Dan fakta-fakta lain.

Dari semua ini jelas tampak, bahwa besarnya Gus Dur itu karena “DIBESARKAN” oleh media-media massa. Samalah, seperti media massa membesarkan orang-orang seperti Tukul Arwana, Komeng, Aming, Demi Persik, Inul, dan sebagainya. Mereka bukanlah orang-orang yang memiliki moralitas baik, menurut Syariat Islam. Tetapi media-media massa memaksakan diri mereka menjadi “PANUTAN MASYARAKAT”.

Kalau melihat MetroTV, media ini tampak sangat komit dengan nilai-nilai pembelajaran sikap kritis masyarakat. Slogannya saja, Be Smart Be Informed! Tapi ketika bicara tentang Gus Dur, mereka terus mengulang-ulang klaimnya, bahwa Gus Dur itu bapak bangsa, tokoh demokrasi, tokoh pluralisme, tokoh humanisme, dan sebagainya.

Ya, sebagai mantan Presiden RI, secara sosial mungkin Gus Dur memiliki hak-hak untuk diperlakukan oleh negara secara terhormat. Sama ketika bangsa ini waktu itu memperlakukan Soeharto.

Tapi masalahnya, pemberitaan-pemberitaan media itu sudah mengarah ke “kultus individu”, mengagung-agungkan Gus Dur melebihi kepantasan. Mereka kemukakan segala opini indah seputar Gus Dur, tetapi mereka lupa dengan fakta-fakta lain yang seharusnya tidak disembunyikan. Ketika Soeharto meninggal, banyak media-media tetap mengkritisi Soeharto. Mereka buka juga data-data kekeliruan Soeharto. Ketika Gus Dur meninggal, semua seakan sepakat untuk mengangkat Gus Dur tinggi-tinggi, ke derajat kultus individu.

Disana sangat tampak betapa OPORTUNIS-nya media-media itu. Mereka tidak mau melihat masyarakat kecil di bawah mengagung-agungkan manusia dengan cara tidak rasional. Tetapi mereka juga yang membuat masyarakat bersikap seperti itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sesungguhnya, FAKTOR BESAR yang membuat bangsa Indonesia di jaman sekarang ini semakin sakit, hidup susah, menderita, adalah peranan media-media massa, terutama media TV. Hari ini kita teriak-teriak, “Awas liberalisasi, awas liberalisasi, awas liberalisasi!!!” Padahal ujung tombak liberalisasi adalah media-media itu sendiri.

Kita sama-sama sudah tahu kenyataan di lapangan. Selama puluhan tahun, sejak tahun 80-an, media-media massa rajin mengangkat pamor Gus Dur. Dari semua pemimpin NU yang menjadi tokoh nasional, hanya Gus Dur satu-satunya yang amat sangat DICINTAI media-media massa. Bahkan nama kakek Gus Dur sendiri, pendiri NU, almarhum KH. Hasyim Asyari, beliau tidak seterkenal Gus Dur.

Kalau melihat kemampuan Gus Dur dari sisi ilmu keagamaan, menurut pandangan NU, dia bukan tokoh yang alim ilmu agama. Gus Dur itu tidak pernah menulis buku agama, seperti ibadah, akidah, akhlak, bahasa Arab, tarikh Islam, dan lain-lain. Kalau Gus Dur ceramah, jangan membahas dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Dia jarang mengucapkan “Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, atau “Rasulullah shallallah ‘alaihi wassallam”, dan semisalnya. Dia jarang ikut dalam forum-forum keilmuwan Islam.

Gus Dur itu lebih banyak bicara politik, isu sosial, demokrasi, humor, kebudayaan, dan sebagainya. Citra dia sebagai seorang tokoh keagamaan Islam, tidak nampak. Bahkan isteri dan anak-anaknya juga tidak ada yang mengenakan jilbab, selain kerudung penutup kepala.

Banyak orang mengelu-elukan dirinya dengan berbagai pujian yang berlebihan. Seorang pemuda NU di Malang, pernah bicara kepada saya. Katanya, Gus Dur itu bisa membaca isi hati seseorang. Kalau Gus Dur mengatakan “anjing” ke seseorang, besar kemungkinan sifat orang itu seperti “anjing” juga.

Ya, semua ini hanya sebagai tambahan saja, bahwa upaya mengagung-agungkan Gus Dur adalah tidak tepat. Okelah, menghormati dia sebagai mantan Presiden RI, secara wajar, tidak masalah. Wong, itu memang hak baginya. Tapi menganggap dia dengan sebutan-sebutan berlebihan, apalagi sebagai “pahlawan nasional”, ini terlalu berlebihan. Pahlawan apa, Pak? Darimana parameternya?

Kasihan sekali almarhum Buya Muhammad Natsir. Beliau jelas-jelas sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, berjasa bagi Ummat Islam Indonesia, bahkan berjasa bagi Dunia Islam. Tapi lihatlah, betapa amat lambatnya negara ini mengakui kepahlawanan beliau. Lalu Gus Dur, akankah secepat kilat menjadi “pahlawan nasional”, ketika tanah pusaranya sendiri masih memerah? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

AMW.