Titik Temu Wahabi-NU

Februari 19, 2015

Ini adalah buah pikiran sangat bagus dari Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub tentang realitas dakwah di Nusantara. Beliau adalah Imam Besar Masjid ISTIQLAL Jakarta; salah satu pakar hadits di negara kita; juga anggota Dewan Komisi Fatwa MUI. Suara beliau dan lengkingan kepeduliannya, sangat layak diapresiasi.

Berikut tulisan beliau dari Opini REPUBLIKA, 13 Februari 2015. Sekaligus kami rekam pandangan beliau di blog ini.

“TITIK TEMU WAHABI-NU”

 (Friday, 13 February 2015, 14:00 WIB).

Banyak orang terkejut ketika seorang ulama Wahabi mengusulkan agar kitab-kitab Imam Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, diajarkan di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah Islam di Indonesia. Hal itu karena selama ini dikesankan bahwa paham Wahabi yang dianut oleh pemerintah dan mayoritas warga Arab Saudi itu berseberangan dengan ajaran Nahdlatul Ulama yang merupakan mayoritas umat Islam Indonesia.

"Damailah NU dan Wahabi"

“Damailah NU dan Wahabi”

Tampaknya selama ini ada kesalahan informasi tentang Wahabi dan NU. Banyak orang Wahabi yang mendengar informasi tentang NU dari sumber-sumber lain yang bukan karya tulis ulama NU, khususnya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, banyak orang NU yang memperoleh informasi tentang Wahabi tidak dari sumber-sumber asli karya tulis ulama-ulama yang menjadi rujukan paham Wahabi.

Akibatnya, sejumlah orang Wahabi hanya melihat sisi negatif NU dan banyak orang NU yang melihat sisi negatif Wahabi. Penilaian seperti ini tentulah tidak objektif, apalagi ada faktor eksternal, seperti yang tertulis dalam Protokol Zionisme No 7 bahwa kaum Zionis akan berupaya untuk menciptakan konflik dan kekacauan di seluruh dunia dengan mengobarkan permusuhan dan pertentangan.

Untuk menilai paham Wahabi, kita haruslah membaca kitab-kitab yang menjadi rujukan paham Wahabi, seperti kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan termasuk kitab-kitab karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang kepadanya paham Wahabi itu dinisbatkan. Sementara untuk mengetahui paham keagamaan Nahdlatul Ulama, kita harus membaca, khususnya kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kami telah mencoba menelaah kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan membandingkannya dengan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah dan lain-lain. Kemudian, kami berkesimpulan bahwa lebih dari 20 poin persamaan ajaran antara Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan imam Ibnu Taymiyyah. Bahkan, seorang kawan yang bukan warga NU, alumnus Universitas Islam Madinah, mengatakan kepada kami, lebih kurang 90 persen ajaran Nahdlatul Ulama itu sama dengan ajaran Wahabi.

Kesamaan ajaran Wahabi dan NU itu justru dalam hal-hal yang selama ini dikesankan sebagai sesuatu yang bertolak belakang antara Wahabi dan NU. Orang yang tidak mengetahui ajaran Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, maka ia tentu akan terkejut. Namun, bagi orang yang mengetahui Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, mereka justru akan mengatakan, “Itulah persamaan antara Wahabi dan NU, mengapa kedua kelompok ini selalu dibenturkan?”

Di antara titik-titik temu antara ajaran Wahabi dan NU yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu adalah sebagai berikut. Pertama, sumber syariat Islam, baik menurut Wahabi maupun NU, adalah Alquran, hadis, ijma, dan qiyas. Hadis yang dipakai oleh keduanya adalah hadis yang sahih kendati hadis itu hadis ahad, bukan mutawatir. Karenanya, baik Wahabi maupun NU, memercayai adanya siksa kubur, syafaat Nabi dan orang saleh pada hari kiamat nanti, dan lain sebagainya karena hal itu terdapat dalam hadis-hadis sahih.

Kedua, sebagai konsekuensi menjadikan ijma sebagai sumber syariat Islam, baik Wahabi maupun NU, shalat Jumat dengan dua kali azan dan shalat Tarawih 20 rakaat. Selama tinggal di Arab Saudi (1976-1985), kami tidak menemukan shalat Jumat di masjid-masjid Saudi kecuali azannya dua kali, dan kami tidak menemukan shalat Tarawih di Saudi di luar 20 rakaat. Ketika kami coba memancing pendapat ulama Saudi tentang pendapat yang mengatakan bahwa Tarawih 20 rakaat itu sama dengan shalat Zhuhur lima rakaat, ia justru menyerang balik kami, katanya, “Bagaimana mungkin shalat Tarawih 20 rakaat itu tidak benar, sementara dalam hadis yang sahih para sahabat shalat Tarawih 20 rakaat dan tidak ada satu pun yang membantah hal itu.” Inilah ijma para sahabat.

Ketiga, dalam beragama, baik Wahabi maupun NU, menganut satu mazhab dari mazhab fikih yang empat. Wahabi bermazhab Hanbali dan NU bermazhab salah satu dari mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Baik Wahabi (Imam Ibnu Taymiyyah) maupun NU (Imam Muhammad Hasyim Asy’ari), sama-sama berpendapat bahwa bertawasul (berdoa dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh) itu dibenarkan dan bukan syirik.

Kendati demikian, Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, mensyaratkan bahwa dalam berdoa dengan tawasul menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh, kita tetap harus yakin bahwa yang mengabulkan doa kita adalah Allah SWT, bukan orang yang namanya kita sebut dalam tawasul itu. Wahabi dan NU sama-sama memercayai adanya karamah para wali (karamat al-awliya) tanpa mengultuskan mereka.

Memang ada perbedaan antara Wahabi dan NU atau antara Imam Ibnu Taymiyyah dan Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Namun, perbedaan itu sifatnya tidak prinsip dan hal itu sudah terjadi sebelum lahirnya Wahabi dan NU.

Dalam praktiknya, baik Wahabi maupun NU, tidak pernah mempermasalahkan keduanya. Banyak anak NU yang belajar di Saudi yang notabenenya adalah Wahabi. Bahkan, banyak jamaah haji warga NU yang shalat di belakang imam yang Wahabi, dan ternyata hal itu tidak menjadi masalah. Wahabi dan NU adalah dua keluarga besar dari umat Islam di dunia yang harus saling mendukung. Karenanya, membenturkan antara keduanya sama saja kita menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme, seperti tertulis dalam Protokol Zionisme di atas. Wallahu al-muwaffiq. n

Ali Mustafa Yaqub
Imam Besar Masjid Istiqlal

*) Semoga pandangan brilian Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub ini bisa menjadi siraman sejuk untuk mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara. Di sana memang banyak yang menginginkan kaum Muslimin tercerai-berai; tapi kita paham siapa mereka, dan apa tujuan missinya. Nas’alullah al ‘afiyah.

[14]. Karakter Ahlus Sunnah

Februari 20, 2013

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi wa sallam, amma ba’du.

Untuk menjadi seorang Ahlus Sunnah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan proses, perjuangan, dan keteguhan hati untuk menetapi jalan ini. Prinsipnya sederhana, tetapi praktiknya tidak sederhana. Mula-mula kita harus mencari ilmu Syariat dan mengamalkan ilmu tersebut; kemudian dalam pengamalan agama ini, kita harus menghindari jalan-jalan sesat-menyesatkan. Hanya itu saja; tetapi lika-liku dalam pengamalan ini, butuh kesabaran dan keteguhan.

Dalam Al Qur’an ada sebuah ayat yang menjadi kaidah dasar dan sekaligus memudahkan langkah kita, alhamdulillah. Dengan memahami ayat ini secara benar, kita bisa ketemu jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah; insya Allah. Ayatnya sebagai berikut:

Keindahan Islam akan Tampak dari Totalitas dan Kelengkapan Syariatnya.

Keindahan Islam akan Tampak dari Totalitas dan Kelengkapan Syariatnya.

Ya aiyuhal ladzina amanuu, udkhulu fis silmi kaaffah, wa laa tattabi’u khuthuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaaffah, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian). [Al Baqarah: 208].

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, agar mereka mengambil seluruh sisi ajaran Islam dan Syariat-syariat-Nya, mengamalkan seluruh perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangan-Nya, sekuat kesanggupan mereka dalam hal itu.” Pengertian ini merangkum tafsir para Salaf terhadap ayat ini.

Intinya, dalam menjalankan Islam itu harus secara menyeluruh, totalitas, tidak parsial. Selengkap Syariat Islam diturunkan kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, maka selengkap itu pula yang harus kita laksanakan. Hal ini sangat terkait dengan keridhaan Allah atas agama-Nya.

Al yauma akmaltu lakum dinakum, wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radhitu lakum Islama dinan” (di hari ini telah Aku lengkapkan bagi kalian agama kalian, telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian). [Al Maa’idah: 3].

Kelengkapan agama, bukan hanya menunjukkan keunggulan Islam atas agama-agama lain; tetapi sekaligus ia menjadi kunci untuk menutup pintu-pintu kesesatan. Perhatikan lagi sambungan dari Surat Al Baqarah ayat 208 di atas: “Wa laa tattabi’u khuthuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian). Kalau kita tidak lengkap dalam mengikuti ajaran Islam, terbuka peluang kita masuk dalam ajaran-ajaran sesat. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dan faktanya, aliran-aliran sesat yang ada, rata-rata mereka tidak mampu memikul amanat Syariat Islam secara lengkap (totalitas). Komitmen Syariat mereka selalu terpecah-belah. Khawarij mengklaim komitmen dengan hukum Islam, tetapi mereka mencabik-cabik persatuan Islam. Mu’tazilah mengaku pro amar makruf nahi munkar, tetapi mereka mendahulukan akal daripada Wahyu. Syiah Rafidhah mengaku mencintai Ahlul Bait, tetapi mereka melecehkan isteri-isteri Nabi dan menolak mayoritas para Shahabat Nabi. Jabbariyah dan Qadariyah cacat dalam pemahaman mereka atas takdir. Murji’ah mementingkan iman di hati, mengabaikan pengamalan Syariat secara zhahir. Sementara Jahmiyah menafikan Sifat-sifat Allah dan perbuatan-Nya.

Harus diingat baik-baik, komitmen Syariat Islam haruslah bersifat totalitas (menyeluruh). Kalau tidak menyeluruh, hal itu akan menghancur-leburkan agama. Dalam Al Qur’an disebutkan:

Afatu’minuna bi ba’dhil kitabi wa takfuruna bi ba’dhin? Fa maa jaza’u man yaf’alu dzalika minkum, illa khiz-yun fil hayatid dunya, wa yaumal qiyamati yuradduna ila asyaddil ‘adzab” (apakah kalian beriman kepada sebagian isi Al Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain? Maka tidaklah balasan bagi yang berbuat seperti itu di antara kalian, melainkan berupa kehinaan dalam kehidupan dunia; dan kelak di Hari Kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam adzab yang sangat berat). [Al Baqarah: 85].

Dalam ayat lain: “Dan janganlah kalian menjadi bagian orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi golongan-golongan; (lalu) masing-masing golongan berbangga dengan apa yang ada di sisi mereka.” [Ar Ruum: 31-32].

Dalil lain yang lebih mengokohkan lagi, ialah: “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa li ya’budun” (tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka mengibadahi-Ku). [Adz Dzariyaat: 56].

Ayat ini berkaitan dengan jati diri manusia untuk hidup dengan mengibadahi Allah Ta’ala. Dan ibadah itu bersifat menyeluruh, dalam segala sisi hidup manusia. Dimanapun ada dinamika hidup manusia, disana tuntunan Syariat Islam eksis untuk memberikan arahan dan bimbingan.

Maka masuk Islam secara total, berarti menerima keseluruhan Syariat Islam, serta tidak memecah-belah kesatuan Syariat itu sendiri. Mungkin saja dalam pengamalan, kita belum mampu melaksanakan Syariat secara penuh; tetapi selagi kita meyakini kebenaran Syariat secara penuh (totalitas), maka hal ini akan menjaga kita tetap berada di atas Sirath Al Mustaqim. Inilah jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Makanya kalau Anda perhatikan sejarah, yang mampu melaksanakan Syariat Islam secara penuh dalam tatanan negara Islami, hanyalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Daulah Islam Madinah di era Nabi, Daulah Islam di era Khulafaur Rasyidin, Daulah di era Umawiyah, Daulah Abbasiyah, Daulah Umawiyah Barat (Andalusia), Daulah Saljuk, Daulah Ayyubiyah, Daulah Mamalik, Daulah Turki Utsmani, dan lainnya; semua itu berdiri di atas Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kalau Anda ditanya: Lalu konsep Ahlus Sunnah Wal Jamaah itu bagaimana?

Maka jawablah begini: “Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah komitmen untuk melaksanakan Syariat Islam secara kaaffah (totalitas), seperti yang dilaksanakan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan para Khulafaur Rasyidin Radhiyallahu ‘Anhum.

Ahlus Sunnah bukan Khawarij yang bermudah-mudah mengkafirkan sesama Muslim; bukan pula Syiah Rafidhah yang menolak kemuliaan isteri-isteri Nabi dan mayoritas para Shahabat; bukan Murji’ah yang mengabaikan pengamalan Syariat dalam kehidupan nyata; bukan Mu’tazilah yang mengagungkan akal melebihi Wahyu; bukan Jabbariyah dan Qadariyah yang menyimpang dalam memahami Takdir; bukan Jahmiyah yang menafikan Sifat-sifat Allah; bukan Liberal (SEPILIS) yang menghujat kaidah-kaidah agama yang fundamental; bukan Ahmadiyah yang memposisikan Mirza Ghulam sebagai teladan dan panutan agama; bukan Sufisme yang mengutamakan spiritualitas dengan menafikan Syariat; bukan politikisme yang menjadikan kekuasaan sebagai agama dan tujuan hidup; bukan verbalisme yang menjadikan ajaran agama sebagai komoditas ceramah, untuk mencari uang; bukan primordialis-nasionalisme yang meletakkan kesukuan/kebangsaan melebihi agama; dan bukan aliran-aliran sesat lainnya.

Sebagai penutup, kami petikkan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari kitab Minhajus Sunnah Nabawiyah.

Beliau berkata: “Wa Ahlus Sunnah yattabi’unal haqqa min rabbihim alladzi ja’a bihir Rasulu, wa laa yakfuruna man khalafahum fihi, bal hum a’lamu bil haqqi wa arhamu bil khalqi, kamaa washafallahu bihil Muslimina bi qaulihi, kuntum khairu ummatin akhrajat lin naas.

[Dan Ahlus Sunnah mengikuti kebenaran dari Rabb mereka, dimana Rasul datang membawa kebenaran itu, mereka tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka dalam kebenaran; akan tetapi mereka itu paling tahu tentang kebenaran dan paling pengasih kepada makhluk, sebagaimana yang Allah sifati kaum Muslimin dengan firman-Nya: kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan dari golongan manusia (Surat Ali Imran)].

Ahlus Sunnah itu pasti komitmen dengan Syariat Islam; Syariat disini sifatnya kaaffah (totalitas), sebagai satu kesatuan, bukan tercerai-berai; dan perilaku Ahlus Sunnah itu ‘alim dalam kebenaran, dan pengasih kepada makhluk Allah (manusia dan lainnya). Wallahu a’lam bisshawaab.

Rabbighfirli wa li walidaiya warhamhuma ka maa rabbayani shaghira. Amin.

(Abine Syakir).


Rumitnya Perselisihan Seputar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Juli 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan memuji kebesaran Allah Rabbul Jalil, memohon petunjuk, pengertian, hikmah, serta rahmat-Nya; kami memuji dan membesarkan-Nya, serta mengharapkan ‘inayah dan maghfirah-Nya; shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada As Sayyidul Anbiya’i Wal Mursalin, Muhammad ibnu Abdillah, beserta keluarga dan para shahabatnya.

Di antara masalah-masalah Islam yang kami kenal dan ketahui, maka ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan, awal Syawal, dan awal Dzul Hijjah (bulan Haji) adalah ikhtilaf yang paling rumit. Biasanya, ikhtilaf itu terjadi atas suatu persoalan, lalu di dalamnya ada beberapa corak pendapat, ada yang begini dan begitu; tetapi dalam ikhtilaf seputar penentuan awal Ramadhan dan Syawal (terutama), unsur-unsur yang terlibat di dalamnya muncul dari berbagai sisi (nanti akan dijelaskan).

Ada sebagian orang berkata: “Kita ini sangat mengherankan. Kita sama-sama berpegang kepada metode rukyat. Mataharinya ya itu, bulannya ya itu. Tetapi kita selalu berselisih paham. Bukanlah kita diperintahkan untuk bersatu padu. Nabi mengatakan, hendaklah kalian berjamaah, karena jamaah itu rahmat, dan janganlah kalian berpecah belah karena perpecahan itu adzab. Bagaimana kita kok bisa selalu berselisih begini?”

Jika ada orang yang berkata demikian, pertanda dia baru mencium ilmu agama. Atau dia sedang berlagak mencari perhatian, dengan mengesankan dirinya sebagai orang yang “paling berakhlak” dibandingkan lainnya. Wahai saudaraku, dalam masalah posisi telunjuk kita saat Tasyahud dalam shalat saja, disana ada beberapa model perbedaan; apalagi dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang elemen-elemen pembeda yang bisa membuat perbedaan itu, banyak jumlahnya.

Dalil paling dasar yang digunakan oleh kaum Muslimin untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, adalah hadits Nabi Saw sebagai berikut:

Shumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatihi, fa in gham-ma ‘alaikum fa akmilul ‘iddata tsalatsina

[mulailah kalian berpuasa dengan melihatnya (bulan sabit), dan berbukalah mengakhiri puasa dengan melihatnya; jika hilal itu terhalang atas kalian, maka genapkanlah bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari].

(HR. Nasa’i, At Tirmidzi, Ahmad, Al Hakim, Ad Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, dari Ibnu Abbas Ra. Sedangkan hadits senada bersumber dari riwayat Abu Hurairah, disebutkan oleh Imam Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, At Thabarani, Ibnu Hibban, At Thayalisi, At Thahawi, Al Baghawi. Keterangan ini merujuk tulisan Ustadz Abduh Zulfidar Akaha berjudul: Perintah Mengawali dan Mengakhiri Ramadhan Karena Melihat Bulan di Multiply).

Dasarnya sama, yaitu hadits di atas, tetapi penafsirannya bisa berbeda-beda. Mari kita lihat pada pandangan lapangan dari para ahli di ormas-ormas Islam…

[1]. Dari ahli falakiyah Nahdhatul Ulama. Dalam setiap Sidang Itsbat, mereka selalu bersuara keras dalam menetapi metode Rukyatul Hilal dengan kaidah Imkanur Rukyah (posibilitas melihat hilal). Kalau hilal belum memungkinkan dilihat, berarti tidak ada hilal, meskipun secara hisab hilal sudah dianggap ada. Mereka beralasan dengan kalimat dalam hadits di atas, “Fa in ghamma ‘alaikum” (jika hilal itu terhalang atas kalian oleh awan). Jadi, meskipun hilal itu sudah ada, sudah bisa dilihat, tetapi jika terhalang mata kita untuk melihatnya karena berbagai faktor (misalnya tertutup awan), ya bilangan bulan digenapkan jadi 30 hari. Artinya -menurut kalangan NU- adanya hilal itu bukan penentu, melainkan posibilitas dilihatnya hilal-lah yang jadi patokan.

[2]. Dari kalangan Muhammadiyah paling sering (dan konsisten) dengan metode hisab. Tetapi metode ini sendiri tetap mengacu kepada penampakan hilal, sebagaimana acuan umum kalender Hijriyah. Artinya, mereka tetap berpendapat berdasarkan ada tidaknya hilal. Hal itu dianggap tetap selaras dengan hadits Nabi Saw di atas. Dalam hal ini, mereka memulai dan mengakhiri Ramadhan tetap mengacu pada hilal. Hanya saja, bentuknya berupa wujudul hilal (atau eksistensi hilal). Jika hilal sudah eksis, meskipun hanya 0,5 derajat di atas ufuk, ya hal itu sudah dianggap masuk bulan baru (padahal menurut para ahli astronomi nasional dan internasional, hilal pada posisi 4 atau 5 derajat di atas ufuk pun, masih sulit dilihat). Dalam pandangan ini, di masa Nabi Saw sarana-prasarana teknologi masih sederhana, sehingga metodenya dengan Rukyatul Hilal murni. Sebagai catatan, di masa Nabi belum ada sistem kalender. Jika kemudian ada sarana teknologi yang lebih akurat (sistem perhitungan astronomi), mengapa tidak digunakan?

Toh, pada dasarnya Islam mengakui adanya metode hisab. “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Surat Yunus: 5].

[3]. Pandangan yang dianut Departemen Agama RI, yaitu menerapkan dua metode sekaligus, Hisabiyah dan Ru’yatul Hilal. Perhitungan hisab sangat dibutuhkan untuk memastikan bulan Sya’ban sudah berusia 29 hari, sehingga di masa itu ada potensi peralihan ke bulan berikutnya; nah, saat peralihan itulah momen paling tepat untuk melakukan Ru’yatul Hilal. Tanpa hasil hisab, sangat sulit menentukan kapan kita akan melakukan Ru’yatul Hilal. Sementara upaya ru’yah sendiri untuk memastikan apakah sudah masuk bulan Ramadhan/Syawal, atau bulan sebelumnya perlu digenapkan?

Dari sini saja sudah bisa dilihat kerumitan perselisihan ini. Apalagi dalam praktiknya, upaya Rukyatul Hilal melibatkan observasi terhadap elemen-elemen alam yang berbeda-beda. Kadang bulan ada di sisi kanan atau kiri matahari; kadang sudut antara bulan dan matahari berbeda-beda; kadang usia hilal berbeda-beda; kadang ketinggian hilal di atas ufuk berbeda, dan seterusnya. (Jadi sangat simplisit kalau ada yang mengatakan: “Mataharinya satu, bulannya satu, mata kita yang melihat; tetapi kenapa ya kok berbeda-beda hasil penglihatannya? Siapa yang salah? Mata kita atau benda-benda langit yang ada disana?”).

Baca entri selengkapnya »


Sifat Allah dan Ujian Keimanan

Februari 1, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Umumnya manusia tidak suka jika dirinya diuji; dalam bentuk apapun. Contoh paling mudah ialah ujian yang dihadapi para pelajar. Mayoritas pelajar kurang suka menghadapi ujian, bahkan banyak yang merasa tegang (nervous). Begitu pula, ujian-ujian dalam kehidupan umum, cenderung kurang disukai; apakah ia berupa kemiskinan, kegagalan, patah hati, sakit yang menimpa, gagal panen, PHK, kecelakaan, dll.

Tetapi, sudah menjadi sunnatullah, bahwa Allah Ta’ala akan menguji manusia dengan ujian-ujian. Dalam Al Qur’an disebutkan: “Kullu nafsin dza-iqatul maut, wa nablukum bis syar-ri wal-khairi fitnah, wa ilaina turja’un” (setiap yang hidup akan merasakan mati, dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan). [Al Anbiyaa’: 35].

Kehidupan Tak Lepas dari Gelombang Ujian

Ujian ini bukan untuk mempersulit manusia, mempersempit dada dan kehidupannya, atau membuatnya frustasi; tetapi justru untuk memperkuat dirinya, memperbaiki sifat-sifatnya, meninggikan rasa syukurnya atas nikmat Allah, serta mengangkat derajatnya dalam kehidupan. Tidak berlebihan jika dalam riwayat disebutkan, manusia yang paling berat diuji adalah para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam, kemudian para ulama, para shalihin, dan seterusnya. Hal ini menandakan, bahwa semakin berat beban ujian semakin tinggi pula derajat manusia dalam pandangan Allah Ta’ala.

TELADAN NABI IBRAHIM

Lihatlah sosok Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Beliau diuji dengan perintah (melalui mimpi) untuk menyembelih putranya sendiri. Padahal beliau sangat mencintai putranya, bahkan beliau pernah merasakan tekanan jiwa yang sangat pelik ketika harus meninggal putranya dalam keadaan masih bayi bersama ibunya, di lembah lembah Bakkah (Makkah) yang disifati dengan perkataan “bi waadin ghairi dzi zar’in” (di sebuah lembah yang tidak ada tanam-tanaman padanya). [Lihat Surat Ibrahim: 37]. Namun ketika beliau berhasil melewati ujian paling pelik dalam sejarah manusia ini, beliau pun mendapat pujian sangat tinggi dari Allah Ta’ala.

Dalam Al Qur’an disebutkan: “Wa tarakna ‘alaihi fil akhirin, salamun ‘ala Ibrahim, ka dzalika naj-zil muhsinin, innahu min ‘ibadinal mu’miniin” [Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan manusia-manusia di kemudian hari, keselamatan bagi Ibrahim, demikianlah Kami memberi balasan orang-orang yang berbuat ihsan, dan sesungguhnya Ibrahim termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman]. Surat As Shaffat: 108-111. Nabi Ibrahim mendapat julukan Khalilullah (kekasih Allah) salah satunya ialah karena ketabahan-ketabahannya menghadapi ujian Allah.

Ujian meskipun tidak disukai manusia, tetapi ia memiliki maksud-maksud baik. Bahkan lewat ujian itu akan terbukti, apakah keimanan seseorang benar-benar mantap atau masih goyang? Keimanan Yusuf ‘Alaihissalam tidak goyang karena menghadapi aneka konspirasi, penjara, dan tipu-daya. Begitu juga, komitmen Sayyid Quthb rahimahullah terhadap hukum Allah tidak melemah karena penjara dan siksaan.

Atas hal-hal seperti inilah, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: “Ahasiban naas ai-yutrakuu ai-yaqulu a-manna wa hum laa yuftanuun? Wa laqad fatan-nal ladzina min qablihim falaya’lamannallahu alladzina shadaqu wa laya’lamannal kadzibin” (apakah manusia itu akan Kami biarkan begitu saja mengatakan ‘kami telah beriman’, padahal mereka belum diuji? Dan benar-benar Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapa di antara mereka yang benar –dalam keimanannya- dan agar Dia mengetahui siapa dari mereka yang berdusta). [Al Ankabuut: 2-3].

Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh phobia menghadapi ujian-ujian Allah; namun juga tidak boleh menyombongkan diri, dengan merasa kuat dan sabar, lalu menantang agar Allah mendatangkan ujian kepada kita. Diceritakan, pernah Imam Al Ghazali rahimahullah merasa telah sabar dan mampu menghadapi ujian, lalu beliau meminta diuji oleh Allah. Lalu dia mendapat ujian dengan tidak mampu buang air kecil. Dengan ujian itu, beliau menyerah dan merasa sangat hina (di hadapan Allah Ta’ala). Konon, begitu besarnya rasa penyesalan beliau sehingga meminta anak-anak kecil untuk memukuli wajahnya. Wallahu a’lam bisshawaab.

Baca entri selengkapnya »


Antara Tauhid dan Iman Kristiani

Desember 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam artikel “Allah Ta’ala Ada di Langit”, ada seorang pembaca yang mengajukan pertanyaan menarik. Pertanyaan ini perlu dibahas dalam tulisan tersendiri karena pembahasannya cukup melebar. Dan kebetulan, logika yang dipahami oleh si penanya itu sering muncul dalam tulisan orang-orang tertentu. Mereka mengklaim, bahwa konsep Tauhid yang diajarkan Ibnu Taimiyyah dan lain-lain, seperti konsep keyakinan Yahudi dan Nashrani terlaknat (begitu kira-kira yang pernah saya baca dari tulisan “abu salafy” dan manusia-manusia semisal di internet).

Isi pertanyaan pembaca tersebut adalah sebagai berikut:

Dengan mengimani Allah Ta’ala di langit secara ‘apa adanya’, bukankah seperti orang Kristen yang menafsirkan ‘Bapa Allah’ apa adanya? Dan  akhirnya mereka menganggap Yesus punya bapak, dan mereka pun berkilah bahwa ‘bapa’ tidak bisa disamakan dengan ‘bapak’. Dan akhirnya mereka juga berkata: IMANI SAJALAH! Mohon penjelasan!

Kalau penanya itu mau berterus-terang dan lebih jelas dalam menjabarkan pertanyaannya, mungkin dia akan mengungkapkan pertanyaannya seperti berikut ini:

“Orang Kristen meyakini bahwa Yesus (Isa ‘Alaihissalam) adalah tuhan yang ada di muka bumi. Semantara ada ‘Tuhan Bapak’ di syurga sana. Kalau meyakini bahwa Allah ada di langit, ya apa bedanya dong dengan keyakinan orang Kristen? Mereka bilang ‘Bapak di syurga’, lalu kita bilang ‘Allah di langit’. Sama saja kan? Jadi, keimanan orang Wahabi (kalau boleh disebut demikian) sama seperti keimanan orang Kristen. Apalagi orang Kristen selalu berdalih ‘imani saja deh, gak usah banyak mikir’. Itu sama seperti kata orang Wahabi, ‘imani saja, apa adanya.’”

Mari kita coba bahas pertanyaan ini secara runut dan teratur. Bismillah bi nashrillah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Isaac Newton: Kecewa dengan Konsep Trinitas.

PERTAMA, mula-mula kita harus meyakini bahwa konsep Akidah Islam berbeda dengan konsep keimanan Kristiani. Berbeda secara ushul (pokok) maupun perincian (tafshiliyah). Dr. Al Qaradhawi pernah mengatakan, bahwa keimanan Ummat Islam memiliki kemiripan dengan kaum Yahudi. Keduanya mengajarkan Tauhid. Hanya saja, tauhid dalam model Yahudi bersifat egoisme qaumiyyah (seakan Tuhannya kaum Yahudi itu hanya untuk mereka sendiri). Kemudian gambaran tauhid Yahudi itu sudah tercemar sedemikian rupa oleh tangan-tangan kotor manusia. Hingga diceritakan disana, suatu saat Allah dipiting (dibekuk lehernya) oleh Nabi Dawud, lalu Allah akan dilepaskan, setelah Dia mau memberkati Nabi Dawud. Intinya, Tauhid dalam Islam adalah ajaran yang berbeda dengan konsep monoteisme Yahudi. Dr. Adian Husaini pernah membahas masalah ini dalam tulisan-tulisan beliau. Kalau dengan monotesime Yahudi saja berbeda, apalagi dengan konsep keimanan kaum Nashrani.

KEDUA, pada awalnya ajaran Tauhid Nashrani sama seperti ajaran Tauhid yang kita yakini. Inilah ajaran Tauhid seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Rasul-rasul sebelumnya. Namun kemudian ketika agama Nashrani diadopsi sebagai agama resmi Kekaisaran Byzantium (Romawi) terjadi benturan ideologi yang sangat keras. Mereka mau masuk agama Nashrani asalkan ada perubahan hal-hal fundamental dalam ajaran itu. Disini lalu dilakukan kompromi. Nashrani menjadi agama resmi Byzantium, tetapi agama itu harus mengadopsi ajaran-ajaran pagan (kemusyrikan) yang semula menjadi ajaran kaum Byzantium. Maka mulailah dimasukkan unsur-unsur pagan dalam agama Nashrani yang semula hanif (lurus). Unsur pagan itu antara lain: akidah Trinitas (Tuhan Bapak, Anak, dan Roh Kudus), menganggap Maria memiliki sifat ketuhanan, pemakaian simbol Salib, hari ibadah pada hari Ahad (Sunday = hari matahari), perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember, pembuatan gambar, patung-patung, dll.

Katanya, awal invasi nilai-nilai paganisme ini dimulai sejak Konsili Nicea. Lalu para pengikut Nashrani yang masih setia dengan ajaran Tauhid yang lurus, mereka melarikan diri. Di antara mereka adalah para pemuda Ashabul Kahfi yang kita baca dalam Surat Al Kahfi itu. Para pengikut Tauhid terus berusaha menyelamatkan Injil versi asli yang mengajarkan nilai-nilai Tauhid secara lurus, misalnya Injil Barnabas. Ada yang berkata, ditemukannya “Gulungan Kumran” (Scroll of Qumran) di Laut Mati juga mengarah kepada bukti-bukti ajaran Nabi Isa ‘Alaihissalam yang masih lurus itu. Intinya, konsep keimanan Kristiani selama ini bukanlah konsep akidah Isa ‘Alaihissalam yang semestinya. Kebanyakan merupakan hasil invasi dari ajaran-ajaran paganisme Byzantium.

KETIGA, perbedaan antara akidah Tauhid Islami (Millah Ibrahim) dengan akidah Kristiani yang paling mendasar ialah dalam masalah Trinitas. Dalam Islam, Allah adalah Maha Satu, tidak mempunyai anak dan tidak menjadi anak bagi yang lain, dan tidak ada yang setara dengan Allah satu pun jua. (Baca Surat Al Ikhlas). Sedangkan dalam iman Kristiani, mereka meyakini bahwa Tuhan itu ada 3: “Tuhan Bapak, Yesus Anak Tuhan, dan Roh Kudus.” Malah ada 4, ditambahkan dengan Bunda Maria.

Dalam praktiknya, yang diperlakukan sebagai “tuhan” oleh kaum Kristiani banyak. Selain yang sudah disebut itu, ada juga: Salib, Sri Paus, pendeta (pastor), Santo-santo, dll. Mereka semua itu dibuatkan patung atau monumennya, lalu diharapkan berkah dan pertolongannya. Dalam agama Katholik, seorang pendeta selain bisa memberikan pemberkatan, ia juga bisa mengampuni dosa (ingat bilik-bilik ampunan dosa di gereja-gereja Katholik). Jadi, kalau dipikir-pikir, ajaran Nashrani hari ini terlalu banyak dipengaruhi oleh spirit paganisme. Background-nya ajaran Isa Al Masih, tetapi realitasnya banyak paganisme.

Dalam Surat Al Maa’idah dijelaskan, bahwa Allah tidak suka dengan ajaran Trinitas itu. Bahkan menyebut siapapun yang meyakini Trinitas, dia telah kafir. “Laqad kafara alladzina qaluu innallaha tsali-tsun tsala-tsah, wa maa min ilahin illa ilahu wahid” (sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah “satu di antara Tuhan yang tiga”, dan tidak ada satu pun ilah selain Ilah yang Satu –yaitu Allah-). [Al Maa’idah: 73].

Baca entri selengkapnya »


REFLEKSI: Mengapa Bangsa Indonesia Susah Maju?

November 12, 2011

Negeri yang Indah, Namun Minus Kesyukuran. Sayang…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Disini akan disampaikan sebuah risalah PENTING tentang bangsa Indonesia. Risalah ini bersifat  singkat dan padat. Kalau mau dikembangkan atau dianalisis panjang-lebar, silakan dilakukan sendiri.

Jika yang ditulis ini benar di sisi Allah Ta’ala dan bermanfaat bagi Ummat; aku dedikasikan tulisan ini untuk kedua orangtuaku, dan Bapak/Ibu guruku yang telah ikhlas mengajarkan ilmu & kebaikan, sejak aku kelas I SD sampai masa perkuliahan. Semoga amal-amal mereka diterima di sisi Allah, diampuni kesalahan-kesalahannya, dilapangkan kuburnya (bagi yang sudah meninggal), serta diselamatkan akhiratnya. Amin Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »


Anak Yatim dan Hak Menerima Zakat

Juli 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah makalah ilmiah yang saya susun terkait hak anak yatim kaum Muslimin untuk menerima Zakat. Makalah ini disusun atas permintaan sebuah lembaga sosial Muslim di Lumajang, Jawa Timur. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya dalam memberdayakan kehidupan anak-anak yatim (piatu) kaum Muslimin. Amin.

Makalah ini sekaligus DEDIKASI DALAM MENYAMBUT BULAN RAMADHAN MUBARAK 1432 H. Semoga di bulan suci yang mulia ini kita bisa berlaku sebaik-baiknya kepada anak-anak yatim (piatu) kaum Muslimin. Allahumma amin. Mereka adalah titipan Rasulullah Saw yang ada di sisi kehidupan kita.

________________________________________________________________

Ajak Mereka Merasakan MANIS dan SEGAR-nya Kehidupan

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Alhamdulillah, di masa dewasa ini kesadaran Ummat Islam untuk membayar Zakat semakin baik. Hal itu ditunjukkan dengan bukti semakin banyaknya jumlah Muzakki yang ingin menyalurkan Zakat, Infaq, Shadaqah (ZIS). Juga semakin banyaknya pertanyaan-pertanyaan seputar Zakat, semakin tumbuh lembaga-lembaga pengumpul dana ZIS, serta semakin beragamnya bentuk-bentuk pembiayaan melalui dana ZIS. Semua ini merupakan realitas yang patut disyukuri, alhamdulillah.

Di sebagian tempat, ada lembaga sosial yang memanfaatkan dana ZIS untuk menyantuni anak-anak yatim. Dana ini disalurkan dalam bentuk beasiswa sekolah, santunan sosial, dll. yang berkaitan dengan pemberdayaan anak-anak yatim kaum Muslimin. Namun kemudian muncul pemikiran kritis, “Dana Zakat tidak bisa diberikan untuk anak yatim, karena dalam Surat At Taubah ayat 60, tentang 8 golongan yang berhak menerima Zakat; disana tidak disebutkan anak yatim sebagai penerima Zakat.”

Pertanyaanya, benarkah anak yatim tidak boleh menerima Zakat? Bagaimana pandangan Islam tentang posisi anak yatim sebagai penerima Zakat? Bolehkah memanfaatkan dana Zakat untuk menyantuni, membina, dan memberdayakan anak yatim?

Disini kita akan coba membahas masalah ini secara runut, dengan merujuk pandangan Al Qur’an, As Sunnah, dan pandangan para ulama. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk, penerangan, serta barakah dari ilmu dan harta kita. Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »