Bahaya Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW)

Juli 11, 2011

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di Tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama”. Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku ini selain memakai judul yang sangat kasar, semodel buku-buku karya orang PKI atau kaum atheis lainnya, di dalamnya juga pekat berisi fitnah, kebohongan, penyesatan opini, penyebaran akidah Syiah, upaya adu-domba antar Ummat Islam, dll. Banyak fakta-fakta bisa diungkap tentang kebohongan dan kecurangan Syaikh Idahram. Sangat ironisnya, buku itu justru diberi kata pengantar oleh Ketua PBNU, Said Agil Siraj.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Metode Golongan Selamat

November 25, 2010

artikel ini termasuk salah satu dedikasi terbaik blog “abisyakir” kepada Ummat Islam dan kehidupan, insya Allah

ARTIKEL 13 [terakhir]:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Ini adalah sebuah kajian yang sangat penting, urgen, dan fundamental. Tetapi insya Allah praktis dan mudah dipahami. Disini akan dijelaskan 5 PRINSIP jalan keselamatan Islam. Prinsip-prinsip tersebut diambil dari pemahaman atas ayat-ayat yang terdapat dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan cara-cara menjadi Muslim yang selamat. Bukan hanya selamat, tetapi kita juga dijanjikan KEMENANGAN di dunia.

Selama ini banyak ulama membahas tentang metode golongan selamat, Manhaj Firqatun Najiyyah, dengan sifat-sifat yang mereka sebutkan. Tetapi manhaj itu sendiri sebenarnya sudah ada dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Hal ini benar-benar ada dan nyata, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan. Siapapun bisa memahaminya, sebab ia bersumber dari Al Qur’an Al Karim. Tidak peduli siapapun, baik yang menyebut nama kelompok atau tidak, selama dirinya seorang Muslim, dapat mengambil pelajaran dari Surat As Shaff ayat 10-13 itu.

Jalan Menuju Keridhaan ALLAH Ta'ala

Dalam kajian ini, mula-mula kita akan memahami makna-makna dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Lalu disebutkan 5 PRINSIP metode golongan selamat, beserta penjelasannya secara sekilas. Lalu diakhiri dengan penutup.

PEMBAHASAN AYAT

Ayat dalam Surat As Shaff ayat 10-13 adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

َيغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِك الْفَوْزُ الْعَظِيم

َ وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Ya aiyuhal ladzina amanu” (wahai, orang-orang beriman). Yang dipanggil disini adalah orang-orang beriman, bukan hanya seorang Muslim. Pada awalnya ayat ini ditujukan kepada Nabi Saw dan para Shahabat Ra, merekalah yang semula disebut sebagai orang-orang beriman itu. Tetapi ayat ini juga berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, sampai akhir jaman.

Orang Mukmin memiliki kelebihan dibandingkan orang Muslim biasa. Orang Mukmin ialah orang yang komitmen dengan amal-amal shalih secara mandiri. Untuk beribadah dan beramal kebaikan, mereka tidak perlu disuruh-suruh, tidak perlu dipaksa-paksa, atau diberi ancaman, atau diberi imbalan komersial. Mereka beramal shalih secara mandiri, secara ikhlas, tidak peduli ada manusia yang mau menghargai amalnya atau tidak. Inilah orang-orang beriman. Mereka taat dan patuh kepada Allah secara aktif, tanpa perlu didorong-dorong oleh orang lain.

Dalam Al Qur’an disebutkan hakikat keimanan. “Bahwasanya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, lalu mereka berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar (perkataannya).” (Al Hujurat: 15).

Iman jika sudah masuk ke dalam hati, terasa manisnya, ia akan menggerakkan diri manusia untuk melaksanakan amal-amal shalih, dan meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, secara mandiri. Tanpa harus dipaksa-paksa, didorong-dorong, diancam, atau diiming-iming dengan keuntungan materi tertentu.

Bahkan orang beriman itu rela mengorbankan kepentingan-kepentingannya demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Mereka tidak merasa rugi dengan pengorbanan itu, sebab Allah menjanjikan pahala di Akhirat dan keberkahan hidup di dunia.

“Hal adullukum ‘ala tijaratin” (sukakah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan). Kalimat ini sangat menarik, ia bisa bermakna, “Maukah kalian Aku tunjukkan dalil-dalil tentang suatu kontrak?” Tijarah disini bukan jual-beli pada umumnya, tetapi jual-beli dalam lapangan iman dan amal shalih. Disini Allah Ta’ala menunjukkan kepada kita suatu METODE tertentu dengan dalil-dalil yang jelas. Itulah metode atau manhaj yang sangat dibutuhkan setiap Muslim. Begitu istimewanya manhaj itu, sampai disebut dengan kata perniagaan, perdagangan, jual beli, transaksi, atau kontrak. Artinya, jika kita menjual (menjalani metode itu), maka Allah Ta’ala akan membeli jualan kita (dengan memberi anugerah-anugerah besar secara pasti dan meyakinkan).

Tunjikum min ‘adzabin alim” (-suatu transaksi- yang akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih). Inilah dalilnya, mengapa ayat-ayat disebut sebagai metode golongan selamat. Disini sangat jelas, bahwa transaksi atau kontrak yang Allah tunjukkan itu akan menyelamatkan kita dari adzab yang pedih. Adzab ada dua jenis, di dunia dan di Akhirat. Jika kita menjalani metode (transaksi) tersebut, maka sudah pasti kita akan mendapat keselamatan hidup, di dunia dan Akhirat.

Tu’minuna billahi” (hendaklah kalian beriman kalian kepada Allah). Setelah Allah menunjukkan betapa pentingnya metode keselamatan ini, lalu Dia memberitahu isi dari metode yang dimaksud. Disini disebutkan, “Beriman kepada Allah.” Yang dimaksud beriman, bukanlah sekedar perkataan, “Saya percaya kepada Allah.” Tidak sekedar itu, sebab iman oleh Salafus Shalih didefinisikan sebagai: pembnaran dalam hati, ucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan perbuatan. Hakikat “beriman” dalam ayat ini: “Beribadah kepada Allah dengan keyakinan tauhid, dan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun.” Singkat kata, beriman kepada Allah adalah BERIBADAH dan BERTAUHID kepada-Nya. Beribadah saja tanpa tauhid, amal-amal kita akan tertolak; bertauhid saja tanpa ibadah, akan membuat kita menjadi kaum fasiq. Na’udzubillah minhuma.

Wa rasulihi” (-dan beriman juga- kepada Rasul-Nya). Beriman kepada Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang Nabi, Rasul, Imam, Amir, Qudwah (Uswah), pemimpin mujahidin, masdar Syar’i (sumber syariat), dan lainnya. Mengimani Rasulullah ialah dengan meyakini kebenaran Syariat-nya, membenarkan sabda-sabdanya (meyakini Al Hadits), mengamalkan Sunnah-sunnahnya sekuat kemampuan, mempelajari jalan perjuangannya (Sirah Nabawiyyah), membela kehormatan beliau, keluarga, dan Shahabatnya, membacakan shalawat untuknya, serta mencintainya.

Wa tujaahiduna fi sabilillahi” (dan kalian berjihad di jalan Allah). Setelah bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, lalu berjihad di jalan Allah. Ini adalah amal-amal yang penuh berkah, satu sama lain terangkai dalam satu susunan yang mengagumkan. Makna asli berjihad ialah berperang menghadapi musuh-musuh Islam, demi membela agama Allah. Contoh mudah amalan jihad: perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab. Sebagian ahli tafsir menjelaskan, setiap kata ‘jihad’ dilekatkan dengan kata ‘fi sabilillah’, itu artinya berperang. Hal-hal demikian mudah dipahami di suatu negeri yang menegakkan sistem Islami. Tetapi di negeri di bawah sistem sekuler (non Islam), makna jihad tidak semata-mata berperang. Mendakwahkan Islam, membina Ummat, amar makruf nahi munkar, menentang Kristenisasi, menentang pemikiran sesat, melawan penjajah, membuat media Islam, berjuang di lapangan politik Islami, dll. yang bisa dikatagorikan sebagai amalan menolong agama Allah; semua itu adalah jihad. Namun tetap saja, setinggi-tinggi jihad ialah berperang di jalan Allah. Nabi Saw mengatakan, “Man qatala li takuna kalimatullah hiyal ‘ulya, wa huwa fi sabilillah” (siapa yang berperang dalam rangka meninggikan Kalimat Allah, maka dia berada di jalan Allah).

Bi amwalikum wa anfusikum” (-berjihad- dengan harta dan diri kalian). Perjuangan di jalan Allah dimodali dengan segala kekuatan atau daya yang mampu diberikan. Modal itu berupa harta, tenaga, pikiran, ilmu, keahlian, hingga puncaknya dengan pengorbanan jiwa (nyawa). Demikianlah sifat dalam perjuangan Islam. Tidak bisa perjuangan hanya bermodal teori saja; bermodal keringat saja; bermodal propaganda saja; bermodal diplomasi saja; tetapi seluruh kekuatan yang mampu dikerahkan, harus dikerahkan demi kemenangan agama Allah.

Dzalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun” (yang demikian itu lebih baik bagi kalian, kalau kalian mengetahui). Bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, dan berjihad di jalan Allah, semua itu adalah METODE TERBAIK yang harus dijalani oleh setiap Muslim. Andaikan kita tahu ilmunya, tentulah kita tak akan melepaskan diri dari metode yang penuh berkah ini. Di dalamnya banyak kebaikan-kebaikan yang akan kita peroleh.

Baca entri selengkapnya »


Hutang Bangsa Indonesia kepada Syariat Islam

November 25, 2010

ARTIKEL 12:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang membenci jika Syariat Islam diberlakukan di Indonesia. Kalangan seperti itu misalnya politisi sekuler, tokoh-tokoh NU, kalangan TNI, Polri, tokoh-tokoh akademisi, media-media massa sekuler, aktivis LSM, misionaris gereja, kaum seniman, dll. Di mata mereka, Syariat Islam akan berdampak menghancurkan NKRI. Tetapi pada saat yang sama, setelah merdeka 65 tahun kondisi NKRI justru sangat terpuruk. Sementara faktanya, bangsa ini tidak pernah sebentar pun melaksanakan Syariat Islam.

Bangsa Ini Berhutang Besar Kepada ISLAM.

Saat diatur paham nasionalis-sekuler, keadaan NKRI ancur-ancuran seperti saat ini. Di sisi lain Syariat Islam dibenci setengah mati, padahal bangsa ini tak pernah sehari pun melaksanakan sistem Syariat Islam, sejak merdeka. Sesuatu yang belum pernah dilaksanakan dibenci mati-matian, sedangkan sesuatu yang justru sudah gagal selama 65 tahun terus dipuja-puja. Aneh sekali memang. Syariat Islam tidak boleh dituduh sedikit pun, karena memang belum pernah diterapkan di Indonesia.

Di jaman sebelum NKRI, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah melaksanakan Syariat Islam. Terbukti, hidup mereka baik-baik saja. Tidak pernah terdengar di masa itu ada isu kelaparan, kemiskinan, tragedi kemanusiaan, wabah penyakit, bencana alam mengerikan, dll. Bahkan di masa itu, kaum Muslimin beberapa kali berhasil mengusir penjajah. Hanya karena kelicikan penjajah dan keserakahan bangsawan-bangsawan pemuja syahwat, akhirnya bangsa ini terjajah kaum kolonial. Menurut catatan sejarah, Amangkurat I, putra Sultan Agung di Mataram Yogya, pernah mengumpulkan 5000-6000 ulama atau ustadz dari seluruh Jawa, lalu dia bantai orang-orang shalih itu seluruhnya. Itu pun kalau Mataram dianggap sebagai kerajaan Islam, padahal kemusyrikan di dalamnya pekat sekali.

Sejujurnya, banyak sekali jasa-jasa Syariat Islam bagi bangsa Indonesia. Banyak sekali jasa Syariat Islam bagi keutuhan NKRI. Hanya saja, semua itu tidak tampak di mata orang-orang bodoh. Mereka tahunya hanya membenci, membenci, dan membenci Syariat Islam, sambil tidak tahu malu sehari-hari merasakan pertolongan Syariat Islam. Mereka membenci sesuatu yang bermanfaat melindungi, menyelamatkan, memberi sejahtera, dan kehidupan baginya.

Jasa Syariat Islam sangat besar bagi bangsa ini. Adapun bagi tokoh-tokoh seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Ulil Abshar, Azyumardi Azra, Dawam Rahardjo, Musdah Mulia, Syafi’i Ma’arif, dan sejenisnya; demi Allah jasa-jasa mereka terhadap bangsa ini tidak ada seujung rambut pun dibandingkan jasa-jasa Syariat Islam. Bahkan Syariat Islam telah “menghidupi” orang-orang tersebut. Tanpa Islam, mereka tak ada harganya di mata manusia.

Berikut ini sebagian jasa-jasa Syariat Islam bagi kehidupan bangsa Indonesia:

(1) ISLAM MENYATUKAN BANGSA INDONESIA. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Dalam tubuh bangsa ini terdapat sangat banyak etnis dan berbeda-beda bahasanya. Demi Allah, bukan Pancasila atau Sumpah Pemuda yang menyatukan bangsa ini, tetapi Islam lah penyatunya. Andaikan di negeri ini bukan mayoritas Islam, NKRI tak akan pernah terbentuk selamanya. Lihatlah bangsa-bangsa di Eropa, Afrika, atau Asia yang bukan mayoritas Muslim! Mereka berpecah-belah dalam negeri-negeri kecil, meskipun sama-sama Nashrani, meskipun sama-sama Hindu, Budha, atau penganut Taoisme. Islam membuat bangsa ini bisa disatukan. Padahal perbedaan etnis itu sangat berpeluang memecah-belah bangsa.

(2) SPIRIT ANTI PENJAJAHAN. Tidak dipungkiri, bahwa Islam adalah agama yang sangat anti penjajahan. Islam tidak pernah menjajah siapapun, dan tidak mentoleransi penjajahan dimanapun. Dalam ajaran Islam, penjajahan adalah puncaknya kezhaliman, maka akan dilawan sampai titik darah penghabisan. Sejak jaman Pangeran Baabullah di Ternate, Fatahillah, Adipati Yunus, Sultan Iskandar Muda, sampai era Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cik Di Tiro, sampai era penjajahan Jepang, bahkan sampai era kemerdekaan, Islam selalu menjadi spirit perlawanan anti penjajah. Jendral Soedirman dalam berbagai kesempatan selalu menyebut hadits Nabi Saw yang bermakna, “Siapa yang tak pernah mempersiapkan diri untuk berjihad, atau tidak ada niat di hatinya suatu ketika untuk berjihad, maka dia akan mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” Jika dalam masa modern perlawanan anti penjajahan itu tidak muncul, karena dalam kesadaran bangsa Indonesia kondisi kita selama ini merdeka (padahal sejatinya terjajah).

(3) ISLAM MEWARNAI SEJARAH BANGSA INI. Banyak sekali catatan sejarah yang disandarkan kepada Islam di negeri ini. Mulai dari sejarah kedatangan saudagar-saudagar pendakwah Islam, sejarah kerajaan-kerajaan Islam, sejarah perlawanan Muslim menentang penjajahan, sejarah tokoh-tokoh Muslim, sejarah bangunan-bangunan peninggalan Islam, sejarah karya-karya Muslim, sejarah pustaka Islami, dan sebagainya. Andaikan semua catatan sejarah Islam itu dihapus dari diri bangsa ini, kita akan kehilangan teramat banyak catatan sejarah. Mungkin akan kehilangan 70 % catatan sejarah yang kita miliki.

(4) ISLAM MEMBENTUK BAHASA INDONESIA. Peranan Islam dalam membentuk bahasa Indonesia sangat kuat. Tokoh-tokoh Muslim, media-media Muslim, organisasi-organisasi Islam sudah memilih bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, sebelum ada Sumpah Pemuda tahun 1928. Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam, Muhammadiyyah, NU, Persis, Al Irsyad, sudah memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, sebelum Sumpah Pemuda. Padahal saat yang sama organisasi seperti Boedi Oetomo lebih suka memakai bahasa Belanda dan Jawa, sebagai bahasa pengantar komunikasi mereka. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kata-kata seperti: Kalimat, bait, syair, syarat, wajib, waktu, bina, pasal, masyarakat, rakyat, majelis, dewan, badan, jasmani, musyawarah, wakil, musibah, kitab, kertas, daftar, sakit, kesumat, pikiran, kalbu, lezat, nafas, insan, serikat, paham, hukum, istirahat, sifat, urusan, dll. Belum kata-kata yang sudah jelas merupakan bagian dari Islam, seperti: Al Qur’an, Syariat, Shalat, Sunnah, fiqih, nikah, ukhuwwah, muamalah, Ramadhan, Haji, dll. Semua itu adalah serapan dari bahasa Arab yang dimasukkan oleh bangsa kita ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kalimat ini, “Masyarakat menyadari makna pemahaman dan ilmu dengan akal pikiran.” Dalam kalimat ini seluruhnya diambil dari bahasa Arab, selain ‘dan’ dan ‘dengan’. Andaikan semua sumbangan Islam ini dihapus dari bahasa Indonesia, kita akan kehilangan konten bahasa yang besar. Belum lagi pengaruh bahasa Arab dalam struktur (grammar) bahasa Indonesia.

(5) ISLAM MENJIWAI RUH PANCASILA & UUD 1945. Inilah adalah fakta besar yang selama ini tidak diakui. Bahkan banyak aktivis Islam tidak menyadari masalah ini. Dapat dikatakan, tanpa peranan Islam, bangsa Indonesia tak akan pernah punya Pancasila dan UUD 1945. Dalam Pancasila ada 5 sila, yang masing-masing intinya: Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Semua nilai-nilai itu diajarkan dalam Islam, seluruhnya. Begitu juga Pembukaan UUD 1945 yang intinya: Sifat anti penjajahan, mensyukuri kemerdekaan sebagai rahmat Allah, cita-cita melindungi jiwa rakyat Indonesia, mensejahterakan bangsa, mencerdaskan bangsa, dll. semua itu sangat kuat dijiwai oleh SPIRIT ISLAM. Dari mana lagi bangsa ini belajar nilai-nilai moral demikian, kalau bukan dari khazanah Islam. (Tetapi bukan berarti pula seluruh isi UUD 1945, terutama bagian batang tubuh, mencerminkan nilai-nilai Islami). Maka itu tidak mengherankan kalau orang-orang Liberal tidak pernah mau menengok Pancasila dan UUD 1945. Mereka selalu berdalih dengan kalimat “Bhineka Tunggal Ika”. Darimana kalimat itu diperoleh? Dari lambang Garuda Pancasila, bagian pita yang dicengkeram kaki garuda itu. Lihatlah, orang-orang Liberal itu mencari dalih apa saja yang bisa dipakai, meskipun hanya sebuah kalimat di kaki garuda.

Baca entri selengkapnya »


Kita Hidup di Dunia Kejam!

November 25, 2010

ARTIKEL 11:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang baik, mulia, dan penuh nilai moral. Ia bisa keluar dari lisan pejabat negara, politisi, aparat keamanan, perwira militer, pakar/pengamat, wartawan media, akademisi, tokoh ormas, tokoh agama, ustadz, aktivis LSM, tokoh mahasiswa, bahkan dari rakyat kecil.

Ucapan-ucapan baik itu misalnya:

“Mari kita sukseskan program pembangunan sebaik-baiknya!”

“Pemerintah akan selalu memperhatikan masalah rakyat, mencari solusi terbaik, mengatasi kemiskinan, membangun kesejahteraan.”

“Bangsa Indonesia harus selalu hidup rukun, damai, saling toleransi satu sama lain. Mari kita membangun kehidupan yang aman, tentram, sentosa!”

“Setiap kejahatan akan kami tindak tegas. Sudah menjadi kewajiban kami menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Agar kehidupan sosial berjalan terarah, tenang, dan proses pembangunan tidak terganggu.”

“Iklim investasi terus berkembang, situasi ekonomi semakin membaik, target pertumbuhan ekonomi akan tercapai, sehingga masyarakat akan hidup lebih sejahtera.”

“Pembangunan demokrasi harus terus ditingkatkan. Kehidupan politik perlu lebih berkembang dan kreatif, sehingga bisa menghasilkan out put kehidupan bangsa dan negara yang sejahtera, adil, dan bermartabat.”

“Aparat hukum akan selalu mengawal proses hukum secara adil, transparan, dan memenuhi rasa keadilan publik. Yakinlah!”

“Gerakan mahasiswa telah mencapai tahap kematangan dalam perspektif independensi politik, sosial, dan organisasi. Ke depan tantangan gerakan mahasiswa akan lebih berat lagi. Tetapi dengan komitmen kita bersama, semua tantangan akan dilewati dengan tenang.”

“Kehidupan agama di negara kita semakin baik, kesadaran religius masyarakat semakin meningkat, kepedulian terhadap persoalan sosial semakin tinggi. Kita optimis, Indonesia ke depan akan mencapai masyarakat adil dan makmur dalam naungan Ridha Allah.”

“Dunia pers semakin semarak. Kebebasan pers bisa terekspresikan secara maksimal. Skill insan-insan pers semakin matang. Etika jurnalistik pun terus dikembangkan sesuai konteks dan kemajuan jaman.”

    Tentu kita sangat sering mendengar ucapan-ucapan seperti di atas. Justru karena saking seringnya, akhirnya kita bisa “menghafal” retorika-retorika seperti itu. Bagi siapapun yang mendengar retorika seperti itu jelas akan senang, gembira, atau terpesona. “Alhamdulillah, ternyata kehidupan bangsa kita semakin maju, semakin sejahtera, dan bermartabat. Buktinya, ucapan-ucapan yang keluar dari elit-elit bangsa kita selalu baik-baik saja. Tidak ada yang mengeluh, bersedih, atau prihatin. Semua isinya serba baik, mulia, dan optimis.”

    "This life is very hard, brother..."

    Tetapi ucapan-ucapan yang baik itu ternyata hanya ada DI ATAS KERTAS. Atau sekedar TEORI, atau RETORIKA belaka. Dalam kenyataan, yang benar-benar kita saksikan, yang dialami masyarakat atau ditanggung oleh rakyat, kebanyakan jauh dari semua ucapan-ucapan itu. Teorinya selangit, tetapi kenyataan sangat buruk! Apa yang kerap kita saksikan dalam nyata jauh dari keindahan retorika-retorika itu. Banyak fakta-fakta bisa disebut, betapa kehidupan ini sebenarnya jauh lebih KEJAM dari yang kita bayangkan. Saat ucapan-ucapan bermoral terus dibuat, pada saat yang sama fakta-fakta kebohongan dan dusta terus terungkap.

    Mari kita lihat sebagian fakta-fakta yang ada di lapangan…

    [01] Sebagian pejabat mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus turun, hanya tinggal sekitar 13 juta jiwa saja. Padahal patokan kemiskinan itu ialah penghasilan per hari sekitar Rp. 9.000,-. Dengan nilai penghasilan sebesar itu, atau Rp. 270 ribu per bulan, kira-kira manusia bisa hidup dengan apa? Semestinya menteri perekonomian mencontohkan hidup sehari-hari dengan penghasilan sebesar itu. Seberapa kuat dia bisa menahan kemiskinan?

    [02] Katanya pertumbuhan ekonomi negara kita semakin tinggi. Namanya pertumbuhan ekonomi, seharusnya hal itu berdampak meningkatkan kemakmuran. Tetapi kenyataannya sangat ironis! Kesempatan kerja justru sangat sulit. Setiap ada pendaftaran CPNS selalu berjubel dipadati pencari kerja. Malah yang sudah mapan bekerja di swasta pun ingin jadi PNS. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi. Inilah FITNAH EKONOMI: Mencari penghasilan semakin sulit, sementara harga-harga kebutuhan terus meninggi.

    [03] Anak-anak kita selama belasan tahun menempuh pendidikan di sekolah. Malah mereka wajib sekolah sampai lulus SMP. Selama itu mereka harus masuk sekolah (tidak boleh telat atau sering bolos), harus mengerjakan PR, harus mengerjakan tugas, mengikuti ujian, aneka test, dll. Tetapi setelah lulus sarjana, mereka digiring untuk menjadi pengangguran kolektif. Perjuangan meletihkan oleh jutaan anak selama belasan tahun, seperti dibuang begitu saja.

    [04] Sebagian orang harus mengeluarkan uang pelicin sampai Rp. 50 jutaan, untuk mendapat nomer induk sebagai PNS atau masuk dinas kepolisian. Angka itu sekarang mungkin bisa lebih mahal lagi. Wajar kalau para birokrat sesak dengan korupsi, wong sejak awal saja mereka sudah korup (main suap).

    [05] Beberapa tahun lalu ada sebagian orangtua rela mengeluarkan dana sampai Rp. 200 juta, untuk membeli satu kursi bangku perkuliahan di ITB. Saat sekarang, ada yang senilai itu untuk mendapat bangku Fak. Kedokteran di UNPAD. Ada juga yang mengatakan, untuk menyelesaikan studi kedokteran butuh dana setidaknya Rp. 300 jutaan. Padahal nanti setelah lulus, belum tentu sukses.

    [06] Untuk mengikuti pencalonan Bupati/Walikota, setidaknya seseorang harus punya modal minimal Rp. 15 miliar. Untuk level Gubernur, harus ada modal sekitar Rp. 30 miliar. Untuk menjadi anggota DPR/DPRD harus bermodal ratusan juta sampai miliaran rupiah. Itu pun belum tentu terpilih. Ini jadi seperti “jual-beli” jabatan. Paling apesnya, ada yang gila, stress, dan bunuh diri ketika pencalonan itu gagal.

    [07] Untuk mendapat proyek pemerintah, banyak orang harus mengeluarkan uang besar untuk menyogok pejabat-pejabat terkait. Nanti yang terpilih ialah yang paling besar sogokannya. Bahkan sudah bukan rahasia lagi, untuk memenangkan tender proyek banyak perusahaan memberi bonus berupa “paha wanita”, kunci mobil, uang rekening, satu unit rumah bagus, dll.

    [08] Hampir tidak ada satu pun pejabat yang peduli dengan orang miskin, kaum terlantar, anak gelandangan, tunawisma, pengemis, dll. Bahkan mereka melihat orang-orang malang itu dengan tatapan mata jijik. Mereka baru mau bersentuhan dengan orang malang, semata demi pencitraan politik. (Mau sih makan nasi bungkus di tenda pengungsian, setelah itu muntah-muntah di rumah). Semua ini demi pencitraan publik semata.

    [09] Banyak anggota dewan di Jakarta (DPR RI) yang mencari pelayanan seks dari wanita-wanita WTS. Permadi pernah mengatakan, di DPR itu ada pemasok wanita-wanita semacam itu. Sebagian anggota DPR sudah beredar video-video mesum-nya. Yang paling parah ialah rekaman perkataan anggota DPR yang mengatakan, “Siapa yang berbaju putih itu?” Sampai dalam acara konggres sebuah partai politik (berkuasa) di Padalarang Bandung, seorang politisi partai itu melakukan perbuatan nista kepada seorang SPG. Tetapi kasus terakhir ini tidak segera dibawa ke ranah hukum, karena hegemoni politik.

    [10] Banyak perusahaan-perusahaan seenaknya mencemari sungai, mencemari sawah, mencemari air tanah, mencemari lingkungan, atau minimal mencemari udara. Kalau ditanya, jawaban mereka klise, “Omong kosong dengan lingkungan. Gue butuh duit. Masa bodo dengan lingkungan. Lo jangan banyak bacot. Ntar lo gue kirimin anggota Kopassus buat ngasih hadiah ye.” Orang-orang ini lebih tepat disebut maling, daripada pengusaha.

    Baca entri selengkapnya »


    Islam dan Ideologi Kebebasan

    November 24, 2010

    ARTIKEL 10:

    Salah satu alasan yang membuat bangsa Indonesia membenci Syariat Islam ialah: ideologi kebebasan. Sebagian orang sangat membenci Syariat Islam, karena Syariat dianggap membelenggu kebebasan, dianggap memasung kesenangan manusia, dianggap memenjara kreativitas manusia.

    Mereka berkata, “Kalau Syariat Islam dilaksanakan, wah habislah kita. Syariat terlalu banyak ngatur. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Ini haram, itu haram! Disini haram, di sono haram. Hidup isinya haram-haraman melulu. Sangat membosankan, tidak enjoy, tidak ada kebebasan. Kita tak bisa seneng-seneng. Semua orang ngomong akhirat melulu, amal shalih melulu, kematian melulu. Huuh, betapa boring hidup seperti itu!” Begitu suara-suara mereka saat memfitnah Islam. Di mata orang-orang ini, peradaban Islam isinya hanya: Shalat, mengaji, dan khutbah. Kasihan sekali.

    Dedengkot kaum Liberal, Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan, bahwa Indonesia lebih baik tetap menganut sistem sekuler, “Sebab sistem itu bisa mewadahi energi keshalihan dan energi kemaksiyatan sekaligus.”

    Robot Pun Teler Karena Hedonism. It's Very High Risk and Cost. You know...

    Banyak orang percaya kalau Syariat Islam diterapkan, tontonan TV akan dilarang (padahal tidak ada larangan ke arah itu); cabang-cabang olah-raga akan dilarang (padahal Islam menganjurkan olah-raga seperti memanah, berenang, menunggang kuda, beladiri); katanya nanti kaum wanita akan dikurung di rumah, di sel di rumah, tidak boleh keluar rumah, sejak lahir sampai mati (padahal dulu di jaman Nabi, kaum wanita Muslimah ikut terlibat membantu peperangan); nanti kalau makan cuma dengan korma, minyak, dan garam saja (padahal tidak ada larangan mau membuat produk kuliner sehebat apapun, asalkan tidak mengandung barang haram, tidak menyia-nyiakan makanan, dan tidak berlebihan); nanti semua orang diawasi polisi Syariat, kalau ketahuan ada yang tidak shalat sekali saja, akan langsung digantung sampai “tujuh turunan” (padahal di jaman Nabi ada orang-orang munafik yang lebih kufur dari sekedar meninggalkan shalat, tetapi mereka tidak diberi sanksi); kalau Syariat tegak, katanya semua produk teknologi akan disingkirkan, diganti teknologi onta, pedang, lampu minyak, dan pundi-pundi untuk menyimpan uang (faktanya, Masjidil Haram saat ini banyak sekali mengadopsi teknologi canggih yang di Indonesia saja belum diterapkan). Dan lain-lain gambaran buruk.

    Syariat Islam itu berkah, ajaran suci, kasih-sayang, martabat, integritas, bahkan sumber kejayaan masyarakat. Tidak ada dalam Syariat ini yang buruk-buruk. Syariat Islam tidak boleh dipandang dengan kacamata buruk, seperti umumnya pandangan orang-orang sekuler, Barat, dan Zionis. Mereka memandang Syariat dengan sangat buruk, hanya karena kedengkian hati mereka, untuk menjelek-jelekkan Islam itu sendiri. Semakin mereka membenci Islam, semakin kelihatan kalau hati mereka ketakutan dengan kekuatan Islam sebenarnya.

    PROSES BERTAHAP

    Untuk melaksanakan Syariat Islam, selalu bertahap, tidak serta-merta diubah dalam sekejap. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Saw ketika melaksanakan Syariat di Madinah. Nabi Saw pun ketika memerintahkan Muadz bin Jabal Ra. ke Yaman, beliau memerintahkan agar Islam diterapkan secara bertahap. Bahkan Aisyah binti Abu Bakar Ra, pernah mengatakan, “Kalau saja larangan tentang minuman keras tidak turun secara bertahap, niscaya aturan itu tidak akan dipatuhi warga Madinah.” Kondisi-kondisi riil di Indonesia dengan segala karakter dan tabiat masyarakatnya, bisa menjadi pertimbangan saat menerapkan Syariat Islam.

    Baca entri selengkapnya »


    Kapan Momentum Kemenangan Islam?

    November 22, 2010

    ARTIKEL 09:

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

    Ada sebuah kesalahan pemikiran besar yang melanda gerakan-gerakan perjuangan Islam selama ini, baik di tingkat Indonesia maupun dunia. Hal ini berkaitan dengan masalah besar, yaitu momentum kemenangan Islam.

    Selama ini banyak gerakan Islam, jamaah dakwah, partai Islam, organisasi, lembaga, yayasan, dll. yang berjuang di bawah bendera Islam. Semua berjuang demi kemenangan Islam. Semua menjanjikan kepada para anggotanya, “Insya Allah, perjuangan ini akan mencapai kemenangan. Allah bersama kita, Dia akan menolong kita meraih kemenangan.” Tetapi ketika ditanya, “Kapan kemenangan Islam itu akan tercapai?” Sebagian besar tidak bisa memberikan jawaban tegas. Jawabannya rata-rata mengambang, tidak pasti, spekulatif, atau penuh prasangka.

    Ketika seorang Muslim secara ikhlas bertanya, “Ustadz, kita telah sekian lama berjuang. Sebenarnya perjuangan ini akan kemana? Kapankah kita mendapatkan kemenangan seperti yang sering Ustadz gambarkan itu?”

    Jawaban yang sangat umum diberikan, antara lain:

    § “Sabarlah Akhi. Perjuangan itu tidak mudah. Butuh kesabaran panjang. Kemenangan tidak bisa diukur dengan usia generasi. Mungkin saja di generasi kita belum tercapai kemenangan. Nanti di generasi anak-cucu kita, bisa jadi kemenangan itu akan tercapai.”

    § “Berhati-hatilah, wahai Akhi! Anda sudah terpengaruh pemikiran-pemikiran isti’jal (buru-buru ingin cepat menang). Padahal Nabi Saw sudah mengingatkan, agar kita tidak isti’jal. Kita harus sabar menanti, sabar, dan terus bersabar. Tidak mengapa kita bersabar menanti, sampai Hari Kiamat terjadi. Bukankah orang shabar dicintai Tuhan?”

    § “Bisa jadi kita akan mencapai kemenangan setelah berjuang selama 50 tahun, atau 100 tahun, atau 300 tahun, atau 500 tahun, bahkan bisa jadi 1000 tahun lagi. Berdoalah supaya Anda panjang umur, sehingga bisa melihat kemenangan pada 1000 tahun ke depan. Oke?”

    "Islam Bukan Agama UTOPIA!"

    § “Anda tidak usah bertanya, kapan kemenangan itu akan tercapai? Tugas kita bukan mencapai kemenangan. Tugas kita hanya beramal, beramal, beramal thok. Pokoknya, hapuskan impian kemenangan dari otak kita. Muslim yang baik, dia tidak punya obsesi kemenangan. Dia cukup beramal dan beramal saja. Diberi kemenangan syukur, tidak diberi kemenangan sabar. Mudah kan?

    § “Anak-anak muda selalu terburu-buru. Mereka ingin cepat-cepat memetik hasil. Terburu-buru itu adalah sifat syaitan, jangan diikuti. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Siapa yang tergesa ingin memetik hasil, dia akan dihukum dengan ketidak-sempurnaan hasil yang dicapai.” Perjuangan ini harus dijalani dengan penuh kesabaran. Mungkin, kita butuh waktu antara 5000 sampai 6000 tahun untuk mencapai kemenangan. Ketika kemenangan itu tercapai, bisa jadi diri kita sudah menjadi debu-debu yang berterbangan di angkasa.”

    § “Inti perjuangan kita ialah membina tauhid. Bina tauhid terus-menerus. Jangan pikirkan apapun, selain tauhid. Kalau tauhid sudah bersih dan murni, nanti kemenangan akan datang sendiri. Persoalan tauhid itu apa, bagaimana sifatnya, bagaimana batasannya, bagaimana cara mencapainya? Tidak usah dipikirkan, yang penting ngomong saja tauhid, tauhid, dan tauhid.”

    Pemikiran-pemikiran seperti itu telah mendominasi sebagian besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Baik aktivis, dai, ustadz, tokoh ormas, syaikh, doktor Islam, dll. rata-rata terpaku oleh pemikiran-pemikiran seperti itu. Padahal kalau jujur, pemikiran-pemikiran seperti itu TIDAK ISLAMI, tidak memiliki landasan kuat dalam khazanah keislaman, bahkan mencerminkan pendapat yang mengandung kebohongan dan penyesatan. Sudah seharusnya pandangan-pandangan seperti itu direvisi dengan yang lebih baik, dan lebih sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

    Di bawah ini adalah bantahan tegas terhadap pemikiran-pemikiran seperti di atas. Semoga paparan ini –dengan ijin Allah- bermanfaat bagi Ummat. Amin.

    [1] Islam adalah ajaran agama yang jelas, nyata, dan kongkrit. Dalam Al Qur’an, Islam disifati sebagai al huda, al ‘ilmu, al bashirah, an nuur, al baiyinah, al haqqul mubin, al furqan, dll. Dalam hadits, Rasulullah Saw menyebut Islam dengan ungkapan al baidha’ (lentera yang terang). Di awal Surat Al Baqarah disebut, “Dzalikal kitabu laa raiba fihi.” Semua itu mencerminkan sesuatu yang jelas, pasti hasilnya, nyata pengaruhnya, terarah prosesnya. Islam bukanlah agama gambling, spekulatif, penuh praduga. Islam itu pasti, jelas, dan nyata.

    [2] Momen kemenangan yang mengambang, tidak jelas, atau digantungkan sampai ratusan tahun, bahkan ribuan tahun; hal itu membuat kaum Muslimin berkesimpulan bahwa Islam adalam agama UTOPIA, agama mimpi-mimpi belaka, agama “menara gading”. Ini adalah tidak benar. Ini adalah fitnah besar terhadap Islam. Setidaknya, dalam 3 ayat Al Qur’an disebutkan, “Huwalladzi arsala Rasulahu bil huda wa dinil haqqi li yuzh-hirahu ‘alad dini kullihi” (Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk Dia menangkan agama itu atas segala macam agama manusia). Ayat ini sangat tegas membantah anggapan bahwa Islam itu utopia. Kesan utopia muncul karena kesalahan dari pemikiran-pemikiran seperti di atas.

    [3] Dalam berbagai kesempatan, kaum Muslimin diingatkan agar berhati-hati dalam masalah waktu. Kita harus menghargai waktu, jangan buang-buang waktu. Kehidupan harus ditata dengan cermat, dengan perhitungan waktu yang teliti. Sampai ada ungkapan, “Al waqtu kas saif, in lam taq-tha’hu faqatha-aka” (Waktu itu seperti pedang, kalau engkau tidak mempergunakannya, engkau akan dipotong oleh waktu itu). Adalah suatu hal yang aneh. Dalam segala urusan kita menekankan pentingnya menghargai waktu. Tetapi saat bicara masalah sangat krusial, yaitu momen kemenangan Islam, seolah semua orang ingin membuang-buang waktu sesuka hati. Bukankah semakin lama perjuangan digulirkan, semakin panjang proses dijalani, berarti semakin besar energi kehidupan yang dikeluarkan? Apakah semua itu bukan pemborosan dalam kehidupan seorang Muslim?

    Baca entri selengkapnya »


    Mengapa Bangsa Indonesia Membenci Islam?

    November 22, 2010

    ARTIKEL 07:

    Kemalangan terbesar bangsa Indonesia, ialah ketika mereka beragama Islam, tetapi tidak mengerti kekuatan besar yang dimiliki agamanya. Bahkan yang lebih parah lagi, mereka hidup dengan memendam kebencian besar kepada ajaran Islam dan orang-orang yang berusaha memperjuangkannya.

    Masyarakat Indonesia bisa diibaratkan seperti orang-orang dusun di pelosok terpencil, yang diberi hadiah mobil sedan Mercy seri terbaru. Mobilnya luar biasa, sangat canggih, merupakan inovasi teknologi paling mutakhir. Sayangnya, mobil mewah itu tidak bisa dipakai apa-apa. Jangankan dioperasikan, orang-orang dusun itu bahkan tidak pernah melihat mobil sedan. Bagaimana akan merasakan canggihnya Mercy, kalau melihat saja belum. Akhirnya, mobil itu pun hanya dielus-elus saja, setiap pagi dan sore. Malah ada yang dimandikan bersama domba-domba.

    ISLAM: Anugerah Agung yang Disia-siakan Bangsa Indonesia!

    Buruknya kehidupan masyarakat Indonesia selama ini menjadi BUKTI besar, bahwa mayoritas rakyat negeri ini tidak mengerti ajaran Islam. Andaikan mereka mengerti dan mengamalkan, mustahil hidupnya akan terhina.

    Ajaran Islam bukan hanya memiliki sekian banyak nilai-nilai yang agung, tetapi ia juga sangat menakutkan bagi ideologi kapitalisme Barat. Tidak ada ideologi apapun yang begitu menakutkan Barat, selain Islam. Mereka sudah mempelajari sejarah kegemilangan peradaban Islam selama ribuan tahun. Tidak aneh kalau Barat membuat studi orientalisme, dalam rangka menjelek-jelekkan citra Islam, dan menyesatkan pandangan manusia terhadap Islam.[1]

    Andaikan bangsa Indonesia tahu keagungan agama yang dipeluknya selama ini, niscaya mereka akan sangat malu ketika sekian lama meninggalkan Islam, mengabaikan Islam, melecehkan Islam, apalagi memusuhi Islam. Banyak tokoh-tokoh Barat yang secara kesatria mengakui keagungan Islam. Bahkan Mahatma Gandhi pun tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada agama ini.[2] Hanya orang-orang berwawasan minus saja yang akan meremehkan Islam.

    Disini akan kita bahas sedikit bukti-bukti keagungan ajaran Islam. Saya menyebutnya 21 Sifat Mulia ajaran Islam. Semua sifat-sifat ini sangat dibutuhkan bangsa Indonesia agar bangkit dari keterpurukan. Bahkan sifat-sifat itu mencerminkan keunggulan Islam atas sistem apapun yang dikenal manusia.

    [1] Islam adalah agama yang anti korupsi. Ini adalah jelas dan tidak diragukan lagi. Islam menentang pengkhianatan, kecurangan, penyalah-gunaan wewenang untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok. Dalam hadits disebutkan, “Allah melaknat seorang penyuap dan yang disuap.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dll).

    [2] Islam adalah agama yang anti penindasan ekonomi. Jangankan penindasan, monopoli orang-orang kaya dalam distribusi ekonomi, juga dilarang dalam Islam. Adanya instrumen Zakat ialah salah satu cara untuk mengatasi monopoli kekayaan tersebut. “Agar harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya kalian saja.” (Al Hasyr: 7). Islam juga anti praktik rentenir (ribawi), perjudian, penipuan yang menyebabkan kezhaliman ekonomi.

    [3] Islam menentang kezhaliman. Ini sangat jelas. Kezhaliman adalah perbuatan haram, penyebab kegelapan di dunia dan Akhirat. Islam menentang segala bentuk kezhaliman baik yang nyata maupun samar. “Janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun tersembunyi.” (Al An’aam: 151).

    [4] Islam menentang penjajahan. Penjajahan adalah puncak kezhaliman manusia. Langit dan bumi tidak akan tenang, selama masih ada penjajahan. Islam menentang semua itu. “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil, berbuat ihsan, memberi karib-kerabat, mencegah kalian berbuat keji, munkar, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.” (An Nahl: 90).

    [5] Islam anti fanatisme kesukuan. Islam menghargai dan mengakui eksistensi keragaman suku dan etnis. Tetapi Islam melarang sikap rasialis, penindasan terhadap etnis, serta fanatisme kesukuan berlebihan. Tidak ada etnis apapun yang lebih mulia, selain karena kualitas takwanya. “Sesungguhnya semulia-mulia kalian di sisi Allah, ialah yang paling takwa dari kalian.” (Al Hujurat: 13).

    Baca entri selengkapnya »