Nominasi 5 Buku Terbaik…

Maret 3, 2015

Alhamdulillah untuk pameran buku Islamic Book Fair 2015 ini, buku karya kami kembali mendapat nominasi 5 buku terbaik, untuk kategori karya lokal, non fiksi dewasa. Buku yang masuk nominasi ialah Pro-Kontra Maulid Nabi.

Hal ini melengkapi nominasi buku-buku sebelumnya: Bersikap Adil Kepada Wahabi dan Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara. Keduanya juga masuk nominasi 5 buku terbaik di even IBF di tahun masing-masing. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Ketika menyusun buku ini, ada sebagian yang mengkritik bahwa kami (penulis) cenderung anti Maulid; tapi pada saat yang sama, ada juga yang menyimpulkan kami bersikap lunak terhadap even-even Maulid. Pro-kontra silakan saja; tapi jangan menilai, sebelum membaca bukunya.

Biasakan berani berbeda dan membagi visi; dengan tetap teguh pada pendirian yang dianut. Wal akhiru, alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

"Diskusi Seputar Maulid dari Beberapa Sudut Pandang"

“Diskusi Seputar Maulid dari Beberapa Sudut Pandang”


Buku Ini Membuatku…

Februari 13, 2014

Sebagai penulis, kadang saya membaca-baca buku sendiri. Ya semacam review atau kilas balik pemikiran. Termasuk ketika hadir buku Invasi Media Melanda Kehidupan Umat. Saya sempatkan membaca-baca lagi buku bercover dominan merah ini. Masya Allah, kalau baca isinya, saya jadi geleng-geleng kepala sendiri.

Buku ini covernya tampak soft, lunak, moderat. Tapi isinya seperti berkobar-kobar. Ini penilaianku sendiri ya. Tak tahu kalau orang lain menilai. Rasanya panas. Aspek sejuknya adalah manakala membaca riwayat historis tentang peran media dalam sejarah Islam. Selebihnya puanas… Terutama ketika sampai di bagian kritik media sekuler dan kelicikan kaum sekularis.

Kritik Sekularis Begitu Panas

Kritik Sekularis Begitu Panas

Sebenarnya, sebelum buku ini muncul, Pustaka Al Kautsar sudah menerbitkan buku bertema media, yaitu: Kezhaliman Media Massa Kepada Umat Islam. Buku ini karya seorang jurnalis, Muhammad Fadhilah Zein. Beliau aktif di JITU (Jurnalis Islam Bersatu). Beliau pernah bekerja di TVOne dan ANTV (kalau gak salah).

Ketika saya diminta menulis tema media, saya bertanya: “Bukankah sudah diterbitkan buku Kezhaliman Media, mengapa harus menerbitkan tema yang sama?”

Lalu dikatakan, bahwa dalam buku Kezhaliman Media lebih banyak mengupas kasus-kasus kebohongan yang dilakukan media-media sekuler di Indonesia. Sedangkan titik berat kajian seputar peran media, pengaruhnya, serta modus kejahatan media, belum banyak dibahas di sana. Terutama perspektif media dari sisi Syariat Islam.

Saya sendiri berusaha menahan diri untuk beberapa lama. Menanti, siapa tahu penerbit akan berubah pendirian. Tetapi ternyata, penerbit tetap menginginkan kita membahas peran komplek media dalam kehidupan Umat. Setelah menimbang-nimbang sedemikian rupa, akhirnya kusepakati menulis tema Invasi Media.

Sekali lagi… kalau melihat covernya, buku Invasi Media ini tampak soft atau moderat. Tapi kalau membaca isinya… ya silakan buktikan sendiri saja deh. Sulit kalau mau digambarkan.

Setahu saya, mungkin di buku inilah terdapat kritik paling keras yang kutujukan kepada kaum sekularis, khususnya para penggiat media mereka. Media sekuker seperti majalah Tempo, MetroTV, TVOne, dan sejenisnya seolah tidak memiliki nilai di hadapan buku ini. Bukan kritik emosional yang disertai caci-maki, tapi ditunjukkan bukti-buktinya. Bahkan kita mengangkat kritik berdasar landasan etika jurnalistik itu sendiri.

Kesimpulan besar dari buku ini: Etika jurnalistik media sudah mati! Bahkan media-media sekuler itu sejatinya bukan lagi sumber informasi atau opini, tetapi ia merupakan mesin-mesin kolonialisme di deret barisan terdepan. Media menjadi corong kapitalisme, liberalisme, industrialisasi, hedonisme. Akibatnya, kehidupan bangsa dan negara hancur berkeping-keping. Tapi mereka tak peduli, karena missi utamanya adalah: KOLONIALISME!

Data Seputar Buku

Data Seputar Buku

Bagiku sendiri, buku ini seolah sebuah “lompatan pengalaman”. Maksudnya begini. Di kalangan jurnalis ada adagium: “Belum disebut wartawan sejati, sebelum bisa menulis buku.” Hal itu juga diakui Bang Muhammad Fadhilah Zein, penulis “Kezaliman Media”. Tapi bagi saya, buku ini menjadi bukti bahwa seseorang yang tidak pernah kuliah jurnalistik, tidak pernah menjadi wartawan formal, bisa menulis buku seputar media. Ya ini buktinya. Alhamdulillahi wa lillahil hamdu.

Jujur, apa yang ditulis dalam buku Invasi Media, lebih banyak dibangun dari pengalaman; bukan atas dasar kerangka disiplin jurnalistik teoristik. Lebih banyak pengalaman lapangan. Tentu tanpa melupakan sejumlah besar referensi yang menjadi acuan, karena bagaimanapun ia tetap sebuah karya ilmiah (alhamdulillah).

Saya masih geleng-geleng kepala kalau membaca buku ini. Kok bisa sekeras itu…

AM. Waskito.


Buku Baru: “Invasi Media Melanda Kehidupan Umat”

Desember 30, 2013

JUDUL: Invasi Media Melanda Kehidupan Umat. PENULIS: AM. Waskito. PENERBIT: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. HALAMAN: XXIV + 228 halaman. TAHUN TERBIT: Desember 2013. CETAKAN: Pertama. KATA PENGANTAR: Ustadz Mashadi, mantan anggota DPR RI.

Dalam beberapa kali kesempatan Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali menyampaikan keinginannya membuat sebuah media massa Islam. Menurutnya, kebutuhan umat akan lahirnya media massa Islam berskala internasional sudah sangat mendesak. Tujuannya agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tidak bersumber dari satu kelompok kepentingan saja. Sudah sepatutnya umat Islam mendapatkan informasi yang seimbang seputar perkembangan dunia dari perspektif Islam itu sendiri.

Saat memberikan sambutan di acara Penutupan Konferensi Internasional Media Islam, yang berlangsung tanggal 3-5 Desember 2014, di Jakarta, Suryadharma Ali kembali menyampaikan keinginannya itu. Kali ini dia mengajak berbagai pihak yang berkompeten dalam masalah ini untuk bersama-sama menyusun rencana implementasi pembuatan media Islam. Media massa yang diharapkan Pak Menteri bukan hanya berskala nasional tapi juga internasional.

Pertarungan Eksistensi Lewat Media.

Pertarungan Eksistensi Lewat Media.

Sebenarnya impian Menteri Suryadharma Ali akan hadirnya media massa Islam juga menjadi impian tokoh-tokoh Islam lainnya. Dalam setiap diskusi bertema urgensi media massa Islam yang diikuti para pegiat dakwah Islam, ide untuk membangun media massa Islam sering disampaikan. Para tokoh sepakat umat Islam harus punya media sendiri untuk mengimbangi dominasi informasi media-media non-Islam yang terkadang bias mengabarkan informasi yang melibatkan kepentingan umat Islam. Ketiadaan media yang berpihak pada kepentingan umat Islam pasti merugikan umat Islam itu sendiri, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Dalam buku terbarunya Invasi Media Melanda Kehidupan Umat, penulis AM Waskito menyebut, saat ini masyarakat umum, termasuk umat Islam, terlanjur percaya bahwa informasi yang disampaikan media massa umum pasti benar. Sikap semacam muncul karena masyarakat menganggap berita yang disampaikan media ditulis berdasarkan fakta dan etika. Jadi, andaikan ada media massa yang menyebutkan nilai Islam kurang sempurna mereka akan membenarkan begitu saja. Nah, kondisi inilah yang sepatutnya diluruskan oleh media-media Islam.

“(Padahal, ed) Fakta-fakta membuktikan bahwa media sekuler sering meninggalkan etika jurnalisme yang semestinya menjadi patron moralitas. Bukan rahasia lagi bahwa media-media saat ini kebanyakan hanya menjual sensasi, kritik sarkastik, cerita vulgar, foto-foto sensual, gossip selebriti, kriminalitas, info kecelakaan dan cerita-cerita musibah.” (kalam penulis, hal viii)
Mengutip pandangan Arief Suditomo, pimpinan redaksi program berita di salah satu TV, Waskito mengatakan, peran media yang ada saat ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap sebuah peristiwa. Opini masyarakat terbentuk berdasarkan informasi yang disajikan media yang dikonsumsinya. Jika bacaan atau tontonan masyarakat baik maka baik pula pandangannya tapi jika asupan informasinya bermasalah maka bermasalah juga cara pandangnya.

Dan ironisnya, sejauh ini masyarakat lebih banyak mengkonsumsi informasi dari media-media yang dinilai kurang Islami. Media yang ada di masyarakat lebih banyak yang mementingkan aspek keuntungan semata dibanding menjaga idealisme serta independensi. Media yang selama ini melayani kebutuhan informasi umat dikuasai pihak pemodal yang lebih mengedepankan aspek untung rugi daripada aspek baik-buruk.

“Pengaruh negatif dari penyesatan opini media-media yang berkuasa saat ini bukan sesuatu yang kecil tetapi sesuatu yang sangat serius. Invasi media ini telah berhasil meruntuhkan rezim-rezim diktator Arab, mengubah perilaku masyarakat Indonesia, hingga membongkar kedaulatan bangsa-bangsa. Ibarat sebuah gelombang, ia laksana tsunami yang menerjang rumah-rumah, pepohonan, gedung-gedung, menyapu perkampungan dan makhluk hidup. Atau laksana tornado yang sedang mengamuk, menerbangkan semua benda dan material ke langit lalu melemparkan ke segala arah.

Media sekuler mempunyai misi membangun masyarakat baru bercorak: kapitalis, dimana kehidupan sosial didominasi oleh orang-orang kaya; liberalis, dimana tidak ada norma dan aturan yang patut dihormati; serta hedonis, dimana manusia diajak bersenang-senang secara mutlak.” (hal 195)

Dalam kata pengantarnya, Mantan Anggota Komisi I DPR-RI, Mashadi menyebutkan media massa utama telah berhasil memanipulasi pikiran, persepsi dan keyakinan umat manusia. Media massa bukan saja mampu mengubah perilaku manusia, melainkan memainkan perasaan bahkan sebuah keyakinan. Dampaknya sebuah kejahatan bisa menjadi sebuah kebenaran. Sebuah kejahatan kemanusiaan bisa dimaklumi. Dan semua dipahami sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja (hal xvii). Sungguh ironi.

Berangkat dari keprihatinan itu AM Waskito menulis buku setebal 228 halaman ini. Penulis menjabarkan betapa umat Islam butuh media yang baik (khair) dan lurus (hanif). Bahkan bisa dibilang sudah menjadi keharusan yang mendesak.

Di bagian awal AM Waskito menjabarkan beberapa contoh bias liputan media massa umum terhadap peristiwa yang melibatkan umat Islam, mulai dari peristiwa kudeta militer Mesir terhadap Pemerintahan Mursi yang sah hingga berita aksi-aksi Front Pembela Islam (FPI) yang sering diberitakan negatif. Waskito menunjukan bias informasi ini melalui kutipan-kutipan berita yang tampil di media massa utama.

Setelah menjabarkan contoh kasus itu Waskito lalu mengulas betapa ajaran Islam sebenarnya sudah mengingatkan umat Islam tentang pentingnya mengelola informasi. Jauh sebelum terjadi “huru-hara” masyarakat Islam saat ini sebenarnya Al-Quran sudah mengingatkan betapa umat harus berhati-hati terhadap peredaran suatu kabar. Kabar yang baik sekalipun jika tidak dikelola dengan baik bisa mendatangkan malapetaka bagi setiap orang yang terkait. Hal ini dicontohkan penulis melalui peristiwa Haditsul Ifki, dimana saat itu Aisyah RA difitnah telah berbuat tidak pantas terhadap Nabi Muhammad SAW. (Bab III, hal 19-32)

Selain itu, buku ini mengulas juga bagaimana perang opini terjadi saat Perang Uhud. Saat itu kaum musyrikin ingin mengalahkan Rasulullah SAW dan para sahabat melalui penyebaran isu-isu yang menakutkan. Diharapkan dengan cara itu mental kaum muslimin menjadi hancur dan takut menghadapi perang. Apa yang terjadi pada Perang Uhud tak ubahnya seperti yang terjadi pada perang-perang zaman sekarang. Tak ada perang senjata tanpa perang opini.

Buku yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar ini memang menjabarkan berbagai kelemahan-kelemahan umat Islam dalam hal pengelolaan informasi melalui media massa. Setidaknya hingga saat ini belum ada, atau setidaknya hanya sedikit, media-media profesional yang dikelola umat praktisi Islam yang berperan menyampaikan informasi yang benar untuk umat Islam.

Namun demikian buku ini tidak dimaksudkan membuat umat Islam pesimistis atau skeptis akan lahirnya media massa Islam yang diimpikan. Buku ini dibuat justru untuk menumbuhkan keyakinan bahwa suatu saat nanti akan ada media massa umat Islam yang bisa mengimbangi serbuan informasi media-media sekuler. Meski tidak membahas teknis pembentukan dan pendirian media massa islam itu setidaknya buku ini menjabarkan poin-poin penting yang sepatutnya diperjuangkan media massa umat Islam.
Seperti yang dikatakan Mashadi dalam pengantar buku yang terbit di bulan Desember 2013 ini, “Bayangkan 1,5 miliar muslim di seluruh dunia tak mampu, tak bisa bergerak menghadapi (serbuan informasi) Amerika Serikat dan Zionis-Israel, karena pusat syaraf dan hati mereka sudah dikendalikan oleh korporasi media massa milik Zionis-Israel.

Tetapi, (untung, ed) ada sebuah buku penting yang ditulis AM Waskito, yang diharapkan dapat mengubah semua persepsi, pikiran, perasaan, hati dan keyakinan bahwa kita dapat kembali melawan hegemoni media Zionis. Semoga buku ini menjadi sebuah solusi bagi masa depan muslim. Semoga.” Wallahu a’lam bishowab.

(By Subhan Akbar).

Sumber: http://www.voa-islam.com/read/silaturahim/2013/12/23/28285/menakar-potensi-kebangkitan-media-islam/#sthash.efW57rR2.PZCmn0Np.dpuf


Buku Baru: “Air Mata Presiden Mursi”

Juli 31, 2013

Air Mata Presiden Mursi

Kesedihan Sang Presiden atas Kudeta Militer 3 Juli 2013.

Kesedihan Sang Presiden atas Kudeta Militer 3 Juli 2013.

Presiden Muhammad Mursi yang baru saja digulingkan oleh rezim militer Mesir merupakan satu-satunya Presiden dari kalangan sipil yang dipilih secara demokratis. Presiden Mursi juga merupakan Presiden satu-satunya di dunia yang hafal Al-Qur’an. Sayangnya kekuasaannya begitu cepat direnggut oleh komplotan liberal sekuler, kaki tangan mantan Presiden Mubarak dan Militer yang dibantu oleh kekuatan Amerika.

Nampaknya di kalangan Islam-Phobia lebih enjoy hidup dipimpin oleh rezim militer yang korup dan menindas daripada dipimpin tokoh Islam. Buktinya penggulingan Presiden Muhammad Mursi yang baru terjadi dapat terwujud karena mereka saling bersinergi. Sayangnya di kalangan Islam sikapnya tidak satu suara. Ada juga kalangan Islam yang mendukung penggulingan ini dengan berbagai dalih.

Buku kecil ini mencoba membela keberadaan Presiden Mursi dari sisi syariah dan ilmiah. Bukan pembelaan yang cengeng apalagi membabi-buta. Tragedi kudeta militer menjadi catatan hitam sejarah yang menghadang gerakan politik Islam di Mesir. Namun kisah ini belum berakhir, kita tunggu saja endingnya.

http://www.kautsar.co.id/read/book/25/07/2013/239/air-mata-presiden-mursi/

Baca entri selengkapnya »


Buku Baru: “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara”

Desember 20, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah digali dari hadits “73 golongan” atau “Iftiraqul Ummah”. Saat membahas hadits ini banyak orang cenderung mengklaim diri sebagai golongan selamat, dan memvonis pihak-pihak lain sebagai golongan sesat (fin naar). Padahal dalam riwayat-riwayat itu Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam hanya menyebutkan METODE menjadi golongan selamat, yaitu: Mengikuti Sunnah dan komitmen dengan Al Jamaah (kesatuan umat Islam). Siapapun yang sesuai metode ini, dia adalah Ahlus Sunnah. 

Abdul Qahir Al Baghdadi membedakan Ahlus Sunnah sebagai Ahlur Ra’yi danAhlul Hadits. As Safariniy Al Hanbali menyebutkan, Ahlus Sunnah adalah pengikut Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Ahlul Hadits. Ibnu Taimiyah menjelaskan makna umum Ahlus Sunnah, sebagai setiap orang yang mengikatkan diri dengan Islam sedangkan dia bukan Syiah Rafidhah. Dalam riwayat-riwayat yang diteliti Syaikh Salman Al Audah, dalam bukunya Shifatu Ghuraba, golongan yang selamat adalah As Sawadul A’zham (jumlah mayoritas kaum Muslimin).

Judul buku                  :  Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara.

Penulis                       :  Abu Muhammad Waskito.

Penerbit                      :  Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cetakan                      :  Cet. I, Oktober 2012.

Halaman                     :  xvi + 432 hlm.

Harga pasar                :  Rp. 69.000,-.

Kelompok Ahlus Sunnah di Indonesia meliputi kalangan Asy’ariyah, Wahabiyah, dan lainnya yang merujuk kepada Al Qur`an dan As Sunnah; meyakini Rukun Islam dan Rukun Iman (sesuai versi Ahlus Sunnah); meyakini Al Qur`an sebagai Kalamullah; memuliakan isteri-isteri Nabi dan para Shahabat; meyakini Sifat-sifat Allah; mereka bukan bagian dari sekte sesat, terutama Syiah Rafidhah dan aliran-aliran yang menyempal dari Syariat Islam.

Kalangan Wahabiyah bukan musuh Islam; mereka adalah Muslim, Ahlus Sunnah, saudara kita. Jika ada di antara mereka yang bersikap negatif, tidak berarti menggugurkan hak-haknya sebagai Muslim.

Begitu juga, kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, adalah saudara kita, sesama Muslim, sesama Ahlus Sunnah. Mereka mengimani Al Qur`an, mengikuti Sunnah Nabi, rujuk kepada Syariat Islam. Ada beberapa perbedaan pemikiran di antara Wahabiyah dan Asy’ariyah, tetapi sisi-sisi kesamaan keduanya lebih banyak (dalam buku ini dibahas 16 poin kesamaan). Sisi-sisi kesamaan ini mestinya bisa menjadi titik-tolak untuk mewujudkan saling pengertian, pemahaman, dan kerjasama.

Buku ini mengkaji pentingnya persatuan umat; akar pertikaian antar Ahlus Sunnah di Nusantara; konsep Firqatun Najiyah menurut Al Qur`an; menawarkan 10 langkah praktis untuk menyatukan Ahlus Sunnah; mengkaji misi liberalisme, propaganda komunisme di majalah Tempo, dan membedah fakta-fakta seputar gerakan Syiah; Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah, dan lain-lain.

Semoga hadirnya buku ini bisa menjadi kontribusi untuk memperbaiki hubungan antar elemen-elemen Ahlus Sunnah di Nusantara; dan bisa mencegah destruksi kehidupan beragama yang lebih parah. Allahumma amin.

Admin.


INFO BUKU BARU: “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

November 13, 2011

PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Akhirnya, buku yang kami proses sekian lama ini terbit juga, dengan segala pertolongan Allah. Judul besarnya, “Bersikap Adil Kepada Wahabi” (BAKW). Judul penjelas: “Bantahan Kritis dan Fundamental Terhadap Buku Propaganda Karya Syaikh Idahram“. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cover Buku BAKW.

Kaum Wahabi adalah Gerakan Dakwah yang Banyak Berjasa bagi Ummat. Mereka Bukan Kelompok Malaikat. Nasehat bagi Mereka Sangat Terbuka, tetapi Bukan Fitnah.

DATA BUKU

Tebal buku, xxviii + 416 halaman. Menggunakan softcover dan bagian isi buku art paper. Ukuran buku standar, 13,5 cm x 20,5 cm. ISBN: 978-979-592-578-1. Dan terakhir, harga eceran buku Rp. 69.000,- (belum diskon).

SINOPSIS (teks cover belakang).

Belakangan ini beredar buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW) yang dikarang oleh seseorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Buku tersebut berisi gugatan dan caci maki terhadap apa yang disebut dengan “Gerakan Salafi Wahabi”.

Kalau sekadar kritik yang obyektif, tentu tak masalah. Karena setiap orang dan kelompok bisa saja mempunyai kecenderungan keliru, berlebihan, mau benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Namun jika kritik dan celaan tersebut berlebihan dan berbohong, bahkan mengandung manipulasi fakta, tentu saja hal ini menimbulkan masalah serius dan fitnah.

Bayangkan saja, akibat beredarnya buku Syaikh Idahram itu, sebuah kegiatan pengajian ditutup karena dituduh Wahabi. Padahal, apa yang dimaksud dengan Wahabi itu tidak jelas definisinya. Jangan sampai masyarakat awam diadu domba oleh buku fitnah semacam itu.

Belum reda kontroversi buku pertama sudah muncul buku kedua,“Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik” (MMKKUK); kemudian muncul lagi, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW). Maka situasi fitnah pun kian merebak.

Baca entri selengkapnya »


Apresiasi Seorang Pembaca Buku

April 1, 2011

Kekuatan Besar di Balik Buku

Sebagai penulis buku, banyak suka-dukanya. Kadang menerima kenyataan-kenyataan yang membuat diri harus penuh kesabaran. Namun kadang menerima HIBURAN dari Allah Ta’ala. Sumber hiburan bisa dari mana saja; termasuk dari arah yang tidak disangka-sangka. Salah satu hiburan terindah bagi penulis buku, ialah ketika menerima pujian tulus dari seorang pembaca. Ini bukan pujian yang dibuat-buat tetapi asli tulus, insya Allah.

Saya pernah mendapat surat yang ditulis tangan. Dikirim seorang bapak-bapak asal Surabaya. Kalau tidak salah, namanya Ahmad Ma’ruf. Beliau mengaku sangat terkesan dengan buku “Hidup Ini Mudah” yang saya tulis. Lalu beliau menulis surat apresiasi. Hebatnya, dalam surat itu beliau juga memberi saya hadiah sebuah buku agenda dan ballpoint tinta tebal. Masya Allah, hal-hal seperti ini merupakan “kado istimewa” bagi seorang penulis.

Kalau kita membaca teks endorsement yang terletak di cover belakang buku, itu bisa dibuat-buat. Sebagian endorsement merupakan teks yang sudah disiapkan, bukan dari pembaca. Nanti pembaca tinggal memilih teks mana yang cocok dengan hatinya. Hal ini saya ketahui dari informasi penerbit tertentu. Untuk membuktikannya mudah. Biasanya komentar pembaca dalam endorsement selalu berbeda-beda, padahal komentar yang ditujukan untuk buku yang sama, sangat mungkin menghasilkan komentar yang sama pula. Hal-hal demikian ini sering sudah di-setting secara sengaja.

Berikut ini sebuah apreasiasi berharga dari seorang pembaca buku “Aku Membaca Aku Tersenyum” yang telah saya tulis. Komentar positif ini dikirim via e-mail oleh seorang mahasiswi Sastra Inggris di Unpad Jatinangor. Beliau berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Memang di bagian akhir buku, saya sebutkan akses e-mail yang bisa dihubungi. Sekedar catatan, teks yang tercantum ini sudah dilakukan penyuntingan seperlunya. Sebagian besar isi surat dipertahankan, hanya diberi perubahan sedikit agar enak dipandang, mudah dibaca, dan lebih jelas. Tidak ada perubahan substansial di dalamnya.

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Bapak penulis yang terhormat,

Maaf sebelumnya, saya telah memberanikan diri untuk mengirim email ini. Namun saya hanya ingin memberikan pendapat saya tentang buku yang Bapak tulis yang berjudul “Aku Membaca Aku Tersenyum” yang diterbitkan oleh Penerbit Khalifa, Jakarta.

Saya, Jessica Lusianov, mahasiswa UNPAD Fakultas Sastra, telah membaca buku tersebut. Setelah membacanya, saya menilai bahwa buku yang Bapak tulis benar-benar sangat bagus dan menggugah. Saya menyukainya. Mengapa? Karena isi buku tersebut benar-benar penuh renungan, hikmah, humor, pengalaman berharga, dan yang paling penting adalah SANGAT MEMOTIVASI saya untuk lebih giat dan gemar membaca buku-buku umum, baik itu di perpustakaan dan di toko buku. Saya sendiri adalah penggemar buku kelas berat karena saya sendiri termasuk pribadi yang pendiam dan agak tidak menyukai hiburan (meskipun saya hobi bermain alat musik dan menyanyi selain membaca buku).

Saya benar-benar dibuat bangkit disebabkan tulisan-tulisan Bapak di buku tersebut yang sebagian besar mengajak masyarakat, khususnya Kaum Muda dan Pelajar untuk lebih mencintai buku (bacaan). Mulai sekarang, setelah membaca buku tersebut, saya menjadi sadar bahwa ilmu dan wawasan itu tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja, tapi melalui membaca juga wawasan kita akan luas.

Yang paling penting adalah, saya pun sadar atas apa yang saya perbuat selama ini salah. Saya sendiri adalah tipe orang yang kurang tidur, kurang minum air putih, dan tidak pernah berolahraga. Akan tetapi, setelah membaca buku tersebut yang di dalamnya terdapat tips menjaga kesehatan dan sebuah kisah yang cukup menggugah hati yang akhirnya menyimpulkan bahwa menjaga kesehatan itu perlu (dan bahwa belajar sampai larut malam mengabaikan kodrat fisik itu salah), saya pun menyadari kekeliruan saya selama ini.

Saya sangat berterima kasih kepada Bapak karena melalui buku yang Bapak tulis saya akhirnya mengerti. Akhirul kalam, saya benar-benar kagum terhadap Bapak dan buku Bapak dan saya mengucapkan terima kasih sekali lagi. Sekian dari saya, seorang pembaca. Teruslah berkarya dan menghasilkan buku-buku yang terbaik. Saya doakan semoga Bapak sehat dan sukses selalu.


Wabillahi Taufiq wal Hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Pembaca

JESSICA LUSIANOV.

Secara pribadi, ada rasa malu membaca komentar indah seperti di atas. Tetapi bagaimana lagi, itu adalah apresiasi pembaca yang dia sampaikan secara tulus. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Intinya, jika ada yang baik dan bermanfaat, semoga hal itu bisa menjadi kebaikan, bagi pembaca, juga bagi penulis, dan Ummat. Allahumma amin.

Buku “Aku Membaca Aku Menulis” itu berisi banyak entry dan substansi. Humor hanyalah sebuah METODE saja, untuk menyampaikan kepada maksud sebenarnya. Dalam buku itu, terutama di bagian-bagian akhir, saya kaji secara intens cara-cara MEMBANGKITKAN KEKUATAN TERSEMBUNYI dari buku-buku yang diam rapi di atas rak itu. Melalui buku, kita bisa mencapai kekuatan dan keahlian seperti yang kita inginkan.

Disana ada kekuatan tersembunyi, andai kita berkenan membacanya…

AM. Waskito.