BUKU BARU: Informasi Penting

Februari 24, 2011

Bedah Buku di IBF Jakarta, 13 Maret 2011 (hari terakhir).

TEKS COVER BELAKANG

Apa jadinya jika republik kita ini tidak benar-benar berdaulat? Pastilah
penguasa harus menutupi ketidakberdaulatannya dengan kebohongan ke publik.
Apalagi jika rakyatnya sendiri tidak tahu dan menikmati begitu saja kebohongan
ini.

Tengoklah berbagai kebijakan dan penanganan terhadap kasus-kasus besar yang
telah membetot perhatian publik. Mulai dari kasus Century, mafia pajak,
rekening gendut para jenderal, angka kemiskinan yang dimanipulasi, terorisme, dan lain
sebagainya tak ubahnya sandiwara yang dipertontonkan lewat media massa.
Masyarakat dicekoki dengan fakta-fakta palsu yang telah dibungkus kebohongan.
Rakyat sebagian sudah sadar dan tidak percaya lagi dengan pernyataan pejabat,
atau bahkan apa yang disajikan oleh media. Mereka mulai sadar, betapa kejujuran
begitu murah harganya di negeri ini.

Maka bagaimanakah kita hendak berharap keberkahan akan tersemai di negeri ini,
padahal Rasulullah telah bersabda:
"...... Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, yang akhirnya akan
mengantarkan ke dalam neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat
di sisi Allah sebagai pendusta." (HR Bukhari Muslim). 

Buku ini membedah berbagai praktik kebohongan publik yang terjadi di negeri
ini. Siapakah yang bermain dalam sandiwara kebohongan ini? Dalam buku ini, penulis
mengulas berbagai hal seperti liberalisme di segala hal, kasus century, mafia
hukum, ajakan konfrontasi dengan Malaysia, terorisme dan lain-lain.

Sumber: BURSA-BUKU.

=====================================================

BEDAH BUKU INI DI “IBF”

Hadiri pula acara bedah buku "Republik Bohong" di Islamic Book Fair 1432/2011

Hari/Tanggal: Ahad, 13 Maret 2011.
Pukul: 16.00 - 18.00 WIB.
Tempat: Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Nara Sumber:    Abu Muhammad Waskito (penulis) & Mahendradata (Tim Pembela Muslim). 

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

CP: Handono (0815-8064605)

Sumber: BURSA-BUKU.

=======================================================

DAFTAR ISI BUKU

Berikut daftar isi buku “Republik Bohong”:


Pengantar Penerbit ––– v
Pengantar Penulis ––– ix
Kalam Pembuka ––– 1
PARA AHLI BICARA TENTANG INDONESIA ––– 7
Apakah Karena Kutukan Allah? ––– 8
Puisi: “Negeri Para Bedebah” ––– 13
Serigalakan Bangsa Ini ––– 15
Syair Taufiq Ismail ––– 22
Siapa Kita? ––– 28
Membuka Topeng “Negara Gagal” ––– 32
Dana 26 Juta Dollar dari Amerika  ––– 35
DPR Cukup Efektif  ––– 39
Indonesia Dihancurkan IMF  ––– 44
Pandangan Prof. Mahfudh MD.  ––– 51
Bangsa Muslim, Tetapi Hobi Klenik ––– 54
RAKYAT INDONESIA MUDAH DITIPU ––– 71
Bangsa Sakit Seharga “180 M”  ––– 72
Nasib Ngenes Kompor BPPT ––– 80
Pengkhianatan Para Pengamat Ekonomi  ––– 84
Kebohongan Publik di Balik Bailout Bank Century  ––– 93
Kebohongan Menteri Perekonomian! ––– 105
AC Manullang: “Penangkapan Ba’asyir adalah Grand
Strategy Amerika Serikat” ––– 116
Kronologi Peristiwa Terorisasi di Aceh ––– 123
Keanehan Fenomena Terorisme di Indonesia  ––– 127
Ofensif kepada Islam ––– 128
Desain Kasus Teror ––– 130
Indonesia Sebagai Target ––– 134
Makna Isu Terorisme ––– 136
Penipuan Terbesar Abad 21 ––– 138
Siapa Patriot NKRI? ––– 142
Ide Perang Indonesia Vs Malaysia ––– 151
Antara Ustadz dan Politisi  ––– 160
Bukan Soal Keberanian ––– 161
Takut Resiko ––– 162
Masalah Kritis ––– 163
Mental Politisi ––– 164
Orang Lemah, Jangan Ditipu!  ––– 166
Monumen Yahudi Berdiri Megah di Manado ––– 172
MEMBEDAH AKAR MASALAH BANGSA ––– 177
Benarkah Rakyat Indonesia Sudah Cerdas? ––– 178
Karakter Minder Bangsa Kita ––– 186
Sejarah Bangsa Minder  ––– 187
Minder Secara Kultural  ––– 194
Menegakkan Syahadat  ––– 197
Mengapa Shaum Kita Gagal?  ––– 200
Dominasi Islam Mataram  ––– 205
Sebab Kejayaan Bangsa  ––– 206
Islam Versi Mataram  ––– 208
Islam Orang Indonesia ––– 210
Islam Bercampur Kemusyrikan ––– 213
Semua Teori Sia-sia  ––– 215
Tradisi Kita, Melanggar Hukum! ––– 217
Realitas Penjajahan Baru di Indonesia  ––– 224
Mengapa Masyarakat Tidak Menghargai Dakwah Islam?…. 234
Lima Penyakit Bangsa ––– 243
Islam dan Isu Kebangsaan  ––– 249
PROBLEMA BANGSA DAN SOLUSI ISLAM ––– 259
Mengapa Islam Selalu Dibenci? ––– 260
Keagungan Ajaran Islam ––– 266
Antara Syariat Islam dan NKRI ––– 278
Kesamaan Akar Historis  ––– 278
Membantah Fitnah Keji  ––– 280
Trauma Gerakan DI/TII  ––– 284
Apakah Bangsa Indonesia Jujur?  ––– 287
Pertanyaan Menggelitik  ––– 290
Kearifan Konsep Piagam Jakarta ––– 294
Apakah Hukum Islam Kejam? ––– 305
Menilai Keadilan Hukum  ––– 309
Kenangan Perjalanan Umrah (Indahnya Negeri Islami) ––– 314
PENUTUP: Bangsa Kita Termakan Fitnah ––– 323
Tentang Penulis ––– 330
Sumber: Blog Ustadz Abduh Zulfidar, Lc.

======================================================

Iklan

BUKU BARU: Mau Kemana Kita?

Februari 24, 2011

Masihkah Ada Harapan? Ada...

Kalau membaca, merenungkan, dan menelisik kehidupan bangsa Indonesia saat ini, isinya pasti didominasi oleh cerita-cerita duka. Terlalu banyak fakta kehidupan yang membuat hati kita terasa nyeri.

Pernahkah Anda membayangkan, ada ribuan warga Indonesia berada di luar negeri, hidup di kolong jembatan, hidup seperti sampah dan memproduksi banyak sampah? Lalu ditancapkan bendera Indonesia di tengah-tengah komunitas kolong jembatan itu? Pemerintah RI di negeri itu tidak turun tangan membantu; selalu menyalahkan warga; makan-minum dan kesehatan, KBRI tidak memberi bantuan apapun. Warga kita disana akhirnya mengandalkan bantuan masyarakat sekitar yang merasa kasihan melihat kaum nelangsa itu.

Nah, potret semacam itu hanya ada di negeri ini, Indonesia. KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Gontor, menulis esay yang judulnya, “Serigalakan Bangsa Ini“. Dalam esay yang perih berisi kritik-kritik tajam itu, beliau mempertanyakan, “Inikah yang namanya bangsa merdeka itu?” Begitu pula, keprihatinan maestro penyair Indonesia, Bung Taufiq Ismail. Beliau menyebut era Reformasi telah ditungganggi oleh GSM (Gerakan Syahwat Merdeka). Salah satu produknya ialah SMS (Sastra Madzhab Selangkangan). Sebutan SMS itu membuat marah para penggiat seni liberal yang senang memperjual-belikan tubuh wanita dan seks.

Dalam buku ini, dua tulisan penting tersebut dikutip, untuk memberikan taushiyah, pandangan, sekaligus menggugah kesadaran Ummat. Masih ada tokoh-tokoh lain, seperti: Prof. Steve Henke, Amran Nasution, Dr. AC. Mannulang, Prof. Mahfudh Md., dll.

Dulu Soekarno menulis buku, “Indonesia Menggugat!” Buku itu merupakan isi pembelaan Soekarno atas tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kolonial kepadanya. Kini, kaum Muslimin sudah selayaknya bicara, “Islam menggugat!”

Mengapa?

Karena Islam sangat besar jasanya bagi negeri ini, sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara dulu. Namun jasa-jasa Islam itu tidak pernah diakui, bahkan sejak regim Soekarno, Soeharto, Gusdur, Mega, sampai SBY; mereka selalu menempatkan Islam, sebagai musuh bangsa. Dan herannya, mereka bisa bersekutu dengan manusia-manusia bengis dari manapun; namun tidak pernah mau toleransi kepada Ummat Islam.

Di negeri ini, Ummat Islam selalu menjadi batu yang diinjak-injak; semua kepentingan politik butuh dukungan Ummat agar mencapai eksistensi. Namun setelah eksis, mereka melukai, menindas, dan menzhalimi missi pembangunan Islam sedalam-dalamnya.

Namun, tetap saja. Semua itu adalah perhitungan tangan dan akal kita. Allah Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah selalu memiliki SIMPANAN rahmat bagi hamba-hamba-Nya yang istiqamah di jalan-Nya. Simpanan itu akan selalu terbuka dan dibuka, meskipun kita tidak tahu momentumnya.

Manusia jahat dan satanic, bisa menipu, menindas, dan menganiaya pejuang dan perjuangan Islam. Tetapi Allah Ta’ala akan selalu menjaga dan menolong hamba-hamba-Nya. ‘Alaihi tawakkalnya laa haula wa laa quwwata illa billah.

AMW.


BUKU BARU: “Republik Bohong!”

Februari 24, 2011

Alhamdulillah, dengan nikmat dan pertolongan Allah, akhirnya buku ini terbit juga. Judulnya: “REPUBLIK BOHONG: Hikayat Bangsa yang Senang Ditipu“. Diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta. Cetakan pertama, Februari 2011. Ukuran buku standar: 13,5 cm x 21,5 cm. Jumlah halaman: xiv + 330. Harga pasaran: Rp. 54.000,-

Ada 4 Bab penting dalam buku ini: Para Ahli Bicara tentang Indonesia, Rakyat Indonesia Mudah Ditipu, Membedah Akar Masalah Bangsa, dan Problema Bangsa & Solusi Islam. Awal buku dimulai dengan Pengantar dan Kalam Pembuka; akhir buku ditutup dengan Penutup.

Negara Tanpa Hakikat, Tanpa Eksistensi.

Buku ini termasuk genre Nahyul Munkar. Saya coba mengungkapkan sebuah tesis besar, bahwa sebenarnya: Bangsa Indonesia itu tidak nyata, hanya nama tanpa hakikat, sebatas identitas tanpa eksistensi. Apa yang selama ini disebut NKRI, Pemerintahan RI, atau Bangsa Indonesia, hanyalah formalitas belaka. Hakikatnya tidak ada.

Negara dibentuk, didirikan, dibangun, PADA HAKIKATNYA adalah untuk: menjaga rakyatnya, memelihara rakyatnya, memberdayakan rakyatnya, membahagiakan rakyatnya, memuliakan hidup mereka. Sebab, bila tidak untuk tujuan itu, maka tidak ada perlunya kita membentuk negara. Buat apa membentuk negara, kalau akhirnya negara itu sendiri menzhalimi, menindas, dan menjajah rakyatnya sendiri?

Nabi Muhammad Saw mendirikan negara Islam di Madinah, ialah demi menjaga kehidupan kaum Muslimin. Lalu tujuan itu beliau tunaikan sebaik-sebaiknya, sehingga dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin” [tidaklah Kami utus engkau (Muhammad), melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta].

Negara RI selama ini pada hakikatnya adalah “konsep bohong”. Secara formal, negara ini berdasar nilai-nilai moral yang tinggi. Tetapi secara faktual, semua itu tak ada REALITAS-nya. Konsep Pancasila, UUD 1945, atau konsep-konsep moral lainnya, telah dilemparkan ke tong sampah, sejak lama.

Tidak Ada Niat Baik Membangun Bangsa. Yang Ada Hanya: Kemunafikan!!!

Dan sayangnya, banyak orang berpikir pragmatis, “Emangnya gue pikirin?” Nah, itulah… Rakyat negara ini tidak mau hidup menderita; inginnya hidup penuh kesenangan dan tawa-canda; tetapi mereka enggan membayar harga dari kehidupan senang yang mereka inginkan itu.

Seakan, kegelapan telah menjadi “penerang”, dan cahaya dianggap sebagai kegelapan. Nas’alullah ‘al ‘afiyah lana wa lakum jami’an. Allahumma amin.

AMW.


PROMO BUKU: “Aku Membaca Aku Tersenyum”

November 24, 2010

Judul buku lengkap: “AKU MEMBACA AKU TERSENYUM: Pesona Humor, Pengalaman Hidup, Hikmah, dan Wawasan Segar.” Disingkat, AMAT.

Buku ini –seperti buku lainnya- telat saya promokan. Diterbitkan oleh Penerbit KHALIFA pada Juli 2010, tetapi baru sekarang dipromokan. Secara officially, tentu buku ini sudah dipromokan oleh Penerbit KHALIFA. Link promonya bisa dilihat disini: “Promo Buku AMAT”.

Buku “Aku Membaca Aku Tersenyum” termasuk buku paling unik di antara buku-buku yang pernah saya tulis. Buku ini bertema ringan, kreatif, humor, atau menjurus “hiburan”. Tetapi tentu saja hiburan yang baik, insya Allah. Dalam buku ini ada sekitar 60 entry tentang kisah, pengalaman hidup, renungan, hikmah, informasi, catatan kritik, anekdot, dll. Semua ditulis ringan-ringan, dengan tujuan memberikan hiburan segar dan sehat bagi pembaca.

Cover Depan Buku AMAT.

Secara ide, buku AMAT sebenarnya masih tergolong buku serius. Ia disusun karena suatu alasan tertentu. Singkat cerita, menurut analisis yang saya buat dengan parameter tertentu, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Dari setiap 1000 penduduk, paling hanya ada 6 atau 7 orang yang hobi membaca. Itu adalah jumlah yang sangat kecil sekali. Tidak sampai 1 %. Dengan kualitas minat baca serendah itu bagaimana bangsa Indonesia akan maju dan bersaing? Embel

Ditulis buku AMAT sebenarnya dalam rangka “mengompori” masyarakat, agar senang membaca, rindu membaca, dan hobi membaca. Ya, tujuan besarnya tentu nanti ke arah “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “ikut menciptakan ketertiban dunia”. He he he…kok jadi membahas tentang UUD ‘45 ya. Buku ini memang ingin mengajak masyarakat senang membaca, agar bangsanya maju. Karena masyarakat kita lebih suka hal-hal yang lucu, maka ditulis buku humor. Kalau ditulis buku semisal, “Kaidah Membaca dalam Kehidupan Insan”, khawatinya…kagak ada yang mau baca. Tujuannya sih serius, tetapi caranya agak berbau lawakan. (Mohon, para komedian di TV jangan merasa tersaingi ya…santai aja).

Secara umum, buku ini bagus sekali (he he he, namanya juga promo, boleh kan bilang begini… Kalau ditulis, “buku ini payah deh,” itu bukan promo namanya, tetapi “fitnah”…). Berbeda dengan buku-buku humor biasa, saya memuat lebih banyak kisah, hikmah, peristiwa, atau catatan yang bersifat nyata. Memang ada beberapa humor yang bersifat fiktif. Itu ada. Kalau dibaca insya Allah tidak nyesal deh. Lagi pula, khusus bagi saya, agar tidak ada kesan bahwa “abisyakir” itu serius melulu. Meskipun nantinya, entry buku itu tetap ada yang serius.

Sekedar gambaran ya…dalam buku ini saya memuat materi-materi antara lain: Kisah Lucu tentang Rokok, Salah Memasukkan Infak, Rahasia Negeri Impian, Makan Biawak Lokal, Duit Setumpuk di Zimbabwe, Angsa Ratu Inggris, Air Mata Sarjana Teknik, Nasib Seorang Senior, Kisah Unik Seputar Was-was, Bertanya Malah Ditertawakan, Sisi Jenaka Novel Andrea, 10 Manfaat Membaca, dll.

Namun ada beberapa materi yang menurut saya istimewa, antara lain: Menjebak Seorang Penipu (pengalaman nyata menjebak penipu SMS), Si Jangkrik Besar (pengalaman memelihara jangkrik di masa kecil), Buku “Indonesia Menggugat” (pengalaman meminjamkan buku ke guru di SD), Pengorbanan Kaum Sanusi (di Afrika Utara), Sosok Pahlawan Buku (dari Desa Jabung, Kab. Malang), dan Cara Praktis Mencintai Buku (bagian menjelang akhir).

Kisah kaum Sanusi di Libya sangat mengharukan. Ia merupakan catatan perjalanan Ustadz Muhammad Asad ketika membantu perjuangan kaum Sanusi (termasuk panglima Umar Mukhtar di dalamnya) menghadap penjajah Italia. Tentu saja kejadian itu terjadi di masa lalu, saat perjuangan Singa Padang Pasir, Umar Mukhtar rahimahullah. Kaum Sanusi adalah komunitas Muslim yang berjuang meraih kemerdekaan dari penjajah Eropa di Afrika Utara. Sayangnya, perjuangan mereka kandas justru karena sikap kaum Muslimin sendiri. Entry ini sangat layak dibaca, untuk memahami setting sejarah Islam di awal-awal abad 20.

Kalau pembaca tertarik, silakan membeli bukunya. Kalau tidak punya uang, silakan meminjam ke teman. Kalau tidak ada kawan yang memiliki atau mau meminjami buku, silakan berdoa saja agar kaum Muslimin di Indonesia mau meningkat minat bacanya. Soal humor atau hiburan, itu hanya wasilah saja, bukan esensi yang dituju. Tidak bisa mengakses tulisan bernuansa humor dari buku ini, masih banyak sumber-sumber lain. Toh, kalau otot rahang kita banyak “latihan” tertawa, atau bahkan “hobi” tertawa ngakak, pastilah nanti capek-capek juga. Iya kan?

Cover Belakang Buku AMAT.

Terkait buku AMAT sendiri, sejak awal terbit, saya sudah komitmen ke penerbit untuk membantu mempromokan buku ini. Tetapi masya Allah, kesempatan untuk itu selalu tertunda-tunda, sampai 4 bulanan. Dan baru ada kesempatan ketika media blog ini justru sedang berproses menuju masa transformasi  besar. Sebenarnya malu mempromokan buku ini setelah lewat sekian bulan. Tetapi bagaimana lagi, kesempatan dan keluangan baru ada saat ini. Tak apalah telat, asal tetap dipromokan. Minimal, untuk melunasi janji yang sudah disampaikan. (Sungguh, janji itu sesuatu yang sangat ringan terucap. Namun setelah itu, kita akan tersandera oleh janji tersebut, sampai kita bisa melunasinya. Biarpun telat dan akhirnya harus mengucap permohonan maaf).

‘Ala kulli haal, terimakasih atas perhatian pembaca budiman semua. Mohon maaf atas semua salah dan kekurangan. Dengan Anda mau sabar mantengi artikel-artikel di blog ini, sebenarnya Anda sekalian sudah LULUS dari missi yang dikehendaki buku, “Aku Membaca Aku Tersenyum”.

Lho, kok jadi susah mengakhirinya ya… Yo wis, sampai disini ajah. Matur nuwun. Syukran jazakumullah khair wa barakallah fikum jami’an. Amin.

[ P. E. N. U. L. I. S ].


Bedah Buku: “Cukup 1 Gus Dur Saja”

Maret 16, 2010

Alhamdulillah, kemarin 14 Maret 2010, diadakan bedah buku bertema, “Membendung Pemikiran Kyai Liberal”, di Ruang Anggrek Senayan Jakarta, dalam momen Islamic Book Fair (IBF) 2010. Sebagai pemateri, saya sendiri dan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Masing-masing membahas buku tulisannya sendiri. Saya membahas “Cukup 1 Gus Dur Saja“, sedangkan Ustadz Hartono membahas “Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs“.

Acara dimulai sekitar pukul 16.00, berakhir sekitar pukul 18.00. Alhamdulillah respon pengunjung/hadirin sangat baik. Kursi-kursi yang disediakan penuh, malah ada yang berdiri dan duduk di lantai. Ini untuk pertama kalinya saya menyampaikan bedah buku di forum IBF. Biasanya di forum-forum umum, di luar agenda pameran.

Cover Buku "Cukup 1 Gus Dur Saja"

Secara umum bedah buku berjalan lancar, para pengunjung antusias. Apalagi dengan gaya “apa adanya” Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Beliau sempat menjelaskan hal-hal yang membutuhkan detail, misalnya soal Anand Khrisna, Darmo Gandul Gatoloco, pemikiran orang musyrik seputar bangkai, dan lain-lain. Adapun saya sendiri mengungkap sebagian sisi dari buku “Cukup 1 Gus Dur Saja“.

Ada hal menarik dalam bedah buku. Dalam sesi tanya-jawab, ada seorang Muslimah, sepertinya masih berusia sekitar 20-an tahun. Dia menanyakan suatu pertanyaan yang cukup membelalakkan mata. Betapa tidak, dia dengan segala penampilannya yang feminim, sempat bertanya, kurang-lebih, “Bagaimana kalau tokoh-tokoh penyesat Ummat ini diberi sanksi dibunuh saja? Bagaimana pandangan ustadz?” Itu muslimah sangat feminim, tapi pertanyaannya “sangat jantan”. (Jadi teringat iklan sebuah kopi, “dikira lemah padahal kuat”. He he he…). Para pengunjung juga geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan seperti itu.

Ustadz Hartono merujuk buku “Bahaya JIL dan FLA”, menjelaskan bahwa hukuman bagi penghujat agama, memang hukuman mati. Adapun saya mengomentari pendek pertanyaan Muslimah itu. Kira-kira, “Tentang perlu apa tidak tokoh seperti Gus Dur dibunuh, saya rasa tidak perlu, sebab…” Belum juga dijawab para hadirin sudah pada menjawab, “Sebab dia sudah meninggal.” Akhirnya, geeerrr…

Terus terang, saya tercenung juga dengan momen bedah buku di IBF pada 14 Maret 2010 kemarin itu. Pasalnya, tanggal 14 adalah hari terakhir pameran. Wah, ada ribuan orang hadir di Senayan. Sampai untuk berjalan dari satu stan ke stan lain kadang harus sabar, sebab pengunjung berjubel di berbagai sisi. Ada niat untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya tidak kesampaian. Praktis saya datang ke Senayan, langsung dari Bandung, hanya benar-benar untuk bedah buku saja. Tak sempat melihat-lihat stan pameran. Jangankan ke stan buku lain, ke stan Pustaka Al Kautsar saja, hanya menengok sebentar, tidak bisa leluasa.

Berangkat dari Bandung jam 10.30 pagi, tiba di Jakarta sekitar pukul 14.00. Lalu naik kendaraan (Busway) dari Jatiwaringin ke Senayan, tiba disana sekitar jam 15.10. Tiba di lokasi pameran langsung ke toilet, sekalian untuk berwudhu, karena belum shalat Zhuhur dan Ashar. Setelah itu menuju stan Al Kautsar, kemudian ke mushalla. Setelah dari mushalla langsung ke ruang Anggrek, lokasi bedah buku. Pasca bedah buku, ramah-tamah dulu dengan panitia dari Al Kautsar sampai saat Isya’. Setelah itu langsung pulang ke Bandung lagi. Benar-benar perjalanan “kilat”, just for bedah buku only.

Oh ya, harga pasaran buku ini Rp. 28.000,- per eksemplar. Kalau di pameran IBF kemarin ada discount sampai 30 %, sehingga jatuhnya menjadi sekitar Rp. 21.000,-.

Dalam buku ini banyak yang saya ungkap, antara lain: Riwayat hidup Gus Dur; berbagai pujian publik kepadanya; rekam jejak pelanggaran Gus Dur terhadap Syariat Islam; bantahan klaim Gus Dur sebagai “Bapak Demokrasi”, “Bapak Pluralisme”,  “Bapak Humanisme, “Pembela Kaum Tertindas”, “Tokoh Ulama dan Wali”, “Bapak Bangsa”, dan sebagainya; mengungkap penipuan media dalam membuat kebohongan seputar Gus Dur; mengungkap kaitan antara paham Liberal dan missi penjajahan ekonomi; dan lain-lain. Termasuk, membantah tuduhan kaum sekuler selama ini, bahwa seolah kalangan Islam berniat menghancurkan NKRI. Padahal dalam kajian ini disebutkan, justru kaum Liberal itulah penghancur kehidupan bangsa sesungguhnya.

Ya, ini informasi permulaan tentang buku “Cukup 1 Gus Dur Saja“. Nanti akan diberikan versi “thriller”-nya di blog ini. (Kayak film bioskop saja…). Semoga bermanfaat bagi kita semua. Allahumma amin.

AMW.


Metode Rusak dalam Menggali Berita (Sebagian Isi Buku “Salafi Ekstrem”)

April 27, 2009

Mula-mula harus disadari, bahwa cara yang dipakai oleh para pemuda ekstrem itu adalah: Tajassus! Ia adalah metode mencari-cari kesalahan manusia, sampai sekecil-kecilnya. Cara demikian tidak boleh ditempuh di antara sesama Muslim, sebab hukumnya haram. Dalam Al Qur’an, “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan (sesama Mukmin), dan janganlah kalian satu sama lain saling menggunjing.” (Al Hujuraat: 12).

Tajassus sangat berbahaya, karena bisa mematahkan persatuan kaum Muslimin, mengobarkan permusuhan di antara mereka, dan menyebarkan kerusakan meluas di muka bumi. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya engkau, jika selalu menyelidiki aurat (kesalahan) kaum Muslimin, maka engkau telah merusak mereka. Atau hampir saja engkau merusak mereka.” (HR. Abu Dawud dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu).

Seandainya tajassus itu halal dilakukan (misalnya karena dibutuhkan oleh penguasa Muslim), maka cara-cara yang ditempuh haruslah Islami. Ia harus dilakukan secara adil, sehingga diperoleh informasi-informasi yang benar, sehingga akhirnya tidak merugikan kepentingan pihak-pihak tertentu. Hal itu ditempuh dengan memanfaatkan informasi dari orang-orang beriman yang dikenal baik reputasinya. Dalam ilmu hadits, ia termasuk metode periwayatan hadits. Hadits tidak diterima, melainkan dari para rawi (pembawa riwayat) yang dikenal tsiqah dan dhabith.

Namun yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Salafi ekstrem itu, mereka bersandar pada metode Googling (mengumpulkan berita melalui search engine Google). Cara demikian jelas sangat keliru, tidak bisa diterima. Untuk mengetahui keadaan seseorang atau suatu organisasi, harus merujuk kepada orang-orang beriman yang mengetahui informasi tersebut. Sedangkan Googling tidak bisa menjamin, bahwa informasi yang diperoleh akan benar, lurus, dan adil. Apalagi di dunia internet sudah dikenal luas, banyak pengguna internet melakukan pemalsuan data. Dalam chatting atau friendster banyak pengguna internet memoles data-data pribadinya, sehingga tampak mengesankan dan penuh daya-tarik.

Lagi pula, jika Google menjadi andalan, maka informasi yang diperoleh tidak akan lengkap, sebab yang tersebar disana hanyalah menyangkut sebagian data-data seseorang atau lembaga. Sebagian lain yang tidak termuat di internet, tidak bisa diketahui keadaannya. Bisa jadi, informasi yang tidak termuat di internet itu justru merupakan inti informasi yang seharusnya diketahui.

Baca entri selengkapnya »


Mukaddimah Buku “SALAFI EKSTREM”

April 27, 2009

Mukaddimah

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wahdahu laa syarikalah, lahul Mulku wa lahul Hamdu Yuhyi wa Yumitu wa Huwa ‘ala kulli syai’in Qadiir. Shalwatullah wa salamuhu ‘ala Rasulil mubin Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim tasliman katsira. Amma ba’du.

Siapapun yang memiliki hati nurani, pasti bisa merasakan bahwa perselisihan itu berat, meletihkan, menguras energi. Apalagi perselisihan antar sesama Muslim, antar sesama aktivis dakwah, antar sesama elemen-elemen Islam. Sungguh, bukan akhlak terpuji dan bukan pula tanda kebenaran iman, dengan melazimkan diri selalu berselisih dengan sesama Muslim, berbahagia dengan pertengkaran, merasa jemu jika hari-hari tidak diisi dengan perseteruan. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari fitnah perselisihan yang membinasakan. Amin.

Namun suatu saat, keadaan memaksa kita untuk berselisih, menerjuni konflik pemikiran berkesinambungan, menunjukkan pendirian yang dipegang, serta membantah kesesatan dan kemungkaran. Semua itu diterjuni bukan hanya karena alasan-alasan khusus, tetapi dengan niatan menolong agama Allah sekuat kesanggupan. Perselisihan jelas sangat meletihkan, tetapi membiarkan Syariat Agama Allah menjadi bulan-bulanan manusia tidak bertanggung-jawab, akibatnya akan lebih meletihkan lagi. Pengaruh kesesatan pemikiran tidak hanya menimpa satu dua orang dalam satu generasi, tetapi ia bisa menyebar luas di tengah-tengah kaum Muslimin, lalu diwariskan dari generasi ke generasi.

Setelah menulis Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (DSDB), saya berharap hal itu dipahami sebagai koreksi balik terhadap pihak-pihak tertentu yang sangat sering mengoreksi orang lain. Prinsipnya sederhana saja: “Siapa yang suka mengoreksi, maka dia juga berhak dikoreksi.” Itulah prinsip dasarnya. Namun, perselisihan itu ternyata belumlah usai, bahkan memunculkan kenyataan-kenyataan baru. Alhamdulillah atas pertolongan Allah ketika kita diberi kesempatan untuk menyampaikan koreksi kepada sebagian kaum Muslimin; dan alhamdulillah pula atas segala kenyataan kemudian yang harus terjadi. Setiap ketentuan-Nya, insya Allah menjadi takdir terbaik yang harus berlaku, atas diri saya, Anda, mereka, Ummat Islam, dan kita semua.

Kenyataan baru yang sangat terasa di masa-masa sekarang ialah munculnya pembelaan membabi-buta dari kalangan sebagian Salafi yang tidak menerima koreksi-koreksi yang ditujukan kepada mereka, termasuk koreksi yang muncul di DSDB I & II. Pembelaan itu dipublikasikan lewat internet. Ternyata, mereka membuat pembelaan-pembelaan yang sangat tidak manusiawi. Demi menolong kehormatan kelompok dan membela slogan-slogan yang dianggap sudah permanen, mereka menyebarkan tulisan-tulisan fitnah, provokasi, kedustaan, sarkasme, penghinaan, adu-domba, dan sebagainya. Menyaksikan perilaku seperti itu, sampai ada yang berkomentar, “PKI saja tidak bersikap seperti mereka!”

Bagi orang-orang itu (selanjutnya disebut Salafi ekstrem),[1] bisa jadi mereka merasa telah menunaikan jihad agung, meraih ghanimah pahala berlimpah, mencetak amal kebajikan menakjubkan, mendapat semerbak wangi puji-pujian, serta mencapai keridhaan Allah, Rasul, dan seluruh makhluk di bumi dan di langit. Tetapi dari keseluruhan sikap yang mereka tunjukkan, ia justru semakin menegaskan kesesatan pemahaman mereka selama ini. Semakin keras mereka menyerang, semakin teliti mereka melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan), semakin terkuak kebathilan manhaj dan pemikirannya. Tidaklah “jihad” mereka bertambah gencar, melainkan semakin menelanjangi kehormatan dirinya sendiri.

Dari sisi lain, ada masalah besar yang harus dicermati. Para pemuda Salafi ekstrem itu, mereka telah melakukan permusuhan terhadap sekian banyak lembaga-lembaga dakwah Islam di Indonesia. Perkara inilah yang paling berat dan sangat riskan jika dibiarkan begitu saja.

Salah satu contoh, yaitu kebiasaan orang-orang itu menelanjangi aktivitas suatu lembaga Islam dan mencari-cari informasi seputar kehidupan para dai dan tokoh-tokoh Muslim yang concern dengan dakwah Islam. Setelah mendapatkannya, mereka susun semua itu dalam tulisan-tulisan terperinci, lalu disiarkan lewat internet, sehingga bisa dibuka oleh seluruh manusia di muka bumi. Cara seperti ini merupakan kemungkaran akbar, sebab mereka membuka rahasia-rahasia Ummat Islam di hadapan kawan dan lawan. Jika diketahui sesama Muslim, ia bisa merusak hubungan Ukhuwwah Islamiyyah; jika diketahui orang-orang non Muslim, mereka akan mendapat “ghanimah” informasi secara cuma-cuma.

Buku ini berjudul, “WAJAH SALAFI EKSTREM DI DUNIA INTERNET: Propaganda Menyebarkan Fitnah dan Permusuhan”. Sebagaimana judulnya, dalam buku ini saya mencoba membahas kemungkaran pemuda-pemuda Salafi ekstrem yang menyebarkan fitnah-fitnah berbahaya melalui media internet. Perbuatan mereka bisa disamakan dengan makar untuk merobohkan dakwah Islam.

Sebagai penulis, saya tidak mengharamkan kritik, bantahan, atau perdebatan yang bersifat ilmiah. Toh, setiap orang memiliki hak untuk berpendapat, dan diri saya sendiri tidak luput dari berbagai salah dan kekurangan. Adanya perdebatan yang sehat, saling mengemukakan argumentasi, dan menguji kekuatan dalil; tentu seperti itulah yang diharapkan. Insya Allah, kita akan merujuk setiap kebenaran yang ditopang oleh alasan-alasan kuat dan shahih. Alhamdulillah. Namun jika sudah menyangkut fitnah, permusuhan, dan makar terhadap dakwah Islam, tentu ia merupakan masalah lain yang perlu dihadapi dengan pendekatan berbeda.

Melalui buku ini saya ingin menasehatkan kepada para pengguna internet (netters), agar mereka menjauhi situs-situs internet yang penuh fitnah, dusta, dan permusuhan. Apa yang ada disana adalah tumpukan fitnah menyala-nyala. Anda jangan pernah sekali pun mempercayai tulisan-tulisan itu, meskipun hanya satu kalimat saja. Bahkan kalau mereka menyebut terjemah Al Qur’an, jangan langsung diterima, tetapi periksalah dulu ke terjemah aslinya. Nanti akan saya tunjukkan sebagian bukti-bukti, bahwa apa yang mereka tulis tidak bisa dipercaya. Hal itu juga berlaku terhadap tulisan dan media-media internet serupa.

Kepada para pemuda Salafi ekstrem, seperti Abu Abdillah Ibrahim, Abdul Hadi, Abdul Ghafur, dan lain-lain, saya ajak Anda kembali ke jalan yang lurus, berdakwah secara ihsan, meletakkan ilmu pada tempatnya, dan menghentikan segala provokasi keji yang sangat berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala. Masih ada waktu untuk berbenah, sebelum ruh sampai di tenggorokan, sebelum matahari belum terbit dari Barat. Berhentilah dari memusuhi elemen-elemen dakwah Islam, mulailah hidup baru, membina kebajikan demi kebajikan, mengganti seluruh perbuatan-perbuatan fasid (merusak) yang selama ini dilakukan. Jika karena ketinggian hati, Anda semua enggan untuk berbenah atau bertaubat kepada Allah, maka ketinggian hati itu pula yang dulu membuat iblis dilaknati sampai akhir jaman.

Dan kepada kaum Muslimin yang diberi anugerah kemampuan, mohon manfaatkan kemampuan Anda untuk melindungi Ummat Islam dari merebaknya fitnah-fitnah yang menyebar dari situs-situs tercela itu. Jika mampu melakukan bantahan, bantahlah; jika bisa memberi nasehat, sampaikan nasehat; jika bersedia berdoa, doakan agar Allah menghentikan semua itu. Amin.

Terakhir, saya sampaikan ucapan terimakasih setulusnya kepada semua pihak yang telah membantu penulisan, penerbitan, dan penyebaran buku ini. Khususnya ucapan terimakasih kepada Penerbit AD DIFA’ Press dan jajarannya. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan yang ada.

Semoga Allah menolong kita untuk meniti jalan yang diridhai-Nya, memaafkan dosa-dosa kita, serta memberikan kesyukuran atas berbagai kebaikan yang dikaruniakan-Nya. Semakin hari perilaku manusia semakin tidak terkendali, hanya pertolongan dan perlindungan-Nya yang bisa diandalkan. Ya Allah ya Rabbi, ringankanlah beban-beban kesulitan yang terpikul di pundak kami dan gembirakan hati kami dengan berita-berita menyenangkan tentang kemenangan agama-Mu. Amin Allahumma amin.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa shallallah ‘alan Nabiy Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AM. Waskito.


[1] Sebagian orang mungkin tidak setuju menyebut mereka sebagai Salafi, sebab perilakunya tidak sesuai dengan keteladanan Salaf. Namun, mereka memang mengklaim diri sebagai Salafi.