Kritik Pidato SBY Terbaru (29 Mei 2012)

Mei 29, 2012

Kekuatan Terakhir: Pidato dan pidato…

Nuwun sewu….permisi. Disini kita ingin mengajukan beberapa kritik untuk pidato Pak SBY terbaru. Pidato itu bertema, gerakan penghematan nasional. Disiarkan MetroTV, TVOne, dan SCTV pada tanggal 29 Mei 2012, sekitar pukul 19.00 s/d 19.45 WIB.

Berikut beberapa kritik yang bisa disampaikan:

[1]. Pak SBY menyebutkan kondisi perekonomian nasional yang katanya stabil dengan beberapa indikasi, tetapi juga bermasalah. Khususnya karena persoalan belanja APBN yang membengkak. Kalau beberapa waktu lalu pemerintah beralasan dengan krisis Timur Tengah (soal Selat Hormuz) untuk menaikkan harga BBM; sekarang lain lagi alasan, yaitu krisis Eropa (khususnya di Yunani).

KRITIK: Rasanya selalu ada alasan bagi pemerintah untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Andaikan tidak ada krisis Eropa, pasti akan dicari alasan lain untuk membela kebijakan yang secara langsung bisa merugikan rakyat.

[2]. Pemerintah –melalui SBY- mengemukakan beberapa teori tentang penghematan energi (sekaligus penghematan APBN). Tetapi ujung-ujungnya balik lagi ke topik: menurunkan atau mengurangi belanja APBN untuk subsidi BBM.

KRITIK: Kalau begitu masalahnya, mestinya jujur saja mengaku bahwa pemerintah kecewa karena harga BBM gagal dinaikkan pada tanggal 1 April 2012 lalu. Jangan beretorika terlalu njelimet untuk akhirnya membahas lagi soal pengurangan subsidi BBM.

[3]. Ada 5 kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk merealisasikan kebijakan penghematan nasional, yaitu: (a). Di SPBU-SPBU akan dipasang program berbasis IT untuk memastikan bahwa BBM bersubsidi jatuh ke tangan yang berhak; (b). Mobil pemerintah, BUMN, BUMD, diwajibkan memakai BBM non subsidi, tidak boleh memakai BBM bersubsidi (bensin); (c). Untuk sarana transportasi di perkebunan-perkebunan, juga harus memakai BBM non subsidi. Pemerintah meminta Pertamina membangun pangkalan-pangkalan BBM di perkebunan-perkebunan; (d). Untuk transportasi umum, secara bertahap akan dilakukan konversi dari BBM biasa ke BBG (bahan gas). Diperkirakan akan tampak hasilnya mulai tahun 2013; (e). Gedung-gedung milik pemerintah harus melakukan penghematan listrik dan air.

KRITIK: Program-program seperti ini sering diserukan di masa pemerintah SBY, tetapi dalam realitas di lapangan jarang yang berhasil. Umumnya, hanya menjadi sumber isu dan diskusi saja (termasuk jadi sumber tulisan di blog. He he he…). Intinya, pemerintah tidak punya uang banyak, makanya tak mampu membiayai program-program mereka. Manajemennya “gali lubang, tutup lubang”.

[4]. Jika pemerintah konsisten dengan program tersebut –seandainya konsisten-, maka kebijakan itu juga bisa berakibat meningkatkan inflasi karena kendaraan umum sangat dipantau pembelian BBM mereka di SPBU-SPBU; berakibat membengkakkan anggaran transportasi aparat pemerintah dan birokrasi, sedangkan hal itu bisa membuka pintu-pintu korupsi dan kolusi; menurunkan daya saing produk perkebunan, karena mereka kena getah larangan memakai BBM bersubsidi; menimbulkan konflik aparat versus masyarakat, karena SBY menekankan agar aparat keamanan bersikap tegas bagi siapa yang melanggar aturan pemakaian BBM.

[5]. Menjelang bagian akhir pidato, SBY mengatakan, “Kebijakan penghematan itu pasti bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.”

KRITIK: Kata siapa Pak, pasti menguntungkan? Siapa bisa memastikan bahwa kebijakan itu pasti menguntungkan? Dilihat dari kacamata siapa, ditengok dari kepentingan siapa? Tidak bisa Pak Presiden memastikan begitu saja, tanpa mengkaji masalah tersebut dari berbagai sisi. Contoh, mengapa kalangan perkebunan juga dibebani kewajiban memakai BBM non subsidi? Bukankah di lingkungan perkebunan itu banyak petani/pekebun miskin yang bekerja disana? Harus ingat, orang miskin katanya berhak dapat subsidi BBM. Justru kebijakan seperti itu bisa mematikan sumber kehidupan para petani/pekebun tersebut. Kecuali, untuk perkebunan-perkebunan yang dimiliki pribadi, industry, atau pengusaha.

[6]. Ada dua kebijakan primitif kepemimpinan SBY yang akhirnya menyusahkan dirinya dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Pertama, SBY bermudah-mudah mencari hutang ke lembaga donor, negara asing, atau dengan menjual SUN (Surat Utang Negara). Idenya, “Kalau negara bokek, tinggal ngutang saja.” Ini adalah pemikiran primitif, kalau tidak sangat berbahaya; karena yang harus menanggung beban hutang itu adalah rakyat semua; para pejabat memiliki banyak kekayaan yang memungkinkan mereka bisa hidup enak di negara mana saja yang mereka suka (di luar Indonesia). Rata-rata pejabat, elit politik, atau pengusaha Indonesia sudah punya rumah untuk menyelamatkan diri di luar negeri. Omong kosong mereka bicara nasionalisme. Meminjam istilah Gombloh, “…kucing rasa coklat, buat nasionalisme mereka!”

Kedua, SBY memperbanyak PNS, relawan PBNS, pengangkatan guru baru, guru honorer, guru bantu, dll. yang akibatnya sangat menyedot anggaran negara. Mengapa SBY lakukan itu? Jawabannya simple, supaya dia terpilih lagi dan lagi. Singkat kata, sebenarnya hancurnya struktur belanja APBN negara, itu karena salah dia sendiri selaku pemimpin yang sembrono memainkan keuangan negara. Maka kebijakan SBY itu seperti: menutup lubang dengan membuat lubang yang baru!

[7]. Secara visual, ada sesuatu yang lucu. Dalam pidato itu Pak Presiden memakai bahasa formal dan baku, tetapi sangat lancar dan mengalir. Padahal dia tidak terlihat membaca teks (paper) atau melihat tulisan di meja podium. Pertanyaannya, apakah dia hafal isi teks pidato itu? Kemungkinan besar, dia membaca teks di layar yang posisinya diletakkan di belakang kamera shooting. Teknik ini seperti yang biasa dilakukan para presenter berita TV atau pejabat negara tertentu. Alasannya: (a). Posisi presiden saat itu menghadap kamera, sedangkan menteri-menterinya ada di sisi kanan Presiden. Mestinya, posisi menteri ada di depan presiden, biar kelihatan kalau dia sedang mengarahkan menterinya juga; (b). Raut muka para menteri itu kelihatan tidak semangat, lesu, dan seperti menahan suatu beban berat. Mungkin mereka tahu “drama” yang sedang dimainkan pemimpinnya; (c). Beberapa kali presiden salah mengucapkan kata-kata, lalu memperbaikinya. Kalau dalam pidato tanpa teks, tidak perlu mengulangi membaca. Tampaknya disana Pak Presiden perlu mengeluarkan biaya khusus untuk melakukan pidato “tanpa teks” itu, demi pencitraan yang lebih baik. Nah, dengan logika pencitraan yang butuh biaya tambahan ini, bagaimana bisa Pak Presiden ingin bicara soal Gerakan Penghematan Nasional? Beliau sendiri sudah mencontohkan sikap hambur biaya, sekedar untuk pencitraan pidato “tanpa teks”. Sikap demikian ini sering membuat kebijakan-kebijakan presiden ini kandas di tengah jalan. Ya gimana lagi, kebijakan tidak dimulai dari dirinya sendiri.

Demikianlah…beberapa catatan kecil. Secara pribadi, saya skeptis dengan ide penghematan nasional itu. Bukan karena apa, sebab pemerintah SBY memang dikenal inkonsisten sejak dulu. Mau berantas korupsi, buktinya di tubuh Demokrat banyak koruptor; mau penegakan hukum, kasus Century didiamkan sekian lama; mau berantas narkoba, pelaku kejahatan narkoba malah diberi keringanan hukuman; mau penghematan APBN, buktinya kerugian lumpur Lapindo sekitar 8 triliun ditanggung negara; mau memberi contoh sikap negarawan, anak-isteri, kerabatnya, pada terjun ke dunia politik; bicara soal pertumbuhan ekonomi, orang asing yang menikmati; bicara solusi kemiskinan, buktinya orang miskin secara riil sangat banyak; dan lain-lain.

Oke deh…begitu saja. Terimakasih atas semua perhatiannya. Selesai ditulis, 29 Mei 2012, pukul 22.37 WIB. Publikasi, 30 Mei 2012, pukul 04.35 WIB. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. []

Mine.


Mengapa Pemerintah Menaikkan Harga BBM?

Maret 8, 2012

Sebentar lagi harga BBM akan dinaikkan lagi. Katanya, dimulai bulan April 2012. Alasan formal Pemerintah SBY, menyesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia yang berada di atas US$ 100 per barrel.

Secara teori, kalau minyak dunia seharga itu, berarti Pemerintah harus menaikkan subsidi BBM untuk rakyat. Subsidi ini kalau kebanyakan, dan berjalan dalam tempo lama,  bisa “menjebol” APBN. Ya begitu katanya.

Namun yang menjadi masalah berat di negeri kita, kenaikan BBM itu merupakan signal pertanda KENAIKAN PENDERITAAN & KEMISKINAN. Mengapa begitu? Karena sudah menjadi kultur kaum pebisnis dan pedagang di Indonesia; mereka akan serentak menaikkan harga-harga (barang dan jasa) begitu ada kenaikan harga BBM. Termasuk biaya transportasi. Ini sudah otomatis naik.

Politik Regim: "Bohong itu biasa. Meski harus mengorbankan rakyat banyak!"

Santunan Pemerintah berupa BLT yang katanya senilai Rp. 150 ribu per bulan, per kepala keluarga itu; sangat tidak berarti untuk mengerem laju penderitaan dan kemiskinan itu. Ibaratnya, BLT itu seperti “suntikan mati rasa”. Ia bisa menolong sementara waktu, tapi setelah pengaruh zat anastesinya berakhir, penderitaan itu akan dirasakan dalam masa panjang.

Oke, kembali ke modus kenaikan harga BBM…

Kesalahan Pemerintah selama ini, karena mereka selalu bergantung kepada mata uang dollar. Ketika negara-negara lain sudah mulai mendiversifikasi mata uang, untuk transaksi perdagangan internasional; nah, Pemerintah RI masih sangat setia dengan penggunaan mata uang dollar. Ini masalah besar.

Kesalahan lain, krisis di Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat; bisa jadi krisis ini akan benar-benar berjalan dalam bentuk konflik antara kedua negara. Tetapi bisa juga ia seperti “main mata” antara Iran dan Amerika, sebagai alasan untuk menaikkan harga minyak dunia. Sebab, secara fisik, moral, dan spiritual, Amerika di era Obama tidak siap melakukan perang, setelah mereka kehabisan anggaran sangat besar akibat konflik di Irak dan Afghanistan.

Jadi masalah Selat Hormuz bukanlah masalah jangka panjang. Ia akan segera selesai. Baik Iran maupun Amerika sedang tidak siap terjun dalam peperangan. Karena itu menjadikan masalah temporer sebagai alasan kenaikan harga BBM sangatlah naif. Ini adalah masalah yang tidak bersifat permanen.

Mungkin pertanyaannya, mengapa Pemerintah SBY sangat nafsu ingin menaikkan harga BBM, dengan alasan kenaikan subsidi BBM?

Alasannya, karena proporsi APBN kita 60 % untuk biaya gaji PNS, Polri, dan TNI. Jadi sebagian besar untuk kebutuhan “belanja rutin”. Kalau misalnya pos subsidi BBM semakin membengkak, maka gaji sekitar 6 juta orang (PNS, Polri, dan TNI) itu akan dikorbankan. Padahal kita tahu, dukungan terbesar bagi Pemerintahan SBY muncul dari sektor orang-orang ini. Jadi disini ada unsur politik-nya, yaitu mengamankan Pemerintahan, dengan mengamankan dukungan PNS, Polri, dan TNI.

Adapun 30 % APBN itu dipecah-pecah untuk segala macam sektor kebutuhan, termasuk pembangunan jalan-jembatan (infrastruktur), operasional departemen, dukungan ke daerah-daerah, pendidikan, dll. Sedangkan 8-10 % APBN, bersifat sisa-sisa. Sedangkan proporsi untuk subsidi BBM sendiri hanya sekitar 8 % dari nilai APBN per tahun.

Dengan proprorsi seperti di atas, maka APBN Indonesia selalu dalam keadaan “tidak sehat” atau “rentan”. Ya bagaimana tidak, 60 % APBN untuk gaji para PNS, Polri, dan TNI. Jadi seolah hakikat RI itu ya menggaji para PNS dan angkatan tersebut. Kasihan sekali ya.

Mengapa Pemerintah tidak menambah hutang saja untuk mencukupi biaya APBN?

Waduh, hutangnya sudah sangat banyak. Saat ini saja nilai hutang Pemerintah sekitar 1800 triliun rupiah (di awal Pemerintahan SBY sekitar 1250 triliun rupiah). Untuk membayar hutang ini, 10 % nya saja senilai 180 triliun setiap tahun. Sedangkan nilai subsidi BBM per tahun, katanya 250 triliun. Jika Pemerintah ngutang lagi, serumit apa kira-kira beban keuangan negara nanti?

Ya begitu deh…sumpeknya urusan birokrasi, yang semua itu sebenarnya dibuat susah sendiri. Kebijakan LIBERALISASI ekonomi di segala sektor, perlahan tapi pasti membuat bengkak belanja APBN. Dan akhirnya para birokrat kesusahan sendiri. Sedikit ada gejolak, main naikkan harga BBM saja.

Ke depan mungkin masalah-masalah ini bisa menjadi lebih sulit lagi, karena bangsa kita sudah terlalu jauh jatuh dalam jeratan sistem kolonialisme global. Ya itulah dampak dari segala macam sikap yang TIDAK BERIMAN dan MENARUH HORMAT terhadap ajaran-ajaran Wahyu Allah Ta’ala. Tanpa Wahyu, dengan apa kita akan bisa mengalahkan orang-orang kufar asing? Mimpi kali ye…

Singkat kata, kenaikan harga BBM ini karena negara sudah sangat kerepotan dengan belanja APBN. Untuk bayar hutang negara, untuk subsidi BBM, untuk biaya politik demokrasi, untuk anggaran pemerintah daerah, dan tentunya yang sangat dominan ialah: untuk gaji PNS, Polri, TNI.

Allahumma antas salam wa minkas salam tabarakta ya dzal jalali wal ikram. (Ya Allah Engkau-lah Maha Selamat, dari-Mu datangnya keselamatan, Maha Suci Engkau yang Maha Agung dan Maha Mulia). Silakan baca doa ini, istighfar, shalawat Nabi, manakala Anda dihimpit oleh segala kesulitan.

AMW.


Bung Abraham Samad dan Revolusi Kehidupan!

Februari 20, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Ini adalah ucapan baik yang perlu kita lantunkan melihat gebrakan-gebrakan Ketua KPK yang baru, Bung Abraham Samad. Pemimpin KPK yang berani, bernyali, dan pro keadilan; adalah dambaan seluruh insan Indonesia.

Ketua-ketua KPK sebelumnya (selain Antasari Azhar), lebih banyak bermain-main retorika, menikmati publikasi, kongkow dengan wartawan, senang buat jumpa pers, dll. Lagaknya banyak, tenaga pemberantasan korupsi letoy.

Dalam masa kepemimpinan tidak lama, Bung Abraham Samad sudah membuat gebrakan-gebrakan. Pertama, dia tetapkan Miranda Goeltom sebagai tersangka kasus suap pemilihan Deputi Senior BI. Kedua, dia tetapkan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus Wisma Atlet. Dan belum lama lalu, Bung Abraham Samad berjanji, akan menyelesaikan kasus Century di tahun ini (2012). Ya, tipikal pemimpin yang tegas, bernyali, dan berani mati itulah yang kini dinantikan oleh masyarakat dari lembaga KPK.

Antasari Azhar pernah mengatakan teori “makan bubur ayam”. Kalau makan bubur panas, harus dari pinggir. Nanti ujungnya akan sampai ke tengah (maksudnya, lingkaran dalam kekuasaan SBY). Namun sebelum Bung Antasari selesai makan bubur, mungkin baru makan kerupuk dan daun-daun seledri-nya, beliau sudah “dihadiahi” sejumput kisah seputar Rani Yuliani; sebuah kisah yang kelihatan sangat dibuat-buat.

Untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Indonesia, kita bisa gambarkan metode praktisnya sebagai berikut:

== Menangkapi para pejabat-pejabat birokrasi, siapapun dirinya, yang terlibat korupsi. Pejabat itu bisa dari level bawah sampai ke tampuk kekuasaan Kepresidenan. Toh, menurut laporan Wikileaks, lingkar kekuasaan SBY tidak sepi dari korupsi. Apalagi setelah terbongkar prahara Partai Demokrat seperti saat ini.

== Kalau para pejabat korup sudah dibereskan, sasaran diarahkan ke lembaga-lembaga hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan lainnya. Sebab yang membiarkan kasus-kasus korupsi itu berlarut-larut, ya lembaga-lembaga hukum ini.

== Kalau itu sudah selesai, masuk ke korupsi korporasi, oleh perusahaan-perusahaan, baik lokal maupun asing. Disana terdapat sangat banyak kasus korupsi dengan segala bentuknya. Semua itu harus dibasmi. Ibaratnya, kalau kita sudah punya “sapu yang bersih”, pakailah ia untuk membersihkan sampah di halaman (bisnis korporasi).

== Setelah itu, baru kita bangun kehidupan masyarakat yang bebas korupsi, kezhaliman, monopoli, penindasan minoritas, dan sebagainya. Ujungnya akan kesana, sehingga harapan masyarakat adil dan makmur itu akan tercapai. Insya Allah.

Namun, langkah demikian tentu tidak mudah. Banyak mafia-mafia yang harus dihadapi oleh Bung Abraham Samad dan kawan-kawan. Di antara mafia itu adalah: mafia MEDIA, mafia PAKAR/PENGAMAT, mafia birokrasi, mafia hukum, mafia beneran (preman dan kriminalis), mafia poilit (elit dan partai politik), mafia bisnis (konglomerat dan anak-buahnya), mafia asing (dalam segala bentuknya). Semua mafia ini harus dihadapi.

Sebagai sebuah langkah awal, gebrakan Bung Abraham Samad harus kita dukung. Selanjutnya perlu dilakukan langkah-langkah sistematik untuk membersihkan korupsi, dan mematahkan mata-rantai mafia-mafia durjana itu. Semoga Allah Al ‘Aziz menolong untuk menyelamatkan negeri dari angkara murka, kezhaliman, dan penindasan (minoritas). Amin Allahumma amin.

Dan tentu, Bung Abraham Samad harus hati-hati. Jangan sampai nanti beliau (seperti kasus Antasari) diberi “Rani Yuliani” dalam bentuk yang lain. Doakan semoga beliau istiqamah dalam membela keadilan dan melenyapkan kezhaliman. Amin Allahumma amin.

AMW.


Jangan Terlalu Berharap Kepada Ketua KPK Baru!

Desember 28, 2011

Ketua KPK periode 2012-2016 sudah terpilih. Dia bernama Abraham Samad. Tokoh muda 44 tahun ini menggantikan Busyro Muqaddas yang saat ini beralih posisi menjadi Wakil Ketua KPK. Abraham Samad (apakah ada hubungan dengan Bibit Samad?), terpilih secara aklamasi oleh anggota Komisi III DPR dengan 43 suara (dari 55 suara).

Seperti biasa, rakyat Indonesia sangat berharap kepada pemimpin KPK yang baru ini. Harapan rakyat sangat besar agar aksi pemberantasan korupsi benar-benar efektif dan adil. Ya, negara mana yang akan maju kalau fenomena korupsi merata dimana-mana?

Lebih Sejuk Melihat Rumput. Daripada Melihat Wajah Kaum Elit.

Tetapi masalahnya, apa harapan itu benar-benar nyata, atau hanya impian kosong saja? Jujur, kalau melihat kehidupan elit-elit politik selama ini, termasuk sosok para Ketua KPK, sangat sulit berharap. Mereka selama ini lebih banyak omong ketimbang banyak guna.

Coba perhatikan artikel berikut ini: Mau Tahu Gaji Abraham Samad Cs? Coba perhatikan rincian gaji tersebut! Misalnya, gaji pokok Rp. 5 juta. Sedangkan tunjangan jabatan sampai Rp. 15 juta lebih. Ditambah lagi tunjangan kehormatan, tunjangan perumahan, tunjangan transportasi, tunjangan hari tua, dan asuransi kesehatan. Total gaji Ketua KPK, Rp. 72.200.000,- (tujuh puluh dua juta, dua ratus ribu rupiah). Sedangkan gaji Wakil Ketua KPK, Rp. 63.120.000,- (enam puluh tiga juta, seratus dua puluh ribu rupiah).

Mungkin, ke depan gaji Ketua KPK Cs. bisa ditambah lagi dengan: tunjangan santai, tunjangan wisata, tunjangan nonton film, tunjangan popularitas, tunjangan anak-cucu, tunjangan pelesir ke luar negeri, tunjangan BBM, tunjangan main facebook-an, tunjangan kegelisahan, tunjangan duka-cita, tunjangan pernikahan anak, tunjangan memelihara burung kicauan, dan seterusnya. Jadi list tunjangan-tunjangan ini bisa diperpanjang, sehingga kegiatan pokok anggota KPK hanyalah memelototi gaji bulanan mereka, di rekening-rekening yang “cepat gendut” itu.

Mungkin, dasar pemikirannya, “Gaji Ketua KPK Cs perlu dibesarkan, biar mereka tidak ngiler kalau menghadapi penyuapan dari para koruptor.” Masalahnya adalah: dengan gaji yang nilainya bisa mencapai 60 kali atau 70 kali UMR itu, mental mereka justru letoy. Mereka jadi takut mati, karena setiap bulan selalu menanti-nanti gaji besar. Para pemulung yang penghasilan cuma Rp. 25 ribu sehari, mereka berani mati, mengais sampah plastik di kiri-kanan rel kereta api. Tetapi dengan gaji 60-70 jutaan, mental manusia jadi rapuh. Yang dia pikirkan hanyalah gaji doang, day to day.

Saya sarankan agar bangsa Indonesia tidak usah banyak berharap kepada sosok Abraham Samad Cs. Jangan berharap banyak. Biasanya, manusia-manusia seperti ini (serupa dengan anggota DPR dan menteri-menteri Cs), sudah terkena TIGA PENYAKIT MEMATIKAN.

Apa saja 3 penyakit itu? Pertama, BANYAK OMONG. Kedua, BANYAK GAYA. Dan ketiga, BANYAK BERKELIT.

Mereka itu hanya pandai ngomong dan ngomong saja. Keahlian utama mereka adalah “bibir dan lidah” saja. Omongannya banyak, mengepul bagai asap rokok. Membuat batuk-batuk bagi manusia yang sehat. Mereka juga banyak gaya. Senang ketemu wartawan-wartawan. Tidak menolak gaul dengan anggota DPR dan pejabat. Kenal dengan artis-artis dan dunia selebritas. Pakaian, kendaraan, alat elektronik, dan sebagainya berkelas. Dan nanti kalau dikritik oleh rakyat (termasuk melalui kritik seperti ini) mereka banyak membela diri, defensif, mencari-cari alasan. Seperti gayanya Chandra Hamzah yang tidak berani dikonfrontir dengan Nazaruddin itu.

Singkat kata, pejabat-pejabat KPK selama ini seperti manusia-manusia yang secara mental-ruhani bermasalah. Mereka nafsu menjadi anggota KPK, tetapi setelah menjabat tidak menunjukkan keberaniannya untuk babat habis korupsi di Indonesia. Maklumlah, para pencari kerja beda dengan penegak keadilan. Karena mungkin merasa tak bersaing mencari kerja di bursa eksekutif muda, akhirnya nyari-nyari di KPK (mencantolkan kerah bajunya ke beban keuangan negara).

Kita tidak tahu bagaimana reputasi Abraham Samad ini. Apakah akan ada perubahan atau sama letoy-nya dengan Busyro Muqaddas? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Tahu. Kalau nanti Abraham ini juga tertimpa 3 penyakit di atas (banyak omong, banyak gaya, banyak berkelit); ya sudah, tak ada harapan banyak di negeri ini; baik generasi tua (Busyro Muqaddas) maupun generasi muda (Abraham Samad) sama-sama brengsek-nya.

Oke deh…begitu saja! Selamat berjuang, Bung Abraham Samad! Semoga Anda diselamatkan dari 3 penyakit berbahaya itu, dan efektif bisa memberantas korupsi di negeri ini! Amin ya Rabbal ‘alamiin. Termasuk amanah yang sering dikatakan oleh para pemimpin, bahwa akar korupsi berada di lingkaran Istana Negara (ingat informasi Wikileaks). Nanti, arah perjuangan Anda, harus masuk juga ke titik itu. Soal akan di-antasari azhar-kan atau tidak, tawakkal sajalah!

Selamat berjuang, Bung!

Blog Abisyakir.


Bibit-Chandra dan Cerita Si Embul

Agustus 7, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Kalau mau menyapu sampah di lantai, gunakan sapu yang bersih, Mbul! Jangan gunakan sapu kotor, nanti lantai bisa jadi lebih kotor lagi,” kata Bu Inah kepada Embul, anaknya. Embul yang memang baik hati hanya menganggukkan kepala. Entahlah, apa dia mengangguk taat ke ibunya, atau karena sedang lapar. Maklum Embul sedang puasa Ramadhan. Meskipun puasa, Embul tetap mau bantu ibunya. Alhamdulillah.

Membersihkan sampah harus memakai sapu yang bersih. Kalau tidak, lantai akan semakin kotor. Dan lebih kotor lagi kalau yang menyapu itu memakai sandal berlumpur, dan tubuhnya banyak debu-debu. Bukan bersih yang akan didapat, malah kotoran tersebar dimana-mana.

***

Kalau mencermati sepak-terjang Bibit-Chandra selama ini, ada banyak keheranan di hati. Dua pejabat Ketua KPK ini kalau dicermati ternyata melakukan hal-hal yang curang juga. Ini tidak terkait berita-berita yang sekarang lagi santer beredar; tidak ada kaitan kesana. Tetapi lebih melihat komitmen kedua orang tersebut dalam menghadapi kasus-kasus yang menimpa dirinya sebagai pejabat Ketua KPK.

Indikasi-indikasi kecurangan Bibit-Chandra, antara lain:

PERTAMA. Masih ingat gerakan sejuta facebookers yang meminta Bibit-Chandra dibebaskan dari proses pengadilan, dalam kasus “Kriminalisasi Ketua KPK” beberapa waktu lalu? Nah, disana kan berkembang suatu opini, dan opini ini sangat didukung oleh media-media massa dan para pakar “latah”. Opini tersebut adalah: “Kalau Bibit-Chandra diadili, lalu dihukum, itu artinya pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati.” Anda masih ingat kan dengan opini ini? Pertanyaannya: Apakah sedemikian hebat posisi Bibit-Chandra, sehingga tanpa peranan mereka berdua, pemberantasan korupsi di Indonesia akan mati? Lha, memang yang bisa memberantas korupsi hanya mereka berdua? Apa di Indonesia ini tidak ada lagi orang yang kapabel memberantas selain mereka berdua?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, mereka berdua mendukung opini itu, dan tidak melakukan pengingkaran. Padahal namanya orang berakal, kalau Bibit-Chandra diberhentikan, masih ada orang lain yang akan datang menggantikan posisi mereka berdua. Andai KPK sendiri yang dibubarkan, masih ada instrumen lain untuk memberantas korupsi. Andaikan semua instrumen negara dibubarkan, masih ada MORALITAS anti korupsi di hati manusia warga negara Indonesia. Hal-hal demikian mudah dipahami, bagi yang mau berpikir.

KEDUA. Ketika berhadapan dengan Anggodo, Bibit-Chandra tidak mau maju ke pengadilan. Alasannya, kasus yang menimpa mereka merupakan KRIMINALISASI. Jadi, seharusnya mereka tidak bersalah, tetapi oleh kalangan Polri di-setting agar mereka bersalah. Bibit-Chandra ditantang untuk membuktikan tuduhan kriminalisasi itu dalam pengadilan, tetapi dia selalu menolak. Dalam wawancara di TV-TV, mereka tidak mau diadili, karena mereka merasa telah “dikriminalisasi”. Buktinya apa? Bibit-Chandra menyodorkan hasil penyadapan percakapan Anggodo dengan pihak Polri, dan lain-lain.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Sebagai bagian dari aparat hukum, khususnya dalam pemberantasan korupsi, seharusnya Bibit-Chandra menghormati mekanisme hukum yang berlaku. Lihat itu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir! Biarpun banyak orang meragukan obyektifitas kasus-kasus yang menimpa beliau; tetapi Ustadz Ba’asyir tetap konsisten memenuhi mekanisme hukum yang berlaku. Padahal Bibit-Chandra pasti tahu, bahwa Ustadz Ba’asyir sangat membenci hukum non Islami yang berlaku di negeri ini. Sekalipun benci, kalau memang mekanisme yang berlaku begitu, ya dengan berat hati, beliau tetap memenuhi mekanisme tersebut. Berbeda dengan Bibit-Chandra, kedua orang ini masuk jajaran aparat hukum, tetapi takut menghadapi proses pengadilan. Dengan mentalitas seperti itu, seharusnya mereka “dideportasi” dari ranah penegakan hukum.

KETIGA. Kasus Bibit-Chandra tidak pernah bisa dibawa ke pengadilan. Kronologinya begini: a. Bibit-Chandra merasa telah dikriminalisasi oleh Polri, dengan bukti rekaman percakapan Anggodo dll. yang diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi; b.  Media-media massa mem-blow up posisi Bibit-Chandra yang “terzhalimi”, terutama MetroTV; c. Para facebooker bangkit melakukan “jihad” demi membela posisi Bibit-Chandra yang terzhalimi; d. SBY merasa terdesak oleh opini media massa dan facebookers, lalu SBY mendesak supaya proses pengadilan Bibit-Chandra segera dihentikan; e. Pihak Kejaksaan mengklaim kasus Bibit-Chandra sudah P21 alias siap masuk ke pengadilan. Tetapi karena desakan SBY yang menggunakan alasan “memenuhi rasa keadilan publik”, maka dikeluarkanlah SKP2 (Surat Keputusan Penghentian Perkara); f. Para ahli hukum mempertanyakan status SKP2 itu, sebab ia dianggap sebagai bentuk campur-tangan Presiden terhadap proses hukum. Maka keputusan SKP2 diubah lagi, menjadi Deeponering; g. Hasil akhir, Bibit-Chandra tidak pernah diadili, karena dia mendapat anugerah “deeponering”.

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Kebijakan deeponering atau SKP2 adalah kebijakan yang curang. Seharusnya berlaku prinsip “semua warga negara sama di mata hukum”. Jadi, tidak ada diskriminasi bagi semua pihak. Semua sama saja, kalau ada indikasi kesalahan, ya masuk pengadilan. Kalau terbukti salah, diberi sanksi; kalau tidak bersalah, harus dibebaskan. Seharusnya Bibit-Chandra konsisten dengan mekanisme itu, bukan mencari perlindungan berupa SKP2 atau deeponering. Kalau mereka masuk pengadilan dan ternyata bebas, nama mereka akan bersih. Tetapi kalau mereka bebas dengan fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka akan selalu dihantui citra “diskriminasi dan kepengecutan” hukum. Sebagai penegak hukum, Bibit-Chandra tidak boleh merasa senang dengan campur-tangan kekuasaan (SBY) yang akhirnya memberinya kenikmatan berupa SKP2 atau deeponering. Seharusnya dia bicara lantang ke SBY: “Terimakasih Pak, sudah peduli dengan kami. Tapi sebagai penegak hukum kami pantang melibatkan Bapak dalam kasus seperti ini. Biarlah Bapak tetap berada di domain eksekutif, jangan ikut-campur urusan yudikatif. Kami lebih memilih diadili demi menghormati mekanisme hukum.” Begitu dong, kalau memang gentle.

KEEMPAT. Ini adalah kesalahan paling fatal dari Bibit-Chandra. Baru sedikit orang yang menyadari kesalahan ini. Sedikit sekali. Karena akal kita cenderung mudah dikacaukan oleh opini-opini media. Kalau Anda ditanya, “Apa sih yang sebenarnya membebaskan Bibit-Chandra dari tuntutan hukum?” Kalau dicermati, yang membebaskan mereka itu adalah rekaman-rekaman percakapan Anggodo dll. yang diputar di MK itu. Tanpa rekaman ini, Bibit-Chandra tidak akan lolos dari proses hukum. Lalu darimana rekaman-rekaman itu didapatkan? Sumbernya dari mesin penyadap percakapan telepon yang dimiliki KPK.  Tanpa alat penyadap itu, tak akan diperoleh hasil rekaman tersebut, sehingga Bibit-Chandra seharusnya bisa diadili. Nah, pertanyaannya adalah sebagai berikut: Mana hasil rekaman-rekaman percakapan koruptor lain, misal dalam kasus Bank Century, Miranda Goeltom, Gayus Tambunan, Rekening Gendut Perwira Polri, Melinda Dee, Nazaruddin, Andi Malarangeng, Andi Nirpati, dan lain-lain? Mana, mana hasil rekamannya? KPK pasti memiliki hasil-hasil rekaman itu. Kok yang dikeluarkan oleh Bibit-Chandra hanya hasil rekaman yang menguntungkan dirinya saja? Sedang rekaman lain disimpan sangat rapi?

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Secara jelas, kedua orang itu hanya mengeluarkan hasil rekaman ke publik, untuk rekaman yang menguntungkan keduanya, sedang untuk rekaman-rekaman lain, yang bisa jadi bisa membongkar kasus-kasus korupsi selama ini, tidak dia perlihatkan. Ini jelas kecurangan yang sangat nyata. Akhirnya, lembaga KPK hanya menjadi “pelayan” Bibit-Chandra, bukan menjadi pelayan masyarakat luas. Kasihan sekali.

KELIMA. Kesalahan terakhir, sebagai buah dari kesalahan-kesalahan sebelumnya; ketika Bibit-Chandra sudah mendapat fasilitas SKP2 atau deeponering, mereka seperti mendapat fasilitas perlindungan dari Pemerintah (SBY). Sebagai bentuk “balas jasa”, maka ujung tombak KPK menjadi tumpul untuk menyibak kasus-kasus korupsi yang melibatkan lingkar kekuasaan. Bibit-Chandra disini memperlihatkan dirinya sebagai “orang berakhlak” yang “pandai berterimakasih” atas jasa kebaikan orang lain. Tetapi dalam ranah hukum, konsep “akhlak” seperti itu seharusnya tidak dipakai. Banyaklah kasus-kasus korupsi yang akhirnya mandeg, karena pejabat-pejabat KPK sudah “ditawan” oleh kekuasaan. Nah, yang begini ini baru bisa dibenarkan jika ada ucapan: “Jasa baik yang diterima pejabat Ketua KPK, membuat lembaga itu tak mampu membersihkan korupsi sebagaimana diharapkan masyarakat.”

Titik kecurangan Bibit-Chandra: Ya, Anda sudah bisa menyimpulkan sendiri. Tidak usah diberitahu lagi. Yang jelas, kasus Century, Andi Nurpati dan KPU, Gayus, Rekening Polri, Melinda Dee, Malarangeng, Nazaruddin, dll. saat ini mandeg. Kalau Bibit-Chandra tidak menerima jasa “perlindungan hukum” mungkin akan lain ceritanya.

***

“Embul, Embul, dimana kamu, Nak?” kata Bu Inah sedikit agak berteriak. Waktu sudah menjelang Maghrib, Embul belum kelihatan. Bu Inah jelas gelisah. Anak itu harus siap-siap berbuka puasa.

Seisi rumah ikut mencari Embul, sambil berteriak-teriak: “Embul, Embul…” Tapi yang dicari belum juga nongol. Kemana ini Si Embul? Semua merasa gelisah.

Saat adzan Maghrib terdengar, orang-orang masih mencari Embul. Kakak Embul beruntung. Saat mencari di gudang, dia melihat adiknya sedang tidur di atas tumpukan koran-koran.

“Hei Embul, bangun, bangun! Sudah Maghrib, Embul! Kenapa kamu tiduran disini? Dari tadi kami mencari kamu, Mbul!” kata kakak Embul dengan suara keras.

Si Embul segera bangun. Lalu berdiri. Dia terlihat hanya diam, sambil mengucek-ucek mata. Masih kelihatan wajah ngantuk di mukanya. Di samping Embul ada beberapa buah sapu. Sapu ijuk 3 buah, sapu lidi 2 buah.

“Mbul, untuk apa sapu-sapu itu?”

“Untuk menyapu?”

“Kamu sendiri sudah menyapu, belum?”

“Belum!”

“Kenapa?”

“Masih nyari sapu yang bersih. Kata Ibu harus pakai sapu bersih.”

“Lalu…”

“Ternyata, sulit mencari sapu bersih. Semua pada kotor.”

Kakak Embul hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kepolosan adiknya. “Ya, sudah Mbul. Kita buka puasa saja sekarang. Lupakan soal sapu-sapu itu.”

“Moga-moga KPK mau memakai sapu yang bersih, Mbul.”

“Apa Kak? Tadi Kakak bilang apa?” tanya Embul agak keheranan.

“Ah, sudahlah Mbul. Mari kita segera buka puasa. Kata Nabi, lebih cepat buka puasa, lebih baik.”

“Ya, Kak.”

Semoga tulisan dan cerita ringan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat kita. Khususnya di bulan Ramadhan Mubarak ini. Allahumma amin. []

AM. Waskito.


Monggo Bu Ani, Silakan Jadi Presiden RI!

Januari 5, 2011

OPINI, edisi 5 Januari 2011.

Baru-baru ini lembaga surve Indo Barometer merilis hasil surve tentang popularitas SBY dan para politisi yang berpeluang menggantikan dia di tahun 2014 nanti. Hasil surve Indo Barometer ini intinya: (1) Popularitas SBY masih dianggap tinggi, melebihi popularitas politisi-politisi lain; (2) Ternyata, Ani Yudhoyono (isteri SBY) memiliki popularitas politik yang lumayan, sebagai calon pengganti SBY. Dia menempati posisi ke-6 bersaing dengan politisi-politisi lain yang sudah malang-melintang di dunia politik.

Padahal Ani Yudhoyono selama ini tidak dikenal reputasinya sebagai politisi. Sama sekali nol. Tetapi dalam surve Indo Barometer itu dia segera bersaing dengan politisi-politisi senior lain. Kalau performa politik Ani dipoles disana-sini, dia bisa bersaing dengan Megawati, Prabowo, Wiranto, Sultan, Mahfud Md, dll.

"Selamat Datang di Dunia Politik, Bu Ani!"

Ya, mula-mula kita harus sadar, dunia jaman sekarang ini kan penuh PENIPUAN, penuh KEMUNAFIKAN, penuh OPORTUNISME, penuh dengan semangat-semangat rendah. Maka apapun akan dilakukan orang untuk mendapat uang, jabatan, dan status sosial. Kalau rakyat kecil menipu dengan modus-modus klasik; kalau orang pintar mereka bisa menipu dengan hasil surve, pooling, penelitian, dan seterusnya. Tetapi intinya sama: “Mencari kepuasan syahwat dengan modus penipuan.”

Maka ketika J. Kristiadi dari CSIS memuji-muji Ani Yudhoyono setinggi langit. Katanya, Ani itu orangnya spontanitas; bahkan Ani itu memiliki wajah cantik. Ya, kita tidak usah heran. Wong dunia kita ini memang isinya banyak  orang-orang yang melacurkan diri dengan: harta, tahta, wanita.

Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan publik itu. Tidak ada. Semuanya sudah di-setting dengan strategi dan urutan-urutan waktu. Ya, jangan lebay-lah. Masak baru kali ini tahu kalau dunia ini penuh penipu dan penipuan? Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Secara kebangsaan dan kenegaraan, tentu saja ide menaikkan Ani Yudhoyono sebagai calon pengganti SBY tahun 2014 nanti merupakan ide yang SANGAT TIDAK MASUK AKAL. Ani bisa dikatakan tidak memiliki apapun yang bisa dipakai untuk memimpin bangsa. Dari kemampuan akademik, komunikasi sosial, reputasi politik, karya ilmiyah, kemampuan organisasi, dan lain-lain  tidak ada yang bisa diandalkan. Bu Ani itu kan hanya seorang ibu rumah-tangga, yang kebetulan suaminya seorang Presiden.

Bahkan, mental mengangkat isteri sebagai calon pengganti pejabat Presiden termasuk NEPOTISME, membagi-bagi kekuasaan di tangan sebuah keluarga. Jelas cara demikian tidak layak. Secara teori, mengangkat nama Ani adalah pilihan yang sangat tidak masuk akal.

Tetapi masalahnya, secara pencitraan, politik, dan kepentingan ekonomi; Ani Yudhoyono memiliki kans untuk menjadi Presiden RI. Hal ini sudah lama didiskusikan oleh kalangan-kalangan kritis.

Secara pencitraan, reputasi Ani bisa dibangun sebaik-baiknya. Ya, seperti tahun-tahun 2003-2004 lalu ketika sebagian orang berjuang keras membangun citra SBY. Itu bisa dan sangat bisa dilakukan. Wong, mayoritas orang-orang Indonesia itu -maaf- gampang dibodohi.

Secara kepentingan ekonomi, Ani jelas didukung oleh konglomerat-konglomerat China, didukung oleh RRC, didukung korporasi-korporasi asing, didukung IMF, Bank Dunia, investor internasional, dll. Mereka tidak pernah memikirkan nasib rakyat Indonesia. Mereka hanya membutuhkan pemimpin lemah yang bisa dikendalikan, untuk mengamankan bisnis mereka. Dan sosok Ani Yudhoyono memenuhi kriteria itu.

Secara politik, Partai Demokrat jelas siap mendukung Ani secara penuh. TNI, khususnya Kostrad dan Kopassus siap mendukung Ani. Apalagi Polri, mereka selalu siap mendukung siapapun pemimpin yang muncul. Kunci-kunci kekuatan politik kini sudah di genggaman Puri Cikeas. Jadi masyarakat Indonesia mau apa? Kita bisa apa, kawan?

Secara teori, posisi Ani Yudhoyono sangat tidak rasional diangkat sebagai calon pemimpin nasional. Tetapi secara politik, kepentingan ekonomi, dan pencitraan, kans Ani sangat lebar.

Sebagai Muslim, tentu kita sangat prihatin dan benar-benar tidak habis mengerti. Di bawah kepemimpinan SBY saja kehidupan sudah terasa amat sangat berat seperti ini? Apalagi nanti dipimpin oleh Ani Yudhoyono? Lagi pula dia kan pemimpin wanita yang dijamin tidak diberkahi. Masya Allah, tidak terbayang bagaimana nasib Ummat ini nanti.

Tapi ya sudahlah…

Mungkin sudah nasib kita untuk terus bersabar, bersabar, dan terus bersabar. Sekalipun menghadapi hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun. Ya bagaimana lagi? Bukan sekali dua kali kita mengingatkan Ummat, bahkan berkali-kali. Tetapi ya itulah, sulit sekali berharap akan muncul perubahan.

Masyarakat kita kini sudah terkena KANKER KONSUMSI.  Maksudnya, mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi mereka tidak mau mengusahakan hal itu. Mereka hanya mau menerima, dilayani, mendapatkan kesempatan, dan selalu disuapi. Rasa pengorbanan, keberanian, sikap kritis, idealisme, atau sekedar keberanian memilih saja; sulit diharapkan.

Jadi, kalau nanti Ani Yudhoyono benar-benar menjadi Presiden RI, ya jangan mengeluh. Sabar sajalah…terima sajalah. Wong sudah diingatkan; sudah diwanti-wanti; sudah  dijewer berkali-kali, tetap saja susah sekali berubah. Maunya MENDAPAT, MENERIMA, DILAYANI, DISEDEKAHI… Tidak ada rasa berkorban, keberanian, sikap memilih, apalagi komitmen dan militansi.

Maunya orang-orang kita, mereka ingin hidup enak, sejahtera, gaji besar, bebas korupsi, keadilan hukum tegak, pergaulan sosial ideal; tetapi caranya dengan terus-menerus main FESBUK, main SMS, main game online dan sejenisnya. Ya, kapan terjadi perubahan kalau maunya enak terus? Justru perbaikan itu terjadi dengan keberanian kita mempertanyakan tatanan sosial, sistem yang rusak, kemunafikan politik, dll.

Kalau untuk yang seperti itu saja tidak berani…ya sudahlah bersabar saja, bersabar, dan terus bersabar. Syukur-syukur kalau rumah, bisnis, keluarga, dan sawahmu tidak ditelan bencana alam. Itu sudah hebat.

Sebenarnya, munculnya masalah seperti ini merupakan PENGHINAAN dari Allah untuk kita semua. Kita dipaksa untuk menerima sesuatu yang sangat mustahil sama sekali. Tetapi itu nyata di depan mata. Ini adalah penghinaan dari Allah, sebelum penghinaan berupa bencana alam yang merenggut nyawa isteri, anak-anak, dan memusnahkan harta-benda.

Hidup ini memilih. Siapa yang selalu memilih pilihan mudah dengan resiko membuang kebenaran dan keadilan; dia akan dihukum dengan banyaknya marabahaya di belakang hari nanti.

“Kalau Mbak Ani mau jadi Presiden, ya monggo aja. Wong masyarakat ini mau saja menerima apapun. Sekalipun Sule atau Parto menjadi Presiden, kalau dia punya kekuatan politik dan uang besar, masyarakat tidak akan menolak. Masyarakat ini sudah kehilangan sifat-sifat manusiawinya!”

Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Allahumma amin.


Obsesi Timnas Garuda!

Desember 31, 2010

OPINI, edisi 31 Desember 2010.

Tanggal 29 Desember 2010 lalu Timnas Garuda menjamu Tim Malaysia di Stadion GBK, Senayan Jakarta. Hasilnya, dengan susah-payah Timnas Garuda berhasil memenangkan pertandingan, dengan skor 2 : 1. Dari sisi kemenangan, iya menang. Tetapi dari sisi perolehan gelar juara, Timnas gagal meraih Piala AFF.

Seperti biasa…saya akan coba menghibur Anda dengan hal-hal kritis. Maksudnya, biar TIDAK TERLALU KECEWA, dan kita tetap sadar diri, bahwa: “Semua ini cuma game biasa! Tidak usah dibuat susah! Biasa sajalah!”

Okelah… sekarang Malaysia menang. Boleh disebut Tim Malaysia merupakan tim terbaik di ASEAN (Asia Tenggara). Dibandingkan Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Laos, tim Malaysia merupakan yang terbaik untuk saat ini. Ya, dalam turnamen ini jelas sekali hasilnya.

Taruhlah, Malaysia yang terbaik di Asia Tenggara. Tetapi di tingkat Asia, mereka akan kalah menghadapi tim-tim kuat seperti Korea Selatan, Korea Utara, China, Jepang, Arab Saudi, Irak, Iran, dll. yang sudah langganan juara di tingkat Asia dan langganan masuk “Piala Dunia”. Bahkan jika bermain dengan Australia, belum tentu Malaysia akan menang. Jadi, kualitas Malaysia ini masih dalam tataran Asia Tenggara, bukan Asia, atau Dunia.

Katakanlah, di Asia itu Korea Selatan termasuk tim yang paling kuat. Korea Selatan paling langganan menjadi peserta “Piala Dunia”. Bahkan mereka sudah pernah menjadi tuan rumah “Piala Dunia”. Sebagian pemain Korsel ada yang menjadi pemain inti tim Manchester United (yang terkenal dengan simbol “setan merah”-nya). Lalu bagaimana posisi Korea Selatan di tingkat Eropa atau Dunia?

Gagal Juara Ya! (gambar: republika.co.id)

Ya, Korea Selatan tidak terlalu dianggap. Mereka dianggap tim marginal, sekedar sebagai pelengkap saja. Hampir tidak pernah Korsel dianggap sebagai “tim menakutkan” di Piala Dunia. Korsel pernah mengalahkan Argentina, bahkan pernah masuk Semifinal Piala Dunia. Tetapi posisi negara itu tetap saja tidak dianggap oleh negara-negara raksasa bola, seperti Italia, Jerman, Inggris, Perancis, Spanyol, Portugal, Brasil, Argentina, dll.

Pemain sekelas Park Ji Sung di tim Manchester United tidak dianggap terlalu istimewa. Alex Ferguson membutuhkan pemain itu lebih karena dia suka bermain ngotot dan sering memberi “lucky point”. Citra MU dibangun sedemikian rupa dengan sosok seperti Rooney, Giggs, Beckham, Vidic, dll. Jadi aromanya “Eropa banget”. Kalau aroma Asia seperti Park Ji Sung, nanti dululah…

Coba kita ulang lagi… Malaysia tim terkuat di Asia Tenggara, tetapi belum tentu jaya di level Asia dan Dunia. Di level Asia, Korea Selatan termasuk tim hebat. Tetapi di level Eropa atau Dunia, Korsel tetap dianggap tim marginal. Dibandingkan Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Brasil, atau Argentina, Korsel tidak dianggap.

Sedangkan di tingkat dunia, lain lagi catatannya. Italia terkenal sebagai negara sepakbola yang “paling heboh” kalau masuk kompetisi Piala Dunia; sering mendapat juara. Tetapi Italia juga sangat licik. Pemain-pemain Italia selain terkenal temperamental, oportunis, juga licik.

Inggris, adalah negara “syurga bola”. Kompetisi Liga Primer Inggris luar biasa. Ia disebut-sebut sebagai ajang kompetisi paling heboh di dunia. Tetapi anehnya, dalam level Piala Dunia, Inggris paling “paceklik”. Seringkali, mereka sudah gugur sebelum masuk Semifinal. Kasihan deh…

Jerman, adalah tim yang tangguh. Dikenal sebagai “tim panzer”. Mengandalkan kekuatan, serangan bertubi-tubi, koordinasi, kebugaran fisik, tendangan jarak-jauh, dll. Menurut penikmat bola, permainan Jerman tidak terlalu istimewa untuk ditonton. Tetapi mereka sering masuk Final Piala Dunia. Uniknya, sering masuk final, dan sering menjadi juara II. Hingga Jerman dianggap sebagai “almost team” (tim hampir saja).

Brasil dan Argentina, termasuk tim “omong besar”. Maksudnya, posisi mereka sering ditakuti, dikhawatirkan, dipuji-puji; tetapi prestasi sepakbolanya kecil. Kedua negara memang pernah menjadi juara dunia, tetapi sering juga kandas sebelum menacapai Final. Di Piala Dunia di Afsel kemarin, nasib Lionel Messi sangat mengenaskan. (Untung saja dia tidak sampai “mati kelaparan”…).

Adapun tim Spanyol. Ini tim euforia. Mereka bagus, main bagus, berprestasi. Tetapi tim ini didominasi anak-anak Barcelona. Saat ini lagi jaya-jayanya. Tetapi namanya main bola, fisik akan semakin melemah. Dalam beberapa tahun ke depan, diperkirakan era kejayaan Spanyol akan berakhir. Ya, para pengganti Xavi Hernandes dkk. tidak ada.

Singkat kata, kalau bicara soal bola, tetap saja tidak pernah memuaskan…

Coba kita urutkan lagi dari awal. Timnas Indonesia kali ini kalah dengan Malaysia. Malaysia tim terkuat di Asia Tenggara untuk saat ini. Tetapi di tingkat Asia, Malaysia tidak ada apa-apanya. Di level Asia, tim Korea Selatan yang paling dominan. Tetapi di level Eropa atau Dunia, Korea Selatan dianggap tim marginal (tidak dipandang). Sepakbola di dunia didominasi oleh Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, Brasil, Argentina, dll. Meskipun begitu, nama besar tim-tim negara itu juga penuh masalah. Tidak ada yang memuaskan!

Lalu, apa yang bisa disimpulkan?

Ya, bola ini hanya permainan belaka. Tidak usah dijadikan sesuatu yang serius. Menang biarin, kalah juga tak apa. Biasa-biasa sajalah! Tidak usah stress karena bola!

Memang, untuk Indonesia kita sedang dalam sakit parah, butuh kebanggaan. Tetapi dalam Piala AFF ini Timnas Garuda gagal meraih juara. Dalam proses penyisihan sampai semifinal prestasi Indonesia bagus, tetapi saat melawan Malaysia Timnas seperti “mati rasa”.

Bisa jadi, saat ini kita butuh juara AFF itu untuk mengangkat moralitas bangsa, agar tidak selalu merasa sebagai bangsa pecundang yang “kalah melulu”. Dari sisi itu, mungkin bisa dibenarkan. Tetapi ketika realitasnya, kita memang kalah dan tidak juara, ya harus diterima dengan legowo.

Sejujurnya, untuk mendapatkan predikat JUARA, tidak cukup dengan teknik bermain, strategi bermain, atau aneka fasilitas bagi tim. Untuk mencapai juara dibutuhkan hal-hal lain, seperti: dukungan suporter, dukungan media, dukungan dana, dukungan politik, dukungan intelijen, tekanan ke FIFA, tekanan ke panitia, kontra supranatural, dll. Itulah yang bisa disebut sebagai INFRASTRUKTUR kemenangan.

Indonesia tidak memiliki infrastruktur kemenangan. Kita hanya mengandalkan Alfred Riedle, Bustomi, Irfan, Gonzales, dan lainnya. Untuk mendapat juara dibutuhkan banyak dukungan material dan non material. Di jaman Orde Baru, sepakbola Indonesia mendominasi Asia Tenggara, karena dukungan negara sangat kuat. Kini, Timnas Garuda baru didukung para politisi ketika mereka sudah mengalahkan ini itu. Kalau Timnas Garuda gagal sejak awal, tidak akan ada politisi yang mau mendukung.

“Kami mendukung tidak gratis, Mas. Karena rakyat lagi demam Timnas, maka kami pun harus menyukai Timnas. Bahkan sampai kami bela-bela membeli kaos Timnas dan aksesoris. Padahal sebenarnya, kami lebih suka olah-raga golf, bowling, biliard, main kartu, dan catur,” begitu logika para politisi.

Satu-satunya alasan yang bisa dibenarkan ketika kita mendukung Timnas Garuda dalam ajang AFF, adalah untuk mengangkat moral bangsa Indonesia. Agar muncul kebanggaan mereka, agar muncul rasa percaya dirinya. Ketika akhirnya gagal, ya mungkin sifat ke-PD-an kita sebagai bangsa akan semakin ambles.

Tapi sadarlah wahai Saudaraku… Permainan bola ini hanya game saja. Tidak usah dibuat rumit. Kalau pun Timnas Garuda sukses merebut Piala AFF, belum tentu Timnas akan berjaya di ajang Asia. Andaikan kita berjaya di Asia, belum tentu akan berjaya di Dunia. Ya, kita ini orang Asia, sedangkan Football adalah olahraga Eropa. Di hadapan para bangsawan bola, kita ini dianggap “marginal”. You know…

[Abi Syakir].


Beberapa Opini Aktual

November 30, 2010

OPINI, edisi 27 Desember 2010.

“KEKALAHAN TIMNAS & INTRIK BOLA”

Saudaraku…

Anda sudah menyaksikan laga Timnas Indonesia Vs Malaysia? Anda sudah tahu hasilnya, Timnas kalah 3 : 0 ? Bagaimana perasaan Anda? Anda kecewa? Anda marah? Anda benci melihat Timnas dipecundangi di Stadion Bukit Jalil, Malaysia? Anda mau marah, Saudaraku?

….  …. ….

Mari-mari sini! Mari saya tunjukkan RAHASIA BESAR tentang dunia sepak-bola. Mari saya tunjukkan REALITAS yang jarang sekali dibahas di media-media massa. Tetapi itu ada dan nyata.

"Hati-hati Indonesia! Kami akan menang 3 : 0. Harga mati, man!"

Mari Saudaraku… Silakan duduk dulu. Minumlah dulu, biar Anda merasa lega. Kita akan sedikit bincang-bincang. Semoga pembicaraan ini bisa menawarkan dahagu, karena kecewa dengan kekalahan tim Firman Utina dan kawan-kawan. Disini ada rahasia besar yang perlu engkau tahu.

Mula-mula, ini baru permulaan, kalau melihat Timnas kalah, janganlah terlalu kecewa. Biasa-biasa sajalah. Kita menang Oke; kita kalah juga tidak apa-apa. Ya, ini cuma games, jangan terlalu dibuat STRESS.

Salah seorang putriku, SMP baru kelas 1. Dia pendukung Timnas juga. He he he… maklum orang Indonesia. Ketika dia mendengar Timnas kemasukan 1 gol, segera dia mengeluh, lalu menjauhi TV. Dia naik ke tempat tidur, mengambil selimut, lalu tidur. Keesokan paginya, sudah dia lupakan soal kekalahan Timnas. Ya, mestinya kita begitu juga. Ringan-ringan saja… Tidak usah dibuat stress, apalagi depressi.

Justru yang harusnya kita SEDIHKAN, adalah ketika tanggal 26 Desember 2010 kemarin itu adalah: Peringatan 6 tahun Tragedi Tsunami di Aceh. Seharusnya, sebagai manusia yang masih punya akal-budi, kita malu ketika melupakan tragedi dahsyat itu. Iya kan? Sehebat-hebatnya kekalahan Timnas, tidak ada satu pemain yang terbunuh di Bukit Jalil. Sementara 6 tahun lalu, ada sekitar 150 ribu manusia wafat karena Tsunami.

Kalau lupa soal Tsunami…ya sudahlah. Moga tahun depan tidak lupa ya…

Saudaraku…

Dunia sepakbola itu dunia BISNIS BESAR. Duitnya gede banget… Pengaruh sosial dan politiknya besar. Tidak mungkin lah urusan bola itu semata hanya urusan: teknik bermain, formasi permainan, strategi pelatih, fisik pemain, suasana psikologi di lapangan. Tidak mungkin itu…

Saudaraku, banyak orang berkepentingan terhadap kemenangan suatu tim, dan kekalahan tim lain. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha, agar hasil pertandingan sesuai yang mereka harapkan. Disini pasti banyak sekali INTRIK-INTRIK kotor untuk mempengaruhi hasil pertandingan.

Contoh mudah dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, sebagian penonton tim Malaysia melakukan sorotan SINAR LASSER ke muka pemain-pemain Indonesia. Tetapi ini bukan intrik yang terlalu serius. Masih ada intrik lain yang lebih kejam dan kasar…

Sebelum Babak II pertandingan, seorang kawan mengatakan, para penjudi di Malaysia sedang bergerak untuk memenangkan Tim Malaysia. Teman itu mengatakan, “Nanti kita lihat saja pada Babak II. Mungkin akan terjadi sesuatu.” Benar saja, pada menit ke-54 pertandingan sempat terhenti sebentar karena protes pemain-pemain Indonesia, soal laser. Momen semacam itu sudah dikatakan teman saya tersebut.

Ketika saya tanya, “Bagaimana bentuk intervensi para penjudi Malaysia?” Katanya, mungkin mereka akan menekan panitia, wasit, atau manajemen Timnas Indonesia, untuk memenangkan tim Malaysia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, intrik-intrik semacam ini sering terjadi. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di level pertandingan sekelas Liga Primer Inggris, atau Piala Champions sekalipun. Bahkan trik-trik kotor itu banyak dikeluhkan oleh publik sepakbola Indonesia dalam lingkup kompetisi ISL.

Ayolah, buka matamu… Intrik-intrik itu ada dan nyata. Bukan hanya dalam Piala AFF. Bahkan dalam Piala Champions sekalipun. Tentu kita masih ingat, betapa kesalnya Barcelona FC ketika kalah dalam pertandingan melawan Inter Milan dalam Piala Champions tahun 2009 lalu.

Mourinho ketika itu mengatakan, “Ingat, kami dulu di Chelsea juga pernah dicurangi oleh Barcelona.” Ceritanya, saling curang-mencurangi.

Lalu intrik apa lagi?

Ada lagi, yaitu SIHIR. Mungkin Anda sulit percaya. Tetapi itu ada dan nyata. Sihir sering dipraktikkan untuk memenangi suatu pertandingan. Di Piala Dunia, tim asal Afrika atau Amerika Latin sering dituduh melakukan praktik-praktik sihir.

"Sepakbola Bisnis Besar. Kita Harus Menang. Apapun Caranya!"

Sejujurnya, aku sendiri pernah menyaksikan praktik sihir itu, saat ikut pertandingan level bocah SD, di kampung ku dulu. Di depan mataku, praktik sihir itu dilakukan. Waktu itu aku ikut dalam pertandingan bola itu. Orang-orang di kampung sering menyebut dengan istilah: “Main dukun!” Istilah itu populer kami dengar di berbagai pertandingan bola tingkat kampung, kecamatan, atau kabupaten.

Ciri permainan yang menggunakan trik SIHIR: “Tim yang didukung mendapat kemenangan dengan cara mudah. Sementara tim lawan sangat kesulitan mengembangkan permainan, meskipun skill mereka bagus. Dan lebih sulit lagi untuk menembus gawang.”

Misalnya, dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, Tim Malaysia bisa mendapat 3 gol hanya dalam tempo 10 menit. Ini adalah produksi gol yang sangat mudah. Padahal di Babak I, mereka gagal membuat satu gol pun. Dan kemenangan 3 : 0 itu sesuai prediksi Rajagopal. Hebat kan? Rajagopal sudah memperkirakan kemenangan 3 : 0, dan ternyata terbukti. Hebat…

Di sisi lain, Timnas bermain sangat buruk. Banyak pemain Timnas bermain seperti “pemain bodoh”. Berkali-kali membuat kesalahan, umpan tidak akurat melulu… Kalau menembak ke gawang, melenceng terus.

Dari pengalamanku menyaksikan pertandingan SIHIR di masa kecil… Pertandingan seperti di Bukit Jalil itu jelas memakai intrik-intrik Sihir. Sekali lagi alasannya: “Sepakbola adalah bisnis besar, politik besar, pengaruh sosial besar.” Segala cara akan dilakukan, untuk meraih kemenangan.

Tapi ada kabar baiknya… Ternyata, pelaku praktik sihir ini bukan hanya dalam pertandingan Timnas Vs Malaysia. Sampai di level Liga Primer dan Piala Chamions Eropa, ada praktik semacam itu. Ada dan nyata…

Bayangkan… Arsenal pernah kalah 3 : 0 (atau 3 : 1 ya) dari Manchester United, di kandang Arsenal. Bayangkan? Apa mungkin bisa terjadi kekalahan setelak itu di kandang Arsenal? Begitu juga, Real Madrid baru-baru ini kalah 5 : 0 oleh Barcelona FC di kandang Barcelona. Apa mungkin tim sekuat Real Madrid bisa kalah setelak itu? Padahal Barca tidak selalu menang besar menghadapi lawan-lawannya di kandang Barca.

Sekali lagi, ciri permainan Sihir: Tim tertentu menang dengan mudah, tim lawan hampir-hampir tidak bisa main sama sekali. Semua kemampuan teknik, strategi, arahan pelatih, dll. seolah tak berguna sama sekali.

Saya yakin, kekalahan Timnas di Bukit Jalil Malaysia lebih karena kekalahan akibat permainan Sihir dari luar lapangan. Sebab secara teknik atau teori permainan bola, tidak ada REASON yang bisa dijelaskan.

Saudaraku…

Sangat telat kalau kita baru mengetahui hal ini saat sekarang. Sihir itu bisa diterapkan di berbagai bidang yang sesuai tabiat sihir itu sendiri. Media-media massa tidak pernah mau mengungkap faktor sihir, begitu juga pemaian, pelatih, offisial, komentator, dll. Mengapa? Sebab kalau peranan sihir dijadikan tolok-ukur, nanti sepakbola jadi tidak laku.

Singkat kata… kita selama ini ya hanya ditipu, ditipu, dan ditipu saja dengan pemberitaan soal sepakbola itu. Kita hanya menjadi mainan media-media massa. Sejujurnya, pertandingan sepakbola yang fair, jujur, dan menyenangkan itu hanya IMPIAN belaka. Terlalu banyak intrik-intrik yang bermain di balik pertandingan bola.

Ke depan… Kita jangan terlalu senang dengan kemenangan sepakbola; juga jangan terlalu sedih dengan kekalahannya. Nikmati permainannya saja, jangan lihat skornya! Anggap, siapa yang menang ialah para best player, meskipun di lapangan mereka kalah.

Kalau kita seperti selama ini… Menganggap kemenangan dari sisi skor, terserah bagaimanapun caranya. Pasti kita akan menjadi “budak-budak” pemberitaan seputar bola. Janganlah Saudaraku…capek!

Oke Saudaraku, sampai disini saja obrolan kita. Santai sajalah…seperti putri saya yang memilih tidur, lalu melupakan kekalahan. Ringan kan? Justru kita seharusnya merasa sedih, ketika tidak ingat peringatan 6 tahun Tsunami di Aceh. Untuk itu jelas harus berduka…

Matur nuwun, nggih!

=====================================================

OPINI, edisi 24 Desember 2010.

“SAUDARAKU, TOLONGLAH TITIPAN NABIMU INI!”

Yatim-Piatu: Titipan Nabi Saw Untuk Kita Semua...

Ada rasa kesedihan mendalam ketika membaca artikel berikut ini: “Yatim-Piatu Mewarisi Hutang Rp. 45 juta.” Artikel ini dimuat voa-islam.com, 23 Desember 2010.

Saudaraku…

Apalah artinya hidup di dunia ini? Apalah artinya… Tidak ada yang bisa kita sombongkan, apapun, sedikit pun. Kita ini hanyalah hamba-hamba Allah yang dhaif, fakir, tidak berdaya. Tanpa pertolongan dan ijin-Nya, kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah: karunia dari-Nya. Hanya kepada Allah kita bersujud, merintih, menghiba, dan mengharapkan pertolongan.

Ya Allah ya Rahiim… teramat banyak, teramat besar, teramat rumit cobaan-cobaan yang menimpa Ummat Sayyidul Mursalin -shallallah ‘alaihi wa sallam- ini. Banyak orang papa, banyak manusia fakir, banyak pemuda terasing, banyak wanita teraniaya, banyak anak-anak kehilangan masa-masa bermainnya. Ya Allah, amat sangat berat cobaan bagi hamba-hamba-Mu ini. Kami hanya kuasa menulis, mengadu kepada-Mu, serta meneteskan air mata kesedihan… Ya Allah ya ‘Aziz kasihilah hamba-hamba-Mu ini, kasihilah kami ya Rabbi… hendak kemana kami kan mengadu?

Ya Allah, kami ridha dengan-Mu ya Allah… kami ridha mentaati-Mu, kami ikhlas menerima tuntunan-Mu, kami menuruti-Mu sekuat kesanggupan kami… Kami beramal, tetapi kami juga melakukan kesalahan; kami berjuang, tetapi juga jatuh dalam kezhaliman; kami terus berusaha melakukan perbaikan, tetapi kami pun mengulang-ulang kesalahan kami.

Ya Allah, di atas segala kedhaifan kami ini, kami dapati Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau Maha Pemaaf, kasih-Mu melebihi adzab-Mu, Engkau lebih sayang kepada kami daripada diri kami sendiri, Engkau memberikan kami karunia-karunia besar yang tidak kami minta, Engkau mencegah berbagai fitnah dan bencana menimpa diri kami, ketika amal-amal kami justru sangat dekat kepada bencana-bencana itu. Ya Allah, Engkau selalu memaafkan kami, ketika tiada henti kami menyakiti-Mu. Ya Rabbi maafkan kami, maafkan kami ya Rahmaan, maafkan kami ya Raa’uf.

Ya Allah, tolong anak-anak kami… tolonglah orangtua-orangtua kami… tolonglah para pemuda Islam… tolonglah wanita-wanita Muslimah… tolonglah para mujahidin ya Rabbi… tolonglah para ustadz yang ikhlas mengajar Ummat… tolonglah para ulama yang menjadi benteng-benteng agama ini…

Ya Allah ya Nashir, tolonglah anak-anak kami yang yatim-piatu… tolonglah amanah Rasulullah Saw ini… tolonglah mereka, kasihi mereka, hapuslah kesedihan mereka, berikan mereka ISTIQAMAH di atas agama-Mu, berikan mereka kecukupan rizki dan pertolongan atas setiap kesulitannya… tolonglah mereka ya Allah ya Hafizh ya Dzal Jalali wal Ikram.

Ya Allah ya Ghaniy, tolonglah hamba-hamba-Mu yang dermawan… yang lembut hati, pengasih kepada kaum lemah, air matanya mudah sembab karena mengasihi Ummat Nabi Saw, tangan-tangannya begitu hangat dan dermawan mengelus kepala anak-anak kaum Muslimin yang malang… ya Allah ya Rahmaan, tolonglah mereka… berkahi rizki-nya, berkahi keluarganya, tolonglah usahanya, kekalkan kebahagiaan dan keselamatan baginya… sebab mereka menolong, mengasihi, menjaga TITIPAN NABI Saw, yaitu anak-anak yatim-piatu yang lemah dan menderita.

Ya Allah terimalah doa-doa kami ini. Amin Allahumma amin, ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

———————————————–>>>

Untuk menolong anak-anak kita di atas (Fikri dan Dinda), silakan menghubungi redaksi voa-islam.com (0817.702050) atau kepada keluarganya ke nomor HP: 0878.8651.3321. Bantuan bisa dikirim ke rekening almarhumah: BCA an. Elly Mariati no rek. 7020.180.514 atau melalui redaktur voa-islam.com.

================================================

Baca entri selengkapnya »