TRAGEDI POLITIK di Indonesia

Oktober 9, 2009

Saudara-saudaraku seiman dan seaqidah…

Disini saya akan berbagi dengan Anda tentang sebuah HAKIKAT POLITIK yang sangat penting kita ketahui bersama. Hal ini merupakan refleksi dinamika politik Indonesia sejak tahun 90-an sampai saat ini (2009). Hanya saja, saya menulisnya secara singkat saja agar lebih praktis untuk dipahami. Adapun untuk penjelasan yang lebih terperinci, silakan Anda sendiri mencari dalam sumber-sumber lain. Di blog ini sendiri ada bahan-bahan yang bisa dipakai sebagai pembanding. Silakan dicari secara mandiri.

LATAR BELAKANG

Beberapa catatan dinamika politik di Indonesia yang terjadi dalam waktu-waktu terakhir ini menjadi titik-tolak tulisan ini. Misalnya catatan-catatan sebagai berikut:

=> Berbagai kasus, pelanggaran, dan kecurangan dalam Pemilu Legislatif 2009 dan Pilpres 2009.

=> Gencarnya opini “perang melawan terorisme”, padahal isu terorisme itu sendiri sudah mulai dilupakan masyarakat sejak tahun 2005 lalu.

=> Sikap pemerintah yang sangat arogan dalam kasus Bank Century. Khususnya terkait sikap Departemen Keuangan, BI, Polri, dsb.

=> Sikap pemerintah yang katanya “pro pemberantasan korupsi”, tetapi mereka diam saja ketika lembaga KPK hendak diamputasi kekuatannya. Mereka juga diam ketika berkembang opini tentang “Cicak Vs Buaya”. Padahal itu adalah ungkapan menjijikkan dalam kehidupan berpemerintahan.

=> Dukungan SBY agar Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR, padahal semua orang tahu dalam Pilpres kemarin, bahkan dalam periode Pemerintahan 2004-2009, PDIP menjadi oposisi Pemerintah. Bahkan penentuan pejabat Ketua MPR itu sendiri tergantung pilihan politik SBY sendiri.

=> Sikap SBY kepada Partai-partai Islam/Muslim yang mendukungnya saat Pilpres 2009, seperti ungkapan: “Habis manis, sepah dibuang.”

=> Pernyataan keberatan SBY atas pernyataan Jusuf Kalla dalam Munas Golkar di Riau yang mengajak Partai Golkar agar menjadi partai oposisi terhadap Pemerintah.

=> Dukungan Pemerintah, agar Aburizal Bakrie menjadi Ketua Umum Golkar, menggantikan Jusuf Kalla. Tujuannya, tentu agar Golkar tidak beroposisi, melainkan mau bermitra dengan Pemerintahan SBY. Harus dicatat dengan tinta tebal, dalam susunan Pengurus Inti DPP Golkar hasil Munas di Riau, Rizal Malarangeng menjadi salah satu pengurus elit DPP Golkar. Kita tahu maksudnya, agar politik Golkar selalu sejalan dengan politik SBY.

Dari semua kenyataan di atas, dapat disimpulkan: Bahwa SBY sedang membangun kekuatan Pemerintahan yang sangat kuat, under one hand, dimana segala macam faktor-faktor politik akhirnya memusat ke dirinya. Sebagian pengamat menyebut kenyataan ini sebagai “model Orde Baru dengan baju demokrasi”. Serupa esensinya, tetapi lain namanya.

Saat ini, secara realistik, semua unsur-unsur politik sedang berlomba menengadahkan tangan ke hadirat SBY, mengharap kemurahan, kasih-sayang, dan keridhaan-nya. Apapun agenda politik SBY tidak masalah, selama bisa ikut dalam “rombongan Bapak”. Tidak terkecuali elit-elit partai Islam. Mereka tidak peduli masyarakat akan berkomentar apapun, selama mereka bisa “ikut nampang” dalam rombongan Kabinet 2009-2014. Politik hari ini benar-benar mengabdi untuk: kesejahteraan diri!

ANTI ORDE BARU

Kita masih ingat saat tahun 90-an dulu. Waktu itu Pak Harto mendekat kepada Ummat Islam (apapun tujuan politiknya). Beliau memutuskan kemitraan politik dengan Beny Murdani, setelah mantan jendral itu diindikasikan telah merancang skenario kudeta menggulingkan Soeharto. Hanya saja, media-media massa “membisu” dari agenda Beny tersebut.

Waktu itu Soeharto dikecam habis-habisan dalam isu: Korupsi, keluarganya memperkaya diri, militeristik, pelanggaran HAM, masalah Timor Timur, juga sikap otoriter anti demokrasi.

Media-media massa, para pakar akademis, para pengamat politik, cendekiawan, politisi, media-media asing, dan lain-lain, waktu itu mereka serentak menghujani Pemerintah Soeharto dengan serangan-serangan seputar isu-isu di atas. Soeharto tidak diberi waktu istirahat, melainkan dia harus menelan segala macam tuduhan-tuduhan itu. Pendek kata, Soeharto digambarkan sebagai pemimpin: Tangan besi, militeristik, korup, anti demokrasi, pelanggar HAM, dan sebagainya.

Prestasi-prestasi Soeharto tidak diungkap sama sekali. Tetapi segala borok-borok politiknya diungkap secara obralan. Icon perlawanan anti Soeharto waktu itu ada di tangan Amien Rais yang berlindung di balik struktur Muhammadiyyah, ICMI, dan penulis ahli Republika. Tujuan politik Amien Rais menghentikan sikap otoriter Soeharto, sementara saat yang sama Soeharto sedang dekat dengan Ummat Islam. Maka Amien pun menggunakan “amunisi Ummat” untuk mencapai target politiknya. [Perlu diingat, seidealis-idealisnya seorang Amien Rais, dia tetap doktor lulusan Amerika dan sangat American minded. Sehingga Adian Husaini pernah mengkrisi Amien dengan bukunya “Amien Rais dan Amerika” (?)].

Media-media massa, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. mereka juga sangat aktif dalam menggalang opini tentang arus gerakan politik anti Orde Baru. Terlebih ketika mulai bangkit gerakan mahasiswa tahun 2008, TV-TV itu sangat kuat dalam mengarahkan opini ratusan juta rakyat Indonesia.

IRONI ERA REFORMASI

Sejujurnya, kita bersyukur ketika ada gerakan sosial-politik untuk memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Demi Allah, kita bersyukur atas semangat masyarakat (khususnya aktivis) untuk mengadakan perbaikan kondisi Orde Baru. Orde Baru jelas jauh dari ideal, banyak kekurangan-kekurangannya. Ketika hal itu ingin diperbaiki, ya alhamdulillah. Itulah yang diinginkan semua pihak. Pendek kata, agenda-agenda politik untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Indonesia adalah sangat mulia.

Namun anehnya, setelah Reformasi berjalan lebih dari 10 tahun (1998-2009) kenyataan baik yang kita harapkan sangat jauh dari harapan. Ya, masyarakat semua telah menyaksikan bahwa kondisi kehidupan saat ini jauh lebih sulit ketimbang era Orde Baru dulu. Secara sederhana saya katakan: “Apa sih artinya Reformasi itu? Apa sih arti Reformasi secara bahasa?” Reformasi kan artinya perbaikan, atau rekonstruksi. Lho, kok setelah Reformasi bergulir kehidupan masyarakat menjadi semakin buruk, sengsara, penuh penderitaan lahir-batin? Berarti selama ini yang terjadi bukan Reformasi, tetapi DEKONSTRUKSI (penghancuran) kehidupan.

Alih-alih mau menyamai prestasi Orde Baru dalam kebaikan, menyamakan harga beras saja agar sama seperti era Orde Baru dulu dengan standar Rp. 1000,- per kilogram, susahnya bukan main. Bahkan sangat musrtahil tercapai saat ini. Meskipun Indonesia diklaim telah “swasembada beras”.

Dan lebih aneh lagi ketika kita menyaksikan sikap-sikap politik regim SBY dalam 5 tahun terakhir, khususnya sejak 2008 sampai 2009. Hal-hal yang dulu dikecamkan ke Soeharto, sepertinya satu demi satu dilakukan oleh penguasa masa kini. Sikap otoriter, pemusatan kekuasaan, memakai mesin birokrasi untuk tujuan politik, bersikap repressif kepada Ummat Islam (dalam isu terorisme), dan sebagainya, kini dilakukan lagi.

Dan untuk semua kenyataan ini: Media massa, pakar politik, pakar akademisi, para cendekiawan, media-media Barat, politisi, para birokrat, dan sebagainya, mereka memilih diam, membiarkan, mendukung, men-support, melindungi, mengiyakan, memproteksi, dan seterusnya. Ketika Soeharto melakukan hal-hal yang zhalim dalam politiknya, mereka semua sepakat MENGEROYOK Soeharto sampai terjatuh. Tetapi saat sikap-sikap otoriter itu dilakukan oleh penguasa saat ini, mereka diam seribu bahasa.

Inilah kenyataan yang sangat aneh bin ajaib. Ketika Soeharto bersikap otoriter, semua pihak menghabisinya dengan hujatan-hujatan luar biasa. Namun saat penguasa saat ini (SBY) bersikap otoriter dan memusatkan kekuasaan ke dirinya, mereka semua diam saja, seolah seperti “gak tahu apa-apa”. Dari sekian banyak media-media TV, hanya MetroTV saja yang berani bersikap independen. Meskipun dalam banyak kasus yang lain, MetroTV juga sama-sama membeo kekuasaan.

INTINYA DI MANA?

Kita menjumpai perkara yang sama, yaitu sikap OTORITER penguasa, baik di masa Orde Baru, maupun di zaman sekarang. Sama-sama otoriternya. Hanya saja, Soeharto lebih panjang waktu berkuasanya, sehingga lebih banyak catatan kezhalimannya yang ditulis para pemerhati. Sementara SBY baru 5 tahun, dan akan memimpin 10 tahun, dengan ijin Allah. Baik kepemimpinan Soeharto atau SBY, sama-sama mengadung sikap politik otoriter. Hanya bedanya, Soeharto mudah tersenyum, sedang yang satu lagi mahal senyum.

Mengapa sikap media massa, pengamat, akademisi, politisi lain kepada dua pemimpin itu (Soeharto dan SBY)?

Ternyata yang membuat berbeda itu adalah keberpihakan masing-masing pemimpin. Seoharto berpihak ke petani, nelayan, penguasaha kecil, pengrajin, pedagang. Dia juga berpihak ke pembangunan desa, KUD, koperasi, BMT, transmigrasi, dan lain-lain. Sementara SBY secara umum berpihak ke AGENDA LIBERALISASI dan WESTERNISASI. Nah, inilah beda utamanya. Soeharto berpihak “ke dalam”, sementara SBY berpihak “ke luar”.

Bagi media massa, para pakar, pengamat, politisi, pengusaha, dll. tidak masalah dengan sikap OTORITER, ZHALIM, DEMOKRASI CURANG, dll. selama tetap mendukung agenda liberalisasi. Dengan liberalisasi, mereka diberi kebebasan untuk membabat rakyat kecil yang lemah (mustadh-afin) sesuka hatinya. Sementara kalau sistem PROTEKSI ala Soeharto, mereka merasa sangat terbelenggu, terpenjara, untuk menghabisi kehidupan rakyat kecil.

Bagi para pendukung liberalisasi itu, “Bullshit dengan demokrasi.” Mereka sama sekali muntah dengan prinsip-prinsip demokrasi, atau apalah yang selama ini didengung-dengungkan. Bagi mereka target utamanya bukan menjadi “penyelamat demokrasi atau HAM”, tetapi mendapat kesempatan bebas untuk menindas masyarakat kecil sesuka hati, seenak perutnya sendiri, dimanapun dan kapanpun mereka menginginkannya. Nah, inilah intinya target mereka.

Demokrasi dimanapun akan mereka bela mati-matian, kalau dengan jalan itu mereka bisa menindas orang-orang lemah sesuka hatinya. Sebaliknya, demokrasi akan mereka kencingi, mereka ludahi, mereka injak-injak, kalau demokrasi ditujukan untuk melindungi kepentingan rakyat kecil, masyarakat lemah, seperti rakyat Indonesia selama ini.

Jadi tujuan utama mereka adalah: ketamakan harta-benda, penindasan masyarakat untuk memperkaya diri, memuaskan hawa nafsu hewani mereka.

REKOMENDASI

Saya menasehatkan kepada saudara-saudara budiman:  jangan pernah lagi percaya dengan media massa, para pakar politik, pengamat, akademisi, politisi, pejabat politik, dan lain-lain. Jangan mempercayai mereka semua, sebab mereka hanyalah “senjatanya kaum kapitalis”. Mereka tidak jujur dalam ucapan, tindakan, dan pemikiran-pemikirannya. Mereka hanyalah “centeng-centeng” kapitalisme, jangan dipercaya sama sekali. Mempercayai mereka, sama saja dengan ridha terhadap penindasan masyarakat.

Hanya memang sulitnya, masyarakat Indonesia sebagian besar kurang terpelajar, sangat lugu, dan mudah diapusi (ditipu). Inilah masalah besar kita selama. Alhamdulillah, Allah mengajarkan kita pengertian-pengertian tentang “benang merah” berbagai persoalan. Namun sayang, rakyat sendiri awam, polos, gampang sekali dikendalikan dengan iming-iming materi. Itulah dilemanya hidup di negeri Indonesia ini.

Tapi apapun juga, jangan berputus-asa. Lakukan perbaikan sekuat kemampuan. Hidup kita tak lebih dari sebuah ungkapan, “In uridu illal ishlaha mastatha’tu” (aku ini tak lain hanyalah menginginkan perbaikan, sekuat kemampuanku). Ya terus lakukan perbaikan, sampai Allah memberi satu dari dua kenyataan: Hidup mulia dalam Islam, atau wafat sebagai bagian dari para syuhada’.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

(Mine).

Iklan

Partai Islam Sangat Ngeri…

Juli 22, 2009

Kalau membaca judulnya, sangar ya? Partai Islam sangat mengerikan… Benarkah, atau cuma sensasi saja, biar ada di barisan teratas pencarian oleh mesin google?

Masalah ini bermula dari dukungan partai-partai Islam atau partai massa Muslim kepada pasangan SBY-Boediono. Sungguh, SBY-Boediono tidak akan menang jika tidak didukung oleh partai label Islam/Muslim itu. Suara Demokrat hanya sekitar 20 %, sementara suara partai label Islam/Muslim sekitar 28 %. Ditambah berbagai partai lain, suara pendukung SBY-Boediono menjadi 56 % (kata Anas Urbaningrum).

Posisi partai label Islam/Muslim sangat kuat dalam mendukung pasangan SBY-Boediono. Ini tidak diragukan lagi. Meskipun dalam soal bagi-bagi kursi di kabinet nanti, partai-partai itu harus siap dikecewakan, karena segala sesuatunya akan dikembalikan kepada keputusan Pak SBY sendiri.  Istilah, semua tergantung apa yang ada “di kantong” Presiden.

Lalu apa hubungannya dengan Islam ke depan?

Oh ya, jelas hubungannya. Pasangan SBY-Boediono dikenal sangat dekat dengan para penganut agama LIBERAL. Rizal Malarangeng itu adalah salah satu “intan permata” kaum Liberaliyun. Dan Anda masih ingat, bagaimana kemarahan SBY kepada FPI pasca insiden Monas, 1 Juni 2008 lalu? Padahal MUI sudah memberikan fatwanya, bahwa paham SEPILIS itu haram. Fatwa ini sudah sangat terkenal.

Untuk lebih memahami masalah hubungan SBY dengan kaum Liberaliyun itu, silakan baca hasil wawancara Sabili dengan Habib Riziq Shibah berikut ini: Kemenangan SBY Kemenangan Kaum SEPILIS. (Dimuat di situs Sabili dengan link: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=335:kemenangan-sby-kemenangan-kaum-sepilis&catid=83:wawancara&Itemid=200).

Partai label Islam/Muslim (disingkat PLIM) itu tidak memandang bahayanya kaum Liberaliyun yang biasa menghina Allah, Nabi, dan Al Qur’an itu. Mereka tidak mau tahu, selain syahwat kekuasaan belaka. Benar-benar sudah hancur moralitas mereka. Benar-benar sudah luluh-lantak. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Saya menyangka, semua atribut keislaman yang mereka bawa-bawa itu, semua itu hanya seperti ALAT DAGANG saja. Sudah sedemikian rusaknya urusan ini. Mereka lebih takut tidak mendapat kursi menteri, daripada memikirkan nasib Islam dan kaum Muslimin ke depan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dengan kenyataan seperti ini, bisa dikatakan riwayat partai Islam/Muslim sudah tamat. Mereka sudah menjual simbol-simbol Islam untuk keuntungan sempit, materi keduniaan.

Ya Allah ya Rabbi, betapa takutnya kalau kami berada dalam posisi mereka. Antara syurga dan neraka sudah tidak jelas bedanya. Hitam dan putih sudah kabur. Halal sudah menjadi ‘halam’; sebagaimana haram sudah menjadi ‘haral’.

Ini sih bukan kumpulan manusia-manusia yang memperjuangkan Islam, tetapi “para pencari kerja” di dunia simbol-simbol keislaman. Sangat mengerikan, sangat mengerikan, sangat mengerikan!

Ya Allah, kami memohon istiqamah di jalan-Mu, tidak berpaling dari jalan-Mu, sampai saat kami wafat menghadap-Mu. Allahumma amin.

(Politische).


PKS, Kami Sudah Mengingatkanmu

Mei 14, 2009

Kini saatnya kita benar-benar ingin berbicara sepenuh hati kepada PKS. Ini adalah momentum besar bagi PKS untuk memperbaiki kerja politiknya. Saya menyarankan, “Akhi, kini muncul momentum besar bagi Anda sekalian untuk menyelamatkan perahu politik Anda. Selamatkan partai Anda, masa depan Anda, sebelum yang terburuk akan melanda partai Anda!”

Sebagaimana kita telah sama-sama ketahui, PKS bereaksi tegas terhadap sikap politik Demokrat yang memilih Cawapres, Boediono, Gubernur Bank Indonesia. PKS juga bereaksi keras terhadap rencana Demokrat mengundang PDIP masuk ke barisan koalisi mereka selama ini. Dibandingkan PPP, PAN, dan PKB, maka PKS adalah satu-satunya partai Islam yang bereaksi keras terhadap agenda SBY dan Denmokrat itu.

Akhi…jujur saja saya mengatakan, sikap Anda selama ini telah membuat kesal, marah, dan benci kalangan Islamis di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak. Mereka mempertanyakan sikap Anda, kesalahan manuver Anda, serta komitmen Anda kepada misi perjuangan Islam. Termasuk kondisi pasca Pemilu April 2009 yang menempatkan partai Anda di posisi ke-4, dengan perolehan suara sekitar 8 %.

Banyak kalangan Islamis bertambah-tambah skeptis melihat manuver partai Anda yang begitu lunak kepada kekuasaan, dan sepertinya kehilangan “kepekaan” untuk menunjukkan determinasi Anda sebagai partai moralis dan harapan Indonesia baru. Dengan sikap-sikap yang Anda tunjukkan selama ini, banyak yang meyakini, partai Anda akan tenggelam di masa nanti. Maksudnya, jati diri partai Anda yang mengikatkan diri dengan Islam akan berakhir, lalu menjadi karakter partai sekuler seperti pada umumnya.

Nah, kini partai Anda sedang diperhatikan oleh Ummat Islam se-Indonesia. Kalangan Islamis cemas hatinya melihat sikap Anda ke depan. Mereka tidak menyangka bahwa Anda masih memiliki sisa-sisa sikap ketegasan. Dan satu lagi yang penting, Anda masih bersikap rasional terhadap masa depan partai Anda. Jika Anda membiarkan diri masuk dalam “skenario politik” Demokrat, dengan dalih diplomasi apapun, yakinlah Anda tidak akan memiliki masa depan apapun. Sikap politik Demokrat ibarat pusaran air yang bisa menenggelamkan siapa saja.

Ini adalah momentum Anda untuk menyelamatkan partai Anda! Ini adalah RIZKI tidak terduga yang tiba-tiba hadir di depan Anda. Raihlah rizki ini, pegang kuat-kuat, jangan dilepaskan. Jika Anda pegang, partai Anda insya Allah akan selamat; jika dilepaskan, sungguh masa depan Anda nanti hanyalah ucapan sayonara

Sayuti Asyathiri, salah satu Ketua DPP PAN beberapa waktu lalu mengatakan: “PAN sebaiknya jangan berkoalisi dengan Demokrat, tetapi berkoalisi dengan kubu perubahan. Jika kita menang dalam Pilpres, bisa membangun pemerintahan yang lebih baik. Tetapi kalau kalah, tidak apa-apa. Itu adalah investasi politik yang bagus untuk masa depan PAN nanti.” Kurang lebih seperti itu.

Saya menyarankan, ikutilah pandangan di atas, meskipun kemudian ternyata PAN tidak mampu menetapi jalan tersebut. Lebih baik PKS melakukan investasi politik ke depan, daripada bergabung dengan Demokrat. Pemilu April 2009 dengan segala ketidak-becusannya telah mendelegitimasi prospek politik Demokrat sendiri. Meskipun suatu ketika SBY menang dalam Pilpres, maka di hati jutaan masyarakat ada “gores luka” yang sangat sulit sembuhnya, karena pelaksanaan Pemilu April 2009 yang penuh masalah itu. Mendukung Demokrat, tak ubahnya dengan ikut melegitimasi pelaksaan Pemilu April 2009 yang digugat oleh banyak kalangan itu.

Ya, ini sekedar saran. Boleh diikuti, boleh juga diabaikan. Sejujurnya, dalam segala sikap kritis saya selama ini ke PKS, masih ada nuansa harapan agar partai ini menjadi lebih baik di masa ke depan. Ummat Islam tentu akan sangat berterimakasih kalau ada tenaga-tenaga politisi Muslim yang komitmen membela urusan Ummat. Siapa lagi yang secara formal harus membela, kalau bukan Anda sekalian.

Secara pribadi saya berjanji, jika Anda peduli dengan masa depan partai Anda, dan tidak menjual-belikannya dengan harga murah, hanya dengan kompensasi jabatan tertentu, insya Allah saya akan membersihkan blog ini dari tulisan-tulisan yang bersifat mengkritisi PKS.

Sekali lagi ya Akhi: “Selamatkan masa depan partaimu! Ini adalah momentum besar yang tidak akan terulang lagi. Selamatkanlah partaimu, atau kita nanti akan menangis bersama-sama meratapi hilangnya salah satu perahu politik pembela Ummat, ketika Anda lebih tertarik dengan kue kekuasaan.”

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 14 Mei 2009.

AM. Waskito.

Catatan: Tulisan ini ditulis sebagai bukti bahwa dalam hati kami (setidaknya saya) semula masih ada harapan kebaikan bagi PKS. Namun setelah acara deklarasi pasangan SBY-Boediono di Sabuga ITB, 15 Mei 2009, sekitar pukul 20.00 WIB. Maka harapan itu pun kandas. Harapan hanya harapan, PKS lebih mencintai kekuasaan daripada misi perjuangan Islam. Itu pun cara-caranya sangat tidak elok. Biasa, memakai cara ANCAMAN untuk mendapatkan jatah kekuasaan yang lebih basah. Ya, begitulah. Tulisan ini sengaja dipertahankan, tidak dihapus, agar kaum Muslimin tahu, bahwa: Kami semula masih berbaik harapan kepada PKS!!!


Runtuhnya Idealisme PARTAI ISLAM

April 13, 2009

Ada kesedihan besar ketika menyaksikan kondisi partai-partai Islam (atau berbasis massa Islam) pasca Pemilu Legislatif April 2009. Eksistensi mereka semakin lemah, ditandai dengan perolehan suara yang rata-rata di bawah 10 %. Kenyataan yang sangat pahit menimpa PPP dan PKB. Jika semula mereka dikenal sebagai partai papan tengah, saat ini harus mau turun ke peringkat partai kecil di bawah PKS. Masih lumayan bagi PKS, mereka masih bisa mengangkat muka, meskipun hasil suaranya nyaris sama dengan perolehan pada Pemilu 2004 lalu.

Namun kesedihan kita tidak tertumpu di atas perolehan suara yang kecil itu, tetapi lebih pada HILANGNYA SPIRIT PERJUANGAN POLITIK ISLAMI pada diri partai-partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PKB, dan lainnya itu. Kalau kita kini bicara tentang partai Islam, substansinya hanya masalah kekuasaan, jabatan, dan posisi politik saja. Sangat sulit mengangkat tema idealism perjuangan Islam ke hadapan mereka. Seolah, amanah perjuangan Islam itu sebagai UTOPIA (atau bahkan dianggap “bullshit”) yang tidak perlu dihiraukan sama sekali.

Kehilangan Idealisme

Mungkin Anda akan bertanya, “Apa buktinya partai-partai Islam telah kehilangan idealisme?”

Disini ada beberapa jawaban yang bisa disampaikan:

[Satu], jauh-jauh hari sebelum Pemilu April 2009 itu digelar sudah ada ide besar dari Prof. Din Syamsudddin supaya partai-partai Islam membentuk “Poros Tengah Jilid II”. Bisa jadi, secara politik ide itu kurang bagus dijalankan (misalnya ada pandangan demikian). Tetapi spiritnya itu benar, bahwa partai-partai Islam perlu bersatu dalam satu kepentingan perjuangan Islam. Kalau tidak bisa bersatu dalam semua tujuan, setidaknya pada sebagian tujuan.

Sayangnya, ide itu hanya menjadi lontaran statement politik yang tidak membekaskan pengaruh apapun. Bahkan keluarnya Fatwa “golput” MUI yang sebenarnya tujuannya untuk mendukung eksistensi partai-partai Islam juga tidak membawa pengaruh berarti. (Kalau golongan anti golput menolak fatwa tersebut, seperti saya misalnya, itu wajar. Tetapi kalau partai-partai Islam tidak tergerak untuk bersatu setelah fatwa itu keluar, nah itu dipertanyakan).

[Dua], partai-partai Islam yang mendapat suara kecil di Pemilu April 2009 (meskipun mereka masuk 10 besar) sepertinya tidak peka dengan cara-cara penyelenggaraan Pemilu yang carut-marut. Para pengamat dan politisi sudah mengingatkan sejak awal, supaya kasus DPT dalam Pilkada Jatim yang memenangkan pasangan KARSA tidak terulang dalam Pemilu Legislatif 2009. Kenyataannya, hal itu terulang lagi. Hampir merata di seluruh Indonesia kasus-kasus DPT mengemuka. Terlalu ruwet kalau harus dijelaskan lebih jauh.

Tetapi dalam hal ini, partai-partai Islam nyaris tidak ada yang peduli dengan tata-cara penyelenggaraan Pemilu seperti itu. Padahal cara tersebut menciderai semangat sportifitas dalam penyelenggaraan kompetisi politik. Saya setuju dengan pandangan pengamat LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, bahwa Pemilu April 2009 ini paling buruk sepanjang era Reformasi, dan paling buruk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Harusnya partai-partai Islam peduli dengan semua ini, sebab hal itu akan menentukan berbagai kepentingan kaum Muslimin selanjutnya.

Contoh, kalau cara seperti itu dipertahankan, maka sulit bagi politisi-politisi Muslim untuk memperjuangkan aspirasi Ummat. Meskipun demokrasi itu tidak sesuai Syariat Islam, tetapi sistem demokrasi yang jujur, itu lebih baik daripada demokrasi yang curang. Setidaknya, dari proses demokrasi yang jujur FIS pernah menang di Aljazair, Refah atau AKP menang di Turki, PAS menang di Malaysia, dan Hamas menang di Palestina. Jika demokrasi dilakukan secara curang, itu sama dengan kegelapan di atas kegelapan.

[Tiga], sangat disayangkan partai-partai Islam tidak memiliki paradigma perjuangan yang layak. Justru semangat mengadakan perubahan dari sistem kapitalisme ke sistem pro kepentingan nasional muncul dari partai-partai nasionalis, seperti Gerindra dan Hanura. Hampir-hampir tidak ada perlawanan sedikit pun dari partai-partai Islam terhadap sistem kapitalisme-liberalis yang saat ini membelenggu kehidupan bangsa Indonesia.

[Empat], yang paling parah lagi, hampir semua partai Islam saat ini lagi berburu kekuasaan, berebut menempel ke Partai Demokrat, apakah dia PKS, PKB, atau PAN. (Katanya, PPP juga akan merapat ke Partai Demokrat). Masa 5 tahun menjadi sekutu Demokrat di Pemerintahan, rupanya belum memuaskan partai-partai Islam itu, sehingga mereka berebut mengatakan, “Tambah lagi, tambah lagi…” Wah, wah, wah, sangat jauh dari karakter partai Islami yang selalu menjaga jarak dengan kekuasaan.

Kita sudah sama-sama tahu, sejak lama para ulama selalu mengatakan, bahwa ulama janganlah mendatangi pintu-pintu umara, sebab hal itu akan mendatangkan banyak fitnah. Bahkan Said bin Musayyab rahimahullah, mengatakan bahwa ulama yang mendatangi pintu-pintu penguasa, dia adalah seorang “pencuri”.

Kalau sekarang situasinya sangat berbeda. Partai-partai Islam bukan lagi demen mendatangi pintu-pintu penguasa, bahkan mereka berebut menjadi tukang pembuat pintu-pintu penguasa itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sikap Oposisi

Kalau Anda mengkaji nilai-nilai Islam, nanti akan sampai pada satu kesimpulan, bahwa sebuah partai Islam idealnya selalu menjadi oposisi bagi penguasa. Hal itu setara dengan keseimbangan hubungan ulama dan umara’. Kalau bisa, partai Islam jangan menjadi birokrator, tetapi menjadi pengawas praktik birokrasi. Birokrasi ibarat umara’, maka partai Islam menempatkan diri sebagai ulama yang tugasnya terus mengawasi kiprah umara’.

Memang boleh seorang politisi Muslim diangkat sebagai pejabat, asalkan dia tidak meminta jabatan itu, dan dia memang memiliki keahlian untuk memikulnya. Jika ada politisi Muslim yang diangkat sebagai pejabat birokrasi, dia harus dipisahkan dari mekanisme partai. Maksudnya, dia diposisikan sebagai pihak yang terus dikritisi, sama seperti pejabat-pejabat lain. Jangan karena dia mentang-mentang pejabat dari partai Islam, lalu kita menutup mata dari mengawasi, mengkritisi, dan menasehatinya. Karakter politik Islam adalah amar makruf nahi munkar, maka kalau partai Islam tidak memposisikan diri sebagai OPOSISI, dia akan kehilangan nyali untuk menyampaikan amar makruf nahi munkar.

Eksistensi Semangat Oposisi

Di jaman Orde Baru dan Reformasi, nyaris kita tidak pernah menyaksikan ada sikap oposisi dari partai-partai Islam. Hampir seluruhnya bersikap KOALISI, alias mendukung regim yang berkuasa. Sejak Pemilu 1999, Pemilu 2004, dan naga-naganya Pemilu 2009 ini, sikap partai Islam cenderung PRO PEMERINTAH. Wajar jika dalam kehidupan social kita temukan sangat banyak kemungkaran, sebab partai-partai Islam cenderung pro Pemerintah, dan cuek terhadap berbagai kemungkaran itu. Celakanya, ada partai Islam tertentu yang sangat bernafsu menguasai Pemerintahan, dan ingin menunjukkan kepada bangsa Indonesia (dan dunia) kemampuan mereka dalam mengelola negara yang bersih, profesional, dan tidak korup. Mereka mengklaim sebagai komunitas “paling bersih” yang dimiliki oleh sejarah Indonesia masa kini. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi sesungguhnya sejak Reformasi 1998, kaum Muslimin pernah mendapati suatu semangat OPOSISI yang sangat mengharukan. Momentum itu muncul tidak lama setelah Partai Keadilan (PK) kalah dalam Pemilu 1999, tetapi mendapat sejumlah kursi di DPR RI hasil perolehan suara dan limpahan suara dari partai-partai Islam lain. Waktu itu karena jumlah kursi yang dimiliki PK sedikit, DPP PK mengeluarkan bayanat (penjelasan sikap partai) yang isinya sebuah maklumat, bahwa PK hanya akan berpolitik di Parlemen, dalam rangka mengkritisi Pemerintah. Sebagai pendukung partai, saya lega dengan sikap itu. Meskipun suara kecil, tetapi masih memiliki harga diri.

Tetapi belum juga bayanat itu tersebar merata ke seluruh kader PK di Tanah Air, tiba-tiba DPP PK melakukan manuver jungkir-balik yang mencengangkan. Tiba-tiba mereka mendukung Nur Mahmudi Ismail (walikota Depok sekarang) dipinang oleh Kabinet Gus Dur menjadi Menteri Kehutanan. Sungguh, bayanat DPP PK belum sampai ke tangan kader-kader yang dituju, tetapi seketika itu haluan partai berubah drastis. Yang semula mau menjadi OPOSISI Pemerintah, mendadak mau menjadi bagian dari Kabinet Pemerintah Abdurrahman Wahid.

Secara pribadi, peristiwa di atas sangat mempengaruhi sikap saya kepada PK (atau PKS kemudian). Di mata saya, partai ini tidak memiliki keteguhan sikap, tidak tahan godaan. Mereka merumuskan bayanat dengan proses yang memakan waktu dan pikiran, tetapi mementahkan begitu saja apa yang telah dibuatnya. Jujur, waktu itu saya kecewa berat. Saya tidak yakin, partai ini akan bisa menegakkan KEADILAN, sebagaimana klaimnya. Betapa tidak, sejak awal mereka sudah membeir contoh sikap khianat terhadap keputusan formal yang dibuatnya sendiri.

Itulah masa-masa indah ketika partai Islam memiliki semangat OPOSISI. Ya, keinginan PK untuk hanya bermain di Parlemen adalah sikap IZZAH yang sangat mulia. Itulah cikal bakal sikap oposisi partai Islam yang sangat mengharukan, di jaman Reformasi. Hanya saja, sayangnya, usia komitmen itu sangatlah belia. Mungkin usia komitmen oposisi itu hanya 2 atau 3 hari saja. Ya, lumayan lah, masih ada komitmen, meskipun usianya hanya 2 atau 3 hari. Daripada tidak sama sekali kan…

(Kalau ingat tanggal peristiwa itu, mungkin ia bisa ditabalkan sebagai HAROPNAS, Hari Oposisi Nasional. Lagi-lagi meskipun usianya hanya 2 atau 3 hari saja, sebab setelah itu semangatnya selalu KOALISI, sampai saat ini. Mungkin Jaya Suprana tertarik mengangkat momen itu masuk rekor MURI, untuk usia oposisi tercepat di dunia).

Jika nanti PKS, PAN, PKB (atau ditambah PPP) bergabung dalam koalisi bersama Partai Demokrat, ya kita tidak memiliki lagi kekuatan oposisi. Artinya, Ummat Islam akan kehilangan sangat banyak kesempatan melakukan amar makruf nahi munkar melalui jalur politik formal. Jika demikian, maka istilah “partai Islam” harus segera direvisi menjadi “partai kekuasaan”. Di bawah dominasi “partai kekuasaan”, kita akan lebih banyak berdzikir: Inna lillahi…astaghfirullah…masya Allah…na’udzubillah min dzalik…dan sebagainya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 12 April 2009.

(Politische).


Antara PKS dan Gerindra

Februari 22, 2009

Ada sisi kesamaan ketika kita bicara tentang PKS dan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya). Keduanya di awal munculnya dianggap sebagai kekuatan “kuda hitam”. Partai Keadilan (PK) sebelum Pemilu 1999 dianggap sebagai “kuda hitam” yang mengkhawatirkan PDIP. Tetapi prediksi itu keliru. Tahun 1999 PK bahkan tidak lolos electoral treshhold. Namun spirit “kuda hitam” benar-benar terwujud di Pemilu 2004. Dengan wajah baru sebagai PKS, partai para aktivis Tarbiyah ini memperoleh sekitar 8 % suara pemilih, bersaing dengan PAN dan Partai Demokrat. Sementara PBB yang semula lebih kuat dari PKS malah terpuruk pasca Pemilu 2004. Jika Yuzril Ihza tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat, kemungkinan nasib PBB bisa semakin memprihatinkan.

Begitu pula dengan Partai Gerindra. Gerindra kini menjadi spirit “black horse”, dianggap sebagai ancaman yang mengkhawatirkan partai-partai lain. Di atas kertas, jika citra positif Gerindra tetap terjaga sampai Pemilu April 2009 nanti, partai ini diperkirakan bisa meraih sekitar 10 % suara pemilih. (Bahkan bisa lebih jika masyarakat memberikan simpati besar kepada Gerindra). Dengan suara 10 %, Prabowo Subianto belum cukup untuk mencalonkan diri secara mandiri sebagai calon Presiden, sebab sesuai UU Politik yang baru, syarat pencalonan Presiden harus didukung minimal 20 % suara hasil Pemilu legislatif. Tetapi suara itu bisa menjadi modal yang cukup untuk beratraksi macam-macam di panggung politik. Kalau toh tetap mau menjadi presiden, Prabowo tinggal koalisi dengan partai-partai lain.

Jika Gerindra menjadi salah satu partai yang berperan significant dalam panggung politik di Indonesia, keberadaannya jelas akan menggeser suara partai-partai lain. Jumlah pemilih di Indonesia diperkirakan stagnan, bahkan bisa menurun akibat semangat golput. Jika satu partai mendapat suara lebih, otomatis ia akan mengambil potensi suara partai-partai lain. Salah satu potensi suara yang bisa diraup justru dari partai-partai Islam yang performanya semakin tidak jelas dari waktu ke waktu. Disebut sekuler, mereka masih setia dengan identitas Islam; tetapi disebut Islamis, tidak tampak ada perbedaan significant dengan partai-partai lain.

Dari apa yang saya perhatikan (secara subyektif) di tengah-tengah masyarakat di sekitar saya, ada sebuah fenomena menarik. Kini seperti muncul demam Gerindra di tengah masyarakat. Banyak masyarakat kecil memakai sticker atau kaos bergambar Gerindra. Kalau bendera-bendera jelas tidak terhitung jumlahnya. Tetapi pada sticker atau kaos, itu menunjukkan suatu keberpihakan.

Perlu diketahui juga, fenomenan “demam” itu pada tahun 2004 pernah terjadi pada PKS. Sungguh saya lihat banyak pedagang-pedagang kecil secara sukarela meletakkan sticker PKS di gerobak, kendaraan, atau tempat mereka jualan. Nah, kini demam PKS itu berubah menjadi demam Gerindra. Apakah ini pertanda bahwa Gerindra akan menjadi partai eksis di gelanggang politik Indonesia? Wallahu a’lam.

Selera Aktivis Islam

Sebenarnya, di mata umumnya aktivis Islam, termasuk saya, PKS itu dianggap sebagai partai harapan. Banyak kalangan Islam sangat mengharapkan partai ini. PKS tampak dinamis dengan tenaga-tenaga muda, komitmen kepada nilai-nilai Islam, background gerakan Islam (Ikhwanul Muslimin), keshalihan pemimpin dan anggotanya, serta inovasi-inovasi baru yang mereka gelar dalam kehidupan politik di Indonesia. Sungguh, selebar apapun perbedaan pandangan dengan konsep dakwah PKS, banyak aktivis Islam semula berpaling ke partai ini. Alasan mereka, “Mencari yang lebih dekat ke nilai-nilai Islam.” Bahkan di mata sebagian Salafi, PKS lebih dipilih ketimbang partai-partai Islam lain.

Namun langkah-langkah politik PKS yang cenderung pragmatis membuat partai ini dijauhi aktivis Islam. Kesalahan terberat PKS ialah ketika menjadi bagian dari koalisi Pemerintahan SBY-JK. Maka segala sesuatu yang buruk menyangkut regim SBY-JK, PKS ikut menanggung getahnya.

Koalisi PKS di usianya yang masih sangat muda, yaitu ketika baru meraih 8 % suara menjadi tanda tanya besar. Bukankah suara mereka masih 8 %, mengapa sudah buru-buru “pasang badan” menjadi mitra koalisi penguasa? Dengan koalisi seperti itu, jelas misi PKS untuk melaksanakan amar makruf nahi munkar, sebagaimana hal itu sangat diharapkan oleh aktivis-aktivis Islam, menjadi jauh dari kenyataan. Bagaimana akan mengkritisi Pemerintahan kalau PKS ikut terlibat di dalamnya? Lebih buruk lagi, dalam semangat koalisi itu PKS dianggap tidak konsisten oleh mitra koalisinya (PD dan Golkar). PKS dianggap tidak mau ikut memikul beban ketika ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh regim. Hubungan PKS dengan PD sangat harmonis pada Pilpres 2004, tetapi pada saat ini ia seperti hubungan antara air dan minyak.

Kalau kita melihat ke era PK (Partai Keadilan), ternyata sejak itu juga semangat oposisi PK sudah melemah. PK ketika itu adalah bagian dari Poros Tengah, bersama PAN, PPP, dan lainnya. Dan kepemimpinan Abdurrahman Wahid dan Megawati, itu sepenuhnya didukung oleh Poros Tengah. Singkat kata, PK menempatkan dirinya menjadi bagian dari Pemerintah juga. Bahkan Nurmahmudi Ismail pernah menjabat sebagai Menhut di era Wahid.

Pertanyaannya? Apakah di komunitas politik PKS ini tidak ada semangat oposisi, sebagai dasar pijakan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar? Sebab, jika posisi politik PKS selalu menjadi bagian dari koalisi, sangat sulit menerapkan misi amar makruf nahi munkar itu.

Hal-hal inilah yang banyak mengecewakan para aktivis Islam. Secara potensial, sebenarnya suara aktivis Islam dekat dengan PKS. Tetapi kinerja politik PKS sendiri yang membuatnya dijauhi. Sejak terjun di politik pada tahun 1998, PKS/PK belum teruji sebagai partai yang melaksanakan amanah amar makruf nahi munkar. Sebab PKS/PK selalu menempatkan diri sebagai bagian dari penguasa.

PKS memiliki pertimbangan saat menjalin koalisi dengan regim. Mereka butuh pengalaman mengelola birokrasi, sehingga bila waktunya tiba, mudah bagi mereka untuk membangun Pemerintahan mandiri. Mereka juga butuh akses birokrasi, sebab disana terdapat saluran dana, informasi, pengaruh, legalitas, dan berbagai macam keuntungan. Sebagai partai dari anak-anak muda, PKS butuh banyak “darah segar”, sebab tadinya komunitas mereka (seperti kata Anis Matta) kebanyakan fuqara’ wa masakin. Selain itu PKS juga ingin membangun kepercayaan publik dengan membuktikan bahwa kader-kader mereka di Pemerintahan bisa bekerja secara profesional dan bersih (tidak korupsi).

Saya tidak tahu apakah ciri politik Ikhwanul Muslimin di dunia seperti itu, yaitu selalu membangun koalisi dengan regim berkuasa. Wallahu a’lam. Tetapi sebagai partai yang merangkak dari bawah, bekerja dari nol, langkah seperti itu tidak tepat bagi PKS. Seharusnya mereka memperbesar potensi dukungan pemilih konsisten. Jika potensi itu sudah diperoleh, bolehlah berbicara dalam konteks birokrasi. Birokrasi itu besar fasilitasnya, tetapi besar juga resikonya. Jika masyarakat sudah kecewa dengan pelayanan birokrasi, tidak mudah meyakinkan mereka lagi. Resiko terjatuh bersama birokrasi lebih besar ketimbang peluang keuntungan yang bisa diperoleh bersamanya. Seperti sering disebut oleh para ulama, “Jangan mendatangi pintu-pintu fitnah, yaitu pintu para penguasa!”

Di mata para aktivis Islam, posisi PKS sudah sedemikian kritis. Tetapi di mata Ummat Islam umum yang taraf pengetahuannya tentang Islam tidak terlalu dalam (disebut abangan tidak bisa, disebut alim juga belum), PKS tetap mendapatkan simpati. Hanya karena para aktivis Islam itu rata-rata terpelajar, jadi efek domino-nya bisa meluas, meskipun secara kuantitas jumlah mereka tidak terlalu besar.

Sebuah Pelajaran Berharga

Ketika kita secara sengaja atau tidak melakukan kritik kepada PKS, hal itu sering ditanggapi secara apriori. Misalnya, kita dianggap ghibah, iri hati, melakukan fitnah, tidak tabayyun, memecah-belah, hanya melihat sisi negatifnya, dan lain-lain. Bentuk retorika yang sering dipakai dalam dunia dakwah, muncul ke gelanggang politik.

Nah, sikap respon seperti di atas tidaklah bagus. PKS dan para pendukungnya harus sadar, bahwa mereka itu sudah berkompetisi bebas di panggung politik. Dalam kompetisi politik ini jangan lagi mengharap perlakuan-perlakuan lembut seperti layaknya aktivitas dakwah. Ya, berbagai kritik yang masuk ke PKS, hal itu adalah konsekuensi dari pilihan terjun dalam kompetisi politik.

Kompetisi politik itu ibarat para pedagang di pasar. Disana terdapat banyak pedagang yang menawarkan berbagai dagangan. Masing-masing bersuara keras agar dagangannya banyak dibeli. Dalam situasi seperti itu, jangan salahkan kalau seorang pembeli tidak membeli barang di kios seorang ustadz, dan memilih membeli di tempat lain karena dianggap lebih murah dan berkualitas barangnya. Jangan karena seseorang tidak membeli di ustadz itu, lalu dia dituduh “tidak loyal kepada Islam”. Wah, suatu tuduhan yang berlebihan.

Jika sudah masuk kompetisi politik, standarnya ya politik juga. Jangan karena seseorang mengkritik PKS (misalnya), dia dianggap tidak komitmen dengan Ukhuwwah Islamiyyah. Alangkah baik kalau PKS tidak lagi memanfaatkan retorika dakwah untuk menjawab berbagai kritik, tetapi cobalah menjawab dengan argumentasi-argumentasi politik seperti partai-partai lain.

Dan ada sisi baiknya bagi PKS. Ketika Anda dikritik oleh siapapun, sekeras apapun materi kritiknya. Jangan cepat emosi, tapi anggaplah semua itu sebagai pendapat politik saja. Sebagai pendapat politik, ya terserah Anda mau diterima atau tidak. Bahkan andai seluruh Indonesia mengecam partai Anda, tetapi Anda tidak bergeming, itu juga boleh. Itu hak Anda sebagai partai politik.

Penawaran Partai Gerindra

Dari sisi simbol, di mata aktivis Islam, Partai Gerindra sangat tidak menarik. Memakai segi lima yang merupakan simbol dari Pancasila, dan gambar Burung Garuda yang juga sama merujuk ke Pancasila. Dari sosok Prabowo Subianto, kalangan Islam masih berselisih, antara pihak yang bisa menerimanya dan menolaknya secara keras. Dalam konteks militer, Prabowo dianggap dekat dengan “militer hijau”. Tetapi di mata para pendukung gerakan Reformasi 1998, Prabowo dianggap memiliki cacat permanen.

Produk utama Gerindra ada 2, yaitu: (1) Sosok Prabowo Subianto, seorang mantan jendral muda yang dinamis dan intelektulis; (2) Spirit gerakan sosial, berupa pembelaan terhadap nasib petani, pedagang pasar, dan nelayan dari kungkungan sistem ekonomi yang semakin liberal. Inilah dua produk utama yang ditawarkan Gerindra. Kemudian hal itu ditunjang oleh upaya promosi sosok Prabowo dan misi perjuangan politik Gerindra, melalui iklan TV.

Dari sisi SDM dan jaringan, Gerindra didukung oleh jaringan komunitas petani, pedagang pasar, dan nelayan. Apakah kualitas SDM itu handal dan layak, belum ada penelitian yang membuktikannya. Perlu dicatat, ditubuh Gerindra ada sosok Fadli Zon. Aktivis satu ini sudah dikenal lama “gandeng renteng” dengan Prabowo Subianto. Bisa dikatakan, Fadli Zon adalah “juru bicara” Prabowo di depan publik. Ketika BJ. Habibie beberapa waktu lalu menulis buku yang dianggap kontroversial, isinya dianggap mendiskreditkan Prabowo, Fadli Zon tampil membelanya, dengan tidak segan-segan untuk melakukan serangan balik ke arah Habibie.

Munculnya Gerindra seperti menjadi angin baru dalam dinamika politik nasional. Gerindra seperti Barack Obama yang menawarkan Hope (harapan baru). Partai ini tidak mencoba “jualan kecap”, tetapi menawarkan keberpihakan kepada petani, pedagang pasar, nelayan, dan entitas masyarakat kecil lainnya. Gerindra juga berani mengkritik praktik liberalisme ekonomi yang partai-partai lain, termasuk PKS, tidak berani mengangkat isu tersebut.

Dalam Today’s Dialogue di MetroTV yang menghadirkan Priyo Budi Santoso (Golkar), Hasan Syarif (PD), Maruar Sirait (PDIP) dan Fadli Zon (Gerindra), disana tergambar perbedaan paradigma politik antara Gerindra dengan partai-partai lainnya. Fadli Zon jelas menegaskan pentingnya perubahan paradigma dari liberalisasi ke arah komitmen dengan kepentingan nasional.

Jika nanti Partai Gerindra benar-benar eksis, mereka perlu mengkader lebih banyak tenaga-tenaga SDM yang handal. Duet Prabowo-Fadli Zon jelas tidak akan cukup untuk mengurusi persoalan rakyat yang sedemikian luas dan komplek.

Nama Baik Prabowo

Menurut pengamat, laju perjuangan Gerindra akan terhambat justru karena citra Prabowo Suabianto sendiri yang sudah tercemar dalam kasus Kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan itu membuat Prabowo dipecat sebagai Danjen Kopassus, dan seluruh atribut militer yang melekat kepadanya dilucuti. Banyak orang menuduh Prabowo ikut bertanggung-jawab atas Kerusuhan Mei yang menewaskan beberapa mahasiswa Trisakti dan kasus penculikan aktivis politik.

Tetapi kalau kita melihat masalah ini secara terbuka, dengan membandingkan dengan peristiwa-peristiwa sejarah lain, justru sikap Prabowo dalam Kerusuhan Mei itu menjadi salah satu prestasi besar dalam sejarah nasional. (Lho, lho, lho…kok prestasi besar ya? Apalagi dalam sejarah nasional? Wah, ngawur iki!).

Cara melihatnya begini:

[o] Transisi politik dari satu orde ke orde lain, kerap kali terjadi dengan jatuhnya korban sangat banyak. Bisa ribuan, ratusan ribu, sampai jutaan. Dan transisi politik yang berdarah-darah itu pernah terjadi di Indonesia.

Lihatlah, transisi politik dari era kolonialisme menjadi era kemerdekaan! Ada ribuan sampai puluhan ribu manusia jatuh sebagai korban. Perang 10 November di Surabaya, Palagan Ambarawa, Agressi Belanda I dan II, tragedi Westerling di Sulawesi Selatan, berbagai macam pemberontakan, dll. Begitu juga transisi dari Orde Lama ke Orde Baru juga berdarah-darah. Bukan hanya nyawa beberapa jendral di Lubang Buaya, tetapi nyawa orang-orang PKI atau yang diduga anggota PKI, sangat banyak tewas sebagai korban. (Di kemudian hari, gerakan Islam dianggap ikut terlibat di balik peristiwa pembantaian itu. Padahal sebagian besar konflik gerakan Islam dengan PKI, lebih pada tataran pemikiran dan ideologi, bukan fisik).

[o] Jatuhnya korban beberapa orang mahasiswa dalam Kerusuhan Mei adalah kejadian luar biasa. Ini adalah revolusi paling damai dibandingkan revolusi kemerdekaan dan revolusi Orde Baru. Kalau diharapkan tidak terjadi korban sama sekali, jelas itu suatu hal yang mustahil. Lagi pula, posisi Prabowo ketika itu adalah sebagai militer aktif. Artinya, dia bertindak di bawah komando, bukan bertindak sendiri-sendiri. Dalam militer hierarki komando sangatlah kuat.

[o] Prabowo secara pribadi telah menerima sanksi berat akibat sikap dan posisi yang dipegangnya. Sanksi militer, seluruh atribut keterlibatan dia dalam militer dilucuti; sanksi moral, dia mendapat sanksi keras dari keluarga Cendana (keluarga mantan isterinya).

Sebagai tokoh politik, Prabowo tidak ubahnya seperti tokoh-tokoh lain, memiliki plus minus. Tetapi jika menjadikan alasan “Kerusuhan Mei” untuk menghalang kiprah politiknya, jelas itu tidak adil. Ya, dalam trasisi dari satu orde ke orde lain, sangat mungkin terjadi secara berdarah-darah seperti telah tercatat dalam sejarah Indonesia di masa lalu. Justru “Kerusuhan Mei” itu terhitung sangat minimal dari sisi korban jiwa. Ia bisa dianggap sebagai revolusi damai. Bandingkan dengan peristiwa Tiananmen di China yang berkuah darah, banjir air mata.

Sri Bintang Pamungkas dalam wawancara dengan TVOne menyebut jendral-jendral militer sebagai pembunuh. Sebagian besarnya pembunuh, kata Bintang.

Namanya juga orang militer, pasti berurusan dengan senjata dan kontak fisik. Mereka itu malah secara resmi diajari membunuh, melumpuhkan lawan, bahkan dibiayai negara untuk mengalahkan musuh. Kalau perwira militer kerjanya memberi kuliah, memberi tugas, mengisi seminar, menulis di koran, mengantar isteri ke pasar, menggendong cucu, dll. jelas itu bukan militer namanya. Itu pekerjaan dosen, seperti Pak Sri Bintang itu. Ya yang realistiklah dalam menilai.

Pendek kata, berilah kesempatan kepad Prabowo atau siapa saja yang memiliki niat baik bagi perbaikan kehidupan rakyat Indonesia. Kesalahan satu dua, ya manusiawi. Tidak ada pemimpin yang suci. Tetapi jangan bersikap zhalim, ingin memonopoli panggung politik untuk diri sendiri.

Melihat Prospek Gerindra

Perkiraan subyektif saya, Gerindra ini akan eksis. Hal itu melihat gencarnya iklan Gerindra di TV, serta respon sosial yang tampak bersimpati kepadanya. Setidaknya, Gerindra bisa meraup 10 % suara. Ini hanya perkiraan.

Satu sisi menarik dari Partai Gerindra adalah komitmennya untuk membela petani, pedagang pasar, pengrajin, nelayan, dan berbagai entitas kounitas lemah. Dalam istilah Islam, membela mustadh’afin. Pembelaan itu dilakukan dengan melakukan koreksi terhadap praktik liberalisasi ekonomi di Indonesia saat ini. Misi yang sama kurang lebih diperjuangkan oleh Dr. Rizal Ramli dengan kendaraan KBI (Komite Bangkit Indonesia).

Seharusnya, partai-partai Islam yang mengambil langkah seperti di atas. Partai Islam harus menunjukkan dirinya menjadi benteng kehidupan masyarakat Indonesia. Jangan seperti selama ini, partai Islam identik dengan “partai tenaga kerja”; terjun di dunia politik hanya untuk mendapat gaji anggota dewan, tender proyel, dan peluang bisnis. Ya kalau hanya itu, lebih baik bekerja sekalian atau berbisnis sekalian, tidak perlu membawa dalil-dalil Syariat.

Pertanyaannya, bagaimana prospek Gerindra nanti? Benarkah mereka kalau memenangi kompetisi politik akan melaksanakan misinya? Atau jangan-jangan semua itu hanya “ngecap” saja, seperti para politisi oportunis lainnya?

Ya kita belum tahu. Semoga saja Gerindra konsisten dengan misinya (dalam kebaikan). Kalau dia konsisten, bukan mustahil Ummat Islam akan mendukungnya. Tetapi kalau semua itu hanya “jualan kecap” saja, ya berarti banyak pihak akan kecewa. Masih bagus saat ini masyarakat mulai simpati ke Gerindra, karena misi-misinya menarik. Kalau nanti mereka ngapusi (menipu) juga, kekecewaan masyarakat akan berlipat-ganda. Nanti di mata publik, politik = penipuan !!!

Demikian sekilas analisis politik menjelang Pemilu April 2009. Mohon dimaafkan kalau ada salah dan kekurangan. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 21 Februari 2009.

(Politische).


Kenangan Partai Keadilan (PK)

Oktober 12, 2008

Dulu awal 1998 saya masih terlibat dalam Jamaah Tarbiyah. Kebetulan waktu itu disepakati, jamaah dakwah terjun di arena politik. Sejujurnya, saya lebih mendukung jamaah ini tetap dalam lintasan dakwah. Untuk urusan politik, ikut saja PBB yang didukung Dewan Dakwah Islamiyyah (DDII). Tetapi dari informasi Murabbi, beliau mengatakan, saat ini adalah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Kata beliau, sebenarnya rencana masuk partai politik itu masih 15 tahun lagi (sejak 1998). Berhubung ada kesempatan dan khawatir kesempatan itu tertutup lagi, gerakan Tarbiyah masuk politik 15 tahun lebih cepat dari rencana.

Di kemudian hari, ada berita dari seorang ikhwan, bahwa tidak semua pendukung gerakan Tarbiyah setuju membentuk partai politik. Konon, 70 % anggota kader inti setuju, 30 % tidak. Maka yang 30 % diminta legowo menerima keputusan terjun ke dunia politik praktis. Saya sendiri waktu itu manut saja, bagaimana keputusan qiyadah dakwah. Kami ini hanya bisa dengar, memahami, lalu mendukung. No other choice!

Satu kenangan indah saya dapatkan ketika awal-awal terlibat dalam Partai Keadilan (PK). Waktu itu Murabbi sangat menekankan sebuah prinsip yang sangat bagus. Kata beliau, “Kalau dakwah ini benar, kita pasti akan mengalami cobaan-cobaan seperti yang menimpa para Shahabat di jaman Rasulullah dulu. Tetapi kalau keadaan tenang-tenang saja, berarti ada yang salah dengan dakwah ini.” Begitu kurang lebih kata beliau. Saya sangat teringat penjelasan ini dan begitu terkesan dengan kelugasannya.

Apalagi waktu itu PK dianggap sebagai “kuda hitam” ancaman oleh PDIP Megawati. Dimanapun kami merasa berhadap-hadapan dengan partai “kerbau gemuk” itu. Saya dengar sendiri bahwa banyak akhwat Muslimah ketakutan kalau melihat mata simbol PDIP itu. Matanya memerah, menakutkan.

Dan ingat pula seorang Syahidah pertama dalam perjuangan PK, seorang gadis mahasiswi IAIN Jakarta (?). Beliau terbunuh secara misterius, ketika dalam perjalanan ke kampus. Beritanya dibahas di majalah Sabili. Saat-saat menjelang Pemilu 1999 tekanan psy war kami rasakan begitu kuat. Sampai sebagian ikhwan harus terus memonitor keluarga-keluarga kader PK, khawatir ada tindakan-tindakan kekerasan atas mereka. Kami sendiri menghadapi kenyataan, PDIP memiliki massa besar di Bandung. Setiap ada kampanye konvoi PDIP, jalanan serasa penuh teror. Sikap beringas, massa besar, teriakan-teriakan, dandanan sangar, kebut-kebutan, memainkan knalpot, belum lagi warna merah darah dimana-mana. Pendek kata, berat sekali tekanan psikologis waktu itu. (Meskipun sayang, semua ini sudah dilupakan).

Tekanan sangat berat saya rasakan saat PK kalah telak dalam Pemilu 1999. Ya Rabbi, kami telah bekerja sekuat kesanggupan, namun inilah hasilnya. Kami kalah dan harus rela tereliminasi dari Pemilu selanjutnya. (Kami harus membuat partai baru, bukan PK lagi). Membela sebuah partai dengan misi menegakkan keadilan adalah kebanggaan di hati kami; tapi menyaksikan ia terkubur di usia muda, kalah dalam pertarungan politik, adalah kenyataan yang sangat-sangat perih. Demi Allah, saya masih sering terharu, mata berkaca-kaca kalau melihat bendera PK (bukan PKS) berkibar-kibar. Ia mengingatkan akan sebuah tonggak perjuangan yang telah tenggelam.

Begitu indahnya perjuangan itu. PK sampai peduli dengan seruan JIHAD dari bumi Ambon dan Maluku Utara. Allahu Akbar wa lillahil hamd. Ketika di media-media massa beredar banyak berita negatif yang memojokkan Islam, secara resmi DPP PK mengeluarkan klarifikasi tentang kronologi munculnya kerusuhan di Ambon. Luar biasa, inilah satu-satunya partai yang berani tegas bicara tentang jihad. Saya kalau teringat rekaman perjuangan jihad di Ambon yang diambil oleh relawan-relawan PK, masya Allah begitu mengharukan. Disana ratusan pemuda-pemuda Muslim yang semula jauh dari agama, mereka memakai pita putih dan siap mempertahankan Islam, sampai titik darah penghabisan. Hingga anak-anak dan ibu-ibu, dengan segala kesederhanaan dan kepolosannya, mereka berjuang membela IZZAH Islam. Allahu Akbar, sangat mengharukan perjalanan ini. Menurutku, nasyid terbaik yang pernah lahir di Indonesia, setelah Jundullah adalah Kami Kembali, yang dibuat oleh Izzatul Islam. Khususnya versi sebelum dicampur musik menghentak itu. Masih versi aslinya, with human voice only.

Di atas semua itu, kami masih merasa sebagai laki-laki, hidup dalam kejujuran, mengejar ridha Allah dengan ketulusan hati. Kesederhanaan dimana-mana, kesungguhan dan pengorbanan menjadi stamina untuk menggerakkan roda kehidupan. Pendek kata, upaya menegakkan Kalimah Allah, masih ada disana. Bahkan kalau Anda membaca Piagam Deklarasi PK atau Manifesto Politik PK, luar biasa isinya. Sangat menyentuh hati dan mengharukan. Disana sangat tampak gambaran Islam sebagai ideologi, sebagai minhaj kehidupan, dan cita-cita sejarah.

Saya sedih luar biasa, ketika dalam kampanye Pemilu 1999 kami telah berjuang habis-habisan, tidak kenal waktu siang dan malam. Segalanya telah dilakukan, termasuk berdoa, berdzikir, menangis kepada Allah, shalat malam, dan apa saja yang hak dilakukan. Namun kami harus melihat hancurnya partai ini di usianya yang masih sangat muda. Kesedihan lain yang lebih menyesakkan adalah: Anak-anak kami tidak mengerti bahwa PK kalah dalam Pemilu 1999.

Saya menjerit pilu saat teringat Abdurrahman (anak kedua) keluar rumah sambil mengibar-ngibarkan bendera PK. Dia sangat antusias mengibarkan bendera itu, sebab sering kami ajak ikut dalam kampanye. Dia kibarkan bendera di sekitar rumah sambil berteriak-teriak. Dia tidak tahu, bahwa abi-umminya sedang menahan malu luar biasa. Mengapa? Semula kami optimis akan menang, atau memperoleh suara besar. Semua orang di sekitar tahu akan optimisme itu. Ternyata, hasilnya jauh dari harapan.

Saya tidak bisa menyalahkan anak, sebab mereka masih kecil. Tetapi itulah kenyataan, kami kalah, semua optimisme nyaris hancur. Kalau Anda tahu, perasaan kecewa dan trauma itu juga melanda sebagian besar ikhwan dan akhwat. Nyaris mereka lemas untuk bicara tentang PK. Hingga, kami harus berusaha keras untuk membangkitkan semangat mereka, atas ijin Allah. Bahkan saya harus terlibat dalam konflik dengan sebagian ikhwan karena perkara seperti ini.

Di atas semua itu, saya masih teringat kata-kata Murabbi saya dulu. Beliau pernah jadi dosen Teknik di ITB. Saya selalu terkenang penjelasan beliau, bahwa kalau partai ini menghadapi banyak ombak, aral melintang, batu cadas dan kerasnya jalanan, ia pertanda telah meniti jalan yang tepat. Tetapi kalau jalannya bertabur bunga, penuh puja-puji, penuh semerbak wangi, sentuhan luxuries, melesat di atas lalu lintas rekening Miliaran rupiah, road show dengan segudang entertainment, lip service, manipulasi opini, dst. ya Anda tahu sendiri, jalan apa yang sedang dijalaninya?

Saat ini, semakin PKS membesar hati ini terasa ngilu, sebab misi Syariat Islam berbanding terbalik dengan pertumbuhan partai. Alih-alih bicara soal hukum Islam, sekedar ingat perjuangan PK dulu saja, rasanya mereka sudah lupa. Ya sudah, tidak perlu banyak polemik. Percuma, dengan 1000 atau 2000 dalil pun tidak akan mengubah keadaan. Yang jelas, kata-kata Murabbi dulu telah terbukti. Ia menjadi realitas yang kini terjadi. Partai itu telah menjadi partai al wahn, yang sangat lembek saat berhadapan dengan godaan-godaan materi. Ia tidak berjalan sesuai Sunnah perjuangan para Shahabat.

Salam hormat dan rahmat kepada para Mujahidin PK di masa lalu. Dimanapun kita berada, ada tanggung-jawab yang harus kita tunaikan, yaitu menyelamatkan Ummat ini, sekuat kemampuan dan atas ijin Allah Ta’ala. Silakan lakukan apa saja yang bermanfaat bagi Ummat, selagi kesempatan beramal itu ada. Kalau ia sudah tertutup, hendak kemana hati akan mengadu? Bayangkan, jika Rabb-mu telah menolak amal-amalmu, apa yang bisa engkau lakukan?

Wallahu a’lam bisshawaab.

Malang, 12 oktober 2008.

AM. Waskito.

NB.: Maaf, pada edisi sebelumnya ada kesalahan-kesalahan yang mengganggu. Alhamdulillah, kini sudah diperbaiki.