Melepas Kepergian Sri Mulyani…Hiks Hiks

Mei 21, 2010

Dalam sebuah dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV, Sri Mulyani pernah menyebut karakter orang Indonesia dengan ungkapan, Short Memory Lost. Orang Indonesia pelupa, mudah melupakan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya belum lama berlalu. Dan saya melihat, kenyataan itu terjadi lagi dalam kasus Sri Mulyani saat ini.

Selama berbulan-bulan media massa menampilkan liputan seputar kerja Pansus Bank Century di DPR, sampai sidang paripurna DPR RI yang menghasilkan rekomendasi opsi C, nama Sri Mulyani dan Boediono menjadi bulan-bulanan media massa. Para demonstran di jalanan menggambarkan sosok Sri dan Boed sebagai drakula, dengan taring tajam, dan lelehan darah dari mulutnya. Juga ada yang menampilkan “Mbak Sri” dalam tampilan narapidana di balik penjara, dengan memakai baju-celana belang-belang (seperti ular Weling).

Tapi kini, ketika Sri Mulyani lengser dari kursi Menkeu dan siap berangkat menjadi pejabat di Bank Dunia, semua orang tiba-tiba menaruh belas kasihan, merasa sayang kepada Mbak Sri, merasa memiliki, memujinya setinggi langit, memberikan forum terhormat baginya untuk pamitan, serta membuat aneka rupa testimoni tentang kehandalan “the best finance minister” itu. Salah satu contoh, J. Kristiadi, tokoh elit CSIS, dalam salah satu liputan di MetroTV, dia dengan terang menyalahkan bangsa Indonesia yang tidak bersikap ramah kepada tokoh jenius seperti Sri Mulyani, sehingga wanita satu ini akhirnya diambil oleh Bank Dunia.

"Jangan Menangis, Bulek!"

Entah apa rakyatnya yang memang ingatannya pendek, atau media-media massanya yang bego ya. Sri Mulyani dengan segala kiprahnya adalah FAKTA yang jelas, tidak samar lagi. Dia adalah operator ekonomi Neolib di Indonesia, bersama Boediono, dan para pendukungnya. Apa yang bisa dibanggakan dari ekonomi Neolib? Ia adalah tatanan ekonomi yang membuat kekayaan bangsa Indonesia semakin deras dijarah oleh orang-orang asing. Ekonomi Neolib sangat ramah kepada kaum elit yang kaya-raya, tetapi sangat menindas rakyat kecil.

Pada hakikatnya, ekonomi Neolib sama persis dengan EKONOMI FEODAL di jaman Belanda dulu. Ketika itu Belanda sebagai dominator pengeruk kekayaan nasional. Operasi penjarahan oleh Belanda ini difasilitasi oleh kalangan Bangsawan (Ningrat) yang oleh banyak orang disebut kaum “priyayi” (ambtenar). Mereka adalah kalangan bangsawan, kaya, anti kemerdekaan, dan mengabdi kepentingan kolonialis. Kenyataan yang sama terjadi di Indonesia ini, di jaman Orde Baru dan terutama setelah Reformasi, sebagian elit priyayi menjadi makelar-makelar penjajahan kekayaan nasional oleh orang-orang asing. Kalau dulu penjajahnya cuma Belanda, kalau kini banyak sekali: Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, Korea, China, Singapura, Jerman, Perancis, Bank Dunia, IMF, dan sebagainya.

Adapun untuk menghibur rakyat Indonesia (sekaligus memperdaya akal mereka), rakyat Indonesia cukup diberi beberapa model hiburan: Tontonan TV, fantasi dengan rokok, sepakbola, dan MSG. Kalau kita cermati dengan teliti, konstruksi ekonomi Indonesia saat ini tak ada bedanya dengan masa penjajahan Belanda dulu. Malah ketika itu, kondisinya belum separah dan serumit saat ini.

Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Sri Mulyani? Dia ini bisa dikatakan merupakan salah satu “priyayi” yang menjadi operator praktik penjajahan ekonomi di Indonesia, oleh kekuatan asing. Kalau kini dia direkrut oleh Bank Dunia, apa yang aneh? Toh, sebelumnya dia menjadi kaki-tangan IMF.

Sekedar ingin mengingatkan fakta-fakta “masa lalu” tentang betapa bobroknya moralitas seorang Sri Mulyani di hadapan rakyat dan bangsa Indonesia. Semoga media-media massa mau sedikit berubah dari ke-bego-an mereka. (Nyari duit sih boleh, tapi jangan keterlaluan dong dalam membohongi masyarakat!).

(=) Nama besar Sri Mulyani mulai berkibar ketika terjadi Krisis Moneter 1997. Dia waktu itu dikenal sebagai pakar ekonomi dari UI. Saya masih ingat, penampilan Sri Mulyani waktu itu “belum didandani” seperti sekarang. Mungkin ketika itu, gaji dia belum cukup untuk membiayai “kebutuhan pencitraan”.

(=) Sri Mulyani ketika masa-masa Krisis Moneter waktu itu sangat kritis pemikirannya. Dia bependapat supaya perbaikan ekonomi nasional dilakukan dengan cara-cara radikal. Sri ketika itu juga kencang dalam mengkritik pendekatan ekonomi yang ditempuh IMF. Pendek kata, Sri Mulyani bersinar bintangnya seiring munculnya badai Krisis Moneter.

(=) Setelah tahun 1998, Soeharto lengser dari kursinya. Ketika itu nama Sri Mulyani tiba-tiba hilang dari peredaran. Jarang sekali media-media massa menyebut namanya. Kemanakah “Jeng Sri”? Ternyata, dia telah bekerja menjadi seorang pejabat tinggi IMF. Seingat saya, dia menjadi supervisor IMF untuk wilayah Asia-Pasifik. Oh ala, ternyata Sri Mulyani bekerja di IMF, pihak yang pernah dia kritik ketika Krisis Moneter terjadi.

(=) Perlu diingat, yang membidani kehancuran ekonomi nasioanal, dan keterpurukan Indonesia seperti saat ini adalah IMF. Butir-butir LOI (Letter of Intends) yang disepakati antara Indonesia dengan IMF itulah yang menghancurkan ekonomi kita dan merusak fundamental ekonomi yang susah-payah dibangu7n sejak tahun 70-an. Dalam LOI dengan IMF itu, Indonesia bukan saja diharuskan tunduk kepada aturan-aturan IMF, tetapi negara ini sesungguhnya telah DIBELI KEDAULATAN-nya oleh IMF. Bayangkan, sampai untuk urusan jual-beli rotan saja, IMF ikut campur mengatur. (Untung untuk masalah jual-beli terasi, ikan asin, dan kerupuk, IMF tidak ikut-ikutan).

(=) Demi Allah, Rabbul ‘alamiin, Rabus Samawaati wal ardh, IMF itulah sumber kehancuran ekonomi Indonesia. Akibat perjanjian dengan IMF, Pemerintah RI harus mengeluarkan BLBI yang kemudian membuat negara ini kehilangan dana sebesar 500-600 triliun rupiah (100 kalinya dana Bank Cenmtury). Nah, BLBI ini menjadi sumber kehancuran ekonomi yang susah diobati sampai saat ini. Jika ada “Dajjal Ekonomi” yang sukses besar merusak kehidupan rakyat Indonesia, itulah IMF.

(=) Sebagai supervisor IMF, Sri Mulyani sangat tahu tentang penerapan butir-butir LOI, dalam rangka melucuti kedaulatan ekonomi Indonesia, memperbesar praktik penjajahan asing, serta memupus harapan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Sri sangat tahu itu, sebab dia menjadi supervisor Asia-Pasifik. Dan dia digaji oleh IMF untuk mengawasi praktik penjarahan ekonomi di negaranya sendiri. (Luar biasa, rasanya muntah kalau membayangkan rizki yang diterima Sri Mulyani dari gaji-gaji yang dia peroleh di IMF itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah, ya Allah lindungi kami dan anak keturunan kami dari menerima rizki kotor dari tangan para penjajah keji. Amin Allahumma amin).

(=) Ketika Sri Mulyani menjadi Menkeu di era SBY, dia sangat kejam dalam menerapkan kebijakan pemotongan subsidi BBM, sehingga hal itu menjadi hempasan keras yang memiskinkan rakyat ke sekian kalinya. Di mata Sri Mulyani, nilai rakyat Indonesia hanyalah sekedar ANGKA belaka. Termasuk kebijakan memotong subsidi untuk perguruan tinggi, memperbesar kewajiban pajak, memberikan segala rupa keistimewaan perlakuan kepada para investor asing, dll. Bahkan yang paling kacau adalah kebijakan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Ternyata bantuan ini sumbernya dari dana hutang Bank Dunia. Allahu Akbar.

(=) Setelah satu periode Kabinet SBY berakhir pada 2009 lalu, ternyata diperoleh data baru posisi keuangan negara. Hutang luar negeri Pemerintah naik dari posisi sekitar Rp. 1300 triliun menjadi sekitar Rp. 1700 triliun; ada kenaikan hutang selama 5 tahun Kabinet SBY sebesar Rp. 400 triliun. Dan kini kabarnya naik lagi lebih tinggi.

(=) “Prestasi” lain dari Sri Mulyani yang layak dicatat ialah besarnya kepemilikan SUN (Surat Utang Negara) di tangan asing. Dalam setahun, katanya negara harus mengeluarkan dana sekiatar Rp. 60 triliun untuk membayar bunga kepada para pemegang SUN itu.

(=) Dan lain-lain.

Jadi, adalah sangat dusta kalau kita lalu memuji-muji Sri Mulyani. Tokoh ini bahkan sudah pantas disebut sebagai PENGKHIANAT NEGARA, bersama Si Boed dan kawan-kawan. Mereka ini andilnya sangat besar dalam menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia.

Dari sisi pintar, mahir bahasa inggris, penampilan modis, tegas bicara, tahan mental, bergaji tinggi, berwawasan global, dll. ya okelah kita akui, Sri Mulyani orangnya. Tapi dari sisi moralitas dan kontribusinya bagi kebaikan hidup rakyat Indonesia, reputasi Sri Mulyani sangat mengerikan.

Tidak berlebihan kalau saya menasehatkan kepada kaum Muslimin: “Jika Anda mendengar nama Sri Mulyani diucapkan, atau Anda melihat gambar dia di TV atau koran, ucapkan ‘audzubillah minas syaithanir rajiim‘.” Tokoh satu itu bukan lagi masuk alam manusia, tapi sudah selainnya.

Kini Sri Mulyani siap disambut dengan kalungan bunga, di kantor Bank Dunia sana. Tapi yakinlah, semua itu hanya basa-basi saja. Alam semesta, langit-bumi, beserta benda-benda langit yang demikian banyak, beserta hewan-hewan di daratan dan lautan, mereka mengutuk orang-orang zhalim yang menyengsarakan kehidupan jutaan kaum Muslimin, sehingga mereka hidup menderita lahir-bathin, dunia Akhirat.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

Fujiwara Award untuk Ilmuwan Muda Indonesia

April 26, 2010

PENGANTAR

Artikel ini pernah dimuat oleh majalah Gatra, edisi 24 Februari 2010, hal. 32-33, dengan judul Obsesi Periset Smart Fluid. Ia adalah tentang sosok seorang periset muda Muslim Indonesia, Muhammad Agung Bramantya, yang sedang menempuh studi di Jepang. Berkat riset yang dilakukannya dalam topik “smart fluid” dia mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM, sebuah lembaga para ilmuwan Jepang. Ini adalah untuk pertama kalinya Fujiwara Award diberikan kepada seorang periset dari luar Jepang. Otomatis Muhammad Agung Bramantya merupakan orang Indonesia pertama, sekaligus Muslim pertama di Dunia Islam, yang menerima penghargaan tersebut. Karena begitu pentingnya informasi ini agar diketahui Ummat Islam, sengaja saya muat artikel tersebut di blog ini. Artikel serupa juga dimuat di koran Media Indonesia, dengan judul Mengulik Ultrasonik Pendeteksi Fluida Cerdik, edisi 12 Februari 2010. Semoga bermanfaat!

OBSESI PERISET SMART FLUID

Muhammad Agung Bramantya menjadi orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM. Buah ketekunan sejumlah riset bidang smart fluid. Untuk jangka pendek, PLTN bisa menjadi solusi alternatif guna mengatasi krisis listrik.

Dunia riset di laboratorium memang jauh dari hiruk-pikuk kemilau glamor. Meski sepi, dunia riset bukan berarti tidak dapat memberi kepuasan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan Muhammad Agung Bramantya, kandidat doktor di Universitas Keio, Jepang. Berkat ketekunan dan temuannya dalam sejumlah riset, pria kelahiran Yogyakarta, 22 Maret 1981, ini dianugerahi Fujiwara Award.

“Saya senang karena (menjadi) orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara,” kata Bram, begitu ia biasa disapa. Fujiwara Award diambil dari nama Ginjiro Fujiwara yang hidup pada 1869-1960. Ia pendiri Institut Teknologi Fujiwara, cikal bakal Fakultas Sains Teknologi Universitas Keio. Anugerah yang diterima Bram pada 30 Maret 2009 itu adalah penghargaan bagi peneliti yang aktif dan bergiat di lintas bidang, baik sains maupun sosial budaya.

Bram, yang belajar di Jepang sejak Maret 2008, tidak tahu secara pasti mengapa anugerah itu jatuh ke tangannya. Yang dia tahu, dirinya banyak terlibat dalam presentasi hasil riset di forum konferensi ilmiah, baik di Jepang maupun di dunia internasional. Untuk bidang sosial, Bram bergabung dalam forum South-East Asian Engineering Development Network (Seed Net). Forum ini berisi para peneliti dari ASEAN dan Jepang.

Foto Bram di Tengah "Mainan-nya"

“Selain saling dukung secara ilmiah-akademis, juga menjadi ajang untuk mengenalkan budaya dan informasi dari tiap negara,” katanya. Menurut Bram, penilaian dari sisi parameter akademik jelas terukur, sedangkan untuk parameter sosial-budaya tentu subjektif. Untuk aspek akademis, Bram bercerita bahwa dirinya pernah maju dalam seminar dunia ke- 11 tentang Electrorheological Fluids and Magnetorheological Suspensions (ERMR) Organizing Committee pada September 2008 di Jerman.

Dalam seminar itu, Bram adalah satu-satunya wakil Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di sana, ia menyabet Best Poster Prize, menyisihkan 100-an poster peneliti dunia di bidang tersebut. “Itu prestasi puncak yang mungkin menginspirasi pemberian Fujiwara Award,” ujar peneliti yang selalu mengaku sebagai orang Indonesia, meski dalam diskusi menyatakan diri sebagai wakil Jepang. Ada pengalaman lucu ketika ia mendapat sampanye. “Bingung mau diapakan, akhirnya saya buang ke toilet,” katanya.

Kesetiaan Bram pada riset ternyata membuahkan penghargaan. Tanpa pernah mengimpikannya, pada 19 November lalu ia menerima Young Engineer Award. Anugerah dari Japan Society of Applied Electromagnet and Mechanics (JSAEM) ini diberikan pada puncak acara Magnetodynamics Conference ke-18 di Universitas Tokyo. “Penghargaan kali ini karena ada temuan spesifikasi di bidang itu,” ujar Bram.

Unsur kebaruan risetnya ada pada penggunaan metode ultrasonik un­tuk menganalisis struktur dalaman pada sebuah smart fluid, yang berupa magnetorheological fluid. Sebelumnya, para periset biasa memakai metode simulasi numerik, metode optical microscope, atau metode spektrografi analisis sektrum cahaya. Semua metode ini memakai preparat. “Sedangkan saya memakai metode gelombang ultrasonik,” katanya. Dengan metode ini, secara prinsip tidak ada perlakuan khusus terhadap fluida yang akan diteliti.

Aplikasi riset smart fluid kini merambah berbagai bidang. Di dunia otomotif dipakai untuk memonitor sistem suspensi peredam atau pemantau efek suspensinya. Penerapan suspensi dengan smart fluid telah dilakukan pada mobil Audi, Ferrari, dan BMW. NASA juga mengembangkannya untuk injeksi bahan bakar fluida. Sedangkan MIT lebih ke arah robotik.

***

Dunia riset yang kini ditekuni Bram tidak bisa lepas dari hobinya melakukan riset sejak mahasiswa. Salah satu risetnya ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, adalah mendesain mobil tenaga surya. Topiknya adalah “Aerodynamics Performance for Body Development of a Solar Car”. Ketika ia lulus dari teknik mesin UGM, skripsinya berjudul “Redesign Conceptual Aircraft: Airbus A 330”. Selain menjadi mahasiswa terbaik, Bram juga menjadi  mahasiswa yang lulus tercepat di angkatannya.

Begitu lulus, Bram sempat bekerja di Unocal. Namun, tak sampai setahun, ia merasa tidak sreg bekerja di tengah laut dengan sistem dua minggu kerja-dua minggu libur. “Bukan jenis pekerjaannya, melainkan sistemnya. Saya juga melihat jalur engineer di sana begitu-begitu saja. Jadi kuli, walau bayarannya besar,” katanya. Sebenarnya ia berencana terjun ke industri dulu selama 10-15 tahun, baru kemudian balik ke kampus untuk mengajar dan meneliti.

Namun Bram sudah gatal terjun ke riset. Pada 2004, ia pun memutuskan melanjutkan S-2 teknik mesin di Pascasarjana UGM. Ia tuntaskan studinya ini dalam tiga semester, dengan IPK 3,86. Lalu ia meneruskan kuliah di University of Malaya, menekuni teknik desain dan manufaktur. Selain belajar, ia juga aktif memberi tutorial resmi S-1 dan S-2 serta terlibat dalam berbagai pameran akademik dan presentasi poster.

Tesisnya, “Development of a Software for Designing and Manufacturing of an Impeller”, sekaligus menghasilkan software desain impeller pump layak paten lokal. “Tapi saya tidak mau. Enakan Malaysia, dong,” kata Bram. Suatu saat, jika pulang ke Indonesia, ia mencoba mematenkannya. Selain itu, juga bisa dipakai sebagai “senjata” jika akan bermitra dengan Malaysia.

Kini, di Jepang, Bram fokus di bidang yang didalaminya sejak 2007, yakni smart fluid, baik yang cair maupun gas. Proses studinya tidak berupa aktivitas kuliah atau tatap muka. “Semuanya berbasis penelitian,” ia menambahkan.

Kini tesis S-3 yang disiapkannya adalah soal magnetic and magnetorheological fluids. Risetnya merupakan bagian dari beasiswa JICA. Kini dilakukan di Jepang karena instrumentasi dan bahan materialnya terbilang mahal.

“Untuk gambaran, saya mendapat Rp 100 juta per tahun,” kata ayah dua anak berusia lima dan tiga tahun ini. Uang itu untuk bahan operasional. Selain itu, tambah Bram, masih ada dana dari profesor di laboratorium dan peralatan lainnya milik universitas senilai milyaran rupiah. “Saya taksir Rp 3 milyar-Rp 5 milyar,” kata Bram. Mahalnya biaya terletak pada investasi pembangunan laboratorium utuh, yang jika lengkap bisa mencapai Rp 1 trilyun.

***

Bram bersyukur, UGM dan pemerintah memberi dukungan penuh. “Kalau bukan dosen UGM, saya mungkin sulit mengakses fasilitas di sini. Pihak Jepang juga melihat status dosen dan PNS saya,” ungkap Bram. Ia percaya, sejumlah risetnya potensial untuk dikembangkan dan diterapkan. Riset S-1 bisa untuk bidang aerodinamika pesawat. Penelitian S-2 tentang flooding sangat dibutuhkan di reaktor nuklir.

Soal nuklir, Bram yakin, PLTN mampu menyelesaikan krisis listrik jangka pendek. “Jika nanti infrastruktur energi ramah lingkungan tercapai, barulah PLTN ditinggalkan sejauhjauhnya,” kata Bram.

Bila nanti kembali ke UGM, Bram ingin mengintensifkan riset-riset ke arah paten dan membangun jaringan interdislipiner ilmu. “Insya Allah, bisa lahir banyak temuan yang berguna untuk rakyat,” ujar Bram.

[FINISH HERE].

SUMBER: Blog Muhammad Agung Bramantya.


Amien Rais di Usia Senja

April 7, 2010

Kembali disini kita akan mengangkat sosok Amien Rais. Tulisan ini bukan didasarkan atas ambisi pribadi, kedengkian, atau interes politik tertentu. Interes-nya hanya satu, yaitu mengajak kaum Muslimin lebih dewasa dalam membangun kehidupan. Kita jangan mudah diombang-ambingkan oleh opini menyesatkan, yang kadang dibumbui dengan retorika-retorika melankolik (cengeng).

Beberapa waktu lalu sempat beredar khabar, Amien Rais mau mundur dari PAN, dan ingin masuk ke pengurusan Muhammadiyyah kembali. Ibaratnya, setelah kenyang bermain politik di PAN, dan hasilnya tidak sukses; Amien Rais ingin menghabiskan “masa pensiun” dengan menikmati segala kewibawaan dan sanjung di tengah Jamaah Persyarikatan Muhammadiyyah. Tentu, ia merupakan ide “brilian” bukan? Setelah puluhan tahun melupakan amanah dakwah Islam di Muhammadiyyah, tiba-tiba ingin “pulang kampung” menjadi panglima. “Hebat kali Abang yang satu ini,” begitu kira-kira kata saudara kita dari Tapanuli.

Ijtihad politik yang selalu gagal. Tapi "PD aja lagi".

Namun kemudian Amien Rais mengurungkan niatnya. Dia membuat pernyataan baru yang isinya menganulir niatnya untuk masuk ke tubuh Muhammadiyyah, lalu dia meneguhkan sikap tetap bersama PAN. Publik mungkin terkejut melihat sikap Amien Rais yang bledak-bleduk, mudah membuat pernyataan sensasional, tetapi mudah pula berubah sikap. Tetapi kita tidak perlu terlalu terkejut, sebab itu sudah kebiasaan lama. Seperti kata orang, “Konsisten dalam ketidak-konsistenan.”

Perlu dipahami, Muhammadiyyah sekarang sudah banyak berubah. Ormas besar Islam ini sudah banyak merujuk ke khittah awalnya sebagai Jam’iyah Dinniyyah yang berkhidmah dalam urusan-urusan keislaman dan sosial. Muhammadiyyah tidak lagi menjadi kendaraan politik PAN, tetapi bersikap netral politik. Muhammadiyyah juga bersikap tegas terhadap anasir-anasir Liberaliyun, sesuatu yang tentu kita syukuri. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Bahkan Muhammadiyyah saat ini lebih mengedepankan politik kebangsaan, ketimbang politik kepentingan sempit. Salah satu produk fatwa kontemporer Muhammadiyyah yang banyak diapresiasi kalangan Islam ialah tentang fatwa merokok haram.

Jika Amien Rais masuk ke Muhammadiyyah, kita bisa membayangkan resiko-resiko yang mungkin akan dihadapi warga Persyarikatan Muhammadiyyah. Amien Rais adalah sosok politisi yang pintar melontarkan pernyataan politik dan akrab dengan dunia media massa. Tetapi ia bukan sosok manajer organisasi yang sukses. Buktinya, ya kondisi PAN itu sendiri. Dalam Pemilu 2009 PAN semakin terpuruk. Pada Pemilu 1999 perolehan suara PAN tidak besar, tahun 2004 merosot, tahun 2009 lebih merosot lagi. Nah, itulah bukti nyata prestasi kepemimpinan Amien Rais. Kata orang, fakta lapangan (qaulul haal) lebih kuat ketimbang ucapan teoritis (qaulul lisan).

Malah, disini kita perlu bicara tentang kebenaran apa adanya. Kondisi PAN saat ini adalah kondisi terburuk, sejak partai ini berdiri di awal Reformasi. PAN hari ini adalah partai yang dikangkangi oleh Hatta Radjasa; sedangkan Hatta Radjasa adalah sub sistem dari politik liberalisme SBY. Seharusnya, Amien Rais bekerja keras memulihkan wibawa partainya, agar lurus dan mandiri. Tidak layak Amien Rais ingin masuk ke tubuh Muhammadiyyah dalam keadaan partainya sendiri rusak; lalu dia beresiko menularkan segala kerusakan ke tubuh Persyarikatan Muhammadiyyah. Dia harus memahami, betapa sulitnya membangun kemajuan dan tetap survive di tengah-tengah situasi kehidupan yang penuh gejolak seperti saat ini.

Di sisi lain, PAN telah melakukan DOSA BESAR kepada Soetrisno Bachir, mantan Ketua Umum PAN. Dosa itu dilakukan secara kolektif oleh para politisi PAN dan Amien Rais menyaksikannya. Bahkan sangat mungkin, Amien ikut berserikat dalam dosa politik itu. Dosa apakah yang dimaksud? Ya, PAN membuka pintu lebar-lebar kepada Soetrisno Bachir untuk memimpin PAN, karena dia seorang pengusaha kaya. Benar saja, Soetrisno pun mengorbankan ratusan miliar dana untuk membesarkan PAN dan memenangkan kompetisi politik. Namun, setelah Soetrisno berkorban habis-habisan, agenda politiknya disingkirkan secara licik. Amien Rais secara aktif ikut berperan menyingkirkan Soetrisno dari barisan pengurus PAN.

Dalam dialog dengan TVOne, Soetrisno Bachir mengaku, dengan pengalaman-pengalamannya selama di PAN, dia bisa memahami mana teman yang baik dan mana teman yang curang. Dia juga merasa kecewa ketika menyaksikan orang-orang yang semula dia anggap baik, tetapi kemudian terbukti moralnya tercela.

Sekedar mengingatkan. Pasca Pemilu Legislatif 2009, Soetrisno Bachir ingin membawa PAN berkoalisi dengan Gerindra dan Prabowo Subianto. Meskipun sama-sama memperoleh suara kecil, mereka bermaksud mencari celah untuk maju ke bursa Pemilihan Presiden. Sementara Hatta Radjasa terus bergerilya agar suara PAN dilimpahkan ke kubu SBY, tentu dengan kompensasi kursi kekuasaan bagi Hatta Radjasa. Soetrisno Bachir tidak mau menjual idealisme PAN.

Hatta Radjasa tidak kehilangan akal. Dia langsung bypass ke Amien Rais. Hatta tahu, sekuat-kuatnya Soetrisno Bachir di PAN, masih lebih kuat posisi Amien Rais. Entah, lobi politik apa yang dilakukan Hatta Radjasa sehingga hati Amien Rais menjadi lumer. Seperti biasa, Amien Rais melakukan kebiasaan lama, menjilati ludahnya sendiri. Amien Rais membuat pertemuan petinggi-petinggi PAN di Yogyakarta, tanpa persetujuan dan kompromi dengan Soetrisno Bachir. Tentu saja dalam pertemuan Yogya itu, seorang tokoh yang kemana-mana selalu menjual label “mantan tapol Tanjung Priok” ikut serta. Dia duduk di baris terdepan, dengan senyumnya yang sumringah, mendampingi Hatta Radjasa.

[Betapa hinanya manusia-manusia seperti ini. Tidak ada konsistensi, tidak ada ketegasan sikap, tidak ada sikap amanah, bahkan rasa malu pun sudah lenyap. Padahal Amien Rais itu dulu sangat terkenal dengan ucapannya, “Kambing congek pun tidak akan menanduk batu sampai dua kali.” Lha ini? Mereka mengulang-ulang tontonan kehinaan berkali-kali, dengan modus yang sama, meskipun retorikanya berganti-ganti. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah].

Sebelum meresmikan sikap politik PAN untuk berkoalisi dengan SBY, Amien Rais mengucapkan pernyataan super pragmatis. Katanya, dalam berpolitik, PAN harus bersikap realistik, yaitu bergabung dengan kekuatan politik yang peluang menangnya lebih besar (SBY dan Demokrat). Ya Allah ya Karim, begitu murahnya Amien Rais dalam menghargai kadar perjuangan politiknya. Hanya kekuasaan belaka sasarannya. Semua itu jelas tidak sesuai dengan omongan-omongan Amien Rais selama ini, yang sangat menekankan pentingnya moral, melebihi kekuasaan.

Satu catatan yang sangat menjengkelkan. Mengapa Amien Rais sampai membuat pertemuan mandiri, tanpa restu dari Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir? Bukankah itu sama saja dengan mengobrak-abrik mekanisme partai sendiri? Atau dengan kata lain, Amien Rais bersikap sewenang-wenang, tidak mengindahkan aturan partai dan hierarki kepengurusan di tubuh PAN.

Jika disini saya terkesan peduli dengan Soetrisno Bachir, bukan karena memiliki interest politik seperti dirinya, atau memiliki interest lain karena posisinya sebagai seorang pengusaha. Tidak sama sekali. Kita hanya ingin menegakkan supremasi moral saja, dalam konteks apapun. Kalau mengikuti pesan Nabi Saw, “Unshur akhaka zhaliman au mazhluman” (tolonglah saudaramu, baik yang zhalim maupun yang dizhalimi). Pak Soetrisno dalam posisinya sebagai orang yang dizhalimi secara semena-mena, ya harus diberikan simpati padanya.

Dan yang lebih mengenaskan, adalah tokoh-tokoh politisi PAN yang mengikuti saja kemauan Amien Rais, meskipun itu salah dan melanggar aturan partai. Mereka amat sangat oportunis. Mereka tidak memiliki moralitas, idealisme, serta keteguhan sikap. Yang ada hanya kekuasaan, kekuasaan, dan keuangan. Di hari ini, kalau melihat sosok Hatta Radjasa, Patrialis Akbar, AM. Fatwa, dan tokoh-tokoh PAN sejenis; ada rasa nyeri di hati. Orang-orang ini dulunya sangat idealis, sekarang menjadi dedengkot-dedengkotnya oportunisme. Mengerikan!

[Kalau ingat bagaimana kritisnya Hatta Radjasa saat mengkritik Pemerintahan Abdurrahman Wahid dulu, lalu menyaksikan kini betapa jinaknya sikap Hatta Radjasa di hadapan SBY. Allahu Akbar, kekuasaan begitu dahsyat dalam mematikan hati manusia dan membunuh semangat juangnya. Hal-hal beginilah yang kerap membuat masyarakat putus-asa melihat masa depan politik].

Sungguh sedih kalau mengenangi jejak rekam para politisi PAN, khususnya Amien Rais. Entahlah, petunjuk apa yang membimbing jalan mereka? Mereka seperti orang-orang kebingungan yang terperangkap lorong gelap tanpa ujung. Dalam kondisi seperti itu, masihkah mereka memikirkan missi politik Islam dan kepentingan Ummat? Rasanya, terlalu mewah kita menitipkan harapan disini.

Ini seperti percobaan orang-orang yang sok pintar dengan demokrasi; merasa paling nasionalis, paling inklusif; lalu meremehkan nilai-nilai Islam yang seharusnya diperjuangkan. Islam akhirnya hanya menjadi kendaraan politik, dipakai selama menguntungkan; diamputasi, jika merugikan.

Alhamdulillah, kita bersyukur Muhammadiyyah semakin komitmen dengan khittah-nya sebagai Jum’iyyah Dinniyyah, konsisten mengawal institusi-institusi pelayanan Ummat, serta mengembangkan politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan. Muhammadiyyah sudah berada di track yang semestinya. Jika Amien Rais kemudian masuk ke Muhammadiyyah, entahlah apa yang akan terjadi disana? Semoga Allah memberikan kita keselamatan lahir batin, dunia Akhirat. Amin ya Sallam.

Di usianya yang ke-67, kita memposisikan Prof, Dr. Haji Muhammad Amien Rais, sebagai orangtua yang harus dihormati. Tetapi sebagai bagian dari Ummat, kita tidak bisa membiarkan seseorang terus mengeluarkan ijtihad-ijtihad politik yang keliru, sehingga akibatnya sangat merugikan kehidupan Ummat. Harus dicatat, ijtihad politik itu mudah diucapkan. Seseorang tinggal membuat analisis instant, lalu mengundang wartawan untuk menggelar konferensi pers. Mudah. Tetapi resiko ijtihad politik yang keliru bisa menimpakan kesengsaraan besar bagi Ummat.

Apalagi di Indonesia ini ada budaya sosial yang sangat buruk. Kalau ada orang kecil (atau tokoh minor) yang berbuat salah, dia akan segera diadili sekeras-kerasnya, dikecam, divonis, dihujat sekencang-kencangnya. Tetapi kalau kalangan elit yang berbuat salah, semua instrumen sanksi seperti impoten, lumpuh secara kolektif. Bahkan sekali pun kesalahan tokoh elit itu berulang-ulang, hingga sampai ke titik menghujat Allah dan Rasul-Nya, ia tetap ditoleransi, dimaafkan, lalu dilupakan. Malah kalau perlu, sang tokoh digelari “pahlawan nasional”.

Sepertinya, dalam hati masyarakat kita masih ada keyakinan, bahwa kalangan elit adalah “manusia titisan dewa”. Mereka selalu benar, dan tidak boleh salah. Kalau ada yang menemukan kesalahan kaum elit, dengan fakta-fakta yang nyata dan data yang solid, bukan kesalahannya yang harus diubah, tetapi standar kebenarannya yang harus disesuaikan. Masya Allah, sangat mengerikan.

[Konsep “manusia titisan dewa” ini dipakai di berbagai tempat, termasuk dalam lingkup dakwah Islam, gerakan dakwah, partai Islam, dan sebagainya. Kalau elit yang salah, dicarikan pembenaran sebanyak-banyaknya. Kalau orang kecil yang salah, diadili sekeras-keras, dicecar sesengit-sengitnya. Peradaban kita kualitasnya baru sebatas melayani syahwat kaum elit, bukan menegakkan keadilan dan kemakmuran di tengah-tengah Ummat].

Sebagai sesama Muslim, saya menyarankan kepada al mukarram Dr. Amien Rais: “Hendaklah Bapak melakukan pembacaan ulang terhadap segala kiprah politik Bapak selama ini. Cobalah renungkan jalan demokrasi yang Bapak yakini itu, lalu komparasikan dengan missi ajaran Islam yang diamanahkan Allah Ta’ala. Apakah demokrasi versi Bapak tersebut sudah selaras dengan tujuan-tujuan Islam? Jika selaras, apa dampak perjuangan politik Bapak selama ini bagi kemaslahatan hidup kaum Muslimin? Jika tidak selaras, berarti selama ini Bapak menekuni pekerjaan sia-sia. Sesuatu yang tidak mendapat landasan di hadapan Syariat Islam, tidak dihitung sebagai amal di hadapan Allah. Andai setelah proses refleksi ini, Bapak menyadari banyak kesalahan-kesalahan yang Bapak lakukan selama ini, bersikaplah legowo untuk meminta maaf kepada Ummat Islam. Kemudian mundurlah dari gelanggang politik secara kesatria. Diam lebih baik, jika bicara akan membawa fitnah. Setelah itu mari kita sama-sama bertaubat kepada Allah atas segala dosa, sesungguhnya Dia Maha Ghafur Maha Rahiim.”

Ini adalah usulan yang bisa saya sampaikan, sebagai sesama Muslim. Usulan ini seperti “mencarikan jalan pulang” bagi Dr. Amien Rais, di usianya yang sudah senja dengan segala kiprah politiknya selama ini. Dr. Amien Rais belum seekstrem Abdurrahman Wahid, tetapi akibat-akibat kesalahan ijtihad politiknya, ada jutaan kaum Muslimin yang hidup menderita karenanya. Kasihanilah Ummat, sehingga Allah akan mengasihi Anda dan keluarga. Amin.

Kita tutup tulisan ini dengan sebuah doa: “Rabbanaghfirlana dzunubana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka Ra’ufur Rahiim.” Amin Allahumma amin.

AMW.


Seorang Jimly Asshidiqi…

Januari 26, 2010

Beliau ini, Prof. Dr. Jimly Asshidiqi. Seorang ahli hukum tatanegara, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Baru-baru Pak Jimly diangkat menjadi salah satu anggota Watimpres (Dewan Pertimbangan Presiden), bersama 8 anggota lain. Dalam pernyataannya setelah diangkat sebagai Watimpres, Jimly mengatakan, bahwa wacana impeachment (menjatuhkan seorang Presiden) melalui mekanisme politik tidak dikenal dalam ranah hukum di Indonesia. Seorang Presiden hanya bisa dimakzulkan melalui keputusan pengadilan.

Apa perlunya membahas seorang Jimly Asshidiqi? Nah, itulah pertanyaannya.

Jujur saja, ada kebingungan tersendiri dalam diri saya, ketika mendengar Pak Jimly diangkat sebagai anggota Watimpres SBY. Karakter politik Pak SBY selama ini sangat memegang teguh prinsip, “Tidak ada kesetiaan tanpa kesetiaan.” Maksudnya, tidak ada kesetiaan dari atas, tanpa bukti keseatiaan dari bawahan. Sebuah prinsip yang sangat pragmatis.

Sejak lama, Prof. Jimly Asshidiqi dikenal baik oleh kalangan Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh yang masih lurus. Saya masih ingat reputasi beliau pasca Kerusuhan Monas 1 Juni 2008. Waktu itu mencuat semangat kuat dari media-media massa dan tokoh-tokoh Liberal, yang menuntus supaya FPI dibubarkan saja. Tapi Pak Jimly memiliki pendapat berbeda, beliau tidak setuju FPI dibubarkan, tetapi cukup masalah itu diselesaikan lewat jalur pengadilan. Akhirnya, FPI lolos dari jebakan kaum Liberal -semoga Allah membimbing mereka agar bertaubat-.

Sebagai seorang Ketua MK, Pak Jimly cukup disegani. Beliau dianggap bisa bersikap lurus, tidak berpihak kepada kepentingan sempit. Ketika beliau mundur dari jabatan MK dan posisi diambil-alih oleh Mahfudh MD banyak orang pesimis. Banyak orang tidak yakin, Mahfudh akan seistiqamah Pak Jimly. Tetapi waktu kemudian membuktikan, ternyata Mahfudh memiliki komitmen moral yang cukup tinggi. Alhamdulillah.

Tapi seiring waktu, muncul keraguan-keraguan dari sikap Jimly Asshidiqi. Ketika Gus Dur meninggal, dia termasuk salah satu tokoh yang merasa sangat kehilangan. Melalui detik.com, dia mengusulkan agar Gus Dur diberi penghargaan sebagai “pahlawan demokrasi”. Padahal dalam masa kepemimpinan Gus Dur waktu itu, dia pernah mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya membubarkan lembaga DPR/MPR. Bayangkan, itu adalah mushibah akbar bagi sistem demokrasi (di mata para pendukung demokrasi). Jimly memuji-muji Gus Dur, meskipun yang dipuji pernah menghina Al Qur’an serendah-rendahnya. Ada penolakan di hati terhadap sikap Jimly tersebut.

Saat Gus Dur meninggal, kebetulan Frans Seda juga meninggal. Inilah tokoh anti Islam yang sangat terkenal dari kalangan komunitas Nashrani. Reputasi Frans Seda tidak bisa diremehkan. Dia pula yang ikut menjadi arsitek ekonomi jaman Orde Baru dan jaman Abdurrahman Wahid. Frans Seda bisa dianggap satu barisan dengan “Mafia Berkeley”. Saya masih ingat, Frans Seda ini pernah menjadi provokator kerusuhan sosial di Kupang, sebagai “balas dendam” atas kerusuhan kecil yang terjadi di Jakarta. Saat Frans Seda meninggal, lagi-lagi Jimly merasa kehilangan besar. Dia sangat bersedih. Dia mengaku menjadi sahabat baik Gus Dur dan Frans Seda. Dua orang itu dianggap sebagai putra terbaik bangsa. Tetapi tentu “yang terbaik” bukan dalam kacamata kepentingan Islam.

Kini Jimly diangkat sebagai salah satu anggota Watimpres SBY. Padahal Pemerintah SBY baru saja menyetujui realisasi perdagangan bebas ASEAN-China. Dengan keputusan itu makin menambah daftar panjang reputasi SBY sebagai pemimpin pro Liberalisasi (Neolib). Sektor riil masih acak-acakan, sudah menyetujui perdagangan bebas.

Saya beritahu Anda sekalian. Perdagangan bebas ASEAN-China ini belum terlalu terasa untuk satu dua tahun pertama. Dampaknya belum terlalu terasa, sebab para “penjarah ekonomi” dari negara lain harus membuat infrastruktur dulu untuk mengguyur pasar domestik dengan produk-produk mereka. Tetapi setelah tahun ke-3, nanti rasakan sendiri akibatnya! Rasakan sendiri! Rasakan sendiri akibatnya!

Hadirnya Jimly Asshidiqi di lingkaran kekuasaan, dengan background sebagai ahli tatanegara, mungkin dalam rangka menacapai dua tujuan: a. Mematahkan agenda impeachment yang ingin diacapai oleh lawan-lawan politik SBY; b. Untuk memudahkan proses amandemen UUD yang memberi batasan kepemimpinan Presiden hanya dua kali saja. Bisa saja, batasan itu nanti akan dianulir, menjadi 3 kali, 4 kali, dan seterusnya. (Ya, ada ahli tatanegara inilah. Semua bisa diatur-atur. Gampang lah).

Seorang Muslim harus berdoa meminta khusnul khatimah, akhir yang baik. Jangan sebaliknya, awalnya bagus, lalu akhirnya berantakan, su’ul khatimah. Na’udzubillah min dzalik.

AMW.


Seorang Tokoh Meninggal…

Desember 31, 2009

Sore kemarin saya ikuti berita di TV, “Suara Anda”. Tapi lucu juga. Pertama-tama, TV itu salah menempatkan berita. Tertulis di teks pilihan berita soal buku “Gurita Cikeas”. Tapi tayangan yang muncul, tentang Kejaksaan mau banding kasus Prita.

Kelucuan kedua, belum juga acara “Suara Anda” dilanjutkan, presenter “disela” oleh telepon dari belakang (pengarah acara). Katanya, kondisi Abdurrahman Wahid di RSCM kritis. Perhatian tiba-tiba diarahkan ke topik “Gus Dur” ini. Maka semua skema berita pada “Suara Anda” itu langsung diganti “Breaking News”. Waktu saya ganti channel ke TV lain, disana sudah dikhabarkan dengan status “wafat”.

Begitu tergopoh-gopohnya media massa, sampai seperti kehilangan kontrol. Semua agenda yang mau diberitakan mendadak diganti. Bahkan “pemukulan George Aditjondro” kepada Ramadhan Pohan sampai dilupakan. Mungkin George “Gurita Cikeas” Aditjondro saat ini lagi bersyukur berkali-kali. “Syukur, syukur, syukur ada berita lain… Jadi orang-orang lupa dengan ‘jurus sabet buku’ yang kemarin baru saya peragakan.” Mungkin begitu ‘kali kata hati George.

Oh ya, kembali ke topik Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Media-media massa seperti merasa sangat terpukul dengan meninggalnya tokoh satu ini. Mereka sebut Gus Dur sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan prinsip Egaliter, Humanis, Pluralis.  Maka berbagai ungkap duka nestapa segera tumpah, mengantar kematian Gus Dur. Media-media massa berdatangan ke Jombang. Pesantren Tebu Ireng seketika menjadi perhatian luas, setelah sebelumnya kampung Ponari di Jombang menjadi perhatian juga.

Lalu, siapakah Gus Dur ini? Mengapa bangsa Indonesia harus berduka karena kepergiannya?

Helmi Faisal, menantu Gus Dur sekaligus pejabat Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal (atau apa ya tepatnya?), berkali-kali mengatakan, bahwa: “Gus Dur adalah manusia besar.”

Apa yang dikatakan Helmi itu bukan isapan jempol. Gus Dur memang tokoh besar. Betapa tidak, dia pernah menjadi Ketua PBNU selama puluhan tahun. Juga pernah menjadi Ketua Dewan Syura PKB, juga pernah menjadi Presiden RI. Memang, dia adalah orang besar. Tidak bisa dipungkiri lagi.

Sumber foto: http://akhdian.net/

Hanya mungkin persoalannya, “Besar dilihat dari kepentingan siapa?” Kalau dari kepentingan Ummat Islam di Indonesia, wah sangat keliru menyebut Gus Dur sebagai orang besar. Gus Dur itu hampir tidak memiliki kontribusi berarti bagi kemajuan kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Jika jasanya diakui, paling di kalangan NU. Bukan di mata Ummat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Tapi kan Gus Dur ini tokoh demokrasi?

Iya, seorang demokrat yang aneh. Katanya demokrat, tapi mengingkari kenyataan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas. Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.

Tapi kan Gus Dur tokoh humanis?

Kalau humanis sejati, tentu tidak akan mengabaikan nasib ratusan juta Muslim Indonesia. Mereka manusia juga kan? Masak yang disebut manusia hanya orang-orang minoritas saja?

Gus Dur itu sangat hebat peranannya di forum-forum diskusi, di kalangan LSM, partai politik, pengusaha keturunan China, komunitas gereja, dll. Mana pernah Gus Dur turun ke gang-gang sempit di perumahan-perumahan kumuh, di rumah-rumah tikus di bantaran kali Ciliwung, di pasar-pasar tradisional di desa-desa, masuk ke pelosok-pelosok kampung, dll.

Kalau humanis sejati, dia tidak akan lepas hidupnya dari mengurusi orang-orang miskin. Contoh, Madame Theresia di India, selain sebagai penginjil, dia juga dekat rakyat miskin di India. Atau seperti Lady Di, dia turun langsung ke daerah-daerah yang banyak konflik, mengkampanyekan perang anti ranjau.

Ya, kalau gaulnya sama wartawan melulu, itu sih bukan humanis sejati. Tapi humanis “on air”.

Tapi kan Gus Dur itu pembela hak-hak minoritas?

OK, kita tanya, pembela apa dia? Apa dia membela minoritas etnis Madura yang dibantai di Sampit dan Sambas? Apa dia membela pemuda-pemuda Tanjung Priok yang dibantai militer tahun 1984? Apa dia pembela ratusan ribu korban DOM di Aceh? Apa dia pembela kaum gelandangan, pengemis, pengamen, WTS, dan sebagainya? Apa dia pembela petani, nelayan, pedagang pasar yang usaha mereka menjadi mainan para kapitalis?

Dia menjadi pembela minoritas, hanya dalam isu, opini, atau wacana saja. Pendek kata, yang berhubungan dengan media massa lah. Kalau tidak ada ekspose media massa, sepertinya dia tidak bisa berbuat banyak. Antara Gus Dur dan media massa itu seperti hubungan antara ikan dan air; keduanya saling membutuhkan.

Tapi bagaimanapun dia kan tokoh Muslim, kyai haji lagi?

Ya, di jaman sekarang sih, kalau mau menjadi “orang besar”, tergantung bagaimana peran media massa. Kalau media ekspose seseorang besar-besaran, dalam sebulan dia bisa menjadi tokoh besar. Kalau media memboikot seseorang, jangan harap akan menjadi tokoh besar. Besar atau kecilnya tokoh Indonesia saat ini, bukan karena kualitas dirinya atau sumbangan-sumbangan pemikiran dan ilmunya, tetapi karena popularitas dia di mata media massa. Itu saja kuncinya.

Secara jujur, Gus Dur itu memang pintar. Kalau tidak pintar, mustahil dia akan diangkat menjadi sebuah “maskot”. Tetapi kepintaran Gus Dur tidak berarti kalau dibandingkan peranan media massa yang membesarkan dirinya. Dari keluarga KH. Hasyim Asyari dan anak-cucunya, bukan hanya ada Gus Dur, tapi ada banyak orang lainnya. Tapi kan yang “mencorong” hanya tokoh satu ini. Sekali lagi, media massa telah membesarkan dia, sehingga menjadi tokoh besar, karena popularitas yang melimpah-ruah.

Sebuah fakta yang sangat unik. Menurut informasi media, jam 16.30 SBY datang ke RSCM menjenguk Gus Dur. Jam 16.45, dia meninggal. Maka vivanews.com menulis berita: Gus Dur Meninggal di Depan SBY.

Fakta yang unik juga. Gus Dur meninggal menjelang tutup tahun 2009. Menjelang tahun baru 2010. Ini jelas “menyulitkan” posisi orang-orang. Mereka mau seneng-seneng, ada orang meninggal. Tidak seneng-seneng, masak harus menunggu setahun lagi? Begitu deh.

Yang mau sedih, silakan sedih. Tapi saya menghimbau Ummat Islam, agar tidak terbawa kepada irama emosi yang dimainkan media-media massa. Ya, Anda tahu sendirilah. Media massa kan seperti itu. Mereka bekerja untuk suatu kepentingan; sedangkan posisi kepentingan itu dengan missi Islam, terpisah jauh.

Nabi Saw pernah mengatakan kepada seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, beliau mengatakan, “Innaka ma’a man ahbabta” (engkau akan bersama orang yang engkau cintai).

Maka berhati-hatilah dalam mencintai. Cintailah orang yang benar, yaitu pribadi Muslim yang shalih, alim, berakhlak mulia, dan muttaqin. Jangan mencintai orang yang salah, sekalipun dia -misalnya- dikenal sebagai tokoh pejuang egalitarian, humanis, pluralis. (Apalagi prinsip-prinsip egaliter, humanis, pluralis itu mengingatkan kita kepada slogan-slogan yang banyak dipakai Freemasonry).

Selamat jalan wahai tokoh… Pengadilan kubur telah menanti di depan! Semoga engkau diberi balasan, sesuai amal-amalmu! Amin.

AMW.


Karakter Munafik Andi Malarangeng

Juli 3, 2009

Dulu… orang munafik itu pintar-pintar. Mereka pandai membungkus kemunafikannya, sehingga sulit dilacak siapa saja yang munafik? Umar bin Khattab Ra. sampai tidak mengenali siapa-siapa saja di antara kaum Muslimin di jaman Nabi Saw yang disebut munafik. Mereka pandai menyembunyikan hakikat ideologinya, sehingga sulit dikenali.

Tapi di jaman ini, “seni kemunafikan” itu mengalami kemerosotan sangat hebat. Mudah sekali kita mengenali apakah seseorang munafik atau tidak? Hal ini bukan karena kita makin pintar dalam mengidentifikasi kemunafikan itu, tetapi orang-orang munafik tersebut yang justru “obralan” menampakkan ciri-ciri kemunafikannya.

Nabi Saw menyebut, “Ayatul munafiqina tsa-la-tsah. Idza ahda-tsa kadz-dzaba, wa idza wa’ada akhlafa, wa idza’tumina khana” (ciri orang munafik itu tiga. Kalau bicara, bohong; kalau janji, ingkar; kalau dipercaya, khianat).

*****

Akhir-akhir ini masyarakat sedang ramai membicarakan pernyataan Andi Alfian Malarangeng ketika kampanye di Makassar. Dalam orasinya Andi Malarangeng antara lain mengatakan, bahwa saat ini belum waktunya orang Sulawesi Selatan memimpin Indonesia. Figur yang dianggap paling tepat memimpin Indonesia saat ini –menurut Andi Malarangeng– adalah SBY-Boediono. Ungkapan-ungkapan inilah yang mengundang banyak kecaman, terutama di Sulawesi Selatan sendiri.

Saya tidak akan masuk ke pembahasan soal konflik Andi Malarangeng dan rakyat Sulawesi Selatan itu. Tetapi saya ingin melihat salah satu materi kampanye Andi yang sangat penting. Tepatnya materi filosofi rakyat Bugis/Makassar yang disampaikan oleh Andi dalam bahasa setempat itu. Disini akan kita dapati sebuah pelajaran yang sangat menarik.

Saya tidak mengerti bahasa Bugis/Makassar. Jadi, tidak paham apa yang disampaikan Andi Malarangeng itu. Tetapi saya paham tafsiran kalimat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Andi Malarangeng sendiri.

Setelah mengungkapkan filosofi dengan bahasa daerah. Andi menjelaskan, kurang lebih pengertiannya: Rakyat Bugis/Makassar itu berpegang kepada prinsip/hukum/nilai, bukan mencari kekuasaan.

Dengan filosofi tersebut, Andi meyakinkan masyarakat daerahnya, agar mereka mau berkorban, tidak mengejar kekuasaan (misalnya dengan menjadi Presiden RI). Cukuplah rakyat Makassar berkorban terus, demi prinsip/hukum/nilai yang diyakininya. Tanpa harus berambisi mengejar jabatan/kekuasaan. Begitulah kira-kiranya maunya Andi Malarangeng.

Coba renungkan kembali pandangan yang dilontarkan Andi Malarangeng di atas! Mohon renungkan lagi, renungkan, dan sekali lagi renungkan! Hal ini penting, sebelum kita masuk ke pembahasan selanjutnya.

Singkat kata, bagi Andi Malarangeng, sudah menjadi kewajiban moral rakyat Bugis/Makassar untuk terus berkorban, demi prinsip/hukum/nilai. Bukan mengejar kekuasaan, tidak perlu ambisi jadi Presiden, persilakan orang lain jadi Presiden RI, jangan putra asal Sulawesi Selatan.

Secara moral, apa yang diungkapkan Andi Malarangeng sangat bagus, high morality class, special, heroic, very-very emphatic. Sungguh, andai para pejabat nasional memegang prinsip seperti pernyataan yang diungkap Andi Malarangeng, negeri ini akan lebih cepat menjadi makmur. Saat itu masyarakat lebih peduli dengan kebaikan bersama, bukan memburu ambisi sempitnya masing-masing.

Namun…lha ada namunnya…

Ya, namun, bagaimana lebih jujur memahami pandangan yang dilontarkan Andi Malarangeng itu?

Cara terbaik memahami ungkapan tersebut adalah: LIHAT PADA PERILAKU ANDI MALARANGENG SENDIRI !!!!!

Berikut ini cara memahami pernyataan Andi Malarangeng tersebut secara lebih jujur:

[o] Andi Malarangeng membuat pernyataan kontroversial di depan kampungnya sendiri, dalam rangka kampanye mendukung pasangan SBY-Boediono. Artinya, posisi Andi disana adalah dalam barisan orang-orang yang sedang berjuang merebut kekuasaan. Padahal, dia mengatakan, orang Bugis/Makassar itu sebaiknya tidak ambisi dengan kekuasaan.

[o] Begitu fanatiknya Andi Malarangeng dalam membela SBY-Boediono, sampai merendahkan martabat kaumnya sendiri. Katanya, orang Sulawesi Selatan belum saatnya memimpin Indonesia.  Begitu sangat ambisiusnya dia pada kekuasaan yang akan diraih SBY-Boediono, sampai melecehkan martabat kaumnya sendiri. Padahal kata dia, seharunya orang Makassar itu lebih pro kepada prinsip/hukum/nilai. Sementara dia sendiri sangat ambisius dalam mendukung pencapaian kekuasaan.

[o] Begitu sangat gelisahnya Andi jika SBY-Boediono gagal merebut kekuasaan, sampai dia secara tidak langsung menyerang kandidat Jusuf Kalla yang berasal dari Sulawesi Selatan. Padahal kalau benar-benar Andi tidak pro kekuasaan, jelas dia akan menyingkir dari salah satu tim kampanye Capres. Ini tidak. Menyuruh warga Bugis/Makassar jangan ambisi jabatan, sementara dia sendiri sangat nafsu dengan hal itu.

[o] Kalau kita flash back ke belakang. Setelah partai Andi Malarangeng keok dalam Pemilu 2004 lalu, dia pun merapat ke pasangan SBY-JK ketika itu. Bahkan kemudian Andi ditunjuk sebagai Jubir Kepresidenan. Itu artinya, selama 5 tahun terakhir, Andi Malarangeng melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa putra Bugis/Makassar menjadi pemimpin nasional. Meskipun posisinya bukan RI-1, tetapi beliau RI-2. RI-2 itu posisi kepemimpinan nasional, lho. Itu bukan sembarangan. Untuk orang bergelar doktor politik seperti Andi Malarangeng, apa dia tidak bisa melihat selama 5 tahun, selama menjadi Jubir Kepresidenan, bahwa sosok Jusuf Kalla itu sudah qualified sebagai pemimpin negara? Jadi, selama 5 tahun menjadi Jurbir Kepresiden itu, kerja Andi apa ya? Masak tidur melulu sih… Tidak terbayangkan, JK menjadi pemimpin nasional di depan mata Andi sendiri, selama 5 tahun. Kok yang begitu diingkari? Aneh…

[o] Katanya, Andi tidak suka dengan pandangan sebagian masyarakat Bugis/Makassar selama ini, bahwa mereka harus memilih tokoh pemimpin dari asal daerah mereka sendiri. Sampai Andi mengatakan, “Ini bukan pemilihan gubernur Sulsel!” Tapi masalahnya, pilihan rakyat itu, apapun alasannya, ia dibenarkan menurut teori demokrasi. Demokrasi dimanapun menerima alasan pemilihan pemimpin karena faktor kesamaan agama, asal daerah, almamater sekolah, dll. Itu sah-sah saja, selama tidak memaksa yang memilih dan tidak ada teror dalam bentuk apapun. Sebagai sosok “pengamat politik” terlalu naif bagi Andi untuk menolak cara keberpihakan emosional itu. Malah sejujurnya, ada puluhan juta kaum wanita Indonesia, mereka memilih SBY lebih karena “ganteng” dan “gagah” saja. Ini lebih mengerikan, daripada pertimbangan asal daerah.

Nah, itulah seorang Andi Malarangeng. Dalam satu waktu dia ngajari orang bersikap moral. Tetapi pada saat yang sama, dia tampakkan dirinya amat sangat rendah komitmennya terhadap apa yang dia ucapkan sendiri.

Jujur saja, selama 5 tahun terakhir, saya lebih banyak mengeluh kalau mendengar mulut Andi Malarangeng bergerak-gerak. Isinya, sebagian besar hanya berupa pujian kepada SBY. Sedikit pun tidak ada kritik, koreksi, atau klarifikasi. Putih semua, bagus semua, tanpa cacat. Males….dengernya.

Itu dulu dech… Selamat berjuangan secara fair di dunia politik.



Sosok “Pengamat Politik” Bima Arya 

Juni 19, 2009

Ada satu yang terasa aneh dengan munculnya, pengamat politik Arya Bima. Kita tidak tahu dari mana asalnya, apa karya dan kiprahnya, tiba-tiba muncul seorang pengamat politik baru, dengan nama Arya Bima. Mula-mula muncul menjadi narasumber dalam acara “Negeri Impian” bersama para komedian dan selebritis.

Pria bertampang “aktivis Islam” ini memang unik. Wajahnya, dandanannya, karakter suaranya, bahkan corak penampilannya, agak sulit disebut “pengamat politik”. Tetapi karena ekspose terus-menerus melalui TV, akhirnya dia masuk ke level orang publik, dengan label “pengamat politik”.

Sebenarnya, hasil-hasil analisis Arya Bima tidak terlalu istimewa. Kalau diberi poin, mungkin maksimal mendapat angka 7. Tidak ada sesuatu yang berbeda, istimewa, atau khas darinya. Namun ekspose media itulah yang mendaulat dia menjadi seorang pengamat politik dalam usianya yang masih muda.

Kalau melihat sosok Eep Saefullah, Syamsuddin Haris, Indria Samego, Ikrar Nusa Bhakti, Dewi Fortuna Anwar, dan lain-lain, mudah kita memahaminya sebagai pengamat politik. Antara kadar pengetahuan, cara berbahasa, dan penampilan, memang matching. Tetapi melihat sosok Arya Bima, kita akan merasa nuansa selebritas-nya sangat kuat. Inilah salah satu jeleknya media-media massa modern. Meskipun seseorang “kosong isi”, namun kalau terus-menerus diekspose, lama-lama akan jadi “public figure” juga.

Tapi keheranan saya tentang sosok Arya Bima hanya dalam batas keheranan pribadi saja. Baru saya merasa sangat TERKEJUT ketika menyaksikan acara di media, Arya Bima masuk dalam jajaran tim sukses SBY-Boediono. Ya Ilahi, ya Rahmaan, apa tidak salah ini? Pengamat politik kok jadi tim sukses pasangan Capres? Terus terang saya terkejut menyaksikan kenyataan ini. Jadi, analisa-analisa Arya Bima kemarin itu dikemanakan? Apakah ini berarti, acara “Negeri Impian” di TV itu juga dibiayai Fox Indonesia? Wah, tambah bingung.

Tapi sudahlah, tidak usah bingung. Kenyataan ini bisa disebut sebagai sindrome Saiful Mujani-isme. Maksudnya, di depan masyarakat mereka memperlihatkan diri sebagai orang netral, pengamat politik murni, lembaga surve independen; ternyata ujungnya hanyalah melayani kepentingan regim yang berkuasa. Saiful Mujani, Burhanuddin Muhtadi, Deny JA, atau sekarang Arya Bima, ya hanya seperti pelor-pelor kepentingan politik belaka. Mereka hanya seperti pelor-pelor untuk suatu mesin besar yang sedang berjalan.

Saya jadi teringat sebuah diskusi di TV. Waktu itu diskusi menhadirkan SBY dengan beberapa panelis. Salah satu panelis, adalah Arya Bima. Ketika giliran Arya Bima bertanya, dia bertanya pertanyaan standar yang jawabannya sudah dikuasai “di luar kepala” oleh SBY. Tetapi sebelum menjawab, SBY melontarkan kalimat pujian yang sangat naif menurut saya. Dia memuji Arya Bima sebagai pengamat muda yang cerdas dan memiliki masa depan cerah.

Terus terang, saya heran dengan pujian SBY itu. “Ada apa ini?” begitu pikir saya. Tidak elok-lah seorang presiden terlalu obral pujian di depan umum. Ohh, saya baru paham masalahnya setelah Arya Bima tampil membela SBY, pasca Debat Capres yang diadakan KPU kemarin malam. Disini kita dapat pelajaran. Kalau suatu saat SBY memuji seseorang, patut diduga yang bersangkutan akan merapat (atau sudah merapat) bersama SBY. Itu rumusnya. Sebab sampai saat ini memang SBY sangat “pelit pujian” ke lawan-lawan politiknya.

Sayang seribu sayang. Tetapi itulah kenyataannya. Anak-anak muda. Masih segar-segar. Sangat diharapkan kiprah, pemikiran genuine, idealisme, dan sikap kritisnya. Tetapi sayang, ia seperti bunga-bunga mekar, yang cepat layu sebelum menghasilkan buah. Sudah gugur sebelum mekar berkembang. Demi kepentingan menjadi “pelor politik”, merelakan misi perjuangan yang masih panjang.

Ya Allah ya Rahmaan, jadikan kami dari kalangan orang-orang yang benar (shiddiqun), hidup di atas kebenaran, istiqamah memeluk kebenaran, berbangga dengan kebenaran, dan mati dalam kebenaran. Amin Allahumma amin, ya Rahmaan ya Mujibas sa’ilin.

AMW.