Rahasia: Mengapa Jokowi Dipaksakan Nyapres pada 2014 ???

Maret 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebenarnya, mencalonkan Jokowi sebagai Capres untuk 2014 ini sangatlah RISKAN dan mengandung bahaya politik besar. Bahaya bukan hanya buat sosok Jokowi, tapi juga untuk kepentingan warga Jakarta, kepentingan rakyat Indonesia, dan dunia politik itu sendiri.

Secara itung-itungan politik, mencapreskan Jokowi bagi PDIP adalah bunuh diri. Mengapa demikian? Karena PDIP akan pecah kongsi dengan Prabowo-Gerindra. Itu sudah otomatis. Kemudian, PDIP akan dimusuhi oleh warga DKI Jakarta yang merasa dikhianati oleh Jokowi. Warga Jakarta yang semula dukung Jokowi (anti Foke) otomatis akan menjadi lawan PDIP. Padahal dalam tradisi politik di Indonesia, kemenangan di Jakarta sangat menentukan, karena ini adalah daerah khusus ibukota.

Karakter Harimau

Karakter Harimau

Sangat mungkin, dengan mencapreskan Jokowi, justru suara PDIP akan mengalami kemerosotan hebat. Mengapa? Karena partai ini dianggap ingin menang sendiri. Saat Jokowi lagi laku-lakunya di media, karena dukungan sponsor Mafia China yang intensif untuk membentuk pencitraan; PDIP mengakuisisi Jokowi. Sebaliknya, di mata semua partai yang punya kandidat capres masing-masing, mereka merasa marah dengan naiknya Jokowi melalui dukungan palsu media. Mereka pasti tidak rela kursi RI-1 jatuh ke tangan capres selain dari kubu mereka sendiri. Nah, di sini PDIP bisa dikeroyok oleh semua kekuatan politik.

Di sisi lain, pencapresan Jokowi tidak didukung oleh prestasi, kinerja, dan capaian positif. Di Solo masih meninggalkan seabreg masalah dan kasus hukum. Di Jakarta, apalagi. Jokowi nyaris baru blusukan kesana kemari, sambil tidak jelas apa hasilnya. Dalam pertarungan pilpres nanti, pasti rakyat akan melihat hasil kerja, bukan citraan. Bayangkan, kalau nanti Jokowi kampanye Pilpres, dia akan membuat janji-janji apalagi, wong janji-janjinya saat Pilkada DKI tidak ada yang direalisasikan dengan beres? Nanti dia akan jadi kandidat presiden yang paling banyak dicaci. “Halah ngibul, gombal, banyak omong. Janji segunung, hasil nol besar.”

Singkat kata, mencalonkan Jokowi sebagai Capres PDIP adalah blunder besar yang telah merusak reputasi partai itu selama 10 tahun terakhir. PDIP yang telah dikesankan oleh rakyat, bukan atas dasar surve dan pooling abal-abal ya, sebagai partai oposisi yang konsisten, sekarang harus ketar-ketir menyelamatkan mukanya. Dan pasti, pencapresan Jokowi itu akan membelah kekuatan PDIP menjadi dua, barisan pro dan kontra. Itu pasti. Meskipun PDIP berusaha mati-matian menyembunyikannya.

Mengapa Megawati tega menikam partainya sendiri demi memuluskan jalan bagi Jokowi untuk nyapres pada 2014?

Kemungkinan itu terjadi karena SANGAT KUATNYA tekanan dari Mafia China ke kubu Megawati. Ada kabar menyebutkan, sebelum pengumuman pencapresan dilakukan, sekitar 75 pengusaha besar China, datang ke Lenteng Agung untuk menekan Mbak Mega. Katanya, mereka sedia siapkan dana 2 triliun untuk pemenangan Jokowi.

Tapi tekanan ini bisa jadi lebih besar dari itu. Ia menyangkut hajat bisnis keluarga Megawati sendiri dan keselamatan posisi politiknya. Kami menduga, jaringan mafia pengusaha China itu menekan Mbak Mega minimal dalam dua poin: (a). Mereka akan melibas binis CPO/produksi minyak sawit yang selama ini deras menafkahi keluarga Megawati, sejak era Mega menjadi Presiden RI 2001-2004 lalu; (b). Mereka mengancam akan buka-bukaan soal data korupsi/pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Mega dan keluarga. Dengan tekanan begitu, tentu sangat sulit bagi Mega dan kawan-kawan untuk mendiamkan ajuan mafia China.

Oh ya, apa rahasia di balik pencapresan Jokowi ini? Masih ada rahasia lain yang lebih “menggiurkan”?

Sebenarnya, para mafia China juga tahu bahwa pencalonan Jokowi sangat berisiko. Risiko terbesar adalah mengundang amarah politik/sosial Umat Islam yang telah dikalahkan dalam Pilkada Jakarta sehingga terpilih Ahok sebagai wakil gubernur. Pencapresan Jokowi jelas akan menaikkan Ahok sebagai Gubernur DKI. Dan kita tahu sendiri, dalam kepemimpinannya Ahok lebih seperti orang stress daripada seorang Wakil Gubernur. Omongan dia lebih mirip ucapan preman Cilitan atau Kampung Rambutan, daripada seorang pejabat birokrasi.

Bagi kalangan mafia China, lebih suka damai-damai saja, ekonomi lancar, kehidupan normal, daripada situasi konflik sosial membara dimana-mana. Loyalitas mereka ke uang. Mereka cuma butuh “tempat aman dan waktu tenang” untuk cari uang. Kalau ada semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”; di mata mafia China semboyan itu diubah jadi: “Dari duit, oleh duit, dan untuk duit.” Ini benar-benar nyata. Duit telah menjadi ILAH yang diibadahi dan diberikan loyalitas sempurna.

Mereka dengan sangat terpaksa memilih Jokowi karena mereka SANGAT KETAKUTAN kepada sosok Prabowo Subianto yang dalam Pilpres 2014 ini diperkirakan akan merajai arena. Konon, tak ada satu pun sosok lain, setelah SBY, yang bisa menandingi Prabowo. Para mafia China sangat takut dengan ide kemandirian, kedaulatan, kerakyatan yang diusung oleh Prabowo. Bagi mereka, membiayai kemenangan Jokowi meskipun harus mengeluarkan uang 10 triliun rupiah, tidak masalah. Asalkan jangan Prabowo yang menang.

Mereka tak peduli Jokowi tak punya prestasi, tak becus ngatur Jakarta, khianat pada kepercayaan rakyat, melanggar janji-janji, dan seterusnya. Mereka tak peduli semua itu. “Persetan dengan prestasi Jokowi!” Begitu kira-kira omongan mereka. Mereka semata-mata hanya TIDAK INGIN MELIHAT NEGARA INDONESIA DIPIMPIN OLEH PRABOWO. Sekalipun sebenarnya yang membawa Jokowi ke Jakarta adalah Prabowo sendiri. Maka itu uang miliaran-triliunan siap dihambur-hamburkan, untuk mengangkat pamor Jokowi dan hancurkan pamor Prabowo.

Mengapa mereka begitu phobia dengan Prabowo? Mengapa mereka tidak bisa menerima Prabowo, padahal tokoh itu sudah melakukan “operasi plastik politik” sangat ekstrem seperti para selebritis Korea?

Prabowo sudah melakukan segala-galanya untuk mengubah citra dirinya. Dari pro rakyat, jadi pro kapitalis. Dari anti China, jadi shohiban sama China. Dari dekat ke Islam, jadi membuat marah Umat Islam. Dari konsep kemandirian, jadi konsep “pasar bebas”. Dari kesan militeristik jadi pejuang demokrasi sejati. Dan seterusnya. Kalau ada yang belum berganti dari sosok Prabowo paling dua hal: agama dan jenis kelamin.

Lulunya Kambing

Lucunya Kambing

Nah, mengapa kaum mafia China masih belum percaya juga dengan semua “operasi plastik” Prabowo Subianto itu?

Ya alasannya kembali ke filosofi dasar hidup mereka. Kaum mafia China kan terkenal dengan slogan: “Dari duit, oleh duit, untuk duit.” Dalam konteks ini, mereka jadi sangat paranoid terhadap perubahan sistem pemerintahan yang akan berdampak pada perubahan income dan kekayaan mereka.

Di mata mafia China berlaku prinsip semacam ini: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing. Lebih baik kamu perlakukan semua hewan sebagai harimau.” Ini adalah tingkat kewaspadaan tertinggi dalam penjagaan aset-aset kekayaan. Mereka tak mau ambil risiko dengan menerima kemungkinan perubahan ideologi atau pemikiran seseorang.

Hal yang sama juga berlaku bagi PKS. Meskipun Anis Matta sudah mendatangkan grup penyanyi gereja dari NTT untuk manggung di tengah perhelatan massa mereka di Senayan. Tetap saja, semua itu tak akan mengubah pendirian mafia China terhadap PKS. Sama sekali tak akan mengubah apapun. Dasarnya ya filosofi tadi: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing…

Filosofi dasar kaum mafia China ini susah berubah, dengan cara apapun, karena ia merupakan kunci eksistensi mereka di perantauan. Hal itu sudah berlaku dalam lintasan sejarah selama ribuan tahun. Ini sudah clear dan sulit berubah. Ia sudah inheren dengan kebudayaan oriental. Kalau berubah, justru eksistensi jadi taruhan. Meminjam kata Nabi SAW: “Pena-pena sudah diangkat, lembaran-lembaran sudah ditutup.”

Tak mungkin “operasi kamuflase politik” akan mengelabui mereka. Jangan meremehkan sejarah mereka, ribuan tahun. Maka itu harusnya kalau berpolitik yang LURUS-LURUS saja. Satu muka, satu pendirian, satu integritas. Jangan suka mencla-mencle!

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

TANDA MERAH: Jokowi Jadi Capres PDIP !!!

Maret 15, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jum’at, 14 Maret 2014 kemarin, Jokowi ditetapkan sebagai Capres PDIP melalui terbitnya Surat Perintah Bu Megawati. Semua media membahas isu ini, apalagi Detiknews.com dan Arifin Asydad Cs. Kegelisahan mereka berbulan-bulan akhirnya pecah juga. Mungkin setelah pencapresan resmi ini, Arifin dkk tak henti-henti melantunkan dzikir: “Jokowi pujaanku. Jokowi cintaku. Jokowi mesraku.”

Jika Jokowi terpilih sebagai Presiden RI tahun 2014, maka akibatnya bagi bangsa Indonesia bisa sangat-sangat dahsyat. Dari sisi apapun, Jokowi lebih buruk dari SBY. Di bawah SBY saja rakyat sudah megap-megap, apalagi di bawah Jokowi. Orang ini bener-bener palsu, pengkhianat sejati, boneka barbie, dan jauh dari pertolongan Allah SWT.

STOP This Man !!!

STOP This Man !!!

Tahun 2013, ketika baru 3 bulan jadi Gubernur DKI, Jokowi dihantam oleh banjir dahsyat yang menggenangi area Jakarta yang luas. Kala itu dia berdalih: “Rupanya gerak saya kalah cepat dengan datangnya banjir.” Oke, kita maklumi, kita maafkan. Wong namanya juga baru memimpin Jakarta.

Ternyata, awal tahun 2014, lagi-lagi Jakarta dihantam banjir besar. Menggenangi banyak wilayah. Termasuk daerah Kampung Pulo yang sejak tahun sebelumnya sudah “langganan”. Jokowi keteteran. Media-media pendukung Jokowi mencari 1001 alasan pembelaan. Sangat memalukan. Nah, saat itulah kita baru saksikan kualitas diri Jokowi sebenarnya. Orang ini bener-bener palsu. Boneka barbie. Banyak lagak, nol kemampuan. Dia peringisan di depan Detiknews.com, sambil Arifin Asydad dkk. menjilati lumpur di sepatunya. Apa yang dibangga-banggakan sebagai “walikota terbaik dunia” nol besar.

Tapi masalahnya… kita bicara tentang nasib 250 juta rakyat Indonesia ini. Apa rela kita akan dipimpin boneka yang lebih buruk dari SBY dan kawan-kawan? Pengalaman 10 tahun menderita di bawah SBY, apa itu tidak cukup? Mau berapa lama lagi menderita? Mau 100 tahun lagi?

Pencapresan Jokowi ini TENTU SAJA dibantu oleh pendanaan James Riyadi, China Connection, dan para debibur pengembang BLBI. Mereka itu pada tahun 1997-1998 lalu melarikan dana negara senilai 500-600 triliun ke luar negeri. Sampai ada uang dimuat dalam kontainer, dibawa ke Singapura. Singapura jadi tempat berbiak musuh-musuh bangsa dan kemanusiaan itu.

Ini yang sangat bahaya. Para pengemplang BLBI bukan hanya ingin come back. Ingin cuci tangan dari dosa-dosanya. Tapi juga ingin kembali menganiaya kehidupan bangsa kita ini. Mereka sedang bersaing dengan Amerika, untuk memutilasi tubuh bangsa ini.

Adapun ceceunguk media sejenis Arifin Asydad Cs di Detiknews.com dan lainnya, mereka ini kan anggota “Mafia Jokowi Raya”. Mereka dibiayai kaum mafia untuk membesarkan image Jokowi, agar dia bisa menguasai Indonesia Raya. Kalau sudah berkuasa, episode kehidupan yang lebih sengsara dari kepemimpinan SBY sudah di depan mata.

Banyak anak-anak muda, ABG, punya hak pilih. Mereka berjibaku membela Jokowi dengan segala macam alasan. Itu karena mereka bodo-bodo alias “otak kosong”. Kalau mereka tahu yang sebenarnya, mereka akan malu menyatakan dukungan. Bukan karena mau menghina. Tapi kehidupan rakyat 250 juta ini tak boleh dikorbankan untuk si pengkhianat seperti Jokowi dan para sekutunya itu.

Kalau kini di Suriah sedang ada JIHAD FI SABILILLAH, maka kini kaum Muslimin seindonesia wajib turun melakukan JIHAD MEDIA untuk menghadang gerakan “Mafia Jokowi Raya” ini. Wajib atas kita melakukan perlawanan ini, sebab hal ini sama dengan MENYELAMATKAN NASIB 250 juta rakyat Indonesia.

Biarkan saja cecunguk seperti Arifin Asydad Cs terus mengelus-elus kepala Jokowi. Biarkan Jokowi omongan JASMEV yang tak berguna itu. Biarkan juga komentar bodoh anak-anak ABG yang lidahnya setajam silet. Biarkan semua itu…karena mereka SALAH.

Kita yang mengerti dan yakin akan kebenaran jalan ini, terus galang kekuatan dan opini untuk melawan PDIP, Pencapresan Jokowi, dan politik China connection. Terus berjuang Bung!

Ini adalah tantangan besar bagi para pejuang Islam. Kita membela kebenaran, sedang “Mafia Jokowi Raya” membela kebathilan melalui kekuatan media. Mari kita buktikan, bahwa kekuatan kebenaran bisa menggelamkan mereka! “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” pekik Bung Tomo pahlawan panutan kita.

Semoga Allah membinasakan, mencerai-beraikan, menghancurkan tangan-tangan yang terus bermain untuk menyusahkan kehidupan 250 juta rakyat Indonesia ini. Amin Allahumma amin.

Berjuanglah Ikhwan! Berjuanglah Akhwat! Berjuanglah wahai para pejuang Islam! Tantangan besar di depan mata!

Megawati takluk, PDIP gak sanggup. Orang-orang Mukmin siap hadapi Jokowi dan “Mafia Jokowi Raya” di belakangnya.

Berjuanglah para Ustadz. Berjuanglah para Kyai, para Ajengan! Berjuanglah para santri, para aktivis, para pembela Islam. Berjuanglah laki-laki penyendiri yang tidak melupakan Umat di hatinya.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” pekik Bung Tomo menggelorakan Jihad Fi Sabilillah.

(Weare).


Jokowi Punya Kemampuan, Tapi Masalah Jakarta Sangat Komplek. Foke Punya Pengalaman, Tapi Cenderung Arogan.

November 28, 2012

Baru juga Jokowi memimpin Jakarta, masalah-masalah klasik di provinsi ini mulai bermunculan. Minimal, soal banjir dan macet. Dalam masalah banjir, Jokowi sempat bilang bahwa dirinya “kalah cepat” dibandingkan kedatangan banjir; dalam masalah kemacetan, yang semula Jokowi tidak setuju dengan pembangunan jalan tol dalam kota, akhirnya sepakat untuk merealisasikan pembangunan dua ruas jalan tol. Banyak masalah-masalah Jakarta yang sedang menanti “tangan dingin” Jokowi.

Menurut sebagian analisis, nama besar Jokowi yang meriah di mata media dan rakyat, tak urung membuat Megawati dan kawan-kawan merasa “gerah” juga. Sebab dikhawatirkan Jokowi akan mengganggu “nama besar” Megawati di mata para PDIP-ers. Ibaratnya, hanya boleh ada satu bola lampu yang menyala terang. Nah, itu masalah lain lagi.

Intinya begini lah…Pak Jokowi ini punya kemampuan, punya leadership, juga punya pengalaman. Minimal dalam memimpin Kota Solo. Dengan kemampuan yang ada itu, dia insya Allah bisa mengadakan perbaikan-perbaikan di Jakarta pada sektor-sektor tertentu. Tapi untuk memperbaiki Jakarta secara fundamental, untuk mengubah wajah Jakarta, untuk menata-ulang wajah provinsi ini sebaik-baiknya; hal itu tidaklah mudah. Alasan utamanya, masalah Jakarta terlalu komplek.

Jakarta Terlalu Ruwet untuk Dihadapi Seorang Diri.

Jakarta bisa diibaratkan sebagai “ruang tamu” sekaligus “dapur” bangsa Indonesia. Ia adalah pajangan bagi dunia luar; tetapi sekaligus pusat bisnis bagi dunia dalam. Jakarta itu inti magnet kehidupan nasional. Di dalamnya bermain banyak sekali tangan-tangan yang berkepentingan. Ada pemda & pemkot, serta pejabat-pejabat mereka; ada pemerintah pusat dan departemen-departemen; ada BUMN dan swasta yang berkantor pusat disana; ada perusahaan swasta, pebisnis, pedagang dan seterusnya; ada media-media massa, baik cetak maupun elektronik; ada aparat keamanan dan hukum, yang juga punya kepentingan bisnis dan politik; ada asosiasi-asosiasi; ada partai-partai politik; ada masyarakat marginal; ada kepentingan negara-negara asing; ada jaringan perusahaan-perusahaan multi nasional, dan seterusnya dan seterusnya. Jakarta seperti “pasar tradisional” tempat bertemunya aneka macam jenis manusia, kepentingan, ambisi, serta tingkah-polahnya.

Pihak-pihak yang bermain di Jakarta ini bisa dikelompokkan menjadi 3 golongan: [1]. Kelompok mapan (settled). [2]. Kelompok oposisi yang anti kelompok mapan. [3]. Kelompok eksperimen yang berusaha keras mencari kemapanan.

Kelompok pertama adalah kalangan yang telah mendominasi Jakarta, dan sangat banyak mendapatkan keuntungan secara ekonomi, bisnis, finansial, politik, dan sosial. Kelompok ini punya kekuatan dana, power politik, media, serta agen-agen loyal yang selalu bekerja keras untuk mempertahankan dominasinya di Jakarta. Kelompok kedua adalah barisan siapa saja, terutama rakyat dan mahasiswa, yang ingin ada perubahan di Jakarta. Kelompok satu dan dua ini selalu berseteru. Jokowi disebut-sebut sebagai bagian dari “kelompok perubahan” ini; tetapi bisa juga dimaknai, dia disetir oleh kelompok pertama. Sementara kelompok ketiga, adalah kaum pragmatis-oprtunis yang terus mencari celah untuk menguasai Jakarta, dengan prinsip ekonomi: bermodal pengorbanan sekecil-kecilnya untuk meraup untung sebesar-besarnya.

Selagi kebijakan Jokowi tidak membahayakan kelompok pertama, dia akan dibiarkan aman, selamat, dan sentosa. Tetapi kalau sudah mulai mengganggu, Jokowi akan diserang dengan aneka macam senjata; mulai dari yang paling halus, semi halus, agak kasar, kasar, hingga sangat kasar. Tinggal pilih, mana selera yang cocok. Saya perhatikan, media-media tertentu sudah mulai gatel menjadikan Jokowi sebagai “sansak”; sebagaimana media-media lain berpura-pura bego atas kasus yang membelit Dahlan Iskan, sewaktu menjadi Dirut PLN.

Pertanyaan, di atas semua kenyataan ini, mungkinkah Jokowi bisa mengatur Jakarta sebaik-baiknya?

Kemunculan Jokowi di Jakarta, tidak lepas dari peranan sebagian politisi senior (di Gerindra dan PDIP); bukan agenda Jokowi sendiri; itu tandanya dia tidak mandiri, secara politik. Dengan keadaan demikian, bisakah Jokowi membereskan kompleksitas Jakarta dengan segala elemennya? Kalau secara hitung-hitungan teoritis, itu sangat sulit.

Tapi soal Jokowi akan bisa mengadakan perbaikan-perbaikan tertentu di Jakarta, insya Allah bisa, sebab beliau punya pengalaman. Namun jika berharap banyak padanya, untuk membereskan segala keruwetan Jakarta, rasanya sangat sulit. Kita seperti mengharap seekor tupai untuk mendorong truk trailer sampai ke pelabuhan.

Adapun Foke (Fauzi Bowo), secara umum dia punya pengalaman, 30 tahunan di birokrasi pemda/pemkot. Dia juga meraih gelar doktor dari Jerman. Dari sisi ini sudah bagus, sudah layak untuk jabatan selevel gubernur. Tapi pembawaan Foke kurang bagus. Sikap kepribadiannya cenderung arogan. Pencitraan dengan kumis tebal yang dipotong “kotak” itu, semakin menambah kesan arogansinya. Sementara masyarakat Indonesia kurang suka dengan sikap arogan. “Meskipun pintar, kalau arogan, kita gak suka. Meskipun bodoh, kalau ramah dan sopan, kita demen tuh.” Begitu kira-kira prinsip kultural masyarakat kita.

Kita jangan terlalu memberi beban ke pundak Jokowi, sebab kemampuan dia sangat terbatas dibandingkan masalah komplek yang ada di Jakarta. Mesti bersikap proporsional. Tetapi boleh juga berharap, dia akan melakukan perbaikan-perbaikan tertentu yang bersifat sektoral. Jakarta itu bisa berubah secara drastis, jika pola pikir (software), elit-elit dominator (processor), kesadaran umum masyarakat (motherboard), serta fasilitas fisik (hardware) Jakarta juga berubah.

Oke Pak Jokowi, selamat bekerja dan berjuang demi kebaikan hidup masyarakat Jakarta. Dan bagi rakyat Jakarta, para pengamat, para netters, dan seterusnya…jangan berhenti untuk berharap, bahwa: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Amin.

(Blogadmin).


Biarkan Jokowi “Hedon” 3 Bulan…

Oktober 16, 2012

Hhmm…

Maksud hedon” disini bukan artinya senang-senang, menghamba hawa nafsu, seperti yang ditulis di bagian lain. Maksudnya ialah, bersantai, tenang-tenang, enak-enakan, bermesra-mesra dengan media, memungut puji-puji segunung, dan seterusnya. Biarkan Pak Jokowi enak-enak, menikmati posisi Gubernur DKI selama 3 bulanan pertama. Dia perlu dapat “hiburan manis” setelah susah-payah berjuang menuju GDKI-1 (posisi Gubernur DKI…he he he).

Eeee…

Apa ya, Jakarta itu kota yang super komplek, sangat rumit, tidak sesederhana yang dibayangkan. Jakarta adalah provinsi paling rumit di seluruh Indonesia. Ia provinsi, sekaligus kota; kota tetapi provinsi. Dari sisi ini saja, kita sudah merasa puyeng. Kok ada sebuah kota sebesar provinsi…

Siapa Nih? Bang Haji apa Maradona? Napa Die Ada Dimari…

Jakarta itu rumit sekali. Ia bukan Solo yang merupakan sebuah kota penting di Jawa Tengah. Jakarta berbeda dari Solo, dalam sebagian besar konstruksi kota dan tipikal rakyatnya. Beda, beda, beda sekali.

Sudah banyak pemimpin gagal di Jakarta ini; dalam artian, gagal mewujudkan impian dan harapan warga Jakarta dan sekitarnya. Kini ujug-ujug Jokowi muncul, bersama sosok pemimpin gagal Ahok. Jokowi secara gagah mengatakan, bahwa Jakarta butuh: pemimpin yang berkarakter, manajemen yang kuat, dan tindakan nyata. Tapi ya semua itu baru sebatas teori atau retorika.

Haaa…

Masalah terbesar Jokowi di Jakarta bukan soal minimnya dukungan dari DPRD, karena dia cuma didukung PDIP dan Gerindra; tetapi ya realitas jaringan kekuasaan politik-ekonomi-sosial yang selama ini mendominasi kehidupan rakyat Jakarta. Itu masalah utamanya. Jokowi pemain baru, tidak mudah baginya untuk menerobos jaring-jaring kekuasaan politik-sosial-ekonomi yang sudah sangat kuat di Jakarta. Jangankan dia, Pak SBY saja tak mampu kok. Mafia PBB (Politik-Birokrasi-Bisnis) di Jakarta sangat kuat… Mereka tak akan begitu saja memberi cek kosong kepada Jokowi.

Kalau diibaratkan sebuah kerajaan, Jokowi ini seperti seorang menteri yang baru dilantik. Di Jakarta, dia akan berhadapan dengan raja (presiden), permaisuri (isteri presiden), para pangeran (keluarga dan anak buah presiden), para panglima (jendral-jendral), para menteri lain (menteri-menteri kabinet, pimpinan BUMN), para bangsawan (kaum elit, para pengusaha, bisnisman), para pejabat asing (orang-orang ekspatriat yang membawa missi asing), dan lain-lain.

Tapi kalau baca program-program Jokowi, seperti yang dimuat dalam situs KPUD Jakarta, tentang program-program semua kandidat Gubernur DKI 2012. Program dia justru sangat kapitalistik-liberal. Ini sangat mengherankan. Program dia paling kapitalistik-liberal dibandingkan calon-calon lain. Satu sisi, hal itu seperti tidak selaras dengan ide-ide ekonomi kerakyatan Gerindra; di sisi lain, Jokowi selama memimpin Solo mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang merakyat. Kok bisa begini ya? Mana yang benar? Apa program-program itu cuma formalitas belaka? Atau kesan “merakyat” di Solo hanya kamuflase, sebelum akhirnya mengeluarkan jurus kapitalisme-liberal untuk Jakarta? Tak tahulah awak…

Tapi sejujurnya, langkah Jokowi akan menghadang banyak rintangan. Misalnya, dia ingin memindahkan Busway ke pinggiran kota Jakarta.  Itu artinya, dia harus membuat pengganti Busway untuk angkutan di tengah kota.  Apa penggantinya? Monorail atau MRT? Atau apa?

Misalnya dia memilih Monorail, maka dia harus koordinasi dengan Departemen Perhubungan, dengan Badan Pertanahan (untuk soal lahan lintasan Monorail), dengan Departemen Keuangan untuk investasi, dengan PLN untuk menyediakan listrik, dengan kepolisian untuk rekayasa lalu-lintas, dengan DLLAJR, dengan PT. KAI, dengan developer, dengan penyedia prinsipal teknologi, dengan partai politik, dengan media massa, dengan ini dan itu, sangat banyak urusannya. Jadi, tidak sekejap Jokowi bilang “bikin Monorail”, lalu seketika bulan depan terwujud. Tidak begitu.

Jadi menurut saya, Jokowi itu hanyalah seorang politisi (pemimpin) yang sengaja dikorbankan, atau diabuang; ketika dia didapuk untuk memimpin Jakarta. Setelah 3 bulan memimpin, dia akan dicaci-maki, dia akan diolok-olok, atau bahkan dibuatkan kartun yang sifatnya mengejek. Intinya, Jokowi ini seorang pemimpin yang akan “dikubur” di Jakarta.

Sebenarnya, letak kesalahannya ialah pada janji-janji Jokowi yang terlalu tinggi. Dia menjanjikan perubahan dramatik, sesuatu yang dinanti semua orang, tapi sangat susah direalisasikan. Sekarang Jokowi jalan-jalan dari kampung ke kampung; masalahnya, orang Jakarta beda dengan orang Solo. Warga Solo sopan-santunnya tinggi, kalau Jakarta tau sendiri. Jalan-jalan blusukan kampung itu bukan solusi untuk Jakarta; tetapi kalau untuk melihat masalah riil masyarakat, itu boleh sepenuhnya.

Sangat unik melihat pada sosok Amien Rais, ketika dia menyerang Jokowi dengan sangat pedas dan kasar. Kelihatan seolah dia “sakit hati” ke Jokowi, mungkin karena teori-teori politiknya sering gagal. Amien menyerang Jokowi sedemikian rupa agar Jokowi gagal, tetapi terbukti dia sukses jadi gubernur. Lalu apa pengaruh dari kemarahan dan emosi Amien Rais yang kemarin-kemarin? Apakah dia sampai sekarang masih emosi atau tambah emosi? Entahlah, kadang dibutuhkan kemarahan tertentu agar wakil yang didukung PAN sukses dalam pertarungan politik; meskipun akibatnya kalah lagi, kalah lagi.

Tetapi kita melihat, tanpa harus dimarahi juga, Jokowi pasti gagal. Gagalnya bukan karena dia tak bisa memimpin; tapi dia terlalu keburu sesumbar ingin menyelesaikan masalah Jakarta dalam waktu cepat. Itu kesombongan. Itu tidak bagus. Pak Jokowi terlalu PD, dan media-media sekuler bergemuruh tepuk-tangan dan sorak-soray mengkampanyekan sosok Jokowi.

Wwwuuihh…

Maaf ya Pak Jokowi, Pak Gubernur. Bukan kami tidak mendukung, atau bersikap negative thinking. Bukan itu. Tetapi Anda terlalu under estimate terhadap problematika di Jakarta. Seolah problema itu sangat mudah diatasi. Tidak semudah itu Pak. Melalui analisa sains pun, tidak semudah itu. Contohnya, ya Mobil SMK yang Bapak kampanyekan itu. Terbukti sampai saat ini tidak jelas bagaimana hasilnya. Gimana nasib Mobil SMK itu? Ya ini hanya sekedar renungan saja, agar kita jangan terlalu sombong dalam membuat pernyataan atau janji-janji.

Okeh Pak Jokowi, silakan bekerja, silakan berkarya… Kota Jakarta telah menantikan segala daya dan upayamu. Adapun soal Amien Rais marah-marah dan emosi; ya biasalah, kadang manusia makin senja usia semakin sensitif. Jangan terpengaruh itu.

Masa 3 bulan cukuplah untuk bermesra-mesraan dengan media dan segunung puja-puji masyarakat. Setelah itu…ya itulah Jakarta. Ia adalah kota yang dinamakan Jaya Karya, kota yang berjaya. Nama ini terambil dari inspirasi Surat Al Fath: Inna fatahna laka fathan mubina (sesungguhnya Kami telah memenangkan kamu dengan kemenangan yang nyata).

Jadi Jakarta itu, kalau mau berjaya, harus dipimpin oleh manusia yang kuat, luas wawasan, bermental baja, pemberani, lembut hati, dan Mukmin sejati. Kalau selain itu, apalagi kalau tipikalnya seperti anggota boyband, waduh sangat tidak bagus…

Udeh…gitu aje ye Bank Kowi. Selamat “hedon”, eh maksudnya selamat santai-santai, enak-enak, untuk 3 bulan pertama ini.

Mine.


Jokowi Menang di Pilkada DKI Putaran 2

September 17, 2012

Sebentar lagi, tanggal 20 September 2012, akan digelar Pilkada Jakarta putaran ke-2. Ya seperti yang dimaklumi, pasangan Jokowi-Ahok akan bertarung melawan pasangan Foke-Nara. Bertarung disini maksudnya bukan dalam arena duel “master martial art”, tapi dalam even Pilkada biasa.

Dari berbagai pertimbangan politik, ada dugaan kuat, pasangan Jokowi-Ahok akan memenangkan Pilkada Jakarta 2012. Ini bukan karena ramalan, berdasarkan wangsit, atau ilmu gathuk-gathuk-an. Juga bukan karena melihat hasil surve-surve yang aneh itu. (Surve-surve begituan tak perlu dianggap; intinya mereka kan mencari uang, bukan melayani kebenaran). Tetapi memang disini ada pertimbangan sains politiknya.

Pemilih Wanita Lebih Melihat Penampilan, Bukan Ideologi.

Ada beberapa analisis yang bisa menguatkan peluang Jokowi-Ahok untuk memenangkan Pilkada Jakarta, antara lain:

[a]. Sejak kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 lalu, kandidat-kandidat yang menang dalam pemilu, rata-rata bukan karena faktor ideologis; bukan pula karena faktor program dan agenda yang hebat; tetapi lebih karena faktor OPINI MEDIA dan STRATEGI VISUALISASI. Mayoritas pemilih lebih melihat penampilan kandidat dan popularitasnya. Calon yang tampak ganteng, muda, keren, dan didukung selebritis; sering kali memenangi pemilu.

[b]. Kondisi dalam poin ‘a’ di atas terjadi, karena sebagian besar para pemilih adalah kaum wanita (perempuan). Mereka ini sikap politiknya sangat dipengaruhi oleh PERASAAN, bukan timbangan ideologi. Ketika Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf memenangi Pilkada Jabar tahun 2008, hal itu karena penampilan mereka dianggap lebih fresh, dinamis, dan tersohor lagi.

[c]. Dalam Pilkada DKI tahun 2007, media-media massa seluruhnya mendukung pasangan Foke-Prijanto. Hal itu terjadi karena lawan dari Foke adalah pasangan Adang Dorodjatun dan Dany yang didukung PKS. Media massa ingin mengambil posisi berseberangan dengan PKS. Pada Pilkada 2012 ini media massa justru sebagian besar mendukung Jokowi-Ahok. Hingga presenter-presenter TV banyak memakai baju “kotak-kotak”, dan mereka tidak ada yang sengaja mempromosikan “kumis”.

[d]. Secara visual, ketika dipadukan antara gambar Foke-Nara dan Jokowi-Ahok; pasangan Jokowi lebih disukai, karena dia mencerminkan penampilan kalem, rendah hati, muda, energik, dan -yang paling penting- enak dilihat. Air muka Jokowi yang sering tersenyum, ramah, dan santai; hal itu sangat kontras dengan air muka Foke yang terkesan kaku, kethus, arogan, dan formalis. Para pemilih wanita, cenderung lebih menyukai Jokowi.

[e]. Slogan kampanye yang diusung Jokowi, untuk mengadakan perubahan di Jakarta, cukup mengena. (Soal nanti terjadi perubahan positif atau negatif, itu lain soal). Tapi ide perubahan ini cukup mengena di hati masyarakat. Sedangkan ide “bersatu” yang dibawa oleh Foke seolah mengesankan, di Jakarta sedang ada konflik sehingga masyarakat perlu bersatu.

[f]. Banyaknya pihak (terutama aktivis Muslim) yang ikut menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok melalui isu-isu tertentu; hal tersebut akan membuat pasangan itu mendapat peluang melalui tema “pihak terzhalimi”. Hari ini aparat Jakarta dikerahkan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak memilih pemimpin non Muslim; juga munculnya isu-isu sejenis yang bersifat emosi keagamaan; hal ini bisa dimanfaatkan oleh tim sukses Jokowi-Ahok untuk memposisikan pasangan mereka sebagai orang “yang terzhalimi”.

Begitulah sebagian analisa yang bisa dikemukakan. Ini hanya analisa; yang terjadi di lapangan adalah apa yang Allah kehendaki harus terjadi. Dari segi apapun, kaum Muslimin harus siap menghadapi kenyataan nanti. Baik Jokowi maupun Foke, tidak ada yang ideal menurut kepentingan maslahat kaum Muslimin di Jakarta (dan Indonesia).

Jika benar Jokowi-Ahok yang menang; maka para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus memikirkan bagaimana caranya agar gubernur yang terpilih itu tidak melakukan “balas dendam politik” karena mereka telah disudutkan sedemikian rupa, sebelum Pilkada terjadi.

Kalau Foke-Nara yang terpilih, para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus juga ikut bertanggung-jawab; mereka harus mendorong agar Foke melakukan perubahan positif yang besar di DKI Jakarta; sebab jika tidak terjadi perubahan, nanti kondisi stagnan itu akan dianggap sebagai hasil kampanye politik Ummat Islam yang telah menolak Jokowi-Ahok.

Pada pagi hari, 20 September 2012 Pilkada Putaran ke-2 bergulir; mulai jam 12.00 siang, perhitungan quick count mulai bergerak; pada jam 17.00 atau 18.00 sudah kelihatan siapa pemenangnya. Yang jelas, Provinsi Jakarta bisa dipimpin oleh siapa saja; rakyat Jakarta bisa kecewa untuk kesekian kalinya; sementara media-media massa panen keuntungan terus.

Aku sendiri hanya “khawatir”…bagaimana kalau Jokowi benar-benar menang? Maksudnya, ada partai tertentu yang semula antipati dengan Foke; lalu mereka ingin menjalin aliansi dengan Jokowi dalam menghadapi Foke; ternyata kemudian dia “menjilat ludah sendiri” dengan mendukung Foke. Bagaimana kalau Jokowi menang, lalu mereka secara unyu-unyu datang ke kantor Jokowi untuk mengusahakan share kekuasaan?

Ya di dunia masa kini, media massa menjadi kekuatan tirani tak berperasaan. Semoga ke depan Pak Jokowi tidak melakukan diet, agar badannya tidak semakin mirip “tiang listrik”. Semoga juga Pak Foke mau mencukur kumisnya yang mbaplang itu, sebab itu tidak sesuai Sunnah Nabi.

Mine.


Silakan Anti Ahok, Tapi Jangan Kaitkan Foke dengan Islam!

Agustus 18, 2012

Seiring semakin dekatnya akhir Ramadhan, dan menjelang bulan Syawal, satu penjelasan kecil ingin disampaikan, terkait Pilkada DKI 2012 putaran II, yang akan berlangsung September nanti. Hal ini disampaikan agar tidak muncul salah paham.

[1]. Adalah hak warga Muslim Jakarta, atau Muslim di tempat lain, untuk memilih atau mendukung calon pemimpin yang diyakini akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan ke depan. Karena lazimnya seorang Muslim, dia mendambakan maslahat dan berusaha sekuat tenaga menjauhi madharat. Sesuai prinsip Syariat Islam: jalbu al mashalih wa daf’u al mafasid (mencapai kebaikan dan menolak kemadharatan).

“Simbol Kumis” Sangat Jauh dari Pesan Islami. Ini Tidak Mewakili Aspirasi Islam.

[2]. Warga Muslim Jakarta sangat berhak bersikap apapun, seperti menolak pasangan Jokowi-Ahok, lalu memilih pasangan Foke-Nara. Hal ini boleh semata, sebagai bagian dari hak kebebasan menyalurkan aspirasi politik. Misalnya, alasannya Jokowi cenderung Kejawen; Ahok seorang non Muslim, China lagi; kalau Jokowi menang, khawatir nanti Jakarta akan semakin dikuasai oleh non Muslim dan China. Alasan demikian, secara politik, sifatnya boleh, tidak ada larangan.

[3]. Jika Muslim Jakarta menolak pasangan Jokowi-Ahok dengan alasan di atas (poin ke-2), itu sudah cukup. Itu sudah sah dan standar, bagi siapa saja yang memiliki hak suara. Namun, jika sudah beralasan seperti itu, jangan lantas menganggap pasangan Foke-Nara sebagai pasangan yang Islami. Jangan demikian, sebab itu jelas mendustakan kebenaran. Silakan saja anti Jokowi atau anti Ahok; tapi jangan beralasan bahwa Foke-Nara lebih Islami. Ini sebuah kedustaan yang nyata. Foke-Nara itu jelas-jelas didukung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PDS, PKB, PKS, PAN, dan lainnya. Partai-partai Neolib dan sekuler mendukung dirinya; atau mendukung “Simbol Kumis” Foke. Bagaimana hal ini dianggap sebagai pasangan Islami? Kalau mengaitkan Foke dengan perjuangan Islam, sementara buktinya tidak ada, jelas ini sebuah kedustaan yang nyata.

[4]. Kemudian, jika warga Muslim Jakarta mendukung Foke-Nara, jangan karena alasan: Foke-Nara anti Wahabi atau hal itu dilakukan demi menjaga persatuan Ummat. Alasan demikian sangat menyakitkan hati saudara-saudaramu sesama Muslim; ia jelas-jelas memecah-belah barisan Ummat; dan merupakan fitnah bagi gerakan dakwah Wahabi. Tolonglah, jangan dipakai alasan keji seperti itu. Kalau tetap dipakai, jangan salah kalau akan bermunculan sikap anti Foke-Nara secara ideologis dari semua kalangan gerakan dakwah Wahabi.

[5]. Siapapun yang nanti terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, bukan berarti masalah-masalah Ummat Islam akan otomatis selesai, atau semakin ringan. Jangan bermimpi terlalu jauh! Kita masih ingat, tahun 2004 lalu, DKI Jakarta secara politik dikuasai oleh PKS. Mereka mendominasi perolehan suara di tingkat parlemen DKI Jakarta. Gubernur Jawa Barat sekarang, Ahmad Heriyawan, adalah termasuk anggota DPRD DKI Jakarta periode itu. Tapi Ummat Islam bisa merasakan sendiri, sejuhmana dampak kemenangan politik PKS di Jakarta ketika. Ngaruh tidak? Kalau setingkat PKS saja tidak banyak pengaruhnya, apalagi sosok Foke yang membanggakan Kumis-nya. Maksudnya, bila nanti Foke berkuasa lagi, dan ternyata tidak banyak perubahan; ya mesti bersabar. Namanya juga sistem sekuler, mau dibolak-balik seperti apapun, hasilnya sama; ngenes.

Demikian yang bisa disampaikan. Selamat menyambut Idul Fithri 1 Syawal 1433 H. Taqabbalallah minna wa minkum shalihan a’mal. Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan bathin.

Abu Muhammad (Joko) Waskito.