Ketika Wajah Politik Semakin Membosankan…

Juni 1, 2016
Politik Saling Menyandra

Politik Saling Menyandra

* Saat kapan itu? Ya saat-saat seperti ini…

* Penguasa merasa berhak mengacak-acak lawan politiknya. Siapapun yang diyakini melawan akan dilumpuhkan, secara pelan-pelan.

* Misalnya, ada lawan politik yang tampaknya “nyebelin” bagi rezim berkuasa. Dengan mudah si rezim memainkan alat-alatnya untuk mencari “kasus hukum” seputar para politisi dari pihak lawan politik. Setelah mendapat sejumlah kasus, mereka berteriak kegirangan “Kenak lu!” Atau teriakan “Tunggu tanggal mainnya.” Sangat menyebalkan.

* Nanti satu per satu lawan politik diancam. Memakai “terompet” media massa tentunya. Misalnya, tiba-tiba turun berita semacam ini “pihak kejaksaan menemukan korupsi oleh politisi X”, atau “kepolisian akan memanggil politisi Y terkait dugaan korupsi”, atau semacam “KPK akan memanggil politisi Z terkait pengaduan korupsi”. Ini kan boring banget…

* Pihak rezim itu bukan BERSIH KORUPSI, bukan TELADAN BENAR, atau SANGAT MORALIS. Tidak sama sekali. Mereka sama saja, malah lebih parah. Tapi hanya karena sedang berkuasa, mereka bisa LOLOS DARI JERAT HUKUM.

* Hanya karena berkuasa doang…

* Inilah yang kerap disebut para ahli sebagai POLITIK SALING SANDRA. Satu sama lain saling menyandra lawannnya, demi keuntungan politik jangka pendek.

* Nas’alullah al ‘afiyah. Kami memohon keselamatan kepada Allah Ta’ala dari “politik aneh” ini…

(SignIt).


PKS Ditakuti Sekuler

Maret 11, 2016

SAYA kira ini bukan anggapan bhw cuma PKS yang Islami, karena yang lain-lain insya Allah banyak yang Islami. TAPI ini semacam sikap PARANOID (ketakutan berlebihan).
.

Pengakuan Jujur

Pengakuan Jujur

Mereka melihat dengan yakin, PKS sbg sbuah “mesin politik” yg brdaya rubah sosial kuat, maka itu mrk takut.
.
Pernyataan Ulil ini sebuah keterus-terangan, sekaligus PENGAKUAN. “Anda hebat PKS,” kata Ulil di hatinya. (Di hatinya lho ya…).
.
Di Indonesia banyak ustadz brsuara lantang tentang Al Haq, tapi pengaruh di lapangan kurang. Banyak juga yang punya massa besar, tapi sulit diarahkan unt menuju perubahan.
.
Nah, di situ PKS dibidik. Minimal oleh orang ini dan sejawatnya seperti PDIP, JIL, Kompas, Tempo, Media Indonesia, MetroTV, dll. Yah begitulah…

.

(Politic).


Apakah DPR Kita “Shut Down” ???

Desember 19, 2014

(Terinspirasi dari gagasan seorang kawan).

*) Gimana nih, presiden & menteri-menteri sudah bertingkah macam-macam, tapi DPR gak ada suara? Kemana para anggota DPR dari KMP & KIH?

++ Ada, ada. DPR baik-baik saja. Kami tidak masalah kok. Gak ada itu shut down?

*) Tapi kenyataan kan, DPR tidak bergerak. Apa ini gara-gara manuver “DPR Tandingan” itu?

++ Sejujurnya ya. Tapi kami harus tetap terlihat kompak, tak ada masalah.

*) Apa sekarang LEMBAGA DPR disandera melalui manuver “DPR Tandingan”.

++ Hmm, mungkin.

*) Apa susahnya membereskan masalah “DPR Tandingan”?

++ Tidak mudah. Ini masalah pelik. Rumit.

*) Rumit apanya? Manuver “DPR Tandingan” kan jelas MELANGGAR HUKUM. Kenapa tidak diselesaikan secara hukum saja?

++ Maksudnya?

*) Apa boleh anggota DPR membuat lembaga PARLEMEN TANDINGAN? Apa mereka punya hak untuk itu? Apa ada UU Politik yg membolehkan hal itu?

++ Gak ada sih. Malah ini termasuk MAKAR yg membahayakan bangsa dan negara. Sama kayak pemberontakan kepada penguasa yg sah. Kalo ada yg bikin “Kabinet Tandingan” itu makar kan.

*) Berarti DPR Tandingan itu ilegal kan? Melawan hukum kan?

++ Iya sih.

*) Nah, kalau melanggar kenapa tidak DITINDAK para anggota itu? Terutama para penggerak dan aktor intelektualnya? Mereka itu pembuat makar pak?

++ Tapi ini masalah politik. Mereka marah karena kalah terus dalam voting di parlemen.

*) Mereka kalah secara LEGAL atau ILEGAL? Ada gak UU yg dilanggar di sana?

++ Melalui proses LEGAL, proses politik di DPR. Gak ada UU yg dilanggar.

*) Nah, kalo begitu sudah jelas. Mereka melanggar hukum karena kalah dalam proses politik yg tidak melanggar. Artinya, mereka yg salah. Kenapa Anda dukung kesalahan mereka?

++ Maksudnya gimana? Masak kami mendiamkan?

*) Kan DPR punya aturan untuk anggota-anggota yg melawan hukum. Di sana juga ada DEWAN KEHORMATAN DPR. Kenapa tidak dipakai semua itu?

++ Oh ya.

*) Kalau Anda diamkan mereka, tidak ditindak. Terutama aktor intelektualnya. Lalu Anda turuti tekanan-tekanan mereka. Malah Anda mau ngalah. Itu jelas Anda ikut BERSEKUTU melanggar hukum.

++ Wah, serius ya!

*) Lebih serius lagi: Apa gunanya rakyat memilih Anda, kalau sekarang gak ada kerjanya? Apa gak sekalian saja, DPR dibubarkan? Tanggung kalo cuma “DPR Tandingan”. Kalau perlu KABINET sekalian dibubarkan.

++ Waduh, jangan gitu deh. Baiklah, kami coba push teman-teman untuk segera mengakhiri drama “DPR Tandingan” ini. Terimakasih sudah beri masukan.

*) Cepatlah bertindak. Jangan lelet! Tidak pake lama, Pak!

++ Ya ya, kami segera bertindak. BISMILLAH.

“rakyat yg merindukan DPR cepat kerja”.

NOTE: Kawan-kawan, mohon bantu SHARE seluas-luasnya ya! Terimakasih.

Sumber: akun facebook pribadi.


Cuma Kesenggol Kok….

Oktober 30, 2014

*)  Muke gile….kata orang Betawi. Kebobrokan moral yang dipertunjukkan politisi PPP ketika membanting dua meja, oleh Romeo disebut sebagai KESENGGOL. Sangat berlebihan.

Muke Gile Dah...

Muke Gile Dah…

*) Romeo yang masih satu klub dengan Si Emon “Topi Afghan” itu mau menutupi kebobrokan moral dengan kata-kata penuh dusta. Padahal melalui video-video yang beredar jelas itu Si Irul sengaja merobohkan meja di barisan depan. Bukan hanya meja dia sendiri, tapi juga meja tetangganya (Hanure).

*) Kebobrokan para anggota klub Si Emon “Topi Afghan” sangat jelas di depan mata masyarakat Indonesia. Sudah berkhianat, tak becus lagi jadi politisi. Aneh bin ajaib.

*) Kalau Si Romeo masih tidak percaya, coba lihat beberapa video di bawah ini:

*) Coba perhatikan gerakan tangan Si Irul itu. Dia benar-benar sengaja membanting meja. Bahkan ketika ada temannya yang mengambil barang-barang yang terhambur dari meja, lagi-lagi dia membalikkan meja lagi sehingga mengenai paha temannya itu.

*) Kira-kira kita lebih percaya omongan siapa, Si Romeo atau rekaman video tersebut?

*) Andaikan dibenarkan omongan dia bahwa itu “cuma kesenggol” pastilah banyak meja yang akan berjatuhan juga; karena risiko meja-meja lain tersonggol juga sangat terbuka.

*) Ada baiknya Si Romeo belajar dusta lebih canggih lagi dengan mengatakan: “Ooooh, itu kan video yang telah direkayasa. Itu hanya hoax. Itu sudah diedit di sana-sini.”

*) Manusia-manusia sampah ada di mana-mana. Mereka tak tahu malu dan miskin budi. Hidup bagi mereka hanyalah untuk memuja syahwat.

*) Dalam Al Qur’an, Allah SWT suatu saat nanti berdialog dengan manusia ketika mereka sudah berada di neraka. “Berapa lama kamu hidup di dunia?” Kemudian dijawab sekian-sekian. Lalu Allah katakan, bahwa hidup di dunia itu hanya SEBENTAR SEKALI dibandingkan kehidupan abadi di akhirat.

*) Kalau sudah begitu, mengapa harus menjadi amoral, semata demi syahwat dunia?

(Shakera).

 


“Kiamat” Pencitraan

Oktober 13, 2014
Pencitraan The End...

Pencitraan The End…

Tanggal pelantikan presiden baru masih sekitar 7 hari lagi. Tepatnya, 20 Okt 2014. Tapi gelagat ketakutan pihak KIH dan think-tank-nya sdh begitu membuncah. Bukan soal PENJEGALAN pelantikan, karena KMP kemungkinan tidak akan masuk kesana (menurut kami).

Lalu apa penyebab kegentaran dan grogi luar biasa ini?

Simple saja. Ini soal PEMBUKTIAN atas PENCITRAAN SANG PRESIDEN. Selama ini kan dia dicitrakan serba hebat, kreatif, merakyat, sederhana, terbuka, dan seterusnya.

Tapi saat dia jadi presiden itu akan benar-benar KETAHUAN modal dan skill aslinya. Bayangkan saja, sekelas Dirut PLN, Pertamina, atau Garuda saja; merasa berat unt jadi presiden.

Kami selama ini meyakini, kemampuan sang presiden terpilih baru selevel bupati/walikota. Belum bisa “ditarik” ke level nasional. Sama seperti kemampuan Gusdur dulu. Dia sebatas pemimpin ormas atau kyai nyentrik yang tidak tahu urusan administrasi negara.

Teringat ucapan Dr. Mahmudi Ismail, saat baru menjabat walikota Depok. Kata dia, ternyata memimpin kota itu lebih rumit dan komplek daripada memimpin Departemen (Kehutanan). Ini membuktikn, jabatan politik itu berat.

Media-media telah melahirkan sosok IDOLA HEBAT, tapi yang bersangkutan tak mampu menjadi sosok seperti itu. Inilah yang akan menyebabkan terjadi “kiamat” pencitraan. Sudah begitu, andai terjadi apa-apa pada sang presiden; penggantinya sudah kakek-kakek, udzur. Naik sepeda dalam jarak sekilo saja sudah tak kuat. Masalah lagi kan?

Sulit membayangkan situasi nanti. Malah sangat mungkin, nanti sang presiden akan dicaci-maki para pendukungnya sendiri. Apalagi kabarnya, dia mau naikkan BBM 3000 rupiah.

Seperti kata pepatah: “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, lama-lama kan tercium juga busuknya.” Sepintar-pintar membuat pencitraan nanti akan terbukti juga benar atau tidaknya.

Selamat menyaksikan!

(Weare).


Kekalahan Prabowo dan Intervensi McCain

Agustus 27, 2014

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mungkin rasanya aneh bicara sikap pengecut TNI di balik kekalahan Prabowo-Hatta. Tapi ada koneksi yang kuat.

Waktu pengumuman sidang MK kemarin, TNI menyiagakan 23 ribu personel (BKO ke Polri). Belum pasukan cadangan yang disiagakan. Seolah, pendukung Prabowo kayak PKI yg hobi teror, main ancam, anarkhis.

Kita tahu, TNI punya akidah “NKRI harga mati”. Tapi mereka sndiri sejak peristiwa “Ganyang Malaysia” tahun 60-an belum pernah PERANG LAGI melawan negara eksternal. Hampir 50 tahunan tidak perang melawan orang luar.

Datang Membaca Ancaman

Datang Membaca Ancaman

Saat senator Amerika John McCain datang ke Indonesia, dia bertemu Ketua MPR dari PDIP, Sidarto Danusubroto. Untuk apa McCain datang bertemu Ketua MPR? Karena MPR selama ini kan menjaga 4 pilar bangsa: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

McCain cuma menyenggol isu NKRI sedikit. Kalau dalam bahasa prokem kira-kira begini: “Lu mau NKRI tetap utuh, atau Prabowo jadi presiden? Silaken Lu pilih. Gue sih punya banyak tenaga buat bikin onar di negeri ini.” Kira-kira begitulah.

Nyaris setiap McCain datang ke sebuah negeri, ancaman disintegrasi langsung terbayang di depan mata. Dia punya kerja di Libya, Yaman, Ukraina, Suriah, dan lainnya. Hasilnya, sudah sama-sama kita tahu. Seolah John McCain ini seperti “devil penebar disintegrasi“.

Amerika bisa menghidupkan gerakan separatis unt membubarkan NKRI; seperti mereka telah mengacak-acak Libya, Yaman, Suriah, Iraq dll. Maka itu, beberapa wkt lalu kita lihat ada move-move gerakan OPM di Papua dan demo OPM. Ini hanya skedar penegasan, bhw McCain tdk main-main.

Atas ancaman seperti ini, tampaknya elit-elit TNI pada ngedrop. Mereka cari jalan aman, dengan menghindari risiko disintegrasi bangsa. Caranya ya menjaga baik-baik kemenangan Jokowi yang dibidani KPU, MK, dan lainnya. Malah kepala TNI sempat bilang, kalau ada demo anarkhis, silakan tembak di tempat! Ya Ilahi, ke anak bangsa sendiri seperti itu.

Harusnya, pihak TNI berani hadapi ancaman-ancaman separatis, juga tekanan-tekanan pendukung PKI. Masak kemana-mana bilang “NKRI harga mati” sambil tidak berani hadapi kekuatan asing?

Tidak layak elit TNI mengancam para penggembira ISIS dari kalangan penjual es krim, tukang warnet, tukang tambal ban, dan sejenisnya; lalu mengabaikan tantangan dari kalangan pendukung PKI, mafia asing, dan orang-orang seperti McCain. Mana dong buktinya, “NKRI harga mati”?

Kalau Amerika bisa menekan Indonesia dengan isu disintegrasi, berarti mereka akan melakukan hal itu, bila waktunya tiba. Apa bedanya tantangan kini dan nanti? Hanya soal waktu saja kan, sedang esensinya sama.

Dengan slalu memilih jalan aman, elit-elit TNI seperti tidak menginginkan ada perubahan significant dalam kehidupan bangsa ini. Jauh sekali dari ide membangun bangsa yang: bersatu, berdaulat, adil dan makmur!

Bersikaplah berani, Jendral!

Wal ‘izzatu lillah.

(Sentot Ali Basyah).


Prabowo dan Nasib TNI

Juni 7, 2014

Bismillahirrahmaanirrahim.

Dulu banyak perwira atau prajurit TNI bersikap nyinyir kepada Prabowo Subianto, karena yang bersangkutan adalah menantu Pak Harto, dan mendapat jenjang karier melesat di TNI. Ibaratnya, kalau ada satu lampu terang, lampu itu akan merasa nervous ketika datang lampu lain yang lebih terang. Yah, sifat kemanusiaan.

Tapi seiring perjalanan waktu, banyak orang mengetahui bahwa Prabowo memiliki sifat yang baik dan karakter yang luhur. Dia tidak semata-mata memiliki gejolak ambisi pribadi, tetapi memiliki sifat pembelaan terhadap urusan bangsa/negara sangat tinggi. Salah satunya, Prabowo hanya menghendaki kebaikan bagi TNI. Meskipun dia terluka atau dizhalimi.

Mari kita lihat masalahnya…

[1]. Saat revolusi Mei 1998 itu, citra TNI sudah benar-benar nyaris ambruk. Karena TNI dipandang sebagai “satu paketan” dengan Orde Baru. Bahkan TNI adalah “backbone-nya” rezim Orde Baru. Maka ketika rezim hancur, pilar-pilar pendukungnya juga akan ikut hancur.

"Menanggung Beban Berat demi Kebaikan Bersama"

“Menanggung Beban Berat demi Kebaikan Bersama”

[2]. Pasca revolusi Mei 1998, Prabowo mendapatkan sanksi sangat berat. Jabatan sebagai Pangkostrad dicopot oleh Presiden Habibie, bahkan seluruh atribut kemiliteran dia dilucuti. Prabowo bukan perwira lagi, bahkan bukan siapa-siapa lagi. Akses politik, militer, publik, seolah dihajar sampai tandas.

[3]. Seharusnya yang paling bertanggung-jawab terhadap Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta adalah Jendral Wiranto selaku Panglima TNI, pemegang tongkat hirarki tertinggi di tubuh TNI; Pangdam Jaya, Syafrei Syamsuddin; dan Kapolda Metro Jaya. Mereka inilah yang mestinya sangat bertanggung-jawab, karena posisinya terkait langsung dengan situasi keamanan-ketertiban publik. Sedangkan Pangkostrad Prabowo, meskipun punya pasukan besar, ia ditujukan untuk bela negara hadapi situasi darurat, serangan dari luar; bukan untuk menghadapi kemelut politik internal. Secara hirarki, Pangkostrad harus selalu koordinasi dengan pejabat-pejabat TNI yang lain.

[4]. Media-media massa sekuler, para politisi, aktivis gerakan kiri, LSM, dan seterusnya selalu memojokkan Prabowo terkait peristiwa Mei 1998; tapi mereka tidak melihat kejadian ini secara struktural. Seakan ada suatu kesengajaan khusus untuk menghancurkan Prabowo, dan menyelamatkan yang lain (Wiranto). Ternyata, modus kekejaman opini itu masih terus dipakai sampai saat ini (menjelang Pilpres Juli 2014). Ya pelaku dan elemennya masih sama.

[5]. Meskipun Prabowo mempunyai banyak alibi atas keterlibatannya, namun dia memilih menahan diri, menenggelamkan diri, meskipun fitnah bertebaran luar biasa. Alasan dia simple; dia tak mau TNI pecah; kalau TNI pecah, Indonesia pun akan pecah. Ini adalah sikap ketulusan yang layak dihargai.

Apalagi yang belum dihadapi Prabowo? Segala macam fitnah sudah dia telan, makan, dikunyah-kunyah sampai lembut. Di tubuh TNI, dia difitnah. Di jajaran keluarga Soeharto, difitnah. Di mata Habibie, difitnah juga. Antar sesama jendral petinggi TNI, difitnah keras. Di mata para politisi, difitnah juga. Di mata asing dan industri kapitalis, difitnah juga. Secara keluarga dan rumah tangga, difitnah juga. Di mata media dan politisi, waduh sudah langganan fitnah.

Tapi ada hal menarik yang patut direnungkan tentang sosok Prabowo. Coba perhatikan: Pasca Kerusuhan Mei 1998 hampir saja institusi TNI dihabisi oleh sesama anak bangsa, karena lembaga ini dianggap backing-nya Orde Baru. Mahasiswa, aktivis demokrasi, LSM, media-media sekuler, para politisi, pihak-pihak luar negeri, dan seterusnya ingin segera menghabisi TNI. Namun saat Prabowo mendapatkan sanksi berat, dilucuti dari seluruh atribut kemiliteran, amarah publik agak mereda. Mereka melihat TNI mau berubah. Faktanya, Prabowo bisa dihabisi riwayat kariernya.

Dalam situasi itu, Prabowo telah menunjukkan jiwa besarnya. Seharusnya yang diadili terlebih dulu adalah Jendral Wiranto, karena dia penanggung-jawab tertinggi militer. Anda masih ingat pidato singkat Wiranto, sesaat setelah BJ. Habibie menerima tampuk kekuasaan dari Pak Harto? Itu kan artinya, Wiranto benar-benar penanggung-jawab keamanan. Iya tidak? Lha, kok setelah itu malah Prabowo yang dikorbankan?

Bahkan Wiranto lebih jahat lagi. Kepada Habibie dia mengatakan, pasukan Kostrad sedang terkonsentrasi di Jakarta. Tanda-tanda ancaman kudeta. Karena alasan itu pula, Prabowo diberhentikan secara kilat sebagai Pangkostrad. Tetapi kemudian Wiranto mengklaim, tidak ada itu isu kudeta. Keadaan aman-aman saja kok. Begitulah retorika Wiranto. Satu sisi mencari kesempatan untuk menghajar Prabowo; di sisi lain, tidak mau disalahkan di depan institusi TNI. Akhirnya Wiranto dapat kedua-duanya; Prabowo tersingkir, karier dia sendiri selamat.

Selama bertahun-tahun lamanya, Prabowo enggan untuk mengklarifikasi semua kejadian itu. Dia memilih diam, atau berharap masyarakat mengerti sendiri masalahnya. Alasan dia, “Tak mau TNI pecah!” Kalau dia marah-marah, menulis buku isinya blak-blakan tentang kondisi pasca Revolusi Mei 1998, khawatir TNI akan pecah, lalu negara dalam bahaya.

Di titik ini, Prabowo tidak hanya berjasa bagi Kopassus, tapi rela menanggung beban berat, untuk menyelamatkan institusi TNI itu sendiri. Dia layak mendapat apresiasi dan dukungan. Demikian, terimakasih.

(Admin).