Mahasiswa dan Kekuasaan

Mei 23, 2015

>> Scara teori, mahasiswa di manapun, tidak ada yg mampu meruntuhkan kekuasaan suatu pemerintah.

>> Gerakan Mei 1998 bukanlah melulu mahasiswa. Mereka hanya jadi “kuda troya” belaka. Ditunggangi kekuatan besar di baliknya.

>> Bahkan opini besar tentang “gerakan mahasiswa 1998” adalah strategi media untuk menyembunyikan pelaku sebenarnya.

>> Untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan, butuh kekuatan besar dan proses rumit. Sebagai perbandingan, menjatuhkan Bashar Assad pun tidak mudah.

>> Untuk mengubah sebuah kekuasaan, dibutuhkan hal-hal berikut:

[1]. Opini kuat dan massif bahwa si penguasa sudah tidak pantas lagi. Itu butuh penguasaan MEDIA.

[2]. Butuh kader-kader penggerak, militan, terlatih, pengalaman sosial kuat. Jumlahnya juga harus banyak. Bisa ribuan orang. Mereka ini pelaksana kerja lapangan.

[3]. Butuh dana besar. Tidak mungkin gerakan ini tanpa dana. Itu nonsens. Dana bisa triliunan rupiah. Dan tidak mungkin dari sumber kencleng.

[4]. Butuh dukungan dunia internasional. Terutama dari negara-negara pendukung pemerintah itu.

[5]. Butuh strategi mematahkan intelijen. Karena lembaga intelijen pasti bertugas menjaga kekuasaan.

[6]. Butuh strategi meredam militer & kepolisian. Karena para pemimpin mereka pasti pro penguasa.

[7]. Butuh pemikiran hebat untuk menghadapi kontra opini oleh para politisi (partai politik) dan pengamat.

[8]. Butuh pengalihan perhatian massa, agar tidak mengganggu rencana.

[9]. Butuh pemimpin kharismatik sebagai simbol perlawanan.

[10]. Butuh momentum yg tepat & mendukung.

>> Semua hal di atas tak mungkin dijalankan oleh para mahasiswa. Di negeri manapun, tidak ada revolusi oleh mahasiswa.

>> Bahwa mahasiswa idealis patriotik, mungkin ya. Tapi perubahan politik tak semudah impian dan lamunan.

>> Jangan terlalu membebani mahasiswa. Tapi bebanilah pastisipasi kita dalam kehidupan nyata. Itu lebih fair.

(El-Shami).

Iklan

Jangan Takut Badai Politik…

Maret 23, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Badai politik adalah suatu tekanan kuat terhadap sistem perpolitikan di suatu negara. Arahnya bisa menjadi sebuah perubahan skema kekuasaan, bisa terjadi “perimbangan kekuatan” tanpa perubahan kekuasaan, atau bisa juga ia hanya menjadi konsumsi opini politik saja.

Sampai sejauh ini sebagian besar kaum Muslim di negeri kita berada dalam kondisi “tidak siap” dengan gejolak politik, atau “tidak mau”, bahkan “sangat takut”. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya kita sebagai bangsa telah melewati banyak sekali “gempa politik”. Hampir setiap periode kekuasaan, bahkan setiap tahun, ada “gempa politik”. Nas’alullah al ‘afiyah.

Sering Terjadi Badai dalam Kehidupan Politik

Sering Terjadi Badai dalam Kehidupan Politik

Melalui pesan sederhana ini kami ingin menyampaikan agar kita, kaum Muslimin, tidak merasa galau, takut, atau panik dengan berbagai kenyataan politik di depan mata, sekalipun ia merupakan “badai politik” yang bisa mengubah skema kekuasaan secara drastis. Maksudnya, kejadian-kejadian semacam itu sangat mungkin terjadi dalam skala kehidupan politik sebuah bangsa.

Karena posisi kita lebih sebagai “obyek politik”, bukan “subyek politik” yang berperan menentukan warna dan konstruksi sebuah sistem kekuasaan; ya kita lebih banyak bersifat MERESPON. Ya bagaimana lagi, itulah kenyataannya.

Terkait upaya merespon ini, nasehat kami: jangan merasa takut dan gentar. Kita jalani kehidupan baik-baik saja, berlandaskan KEIMANAN kepada Allah Rabbul A’la, ketenangan, dan kewaspadaan.

Perubahan sangat mungkin terjadi dalam perpolitikan bangsa. Perhatikan saja, seseorang yang kemarin masih “menjadi walikota” kini sudah menjadi presiden. Bukankah ini adalah perubahan besar? Jika demikian, maka perubahan-perubahan ini memungkinkan terjadi lagi dan seterusnya.

Ada ayat yang sering menjadi nasehat bagi kita semua:

Wa man yakfur bit thaghuti wa yu’min billahi faqad istamsaka bil ‘urwatil wutsqa lan fishama laha wallahu sami’un ‘alim (dan siapa yang mengingkari segala sesembahan selain Allah, lalu dia beriman tauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada tali yang amat teguh, tak akan putus selamanya, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Surat Al Baqarah 256.

Dalam situasi apapun, kita harus TETAP BERPEGANG kepada Iman Tauhid kepada Allah Azza Wa Jalla. Maka hal ini merupakan pegangan yang sangat kuat dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bisshawaab.

(SilverPencil).


POLITIK Hati Nurani

Maret 20, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Apa itu politik “hati nurani”? Apakah ini semacam nama sebuah partai tertentu? Tidak, tidak sama sekali. Ini tidak terkait dengan partai politik; tapi ini semacam “politik luhur”.

Apa makna politik luhur?

Ya, kita berbicara tentang esensi kehidupan seorang insan di muka bumi. Untuk apa? Ya, untuk ibadah kepada Allah; memurnikan ketaatan kepada-Nya; tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Itulah tujuan esensi hidup manusia.

Menjalankan Politik Nurani

Menjalankan Politik Nurani

Politik luhur berorientasi ke sana. Ia memperjuangkan segala apa saja daya upaya dan rekayasa sosial, sehingga tercipta kultur kehidupan yang sehat, aman, nyaman, damai; bagi setiap insan untuk BERIBADAH kepada Allah Rabbul A’la.

Sejauh niat menuju kemuliaan ibadah insan itu ada, maka partisipasi siapa saja dalam politik, masuk kategori politik luhur. Tidak mesti meninggalkan posisi yang ada; tapi juga jangan larut dalam “lomba kekuasaan” yang kerap membuat insan politisi lalai dari tujuan semula.

Lalu apalagi?

Ya politik ini bermisi perbaikan. Mengupayakan kehidupan yang selalu lebih dan lebih baik. Semangatnya ishlah. Seperti dalam ungkapan: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini.”

Ada riwayat yang berbunyi: “Jaddidu imanakum bi laa ilaha illa Allah” (selalu perbaharui imanmu dengan kalimat dzikir laa ilaha illa Allah). Dalam kerja politik, seolah kita selalu diajak untuk memperbaiki cara, laku, dan strategi untuk membuahkan hasil LEBIH BAIK.

Mungkinkah dengan cara demikian akan lahir perubahan?

Jangan berkecil hati. Harapan baik selalu menjadi visi untuk dicapai. Jangan lelah berusaha, jangan berhenti berkarya. Perubahan akan terjadi, ketika kita sadar dan mengerti akan akar-akar perubahan itu sendiri.

RAHASIA. Selama ini ternyata sebagian besar “obrolan politik” kita hanya di level permukaan. Tidak menyentuh akar-akar perubahan sama sekali. Di level fundamental, kita belum memasukinya, atau bahkan malas memasukinya. Padahal di sana ada harapan menuju perbaikan.

Untuk berubah, kita butuh kesadaran publik. Kita butuh peran serta para pengusaha. Kita butuh para pendidik, para wartawan, serta tenaga-tenaga sosial. Kita butuh para agamawan, kita butuh dukungan pemegang senjata. Bahkan kita harus berbicara dengan petani, pedagang, nelayan, para pekebun. Juga kita harus diskusi dengan kawula ibu-ibu, gadis-gadis, penduduk desa, dan seterusnya.

Sejujurnya, investasi kita di sana sangat sedikit. Padahal di sanalah poin-poin the real change itu akan bergerak. Sebagian besar “energi politik” kita habis di meja obrolan, debat kusir, hingga saling olok-mengolok. Setelah itu semua selesai, beres, pulang kandang sendiri-sendiri. Besok saat bangun, tahu-tahu segala harga kebutuhan sudah pada naik. Stress-lah kita. Lalu solusinya, kita berdebat lagi, dan terus berdebat.

POLITIK nurani, menyambungkan kesadaran insan kepada Allah SWT; memperkuat kebersamaan dan saling tolong-menolong antar sesama Muslim; terus menebarkan kebaikan dengan tulus; sabar dalam mengubah kemunkaran; serta yang sangat penting adalah menanamkan benih-benih kebajikan di sektor-sektor vital (titik-titik perubahan sosial).

Berpolitik nurani? Ya, hayo. Come on. Mari kita lakukan… Semoga Allah Ta’ala membimbing rakyat dan bangsa ini menuju keadaan yang diridhai-Nya. Amin amin ya Rahmaan.

(WeStand).

 

 


SIKAP POLITIK KAMI

Desember 19, 2014
Jaga Kehidupan Ummat

Jaga Kehidupan Ummat

* Sampai sekarang masih banyak yg BINGUNG membaca sikap politik kami. Kadang tampak pro Syariat; kadng tampak pro demokrasi; kadng mengkritik penguasa; kadang mendukung tokoh politik & partai; dan lain-lain. Hal ini dianggap membingungkan.

* Di sini perlu kami jelaskan, agar tidak bingung & salah paham. Tapi yakinlah, sikap ini berpijak pada konsep SYARIAT.

* TANYA: MENGAPA ANDA SERING MENGKRITIK PENGUASA?

JAWAB: Ya kalau kita melihat sikap, pernyataan, kebijakan penguasa yg bersifat ZHALIM dan merugikan Ummat. Kalau kebijakan baik, maslahat, manfaat bagi Ummat insya Allah DIDUKUNG dan tiada kritik.

* TANYA: TAPI PENGUASA ITU KAN ULIL AMRI, TIDAK BOLEH DIKRITIK/DICELA SECARA TERBUKA?

JAWAB: Ya kami tidak meyakini setiap penguasa di atas hukum NON SYARIAT sebagai Ulil Amri. Karena dalam Islam, dibuktikan selama ribuan tahun (sejak 623 M s/d 1924 M), yg namanya Ulil Amri itu berdasar Syariat, bukan sekularisme.

* TANYA: APAKAH HARUS SELALU MENCELA PENGUASA?

JAWAB: Ya lihat dulu kelakuannya. Kalau munkar, zhalim, menindas kehidupan Ummat, silakan dikritik. Kritik itu kan ada alasannya.

* TANYA: BAGAIMANA KALAU PENGUASA MARAH LALU BERTINDAK KASAR?

JAWAB: Ya kita lihat situasi. Kalau aman silakan kritik; kalau berbahaya ya pakai cara lain. Selama ini tampak baik-baik, pendapat politik dihargai.

* TANYA: APA ANDA TIDAK TERTARIK MEMUJI-MUJI PENGUASA, MENDOAKAN MEREKA, TIDAK MENGKRITIK MEREKA; SEPERTI ORANG-ORANG TERTENTU?

JAWAB: Begini ya, “Ad dinu nashihah…li aimmatil muslimin wa ‘ammatiha” (agama ini nasehat…bagi para pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya). Kalau ada baiknya pemimpin, boleh dipuji, boleh didoakan. Tapi kalau zhalim, menindas, memusuhi agama, ya jangan dibiarkan. Harus dinasehati, diluruskan, dicegah kemunkarannya. Jangan diam saja melihat munkar di depan mata.

* TANYA: BAGAIMANA SIKAP ANDA KEPADA POLITISI DAN PARTAI POLITIK?

JAWAB: Ya sejauh mereka berjuang, berperan, maslahat buat kehidupan Ummat; kami mendukung. Kalau tidak, ya kami kritik sesuai fakta-fakta yg ada.

* TANYA: KONSEP BERNEGARA YG ANDA INGINKAN SEPERTI APA?

JAWAB: Kita ini kan hidup diperintahkan unt ibadah kpd Allah SWT. Maka dalam hidup brnegara juga ada ibadahnya. Agar ibadah brnegara kita diterima oleh Allah, maka syaratnya IKHLAS dan SESUAI SYARIAT NABI. Intinya, konsep NEGARA ISLAM itulah.

* TANYA: KENAPA ANDA BAWA-BAWA NEGARA ISLAM? APA TIDAK TAKUT DIBERANTAS OLEH NEGARA?

JAWAB: Ya kami perjuangkan dg cara-cara damai, dakwah, dialog, pembinaan. Tidak pakai kekerasan. Kalau orang sekuler boleh bela negara sekuler; masak kami tidak boleh? Yang penting damai kan. Kita share ide, gagasan, wawasan.

* TANYA: TAPI ANDA JUGA SERING BELA POLITISI ATAU PARTAI, PADAHAL MEREKA TIDAK PRO NEGARA ISLAM?

JAWAB: Ya kami melihat aspek tahapan. Kalau belum bisa direalisasikan negara yg IKHLAS dan SESUAI SUNNAH (baca: konsep Negara Islam); kami dukung mereka yg lebih dekat kepada kemaslahatan Ummat. Siapa yg tulus cinta rakyat, cinta bangsa, cinta masyarakat, pasti kami dukung; karena ada kepentingan Ummat terikat di sana.

* TANYA: ANDA SENDIRI PRO DEMOKRASI?

JAWAB: Di mata kami, demokrasi bukan sistem Islam; karena di sana orang saleh disamakan dg org ahli maksiat. Padahal “hal yastawi al a’ma wal bashir” (apakah sama org buta dg org melihat?). Tapi demokrasi itu REALITA saat ini. Kalau tidak dimanfaatkan, kita bisa KALAH DUA KALI. Pertama, kalah karena penerapan sistem demokrasi; Kedua, kalah karena kita tak dapat apa-apa dari kompetisi demokrasi tersebut. Jadi kita perlu manfaatkan sarana ini untuk menghindari kerugian lebih besar.

* TANYA: BAGAIMANA DENGAN ORANG YG MENGKAFIRKAN PELAKU DEMOKRASI?

JAWAB: Ya itu terserah mereka. Allah Maha Tahu niat dan hati manusia. Kami sudah jelaskan semua ini. Terserah sikap mereka. Mungkin saja tuduhan itu benar, pada orang-orang trtntu yg telah membuang agama, lalu mengambil demokrasi sbg gantinya. Kalau kami kan meyakini hal ini sebagai ALAT POLITIK saja.

* TANYA: TERUS KONSEP APA YANG MELANDASI PANDANGAN SEPERTI INI? INI HANYA BIKINAN ANDA SENDIRI?

JAWAB: Konsepnya sederhana yaitu AL USHULUL KHAMSAH (prinsip yg lima). Bahwa Syariat Islam diturunkan untuk: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga akal, menjaga keturunan KAUM MUSLIMIN. Itu saja. Jadi politik Islami muaraoya ke PRINSIP LIMA ini. Soal cara, metode, taktik bisa berubah-ubah; tapi intinya ke sana.

* TANYA: DENGAN SIAPA ANDA BERSEKUTU DALAM PANDANGAN SEPERTI INI?

JAWAB: Ya pandangan begini kan bukan sesuatu yg baru; bukan sekarang ini saja; bukan kami saja. Pandangan ini kan hidup dalam kehidupan Ummat selama ini. Cuma di sini kami SATUKAN serpihan-serpihan yg tercecer. Kami bersekutu dg Ummat dalam rangka menjaga kehidupan dan hak-haknya.

* TANYA: KENAPA SIH ANDA SELALU NGELES?

JAWAB: Bukan ngeles. Tapi menjelaskan. Lagi pula, apa yang ditanyakan itu sudah banyak kami kaji. Jadi bukan hal baru.

* TANYA: Sudahlah kalau begitu. Assalamu’alaikum!

JAWAB: Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Halah, begitu saja marah. Santai ajalah, Bro.

S.E.K.I.A.N


APAKAH MR. PRESIDENT ITU ULIL AMRI ?

Oktober 22, 2014

Bismillah. Kami ambil pemahaman paling umum, bahwa Ulil Amri (Wulatul Amri) adalah pemimpin yg mengurus kehidupan kaum Muslimin; sedangkan dia beragama Islam.

Kami akan lakukan pengujian sederhana, untuk membuktikan apakah seorang pemimpin layak disebut Ulil Amri kita atau tidak.

Silakan jawab pertanyaan-pertanyaan tester di bawah:

*) Apakah sang pemimpin selalu sibuk mencari masjid setiap hari? Karena shalat jamaah hukumnya dikerjakan stiap hari.

*) Apakah setiap hari sang pemimpin bertanya: Bagaimana keadaan Ummat Islam di sana-sini? Kalau dia cuek, berarti memang tidak peduli dg urusan Ummat.

*) Kalau ada masalah-masalah, ke mana dia cari solusi? Ke masjid, ke Al Qur’an, ke ulama, ke Allah (lewat doa), atau ke saudara Muslim? Kalau tidak satu pun ke sana, berarti dia bukan bagian dari pemimpin Umat.

*) Tatkala terjadi sengketa, hukum apa yang paling dia utamakan? Hukum Allah, atau selain-nya?

*) Masalah apa yang paling membuatnya sibuk? Masalah keselamatan Umat (dunia-akhirat) atau urusan materi?

*) Bisakah kita jadikan pemimpin itu imam shalat kita?

*) Bisakah dia berkhutbah Jumat atau khutbah Id?

*) Bisakah dia menjawab masalah-masalah fikih yg ditanyakan Umat?

*) Apakah dia mengutamakan ekonomi Syariat daripada ekonomi liberal kapitalistik?

*) Beranikah dia membela Umat dg senjata dan kekuatan?

*) Dan lain-lain pertanyaan semisal.

Kalau hasil jawaban dari semua di atas, kebanyakan NEGATIF. Berarti TIDAK ADA sifat Ulil Amri pada yang bersangkutan. Kalau seorang pemimpin lepas dari sifat-sifat tersebut: Atas alasan apa kita menyebutnya Ulil Amri? Toh dia mendedikasikan kepemimpinannya bukan untuk Islam dan Ummat. Apa yang semacam itu akan diberi label Syariat, sebagai Ulil Amri?

Hendaklah orang-orang yang berilmu menjelaskan masalah ini dengan terbuka, jelas, tanpa menyembunyikan kebenaran. Janganlah mendustai Umat dengan perkara-perkara yang serius di dunia dan akhirat.

Semoga goresan kecil ini bermanfaat. Amin.


MENGKRITIK PEMIMPIN NEGARA

Oktober 22, 2014

*) Sebelum Pilpres banyak penuntut ilmu mengkritik -kasarnya menjelek-jelekkan- calon pemimpin tertentu. Katanya, banyak mafsadat, madharat, sudah maklum keadaannya.

*) Tapi setelah pemimpin “ahlul mafsadat” itu terpilih, seketika berubah hukum baginya: Tidak boleh dikritik, tidak boleh dicela di depan umum, harus didoakan, harus sabar, dinasehati diam-diam. “Kalau dia mau nurut, itulah yang kita inginkan. Kalau dia keras kepala, setidaknya Anda sudah menyampaikan.” Begitu kaidah populernya.

*) Ada satu lagi argumen, seperti retorika raja Muslim di masa lalu saat dia dikritik keras oleh seseorang. Raja itu brdalih: “Aku tidak sejahat Fir’aun, sedang Anda tidak sebaik Musa; tapi Musa diperintah untuk menasehati Fir’aun dengan qaulan laiyinan, kata baik-baik.” Bukan kritik, cela, hinaan, dll.

*) Singkat kata, bagaimana hukum mencela, mengkritik, mengejek pemimpin sekuler (non pemimpin Syariat), khususnya “ahlul mafsadah” lewat media-media? Apakah mencela pemimpin begitu termasuk mencela Ulil Amri?

Sedikit berbagi…

*) Ulil Amri adalah pemimpin yang mengurus hajat hidup orang-orang MUSLIM di atas panduan Syariat Islam. Ibaratnya: “Dari Muslim, oleh Muslim, untuk Muslim.” Hal ini perlu DITEGASKAN agar hukum-hukum Syariat tidak diambil keuntungan oleh para politisi sekuler (Islamphobia).

*) KTP Muslim tidak menjamin seseorang otomatis jadi Ulil Amri; karena di zaman Salaf manusia dilihat dengan kaidah KEYAKINAN, UCAPAN, dan PERBUATAN. Bukan dilihat KTP-nya. Di zaman Salaf, tidak ada “kaidah KTP”.

*) Amal Shalat seorang pemimpin TDK JADI UKURAN, jika AKIDAH-nya sudah bermasalah. Dalilnya, di era Imam Ahmad ada pemimpin yg diingkari karena SESAT AKIDAH-nya; meskipun yang bersangkutan tidak meninggalkan shalat. Harus dipahami, sikap Islamphobia adalah termasuk bentuk kesesatan yang nyata, karena bermakna memusuhi Islam.

*) Meskipun seorang pemimpin berakidah lurus, tidak mengandung kesesatan; dia tetap bisa jatuh ke dalam kekafiran; JIKA membela orang kufar untuk memerangi Muslimin, membenci sebagian atau seluruh Syariat Islam, tidak ridha dengan berlakunya Syariat Allah di muka bumi, selalu memusuhi dan menyusahkan orang-orang Mukmin, bercanda melecehkan agama Allah. Dalil minimal: An Maa’idah 51 dan At Taubah 65-66.

*) Kaidah dasar yang harus diketahui seorang Mukmin, adalah BISA MEMBEDAKAN antara pemimpin yang membawa MASLAHAT & yang membawa MADHARAT; bagi kehidupan Islam dan Muslimin. Kalau mereka tidak tahu, hendaklah melihat mayoritas sikap ulama-ulama Islam, tokoh Ummat, lembaga-lembaga Islam yg kredibel. Kalau tidak tahu juga, jangan bicara politik.

*) Jika seorang pemimpin, berdasarkan bukti-bukti kuat, adalah bagian kaum Islamphobia atau Antiislam; apakah harus kita mencela, mengkritik, menghinanya? JAWABNYA: tidak harus! Tapi dilihat mana yang lebih maslahat bagi Islam dan kaum Muslimin. Kalau dengan dikritik dia jadi bengis, menumpahkan darah Umat; hindari kritik terbuka. Kalau dengan dikritik dia SEMAKIN MELUNAK kezhaliman & maksiyatnya, ya lakukan hal itu.

*) Jadi inti dari urusan ini adalah AMAR MAKRUF dan NAHYUL MUNKAR. Kita tunaikan urusan ini kepada siapa saja, baik rakyat atau pemimpin. Karena agama memang jadi NASEHAT bagi siapa saja, atasan dan bawahan. Dalil minimal: Ali Imran 104.

*) Bagaimana dengan argumen raja Muslim yang membawa istilah qaulan laiyinan itu? Jawabnya, argumen itu hanya mengkritik sikap kasar dalam menasehati pemimpin; bukan menghilangkan hak menasehati pemimpin. Menasehati pemimpin dijamin sepenuhnya oleh Kitabullah dan Sunnah.

*) Kalau bisa menasehati secara damai, lembut, santun, lakukanlah. Kalau tidak bisa karena tidak efektif, ya lakukan cara lain yang lebih efektif dan menghasilkan pengaruh nyata.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin.


Demokrasi Marah-marah !!!

Oktober 13, 2014
Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

*)  Anda seorang demokrat? Anda paham makna demokrasi? Paham konsekuensinya?

*)  Demokrasi tidak cuma soal “dukungan mayoritas rakyat”: tapi juga menghormati aturan main dan siap menerima hasil proses-proses politik yang legal (konstitusional).

*)  Ketika salah seorang kandidat presiden dinyatakan kalah oleh KPU, dia siap menggugat ke MK, dan kemudian menerima hasilnya. Itu contoh sikap, taat prosedur dan tidak anarkhis.

 

*)  Tapi hari ini kita jadi heran melihat para penggiat demokrasi, politisi, partai politik, pejabat, pengamat, dan terutama MEDIA-MEDIA massa. Mereka kini jadi seperti BAHLUL dalam urusan demokrasi.

*)  Katanya, demokrat sejati, master demokrasi, avant garde-nya demokrasi, para pendekar pilih tanding rimba demokrasi, dan seterusnya; tapi ternyata sikap mereka, pernyataan mereka, kelakuannnya sangat menyedihkan.

*)  Ketika KMP memenangkan pertarungan politik sengit di level DPR/MPR, entah mengapa orang-orang itu mendadak marah-marah, emosi, memaki-maki, mengancam, memfitnah, dan seterusnya. Aneh.

*)  Mereka telah tahu beberapa hal di bawah ini:

== Pendukung partai-partai dalam KMP itu suaranya mayoritas.

== Rakyat ikhlas rela memilih partai-partai di KMP. Terbukti mereka tidak protes ketika disahkan UU Pilkada lewat DPRD. Rakyat dari Sabang sampai Merauke bersikap baik-baik saja. Tidak muncul gejolak aneh-aneh.

== Berbagai keputusan politik diperoleh lewat proses Parlemen secara fair dan wajar. Malah lebih cool dari proses-proses di masa sebelumnya.

== Dalam demokrasi ada saluran dan mekanisme yang disepakati.

*)  Nah, mengapa setelah semua itu, mereka marah-marah, emosi, menekan, mengancam ada “people power” segala. Mengapa dan mengapa? Kalau memang tidak mengerti politik, ya jangan masuk dunia itu.

*)  Bahkan yang lucu, mereka berkoar-koar: “Rakyat tidak setuju semua ini. Rakyat marah. Rakyat tidak terima. Ini merampas hak-hak demokrasi. Ini kemunduran demokrasi. Ini tanda kematian demokrasi.”

*)  Pertanyaannya: Kalian itu mengerti politik apa tidak? Hal-hal yang diraih secara legal, prosedural, sesuai konstitusi, kok kalian anggap melanggar demokrasi? Demokrasi yang mana tuh?

*)  Jujur saja. Kalau tidak mengerti politik, sebaiknya mundur sajalah. Daripada menciderai akal sehat.

*)  Sampai di sini dulu bincang-bincang sedikit tentang demokrasi (politik). Nanti kita sambung ya…

***

===> Ngomong-ngomong, daging kurban-nya masih ada gak? Kalau masih, ya syukur. Lumayan buat perbaikan gizi anak-anak. Memang prihatin juga yak…masak sih makan daging nunggu Idul Adha? He he he…

===> Oh ya, jangan lupa doakan saudara-saudaramu yang baru pulang Haji, masih di Tanah Suci, dan berencana berangkat ke sana. Doakan ya. Biasanya doa yang dibaca ini: “Allohummaj’al hum haj-jan mabru-ron wa sa’yan masy-kuron wa dzan-ban magh-furon wa tijarotan lan tabuur” (ya Allah jadikan mereka Haji mabrur, usahanya disyukuri, dosanya diampuni, dan perniagaan-nya dengan Allah jadi perniagaan yang tidak pernah merugi). Doakan ya sahabat-sahabat budiman. 🙂

(Polikisi).